BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10. November 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

30 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Bank

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Menurut Stuart (dalam Rivai, et al, 2014:1), bank adalah suatu badan usaha yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran sendiri, dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan mengedarkan alat-alat penukar uang berupa uang giral.

Menurut Subagio, et al(dalam Latumaerissa, 2011:135), bank adalah suatu badan usaha yang kegiatan utamanya menerima simpanan dari masyarakat dan/atau pihak lainnya, kemudian mengalokasikannya kembali untuk memperoleh keuntungan serta menyediakan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Menurut Hasibuan (2011:2), bank adalah lembaga keuangan, pencipta uang, pengumpul dana dan penyalur kredit, pelaksana lalu lintas pembayaran, stabilisator moneter, serta dinamisator pertumbuhan perekonomian.

(2)

11

2.1.2 Fungsi dan Tujuan Bank

Perbankan Indonesia memiliki tujuan untuk menunjang pelaksanan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatkan kualitas hidup rakyat banyak (Hasibuan, 2011:4). Bank umum sebagai lembaga intermediasi keuangan memberikan jasa-jasa keuangan baik kepada unit surplus maupun kepada unit defisit. Bank umum memiliki beberapa fungsi pokok yaitu (Siamat, 2005:276): a. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam

kegiatan ekonomi b. Menciptakan uang

c. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat d. Menawarkan jasa-jasa keuangan lainnya

Selain fungsi pokok di atas, ada beberapa fungsi lain dari bank yaitu sebagai agent of trust, agent of development dan agent of service (Latumaerissa, 2011:135) :

a. Agent of Trust

Fungsi ini menunjukkan aktivitas intermediasi yang dilakukan dunia perbankan dilakukan berdasarkan asas kepercayaan, dalam pengertian bahwa kegiatan pengumpulan dana yang dilakukan oleh bank tentu harus didasari rasa percaya dari masyarakat atau nasabah terhadap kredibilitas dan eksistensi dari masing-masing bank, karena tanpa rasa percaya masyarakat tidak akan menitipkan dananya di bank yang bersangkutan. Sebaliknya, bank dalam kedudukannya sebagai kreditur yaitu pihak yang memberikan pinjaman kredit kepada

(3)

12 masyarakat harus merasa yakin dan percaya kepada calon penerima kredit atau debitur. Kepercayaan tersebut meliputi konsistensi dan kejujuran nasabah untuk menggunakan kredit yang diberikan sesuai dengan tujuan permintaan kredit, sehingga tujuan nasabah tercapai dan tujuan bank juga tercapai. Selain itu, aspek juga berkaitan dengan kemampuan nasabah untuk membayar kembali pinjaman yang telah diterimanya, baik cicilan bunga maupun pengembalian pokok pinjaman.

b. Agent of Development

Fungsi ini sangat berkaitan dengan tanggung jawab bank dalam menunjang kelancaran transaksi ekonomi yang dilakukan oleh setiap pelaku ekonomi. Dalam kegiatan ekonomi, kita ketahui bahwa kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kegiatan produksi dilakukan untuk menambah nilai guna barang yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kegiatan distribusi berkaitan dengan kegiatan menyalurkan barang yang telah diproduksi dari produsen kepada konsumen dengan menggunakan saluran-saluran distribusi yang tersedia. Kegiatan konsumsi adalah tindakan untuk mengurangi nilai guna dari suatu barang. Semua kegiatan ini dilakukan dengan mengunakan uang sebagai alat pembayaran, alat kesatuan hitung dan alat pertukaran. Karena hal ini, maka bank sebagai lembaga keuangan tentu mempunyai peran yang sangat strategis, sehingga dari aspek ini bank berfungsi untuk menjembatani semua kepentingan pelaku ekonomi dalam transaksi ekonomi yang dilakukan.

(4)

13 Industri perbankan adalah lembaga yang bergerak di bidang jasa keuangan maupun jasa non keuangan. Sebagai bank, di samping memberikan jasa keuangan sebagaimana kegiatan intermediasi yang selalu dilakukan, bank juga turut serta dalam memberikan jasa pelayanan yang lain seperti jasa transfer (payment order), jasa kotak pengaman (safety box), jasa penagihan atau inkaso (collection) yang saat ini telah mengalami perubahan dengan nama city clearing. Dengan pemahaman ini maka dapat diketahui bahwa sesungguhnya bank tidak hanya dipahami dalam kedudukannya sebgai lembaga intermediasi semata-mata, tetapi juga memiliki fungsi-fungsi lainnya.

2.1.3 Klasifikasi Bank

Pada praktiknya perbankan di Indonesia memiliki beberapa jenis bank seperti yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan. Namun kegiatan utama atau pokok bank sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tidak berbeda satu sama lain.

Perbedaan jenis bank dapat dilihat dari segi fungsi bank serta kepemilikan bank. Dari segi fungsi perbedaan yang terjadi terletak pada luasnya kegiatan atau jumlah produk yang ditawarkan maupun jangkauan wilayah operasionalnya. Sedangkan kepemilikan perusahaan dilihat dari segi kepemilikan saham serta akte pendiriannya. Perbedaan lainnya adalah dilihat dari segi siapa nasabah yang mereka layani apakah masyarakat luas atau masyarakat di lokasi tertentu (kecamatan). Jenis perbankan juga dibagi ke dalam caranya menentukan harga jual dan harga beli.

(5)

14 Adapun jenis-jenis bank jika ditinjau dari beberapa segi antara lain (Kasmir, 2008:34):

1. Dilihat dari segi fungsi

Menurut UU Pokok Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya UU Nomor 10 Tahun 1998 maka jenis perbankan berdasarkan fungsinya terdiri dari:

a. Bank Umum, adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah umum dalam arti dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Begitu pula dengan wilayah operasinya dapat dilakukan di seluruh wilayah. Bank umum sering disebut bank komersil (commercial bank).

b. Bank Perkreditan Rakyat (BPR), adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Artinya disini kegiatan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan bank umum.

2. Dilihat dari segi kepemilikan

Ditinjau dari segi kepemilikan maksudnya adalah siapa saja yang memiliki bank tersebut. Kepemilikan ini dapat dilihat dari akte pendirian dan penguasaan saham yang dimiliki bank yang bersangkutan. Jenis-jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya antara lain:

(6)

15 a. Bank milik pemerintah, adalah bank dimana akte pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula.

b. Bank milik swasta nasional, adalah bank yang seluruh atau sebagian besarnya dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya untuk swasta pula.

c. Bank milik asing, yang mana bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Jelas kepemilikannya pun dimiliki oleh pihak luar negeri.

d. Bank milik campuran, merupakan bank yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga negara Indonesia.

3. Dilihat dari segi status

Dilihat dari segi kemampuannya melayani masyarakat, bank umum dapat dibagi ke dalam 2 jenis. Pembagian jenis ini disebut juga pembagian berdasarkan kedudukan atau status bank tersebut. Kedudukan atau status ini menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam melayani masyarakat baik dari segi jumlah produk, modal maupun kualitas pelayanannya. Untuk memperoleh status tersebut diperlukan penilaian-penilaian dengan kriteria tertentu pula.

Jenis bank dilihat dari segi status adalah sebagai berikut (Kasmir, 2008:39):

a. Bank devisa, merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya

(7)

16 transfer keluar negeri, inkaso keluar negeri, travellers cheque, pembukaan dan pembayaran letter of credit dan transaksi lainnya. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan oleh Bank Indonesia.

b. Bank non devisa, merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa. Jadi bank non devisa merupakan kebalikan daripada bank devisa dimana transaksi yang dilakukan masih dalam batas-batas negara.

4. Dilihat dari segi cara menentukan harga

Jenis bank jika dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun harga beli terbagi kedalam 2 kelompok:

a. Bank yang berdasarkan prinsip konvensional, adalah bank yang menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti giro, tabungan maupun deposito. Demikian pula dengan produk pinjamannya berupa kredit. Dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada nasabahnya, bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan 2 metode, yaitu spread baseddan fee based.

b. Bank yang berdasarkan prinsip syariah, adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan perbankan lainnya.

(8)

17

2.1.4 Laporan Keuangan Bank

Laporan keuangan adalah laporan yang memberikan gambaran akuntansi atas operasi serta posisi keuangan perusahaan (Margaretha, 2011:20). Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan maka berdasarkan peraturan Bank Indonesia Nomor: 3/22/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001, bank wajib menyusn dan meyajikan laporan keuangan dengan bentuk yang terdiri dari (Siamat, 2005:368):

1. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Tahunan Bank, adalah laporan lengkap mengenai kinerja suatu bank dalam kurun waktu satu tahun. Laporan Keuangan Tahunan Bank adalah laporan akhir tahun yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan yang berlaku dan wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Laporan Keuangan Tahunan terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

2. Laporan Keuangan Publikasi Triwulan, adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan yang berlaku dan dipublikasikan setiap triwulan.

3. Laporan Keuangan Publikasi Bulanan, adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan Laporan Bulanan Bank Umum yang disampaikan bank kepada Bank Indonesia dan dipublikasikan setiap bulan.

4. Laporan Keuangan Konsolidasi, adalah laporan keuangan yang berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku serta menyampaikan laporan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.

(9)

18

2.1.5 Tingkat Kesehatan Bank

Menurut Peraturan Bank Indonesia No 6/10/PBI/2004, Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui Penilaian Kuantitatif dan atau Penilaian Kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Standar untuk melakukan penilaian kesehatan bank telah ditentukan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia. Setiap bank diharuskan membuat laporan baik yang bersifat rutin ataupun secara berkala mengenai seluruh aktivitasnya dalam suaru periode tertentu. Dari laporan ini, kemudian dianalisis dan dipelajari sehingga dapat diketahui kondisi kesehatan bank yang sesungguhnya dan akan memudahkan bank tersebut untuk memperbaiki tingkat kesehatannya.

Perkembangan industri perbankan yang semakin kompleks dan beragam akan meningkatkan profil risiko bank. Oleh karena itu, Bank Indonesia terus memperbaiki dan menyempurnakan penilaian tingkat kesehatan bank agar dapat mencerminkan kondisi sebenarnya dari suatu bank. Penyempurnaan ini dilakukan agar penilaian tingkat kesehatan bank dapat lebih efektif digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi kinerja bank termasuk dalam penerapan manajemen risiko, kepatuhan pada aturan yang berlaku dan penerapan prinsip kehati-hatian. Oleh karena itu, Bank Indonesia menetapkan peraturan baru mengenai penilaian tingkat kesehatan bank umum yaitu PBI No. 13/1/PBI/2011 yang mulai berlaku efektif mulai Januari 2012. Dari segi prinsip dan proses peraturan baru ini tidak jauh beda dari PBI No. 6/10/PBI/2004 yang membahas penilaian kesehatan bank melalui

(10)

19 pendekatan CAMELS. Peraturan yang baru menggolongkan faktor penilaian menjadi 4 faktor yaitu: Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning dan Capital atau yang disingkat dengan REGC. Beberapa indikator sebelumya dalam CAMELS ditata ulang dan dimasukkan ke dalam faktor baru yaitu REGC. Faktor kualitas aset (A), manajemen (M), likuiditas (L) dan sensitivitas terhadap risiko pasar (S) melebur dalam faktor profil risiko (R) dalam REGC. Berdasarkan PBI No. 13/1/PBI/2011 risiko yang dihadapi bank risiko inheren dalam operasional bank yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi. Faktor Earning (E) dan Capital (C) dalam pendekatan sebelumnya tetap dipertahankan dan ditambah dengan dengan faktor penilaian baru yaitu Good Corporate Governance (GCG) yang telah dikembangkan dan disesuaikan dengan perubahan atau perkembangan situasi terkini.

Penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan pendekatan berdasarkan risiko (Risk-based Bank Rating) merupakan penilaian yang komprehensif dan terstruktur terhadap hasil integrasi profil risiko dan kinerja yang meliputi penerapan tata kelola yang baik, rentabilitas dan permodalan. Pendekatan tersebut memungkinkan Bank Indonesia sebagai pengawas melakukan tindakan pengawasan yang sesuai dan tepat waktu karena penilaian secara komprehensif terhadap semua faktor penilaian dan difokuskan pada risiko yang signifikan serta dapat segera dikomunikasikan kepada bank dalam rangka menetapkan tindak lanjut pengawasan.

(11)

20 Selain itu, sejalan dengan penerapan pengawasan berdasarkan risiko maka pengawasan tidak cukup hanya untuk bank secara individu tetapi juga harus dilakukan harus dilakukan terhadap bank secara konsolidasi termasuk dalam penilaian tingkat kesehatan bank. Oleh sebab itu, penilaian tingkat kesehatan bank juga harus mencakup penilaian tingkat kesehatan bank secara konsolidasi. Untuk menilai kinerja bank, Bank Indonesia kini menggunakan pendekatan risiko yang disebut Risk Based Bank Rating (RBBR). RBBR menggunakan 4 faktor yaitu profil risiko, Good Corporate Governance (GCG), Earning (Rentabilitas) dan Capital (Permodalan). Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan secara

self assesment melalui penilaian kuantitatif dan kualitatif setelah

mempertimbangkan faktor lain seperti kondisi industri perbankan dan perekonomian nasioanl. Berikut adalah masing-masing uraiannya:

1. Profil Risiko (Risk Profile)

Penilaian terhadap profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional bank yang dilakukan terhadap 8 (delapan) risiko yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi. Berdasarkan hasil pengawasan jenis risiko yang menonjol dalam industri perbankan nasional adalah risiko kredit dan operasional. Hal ini merupakan konsekuensi dari usaha perbankan yang mayoritas masih mengandalkan penyaluran kredit. Dari sisi risiko kredit, hal-hal yang masih perlu ditingkatkan pada beberapa bank antara lain adalah penyempurnaan

(12)

21 kebijakan dan internal control bank. Sementara itu, untuk risiko operasional perlu ditingkatkan kualitas SDM dan infrastrukur teknologi.

2. Good Corporate Governance (GCG)

Penilaian terhadap faktor GCG merupakan penilaian terhadap manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG sebagaimana diatur dalam PBI GCG yang didasarkan pada 3 (tiga) aspek utama yaitu Governance Structure, Governance Process dan Governances Outcomes. Governance Structure mencakup pelaksaan tugas dan tanggung jawab Komisaris dan Direksi serta kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite. Governance Process mencakup penerapan fungsi kepatuhan bank, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi audit intern dan ekstern, penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern, penyediaan dana kepada pihak terkait dan dana besar, serta rencana strategis bank. Governances Outcomes mencakup transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, pelaporan internal. Penerapan GCG yang memadai sangat diperlukan dalam pengelolaan perbankan mengingat SDM yang menjalankan bisnis perbankan merupakan faktor kunci yang harus memiliki integritas dan kompetensi yang baik

3. Rentabilitas (Earnings)

Penilaian terhadap faktor rentabilitas (earnings) meliputi penilaian terhadap kinerja earnings, sumber-sumber earnings dan sustainability earnings bank. Tindakan penagwasasn yang dilakukan antara laian meminta bank agar meningkatkan kemampuan menghasilkan laba seperti melalui peningkatan efisiensi dan volume usaha dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

(13)

22 4. Permodalan (Capital)

Penilaian terhadap faktor permodalan (capital) meliputi penilaian terhadap tingkat kecukupan permodalan dan pengelolaan modal untuk mendukung kegiatan usaha. Bank Indonesia meminta agar pemegang saham bank menambah modal, mencari investor baru dan/atau mengurangi proporsi pembagian dividen kepada pemegang saham. Hal ini dilakukan dengan beberapa pertimbangan yaitu krisis ekonomi global, perkembangan standar internasional dan menghilangkan potensi duplikasi dalam penilaian Tingkat Kesehatan Bank. Seiring dengan perubahan tersebut, terhitung mulai Desember 2011 penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RBBR pada kondisi normal dilakukan secara berkala setiap 6 bulan. Dalam melakukan penilaian tingkat kesehatan bank, Bank Indonesia mewajibkan bank umum untuk menyampaikan hasil penilaian (self assesment) tingkat kesehatan bank paling lambat 1 (satu) bulan setelah prose penilaian. Hasil penilaian yang dilakukan bank tersebut selanjutnya menjadi bahan pertimbangan Bank Indonesia dalam menilai tingkat kesehatan bank. Tindak lanjut pengawasan yang dilakukan Bank Indonesia terkait dengan penilaian tersebut adalah meminta manajemen bank untuk melakukan langkah perbaikan dan melaporkannya secara berkala.

2.1.6 Rasio Keuangan Tingkat Kesehatan Bank

Rasio keuangan adalah suatu angka yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan. Hubungan antara unsur-unsur laporan keuangan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana (Djarwanto, 2004:143).

(14)

23 Penilaian tingkat kesehatan bank dengan pendekatan REGC terdiri dari faktor kuantitatif dan faktor kualitatif yaitu: Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings dan Capital. Biasanya faktor yang mudah diukur adalah faktor kuantitatif karena berupa rasio-rasio keuangan. Dalam penelitian ini, penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode REGC yang digunakan adalah faktor kuantitatif yaitu: Risk Profile, Earnings dan Capital.

2.1.6.1Risk Profile

Risiko dapat didefinisikan sebagai potensi terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian. Hal ini berarti pula bahwa risiko selalu melekat pada setiap aktivitas usaha perbankan dan risiko akan menjadi berbahaya apabila tidak dimengerti, tidak terukur dan tidak dikelola dengan baik (Wirawan, 2014:36).

Risk Profile merupakan penilaian atas risiko yang melekat pada kegiatan bisnis bank, baik yang dapat dikuantifikasikan maupun yang tidak, yang berpotensi mempengaruhi posisi keuangan bank. Penilaian kualitas penerapan manajemen risiko merupakan penilaian terhadap aspek tata kelola risiko, proses manajemen risiko, kecukupan sumber daya manusia dan kecukupan sistem informasi manajemen serta kecupan sistem pengendalian risiko dengan memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha bank (Safariah, 2015:45). Penilaian terhadap faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko yang berkaiatan dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional bank yang dilakukan dengan 8 (delapan) risiko yaitu : risikokredit, risikopasar, risikolikuiditas, risikooperasional, risikohukum, risikostratejik, risikokepatuhan

(15)

24 dan risiko reputasi. Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan pada risiko pasar yang diwakili dengan Interest Rate Risk (IRR), risiko kredit yang diwakili dengan Non Performing Loan (NPL) dan risiko likuiditas yang diwakili dengan Loan to Deposit Ratio (LDR).

1. Interest Rate Risk (IRR)

Interest Rate Risk (IRR) merupakan risiko kerugian bank yang disebabkan oleh selisih/gap tingkat suku bunga. Interest Rate Risk (IRR) merupakan salah satu model yang digunakan untuk mendeteksi secara umum sensitivitas bank terhadap pergerakan suku bunga. Rasio ini memperlihatkan risiko yang mengukur besaran bunga yang diterima oleh bank dibandingkan dengan bunga yang dibayar. Semakin tinggi rasio ini maka kemungkinan bank mengalami kerugian semakin rendah dan secara otomatis laba akan meningkat (Wirawan, 2013:23).

Rasio IRR merupakan perbandingan antara Interest Sensitivity Assets terhadap Interest Sensitivity Liabilitiesdimana Interest Sensitivity Assets, adalah interest income atau pendapatan bunga, sedangkan Interest Sensitivity Liabilities, adalah interest expense atau beban bunga. Interest Rate Risk (IRR) merupakan risiko untuk mengukur kemungkinan interest yang diterima oleh bank lebih kecil dibandingkan dengan interest yang dibayar oleh bank (Muljono, 2002:133). Risiko tersebut harus dipahami dan dikendalikan dengan baik oleh setiap mananjemen bank dan memang risiko tersebut merupakan hal yang alamiah dan sulit dihilangkan. Oleh karena itu, manajemen bank berkepentingan untuk menekan risiko tersebut sampai pada tingkat seminim mungkin.

(16)

25 Salah satu jenis risiko yang sering dihadapi oleh bank adalah risiko kredit. Risiko kredit adalah risiko yang digunakan untuk mengukur gagalnya pengembalian kredit yang mengalami kemacetan (Muljono, 2002:132). Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 indikator yang digunakan untuk mengukur risiko kredit yaitu Non Performing Loan (NPL). NPL merupakan persentase jumlah kredit yang bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan, macet) terhadap total kredit (Siamat, dalam Krisnawati, 2014:41). Semakin kecil NPL, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung bank sehingga dapat meningkatkan profit dan meminimalkan kerugian yang diperoleh bank. Bank dalam menyalurkan kredit harus menganalisis kemampuan debiturnya. Kemudian setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan peninjauan dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko kredit.

Implikasi bagi pihak perbankan sebagai akibat timbulnya kredit bermasalah adalah sebagai berikut (Dendawijaya, 2009:82):

1. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh income (pendapatan) dari kredit yang diberikan sehingga mengurangi perolehan laba dan berpengaruh buruk bagi rentabilitas bank.

2. Rasio kualitas aktiva produktif atau yang lebih dikenal dengan BDR (Bad Debt Ratio) menjadi semakin besar yang menggambarkan terjadinya situasi yang memburuk.

(17)

26 3. Bank harus memperbesar penyisihan untuk cadangan aktiva produktif yang

diklasifikasikan berdasarkan ketentuan yang ada. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi besarnya modal bank dan akan sangat berpengaruh terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR).

3. Loan to Deposit Ratio (LDR)

Selain risiko kredit, risiko yang sering dihadapi oleh bank adalah risiko likuiditas. Likuiditas suatu bank berarti bahwa bank tersebut memiliki sumber dana yang cukup tersedia untuk memenuhi semua kewajiban. Likuiditas bank adalah kemampuan bank dalam mengelola sebagian besar dana masyarakat yang sifatnya jangka pendek atau simpan pinjam yang dapat ditarik sewaktu-waktu (Siamat, 2005:280). Bank harus memenuhi kebutuhan masyarakat dalam penarikan simpanan mereka serta pencairan kredit yang telah diperjanjikan. Semakin baik bank memenuhi permintaan masyarakat akan menimbulkan tingkat kepercayaan bank yang tinggi oleh masyarakat.

Kebutuhan likuiditas bank pada prinsipnya bersumber dari 2 (dua) kebutuhan. Pertama untuk memenuhi semua penarikan dana oleh nasabah dan kebutuhan likuiditas wajib. Kedua, untuk memenuhi kebutuhan pencairan dan permintaan kredit dari nasabah terutama kredit yang disetujui (Siamat, 2005:280). Aktivitas perkreditan dapat mendominasi penggunaan dana suatu bank karena perkreditan mempengaruhi aktivitas bank, penilaian atas tingkat kesehatan bank, tingkat kepercyaan nasabah serta profitabilitas bank. Masalah yang timbul dalam penanaman dana di bidang perkreditan akan menyangkut besarnya dana yang

(18)

27 dapat digunakan atau tidak, pengaturan komposisi jenis kredit dan komposisi berdasarkan jatuh temponya.

Konsep metode RGEC yang tertulis pada peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 menggunakan indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) untuk menilai risiko likuiditas. LDR merupakan perbandingan antara kredit yang diberikan dan dana pihak ketiga, termasuk pinjaman yang diterima. LDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan peminjaman nasabahnya. LDR adalah rasio keuangan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuitas. Menurut Dendawijaya (2005:116), LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah, kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Rasio ini juga merupakan indikator kerawanan dan kemampuan suatu bank. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman LDR suatu bank adalah 80%-110%. Pengelolaan likuiditas ini sangant penting karena kekurangan likuiditas dapat mengganggu bukan hanya bank tersebut namun sistem perbanakan secara keseluruhan.

2.1.6.2Earning

Earning atau yang sering disebut rentabilitas merupakan ukuran kemampuan bank dalam meningkatkan laba, setiap periode atau mengukur tingkat

(19)

28 efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat. Rasio rentabilitas disebut juga sebagai rasio profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perbankan dalam memperoleh laba atau keuntungan. Dalam perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini dicari hubungan timbal balik antar pos yang terdapat pada laporan laba rugi ataupun hubungan timbal balik antar pos yang terdapat pada laporan rugi bank dengan pos-pos pada neraca bank guna memperoleh berbagai indikasi yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efisiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan. Keberhasilan bank didasarkan pada penilaian kuantitatif terhadap rentabilitas bank yang diukur dengan dua rasio yang berbobot sama. Rasio rentabilitas bertujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaannya. Rasio-rasio rentabilitas meliputi Net Interest Margin (NIM) dan Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).

1. Net Interest Margin (NIM)

Menurut ketentuan dari Bank IndonesiaNet Interest Margin (NIM) merupakan perbandingan antara pendapatan bunga bersih terhadap rata-rata aktiva produktif. Dapat disimpulkan bahwa pengertian NIM pada dasarnya adalah sebuah rasio keuangan yang merupakan hasil dari perbandingan antara pendapatan bunga terhadap aktiva dan merupakan selisih antara bunga simpanan dan bunga pinjaman.

(20)

29 Risiko NIM menandakan risiko pasar yang timbul akibat berubahnya kondisi pasar, dimana hal tersebut dapat merugikan bank (Hasibuan, dalam Krisnawati, 2014:36). Risiko pasar terjadi karena ada kerugian yang terjadi pada posisi neraca dan rekening administrasi serta transakasi derivatif akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk perubahan haaga option. Rasio ini menggambarkan jumlah pendapatan bunga bersih yang diperoleh dengan menggunakan aktiva produktif yang dimiliki oleh bank sehingga dapat disimpulkan semakin besar nilai NIM yang dicapai oleh bank maka semakin besar pula pendapatan bunga atas aktiva produktif sehingga keuntungan yang diperoleh dari suatu bank akan meningkat.

Peningkatan rasio NIM mencerminkan bahwa perbankan mampu meningkatkan pendapatan bunga bersih sehingga risiko-risiko yang terdapat pada suatu bank akan dapat dijadikan pertimbangan oleh investor dalam menentukan keputusannya dan kecenderungan investor akan memilih investasi dengan melihat kondisi perusahaan yang tidak bermasalah.

Pendapatan bunga bersih merupakan hasil dari pendapatan bunga dikurangi dengan beban bunga. Aktiva produktif adalah rata-rata aktiva produktif yang digunakan seperti surat-surat berharga, giro, obligasi pemerintah, wesel ekspor, tagihan derivatif, pinjaman, pembiayaan piutang, tagihan akseptasi, penyertaan saham serta komitmen dan kontijensi yang berisiko kredit. Sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, besarnya NIM yang harus dicapai oleh suatu bank adalah sebesar diatas 6%.

(21)

30 Rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank melakukan kegiatan operasinya (Dendawijaya, 2005:120). Semakin rendah tingkat rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut karena lebih efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Rasio BOPO sering disebut rasio efisiensi digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka menjalankan aktivitas usaha pokoknya (biaya bunga, biaya tenaga kerja, biaya pemasaran dan biaya operasi lainnya). Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisiensi bank dalam menjalankan aktivitas usahanya. Bank yang sehat rasio BOPO-nya kurang dari 100%, sebaliknya bank yang kurang sehat rasio BOPO-nya lebih dari 100%.

2.1.6.3Capital

Rasio permodalan bertujuan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuiditas bank. Rasio permodalan yang digunakan dalam penelitian ini diproksikan dengan Capital Adequacy Ratio (CAR). CAR ialah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank, disamping memperoleh dana-dana dari sumber luar bank seperti dana-dana masyarakat, pinjaman (utang) dan lain-lain (Dendawijaya, 2005:121). Fungsi dari rasio ini adalah untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung

(22)

31 atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank yang dinyatakan sehat harus memiliki CAR minimal sebesar 8%. Hal ini didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlement (Dendawijaya, 2005:144).

2.1.7 Kinerja Keuangan Bank

Dalam penelitian ini, kinerja keuangan bank diukur dengan salah satu rasio profitabilitas, yaitu Return On Asset (ROA). Rasio ini bertujuan untuk mengukur tingkat efisiensi bank dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan (Kasmir, 2012:49). Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dari segi penggunaan aset. ROA digunakan untuk mengukur profitabilitas bank karena Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawasan perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank diukur dengan aset yang dananya sebagian besar dari dana simpanan masyarakat (Dendawijaya, 2005:119). Sedangkan menurut Bank Indonesia, ROA merupakan perbandingan antara laba sebelum pajak dengan rata-rata total aset dalam suatu periode. Rasio ini dapat dijadikan sebagai ukuran kesehatan keuangan. ROA menunjukkan efektivitas perusahaan sehingga menjadi bagian penting perusahaan mengingat keuntungan yang diperoleh dari penggunaan aset dapat mencerminkan tingkat efisiensi usaha bank. Semakin besar ROA, semakin besar tingkat keuntungan yang diperoleh bank sehingga kecil kemungkinan terjadi bank dalam kondisi bermasalah.

(23)

32

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang menjadi referensi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti

(tahun)

Judul Variabel Teknik

Analisis Data Hasil Penelitian 1 Sukarno (2006) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Bank Umum di Indonesia Variabel Independen: CAR, LDR, NPL, DER dan BOPO Variabel Dependen: ROA Analisis Regresi Berganda Secara parsial, variabel CAR dan LDR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, variabel NPL berpengaruh positif terhadap ROA, variabel DER berpengaruh negatif dan tidak signfikan terhadap ROA dan variabel BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. 2 Rofiqoh (2014) Analisis Pengaruh Capital, Kualitas Aset, Rentabilitas dan Sensitivity to Market Terhadap Profitabilitas Perbankan Pada Perusahaan BUSN Devisa dan BUSN Non Devisa

Variabel Independen: CAR, NPL, NIM, IRR dan PDN Variabel Dependen: ROA Regresi Linear Berganda Variabel CAR, NIM, IRR dan PDN berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA Bank. Sedangkan variabel NPL berpengaruh negatif terhadap ROA Bank.

3 Widati (2012) Analisis Pengaruh CAMEL Terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan Yang Go Public Variabel Independen: CAR, PPAP, DER, BOPO dan LDR Variabel Dependen: ROA Regresi Linear Berganda Variabel CAR, LDR dan DER memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank (ROA). 4 Krisnawati (2014) Analisis Faktor Penentu Profitabilitas Bank di Indonesia Dengan Metode Risk Based Rating Bank (Studi Pada Bank Umum Go Variabel Independen: CAR, NIM, GCG, LDR, NPL dan PDN Variabel Dependen: Regresi Linear Berganda Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel NIM yang berpengaruh secara positif dan

(24)

33 Public di

Indonesia Periode 2008-2014)

ROA ROA. Sedangkan

variabel CAR, GCG, LDR dan NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA

5 Ibadil (2013) Analisis Pengaruh Risiko, Tingkat Efisiensi dan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan (Pendekatan Beberapa Komponen Metode Risk Based Bank Rating SEBI 13/24/DPNP/2011) Variabel Independen: NPL, NIM, LDR, BOPO, CAR, PDN dan GCG Variabel Dependen: ROA Regresi Linear Berganda Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel NPL, NIM dan CAR berpengaruh secara signifikan terhadap ROA. Sedangkan variabel LDR, BOPO, PDN dan GCG tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA 6 Oktiana (2015) Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Profitabiltas Perbankan

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa beberapa penelitian terdahulu mengenai analisis pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba bank yang telah dilakukan menghasilkan beberapa kesimpulan yang berbeda, diantaranya:

1. Sukarno (2006) yang meneliti tentang “Pengaruh Rasio Indikator Tingkat Kesehatan Bank Terhadap Pertumbuhan Laba Perusahaan Go Public (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di BEI Periode 2009-2011)” menyatakan bahwa variabel CAR dan variabel NPL berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Sementara variabel lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.

2. Widati (2012) yang meneliti tentang “Analisis Pengaruh CAMEL Terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan Yang Go Public” menyatakan

(25)

34 bahwa variabel CAR, LDR dan DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank.

3. Ibadil (2013) yang meneliti tentang “Analisis Pengaruh Risiko, Tingkat Efisiensi dan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan (Pendekatan Beberapa Komponen Metode Risk Based Bank Rating SEBI 13/24/DPNP/2011)” menyatakan bahwa secara parsial variabel NPL, NIM dan CAR berpengaruh signifikan terhadap ROA, sedangkan variabel LDR, BOPO, PDN dan GCG tdak berpengaruh signifikan terhadap ROA.

4. Rofiqoh (2014) yang meneliti tentang “Analisis Pengaruh Capital, Kualitas Aset, Rentabilitas dan Sensitivity to Market Terhadap Profitabilitas Perbankan Pada Perusahaan BUSN Devisa dan BUSN Non Devisa” menyatakan bahwa variabel CAR, NIM, IRR dan PDN berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA Bank. Sedangkan variabel NPL berpengaruh negatif terhadap ROA Bank.

5. Krisnawati (2014) yang meneliti tentang “Analisis Faktor Penentu Profitabilitas Bank di Indonesia Dengan Metode Risk Based Rating Bank (Studi Pada Bank Umum Go Public di Indonesia Periode 2008-2013)” menyatakan bahwa secara parsial hanya variabel NIM yang berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap ROA. Sedangkan variabel CAR, GCG, LDR dan NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.

(26)

35

2.3 Kerangka Konseptual

Menurut Kuncoro (2009:52), kerangka konseptual adalah jaringan hubungan antar variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui proses wawancara, observasi, dan survei literatur.Berdasarkan kajian-kajian penelitian yang terdahulu maka dapat disusun kerangka konseptual tentang bagaimana pengaruh Tingkat Kesehatan Bank terhadap Kinerja Keuangan Bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2011-2014 sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Pada penelitian ini, peneliti akan meneliti tingkat kesehatan bank-bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Perubahan kompleksitas usaha dan profil risiko serta perubahan pendekatan penilaian kondisi bank yang diterapkan secara internasional mempengaruhi pendekatan penilaian tingkat kesehatan bank. Berdasarkan Peraturan dari Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum yang menyatakan bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating). Uraian dari kerangka pemikiran ini mencoba menjelaskan bagimana pengelolaan tingkat kesehatan bank yang baik akan berdampak positif pada kinerja keuangan bank. Kinerja keuangan bank yang digunakan dalam penelitian ini diwakili dengan rasio profitabilitas, yaitu Return On Asset (ROA). Profitabilitas merupakan salah satu indikator penting untuk menilai kinerja suatu bank. Suatu bank dikatakan profit apabila bank tersebut mampu mengelola income dari pengelolaan aset yang dimilikinya dengan baik. Pada penelitian ini, beberapa rasio keuangan bank yang

(27)

36 digunakan untuk mengukur kinerja suatu bank diantaranya adalah Interest Rate Risk (IRR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Net Interest Margin (NIM), Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dan Capital Adequacy Ratio (CAR). Interest Rate Risk (IRR) merupakan risiko kerugian bank yang disebabkan oleh selisih tingkat suku bunga. Rasio ini memperlihatkan risiko yang mengukur besaran bunga yang diterima bank dibandingkan dengan bunga yang dibayar. Semakin tinggi rasio ini maka kemungkinan bank mengalami kerugian semakin rendah sehingga otomatis laba akan meningkat. Non Performing Loan (NPL) sering digunakan untuk mengukur risiko kredit. Rasio ini menggambarkan perbandingan antara kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan, macet) terhadap total kredit. Semakin rendah rasio ini, maka kemungkinan bank mengalami kerugian semakin rendah sehingga otomatis laba akan meningkat. Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana kepada debiturnya dengan modal yang dimiliki bank. LDR merupakan rasio yang menggambarkan tingkat likuiditas bank. Semakin tinggi nilai rasio LDR, maka hal ini mengindikasikan kemungkinan bank tersebut dalam kondisi bermasalah semakin besar. Net Interest Margin (NIM) adalah rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bungan bersih. Semakin besar rasio ini, maka kemungkinan kondisi bank dalam keadaan bermasalah semakin kecil. Meningkatnya pendapatan bunga bersih akan berkontribusi terhadap laba bank. Sehingga dapat disimpulkan semakin besar rasio NIM suatu bank maka semakin baik pula profitabilitas bank

(28)

37 tersebut, yang berarti semakin meningkat pula kinerja keuangan bank tersebut. Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya. Bank yang mampu menekan biaya operasionalnya seminimal mungkin dapat mengurangi kerugian akibat ketidakefisienan bank tersebut sehingga laba akan semakin meningkat sehingga nantinya akan meningkatkan pula profitabilitas bank tersebut. Semakin kecil rasio BOPO suatu bank maka ini menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya sehingga semakin sehat kondisi bank tersebut.Capital Adequacy Ratio (CAR) atau yang sering disebut rasio kecukupan modal menggambarkan jumlah modal sendiri yang diperlukan untuk menutup risiko kerugian yang timbul dari penanaman aktiva-aktiva yang mengandung risiko. Semakin besar CAR, maka kinerja bank semakin baik.

Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka dapat disajikan kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan antara beberapa variabel tersebut di atas seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

(29)

38

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual 2.4Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Interest Rate Risk (IRR) berpengaruh positif terhadap ROA Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014.

Interest Rate Risk (IRR)

Non Performing Loans (NPL)

Loan to Deposit Ratio (LDR)

Beban Operasional Pendapatan Operasional

(BOPO) Net Interest Margin

(NIM)

Return on Asset (ROA)

Capital Adequacy Ratio (CAR)

(30)

39 2. Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap ROA Bank Umum

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014.

3. Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh negatif terhadap ROA Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014.

4. Net Interest Margin (NIM) berpengaruh positif terhadap ROA Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014.

5. Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif terhadap ROA Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014.

6. Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap ROA Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014. 7. Interest Risk Rate (IRR), Non Performing Loans (NPL), Loan to Deposit Ratio

(LDR), Net Interest Margin (NIM), Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) secara simultan berpengaruh positif terhadap ROA Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2014.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :