BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Konsep Pendidikan Birrul Walidain - KARTIKA WAHYU UTAMI BAB II

33  26  Download (0)

Full text

(1)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Konsep Pendidikan Birrul Walidain

Dalam membahas konsep pendidikan birrul walidain, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dari konsep dan pendidikan birrul walidain.

1. Pengertian Konsep

Menurut Kamus besar bahasa Indonesia (Sugono, 2008 : 802) konsep berarti rancangan, ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkrit. Sedangkan menurut istilah konsep berasal dari bahasa Latin “conceptum” yang artinya sesuatu yang dipahami. Aristoteles dalam bukunya “The Classical Theory Of Concepts” menyatakan bahwa konsep merupakan penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia.

(https://id.m.wikipedia.org.konsep.com di akses pada tanggal 06 Juli 2017 pada pukul 10.15).

Jadi definisi konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu gambaran, ide atau pemikiran yang dinyatakan dalam suatu kata.

2. Pendidikan Birrul Walidain

(2)

7

Kata rabba beserta cabangnya banyak dijumpai dalam Al-Qur‟an, salah satunya dalam Q.S. Al Isrā' (17): 24. Tarbiyah sering juga disebut ta‟dib seperti sabda Nabi Shallallaahu „Alaihi Wasallam: “addabani rabbi fa

ahsana ta‟dibi” (Tuhanku telah mendidikku, maka aku menyempurnakan

pendidikannya). (Roqib, 2011 : 14).

Memperjelas bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah. Rasul sendiri menegaskan bahwa beliau dididik oleh Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala sehingga pendidikan yang beliau peroleh adalah sebaik-baik

pendidikan. Dengan demikian Rasul merupakan pendidik utama yang harus dijadikan teladan. (Jalaluddin, 2003: 73)

Sementara pengertian pendidikan menurut beberapa tokoh sebagai berikut :

a. Menurut John Dewey dalam bukunya (Ahmadi & Uhbiyati, 2001 : 69) pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

(3)

8

c. Pendidikan merupakan proses dalam „transfer‟ ilmu, yang umumnya

dilakukan melalui tiga cara yakni, lisan, tulisan/gambar, dan perbuatan (perilaku/sikap). (Muchtar, 2005: 12)

Pendidikan Islam merupakan pembentukan kepribadian muslim. Pendidikan Islam lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain.

Birrul walidain terdiri dari kata birru dan al-walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan. Al-walidain artinya dua orang tua atau ibu bapak. (Ilyas, 2009 : 147). Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, mengasih sayangi, taat dan patuh kepadanya, menunaikan kewajiban terhadapnya, dan melakukan hal-hal yang membuat kedua orang tua ridha, serta meninggalkan sesuatu yang membuatnya murka adalah kewajiban yang harus dilaksanakan setiap anak. Semua itu disebut dengan istilah birrul walidain. (Mahalli, 2003 : 19).

Birrul walidain adalah berbakti, taat, berbuat ihsan, memelihara keduanya, memelihara di masa tua, tidak boleh bersuara keras apalagi

sampai menghardik mereka, mendo‟akan keduanya lebih-lebih setelah

mereka wafat serta sopan santun yang semestinya terhadap mereka berdua. (Ulwan, 1990 : 33).

(4)

9

anak. Semenjak awal kehadirannya di muka bumi, setiap anak melibatkan peran penting orang tuanya, seperti peran pendidikan. Karena jasa-jasanya yang begitu banyak dan bernilai maka orang tua di dalam Islam diposisikan amat terhormat di hadapan anak-anaknya.

Dari beberapa definisi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan birrul walidain dalam peneltian ini adalah usaha untuk berbakti dan berbuat baik seorang anak kepada kedua orang tua yang dapat berbentuk suatu perbuatan, perilaku/sikap dengan cara mengasih sayangi, taat dan patuh kepadanya, menunaikan kewajiban terhadapnya, dan melakukan hal-hal yang membuat kedua orang tua ridha, serta meninggalkan sesuatu yang membuatnya murka.

B. Kedudukan Birrul Walidain

(5)

10

Dalam bukunya (Ilyas, 2009: 148) Ada beberapa kedudukan birrul walidain antara lain :

1. Perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala di dalam Al-Qur‟an langsung sesudah perintah beribadah hanya

kepada-Nya semata-mata atau sesudah larangan mempersekutukan-Nya. 2. Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala mewasiatkan kepada umat manusia untuk

berbuat ihsan kepada ibu bapak.

3. Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala meletakkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak langsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala.

4. Rasulullah Shallallaahu „Alaihi Wasallam meletakkan birrul walidain sebagai amalan nomor dua terbaik sesudah shalat tepat pada waktunya. 5. Rasulullah Shallallaahu „Alaihi Wasallam meletakkan „uququl walidain

(durhaka kepada dua orang ibu bapak) sebagai dosa besar nomor dua sesudah syirik.

(6)

11

6. Rasulullah Shallallaahu „Alaihi Wasallam mengaitkan keridhaan dan kemarahan Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala dengan keridhaan dan kemarahan orang tua.

Pengulangan perintah dan digandengkan dengan ayat perintah untuk mentauhidkan Allah menunjukkan begitu pentingya kedudukan berbakti terhadap kedua orang tua di dalam Islam. Allah meletakkan hak orang tua (untuk di baktikan) setelah hak Allah (untuk di ibadahi). Kedudukan dan hak seorang ibu untuk diberikan bakti oleh anak adalah tiga banding satu dibandingkan hak seorang ayah, padahal hak seorang ayah sangat besar. (http://id.m.wikipedia.org>birrulwalidain.com , diakses pada pada tanggal 06 Juli 2017 pada pukul 10.18)

C. Bentuk-Bentuk Birrul Walidain

Banyak cara bagi seorang anak untuk dapat mewujudkan birrul walidain. Bentuk-bentuk birrul walidain dalam bukunya (Ilyas, 2009: 152) antara lain sebagai berikut:

(7)

12

2. Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh rasa terima kasih dan kasih sayang atas jasa-jasa keduanya yang tidak bisa di nilai oleh apapun. Ibu yang mengandung dengan susah payah dan penuh penderitaan. Ibu yang melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat dan membesarkan. Bapak yang membanting tulang mencari nafkah untuk ibu dan anak-anaknya. Bapak yang menjadi pelindung untuk mendapatkan rasa aman. Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala berwasiat kepada kita untuk berterima kasih kepada ibu bapak sesudah bersyukur kepada-Nya.

3. Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil.

4. Mendoakan ibu bapak semoga diberikan keampunan, rahmat dan lain sebagainya oleh Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala.

5. Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, tidak hanya dilakukan ketika mereka masih hidup, tetapi juga dilakukan ketika mereka sudah meninggal dunia. Setelah orang tua meninggal dunia, birrul walidain masih bisa diteruskan dengan cara antara lain :

a. Menyelenggarakan jenazahnya dengan sebaik-baiknya b. Melunasi hutang-hutangnya

c. Melaksanakan wasiatnya

d. Meneruskan silaturrahim yang dibinanya di waktu hidup e. Memuliakan sahabat-sahabatnya

f. Mendoakannya

(8)

13

1. Tidak mengucapkan perkataan “ah” kepada keduanya

2. Tidak boleh membentak atau memarahi orang tua

3. Mengucapkan kata-kata yang mengangkat kemuliaan dan kehormatan orang tua

4. Merendah diri di hadapan orang tua

Menurut (Ritonga, 2005 : 51) dalam bukunya, seperti disebut sebelumnya, orang tua tetap sebagai orang tua meskipun mereka sudah wafat. Oleh karena itu kewajiban mereka terhadap orang tua berlanjut sampai mereka wafat. Kewajiban tersebut di antaranya :

1. Mendo‟akan mereka yang sudah wafat

2. Meminta kepada Allah ampunan untuk mereka 3. Mengingat dan melaksanakan nasehat-nasehatnya

4. Menjalin persahabatan dengan sahabat mereka ketika hidup 5. Menziarahi kubur mereka

Menurut (Mahalli, 2003 : 46) dalam bukunya, bahwa bentuk pengabdian kepada orang tua dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Memandang dengan rasa kasih. Memandang kepada kedua orang tua

dengan perasaan penuh kasih termasuk dalam kategori ibadah berbakti

kepadanya. Imam Rafi‟i dalam kitab Tarikh Qazwain mengetengahkan

(9)

14

akan dianugerahi pahala oleh Allah sama dengan pahala orang yang melaksanakan ibadah haji mabrur.

2. Bersikap lemah lembut. Setiap anak hendaknya bersikap lemah lembut terhadap orang tua.

3. Meminta Izin. Apabila hendak masuk ke dalam kamar orang tua, lebih dahulu harus meminta izin kepadanya.

4. Apabila orang tua sudah meninggal, birrul walidain dapat diteruskan dengan cara :

a. Berziarah kubur

b. Menyambung tali persaudaraan c. Meminta izin

Menurut (As-Samarqandi, 1993 : 200) dalam kitabnya, mengemukakan bahwa kedua orang tua mempunyai 10 hak dari anaknya, yaitu :

1. Apabila orang tua membutuhkan makanan, maka anaknya harus memberikan makanan kepadanya

2. Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anaknya harus memberikan pakaian kepadanya apabila anaknya mampu untuk memberikannya

3. Apabila orang tua membutuhkan pelayanan, maka anaknya harus melayaninya

(10)

15

5. Apabila orang tua memerintahkan sesuatu, maka anak harus mematuhinya selama tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat dan menggunjing

6. Anak harus berbicara dengan sopan dan lemah lembut, tidak boleh berbicara kasar kepada orang tuanya

7. Anak tidak boleh memanggil nama orang tuanya 8. Anak harus berjalan dibelakang orang tuanya

9. Anak harus membuat kesenangan kepada orang tuanya sebagaimana ia membuat kesenangan kepada dirinya sendiri dan menjauhkan segala apa yang dibenci orang tuanya, sebagaimana ia menjauhkan diri dari apa yang di benci oleh dirinya sendiri

10. Anak harus memohonkan ampun kepada Allah selama ia berdoa untuk dirinya sendiri.

Menurut (Jawas, 2003 : 33) bentuk-bentuk berbakti kepada kedua orang tua adalah sebagai berikut :

1. Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik

2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut 3. Tawadhu (rendah diri)

4. Memberikan infaq (shodaqah) kepada kedua orang tua

5. Mendo‟akan orang tua

(11)

16

1. Menaati segala perintahnya, kecuali terhadap perkara maksiat 2. Bersikap baik terhadap kedua orang tua

3. Berbuat baik dan wajar serta tidak berlebihan 4. Memberikan sesuatu dengan tidak menyakitkan 5. Tidak mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan 6. Menjaga nama baik dan kemuliaannya

7. Jangan memutus pembicaraan atau bersuara lebih keras daripada suara orang tua

8. Jangan pernah berbohong terhadap mereka 9. Tidak meremehkan mereka

10. Berterima kasih atau bersyukur terhadap keduanya 11. Memberi nafkah

12. Selalu mendo‟akan keduanya

13. Melupakan kesalahan dan kelalaiannya

14. Tidak masuk ke tempat atau kamar mereka sebelum mendapat izin 15. Senantiasa mengunjunginya.

Menurut (Nada, 2009 : 7) bentuk-bentuk birrul walidain ada 10 di antaranya :

1. Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah

2. Berbakti dan merendahkan diri dihadapan kedua orang tua 3. Berbicara dengan lembut dihadapan kedua orang tua 4. Menyediakan makanan untuk mereka

(12)

17

6. Memberikan harta kepada kedua orang tua menurut jumlah yang mereka inginkan

7. Membuat keduanya ridha dengan berbuat baik terhadap orang-orang yang di cintai mereka

8. Memenuhi sumpah kedua orang tua

9. Tidak mencela orang tua atau tidak menyebabkan mereka di cela orang lain

10. Mendahulukan berbakti kepada ibu daripada ayah

D. Keutamaan Birrul Walidain

Menurut (Mahalli, 2003 : 32) dalam bukunya di sebutkan bahwa keutamaan berbakti kepada kedua orang tua di antaranya :

1. Berbakti kepada kedua orang tua termasuk dalam kategori amal yang paling utama serta sangat di cintai oleh Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala

Pernah saya bertanya kepada Rasulullah, “amal apakah yang paling utama” jawab Rasul, “shalat tepat pada waktunya”. Saya berkata

“kemudian apa lagi?” “berbuat baik kepada orang tua”. Saya berkata,

“kemudian apa lagi?” jawab Rasul “Berjihad di jalan Allah”.

(13)

18

2. Sebagai penebus dosa 3. Keberkatan hidup

Keutamaan birrul walidain dalam

(http://www.cdislamAdabdanAkhlakterhadaporangtua.com, yang diakses pada tanggal 06 Juli 2017 pada pukul 10.20) di antaranya sebagai berikut : 1. Termasuk amalan paling mulia

2. Merupakan sebab-sebab di ampuninya dosa 3. Termasuk sebab masuknya orang ke surga 4. Merupakan sebab keridhaan Allah

5. Merupakan sebab bertambahnya umur 6. Merupakan sebab barokahnya rezeki

Menurut (Nada, 2009 : 5) keutamaan birrul walidain adalah sebagai berikut : 1. Merupakan amalan yang paling mulia

2. Sebab-sebab di ampuninya dosa

Dosa-dosa yang Allah segerakan azabnya di dunia di antaranya adalah berbuat dzalim dan durhaka terhadap kedua orang tua. Dengan demikian apabila seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka. Karena berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan jalan menuju surga dan durhaka kepada kedua orang tua tidak akan menyebabkan anak masuk surga. 3. Sebab masuknya seseorang ke surga

4. Sebab keridhaan Allah

(14)

19

6. Sebab barokahnya rezeki

Menurut (Jawas, 2003 : 17) keutamaan berbakti kepada kedua orang tua di antaranya :

1. Berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama

2. Ridha Allah tergantung pada keridhaan orang tua, murka Allah tergantung kemurkaan orang tua

3. Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang di alami

4. Berbakti kepada orang tua akan diluaskan rezeki dan di panjangkan umur Nabi bersabda bahwa : “Barang siapa ingin di luaskan rezekinya

dan di panjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahminya. (H.R. Muslim) silaturahmi disini termasuk silaturahmi terhadap kedua orang tua.

5. Manfaat berbakti kepada kedua orang tua akan di masukkan ke surga oleh Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala

E. Ayat, Terjemah dan Pendapat Mufassir

1. Q.S. Al-Baqarah ayat 215

(15)

20

miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan" dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.

Menurut (Sayyid Quthb, 1992 : 262) ungkapan ini mengandung dua isyarat. Pertama, yang diinfakkan itu adalah yang baik, baik bagi yang memberi, baik bagi yang menerima, baik bagi jama‟ah dan barangnya juga baik. Maka ia adalah perbuatan yang bagus, pemberian yang bagus dan sesuatu yang bagus. Kedua, orang yang berinfak hendaklah memilihkan sesuatu yang lebih utama dan lebih baik dari apa yang di milikinya, sehingga dapat dirasakan bersama-sama orang lain, karena infak adalah membersihkan hati dan menyucikan jiwa, serta memberikan kemanfaatan dan pertolongan kepada orang lain. Adapun jalan dan sasaran infak setelah disebutkan sesudah menetapkan jenisnya. Untuk ibu bapak, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Ia menghubungkan berbagai golongan manusia. Sebagian di hubungkan pemberi infak dengan hubungan keturunan, sebagian dalam hubungan kekeluargaan, sebagian dalam hubungan kasih sayang, dan sebagian lagi dalam hubungan kemanusiaan terbesar dalam bingkai akidah. Allah mengetahui bahwa manusia itu cinta, bahkan orang yang pertama di cintainya adalah anggota-anggota keluarga dekatnya, kedua orang tuanya dan anak istrinya. Maka di bawalah melangkah dalam infak sesudah dirinya kepada orang-orang yang dicintainya agar ia memberikan sebagian hartanya kepada mereka dengan suka hati, sehingga sukalah kecenderungan fitrahnya, dalam hal ini terdapat hikmah dan kebaikan. Memberi kepada orang yang lebih dekat hubungannya itu lebih mulia nilainya daripada memberi orang yang lebih jauh hubungan kekeluargaannya. Pada waktu yang sama berarti ia menebarkan cinta dan kesejahteraan di tempat pengasuhan yang pertama dan memperkokoh hubungan kekeluargaan yang Allah kehendaki menjadi batu pertama dalam membangun bangunan kemanusiaan yang besar.

2. Q.S. An-Nisā' ayat 36

(16)

21

orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua....(Q.S. An-Nisā' ayat 36).

a. Menurut (Hamka, 1983 : 61) Dan sembahlah olehmu akan Allah. Hendaklah tegakkan ibadat, hendaklah manusia sadar selalu bahwa manusia adalah „abdun, yaitu hamba dari Allah dan Dia (Allah) adalah ma‟budmu, yaitu tempat menghadapkan sembah. Kalau hal ini telah disadari, kelak dengan sendirinya segala gerak-gerik kehidupan kita telah jelas tujuannya, yaitu mencapai ridha Allah

Subhaanahu Wa Ta‟ala.Dan jangan kamu persekutukan dengan Dia

sesuatu juapun, artinya jangan musyrik. Jangan memandang ada sesuatu yang lain dari Allah mempunyai pula sifat-sifat ketuhanan, menolong melepaskan dari kesulitan dan membawa kemanfaatan, lalu yang lain itu disembah dan dibesarkan pula. Padahal tidak sesuatupun selain Allah yang memberi manfaat atau mendatangkan mudharat. Dan dengan kedua ibu-bapak hendaklah berlaku baik. Berlaku hormat dan khidmat, cinta dan kasih, inilah yang kedua sesudah taat kepada Allah. Sebab dengan perantara kedua beliaulah Tuhan Allah telah memberimu nikmat yang besar, yaitu sempat hidup di dalam dunia ini. Dengan adanya ibu-bapak engkau merasakan bahwa engkau mempunyai urat tunggang dalam kehidupan ini.

(17)

22

kedua ibu bapak persembahkanlah kebajikan yang sempurrna. Istilah yang digunakan untuk menunjuk kedua orang tua adalah al-wālidain. Kata ini adalah bentuk dual dari kata wālid yang biasa

diterjemahkan “bapak/ayah”. Kata wālid digunakan secara khusus

kepada bapak/ayah kandung, demikian pula makna wālidat untuk ibu kandung. Ayat ini lebih menekankan kebaktian pada penghormatan dan pengagungan pribadi kedua orang tua. Betapapun berbeda namun pada akhirnya harus dipahami bahwa bakti kepada kedua orang tua yang diperintahkan oleh agama Islam, adalah bersikap sopan santun kepada keduanya dalam ucapan maupun perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai dengan kemampuan kita (sebagai anak).

3. Q.S. Al-An’am ayat 151

Katakanlah : “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.

Katakanlah : “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada ibu bapak... (Q.S. Al-An‟am ayat 151) a. Menurut (Hamka, 2000 : 101-102), setelah tegak pokok kepercayaan

(18)

23

dan menghormati kedua ibu-bapak. Jangan mengecewakan hati mereka, jangan mendurhaka kepada keduanya. Karena kalau sudah mendurhaka, nyatalah kamu menjadi seorang yang rendah budi, rusak akhlak, tidak membalas guna. Sehingga berkata “uffin” saja, yang berarti “cis” atau “akh” lagi terlarang dan haram, apalagi perbuatan-perbuatan lain yang mengecewakan hati keduanya. Bahwasaannya Allah telah menjelaskan kepada manusia tentang apa-apa yang telah diharamkan atas kamu, untuk dijadikan pedoman di dunia, yaitu: Pertama, jangan kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Hal ini merupakan pokok yang pertama yang diperingatkan Allah dan jangan menyamakan Allah dengan derajat yang lain. Karena semua itu makhluk belaka bukan Khaliq. Berhubungan dengan kepercayaan ini, maka segala bentuk pemujaan dan persembahanpun tidak boleh dipersatukan yang lain dengan Dia. Oleh sebab itu haram mempersekutukan dan wajib mentauhidkan. Kedua, kewajiban berbakti, berbuat baik, menghormati dan menghargai kedua orang tua, jangan mengecewakan hati mereka, jangan mendurhakai kepada keduanya. Karena kalau mendurhakai kedua orang tuanya termasuk seorang anak yang rendah budi.

(19)

24

dipilih. Awal ayat ini menjanjikan untuk menyampaikan apa yang diharamkan oleh Allah, tetapi ketika berbicara tentang kedua orang tua, redaksi yang digunakannya adalah redaksi perintah berbakti. Tentu saja berbakti tidak termasuk yang diharamkan Allah.

4. Q.S. Ibrāhīm ayat 41

Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat). a. Menurut (Hamka, 2000 : 156-157) penutup do‟a Nabi Ibrahim ini

sangat mengharukan. Beliau, nenek para nabi dan rasul memohon ampun kepada Allah entah ada kelalaian dan kekurangan dalam memikul kewajiban selama itu, sebab dia manusia. Ampuni juga kedua orangtuanya kalau boleh, dan terutama lagi ampunilah sekalian orang yang telah menegakkan kepercayaan kepada Engkau, Ya Allah. Siapa yang tidak terharu merenungkan ini, semakin manusia berendah hati dihadapan Allah maka semakin tinggi martabat manusia dihadapan-Nya. Patutlah bagi kita umat Islam senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Shalallahu„Alaihi Wasallam, pada waktu shalat dengan menyertai juga shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.

b. Menurut (Quraish Shihab, 2004 : 72) dalam doa nabi Ibrāhīm di atas

terbaca bahwa beliau mendoakan kedua orang tuanya. Thabāthabā'i memahami doa nabi Ibrāhīm ini merupakan doa terakhir nabi

Ibrāhīm yang direkam Al-Qur‟an. Jika demikian doa beliau kepada

kedua orang tuanya menunjukkan bahwa kedua orang tuanya adalah orang-orang yang wafat dalam keadaan muslim, bukan musyrik. Ini sekaligus membuktikan bahwa Āzar bukanlah ayahnya. Ulama lain berpendapat bahwa permohonan pengampunan untuk orang tuanya ini, terjadi sebelum adanya larangan mendoakan orang tua yang musyrik.

(20)

25

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. (Depag, 2009: 458)

a. Menurut (Hamka, 1999 : 38), bahwa tujuan hidup dalam dunia ini telah dijelaskan bahwa mengakui hanya satu Tuhan itu, yaitu Allah

Subhaanahu Wa Ta‟ala. Barang siapa mempersekutukannya dengan

yang lain maka akan tercelalah dia denga terhina. Pengakuan bahwa hanya satu Tuhan, tiada bersyarikat dan bersekutu dengan yang lain, itulah yang dinamai TAUHID RUBUBIYAH. Kemudian datanglah ayat 23, bahwasannya Tuhan Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala itu sendiri yang menentukan, yang memerintah dan memutuskan bahwasannya Dialah yang mesti disembah, dipuji dan dipuja. Dan tidak boleh, dilarang keras menyembah yang selain Dia. Oleh sebab itu maka cara beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala, Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala itu sendirilah yang menentukan. Maka tidak pulalah sah ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala yang hanya dikarang-karangkan sendiri. Untuk menunjukkan peribadatan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala Yang Maha Esa itulah, Dia mengutus Rasul-rasul-Nya. Menyembah, beribadah dan memuji kepada Allah

Subhaanahu Wa Ta‟ala Yang Maha Esa itulah yang dinamai

TAUHID ULUHIYAH. Itulah pegangan pertama dalam hidup muslim. Dan tidaklah sempurna pengakuan bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala itu Esa, kalau pengakuan tidak disertai dengan ibadah yaitu pembuktian dari keimanan.

(21)

26

kewajiban yang kedua sesudah beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala. Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala melanjutkan ketentuan atau perintah-Nya tentang sikap terhadap kedua ibu bapak, Jika kiranya salah seorang mereka, atau keduanya telah tua dalam pemeliharaan engkau, maka janganlah engkau berkata uff kepada keduanya.Artinya, jika usia keduanya, atau salah seorang di antara keduanya, ibu dan bapak itu sampai meningkat tua, sehingga tidak kuasa lagi hidup sendiri, sudah sangat bergantung kepada belas kasihan puteranya, hendaklah sabar, berlapang hati memelihara orang tua itu. Bertambah tua, kadang-kadang bertambah dia seperti anak-anak dia minta dibujuk, dia minta belas kasihan anak. Mungkin ada bawaan orang yang telah tua itu yang membosankan anak, maka janganlah terlanjur dari mulutmu satu kalimatpun yang mengandung rasa bosan atau jengkel memelihara orang tuamu. Di dalam ayat ini

disebut kata UFFIN. Abu Raja‟ al-Atharidi mengatakan bahwa arti

(22)

27

keduanya memelihara aku di kala kecil. Tergambar bagaimana susah payah ibu bapak mengasuh mendidik anak di waktu anak itu masih kecil, penuh kasih sayang, yaitu kasih sayang yang tidak mengharapkan balas jasa. Di dalam surah al-ankabut ayat 8 dijelaskan lagi oleh Tuhan betapa susah ibu, “lemah di atas lemah”, artinya kelemahan yang timpa bertimpa, sejak masih mengandung sampai menyusukan dan sampai mengasuh sampai dewasa. Sari tulang belulangnya yang ia bagikan untuk menyuburkan badan anaknya yang masih lemah itu.

b. Menurut (Quraish Shihab, 2004 : 443)Dan Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu, telah menetapkan dan memerintahkan supaya kamu yakni engkau wahai Nabi Muhammad

Shallallaahu „Alaihi Wasallam dan seluruh manusia jangan

menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbakti kepada kedua orang tua yakni ibu bapak kamu dengan kebaktian sempurna. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya mencapai ketuaan yakni berumur lanjut atau dalam keadaan lemah sehingga mereka terpaksa berada di sisimu yakni dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” atau suara dan kata yang mengandung makna kemarahan atau pelecehan atau kejemuan, walau sebanyak dan sebesar apapun pengabdian dan pemeliharaanmu kepadanya dan janganlah engkau membentak keduanya menyangkut apapun yang mereka lakukan, apalagi melakukan yang lebih buruk dari membentak dan ucapkanlah kepada keduanya sebagai ganti membentak bahkan dalam setiap percakapan dengannya perkataan yang mulia yakni perkataan yang baik, lembut dan penuh kebaikan serta penghormatan.

Ayat ini dimulai dengan menegaskan ketetapan yang merupakan perintah Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala untuk mengesakan Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala dalam beribadah, mengikhlaskan diri dan tidak mempersekutukan-Nya, sedang QS.

Al-An‟ām [6]:151 dimulai dengan ajakan kepada kaum musyrikin

untuk mendengarkan apa yang diharamkan Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala yang antara lain adalah keharaman mempersekutukan-Nya. Ini karena ayat Al-Isrā' di atas ditujukan kepada kaum muslimin, sehingga kata

(

)

qadhā/menetapkan lebih tepat untuk dipilih, berbeda halnya dengan ayat al-An‟ām itu yang ditujukan kepada kaum musyrikin. Dengan demikian tentu saja lebih tepat bagi mereka menyampaikan apa yang dilarang Allah Subhaanahu Wa

Ta‟ala, yakni mempersekutukan-Nya. Keyakinan akan keesaan

(23)

kepada-28

Ketika menafsirkan QS. An-Nisā' [4]: 36, penulis telah merinci kandungan makna ( )ihsānā. Al-Qur‟an menggunakan kata ihsānā untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua perbuatan baik, karena itu kata ihsān lebih luas dari sekedar memberi nikmat atau nafkah. Maknanya yakni lebih tinggi dan dalam daripada kandungan makna adil, karena adil adalah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya kepada anda, sedang ihsān, memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap anda. Adil adalah mengambil semua hak anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsān adalah memberi lebih banyak daripada yang harus anda beri dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya anda ambil. Karena itu pula, Rasul Shallallaahu „Alaihi Wasallam berpesan kepada seseorang: “Engkau dan hartamu adalah untuk/milik ayahmu” (HR.Abū Dāūd).

Kata

(

)

karīman biasa diterjemahkan mulia. Kata ini terdiri dari huruf-huruf kāf, rā dan mīm yang menurut pakar-pakar bahasa mengandung makna yang mulia atau terbaik sesuai objeknya. Bila kata karīm dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, maka ia bermakna pemaafan.Danrendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua didorong oleh karena rahmat kasih sayang kepada keduanya, bukan karena takut atau malu dicela orang bila tidak menghormatinya dan ucapkanlah yakni berdoalah secara tulus:

“Wahai Tuhanku, Yang memelihara dan mendidik aku antara lain

dengan menanamkan kasih kepada ibu bapakku, kasihilah mereka keduanya disebabkan karenaatau sebagaimana mereka berdua telah melimpahkan kasih kepadaku antara lain dengan mendidikku waktu kecil. Doa kepada ibu bapak yang diperintahkan disini menggunakan alasan bahwa dipahami oleh sementara ulama dalam arti disebabkan karenamereka telah mendidikku waktu kecil. Jika anda berkata sebagaimana, maka rahmat yang dimohonkan adalah yang kualitas dan kuantitasnya sama dari apa yang anda peroleh dari keduanya. Apabila dikatakan disebabkan karena, maka limpahan rahmat yang dimohonkan diserahkan atas kemurahan Allah dan ini dapat melimpah jauh lebih banyak dan besar daripada apa yang mereka limpahkan kepada anda. Ulama menegaskan bahwa doa kepada kedua orang tua yang dianjurkan disini adalah bagi yang muslim, baik masih hidup ataupun telah wafat, sedangkan bila ayah atau ibu yang tidak beragama Islam telah wafat, maka terlarang bagi anak untuk mendoakannya.

(24)

29

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

a. Menurut (Hamka, 1999 : 152), kami wasiatkan kepada manusia supaya kepada kedua orang tuanya bersikap baik. Kalau dari Tuhan datang washiyat, artinya ialah perintah. Tuhan mewajibkan dan memerintahkan kepada manusia supaya kepada ayah-bunda hendaklah bersikap yang baik. Karena kedua orang tua itulah asal-usul kejadian manusia. Dengan perantara keduanyalah Allah menghadirkan tiap-tiap manusia ke muka bumi ini. Ayah mencarikan segala perlengkapan hidup, ibu mengasuh dan menjaga di rumah. Di dalam ayat 23 dari surat ke 17, Al-Isrā' dengan tegas Tuhan menjelaskan bahwa sesudah menyembah kepada Allah Tuhan Yang Esa, tidak bersekutu yang lain dengan Dia, hendaklah manusia bersikap baik kepada kedua orang ayah-bundanya. Dan jika keduanya berkeras mengajak engkau mempersekutukan dengan Daku sesuatu tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau turuti keduanya. Sebagai orang yang telah beriman kepada Allah, seorang mu‟min tidak mengenal lagi ada Tuhan selain Allah. Kalau diajak menyembah pula Tuhan yang lain, orang mu‟min tidak dapat mengikutinya. Sebab Tuhan yang lain tidak ada dalam aqidah kita. Bagaimana kerasnya kehendak ayah atau ibu, mengajak supaya menyembah Tuhan yang lain itu, mu‟min tidak boleh menuruti. Ayah dan bunda wajib dihormati, tetapi mereka tidak boleh dipatuhi dalam hal yang mengenai aqidah. Jika bertemu hak Allah dengan hak kedua orang tua, yang tidak dapat diperdamaikan lagi, hak Allah lah yang didahulukan. KepadaKulah akan kembali kamu. Demikian sabda Tuhan selanjutnya Maka akan Aku beritakan kepada kamu dari hal apa yang telah kamu kerjakan. Dihadapan hadhirat Allah itulah kelak dipisahkan diantara Iman dan kufur sejelas-jelasnya. Meskipun ayah kandung dan ibu kandung, kalau mereka tidak mempercayai keEsaan Tuhan, beliau akan dikandangkan ditempat orang musyrikin, jauh terpisah dari anaknya yang telah beriman. b. Menurut (Quraish Shihab, 2002 : 446), Kami telah menetapkan

(25)

30

salah satunya, lebih-lebih kalau orang lain, bersungguh-sungguh memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, apalagi setelah Aku dan para rasul menjelaskan kebatilan mempersekutukan Allah dan setelah engkau mematuhi keduanya karena tidak boleh mematuhi satu makhluk dalam kedurhakaan kepada Allah. Hanya kepadaKu lah kembai kamu semua, baik mukmin maupun musyrik, lalu aku kabarkan pengabaran yang rinci dan jelas lagi yang sifatnya amat penting kepada kamu, yaitu dengan memberi balasan adil dan setimpal terhadap apa yang kamu telahkerjakan.

7. Q.S. Lukman ayat 14-15

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(26)

31

bertambah bulan dan sampai di puncak kepayahan di waktu anak dilahirkan. Lemah sekujur badan ketika menghajan anak keluar. Dan memeliharanya dalam masa dua tahun. Yaitu sejak melahirkan lalu mengasuh, menyusukan, memomong, menjaga, memelihara sakit senangnya sejak dia masih terlentang tidur, sampai beransur pandai menangkup, sampai beransur beringsut, sampai beransur merangkak, sampai bergantung beransur berjalan, bersiansur, tegak dan jatuh dan tegak sampai tidak jatuh lagi. Dalam masa dua tahun. Bersyukurlah kamu kepada Allah dan kepada kedua orang tuamu. Syukur pertama ialah kepada Allah. Karena semuanya itu, sejak mengandung sampai mengasuh dan sampai mendidik dengan tidak ada rasa bosan, dipenuhi rasa cinta dan kasih, adalah berkat Rahmat Allah belaka. Setelah itu bersyukurlah kepada kedua orang tuamu. Ibu yang mengasuh dan ayah yang membela dan melindungi ibu dan melindungi anak-anaknya. Ayah yang berusaha mencari sandang dan pangan setiap hari.KepadaKu lah tempat kembali. Lambat atau cepat ibu bapak akan dipanggil oleh Tuhan, dan anak yang ditinggalkan akan bertugas pula mendirikan rumah tangga, mencari teman hidup dan beranak bercucu, untuk semuanya akhirnya pulang juga kepada Tuhan. Dan jika keduanya mendesak engkau bahwa hendak mempersekutukan Daku dalam hal yang tidak ada ilmu engkau padanya. Ilmu yang sejati niscaya diyakini oleh manusia. Manusia yang telah berilmu amat payah buat digeserkan oleh sesamanya manusia kepada sesuatu pendirian yang tidak berdasar ilmiah. Bahwa Allah itu adalah Esa, adalah puncak dari segala ilmu dan hikmat. Satu waktu seorang anak yang setia kepada kedua orang tuanya akan di desak, dikerasi, kadang-kadang dipaksa oleh orang tuanya buat mengubah pendirian yang telah diyakini. Dalam ayat ini Tuhan memberikan pedoman : Janganlah engkau ikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya dalam dunia ini dengan sepatutnya. Artinya bahwa keduanya selalu dihormati, dicintai dengan

sepatutnya, dengan yang ma‟ruf. Jangan mereka dicaci dan dihina,

melainkan tunjukkan saja dalam hal aqidah memang berbeda aqidah engkau dengan aqidah beliau. Kalau mereka sudah tua asuh jugalah mereka dengan baik. Tunjukkan bahwa seorang muslim adalah seorang budiman tulen!. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Aku. Yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang beriman. Karena itulah jalan orang yang selamat yang tidak berbahaya.Kemudian itu kepada Akulah kamu sekalian akan pulang. Karena datangnya kita ini adalah dari Allah dan kelaknya akan pulang kepada-Nya jua. Maka akan ku beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Allah lah kelak yang akan menilai buruk baiknya apa yang akan kamu amalkan selama dalam dunia ini. b. Menurut (Quraish Shihab, 2003 : 129) Dan Kami wasiatkan, yakni

(27)

32

kedua orang ibu-bapaknya. Pesan kami disebabkan karena Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan kelemahan di atas kelemahan, yakni kelemahan berganda dan dari saat ke saat bertambah-tambah. Lalu dia melahirkannya dengan susah payah, kemudian memelihara dan menyusukannya setiap saat, bahkan ditengah malam saat manusia lain tertidur nyenyak. Demikian hingga tiba masa menyapihkannya dan penyapiannya di dalam dua tahun terhitung sejak hari kelahiran sang anak. Ini jika orang tuanya ingin penyempurnaan penyusuan. Wasiat kami itu adalah : Bersyukurlah kepada-Ku! karena aku yang menciptakan kamu dan menyediakan semua sarana kebahagiaan kamu. Dan bersyukur pulalah kepada kedua orang ibu bapak kamu, karena mereka lah Aku jadikan perantara kehadiran kamu di pentas bumi ini. Kesyukuran ini mutlak dilakukan, karena hanya kepada-Ku lah, tidak kepada selain Aku, kembali kamu semua. Ayat di atas tidak menyebut jasa bapak, tetapi menekankan kepada jasa ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan ibu, berbeda dengan bapak. Dan jika keduanya,apalagi kalau hanya salah satunya lebih-lebih kalau orang lain bersungguh-sungguh memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, apalagi setelah Aku dan rasul-rasul menjelaskan kebatilan mempersekutukan Allah, dan setelah engkau mengetahui bila menggunakan nalarmu, makajanganlah engkau mematuhi keduanya. Namun demikian jangan memutuskan hubungan dengannya atau tidak menghormatinya. Tetapi tetaplah berbakti kepada keduanya selama tidak bertentangan dengan ajaran agamamu.Dan pergaulilah keduanya di dunia, yakni selama mereka hidup dan dalam urusan keduniaan bukan aqidah, dengan cara pergaulan yang baik, tetapi jangan sampai hal ini megorbankan prinsip agamamu. dan ikutilah jalan orang yang selalu kembali kepada-Ku dalam segala urusanmukarena semua urusan dunia kembali kepada-Ku,kemudian hanya kepada-Ku lah juga di akhiat nanti bukan kepada selain-Ku, kembali kamu semua, maka Ku beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan dari kebaikan dan keburukan, lalu masing-masing Ku beri balasan dan ganjaran.

(28)

33

Dan kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung dan menyapihnya selama tiga puluh bulan , sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim. a. Menurut Hamka, Kami (Allah) telah memerintahkan kepada

manusia supaya berbuat ihsan kepada orang tua, dan berbakti kepada keduanya, baik ketika ibu bapak masih hidup atau sesudah berpulang ke rahmatullah. Inilah suatu perintah utama kepada manusia, sesudahperintah untuk percaya kepada Allah sebagai dasar kehidupan, dengan percaya kepada Allah. Kalau manusia hendak menegakkan budi baik dalam dunia ini, maka perintah kedua sesudah perintah berbakti kepada Allah ialah perintah menghormati kedua orang tua, sebab pertalian darah,keturunan, terutama kedua orang tua. Dengan jelas dan ditegaskan lagi, bahwasannya seorang anak harus berbuat kebajikan kepada kedua orang tua, mereka diperintahkan oleh Allah kepada manusia, bahwa susahnya ketika ibu mengandung dan susahnya melahirkan. Seorang ibu menderita karena mengandungkarena melahirkan, namun kesusahan tersebut menambah erat cinta dan kasih sayangnya orang tua (ibu dan bapak). Oleh sebab itu banyak sekali perintah dan wasiat dari Allah agar manusia menghormati, dengan berbuat kebajikan,berkhidmat kepada kedua orang tua.

(29)

34

mereka. dan Kami telah mewasiatkan yakni memerintahkan dan berpesan kepada manusia itu juga dengan wasiat yang baik yaitu agar berbuat baik dan berbakti terhadap kedua orang tuanya siapapun dan apapun agama kepercayaan atau sikap dan kelakuan orang tuanya. Ini antara lain karena ayahnya terlibat dalam kejadiannya dan setelah sang ayah mencampakkan sperma ke dalam rahim ibunya, sang ibu mengandungnya dengan susah payah, sambil mengalami aneka kesulitan bermula dari mengidam, dengan aneka gangguan fisik dan psikis, dan melahirkannya dengan susah payah setelah berlalu masa kehamilan. Masa kandungan dalam perut ibu dan penyapihannya yang paling sempurna adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia, yakni sang anak telah dewasa yakni sempurna awal masa bagi kekuatan fisik dan psikisnya, ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan kebaktiannya berlanjut sampai ia mencapai usia empat puluh tahun yakni masa kesempurnaan kedewasaannya, dan sejak itu ia berdoa memohon agar pengabdiannya kepada kedua orang tuanya semakin bertambah. Ia bermohon : Tuhanku yang selama ini selalu berbuat baik kepadaku, anugerahilah aku kemampuan serta dorongan yang selalu menghiasi jiwaku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan yang benar-benar telah ku nikmati dan juga nikmat yang Engkau anugerahkan kepada ibu bapakku sehingga mereka berhasil memelihara dan mendidikku dan aku bermohon juga kiranya aku secara khusus dapat selalu melakukan amal yang shaleh yakni yang baik dan bermanfaat lagi yang Engkau ridhai, berilah kebaikan untukku pada anak cucuku, yakni jadikanlah kebaikan tertampung secara mantap dan bersinambungan pada anak cucuku, kebaikan yang ku peroleh pula manfaatnya. Sesungguhnya pada masa-masa yang lalu banyak kesalahan yang ku lakukan, maka kini aku menyesal dan bertekad tidak mengulanginya serta bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Mu secara lahir dan batin.

9. Q.S. Nuh ayat 28

(30)

35

beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran. a. Menurut Hamka, Ya Tuhanku! Ampunilah untukku.Karena

engkaulah yang tau dan aku tidak tahu, mungkin asal juga kealpaanku dalam tugasku yang amat berat ini dan ampuni juga dan kedua ayah bundaku yang telah mengandung aku, mengasuhku, dan memelihara sampai aku dewasa dan sampai akhirnya aku menerima tugas Engkau ini. Dan untuk orang-orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman. Beliau khususkan orang-orang yang masuk ke dalam rumah beliau dengan beriman, ialah karena di kala hidupnya ada juga yang masuk ke rumahnya, tetapi tidak dengan iman, hanya dengan benci. Dan bagi orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, bila saja, di mana saja untuk masa-masa yang akan datang, hingga termasuklah kita anak cucu beliau yang datang beribu tahun pun setelah beliau kembali ke hadirat Allah, dan janganlah Engkau tambahkan untuk orang-orang yang aniaya itu selain kebinasaan.

b. Menurut Quraish Shihab, karena konteksnya adalah permohonan ampun, maka beliau memulai dengan diri beliau sendiri guna menunjukkan bahwa diri beliau pun tidak dapat luput dari kekurangan. Beliau berdoa menyatakan : Tuhanku! ampunilah aku dan kedua ibu bapakkuatau kedua anakku yang beriman, serta orang yang masuk ke rumahku dalam keadaan mukmin karena tiada tamu yang masuk ke rumah kecuali membawa rezeki dan yang keluar membawa pengampunan bagi tuan rumah dan ampuni juga orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan dan janganlah Engkau tambahkan kepada mereka kecuali kebahagiaan,dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim yang telah mendarah daging kezalimannya selain kebinasaan. Kata

yakni dengan huruf ya yang pertama setelah huruf dal merupakan bentuk dual dari kata walid/ayah yang dimaksud adalah ayah dan ibu. Ada juga yang membacanya tanpa huruf alif setelah huruf wawu. Ini merupakan bentuk dual dari kata walad/anak. Yang dimaksud adalah kedua anak beliau yang beriman yang konon bernama Sam dan Ham. Awal surah ini menampilkan nasihat dan tuntunan Nabi Nuh kepada kaumnya agar mereka beriman, sehingga Allah tidak menjatuhkan siksa atas mereka.

(31)

36

Dalam penelitian ini akan dikemukakan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan tema penelitian ini yaitu :

1. Skripsi yang berjudul “Birrul Walidain Menurut Muhammad Ali Al -Sabuni (Studi terhadap kitab tafsir Rawai Al-Bayan). Skripsi ini disusun oleh saudari Sobiroh Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2009. Skripsi ini menjelaskan konsep birrul walidain dalam agama Islam. Namun dalam skripsi ini saudari Sobiroh lebih terfokus pada penafsiran Ali Al-Sabuni terhadap Q.S. Luqman ayat 14-15 dan tidak menjelaskan ayat lain yang berhubungan dengan birrul walidain. Skripsi tersebut memiliki persamaan dengan skripsi yang dikaji oleh penulis yaitu terletak pada kajian suratnya, surat Luqman ayat 14-15, namun skripsi yang dikaji oleh penulis juga memiliki perbedaan dengan skripsi yang ditulis oleh saudari Sobiroh yaitu penulis mengkaji ayat-ayat tentang birrul walidainyang terdapat dalam Al-Qur‟an dan dengan menggunakan tafsir Fi Zhilalil

Qur‟an, tafsir Al-Azhar dan tafsir Al-Misbah.

2. Skripsi yang berjudul “Akhlak Anak Terhadap Kedua Orang Tua Menurut Al-Ghazali Dalam Kitab Bidayat Al-Hidayah Dan Implikasinya

Dalam Pembentukan Kepribadian Muslim”. Fakultas Tarbiyah IAIN

(32)

37

berdiri ketika keduanya berdiri, mematuhi perintah keduanya, tidak berjalan dihadapan keduanya, tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, memenuhi panggilan keduanya, berusaha mendapatkan ridha keduanya, tidak mengungkit-ungkit jasa atau kebaikan yang telah diberikan kepada orang tua, tidak melirik orang tua dengan marah, tidak mengerutkan dahi dihadapan keduanya, tidak berpergian kecuali dengan izin keduanya. Skripsi saudari Dina menggunakan metode content analysis, interpretasi data dan metode analisis deskriptif, sedangkan skripsi yang penulis kaji hanya menggunakan metode content analysis. 3. Skripsi yang berjudul “Konsep Pendidikan Karakter dalam Q.S. Al-Isrā'

(33)

38

skripsi yang dikaji penulis hanya membahas Q.S. Al-Isrā' ayat 23-24 dan ayat birrul walidain lainnya yang terdapat dalam Al-Qur‟an.

4. Jurnal “Konsep Pendidikan Keluarga Dalam Al-Qur‟an (Analisis metode tafsir tahlili mengenai pendidikan keluarga dalam Q.S. Luqman ayat 12-19”. Jurnal Tarbawi Vol 1 No. 2 Juni 2012 ditulis oleh Suci Husniani.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa prinsip-prinsip pendidikan dalam keluarga yang ditanamkan oleh Luqman terhadap anaknya antara lain prinsip ketauhidan, prinsip ketakwaan, prinsip kasih sayang, prinsip keseimbangan, prinsip keteladanan dan prinsip kontekstual. Metode pendidikan keluarga disampaikan dengan metode mauizah, metode ibrah, metode hiwar, metode keteladanan yang baik dan metode amsal. Materi pendidikan keluarga yang diajarkan kepada anak meliputi pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, pendidikan muamalah, dan pendidikan akhlak. Jurnal yang ditulis oleh saudari Suci memiliki persamaan yaitu sama-sama mengkaji Q.S. Luqman, namun disamping itu jurnal tersebut juga memiliki perbedaan dengan skripsi yang dikaji oleh penulis, perbedaannya terdapat pada analisis data, dan jurnal saudari Suci menggunakan teknik analisis data tafsir tahlili sementara penulis menggunakan metode content analysis.

Figure

Updating...

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in