PERSETUJUAN PEMBIMBING...

27  Download (0)

Teks penuh

(1)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

PERSYARATAN GELAR ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

LEMBAR PENETAPAN UJIAN ... iv

PANITIA PENGUJI ... v

PERNYATAAN KEASLIAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN ... xi

ABSTRAK ... xii BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 8 1.3 Tujuan Penelitian ... 9 1.3.1 Tujuan Umum ... 9 1.3.2 Tujuan Khusus ... 9 1.4 Manfaat Penelitian ... 10 1.4.1 Manfaat Teoretis ... 10 1.4.2 Manfaat Praktis ... 11

1.5 Kajian Pustaka, Konsep, dan Landasan Teori ... 11

1.5.1 Kajian Pustaka ... 12 1.5.2 Konsep ... 14 1.5.2.1 Istilah ... 14 1.5.2.2 Leksikon ... 14 1.5.2.3 Peminjaman (Borrowing) ... 15 1.5.2.4 Kata Pinjaman ... 15 1.5.2.5 Divergensi ... 15 1.5.2.6 Konvergensi ... 15 1.5.3 Landasan Teori ... 16

1.5.3.1 Teori Linguistik Historis ... 16

1.5.3.2 Teori Morfologi dan Semantik ... 18

1.6 Sumber Data ... 20

1.7 Metode dan Teknik Penelitian ... 20

1.7.1 Tahap Pengumpulan Data ... 21

1.7.2 Tahap Analisis Data ... 22

1.7.3 Tahap Penyajian Hasil Analisis Data ... 24

BAB II PERUBAHAN BENTUK UNSUR SERAPAN... 25

2.1 Penyerapan Utuh ... 25

2.1.1 Bentuk Dasar ... 26

(2)

x

2.1.1.2 Penyerapan Konsonan dan Semivokal ... 32

2.1.2 Bentuk Turunan... 54

2.1.2.1 Penyerapan Bentuk Ulang ... 54

2.1.2.2 Penyerapan Bentuk Majemuk ... 56

2.1.3 Bentuk Lengkap ... 57

2.1.3.1 Penyerapan Bentuk Kompleks ... 57

2.1.3.2 Penyerapan Bentuk Peribahasa ... 58

2.2 Penyerapan dengan Perubahan ... 64

2.2.1 Pengurangan dan Penambahan Fonem ... 65

2.2.2 Perubahan Fonem ... 71

2.2.3 Perubahan dan Penyesuaian Kelas Kata, Bentuk Ulang, dan Kata Majemuk 79 BAB III PERUBAHAN MAKNA SERAPAN... 82

3.1 Perubahan Makna ... 82

3.1.1 Perluasan Makna ... 84

3.1.2 Penyempitan Makna ... 85

3.1.3 Pergeseran Makna ... 87

3.1.4 Percabangan Makna dan Pejorasi ... 88

BAB IV PENUTUP ... 90

4.1 Simpulan ... 90

4.2 Saran ... 91

(3)

xii ABSTRAK

Penelitian ini menganalisis penyerapan unsur-unsur bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang menitikberatkan pada perubahan bentuk dan makna. Adapun masalah yang dianalisis adalah (1) bagaimanakah perubahan bentuk unsur serapan bahasa Jawa ke dalam kosakata dan istilah-istilah bahasa Indonesia serta(2) bagaimanakah perubahan makna yang terjadi di dalam perangkat leksikal dan istilah-istilah bahasa Jawa yang terserap ke dalam bahasa Indonesia.

Metode dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah metode simak bebas libat cakap dengan teknik catat serta teknik reflektif-introspektif. Di sisi lain, untuk mengalisis data digunakan metode deskriptif kualitatif. Untuk penyajian hasil analisis data digunakan metode penyajian informal dan formal. Teori yang digunakan adalah teori linguistik historis komparatif yang didukung dengan teori fonologi dan semantik. Teori fonologi dari Crowley digunakan untuk menganalisis perubahan dan penyesuaian bentuk serapan bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, teori yang digunakan untuk menganalisis perubahan dan penyesuaian makna yang terjadi di dalam perangkat leksikal dan istilah-istilah bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia adalah teori semantik dari Crowley.

Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh simpulan bahwa penyerapan bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berupa penyerapan utuh dan penyerapan dengan penyesuaian serta perubahan. Penyerapan pada bentuk kata dengan perubahan dan penyesuaian terjadi pada konsonan atau vokal bahasa Jawa yang tidak dimiliki bahasa Indonesia, seperti pada penyerapan konsonan apiko-palatal /ḍ/ di dalam bahasa Jawa yang ditransliterasi menjadi konsonan hambat letup apiko-dental /d/ ke dalam bahasa Indonesia. Contohnya, dhalang [ḍalaŋ] menjadi dalang [dalaŋ]. Selain pada tataran bentuk, penyesuaian dan perubahan makna juga terjadi pada penyerapan bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang berupa penyempitan makna, perluasan makna, pergeseran makna, percabangan makna, serta pejorasi.

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Definisi bahasa menurut Kridalaksana (dalam Chaer, 2012:32) adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Di sisi lain, Alisjahbana (1979:5) dalam pidatonya berpendapat bahwa bahasa, seperti halnya bahasa Indonesia, merupakan penjelmaan pikiran dengan memakai bentuk dan susunan bunyi yang teratur.

Pendekatan atas fenomena bahasa yang melihat bahasa sebagai cermin masyarakat atau cermin budaya, bahasa didefinisikan sebagai paduan antara definisi Sapir dan definisi Francis sebagaimana dikemukakan oleh Kadarisman (2010:19) berikut ini.

“Language is a system of arbitrary vocal or visual symbol used by people of a given culture as a means to carry on their daily affairs. (Bahasa adalah sistem simbol verbal atau visual bersifat manasuka yang digunakan oleh sekelompok penutur dalam budaya tertentu sebagai alat komunikasi dalam kehidupan mereka sehari-hari).”

Definisi tersebut menegaskan bahwa bahasa adalah entitas budaya, dan menyarankan bahwa konsep-konsep budaya mungkin sekali bersifat khusus dan muncul secara jelas lewat ekspresi verbal.

Sebelum pembahasan lebih jauh hubungan antara bahasa dan budaya, dijelaskan pula tentang hakikat bahasa. Pada hakikatnya, bahasa bersifat manusiawi, artinya bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki dan digunakan oleh manusia. Selain itu, bahasa juga merupakan sistem ujaran bunyi

(5)

yang berwujud lambang dan bermakna, yaitu susunan teratur dari bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berwujud bunyi bahasa selain berwujud tulisan dan memiliki makna. Bahasa juga bersifat produktif dan manasuka (arbitrer). Produktif artinya unsur-unsur bahasa terbatas, dengan keterbatasan unsur tersebut dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, yang tentu disesuaikan dengan sistem bahasa yang berlaku. Sebagai contoh jumlah vokal dan konsonan dalam setiap bahasa memang terbatas, tetapi kombinasi vokal dan konsonan itu menghasilkan banyak kata. Bahasa bersifat manasuka (arbitrer) artinya tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi atau tulisan) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan penting di masyarakat Indonesia, yakni sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Sesuai dengan isi Sumpah Pemuda 1928 yang ketiga, “kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional meliputi empat aspek, yaitu (a) bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan nasional, (b) bahasa Indonesia sebagai lambang identitas nasional, (c) bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu seluruh bangsa Indonesia, dan (d) bahasa Indonesia sebagai alat penghubung antarbudaya dan antardaerah. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 bab XV pasal 36 yang berbunyi, “bahasa negara adalah bahasa Indonesia.” Fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukan sebagai bahasa negara juga meliputi empat aspek, yaitu (a) bahasa

(6)

Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, (b) bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan, (c) bahasa Indonesia sebagai alat penghubung pada tingkat nasional untuk kepentingan tata cara perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta pemerintahan, dan (d) bahasa Indonesia sebagai pengembangan kebudayaan nasional dan iptek (Halim, 1975:8).

Bahasa Indonesia juga digunakan sebagai bahasa perantara atau penghubung antarsuku atau etnik dari berbagai wilayah di Indonesia. Moeliono (1980:16) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana utama untuk memperkenalkan susastra daerah. Bahasa Indonesia juga merupakan sarana, di luar bahasa asing, untuk pengembangan kebudayaan, bidang ilmu, teknologi, seni, dan peradaban modern bagi masyarakat Indonesia.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa perantara atau penghubung antarsuku atau etnik dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas 13.446 pulau, yang terkenal dengan sebutan nusantara. Dengan populasi lebih dari 258 juta jiwa pada tahun 2016, tidak mengherankan jika dengan persebarannya di seluruh wilayah Indonesia, keberadaan bahasa Indonesia secara fungsional menjamin komunikasi, interaksi, dan terbinanya rasa sebangsa di antara semua suku, ras, serta bahasa-bahasa daerah yang beraneka ragam (Wikipedia).

Berdasarkan rumpun bahasa dalam pandangan linguistik historis, atau yang bisa didefinisikan sebagai kelompok kekerabatan bahasa yang dalam perjalanan waktu bahasa-bahasa kerabat itu tumbuh bersama-sama dan bermula dari bahasa

(7)

yang sama, bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu, seperti juga bahasa Melayu di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergolong ke dalam rumpun Austronesia. Blust (2013:30—33) membagi bahasa-bahasa Austronesia atas beberapa subrumpun besar berikut ini.

PAN (Proto Austronesian)

Formosa Melayu Polinesia

Melayu Polinesia Barat Melayu Polinesia Tengah Melayu Polinesia Timur Berdasarkan pengelompokan Blust tersebut, bahasa-bahasa Melayu, Sunda, Jawa, Madura, serta bahasa-bahasa di Sumatera dan Filipina dimasukkan ke dalam satu kelompok. Pada jenjang yang lebih rendah, bahasa Sasak, Bali, Gayo, Dayak (Sampit dan Ngaju) membentuk sebuah kelompok besar yang setara dengan bahasa-bahasa Batak yang tergolong dalam Melayu Polinesia Barat pula. Di sisi lain, bahasa Lio, Manggarai, Dawan, dan Bima merupakan anggota atau turunan dari Melayu Polinesia Tengah. Sementara itu, bahasa Puyuma, Paiwan, Bunun termasuk bahasa Formosa. Bahasa-bahasa di Maluku, Papua, dan sekitarnya merupakan bagian Melayu Polinesia Timur.

Melayu Polinesia Barat kemudian dibagi lagi menjadi beberapa kelompok. Bernd Nothofer (1975) membaginya seperti diagram berikut.

(8)

Melayu Polinesia Barat

Subkelompok Melayu Jawa

Jawa kuno Sunda Melayu Madura

konvergensi

Jawa saat ini Bahasa Indonesia

Dari kelompok-kelompok di atas, yang menjadi perhatian khusus di dalam penelitian ini adalah bahasa Jawa yang tercakup ke dalam bahasa Melayu Polinesia Barat. Bagian bahasa Jawa yang diteliti bukan dari segi pelafalan atau penuturan, melainkan mengenai leksikon-leksikon dan istilah-istilah bahasa Jawa yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Seperti yang sudah diketahui, pemakai terbesar bahasa Jawa merupakan suku Jawa yang tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam kajian linguistik historis komparatif, setiap bahasa turunan berkembang di atas dua kekuatan besar, yakni kekuatan divergensi dan kekuatan konvergensi. Divergensi adalah unsur-unsur bahasa moyang yang terwarisi secara kuat dalam bahasa-bahasa turunan. Di sisi lain, konvergensi adalah unsur-unsur bahasa lain yang terserap ke dalam bahasa tertentu, baik yang berkerabat maupun yang tidak berkerabat (Wright 2004:552—566).

Kekuatan konvergensi tampak pada bahasa Jawa yang menyerap banyak unsur bahasa Sansekerta, beriringan dengan masuknya agama dan budaya Hindu,

(9)

Budha, termasuk konvergensinya dengan bahasa Bali yang hidup hingga dewasa ini. Demikian pula bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia menyerap banyak unsur bahasa Arab, beriringan dengan masuknya agama dan budaya Islam di nusantara.

Di antara unsur-unsur kebahasaan yang terserap itu, unsur-unsur leksikal adalah tataran kebahasaan yang paling peka untuk berkembang (Kridalaksana, 1978:563). Sudah tentu unsur-unsur bunyi dan gramatikal juga sangat besar pengaruhnya. Adanya gejolak morfologi di dalam bahasa Indonesia ada akhiran – iah seperti alamiah, ilmiah, rohaniah, jasmaniah, juga –isme adalah bukti pengaruh bahasa-bahasa Arab dan Inggris.

Secara lebih spesifik khususnya dalam kehidupan bangsa Indonesia, suku Jawa adalah suku terbesar dengan populasi mencapai 60 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh perjalanan sejarah Indonesia yang berlangsung di pulau ini. Dahulu, Jawa adalah pusat beberapa kerajaan Hindu-Buddha, Kesultanan Islam, pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, serta pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pulau dengan penduduk yang banyak ini berpengaruh besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi, selain pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia. Sebagian besar penduduknya bertutur dalam tiga bahasa utama. Selain bahasa Indonesia tentunya, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan bahasa Jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari seratus juta penduduk Jawa, dan sebagian besar penuturnya berdiam di Pulau Jawa serta tersebar di Bali, Lampung, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Aceh, dan juga Suriname (Wikipedia).

(10)

Sebagai bahasa ibu atau bahasa daerah terbesar di Indonesia, bahasa Jawa memiliki pengaruh besar terhadap bahasa dan kebudayaan Indonesia. Dari zaman Majapahit hingga penjajahan Belanda, bahasa Jawa digunakan oleh masyarakat Jawa hingga kini, baik di Pulau Jawa maupun di kantong-kantong transmigrasi. Keberadaan bahasa dan budaya Jawa yang hingga saat ini masih bisa ditemukan menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya Jawa memiliki arti bagi sejarah bahasa dan budaya Indonesia. Berdasarkan eksistensi bahasa Jawa tersebut, banyak kosakata bahasa Jawa, kemudian diserap menjadi kosakata bahasa Indonesia, sebagai padanan kata untuk merujuk ke suatu alat, makanan, budaya, dan sebagainya. Seiring perkembangan zaman, beberapa kosakata yang telah diserap dari bahasa Jawa tentunya terbagi menjadi dua jenis, yaitu kosakata aktif dan pasif. Kosakata aktif adalah kosakata yang hingga kini masih digunakan, baik di dalam teks maupun dalam tuturan bahasa Indonesia sehari-hari, sedangkan kosakata pasif adalah kosakata yang kini mulai jarang atau bahkan tidak pernah digunakan lagi.

Kosakata dan istilah-istilah yang ditelusuri ini dimulai dengan pengelompokan kosakata dari bahasa Jawa yang kemudian diserap oleh bahasa Indonesia yang telah tercatat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat KBBI). Alasan KBBI dijadikan sebagai sumber data kebahasaan, sekaligus menjadi sumber data utama dalam penelitian ini karena kamus adalah salah satu bentuk konkret perekaman dan pembakuan bahasa secara lengkap dan mutakhir. Selain itu, kamus juga sebagai alat untuk menelisik fenomena-fenomena yang terjadi di dalam suatu bahasa. Dalam penelitian yang dilakukan,

(11)

KBBI digunakan sebagai wadah atau sumber untuk melihat penyerapan bahasa yang terjadi dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Setelah ditemukan leksikon serapan, kemudian diidentifikasi ada atau tidaknya perubahan bentuk dan makna yang terjadi. Misalnya saja, gapit; kata benda (nomina) tersebut diserap dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia secara utuh, artinya tidak ada perubahan fonem, kelas kata, atau makna. Kata gapit yang dapat diartikan sebagai ‘bilah yang digunakan untuk menjepit’ di dalam bahasa Jawa, juga memiliki arti yang sama di dalam bahasa Indonesia. Kosakata lain pun menarik untuk diteliti agar leksikon serapan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan lebih terperinci.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat dua rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini. Permasalahan penelitian tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

1) Bagaimanakah perubahan bentuk unsur serapan bahasa Jawa ke dalam kosakata dan istilah-istilah bahasa Indonesia?

2) Bagaimanakah perubahan makna yang terjadi di dalam perangkat leksikal dan istilah-istilah bahasa Jawa yang terserap ke dalam bahasa Indonesia?

(12)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian harus sesuai dengan perumusan masalah yang telah dipaparkan di atas agar tepat sasaran. Adapun tujuan penelitian ini diuraikan sebagai berikut.

1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menambah fakta kekhasan penelitian linguistik, khususnya linguistik bahasa Indonesia berbasiskan data-data bahasa Jawa yang terserap dalam bahasa Indonesia. Selain itu, tujuan penelitian ini sekaligus dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat atau pembaca untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap dinamika khazanah kebahasaan yang menunjukkan fakta saling memengaruhi khususnya antarbahasa sekerabat yang dimiliki Indonesia. Dengan demikian, hasil penelitian ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Jadi, kebinekaan bahasa dan kehadiran bahasa Indonesia dapat memberikan gambaran tentang jiwa keindonesiaan yang berbeda-beda, tetapi tetap satu lewat bahasa Indonesia dalam hubungannya dengan bahasa-bahasa daerah sebagai kekayaan kebudayaan nasional.

1.3.2 Tujuan Khusus

Selain bersifat umum seperti yang diuraikan di atas, diperlukan juga tujuan khusus. Penelitian ini memiliki dua tujuan khusus sesuai dengan dua masalah dalam penelitian ini, yakni:

(13)

1) Menganalisis dan mendeskripsikan perubahan bentuk unsur serapan bahasa Jawa ke dalam kosakata dan istilah-istilah bahasa Indonesia. Meskipun bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Melayu itu keduanya memiliki hubungan kekerabatan yang erat (Nothofer, 1975), tetapi perbedaan sistem memengaruhi penyesuaian dan perubahan bentuk serta makna.

2) Mendeskripsikan dan membuktikan adanya fakta tentang perubahan makna yang terjadi di dalam seperangkat leksikal dan istilah-istilah bahasa Jawa yang terserap dalam bahasa Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Adapun manfaat yang ingin dicapai penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.4.1 Manfaat Teoretis

Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah fakta ilmu pengetahuan, khususnya di bidang linguistik. Bagi bidang keilmuan linguistik diharapkan agar penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu bahasa dan sastra sehingga dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian selanjutnya. Di sisi lain, bagi pembaca dan penikmat penelitian bidang linguistik, dapat digunakan sebagai bahan perbandingan penelitian-penelitian lain yang menganalisis serapan lain dalam bahasa Indonesia dan bahasa lain. Bagi peneliti bahasa lain, penelitian tentang serapan dalam

(14)

bahasa Indonesia diharapkan dapat digunakan sebagai motivasi untuk melakukan penelitian dengan hasil yang lebih baik.

1.4.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat. Adapun manfaat praktis penelitian ini sebagai berikut.

1) Bagi mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, penelitian ini dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk memotivasi ide atau gagasan baru yang lebih kreatif dan inovatif demi kemajuan mahasiswa dan jurusan. 2) Bagi pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru

bahasa Indonesia di sekolah sebagai materi ajar, khususnya tentang adanya pengaruh bahasa dan kebudayaan Jawa, sebagai bahasa besar yang juga sangat berperan dalam memperkaya bahasa nasional bahasa Indonesia. 3) Bagi perpustakaan, penelitian linguistik ini dapat digunakan untuk

menambah koleksi atau kelengkapan koleksi perpustakaan sebagai peningkatan penggandaan buku atau referensi berguna bagi pengguna perpustakaan.

1.5 Kajian Pustaka, Konsep, dan Landasan Teori

Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas sebelumnya, diuraikan pula kajian pustaka, konsep, serta landasan teori yang digunakan. Uraian tersebut dipaparkan secara jelas berikut ini.

(15)

1.5.1 Kajian Pustaka

Pada bagian ini diuraikan sumber-sumber informasi, baik berupa hasil penelitian maupun artikel ilmiah yang berhubungan dengan objek penelitian yang dilakukan, yang ditulis oleh para ahli sebelumnya. Diuraikan pula perbedaan yang dilakukan peneliti dibandingkan dengan pembahasan para peneliti lain sebelumnya.

Dari berbagai sumber yang telah ditelusuri, penelitian mengenai penyerapan unsur-unsur bahasa Jawa terhadap bahasa Indonesia masih belum ditemukan. Hal ini dapat dibuktikan belum ada skripsi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan universitas-universitas lain. Namun, penelitian yang menggunakan hubungan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sebagai objek penelitian pernah diteliti oleh alumnus Universitas Negeri Yogyakarta, Erfinta U’ti Rokhimawati berupa skripsi dengan judul “Interferensi Gramatikal Bahasa Indonesia dalam Bahasa Jawa pada Karangan Narasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Mungkid di Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang (2013)”. Di dalam skripsi tersebut hanya dibahas tentang interferensi saja, yang para siswanya memahami dua bahasa (dwibahasa). Contohnya, ‘mewakili’ yang menjadi ‘ngewakili’ yang ada di dalam bahasa Jawa. Data yang diambil pun berupa teks narasi karangan siswa sekolah tersebut yang menggunakan bahasa Jawa. Meskipun data yang digunakan Erfinta dan peneliti hampir sama, yaitu berupa bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, tetapi analisis yang dilakukan berbeda. Analisis yang dilakukan Erfinta menggunakan teori sosiolinguistik, khususnya

(16)

interferensi bahasa. Di sisi lain, analisis yang digunakan oleh peneliti menggunakan kajian linguistik historis.

Selain berupa skripsi, juga ditemukan beberapa artikel yang menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sebagai bahan penelitian, yakni sebuah artikel karangan anonim yang berjudul “Pengaruh Bahasa Daerah Terhadap Bahasa Indonesia” dari dokumen.tips. Artikel tersebut membahas interferensi bahasa yang terjadi pada tindak tutur antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Selain itu, artikel tersebut juga membahas dampak positif dan negatif penggunaan kedua bahasa tersebut yang saling bersandingan dalam sebuah tuturan.

Ada pula sebuah artikel di dalam jurnal penelitian bahasa, Metalingua berjudul “Serapan dalam Peristilahan Bidang Otomotif” karya Bari Pratama Putra dan rekan-rekannya yang membahas kata serapan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris khususnya di bidang otomotif. Penelitian tersebut menganalisis dua hal, yaitu penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal (penyerapan utuh) serta penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal. Keduanya dianalisis dengan menggunakan teori fonologi.

Simpulan beberapa uraian di atas ialah bahwa penelitian mengenai serapan leksikon bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia perlu dilakukan. Hal ini disebabkan oleh penelitian-penelitian terdahulu hanya meneliti interferensi dan dampaknya terhadap dwibahasawan. Selain itu, walaupun sudah ada bentuk tertulis berupa kamus sebagai bukti adanya serapan leksikon bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia, belum ada penelitian yang membahas penglasifikasian perubahan makna yang terjadi. Karena alasan tersebut, peneliti tertarik untuk

(17)

meneliti serapan leksikon bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia, terutama dengan penggunaan teori kontak bahasa, konvergensi, dan peminjaman (borrowing).

1.5.2 Konsep

Konsep adalah gambaran mental dari obyek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, dan yang memerlukan penggunaan akal budi untuk memahaminya (Kridalaksana, 2008:132). Berikut ini dijelaskan konsep-konsep lebih lanjut.

1.5.2.1 Istilah

Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu (Kridalaksana, 2008:97). Penggunaan istilah dimaksudkan agar meringkas suatu penjelasan atau definisi dari suatu hal menjadi lebih singkat.

1.5.2.2 Leksikon

Menurut Kridalaksana (2008:142), leksikon merupakan komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa. Selain itu, leksikon juga dapat diartikan sebagai kekayaan kata yang dimiliki seorang pembicara, penulis, atau suatu bahasa, kosakata, atau juga perbendaharaan kata. Leksikon juga dapat didefinisikan sebagai daftar kata yang disusun seperti kamus, tetapi dengan penjelasan yang singkat dan praktis.

(18)

1.5.2.3 Peminjaman (Borrowing)

Pemasukan unsur fonologis, gramatikal, atau leksikal dalam bahasa atau dialek dari bahasa atau dialek lain karena kontak atau pinjaman. Proses tersebut disebut peminjaman (Kridalaksana, 2008:194).

1.5.2.4 Kata Pinjaman

Kridalaksana (2008:112) mengemukakan bahwa kata pinjaman adalah kata yang dipinjam dari bahasa lain dan kemudian banyak sedikitnya disesuaikan dengan kaidah bahasa peminjam sendiri. Kata pinjaman ini digunakan untuk memperkaya atau menjadi alternatif bagi bahasa lain untuk menyatakan sesuatu atau dijadikan padanan apabila belum ada kosakata yang ditemukan.

1.5.2.5 Divergensi

Divergensi merupakan unsur-unsur bahasa moyang yang terwarisi secara kuat dalam bahasa-bahasa turunan (Wright, 2014:552—566). Di sisi lain, seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa menurut Kridalaksana (2008:52) divergensi adalah proses terpecahbelahnya suatu bahasa menjadi beberapa dialek karena tiadanya fasilitas pendidikan yang standar dan kurang cukupnya komunikasi.

1.5.2.6 Konvergensi

Kridalaksana (2008:136) mengemukakan bahwa konvergensi adalah proses yang membuat dialek-dialek regional menjadi lebih menyerupai dialek standar karena meningkatnya mobilitas, komunikasi, dan pendidikan. McMahon

(19)

(1999:213) juga berpendapat bahwa konvergensi berpengaruh besar pada sintaksis, morfologi, dan keterlibatan secara efektif pada tataran leksikal.

1.5.3 Landasan Teori

Topik yang direncanakan untuk dikaji adalah serapan leksikon dan istilah-istilah bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Teori yang digunakan, yakni teori linguistik historis, dibantu teori morfologi dan teori semantik. Teori linguistik historis digunakan untuk mengidentifikasi dan melakukan perbandingan antara bahasa yang diserap dan menyerap. Dalam kajian lebih lanjut, teori morfologi juga dimanfaatkan di samping teori semantik dan perubahan makna kata-kata serapan.

1.5.3.1 Teori Linguistik Historis

Setiap bahasa berubah dalam perjalanan waktu. Dalam linguistik historis, bahasa-bahasa turunan mengalami perubahan, baik karena faktor internal maupun faktor eksternal (Mbete, 2002). Dalam kajian ini perubahan bahasa Indonesia disebabkan oleh faktor eksternal, yakni pengaruh bahasa Jawa.

Pembahasan tentang konvergensi bahasa digunakan dalam kajian ini. Seperti yang telah disinggung pada latar belakang di atas, bahasa-bahasa berkembang secara khusus pada tataran leksikal dan gramatikal, termasuk juga perkembangan sistem bunyi karena dipengaruhi oleh bahasa-bahasa lain, baik yang berkerabat, maupun yang tidak berkerabat. Tentu kontak yang mendalam yang menyebabkan peminjaman atau penyerapan merupakan faktor yang dominan. Bloomfield (dalam Jeffer and Lehiste, 1979), memilah tiga jalur

(20)

peminjaman. Pertama pinjaman budaya (culture borrowing), kedua pinjaman karena kedekatan hubungan (intimate borrowing), dan ketiga, pinjaman dialek. Pinjaman elemen-elemen bahasa dan budaya Jawa yang terserap dalam bahasa Indonesia dan menjadi kosakata dan budaya Indonesia merupakan gejala yang menarik, terutama dalam segi-segi budaya tertentu. Dua faktor pertama itu merupakan faktor-faktor yang paling menentukan terserapnya unsur-unsur bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Kedekatan hubungan antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia jelas berkaitan dengan semakin meluas dan mendalamnya gejala kedwibahasaan yang terjadi pada para penutur bahasa Jawa yang semula, atau sebelumnya tergolong ekabahasa (Poedjosoedarmo, 1987:122).

Bynon (1979:192—193) mengemukakan bahwa konsep divergensi berkaitan dengan teori gelombang (wave theory) seperti yang ditemukan pada kekeluargaan bahasa atau keserumpunan bahasa (language family), sedangkan konvergensi berkaitan dengan saling memengaruhi antarbahasa atau dialek yang sangat dominatif secara sosial dan kultural. Di sisi lain, konvergensi elemen-elemen kebahasaan terjadi karena warga guyub tutur terutama secara berkelompok bergerak ke mana-mana, sehingga bahasa yang mereka gunakan menyebar dan menyatu dengan bahasa lain. Seperti yang dijelaskan dan dicontohkan oleh Wright (2014:552—554) perihal unsur-unsur bahasa Latin sebagai bahasa yang sangat berpengaruh dan berprestise zaman kekuasaan Romawi, sangat besar pengaruhnya atas bahasa-bahasa Eropa, selain unsur-unsur Proto Indo Eropa yang berdivergensi dalam bahasa-bahasa turunan.

(21)

1.5.3.2 Teori Morfologi dan Semantik

Ramlan (1985:19) mengemukakan bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Kridalaksana (1986:33) juga berpendapat bahwa satuan gramatikal yang berupa kata tersebut memiliki berbagai bentuk, yaitu kata tunggal, kata kompleks (hasil derivasi seperti afiksasi, reduplikasi, abreviasi, dan sebagainya), serta kata majemuk.

Bentuk-bentuk kata tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan kelas katanya masing-masing. Kelas kata adalah perangkat kata yang sedikit banyak berperilaku sama secara sintaksis. Subkelas kata adalah bagian dari suatu perangkat kata yang berperilaku semantik sama (Kridalaksana, 1986:41). Penjelasan mengenai kelas kata dibahas lebih lanjut di dalam bab pembahasan. Teori morfologi inilah yang membantu peneliti untuk pengidentifikasian dan penglasifikasian leksikon-leksikon serta istilah-istilah bahasa Jawa yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Selain bahasan tentang kelas kata dan subkelas kata, dibahas pula tentang ada atau tidaknya perubahan makna yang terjadi di dalam bahasa Indonesia yang menyerap leksikon-leksikon dan istilah-istilah bahasa Jawa beserta pembuktiannya. Untuk menganalisis hal tersebut diperlukan teori untuk memudahkan analisis data. Hock (dalam Mbete, 2001:3) mengemukakan bahwa berdasarkan gejala perubahan makna dari makna aslinya, dapat dikategorikan menjadi empat: (a) penyempitan (narrowing); (b) perluasan (broadening); (c)

(22)

perengkahan (split, bifurcation); (d) penggantian atau perubahan total (shift). Jeffers and Lehiste (1979:126) berpendapat pula mengenai perubahan makna sebagai berikut.

We might refer to changes in the meaning of word as lexical change. From a structuralist point of view, the meaning of a word is determined by the set of contexts in which that word generally occurs. Lexical change can be viewed, then, as a change in the set of contexts in which a given word might occur. A more abstract characterization of lexical change emphasizes the fact that a change of reference is involved. Some lexical change is motivated by the need to characterize novel phenomena in a society or culture.

(Kita mungkin bisa merujuk perubahan arti dari sebuah kata sebagai perubahan leksikal. Dari sudut pandang strukturalis, arti dari sebuah kata ditentukan oleh kumpulan konteks di mana kata itu umumnya terjadi. Perubahan leksikal dapat dilihat sebagai perubahan di dalam satuan konteks di mana mungkin terjadi pada kata tertentu. Karakterisasi perubahan leksikal yang lebih abstrak menekankan fakta bahwa perubahan pada referen juga terlibat. Beberapa perubahan leksikal didorong oleh kebutuhan untuk menandai fenomena baru dalam masyarakat atau budaya).

Berdasarkan data yang dikumpulkan dan pemakaiannya di dalam masyarakat, Parera (2004:106—107) membedakan dua kecenderungan dalam perkembangan pemahaman dan pemakaian makna, yakni pergeseran makna dan perubahan makna. Pergeseran makna adalah gejala perluasan, penyempitan, pengonotasian, penyintesisan, dan pengasosiasian sebuah makna kata yang masih hidup dalam satu medan makna. Dalam pergeseran makna rujukan awal tidak berubah atau diganti, tetapi rujukan awal mengalami perluasan atau penyempitan rujukan. Berbeda dengan pergeseran makna, perubahan makna berarti penggantian rujukan. Rujukan yang pernah ada diganti dengan rujukan baru.

Di sisi lain, Crowley (1987:179—182) membagi perubahan makna menjadi empat perubahan utama. Perubahan makna yang pertama adalah perluasan makna, yang kedua ialah penyempitan makna. Jenis perubahan makna ketiga adalah

(23)

percabangan makna, serta perubahan makna yang terakhir adalah pergeseran makna.

1.6 Sumber Data

Data berbeda dengan objek penelitian, Sudaryanto (dalam Mahsun, 2013:18) memberi batasan data sebagai bahan penelitian, yaitu bahan jadi yang ada karena pemilihan aneka macam tuturan. Sebagai bahan penelitian, maka di dalam data terkandung objek penelitian dan unsur lain yang membentuk data, yang disebut konteks. Sumber data yang diteliti berupa data primer. Sumber data primer yang digunakan berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta tahun 1976, dan Kamus Pepak Basa Jawa terbitan 2001. Data yang terkumpul tersebut kemudian dicatat, diurutkan berdasarkan fonemis, dan diteliti satu per satu. Data primer tersebut dibanding-bandingkan untuk menentukan sumber data yang sahih serta untuk melihat perkembangan serapan unsur bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia.

1.7 Metode dan Teknik Penelitian

Dalam upaya memecahkan masalah ditelusuri liku-likunya. Dalam penelusuran tersebut diperlukan tiga tahap upaya strategis yang berurutan, yakni penyediaan data, penganalisisan data, dan penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 2015:6). Uraian selengkapnya dapat diperhatikan di bawah ini.

(24)

1.7.1 Tahap Pengumpulan Data

Sudaryanto (2015:6) mengemukakan bahwa tahap pengumpulan data merupakan upaya peneliti mengumpulkan data secukupnya. Data tersebut dimengerti sebagai fenomena lingual khususnya yang mengandung dan berkaitan langsung dengan masalah yang dimaksud dalam hal ini fenomena serapan leksikal dan istilah dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Data yang demikian itu, substansinya dipandang berkualitas sahih (valid) dan dapat dipercaya. Kedua substansi tersebut harus ada dalam suatu data, maka menurut penyajiannya data yang sama harus memudahkan untuk dianalisis. Untuk itu, pengumpulan hendaklah diwujudkan di atas prinsip ketercukupan, baik tercukupi secara layak dalam hal jumlah maupun dalam hal jenis tipenya.

Kembali mengutip pendapat Sudaryanto (2015:6), bahwa tahap pengumpulan data dianggap selesai apabila pencatatan data dan klasifikasi data telah selesai dilakukan. Pada prinsipnya, Sudaryanto (2015:202) mengemukakan hanya ada dua metode pengumpulan data, yakni metode simak dan metode cakap. Dalam pengumpulan data penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode simak, karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak suatu penggunaan bahasa khususnya dalam KBBI dan sumber-sumber data sekunder lainnya. Mahsun (2005:92) menyatakan bahwa istilah simak tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis. Karena penyimakan dilakukan terhadap objek yang berupa media tertulis, metode simak yang digunakan adalah metode simak bebas libas

(25)

cakap, yaitu mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitian ini dari penggunaan bahasa secara tertulis tersebut.

Metode simak memiliki teknik dasar berupa teknik sadap. Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan. Dalam hal penyadapan penggunaan bahasa secara tertulis, peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa, bukan dengan orang yang sedang bertutur, melainkan berupa teks. Dalam hal ini KBBI dan sejumlah sumber lainnya (Sudaryanto, 2015:203). Sesuai dengan data penelitian yang berupa leksikon yang diklasifikasikan berdasarkan kelas kata dan subkelas kata lalu dicatat data yang ditemukan itu, maka teknik lanjutan dari teknik sadap yang digunakan adalah teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat.

1.7.2 Tahap Analisis Data

Sesuai dengan pernyataan Sudaryanto (2015:7), pada tahap analisis data peneliti berupaya menangani langsung masalah yang terkandung di dalam data. Hal-hal yang harus tercantum di dalam analisis data, yaitu (a) lingkup jangkauan; (b) macam, jenis, atau tipe; dan (c) hubungan pendasaran antarkaidah (pembedaan antara kaidah pokok dan kaidah dasar). Langkah awal yang dilakukan adalah pengklasifikasian leksikon serapan dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Jawa berdasarkan kelas kata dan subkelas katanya. Setelah diklasifikasikan, dianalisis dengan menggunakan metode distribusional.

Djajasudarma (1993:60) menyatakan bahwa metode distribusional adalah metode analisis data yang menggunakan alat penentu unsur bahasa itu sendiri.

(26)

Dasar penentu metode kajian distribusional adalah teknik pemilihan kata berdasarkan kategori (kriteria) tertentu dan segi kegramatikalan (terutama dalam penelitian deskriptif) sesuai dengan ciri-ciri alami yang dimiliki oleh data peneliti. Titik tolak kerja kajian dimulai dari data yang dipilih. Pemilihan juga dilakukan melalui intuisi kebahasaan yang dimiliki (termasuk intuisi gramatika sebagai akibat pemahaman atas suatu teori).

Sudaryanto (2015:166) juga mengemukakan bahwa dalam analisis data dapat juga digunakan metode introspeksi (atau yang biasa disebut metode reflektif-introspektif). Metode ini merupakan upaya melibatkan atau memanfaatkan sepenuh-penuhnya, secara optimal, peran peneliti sebagai penutur bahasa tanpa meleburlenyapkan peran sebuah penelitian. Sebagai penutur asli bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kepekaan lingual peneliti pun mampu membantu penganalisisan lebih lanjut. Oleh sebab itu, metode tersebut juga digunakan dalam penelitian ini.

Metode perbandingan historis sangat sentral dalam kajian linguistik perbandingan ini. Bentuk-bentuk dan makna-makna leksikon dan istilah dibandingkan antara bahasa Jawa sebagai bahasa sumber atau bahasa yang dipinjam, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menyerap atau yang meminjam (Jeffers and Lehiste, 1979). Berdasarkan pembandingan itulah ditemukan korespondensi bunyi dan makna, juga dengan variasi dan perubahannya. Perbedaan sistem bunyi dan sistem makna antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia walau berkerabat, menjadi sumber perbedaan dan perubahan yang dimaksudkan.

(27)

Untuk menganalisis dan mendeskripsikan topik permasalahan di dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk mengklasifikasikan kelas kata dan subkelas kata yang sesuai. Setelah data terkumpul, selanjutnya dicari ada atau tidaknya perubahan makna yang terjadi di dalam data tersebut beserta pembuktiannya (Djajasudarma, 1993:13—16).

1.7.3 Tahap Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil penelitian ini disajikan dengan metode penyajian formal dan informal. Dikutip dari Sudaryanto (2015:241), penyajian metode formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang. Di dalam penelitian ini digunakan lambang-lambang untuk menyederhanakan kaidah penyerapan bentuk unsur serapan bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia.

Selain metode formal digunakan juga metode penyajian informal. Metode informal merupakan metode yang penyajiannya dalam bentuk kata-kata. Metode informal digunakan untuk menguraikan leksikon bahasa Jawa yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Metode ini juga digunakan untuk memaparkan hasil analisis dan pembuktian ada atau tidaknya perubahan makna yang terjadi pada leksikon serapan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Jawa (Sudaryanto, 2015:241).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di