RUKUN ISLAM YANG JADI ANAK MAS DAN RUKUN ISLAM YANG MASIH JADI ANAK TIRI oleh: Drs. Syahro, M.Sy. Kasubbag Tu Kemenag Kota Metro

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

RUKUN ISLAM YANG JADI ANAK MAS DAN RUKUN ISLAM YANG MASIH JADI ANAK TIRI

oleh:

Drs. Syahro, M.Sy.

Kasubbag Tu Kemenag Kota Metro

Lampung Rukun iman dan rukun Islam dalam ajaran Islam dikenal sebagai dasar pokok keyakinan dan kewajiban. Rukun iman merupakan enam pokok dasar yang wajib diyakini dan tidak boleh diragukan kebenarannya, yaitu meliputi iman kepada Allah swt, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul Allah, iman kepada hari ahir, dan iman kepada Taqdir/ketentuan Allah. Sedangkan rukun Islam merupakan pokok-pokok ajaran yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam dengan syarat serta waktu yang telah ditentukan dalam hukum syara’. Karena rukun Islam merupakan suatu amalan ibadah yang bersifat kewajiban, maka jika dikerjakan mendapatkan pahala kebajikan dari Allah swt dan jika ditinggalkan konsekuensinya mendapat dosa atau azab dari Allah swt. Adapun yang termasuk dalam rukum Islam adalah Syahadatain, shalat, zakat, puasa ramadhan, dan ‘‘menunaikan haji jika mampu’‘. Syari’at ajaran Islam yang telah ditentukan oleh Allah swt dan Rasulnya (Syaari’) kepada umat manusia tentu memiliki maksud dan hikmah yang baik untuk manusia itu sendiri.

Dalam konteks maqashid syari’ah, menurut Imam As-Syatibi (seorang ulama) mengatakan bahwa sesungguhnya syari’at itu bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Lebih tegas lagi, As-Syatibi menjelaskan bahwa hukum-hukum disyari’atkan untuk kemaslahatan hamba secara mutlak, tidak satupun hukum Allah dalam pandangan As-Syatibi yang tidak mengemban misi kemaslahatan kemanusiaan secara universal, bahkan ia mengatakan bahwa semua ketentuan hukum yang dibuat oleh Allah bukanlah untuk menaikkan kedudukan Tuhan di depan hambanya, melainkan justru untuk kepentingan hamba sendiri, yaitu untuk kemaslahatan diri baik dunia maupun akhirat.

Dengan demikian maka jelaslah bahwa seluruh syari’at Islam dalam rukun Islam memilki kedudukan yang sama pentingnya sebagai kewajiban untuk dilaksanakan sesuai dengan syarat tertentu serta bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia, baik yang bersifat hablumminallah maupun hablummninannas. Dalam fenomena di masyarakat saat ini masih banyak terjadi adanya keyakinan dan mengamalkan ibadah yang belum sepenuh hati, atau hanya sebagiannya saja (sesuai selera/nafsu masing-masing). Hal ini tentu akan berbeda jika didasari karena (kemampuan/keihlasan masing-masing).

Hukum menjadi wajib tentu atas dasar kemampuan si (mukallaf) atau orang yang telah mampu untuk dibebani kewajiban sesuai kemampuan seseorang untuk melaksankannya, contohnya wajib berhaji karena kemampuannya (istitho’ah), yaitu mampu secara materi/membayar BPIH, mampu secara fisik/sehat, situasi aman, dan tentu mampu secara ilmu pengetahuan tentang ibadah haji. Allah Swt telah

(2)

memberikan isyarat dan pesan kepada kita seperti di dalam firman-Nya : “ Wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam Islam secara keseluruhan “ ( QS.Al Baqarah : 208 ) Ini juga di kuatkan dalam ayat lain “Apakah engkau beriman kepada sebagian isi kitab dan mengkafiri sebagian yang lain ? “ (QS.Al Baqarah : 85 ). Kedua ayat tersebut mengisyaratkan kepada umat Islam dalam melaksanakan kewajibannya harus dengan sepenuh hati tanpa dicampuri dengan alasan kepentingan yang lain. Setiap syari’at ibadah kepada Allah swt dalam Islam diharapkan akan berdampak secara positif dari dua dimensi keshalehan, yaitu keshalehan yang bersifat indifidual (berupa ketaatan pribadi kepada Allah swt) serta keshalehan yang bersifat sosial (berupa nilai manfaat kepada sesama manusia dan lingkungan masyarakat). Pelaksanaan ibadah haji di Indonesia cukup menarik perhatian berbagai lapisan masyarakat.

Sehingga beragam pemberitaan dan penilaian terhadap pelaksanaannya. Fenomena persoalan selalu muncul setiap tahun, meski pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasinya. Akan tetapi itulah kenyataannya karena persoalan haji adalah persoalan kompleks yang melibatkan banyak orang dengan berbagai latar belakang sosial, melibatkan banyak instansi dan melibatkan antar negara serta menggunakan biaya yang tidak sedikit. Pemerintah telah bertekad untuk membenahi penyelenggaraan haji secara komprehensif.

Selain itu penyelenggaraan ibadah haji dari sisi kepentingan pemerintah adalah merupakan tugas nasional (pelayanan, pembinaan, dan perlindungan) yang bersifat non-profit. Sehingga pemerintah rela memberikan bantuan dana yang tidak sedikit melalui APBN/APBD. Para jamaah haji yang sebagian besar di dalamnya adalah orang mampu /istitho’ah secara ekonomi, (pengusaha, pejabat dan sebagainya) juga mendapatkan hak yang sama berupa bantuan atau subsidi tersebut. Ironisnya termasuk para pembimbing KBIH yang setiap tahun berangkat haji dan mendapat keuntungan secara materi berlimpah dari jamaah bimbingannya, juga ikut menikmati subsidi/bantuan dari pemerintah melalui APBN/APBD tersebut.

Beberapa tahun terahir ini minat masyarakat muslim Indonesia yang rela mengantri sebagai waitinglist di siskohat Kementerian Agama rata-rata mencapai di atas 10 (sepuluh) tahun. Maka beragam opsi yang ditawarkan oleh berbagai pihak untuk mengatasi membludaknya antrean jamaah haji tersebut, antara lain melalui moratorium pendaftaran haji, melarang berhaji bagi yang sudah haji (berulang-ulang) dsb. Dalam situasi yang seperti ini kenyataannya ada juga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sengaja memanfaatkan untuk mencari keuntungan pribadi dengan modus penipuan kepada para calon jamaah haji.

Beberapa modus penipuan tersebut anatara lain:

1. Menjanjikan bahwa bisa mengusahakan berangkat haji tanpa harus antri di Kementerian Agama; 2. Tidak usah haji karena nunggunya lama, lebih baik umroh saja yang penting sama-sama ke tanah suci. Kedua alasan tersebut sekilas benar bagi orang awam, tetapi kalau kita cermati maka hal tersebut bisa menyesatkan. Berhaji tanpa antri maka pasti di luar sistem dan ilegal, sedangkan umroh saja tanpa haji juga belum menggugurkan kewajiban rukun Islam bagi yang mampu. Pertanyaannya, mengapa banyak orang yang tertarik untuk memperhatikan masalah rukun Islam

(3)

kelima ini? Ada apakah di balik itu semua? Untuk menjawabnya juga butuh analisa yang tidak sederhana, antara lain:

1. Karena yang berhaji itu mayoritas adalah para aghniya’ atau orang-orang tajir dan ada perputaran uang didalamnya.

2. Bagi sebagian masyarakat menganggap “sebutan nama haji” mengandung nilai status sosial yang tinggi di masyarakat.

3. Melihat masalah haji dari sisi peluang untuk mencari keuntungan secara materi. Selanjutnya kontribusi apakah yang telah diberikan oleh para jamaah haji setelah kembali ke masyarakat sebagai indiktor haji mabrur? Karena faktanya peningkatan jumlah jamaah haji di Indonesia setiap tahun belum sebanding dengan penurunan angka kemiskinan yang ada di masyarakat. Apakah subsidi pemerintah kepada jamaah haji melalui APBN/APBD tersebut sudah tepat sasaran? Karena kenyataannya masih banyak fakir miskin di negeri ini yang tidak mampu sekolah, tidak mampu berobat dengan layak, tempat tinggal yang masih jauh dari layak dan sebagainya (fakir miskin masih belum mendapatkan hak-haknya).

Fenomena di atas merupakan sebuah realita kehidupan yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu masalah ibadah haji bukan hanya dari sisi penyelenggaranya saja yang perlu di evaluasi, tetapi tidak kalah pentingnya juga dari aspek pelaku dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Rukun Islam ketiga berupa zakat, pada dasarnya bagian tak terpisahkan dari 4 (empat) rukun Islam lainnya, sebelum umat Islam diwajibkan untuk berhaji. Akan tetapi kenyataannya di masyarakat kita masalah zakat ini kurang mendapat perhatian yang serius.

Bahkan sebagian besar umat Islam membahas masalah zakat masih banyak yang enggan. Bila kita bandingkan dengan masalah haji, hampir semua media cetak maupun elektronik dan LSM begitu gencar memperhatikan dan memberitakan tentang persoalan haji (seperti anak mas). Akan tetapi sebaliknya bila untuk menyoroti persoalan zakat banyak orang yang kurang tertarik untuk memperhatikannya (seperti anak tiri). Mungkin sebagian umat Islam beranggapan bahwa yang dimaksud zakat hanyalah zakat fitrah yang ditunaikan sekali dalam setahun berupa beras 2,5 kg atau berupa uang senilai dengan harga beras.

Sedangkan berupa zakat maal kenyataannya masih banyak yang belum melaksankan sebagaimna mestinya. Pada dasarnya dalam syari’at Islam menunaikan zakat harus lebih diutamakan sebelum seseorang menunaikan ibadah haji. Karena zakat diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an selalu beriringan dengan perintah shalat. : ‘’ dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ ‘’(Al-Baqarah; 44) Perintah Allah swt tentang zakat di dalam Al-Qur’an kurang lebih ada 70 (tujuh puluh) kali, hal ini menunjukkan betapa arti pentingnya tentang kewajiban zakat bagi umat Islam.

Sedangkan masalah haji dan umrah jauh lebih sedikit disinggung dalam ayat Al-Qur’an bahkan dalam sejarahnya Rasulullah saw juga hanya satu kali melaksankan haji dan dua kali umrah. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi umat Islam sekarang ini ada yang berangkat haji hampir setiap tahun dan umrah berkali-kali dalam setahun. Oelh karena itu masih banyak orang umat Islam yang mungkin sudah shaleh secara

(4)

individu tetapi belum berbanding lurus dengan keshalehan sosialnya, terutama dalam hal kepedulian berbagi dengan orang lain terutama fakir miskin. Masalah peringatan bagi umat Islam yang enggan membayar zakat, Rasulullah saw bersabda: Diriwayatkan dari Abu Dzar ra. ia berkata, “Aku menghampiri Nabi Saw saat ia sedang berbicara di bawah bayang-bayang Ka’bah, “Mereka adalah orang-orang yang merugi, demi Rabb pemilik Ka’bah, Mereka dalah orang-orang yang paling merugi, demi Rabb Pemilik Ka’bah, Aku berkata ada apa denganku, apakah terlihat padaku sesuatu, ada apa denganku? Lalu aku duduk di dekat beliau saat beliau berkata-kata terus. Maka aku tidak bisa diam, dan telah menutupku apa yang Allah kehendaki. Aku kemudian berkata :siapakah mereka, demi mengorbankan ayah dan ibuku untukmu, wahai Rasulullah? Beliau Nabi Saw menjawab “Orang-orang yang banyak hartanya kecuali orang yang berkata begini dan begini”.

Maksudnya yaitu orang yang menginfakkan hartanya ke depan, kanan, dan kirinya orang-orang yang berhak menerimanya. (Shahih Bukhari Muslim). Dalam hadis tersebut Rasulullah Saw sampai beberapa kali bersumpah kepada Allah bawa mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang merugi (orang yang tidak menginfakkan hartanya/ tidak berzakat) dan di aherat termasuk orang yang merugi. Selain itu Allah Swt juga mengisyaratkan dalam al-Qur’an: “tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin….(QS: 107: 1-3) Berdasarkan ayat tersebut Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

Oleh karena itu jangan sampai kita terjebak dalam golongan orang-orang yang mendustakan agama, walaupun kita memiliki keshalehan kepada Allah, dengan haji dan umrah berulang-ulang tetapi kita masih mengabaikan masalah ibadah sosial berupa zakat maal sebagai bagian kewajiban yang melekat bagi orang-orang yang beriman serta memiliki kemampuan harta. Kesimpulan:

1. Rukun Islam merupakan satu kesatuan yang utuh untuk dilaksanakan oleh setiap umat Islam sesuai dengan tingkat kemampuannya.

2. Haji adalah rukun Islam terahir sebagai penyempurna bagi pelaksanaan empat rukun Islam sebelumnya, termasuk shalat dan zakat.

3. Kualitas (kemabruran) ibadah haji seseorang pada dasarnya tidak dilihat dari kuantitasnya (haji berulang-ulang), tetapi dari kualitasnya yaitu (bagaimana perubahan kualitas ibadah dan ahlak serta kepeduliannya terhadap masalah sosialnya). 4. Zakat adalah rukun Islam yang wajib ditunaikan, baik zakat fitrah maupun zakat maal.

5. Zakat maal bukan hanya hasil pertanian/ternak dan perniagaan saja tetapi juga termasuk zakat profesi (PNS/TNI/POLRI, Karyawan) yang pengahsilannya setahun telah memenuhi ketentuan nishab.

6. Subsidi terhadap para jamaah haji yaitu orang-orang yang istitho’ah (mampu secara ekonomi) perlu kajian hukum khusus melalui kajian fikih kontemporer, karena kenyataannya masih banyak para dhu’afa yang lebih berhak untuk di subsidi dan belum menerima hak-haknya;

7. Banyaknya pendaftar calon jamaah haji merupakan potensi besar umat Islam untuk bisa saling berbagi, karena itu sudah saatnya diperlukan regulasi bagi setiap jamaah haji wajib memberi kontribusi yang nyata terhadap para dhu’afa dengan wajib membayar zakat maal yang dikelola melalui BAZ/LAZ sebagai syarat formal;

(5)

8. Kepada semua pihak, terutama para pengambil kebijakan di pemerintahan, tokoh agama, penegak hukum, LSM, Aghniya dan sebagainya untuk lebih memperhatikan terhadap para dhua’afa, sebagaimana banyak pihak yang memperhatikan masalah penyelenggaraan haji.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :