BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Medis
1. Kehamilan
a) Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah bertemunya sel spermatozoa dan ovum
yang akan dilanjutkan dengan proses nidasi atau implantasi. Bila
dihitung dari saat fertilisasi sampai dengan lahirnya bayi,
kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu
(Prawirohardjo, 2010; h.213).
b) Proses kehamilan
Menurut Manuaba (2010; h.75) proses kehamilan yaitu :
(1) Ovulasi
Adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh
sistem hormonal yang kompleks. Selama masa subur yang
berlangsung 20 sampai 35 tahun, hanya 420 buah ovum
yang dapat mengikuti proses pematangan dan terjadi
ovulasi. Proses pertumbuhan ovum (oogenesis) asalnya
epitel germinal, oogonium, folikel primer, proses
pematangan pertama. Dengan pengaruh FSH, folikel primer
mengalami perubahan menjadi folikel de Graaf yang menuju
ke permukaan ovarium disertai pembentukan cairan folikel
menyebabkan penipisan, dan selama itu ovarium
gerak dari tuba ke ovarium, gerak sel rambut lumen tuba
makin tinggi, peristaltik tuba makin aktif, ketiga faktor ini
menyebabkan aliran cairan dalam tuba makin deras menuju
uterus. Dengan pengaruh LH yang semakin besar dan
fluktuasi yang mendadak, terjadi proses pelepasan ovum
yang disebut ovulasi.
(2) Spermatozoa
Pada setiap hubungan seksual dikeluarkan sekitar 3 cc
sperma yang mengandung 40 sampai 60 juta spermatozoa
setiap cc. Bentuknya seperti cebong yaitu memilki kepala,
leher dan ekor. Sebagian besar spermatozoa mengalami
kematian dan hanya beberapa ratus yang dapat mencapai
tuba fallopi, yang masuk ke dalam alat genitalia wanita dapat
hidup selama tiga hari.
(3) Konsepsi
Pertemuan inti ovum dengan inti sprematozoa disebut
konsepsi atau fertilisasi dan membentuk zigot. Konsepsi
terjadi pada pars ampularis tuba, tempat paling luas yang
dindingnya penuh jonjot dan tertutup sel yang mempunyai
sillia.
(4) Nidasi atau Implantasi
Setelah pertemua kedua inti ovum dan spermatozoa,
terbentuk zigot yang dalam beberapa jam mampu membelah
dirinya menjadi dua dan seterusnya. Bebarengan dengan
uterus. Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula
terbentuk ruangan yang mengandung cairan disebut
blastula, perkembangan dan pertumbuhan berlangsung,
blastula dengan vili korealisnya yang dilapisi sel trofoblas
telah siap untuk mengadakan nidasi.
(5) Pembentukan plasenta
Nidasi atau implantasi terjadi pada bagian fundus uteri di
dinding depan atau belakang. Mendorong sel blastula
mengadakan diferensiasi. Sel yang dekat dengan ruangan
eksoselom membentuk “entoderm” dan yolk sac (kantong
kuning telur) sedangkan sel lain membentuk “ektoderm” dan
ruangan amnion. Awalnya yolk sac berfungsi sebagai
pembentuk darah bersama dengan hati, limpa, dan sumsum
tulang belakang. Pada minggu kedua dan ketiga terbentuk
bakal jantung dengan pembulu darahnya yang menuju body
stalk (bakal tali pusat). Vili korealis menghancurkan desidua
sampai pembuluh darah, sehingga sejak saat itu embrio
mendapat nutrisi dari darah ibu secara langsung. Bagian
desidua yang dihancurkan membagi plasenta menjadi
sekitaar 15 sampai 20 kotiledon maternal dan sekitar 200
c) Perubahan Fisiologis Kehamilan
(1) Saluran reproduksi
(a) Uterus
Selama beberapa minggu pertama, uterus
mempertahankan bentuknya yang mirip buah pir, tetapi
seiring dengan kemajuan kehamilan, korpus dan fundus
mengambil bentuk lebih membulat, dan menjadi hampir
sferis pada 12 minggu. Kemudian organ ini mengalami
peningkatan pesat alam ukuran panjangnya dari pada
lebarnya dan mengambil bentuk ovoid. Uterus yang
terus membesar ini kemudian berkontak dengan dinding
anterior abdomen, menggeser usus ke lateral dan
superior, dan terus tumbuh sehingga akhirnya mencapai
hati. Sewaktu muncul dari panggul, uterus biasanya
mengalami rotasi ke kanan. Dekstrorotasi ini
kemungkinan besar disebabkan oleh adanya
rektoigmoid di sisi kiri panggul. Seiring dengan naiknya
uterus, tegangan pada ligamentum latum dan rotundum
juga menigkat. (William, 2014; h.113).
Table 2.1 ukuran tinggi fundus uteri menurut spiegelberg.
Um ur keham ilan Ukuran
22 – 28 m inggu 24 – 25 cm di atas s im pis is 28 m inggu 26,7 cm di atas s im pis is 30 m inggu 29,5 – 30 cm di atas s im pis is 32 m inggu 29,5 – 30 cm di atas s im pis is
34 m inggu 31 cm di atas s im pis is 36 m inggu 32 cm di atas s im pis is 38 m inggu 33 cm di atas s im pis is 40 m inggu 37,7 cm di atas s im pis is
Dengan mengetahui tinggi fundus uteri dapat
menentukan taksiran berat badan janin dengan
menggunakan rumus Johnson – Tausak dalam Rustam
(2012; h.41) : BB = (mD-12) x 155.
Keterangan: mD adalah tinggi fundus uteri, BB adalah
berat badan janin.
Table 2.2 Hubungan tua kehamilan, besar uterus dan tinggi
fundus uteri.
Akhir bulan Besar uterus Tinggi fundus uteri
1 Lebih bes ar dari bias a Belum teraba (palpas i) 2 Telur bebek Di belakang s im fis is 3 Telur angs a 1 – 2 jari di atas s im fis is 4 Kepala bayi Pertengahan s im fis is – pus at 5 Kepala dewas a 2 – 3 jari di bawah pus at 6 Kepala dewas a Kira – kira s etinggi pus at 7 Kepala dewas a 2 – 3 jari di atas pus at
8 Kepala dewas a Pertengahan pus at – pros es us xiphoideus
9 Kepala dewas a 3 jari dibawah Px atau s am pai s etinggi Px
10 Kepala dewas a Sam a dengan keham ilan 8 bulan, tetapi m elebar ke s am ping
Sumber : Mochtar, 2012; h.42
(b) Serviks
Satu bulan setelah konsepsi, serviks sudah mulai
mengalami perlunakan dan sianosis mencolok. Terjadi
karena peningkatan vaskularitas dan edema serviks
keseluruhan, disertai oleh hipertrofi dan hiperplasia
kelenjar serviks. (Straach, dkk 2005 dalam William,
2014; h.114).
(c) Ovarium
Selama kehamilan, ovulasi berhenti dan
hanya satu korpus luteum yang ditemukan pada wanita
hamil. Tidak banyak berkontribusi dalam produk
progesteron. (William, 2014; h.114).
(d) Tuba uterina
Otot – otot tuba uterina hanya sedikit mengalami
hipertrofi selama kehamilan. Namun, epitel mukosa tuba
menjadi agak mendatar. (Batukan, dkk. 2007 dalam
William, 2014; h.115).
(e) Vagina dan Perineum
Terjadi peningkatan vaskularitas dan hiperemia di
kulit dan otot perineum dan vulva, disertai perlunakan
jaringan ikat di bawahnya, menyebabkan warna vagina
menjadi keunguan (tanda Chadwick). Ketebalan
mukosa, melonggarnya jaringan ikat, dan hipertrofi sel
otot polos sehingga terbentuk gambaran berpaku – paku
halus. Sekresi vagina meningkat berupa cairan putih
agak kental pH berkisar 3,5 sampai 6. Disebabkan oleh
peningkatan produksi asam laktat dari glikogen di epirel
vagina oleh kerja lactobacillus acidophilus. (William,
2014; h.116).
(2) Kulit
Meningkatnya aliran darah ke kulit selama kehamilan
berfungsi untuk mengeluarkan kelebihan panas yang
terbentuk karena meningkatnya metabolisme. Alur – alur
dan paha. Disebut striae gravidarum atau stretch marks.
Osman, dkk (2007) melaporkan bahwa 48% mengalami
striae gravidarum di perut, 25% di payudara dan 25% di
paha. Otot dinding abdomen tidak dapat menahan tegangan
yang mengenainya akibat dari itu otot rektus terpisah di garis
tengah, menciptakan suatu diastasis rekti dengan derajat
bervariasi. Hiperpigmentasi, garis tengah pada abdomen
linea alba atau linea nigra (hitam kecoklatan). Muncul bercak – bercak kecoklatan dengan berbagai ukuran di wajah dan
leher atau cloasma gravidarum. Pigmentasi di aerola dan
kulit genital juga dapat bertambah. Perubahan – perubahan
ini akan menghilang atau berkurang setelah persalinan.
(William, 2014; h.116).
(3) Payudara
Pada minggu – minggu awal kehamilan sering merasakan
nyeri payudara. Setelah bulan kedua membesar dan
memperlihatkan vena – vena halus di bawah kulit. Puting
menjadi jauh lebih besar, bewarna lebih gelap dan lebih
tegak. Beberapa bulan pertama pemijatan puting akan
mengeluarkan cairan kuning kental kolostrum. Pada aerola
lebih lebar dan lebih gelap, tersebar sejumlah tonjolan kecil
kelenjar montgomery, namun ukuran payudara yang
berubah membesar tidak berkaitan dengan volume air susu
(4) Perubahan Metabolik
(a) Penambahan berat badan
Disebabkan oleh uterus dan isinya, payudara dan
peningkatan volume darah serta cairan ekstrasel
ekstravaskular. Hytten (1991) melaporkan bahwa
penambahan berat badan selama kehamilan adalah
sekitar 12,5 kg. (William, 2014; h.117).
(b) Metabolisme air
(c) Metabolisme protein
(d) Metabolisme karbohidrat
(e) Metabolisme lemak
(f) Metabolisme elektrolit dan mineral. (William, 2014;
h.119).
(5) Perubahan Hematologis
Setelah 32 sampai 34 minggu kehamilan, hipervolemia
yang telah lama diketahui besarnya adalah 40 sampai 45%
di atas volume darah tak hamil. Mulai meningkat pada
trimester pertama minggu ke 12. (William, 2014; h.119).
(6) Sistem kardiovaskular
Perubahan pada fungsi jantung mulai tampak selama 8
minggu pertama kehamilan (McLaughlin dan Roberts, 1999
dalam William, 2014; h.123). berkurangnya resistensi
vaskular sistemik dan meningkatnya kecepatan jantung.
Dalam posisi terlentang, tekanan vena femoralis terus
menjelang aterm membuktikan mengalami hambatan kecuali
pada posisi berbaring lateral. (William, 2014; h.123).
(7) Saluran pernapasan
Diafragma terangkat sekitar 4 cm selama kehamilan.
Pergerakkannya pun lebih besar dibandingkan tak hamil.
Jumlah oksigen yang diperlukan meningkat. (William, 2014;
h.127).
(8) Sistem kemih
Ukuran ginjal sedikit meningkat. Clearance kreatinin
pada kehamilan sekitar 30% lebih tinggi dari pada nilai 100
sampai 115 ml/mnt pada wanita tak hamil. (Lindheimer, dkk.
2000 dalam William, 2014; h.129).
(9) Saluran pencernaan
Lambung dan uterus tergeser oleh uterus yang terus
membesar. Pada wanita hamil tekanan intraesofagus
berkurang dan tekanan intralambung meningkat. Peristaltik
esofagus menurun kecepatan gelombang dan amplitudo.
(Ulmsten dan Sundstrom, 1978). Gusi mengalami hiperemia
dan melunak selama kehamilan dan dapat berdarah setelah
trauma ringan. Haemoroid terjadi disebabkan konstipasi dan
peningkatan tekanan di vena – vena dibawah uterus yang
membesar. (William, 2014; h.131).
d) Perubahan Psikologis Kehamilan
Semua emosi yang dirasakan oleh wanita hamil cukup labil.
kerap berubah dengan cepat. Reaksi emosional dan persepsi
mengenai kehidupan juga dapat mengalami perubahan. Menjadi
sangat sensitif dan cenderung bereaksi berlebihan. Merasa
sangat takut akan kematian baik pada dirinya sendiri dan pada
bayinya. Tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri dan
cenderung menuntut. Trimester pertama dianggap sebagai
periode penyesuaian atau penerimaan terhadap kenyataan. 80%
mengalami kekecewaan, penolakan, kecemasan, depresi dan
kesedihan. (Varney,2007; h. 501).
Trimester pertama adalah waktu dimana terjadi penurunan
libido tapi tidak menentukan bahwa wanita hamil tirmester
pertama tidak ada hasrat hubungan seksual. (Varney,2007; h.
501).
Trimester kedua dikenal sebagai periode kesehatan yang
baik, merasa nyaman dan bebas dari segala ketidaknyamanan.
Lebih banyak bersosialisasi dengan wanita hamil lainnya, sudah
dapat menerima kehamilan, mempersiapkan peran baru.
Mengalami kemajuan untuk berhubungan seksual. Hilang rasa
menuntut kasih sayang namun mencari kasih sayang dari orang
terdekatnya. (Varney,2007; h. 502).
Trimester ketiga disebut periode penantian dengan penuh
kewaspadaan. Wanita mulai menyadari bayi sebagai makhluk
terpisah sehingga ia tidak sabar menanti kehadiran sang bayi.
waspada. Merasakan ketidaknyamanan fisik. (Varney,2007; h.
503).
e) Tanda – Tanda Kehamilan
Tanda – tanda kehamilan (Manuaba, 2010; h.107-109) yaitu :
Tanda kemungkinan kehamilan :
(1) Amenorea (terlambat haid). Konsepsi dan nidasi
menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de Graaf dan
ovulasi. Dengan mengetahui hari pertama haid terakhir
dengan perhitungan rumus Naegle, dapat ditentukan
perkiraan persalinan.
(2) Mual dan muntah (emesis). Pengaruh estrogen dan
progesteron menyebabkan pengeluaran asam lambung yang
berlebihan. Mual dan muntah terutama pada pagi hari
disebut morning sickness. Dalam batas yang fisiologis,
keadaan ini dapat diatasi. Akibat mual dan muntah, nafsu
makn berkurang.
(3) Ngidam yaitu menginginkan makanan tertentu.
(4) Sinkope atau pingsan. Terjadinya gangguan sirkulasi ke
daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan
saraf pusat dan menimbukan sinkop atau pingsan. Keadaan
ini menghilang setelah usia kehamilan 16 minggu.
(5) Payudara tegang. Pengaruh estrogen – progesteron dan
somatomamotrofin menimbulkan deposit lemak, air dan
(6) Sering miksi. Desakan rahim ke depan menyebabkan
kandung kemih cepat terasa penuh.
(7) Konstipasi. Pengaruh progesteron dapat menghambat
peristaltik usus
(8) Pigmentasi kulit. Keluarnya melanophore stimulating
hormone hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit di
sekitar pipi, dinding perut dan sekitar payudara.
(9) Epulis
(10) Varises. Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi
penampakan pembuluh darah.
Tanda tidak pasti hamil :
(1) Rahim membesar, sesuai dengan tuanya hamil
(2) Pemeriksaan dalam, dijumpai tanda Hegar, tanda
Chadwicks, piscaseck, kontraksi Braxton Hicks, dan teraba
ballotement.
(3) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif
Tanda pasti hamil :
(1) Gerakan janin dalam rahim
(2) Terlihat / teraba gerakan janin dan teraba bagian – bagian
janin
f) Ketidaknyamanan dan cara mengatasi
Table 2.3 Identifikasi kebutuhan dasar ketidaknyamanan dan cara
mengatasi.
Ketidaknyam anan Das ar anatom is dan fis iologis
Cara m eringankan atau m encegah
Kelelahan Selam a TM I
Keputihan TM I, II, III
Ngidam
Bias anya pada TM I, tapi bis a berlangs ung s epanjang m as a keham ilan
Sering buang air kencing/ nocturia
TM I dan TM III
(1) Penyebab tidak diketahui
(2) Mungkin berhubungan dengan
penurunan laju m etabolis m e bas al pada awal keham ilan (1) Hiperplas ia
m ukos a vagina (2) Peningkatan
produks i lendir dan kelenjar endocervikal s ebagai akibat dari kadar es trogen
(1) Mungkin
berkaitan dengan pers eps i individu wanita ters ebut m engenai apa yang bis a m engurangi ras a m ual dan m untah (2) Indra pengecap m enjadi tum pul, jadi m akanan yang lebih m erangs ang dicari – cari (1) Tekanan uterus
pada kandung kem ih
(2) Nocturia akibat eks res i s odium yang m eningkat dengan terjadinya pengeluaran air (3) Air dan s odium
tertahan di bawah tungkai s elam a s iang hari karena s tatis vena, pada m alam hari terdapat aliran balik vena yang m eningkat dengan akibat peningkatan jum lah output air
(1) Yakinkan bahwa hal ini normal terjadi dalam keham ilan (2) Dorong ibu untuk s ering
beris tirahat
(3) Hindari is tirahat yang berlebihan
(1) Meningkatkan kebers ihan dengan m andi s etiap hari (2) Mem akai pakaian dalam yang
terbuat dari katun bukan nilon (3) Menghindari pencucian vagina
dengan m encuci vagina dengan s abun dari arah depan ke belakang
(1) Tidak s eharus nya m enim bulkan kekhawatiran as alkan cukup bergizi dan m akanan yang diinginkan m akanan yang s ehat
(2) Menjelas kan tentang bahaya m akanan yang tidak baik (3) Mendis kus ikan m akanan yang
dapat diterim a yang m eliputi m akanan yang bergizi dan m em uas kan ngidam atau kes ukaan tradis ional
(1) Penjelas an m engenai s ebab terjadinya nocturia
(2) Kos ongkan s aat teras a dorongan untuk kencing (3) Perbanyak m inum pada s iang
hari
(4) Jangan kurangi m inum dim alam hari untuk m engurangi nocturia, kecuali jika nocturia m engganggu tidur dan m enyebabkan keletihan
Ras a m ual dan m untah – m untah 5 s am pai 12 m inggu bis a terjadi lebih awal 2 – 3 m inggu s etelah HPHT
Cloas m a TM II
Garis – garis diperut (s triae gravidarum ) Tam pak jelas pada bulan ke 6 – 7
Hem orrhoid TM II dan TM III
Kons tipas i TM II dan TM III
Ses ak napas
(hiperventilasi)
TM II dan TM III Nyeri ligam entum rotundum TM I dan TM III Pus ing
TM II dan TM III
(1) Peningkatan kadar HCG, es trogen/ proges teron (2) Relaks as i dan
otot – otot halus (3) Metabolis m e
perubahan dalam karbohidrat berlebihan (1) Peningkatan
kadar es trogen dan m ungkin proges teron (1) Bis a tim bul akibat
perubahan horm on atau gabungan antara perubahan horm on dan peregangan (1) Kons tipas i (2) Tekanan yang
m eningkat dari uterus gravid terhadap vena hem orrhoid (1) Peningkatan
kadar
proges teron yang m enyebabkan peris taltik us us m enjadi lam bat (2) Penurunan
m otalitas s ebagai akibat dari relaks as i otot – otot halus
(3) Penyerapan air dari kolon m eningkat (4) Tekanan dari
uterus yang m em bes ar pada us us
(1) terus m em bes ar dan m enekan diafragm a
(1) Tekanan dari uterus pada ligam entum (1) Hipertens i
pos tural yang berhubungan dengan
perubahan – perubahan hem odinam is (2) Sakit kepala pada
triwulan terakhir dapat m erupakan
(1) Makan bis kuit atau roti bakar s ebelum bangun dari tem pat tidur dipagi hari
(2) Makan s edikit tapi s ering (3) Hindari m akanan yang
berm inyak dan berbum bu m erangs ang
(4) Hindari gos ok gigi s etelah m akan
(1) Hindari s inar m atahari berlebihan s elam a m as a keham ilan
(2) Gunakan atau kenakan pakaian yang m enom pang payudara dan abdom en
(1) Hindari kons tipas i (2) Makan m akanan bes erat
(1) Tingkatkan intake cairan dan s erat
(2) Is tirahat cukup
(3) BAB s egera s etelah ada dorongan
(1) Latihan nafas m elalui s enam ham il
(2) Kons ul dokter bila ada as m a (1) Tekuk lutut kearah abdom en (2) Mandi air hangat
(1) Bangun s ecara perlahan dari pos is i is tirahat
(2) Hindari berdiri terlalu lam a (3) Kons ultas i/ periks a untuk ras a
Varis es pada kaki/ vulva TM II dan TM III
Ginggivitis dan
epulis
preeklam sia berat (1) Konges ti vena dalam vena bagian bawah m eningkat s ejalan dengan
keham ilan karena tekanan dari uterus yang ham il (2) Dis ebabkan faktor us ia dan lam a berdiri
(1) Peningkatan vas kularis as i dan poliferas i jaringan ikat akibat rangs angan es trogen
(1) Hindari berdiri atau duduk terlalu lam a
(2) Senam , hindari pakaian dan kors et yang ketat, jaga pos tur tubuh yang baik
(1) Kebers ihan gigi yang baik (2) Penggunaan s ikat yang lunak
dan perlahan – lahan
Sumber : Kusmiyati, 2009;h.123-133
g) Tanda Bahaya Kehamilan
Pada umumnya 80 – 90% kehamilan akan berlangsung
normal dan hanya 10 – 12% kehamilan disertai dengan penyulit
atau berkembang menjadi kehamilan patologis. (Sarwono, 2010;
h.281).
(1) Pendarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan di
bawah 20 minggu, umumnya disebabkan oleh keguguran.
Disebabkan oleh kelainan kromosom yang ditemui pada
spermatozoa ataupun ovum. Penyebab yang sama dan
menimbulkan gejala perdarahan pada kehamilan muda dan
ukuran pembesaran uterus yang di atas normal pada
umumnya disebabkan oleh mola hidatidosa. Perdarahan
pada kehamilan lanjut atau di atas 20 minggu pada
umumnnya disebabkan oleh plasenta previa. Bila mendekati
saat persalinan, perdarahan dapat disebabkan oleh solusio
plasenta (40%) atau vasa previa (5%) dari keseluruhan
(2) Preeklampsia.
Umumnya ibu hamil dengan usia kehamilan di atas 20
minggu disertai dengan paningkatan tekanan darah di atas
normal sering diasosiasikan dengan preeklampsia. Gejala
lainnya yaitu: hiperrefleksia (irritabilitas susunan saraf
pusat), sakit kepala atau cepalgia, gangguan penglihatan
seperti pandangan kabur, nyeri epigastrik, oliguria, tekanan
darah naik, sistolik (20 – 30 mmHg) dan diastolik (10 – 20
mmHg) diatas normal. Proteinuria, edema menyeluruh.
(3) Nyeri hebat di daerah abdominopelvikum.
Terjadi pada kehamilan trimester dua atau ketiga dan
disertai dengan riwayat dan tanda – tanda seperti tinggi
fundus uteri lebih besar dari usia kehamilan, bagian –
bagian janin sulit diraba, uterus tegang dan nyeri, janin
mati di dalam rahim bisa jadi itu tanda dari solusio
plasenta.
(4) Gejala lain yang harus diwaspadai yaitu muntah berlebihan
yang berlangsung selama kehamilan, disuria, menggigil atau
demam, ketuban pecah dini atau sebelum waktunya.
h) Komplikasi dalam kehamilan
(1) Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang
berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu
pekerjaan sehari – hari karena keadaan umumnya menjadi
(2) Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsespsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan.
Klasifikasi abortus dapat dibagi menjadi dua golongan:
(a) Abortus spontan
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi
dengan tidak didahului faktor – faktor mekanis ataupun
medisinalis, semata – mata disebabkan oleh faktor –
faktor alamiah.
Klinis abortus spontan dibagi menjadi 5 yaitu:
(i) Abortus immines adalah keguguran yang
mengancam. Keguguran belum terjadi sehingga
kehamilan dapat dipertahankan dengan cara tirah
baring, tidak berhubungan seksual, evaluasi secara
berkala dengan USG untuk melihat perkembangan
janin.
(ii) Abortus insipien adalah proses keguguran yang
sedang berlangsung. Ditandai dengan adanya rasa
sakit karena telah terjadi kontraksi rahim untuk
mengeluarkan hasil konsepsi.
(iii) Abortus inkompletus adalah keguguran bersisa atau
hanya sebagian dari hasil konsepsi yang
dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau
(iv) Abortus kompletus adalah seluruh hasil konsepsi
dikeluarkan (desidua atau fetus), sehingga rongga
rahim kosong.
(v) Missed abortion adalah keadaan dimana janin yang
telah mati masih berada di dalam rahim.
(b) Abortus provokatus
Abortus provokatus adalah abortus yang disengaja,
baik dengan memakai obat – obatan maupun alat – alat.
Abortus provokatus dibagi lagi menjadi:
(i) Abortus medisinalis adalah abortus karena tindakan
kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu
(berdasarkan indikasi medis).
(ii) Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh
karena tindakan – tindakan yang tidak legal atau
tidak berdasarkan indikasi medis. (Mochtar.2012;
h.151-152).
(3) Mola Hidatidosa
Mola hidatidosa merupakan penyimpangan pertumbuhan
dan perkembangan kehamilan yang tidak disertai janin dan
seluruh vili korealis mengalami perubahan hidrofik.
(Manuaba, 2010; h.326)
(4) Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang trejadi di luar
perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah
sedang, kesadaran menurun, pucat, nyeri
abdomen.(KepMenkes, 2013;h.94)
(5) Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta
berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen
bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh
pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal). (Mochtar, 2011;
h.187)
Klasifikasi plasenta previa:
(a) Plasenta previa totalis: seluruh ostium ditutupi plasenta
(b) Plasenta previa partialis: sebagian ditutupi plasenta
(c) Plasenta letak rendah (low lying placenta): tepi plasenta
berada 3 – 4 cm di atas pinggir pembukaan, pada
pemeriksaan dalam tidak teraba.
(6) Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta
yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum
janin lahir. (Mochtar,2012; h.93)
(7) Hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi adalah tekanan darah sekurang – kurangnya
140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik pada dua kali
(a) Hipertensi kronik
Hipertensi kronik yaitu hipertensi tanpa proteinuria
yang timbul dari sebelum kehamilan dan menetap
setelah presalinan.
Diagnosis:
(i) Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg
(ii) Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau
diketahui adanya hipertensi pada usia kehamilan
<20 minggu
(iii) Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup
urin) (KepMenKes RI, 2013; h.82-117)
(b) Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional yaitu hipertensi tanpa
proteinuria yang timbul setelah kehamilan 20 minggu
dan menghilang setelah persalinan.
Diagnosis:
(i) Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg
(ii) Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil,
tekanan darah normal diusia kehamilan <12 minggu
(iii) Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup
urin)
(iv) Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia,
seperti nyeri ulu hati
(v) Diagnosis pasti ditegakkan pasca persalinan
i) Asuhan Kebidanan pada Kehamilan
(1) Mengunjungi berkala kepada ibu hamil
Jumlah kunjungan cukup empat kali; satu kali pada
trimester I, satu kali pada trimester II, dan dua kali pada
trimester III. Untuk mengenali secara dini berbagai penyulit
atau gangguan kesehatan yang terjadi pada ibu hamil.
Selain itu, untuk memberdayakan ibu hamil dan keluarga
tentang proses kehamilan dan masalahnya melalui
penyuluhan atau konseling.
(2) Menilai kesejahteraan janin
Melakukan berbagai pemeriksaan yaitu: pengukuran
tinggi fundus uteri, gerakan janin, denyut jantung janin,
ultrasonografi, besar janin, letak dan posisi janin, dan
penilaian luas panggul.
(3) Edukasi kesehatan bagi ibu hamil
Beberapa informasi penting adalah sebagai berikut:
(a) Nutrisi yang adekuat: setiap harinya adalah 2.500 kalori,
jumlah protein 85 gram, kalsium 1,5 gram, zat besi 30
mg, dan asam folat 400 mikrogram.
(b) Perawatan payudara: pengurutan secara hati – hati
payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka
duktus dan sinus laktiferus. Basuhan lembut setiap hari,
pembersihan puting susu dengan gliserin dan alkohol
dan sebaiknya gunakan penopang payudara yang
(c) Perawatan gigi : dua kali pemeriksaan gigi selama masa
kehamilan, dianjurkan untuk selalu menyikat gigi setelah
makan.
(d) Kebersihan tubuh dan pakaian : gunakan pancuran atau
gayung pada saat mandi. Gunakan pakaian longgar,
bersih serta nyaman, hidari memakai sepatu ber hak
tinggi, alas kaki yang keras dan korset pada perut ibu.
(e) Melakukan gerakan ringan dan istirahat yang cukup.
(Sarwono, 2010; h.284).
j) Standar pelayanan antenatal
(1) Penimbangan berat badan dan pengkuran tinggi badan
(2) Pengukuran tekanan darah
(3) Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
(4) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)
(5) Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian
imunisasi tetanus sesuai status imunisasi
Tabel 2.4 Pemberian Imunisasi TT
Antigen Interval
(s elang waktu m inim al) TT1 Pada kunjungan
antenatal pertam a
Lam a perlindungan % perlindungan
- -
TT2 4 m inggu s etelah TT1 3 tahun 80
TT3 6 bulan s etelah TT2 5 tahun 95
TT4 1 tahun s etelah TT3 10 tahun 99
TT5 1 tahun s etelah TT4 25 tahun/s eum ur 99 hidup
Sumber: Saifudin, 2009; h.90
(6) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama
kehamilan
(8) Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi
interpersonal dan konseling, termasuk keluarga berencana)
(9) Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes
hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan
pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan
sebelumnya)
(10) Tatalaksana kasus (Profil Kesehatan Indonesia, 2014;
h.87)
2. Persalinan
a) Pengertian persalinan
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan
pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan
kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan
progresif pada serviks, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta.
(Varney, 2008; h.672)
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil
konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim
melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. (Rustam Mochtar,
2012; h.69)
Beberapa istilah yang berhubungan dengan partus
(Rustam Mochtar, 2012; h.69)
(1) Menurut cara persalinan :
(a) Partus biasa (normal), disebut juga partus spontan,
ibu sendiri, tanpa bantuan alat – alat, serta tidak melukai
ibu dan bayi, yang umumnya berlangsung kurang dari
24 jam.
(b) Partus luar biasa (abnormal) adalah persalinan
pervaginam dengan bantuan alat – alat atau melalui
dinding perut dengan operasi kaesaria.
(2) Menurut tua (umur) kehamilan :
(a) Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan
sebelum janin dapat hidup (viabel) – berat janin di
bawah 1000 gram – tua kehamilan di bawah 28 minggu.
(b) Partus prematurus adalah persalinan (pengeluaran)
hasil konsepsi pada kehamilan 28 – 36 minggu; janin
dapat hidup tetapi prematur, berat janin antara 1000 –
2500 gram.
(c) Partus maturus atau aterm (cukup bulan) adalah partus
pada kehamilan 37 – 40 minggu, janin matur, berat
badan di atas 2500 gram.
(d) Partus postmaturus adalah persalinan yang terjadi 2
minggu atau lebih setelah waktu partus yang ditaksir,
janin disebut postmatur.
(e) Partus presipitatus adalah partus yang berlangsung
sangat cepat, mungkin di kamar mandi, di atas becak,
(f) Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan
persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau
tidaknya disporsi sefalopelvik.
b) Macam-macam persalinan
Menurut Manuaba (2010; h.164) macam – macam persalinan
yaitu :
(1) Persalinan spontan. Bila persalinan seluruhnya berlangsung
dengan kekuatan ibu sendiri.
(2) Persalinan buatan. Bila proses persalinan dengan bantuan
tenaga dan luar.
(3) Persalinan anjuran (partus presipitatus).
c) Etiologi terjadinya proses persalinan
Penyebab terjadinya persalianan belum diketahui benar,
yang ada hanyalah teori – teori yang kompleks. Teori – teori
yang dikemukakan antara lain faktor – faktor hormonal, struktur
rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf, dan nutrisi.
(Rustam Mochtar, 2012; h.69)
(1) Teori penurunan hormon
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron
terjadi pada 1 – 2 minggu sebelum partus. Progesteron
bekerja sebagai penenang otot – otot polos rahim. Karena
itu, akan terjadi kekejangan pembuluh darah yang
(2) Teori plasenta menjadi tua
Penuaan plasenta akan menyebabkan turunnya kadar
estrogen dan progesteron sehingga terjadi kekejangan
pembuluh darah sehingga menimbulkan kontraksi rahim.
(3) Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang
menyebabkan iskemia otot – otot rahim sehingga
mengganggu sirkulasi uteroplasenta.
(4) Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks, terletak ganglion servikale
(pleksus frankenhauser). Apabila ganglion tersebut digesesr
dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul
kontraksi uterus.
(5) Induksi partus (induction of labour).
Pertus dapat pula ditimbulkan dengan :
(a) Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan
dalam kanalis servisis dengan tujuan merangsang
pleksus frankenhauser
(b) Amniotomi : pemecahan ketuban
(c) Tetsan oksitosin : pemberian oksitosin melalui tetesan
per infus
d) Fisiologis Persalinan
Proses fisiologi kehamilan pada manusia yang
menimbulkan inisiasi partus dan awitan persalinan belum
aktivitas progesteron untuk mempertahankan ketenangan uterus
sampai mendekati akhir kehamilan. (Sarwono, 2010; h.296).
e) Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
Menurut Mochtar (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi
persalinan adalah:
(1) Kekuatan mendorong janin keluar (power)
(a) His (kontraksi uterus )
(b) Kontraksi otot – otot dinding perut
(c) Kontraksi diafragma
(2) Faktor jalan lahir (Passage)
Faktor jalan lahir dibagi atas:
(a) Bagian keras tulang – tulang panggul (rangka panggul)
(b) Bagian lunak: otot-otot, jaringan – jaringan dan ligamen – ligamen.
(3) Faktor janin (Passenger)
Faktor janin di bagi atas:
(a) Kepala janin
Bagian yang paling besar dan keras pada janin
adalah kepala janin. Posisi dan besar kepala dapat
mempengaruhi jalannya persalinan.
(b) Postur janin dalam rahim
Postur janin sangat mempengaruhi dalam proses
persalinan diantaranya:
(i) Sikap yaitu menunjukan hubungan bagian – bagian
punggungnya. Janin umumnya berada dalam sikap
fleksi, yaitu kepala, tulang punggung, dan kaki
dalam keadaan fleksi, serta lengan bersilang di
dada.
(ii) Letak janin adalah bagimana posisi sumbu janin
terhadap sumbu ibu. Sebagai contoh, pada letak
lintang, sumbu janin tegak lurus terhadap sumbu
ibu; dan pada letak membujur, sumbu janin sejajar
dengan sumbu ibu. Pada letak membujur, terdapat
dua kemungkinan, yaitu bagian terbawah janin
adalah kepala, atau mungkin juga letak sungsang.
(iii) Presentsi digunakan untuk menentukan bagian
janin yang terdapat di bagian bawah rahim.
(iv) Posisi merupakan indikator untuk menyatakan arah
bagian terbawah janin: apakah sebelah kanan, kiri,
depan, atau belakang terhadap sumbu ibu
(maternal-pelvis). Misalnya Letak Belakang Kepala
(LBK), Ubun – ubun Kecil (UUK) kiri depan, uuk
kanan belakng.
(4) Psychology (Psikologi)
Menurut (Sondakh, 2013; h.91), menyebutkan
perubahan psikologi ibu yang muncul pada saat memasuki
masa persalinan sebagian besar berupa perasaan takut
maupun cemas, terutama pada ibu primigravida yang
kejadian yang akan dialami pada akhir kehamilannya. Oleh
sebab itu, penting sekali untuk mempersiapkan mental ibu
karena perasaan takut akan menambah rasa nyeri, serta
akan menegangkan otot – otot serviksnya dan akan
mengganggu pembukaannya. Ketegangan jiwa dan badan
ibu juga menyebabkan ibu lekas lelah.
(5) Penolong
Fungsi penolong persalinan sangat berat, yaitu
memberikan pertolongan bagi dua jiwa yaitu ibu dan anak,
serta kesuksesan pertolongan tersebut sebagian bergantung
pada keadaan petugas yang menolongnya, maka sangat
penting untuk diadakan kualifakasi atau persyaratan bagi
petugas yang bekerja di kamar bersalin dan penolong
persalinan. Dengan demikian, sesuai dengan hal tersebut,
persyaratan yang diperlakukan adalah persyaratan
kemampuan, ketrampilan, dan kepribadian (Sondakh, 2013;
h.97).
f) Tanda dan Gejala Menjelang Persalinan (Varney, 2008; h.672)
(1) Lightening (perasaan distensi abdomen berkurang)
Mulai dirasakan kira – kira 2 minggu sebelum
persalinan, adalah penurunan bagian presentasi bayi ke
dalam pelvis minor. Wanita sering menyebutkan lightening
(2) Perubahan Serviks
Mendekati persalinan, serviks semakin “matang.”
Awalnya selama masa hamil, serviks dalam keadaan
menutup, panjang, dan lunak, sekarang serviks masih
lunak, dengan konsistensi seperti pudding, dan mengalami
sedikit penipisan (effacement) dan kemungkinan sedikit
dilatasi. Evaluasi kematangan serviks akan tergantung
pada individu wanita dan paritasnya, contoh, pada masa
hamil serviks ibu multipara secara normal mengalami
pembukaan 2 cm, sedangkan pada primigravida dalam
kondisi normal serviks menutup.
Perubahan serviks diduga terjadi akibat peningkatan
intensitas kontraksi Braxton Hicks.
(3) Persalinan palsu
Persalinan palsu terdiri dari kontraksi uterus yang
sangat nyeri, yang memberikan pengaruh signifikan
terhadap serviks. Kontraksi pada persalinan palsu
sebenarnya timbul akibat kontraksi Braxton Hicks yang
tidak nyeri, yang telah terjadi sejak sekitar 6 minggu
kehamilan.
Persalinan palsu dapat terjadi selama berhari – hari
atau secara intermiten bahkan tiga atau empat minggu
(4) Ketuban Pecah Dini
Kondisi normal, ketuban pecah pada akhir kala satu
persalinan. Ketuban pecah sebelum awitan persalinan
disebut Ketuban Pecah Dini (KPD). Ketuban Pecah Dini
dialami oleh 12% wanita hamil dan 80% pada wanita yang
mendekati usia kehamialn cukup bulan dan mulai
mengalami persalinan spontan dalam waktu 24 jam
setelah ketuban pecah.
(5) Bloody Show
Bloody show adalah plak lendir yang disekresi serviks
sebagai hasil proliferasi kelenjar lendir serviks pada Awal
kehamilan. Plak ini menjadi sawar pelindung dan menutup
jalan lahir selama kehamilan.
(6) Lonjakan energi
Lonjakan energi banyak dialami wanita kurang lebih 24
sampai 48 jam sebelum awitan persalinan, setelah
beberapa hari dan minggu merasa letih secara fisik karena
hamil, terdapat suatu hari dimana mereka menemukan diri
bertenaga penuh. Wanita ini merasa enerjik selam beberpa
jam sehingga merasa semangat untuk melakukan berbagai
aktivitas, seperti melakukan semua tugas rumah tangga,
mereka merasa perlu melakukannya sebelum kedatangan
bayi sehingga memasuki masa persalinan dalam keadaan
Lonjakan energi ini belum dapat dijelaskan selain
terjadi secara alamiah, yang memungkinkan energi yang
diperoleh diperlukan untuk menjalani persalinan.
(7) Gangguan saluran Cerna
Ketika tidak ada penjelasan yang tepat untuk diare,
kesulitan mencerna, mual, dan muntah, diduga hal – hal
tersebut merupakan gejala menjelang persalinan meskipun
belum ada penjelasannya untuk hal ini.
g) Tanda-tanda inpartu
Menurut Mochtar (2012; h.70) tanda – tanda inpartu yaitu :
(1) Rasa nyeri oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering,
dan teratur
(2) Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena
robekan – robekan kecil pada serviks
(3) Kadang – kadang ketuban pecah dengan sendirinya
(4) Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan telah ada
pembukaan.
h) Mekanisme persalinan
Terdapat tiga faktor penting dalam persalinan
(Prawirohardjo, 2010; h.310) yaitu:
Kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his
dan kekuatan mengejan, keadaan jalan lahir, dan janinnya
sendiri.
Masuknya kepala melintasi pintu atas panggul dapat dalam
lurus dengan bidang pintu atas panggul. Akibat sumbu kepala
janin yang eksentrik atau tidak simetris, dengan sumbu lebih
mendekati suboksiput, maka tahanan jaringan di bawahnya
terhadap kepala yang akan menurun, menyebabkan kepala
mengadakan fleksi di dalam rongga panggul. Kepala yang
sedang turun menemui diafragma pelvis yang berjalan dari
belakang atas kebawah depan. Akibat kombinasi elastisitas
diafragma pelvis dan tekanan intra uterin disebabkan oleh his
yang berulang – ulang, maka kepala mengadakan rotasi yang
disebut putaran paksi dalam dengan suboksiput sebagai
hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi untuk dapat
dilahirkan. Pada setiap his vulva lebih membuka dan kepala janin
semakin terlihat, perinium menjadi semakin lebar dan tipis, anus
membuka dinding rektum. Dengan kekuatan his bersama dengan
kekuatan mengejan, berturut – turut tampak bregma, dahi, muka,
dan akhirnya dagu terlahir. Setelah kepala lahir maka kepala
melakukan rotasi yang disebut putaran paksi luar untuk
menyesuaikan kedudukan kepala dan punggung bayi.
i) Tahapan persalinan
Menurut Mochtar (2012; h.72) proses persalinan terdiri dari 4
kala, yaitu:
(1) Kala I (kala pembukaan)
Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir
membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement). Kala 1 di
bagi atas 2 fase, yaitu:
(a) Fase laten: pembukaan serviks yang berlangsung
lambat sampai pembukaan 3 cm. Lamanya 7 – 8 jam
(b) Fase aktif: berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3
subfase.
(i) Periode askselerasi: berlangsung 2 jam,
pembukaan menjadi 4 cm.
(ii) Periode dilatasi maksimal (steady): selama 2 jam,
pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
(iii) Periode deselerasi: berlangsung lambat, dalam
waktu 2 jam pembukaan menjadi 10 cm (lengkap).
(2) Kala II (kala pengeluaran janin)
Kepala janin telah turun dan masuk ruang panggul
sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul
yang melalui lengkung refleks menimbulkan rasa mengedan.
Karena tekanan pada rektum, membuat ibu merasa seperti
mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka, vulva
membuka dan perinium meregang. Dengan his dan
mengedan yang terpimpin, akan lahir kepala, diikuti oleh
seluruh badan janin. Kala II pada primi berlangsung selama
(3) Kala III (Kala pengeluaran Uri)
Kala III berlangsung mulai dari bayi lahir sampai plasenta
lahir lengkap. Biasanya plasenta akan lahir dalam 15 – 30
menit
(Mochtar, 2012; h.79)
(4) Kala IV
Kala IV yaitu kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi
dan plasenta lahir untuk mengamati keadaan ibu, terutama
terhadap bahaya perdarahan postpartum.
j) Asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal
Asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal
(Prawirohardjo. 2010; h. 341)
Melihat tanda gejala kala dua
(1) Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua
(a) Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
(b) Ibu merasakan tekanan yang semakin kuat pada rektum
atau vagina.
(c) Perinium menonjol.
(d) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
Menyiapkan Pertolongan Persalinan
(2) Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial
siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan
menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam
partus set.
(4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku,
mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang
mengalir dan mengeringkan tangan dengan menggunakan
handuk satu kali pakai atau pribadi yang bersih.
(5) Memakai sarung tangan dengan DTT atau steril untuk
semua pemeriksaan dalam.
(6) Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan
memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril)
dan meletakkan kembali di partus set/ wadah desinfeksi
tingkat tinggi atau steril tanpa mengontaminasi tabung
suntik.
Memastikan Pembukaan Lengkap dengan Janin Baik
(7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan
hati – hati.
(8) Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan
pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan
servik sudah lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah,
sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
(9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara
mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan
kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian
melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendam nya
di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci
(10) Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi
berakhir.
Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan
meneran
(11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman
sesuai dengan keinginanya.
(12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu
untuk meneran.
(13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorogan
yang kuat untuk meneran.
Persiapan pertolongan kelahiran bayi
(14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm, letakan handuk bersih diatas perut ibu untuk
mengeringkan bayi.
(15) Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah
bokong ibu .
(16) Membuka partus set.
(17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
Menolong kelahiran bayi
(18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm,
lindungi perinium dengan satu tangan yang dilapisi kain,
letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan
tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala
(19) Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi
dengan kain atau kassa yang bersih.
(20) Memeriksa lilitan tali pusat.
(21) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
(22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan
kedua tangan di masing-masing sisi muka bayi (biparietal).
Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya,
dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah luar
hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan
kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah
luar untuk melahirkan bahu posterior.
(23) Setelah kedua bahu di lahirkan, menelusurkan tangan mulai
kepala bayi yang berada di bawah ke arah perineum,
membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan
tersebut.
(24) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang
ada di atas dan punggung ke arah kaki bayi untuk
menyangganya saat punggung kaki lahir.
Penanganan bayi baru lahir
(25) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik).
(26) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk
dan biarkan kontak kulit ibu – bayi. Lakukan penyuntikan
(27) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira – kira 3cm dari
pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem
ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem
pertama.
(28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi
dari gunting dan memotong tali pusat di antara kedua klem
tersebut.
(29) Mengeringkan bayi, mengganti handuk yanng basah dan
menyelimuti bayi dengan selimut yang bersih dan kering,
menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka.
(30) Memberikan bayi kepada ibunya untuk memulai pemberian
ASI.
Oksitosin
(31) Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi
abdomen untuk mengecek kemungkinan adanya bayi kedua.
(32) Memberitahu pada ibu bahwa ia akan disuntik.
(33) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan
suntikan oksitosin 10 unit/IM di 1/3 atas paha kanan ibu
bagian luar.
Penegangan tali pusat terkendali
(34) Memindahkan klem pada tali pusat.
(35) Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu
untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.
(36) Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan
penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.
Mengeluarkan plasenta
(37) Setelah plasenta lepas lakukan PTT.
(38) Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan
kelahiran plasenta dengan menggunakan kedua tangan.
Memegang kedua plasenta dengan dua tangan dan dengan
hati – hati memutar plasenta sehingga selaput ketuban
terpilin.
Pemijatan uterus
(39) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
masase uterus.
Menilai perdarahan
(40) Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu
dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa plasenta dan
selaput ketuban lengkap dan utuh.
(41) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perinium.
Melakukan prosedur pascapersalinan
(42) Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi
dengan baik.
(43) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan
kedalam larutan klorin 0,5%.
(44) Menempatkan klem tali pusat di desinfeksi tingkat tinggi atau
steril atau mengikatkan tali desinfeksi tingkat tinggi dengan
(45) Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang
berseberangan dengan simpul mati yang pertama.
(46) Melepaskan klem bedah dan meletakkanya kedalam larutan
klorin 0,5%.
(47) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.
(48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.
(49) Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan
pervaginam:
(a) 2 – 3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.
(b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.
(c) Setiap 20 – 30 menit pada jam kedua pascapersalinan
(d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, laksanakan
perawatan yang sesuai untuk panatalaksanaan atonia
uteri.
(e) Jika ditemukan laserasi yang memerlukan jahitan,
lakukan penjahitan dengan anastesi lokal.
(50) Mengajarkan pada ibu/ keluarga bagaimana melakukan
masase uterus dan memriksa kontraksi uterus.
(51) Mengevaluasi kehilangan darah.
(52) Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung
kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap
30 menit selama jam kedua pascapersalinan. Memeriksa
temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam
Kebersihan dan keamanan
(53) Menepatkan semua peralatan didalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit).
(54) Membuang bahan – bahan yang terkontaminasi kedalam
tempat sampah yang sesuai.
(55) Membersihkan ibu dengan menggunakan air desinfeksi
tingkat tinggi. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih
dan kering.
(56) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan
ASI.
(57) Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan
dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.
(58) Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin
0,5%, membalikan bagian dalam ke luar dan merendamnya
dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.
(59) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
(60) Melengkapi partograf.
3. Bayi baru lahir
a) Pengertian bayi baru lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia
kehamilan 37 – 42 minggu dengan berat lahir antara 2500 – 4000
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang cukup bulan, 38 – 42
minggu dengan berat badan sekitar 2500 – 3000 gram dan
panjang badan sekitar 50 – 55 cm (Sarwono, 2005 dalam
Sondakh, 2013; h.150).
b) Fisiologis bayi baru lahir
Menurut Sarwono, 2005 dalam Sondakh, 2013; h.150 bayi
baru lahir dikatakan normal jika :
(1) Berat badan lahir bayi antara 2500 – 4000 gram.
(2) Panjang badan bayi 48 – 50 cm.
(3) Lingkar dada bayi 32 – 34 cm.
(4) Lingkar kepala bayi 33 – 35 cm.
(5) Bunyi jantung dalam menit pertama ± 180 kali/ menit,
kemudian turun sampai 140 – 120 kali/ menit pada saat bayi
berumur 30 menit.
(6) Pernapasan cepat pada menit – menit pertama kira – kira 80
kali/ menit disertai pernapasan cuping hidung, retraksi
suprasternal dan interkostal, serta rintihan hanya
berlangsung 10 – 15 menit.
(7) Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan
cukup terbentuk dan dilapisi verniks kaseosa.
(8) Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik.
(9) Kuku telah agak panjang dan lemas.
(10) Genitalia: testis sudah turun (pada bayi laki-laki) dan labia
mayora telah menutupi labia minora (pada bayi
(11) Refleks isap, menelan, dan morro telah terbentuk.
(12) Eliminasi, urin, dan mekonium normalnya keluar pda 24 jam
pertama. Mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan
dan lengket.
c) Inisiasi menyusui dini
Segera setelah dilahirkan, bayi diletakkan di dada atau perut
atas ibu selama paling sedikit satu jam untuk memberi
kesempatan pada bayi untuk mencari dan menemukan puting
susu ibunya. Manfat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi
pernafasan, mengendalikan suhu tubuh bayi lebih baik
dibandingkan dengan inkubator, menjaga kolonisasi kuman yang
aman untuk bayi dan mencegah infeksi nosokomial kadar bilirubin
bayi juga lebih cepat normal karena pengeluaran mekonium lebih
cepat sehingga menurunkan insiden ikterus bayi baru lahir, kontak
kulit dengan kulit juga membuat bayi lebih tenang sehingga
didapat pola tidur yang lebih baik. Dengan demikian, berat badan
dapat mengoptimalkan pengeluaran hormon oksitosin, prolaktin,
dan secara psikologis dapat menguatkan ikatan batin antara ibu
dan bayi (Prawirohardjo, 2010; h.369).
d) Tanda bahaya bayi baru lahir
Menurut Saifuddin,dkk (2010; h.N-36) tanda-tanda bahaya
bayi yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir, yaitu:
(1) Pernafasan: sulit atau lebih dari 60 kali per menit
(2) Kehangatan: terlalu panas (˃ 38 °C atau terlalu dingin < 36
(3) Warna: kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau
pucat, memar
(4) Pemberian makan: hisapan lemah, mengantuk berlebihan,
banyak muntah
(5) Tali pusat: merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk,
berdarah
(6) Infeksi: suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan
(nanah). Bau busuk, pernafasan sulit
(7) Tinja/kemih: tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek,
sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja
(8) Aktivitas: menggigil, atau tangis tidak bisa, sangat mudah
tersinggung, lemah, terlalu mengantuk, lunglai, kejang –
kejang halus, tidak bisa tenang, menangis terus menerus
e) Adaptasi fisiologis BBL terhadap kehiupan di luar uterus
(1) Setiap bayi baru lahir akan mengalami periode transisi, yaitu:
(a) Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6 – 8 jam
pertama kehidupan, yang akan dilalui oleh seluruh bayi
dengan mengabaikan usia gestasi atau sifat persalinan
atau melahirkan.
(b) Pada periode pertama reaktivitas (segera setelah lahir),
akan terjadi pernapasan cepat (dapat mencapai 80
kali/menit) dan pernapasan cuping hidung yang
berlangsung sementara, retraksi, serta suara seperti
mendengkur dapat terjadi. Denyut jantung dapat
(c) Setelah respon awal ini, bayi baru lahir ini akan menjadi
tenang, relaks, dan jatuh tertidur. Tidur pertama ini
(dikenal sebagai fase tidur) terjadi dalam 2 jam setelah
kelahiran dan berlangsung beberapa menit sampai
beberapa jam.
(d) Periode kedua reaktivitas, dimulai ketika bayi bangun,
ditandai dengan respons berlebihan terhadap stimulus,
perubahan warna kulit dari merah muda menjadi agak
sianosis, dan denyut jantung cepat.
(e) Lendir mulut dapat menyebabkan masalah yang
bermakna, misalnya tersedak atau aspirasi, tercekik, dan
batuk.
(2) Adaptasi pernapasan
Pernapasan awal dipicu oleh faktor fisik, sensorik, dan kimia.
(a) Faktor-faktor fisik, meliputi usaha yang diperlukan untuk
mengembangkan paru-paru dan mengisi alveolus yang
kolaps (misalnya perubahan dalam gradient tekanan).
(b) Factor-faktor sensorik, meliputi suhu, bunyi, cahaya,
suara, dan penurunan suhu).
(c) Faktor-faktor kimia, meliputi perubahan dalam darah
(misalnya penurunan kadar oksigen, peningkatan kadar
karbon dioksida, dan penurunan pH
Bayi baru lahir lazimnya bernapas melalui hidung.
mulut untuk mempertahankan jalan napas tidak ada pada
sebagian besar bayi sampai 3 minggu setelah kelahiran.
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi
dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan
timbul sebagai akibat aktivitas normal system saraf pusat
dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan
lainnya (sondakh, 2013; h.150-151).
(3) Adaptasi kardiovaskuler
(a) Sirkulasi perifer lambat, yang menyebabkan akrosianosis
pada tangan, kaki, dan sekitar mulut).
(b) Denyut nadi berkisar 120 – 160 kali/menit saat bangun
dan 100 kali/menit saat tidur.
(c) Rata – rata tekanan darah adalah 80/46 mmHg dan
bervariasi sesuai dengan ukuran dan tingkat aktivitas bayi
(d) Nilai hematologi normal pada bayi.
Berkembangnya paru-paru pada alveoli akan terjadi
peningkatan tekanan oksigen. Sebaliknya, tekanan
karbon dioksida akan mengalami penurunan. Hal ini
mengakibatkan terjadinya penurunan resistansi pembuluh
darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan
ductus arteriosus tertutup. Setelah tali pusat dipotong,
aliran darah dari plasenta terhenti dan foramen ovale
(4) Adaptasi neurologis
(a) System neurologis bayi secara anatomic atau fisiologis
belum berkembang sempurna.
(b) Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak
terkoordinasi, pengaturan suhu yang labil, control otot yang
buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas.
(c) Perkembangan neonatus terjadi cepat. Saat bayi tumbuh,
perilaku yang lebih kompleks (misalnya control kepala,
tersenyum, dan meraih dengan tujuan) akan berkembang.
(d) Refleks bayi baru lahir merupakan indikator penting
perkembangan normal (Sondakh, 2013; h.153-154).
(5) Adaptasi gastrointestinal
(a) Enzim-enzim digestif aktif saat lahir dan dapat
menyokong kehidupan ekstrauterin pada kehamilan 36-38
minggu.
(b) Perkembangan otot-otot dan refleks yang penting untuk
menghantarkan makanan sudah terbentuk saat lahir.
(c) Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai,
pencernaan dan absorpsi lemak kurang baik karena tidak
adekuatnya enzim-enzim pancreas dan lipase.
(d) Kelenjar saliva imatur saat lahir, sedikit saliva diolah
sampai bayi berusia 3 bulan.
(e) Pengeluaran mekonium, yaitu feses berwarna hitam
diekskresikan dalam 24 jam pada 90% bayi baru lahir
yang normal
(f) Beberapa bayi baru lahir menyusui segera bila diletakkan
pada payudara, sebagian lainnya memerlukan 48 jam
untuk menyusu secara efektif. (Sondakh, 2013; h.155-
156).
(6) Adaptasi ginjal
Laju filtrasi glomerulus relative rendah pada saat lahir
disebabkan oleh tidak adekuatnya area permukaan kapiler
glomerulus. Meskipun keterbatasan ini tidak mengancam bayi
baru lahir yang normal, tetapi menghambat kapasitas bayi
untuk berespon terhadap stressor. Penurunan kemampuan
untuk mengekskresikan obat-obatan dan kehilangan cairan
yang berlebihan mengakibatkan asidosis dan
ketidakseimbangan cairan. Sebagian besar bayi baru lahir
berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir dan 2 – 6 kali
sehari pada hari 1 – 2 hari pertama, setelah itu akan berkemih
5 – 20 kali salam 24 jam. (Sondakh, 2013; h.156).
(7) Adaptasi hati
Selama kehidupan janin dan sampai tingkat tertentu
setelah lahir, hati terus membantu pembentukan darah.
Selama periode neonatus, hati memproduksi zat yang
esensial untuk pembekuan darah. Penyimpanan zat besi ibu
cukup memadai bagi bayi sampai 5 bulan kehidupan
terhadap defisiensi zat besi. Hati juga mengontrol jumlah
bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi, pigmen berasal
dari hemoglobin dan dilepaskan bersamaan dengan
pemecahan sel-sel darah merah. Bilirubin tak terkonjugasi
dapat meninggalkan system vascular dan menembus jaringan
ekstravaskular lainnya (misalnya kulit, sclera, dan membrane
mukosa oral) mengakibatkan warna kuning yang disebut
jaundice atau ikterus. (Sondakh, 2013; h.156-157).