BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu sarana penting untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menjamin keberlangsungan
pembangunan suatu bangsa (Susanto, 2013: 1). Peningkatan kualitas SDM
dapat menghadapi era persaingan global. Menghadapi tantangan tersebut
diperlukan adanya peningkatan kualitas SDM sejak dini. Karakter bangsa
merupakan aspek penting dari kualitas SDM, karena kualitas karakter bangsa
menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk
dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa yang baik bagi
pembentukan karakter seseorang.
Proses pendidikan biasanya lebih menekankan terciptanya kegiatan
belajar peserta didik. Kegiatan yang dilaksanakan pada akhir tahunnya atau
akhir semester dilakukan penilaian (evaluasi). Penilaian sebagai alat akhir
untuk mengetahui keberhasilan kegiatan belajar peserta didik yang dapat
disebut pula sebagai prestasi belajar peserta didik. Prestasi belajar ini secara
nyata akan dapat diketahui oleh peserta didik setiap akhir semester yang
dinyatakan dalam bentuk angka-angka nilai raport. Selain nilai prestasi
belajar, juga ada nilai yang menunjukkan nilai karakter di raport.
Aktivitas dalam pendidikan dapat dicermati, bahwa pendidikan tidak
Menurut Winton dalam Samani, dkk (2012: 43) pendidikan karakter adalah
“upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan
nilai-nilai kepada peserta didiknya”. Saat ini pendidikan karakter di Indonesia
dinilai belum mendorong pembangunan karakter bangsa. Hal ini disebabkan
oleh ukuran-ukuran dalam pendidikan tidak dikembalikan pada karakter
peserta didik. Pendidikan karakter dapat dilakukan tidak hanya di sekolah,
tetapi dapat juga dilakukan di lingkungan keluarga dan di masyarakat.
Di Sekolah Dasar (SD) dapat menggunakan mata pelajaran ilmu
pengetahuan sosial (IPS) sebagai bahan untuk pengembangan nilai karakter.
Karakter yang dikembangkan salah satunya yaitu karakter sikap kemandirian.
Menurut Seifert dan Hoffnug (Desmita, 2009: 185) mendefinisikan
kemandirian atau otonomi sebagai kemampuan untuk mengendalikan dan
mengatur pikiran, perasaan-perasaan malu, dan keraguan, sedangkan mata
pelajaran IPS di SD merupakan bidang studi yang mempelajari manusia
dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya dalam masyarakat (Susanto,
2013: 143).
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada hari Selasa, 1
Desember 2015 dengan guru kelas IB SD UMP, dalam proses pembelajaran
masih ada beberapa peserta didik yang malu atau ragu menjawab soal
pemberian guru. Hal ini terbukti pada saat guru memberikan soal secara lisan,
dari 31 peserta didik hanya 9 anak yang berani menjawab soal pemberian
guru. Hal ini terjadi karena peserta didik masih tergantung pada guru dan
untuk dikerjakan di buku tulis, terdapat 16 peserta didik mengeluh merasa
bingung dan langsung memanggil guru untuk minta dibantu cara
mengerjakan soal tersebut, bahkan masih ada 8 peserta didik yang sibuk
bermain dan bercerita dengan teman sebangku.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IB, materi IPS di SD
cukup banyak, namun alokasi waktunya sedikit. Materi yang cukup banyak
mengharuskan peserta didik untuk menghafal, inilah yang menyebabkan
banyak peserta didik kurang menyukai pelajaran IPS. Hal ini juga yang
menuntut guru untuk menggunakan metode dan media yang bervariasi, agar
peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Berdasarkan daftar nilai yang diperlihatkan oleh guru kelas IB,
diperoleh data nilai ulangan harian IPS materi Letak Rumah dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) 70 dapat dilihat melalui tabel berikut:
Tabel 1.1 Nilai Ulangan HarianPeserta didik Kelas IB Mata Pelajaran IPS Materi Letak Rumah
Banyaknya Peserta didik Tuntas Belajar
Tidak Tuntas Belajar
31 Peserta didik 23 Peserta didik 8 Peserta didik
Dalam Persentase 74% 26%
Berdasarkan data tabel 1.1 menunjukkan bahwa pada materi Letak Rumah
belum berhasil, karena masih ada peserta didik yang nilainya tidak tuntas.
Peserta didik yang tidak tuntas sebanyak 8 anak atau dalam persentase
Banyaknya peserta didik yang tergantung pada guru dan teman dalam
menyelesaikan soal juga menjadikan kemandirian belajar peserta didik masih
kurang. Kurangnya kemandirian belajar mengakibatkan prestasi belajar
peserta didik rendah.
Adanya masalah tersebut, peneliti berdialog dan menyepakati dengan
guru kelas untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan memilih
metode Field Study berbantu media gambar denah sebagai alternatif yang
diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan kemandirian pada peserta
didik kelas IB SD UMP. Guru kelas dibantu oleh peneliti menggunakan
metode pembelajaran Field Study.
Metode Field Study termasuk dalam pembelajaran kontekstual.
Sumaatmadja (1980: 113) menyatakan Field Study atau studi lapangan yaitu
“suatu kunjungan ke objek tertentu di luar lingkungan sekolah, yang ada di
bawah bimbingan guru, yang bertujuan untuk mencapai tujuan instruksional
tertentu”. Metode tersebut disampaikan dengan cara peserta didik diajak
belajar di luar kelas atau sekitar sekolah untuk memudahkan pemahaman
peserta didik mengenai letak suatu tempat.
Penggunaan media gambar denah juga dapat memperjelas materi yang
sedang diajarkan. Menurut Levie dan Levie (Arsyad, 2007: 9)
mengemukakan bahwa bagi yang membaca kembali hasil-hasil penelitian
tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan
lebih baik untuk tugas-tugas untuk mengingat, mengenali, mengingat
kembali, dan menghubungkan fakta dan konsep.
Oleh karena itu, peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul
“Peningkatan Kemandirian dan Prestasi Belajar IPS Materi Letak Rumah
dengan Metode Field Study Berbantu Media Gambar Denah pada Kelas I
Sekolah Dasar”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat
diidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya masalah kurang kemandirian
dan rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS:
1. Karakteristik mata pelajaran IPS yang luas menuntut guru untuk memilih
dan menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi.
2. Kurang mandirinya peserta didik dalam mengerjakan tugas dari guru.
3. Peserta didik kelas I membutuhkan media yang konkret.
4. Kurang tertariknya peserta didk dengan mata pelajaran IPS.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dapat peneliti
rumuskan sebagai berikut:
1. Apakah metode Field Study berbantu media gambar denah dalam
pembelajaran IPS materi letak rumah dapat meningkatkan kemandirian
peserta didik kelas IB Umar bin Khatab SD UMP pada semester genap
2. Bagaimana meningkatkan prestasi belajar IPS materi letak rumah dengan
metode Field Study berbantu media gambar denah pada peserta didik
kelas IB Umar bin Khatab SD UMP pada semester genap tahun pelajaran
2015/2016?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam PTK ini ada dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Masing-masing tujuan tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum PTK ini adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan
kualitas proses pembelajaran IPS kelas IB di SD UMP.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengetahui
peningkatan kemandirian peserta didik kelas IB SD UMP, mengatasi
kendala yang dihadapi guru pada saat proses pembelajaran, dan
mengubah interaksi antara guru dengan peserta didik dalam upaya
meningkatkan prestasi belajar IPS tema letak rumah dengan metode Field
Study berbantu media gambar denah pada peserta didik kelas IB SD UMP
tahun pelajaran 2015/2016, diharapkan tujuan tersebut tercapai dengan
E. Manfaat Penelitian
Adanya penelitian tindakan tindakan kelas ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi berbagai kalangan, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
a) Penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber referensi yang
relevan, khususnya untuk kajian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS).
b) PTK dengan menggunakan metode Field Study ini diharapkan dapat
menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Adanya penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode
Field Study ini memberikan manfaat bagi:
a) Guru
1) Informasi yang disampaikan dapat menambah variasi metode dan
media yang sesuai dengan tujuan dan materi yang akan diajarkan,
sehingga masalah yang dihadapi guru yang berhubungan dengan
materi dan peserta didik dapat diminimalkan.
2) Sebagai umpan balik untuk mengetahui kesulitan belajar peserta
didik.
3) Sebagai dasar memperbaiki proses pembelajaran.
4) Membantu guru untuk memilih dan memperbaiki metode dan
b) Peserta didik
1) Peserta didik kelas IB SD UMP dapat ditingkatkan kemandirian
dan prestasi belajar IPS, khususnya pada materi letak rumah.
2) Membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan
berpikir.
3) Meningkatkan kemampuan mengingat, memahami dan
menyampaikan informasi.
c) Sekolah
1) Hasil penelitian dapat memberikan masukan bagi kepala sekolah
dalam usaha perbaikan proses pembelajaran para guru.
2) Meningkatkan prestasi belajar peserta didik sehingga dapat
menghasilkan kualitas peserta didik dan kualitas lulusan yang baik
dan dapat bersaing untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang
lebih tinggi.
d) Peneliti
1) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan
dan pengalaman mengajar kepada peneliti sebagai calon pendidik.
2) Dapat menambah pengetahuan peneliti tentang penerapan metode
Field Study dalam pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran