• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS HUKUM PERKAWINAN PERSPEKTIF IMAM AL-SHAFI’I DALAM KITAB AL-UMM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "STATUS HUKUM PERKAWINAN PERSPEKTIF IMAM AL-SHAFI’I DALAM KITAB AL-UMM"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM KITAB

AL-UMM

TESIS

Oleh:

ANI SAUL MUTHOHAROH NIM 212315009

PROGRAM STUDI AH{WA<L SYAKHS{IYYAH

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

(2)
(3)

DALAM KITAB AL-UMM

TESIS

Diajukan pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo untuk Memenuhi Tugas Akhir dalam Penyelesaian

Program Magister Ahwal Syakhsiyyah

Oleh:

ANI SAUL MUTHOHAROH NIM 212315009

PROGRAM STUDI AH{WA<L SYAKHS{IYYAH

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

(4)

ii

Terakreditasi B sesuai SK BAN-PT Nomor : 2619/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PT/XI/2016 Alamat: Jl. Pramuka 156 Ponorogo 63471 Telp. (0352) 481277 Fax. (0352) 461893

Website: www.iainponorogo.ac.id Email: [email protected]

Kepada Yth.

Direktur Pascasarjana

Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Di

Ponorogo

NOTA PERSETUJUAN Assalamu‟alaikum Wr. Wb.

Setelah membaca, meneliti, membimbing dan melakukan perbaikan seperlunya, maka tesis saudara:

Nama : Ani Saul Muthohharoh NIM : 212315009

Judul : Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam Al-Shafi’i

dalam Kitab Al-Umm

Telah saya setujui dan dapat diajukan untuk memenuhi tugas akhir dalam menempuh Program Pascasarjana pada Program Studi Ahwal Syakhsiyyah IAIN Ponorogo.

Dengan ini saya ajukan tesis tersebut pada sidang tesis yang diselenggarakan oleh tim penguji yang ditetapkan oleh Direktur Pascasarjana.

Wa‟alaikum salam Wr. Wb.

Ponorogo, 3 Juli 2017 Pembimbing

(5)

iii

Terakreditasi B sesuai SK BAN-PT Nomor : 2619/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PT/XI/2016 Alamat: Jl. Pramuka 156 Ponorogo 63471 Telp. (0352) 481277 Fax. (0352) 461893

Website: www.iainponorogo.ac.id Email: [email protected]

PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TESIS

Tesisi yang berjudul: “Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam Al-Shafi’i dalam Kitab Al-Umm” yang ditulis oleh Ani Saul Muthoharoh,

NIM: 212315009, telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Tesis dan telah

diperbaiki sesuai dengan saran-saran Tim Penguji pada ujian tesis

TIM PENGUJI:

Ketua Sidang

Zahrul Fata, M.IRK,Ph.D.

NIP 197504162009011009 Tanggal, 9 Agustus 2017

Penguji I

Dr. Moh. Shohibul Itmam, M.H. NIP 197902152009121003

Penguji II

Iza Hanifuddin, Ph.D. NIP 196906241998031002

(………) Tanggal, 9 Agustus 2017

Ponorogo, 9 Agustus 2017 Mengesahkan,

Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo

(6)

iv

Terakreditasi B sesuai SK BAN-PT Nomor : 2619/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PT/XI/2016 Alamat: Jl. Pramuka 156 Ponorogo 63471 Telp. (0352) 481277 Fax. (0352) 461893

Website: www.iainponorogo.ac.id Email: [email protected]

PERNYATAAN DAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ani Saul Muthohharoh

NIM : 212315009

Program Studi : Magister Ahwal Syakhsiyyah

Perguruan Tinggi : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul: “Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam Al-Shafi‟i Dalam Kitab Al-Umm” adalah benar-benar hasil karya sendiri. Di dalamnya tidak terdapat bagian yang berupa plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku. Apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan di dalam karya tulis ini, saya bersedia menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya.

Ponorogo, 9 Agustus 2017 Penulis,

(7)

v                                                                              

(8)

vi

mengarungi samudra Ilahi Robbi tanpa ada batasan sedikit pun, dengan keringat yang bercucuran dan yang air mata yang mengalir deras, kupersembahkan karya tulis tesis ini untuk orang-orang selalu hadir, menemani serta member dorongan yang sangat besar dan berharap keindahan-Nya. Kupersembahkan bagi mereka yang

tetap setia berada di ruang dan waktu kehidupan ku khususnya untuk:

 Kedua orang tuaku yang paling kusayangi ( Bapak Mahfud Efendi dan Ibu Sumiati) beliau yang telah mendidik dan menyayangi saya sejak kecil sampai sekarang dan detik ini, serta memberi semangat dan motivasi dalam menjalanipahit dan manisnya hidup ini.

 Suamiku yang telah sabar membantu dalam hal apa-pun.

 Para Dosen IAIN Pascasarjana khususnya Dosen Syari‟ah yang selalu membimbing dan member wawasan serta ilmu yang beliau punya dan selalu member petuah tentang hakikat kehidupan.

 Kakakku tercinta dan Adikku yang kusayang ( Ika Nur Diana Wati dan Huda Efendi Saputra) yang telah memberikan motivasi untuk semangat dalam mengerjakan skripsi.

 Teman-temanku Jurusan AS, Fakultas Syari‟ah angkatan 2017 yang selalu bersama-sama dalam meraih cita-cita dan keinginan yang luhur.

 Kawan-kawan disetiap almamater yang ku singgahi, pp Al-Islam Joresan, PP Al-Aminah Jalen, Asrama Joresan sampai IAIN Ponorogo yang ku tersayang, terima kasih atas kenangan yang takkan ku lupakan dalam hidupku.

(9)

vii

Program Studi Ahwal Shakhsiyyah, Program Pascasarjana, Institut Agama

Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Iza Hanifuddin, Ph.D

Kata Kunci: Perkawinan, Kewarisan, Mafqu<<<<<d, Tirkah, Mashlahah.

Mafqu>d yang dimaksud di sini adalah seorang suami yang hilang dan tidak diketahui kabarnya, apakah harus dikatakan hidup atau sudah meninggal, serta ada batasan-batasan waktu orang bisa dikatakan masih hidup atau sudah meninggal. Begitu pula mengenai status perkawinan mafqu>d. Untuk menentukan seseorang dikatakan hilang (mafqu>d) tentu bukanlah hal yang mudah. Di dalam KUH Perdata (BW) pasal 467 dijelaskan bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka 5 tahun, Sedangkan diukur dengan jangka waktu menurut Imam Abu H{ani>fah mengemukakan harus melewati waktu 90 tahun. Sedangkan menurut Imam al-Shafi‟i yaitu empat tahun yang dasar hukumnya ada dalam kitab Al-Umm, Untuk mengungkap hal tersebut, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perspektif Imam Al-Shafi’i tentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm? 2. Bagaimana epistimologi Imam Al-Shafi’i mengenai mafqu>d dalam kitab Al-Umm? 3. Bagaimana status hukum perkawinan dan kewarisan mafqu>d perspektif Imam Al-Shafi‟i dalam kitab al-Umm?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research (kajian kepustakaan), yaitu penelitian dengan menggunakan upaya pencarian dokumen atau kepustakaan yang berdasarkan kitab, buku, dan lainnya. Metode Penelitiannya menggunakan metode Normatif.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa:1. Penggunaan asal kata mafqu>d adalah dari Al-Qur‟an Surat Yusuf ayat 72. Karena kata mafqu>d memiliki arti kehilangan yang dapat dipakai untuk menyebutkan orang yang hilang. Perspektif Imam Al-Shafi’i> tentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm adalah orang dapat dikatakan hilang ketika lebih dari 4 (empat) tahun tidak diketahui keberadaannya atau sudah lewat masa yang orang-orang seperti dia tidak dapat hidup lagi menurut adat. 2. Epistemologi pendapat Imam Al-Shafi>’i> tentang mafqu>d adalah ditentukan tenggang waktu vonis kematian kepada mafqu>d, diterangkan juga orang hilang dikatakan meninggal dunia adalah 90 tahun menurut Abu Hanifah. Hal ini dilatarbelakangi dengan melihat umur orang-orang yang sebayanya di wilayahnya. Namun, pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam

(10)

viii

telah melimpahkan segala nikmat, taufik dan rahmad-Nya, sehingga dapat menyelesaikan tesis dengan judul, “Status Hukum Perkawinan Mafqud Perspektif Imam Al-Shafi‟i Dalam Kitab Al-Umm”.

Shalawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita

Nabi besar Muhammad saw. beserta para sahabat yang selalu berpegang teguh dalam memperjuangkan agama Allah SWT. Keberhasilan Penulis dalam

menyelesaikan tesis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis

menyampaikan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag. selaku Rektor IAIN Ponorogo yang

telah menerima Penulis untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan ini.

2. Bapak Dr. Aksin, M.Ag. Selaku Direktur Pascasarjana (IAIN) Ponorogo

3. Bapak Dr. Abid Rohmanu, M.H.I. selaku Ketua Program Studi Ahwal

Syakhsiyyah Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

4. Bapak Iza Hanifuddin, Ph.D. selaku Dosen Pembimbing yang telah

memberikan bimbingan, arahan, serta penyusunan laporan penelitian ini hingga

dapat diselesaikan.

5. Segenap Dosen dan civitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo yang telah memberikan ilmu, bantuan dan kemudahan.

6. Kedua orang tua yang telah mengiringi masa-masa perkuliahanku dengna do‟a.

7. Suamiku yang telah memberi motivasi kepada saya,

8. Semua pihak yang telah banyak membantu hingga terselesaikannya

penyusunan tesis ini yang tak mungkin disebutkan satu persatu.

Semoga semua amal baik mereka diridhoi Allah Swt, dan diterima sebagai

amal shalih serta dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Akhirnya peneliti

berharap semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi siapa saja yang

membacanya. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan

demi sempurnanya penelitian ini.

Ponorogo, 9 Agustus 2017 Penulis

(11)

ix

pedoman transliterasi berdasarkan buku pedoman penulisan Tesis Pasca

Sarjana IAIN Ponorogo 2017 sebagai berikut:

Arab Indonesia Arab Indonesia

ء

ض

d{

ب

B

ط

t{

ت

T

ظ

z{

ث

Th

ع

ج

J

غ

gh

ح

h{

ف

f

خ

Kh

ق

q

د

D

ك

k

ذ

Dh

ل

l

ر

R

م

m

ز

Z

ن

n

س

S

و

w

ش

Sh

ه

h

ص

s{

ي

y

2. Untuk menunjukkan bunyi hidup panjang caranya dengan menuliskan

coretan horisontal diatas huruf u>, i>, dan a>,

3. Bunyi hidup dobel (diftong) Arab ditransliterasikan dengan menggabung dua huruf ‚ay‛ dan ‚aw‛

Contoh: bayna, „alayhim, qawl, mawd}ū’ah.

4. Kata yang ditransliterasikan dan kata-kata dalam bahasa asing yang belum

(12)

x Contoh:

Ibn Taymiyah bukan Ibnu Taymiyah. Inna al-din‟inda Allah al Islam bukan Inna al-dina‟inda Allahi al-Islamu … fahuwa wa>jib bukan fahuwa

wa>jibuatau fahuwa wa>jibun.

6. Kata yang berakhir dengan ta‟marbuthah dan berkedudukan sebagai sifat

(na‟at) dan idhafah ditransliterasikan dengan “ah” sedangkan mudhaf

ditransliterasikan dengan “at”

Contoh:

1. Na‟at dan mud}a>f ilayh : sunnah sayyi‟ah

2. Mud{af: d}awa>bith al-qira>’ah

7. Kata yang berakhiran dengan (ya‟ bertashdid) ditransliterasikan dengan i>.

Jika i> diikuti oleh ta‟ marbut}ah maka transliterasinya adalah i>yah. Jika ya‟

bertashdid berada di tengah kata ditransliterasikan yy.

Contoh:

(13)

xi

HALAMAN SAMPUL ... i

NOTA PERSETUJUAN ... ii

PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TESIS ... iii

PERNYATAAN DAN KEASLIAN TULISAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix

HALAMAN DAFTAR ISI ... xi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Penegasan Istilah ... 9

C. Rumusan Masalah ... 9

D. Tujuan Penelitian ... 10

E. Kegunaan Penelitian ... 10

F. Kajian Terdahulu ... 11

BAB II : KAJIAN MADZHAB DAN HUKUM ISLAM TENTANG MAFQUD A. Pengertian mafqu>d... 13

(14)

xii BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian ... 56

B. Teknik Pengumpulan Data ... 56

C. Objek Penelitian ... 57

D. Sumber Data… ... 57

E. Metode Analisis Data ... 58

F. Sistematika Pembahasan... 59

BAB IV : BIOGRAFI IMA<M AL-SHA<FI’I< A. Biografi Imam Al-Sha<fi’i ... 61

1. Nasab dari Pihak Bapak dan ibu ... 61

2. Kelahiran dan Garis Keturunan... 61

3. Istri Imam Shafi‟i serta Kelebihan Imam Shafi‟i ... 65

4. Guru dan Murid Imam al-Sha>fi>’i ... 68

5. Karya-karya karangan Imam al-Sha>fi>’i ... 69

6. Kelebihan Imam al-Sha>fi>’i... 71

7. Wafatnya Imam al-Sha>fi>’I ... 79

BAB V : ANALISIS PENDAPAT IMA<M AL-SHA>FI>’I A. Analisis tentang Pendapat Imam Shafi>’i> tentang Mafqu>d dalam Kitab Al-Umm ... 80

(15)

xiii

Kitab Al-Umm ... 87

BAB VI : PENUTUP ...

A. Kesimpulan ... 93

B. Saran-saran ... 94

DAFTAR PUSTAKA

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Dalam hukum Islam membahas berbagai hal tentang kehidupan

manusia. Di antaranya adalah yang akan dibahas pada penelitian ini mengenai

status perkawinan dan kewarisan. Selain kedua hal tersebut masuk pada

wilayah hukum Islam, antara perkawinan dan kewarisan tentunya memiliki

keterkaitan yang erat. Bukti dari hal tersebut adalah dalam ilmu mawaris

tentunya terdapat pembahasan tentang penyebab warisan. Penyebab seseorang

berhak menerima warisan adalah adanya perkawinan, nas}ab(kekerabatan),

wala‟1

(memerdekakan hamba sahaya atau budak), dan aspek keislaman.2

Begitu pula mengenai status perkawinan dan kewarisan mafqu>d. Untuk

menentukan seseorang dikatakan hilang (mafqu>d) tentu bukanlah hal yang

mudah. Di dalam KUH Perdata (BW) pasal 467 dijelaskan bahwa seseorang

yang telah pergi meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka 5 tahun,

atau telah lewat 5 tahun sejak terakhir didapat berita kejelasan tentang keadaan

orang tersebut, tanpa memberi kuasa untuk mewakili urusan-urusan dan

kepentingan-kepentingannya, dapat dimohonkan oleh pihak yang memiliki

kepentingan keperdataan dengan orang tersebut ke pengadilan untuk dipanggil

menghadap ke persidangan untuk memastikan keberadaan dan nasibnya.

1

Otje Salman, Hukum Waris Islam (Bandung:PT.Refika Aditama, 2010, 49.

2Abu Ihsan, S}ahi>h Fiqih Sunnah

(17)

Jangka waktu ini adalah dalam waktu 3 bulan.3

Dalam menentukan tenggang waktu yang dijadikan ukuran seseorang

yang hilang tersebut masih dalam keadaan masih hidup atau sudah mati, Imam

Al-Shafi’imenjelaskan dari pendapatnya „Umar ibn Khattab bahwa tenggang waktu yang diperbolehkan untuk memberikan vonis kematian kepada si

mafqu>dialah 4 tahun, maka dengan adanya keputusan hakim tersebut harta si

mafqu>d itu boleh dibagikan kepada ahli warisnya sesuai dengan ketentuannya.4

Tenggang waktu tersebut disandarkan kepada perkataan Sayyidina „Umar r.a.,

yang mengatakan:

(ﻗـ

ﻰﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ﻝﺎ

)

ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺎﻤﻳﺍ ﻝﺎﻗ ﺏﺎﻄﳋﺍ ﺮﻤﻋ ﹼﻥﺍ ﺐﻴﺴﳌﺍ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﲕﳛ ﻦﻋ ﻚﻟﺎﻣ ﺎﻧﱪﺧﺍ

ﻭ ﺮﻬﺷﺍ ﺔﻌﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﰒ ﲔﻨﺳ ﻊﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﺎﻬﻧﺎﻓ ﻮﻫ ﻦﻳﺍ ﺭﺪﺗ ﱂ ﺎﻬﺟﻭﺯ ﺕﺪﻘﻓ

ﺮﺸﻋ

“Imam Al-Shafi’i berkata: Ima>m Malik menggambarkan kepada saya dari

Yah}}}yabin Sa‟id bin Musayyab bahwasanya „Umar bin Khattab berkata; setiap

perempuan yang ditinggalkan pergi oleh suaminya yang tiada mengetahui di mana suaminya, maka ia diminta menaati 4 (empat) tahun. Kemudian setelah itu beriddah 4 bulan 10 hari dan kemudian ia menjadi halal (HR. Bukha>ri> dan

Shafi’i.‛

Dari keterangan di atas, dapat dilihat bahwa Imam Al-Shafi’i membolehkan seorang hakim dalam memutuskan orang yang hilang (mafqu>d)

setelah menanti lebih dari 4 (empat) tahun atau sudah lewat masa yang

orang-orang seperti dia tidak dapat hidup lagi menurut adat.

Ada dua pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam mencari

kejelasan status hukum orang yang hilang, di antaranya adalah berdasarkan

3

Subekti, Kitab UU Perdata (Jakarta: Pradnya Paramita, tt), 144.

4Ima>m Sha>fi>’i>

, Al-Umm.Terj., 395.

5Ima>m Abi ‘Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Shafi>’i>,

(18)

bukti-bukti otentik yang dapat diterima secara syari‟at Islam, misalnya putusan

tersebut berdasarkan persaksian dari orang yang adil dan terpercaya. Jika

demikian hal nya, maka si mafqu>d sudah hilang status mafqu>dnya, ia

ditetapkan seperti orang yang mati hakiki sejak diputuskan. Selain itu juga

dapat dilihat berdasarkan batas waktu lamanya kepergian.6

Sedangkan, untuk menentukan hidup atau matinya orang yang hilang,

ulama-ulama berbeda pendapat. Seorang yang hilang dianggap sudah

meninggal dunia apabila teman-teman sebayanya yang ada di tempat itu sudah

mati (pendapat ini dipegang oleh ulama‟ H{anafiyah), sedangkan diukur dengan

jangka waktu Imam Abu H{ani>fah mengemukakan harus melewati waktu 90

tahun. Pendapat Imam Al-Shafi’i mengenai batas waktu orang yang hilang adalah 90 Tahun yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebayanya di

wilayahnya. Namun, pendapat yang paling shohih menurut anggapan Imam Al -Shafi’iadalah batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan

tetapi cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim, kemudian

divonisnya sebagai orang yang telah mati. Karena menurut Imam Al -Shafi’iseorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang

yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati

sesudah berlalunya waktu tertentu, kebanyakan orang tidak hidup melebihi

waktu tersebut. Seseorang yang hilang di anggap sudah meninggal dunia

apabila telah terlewati tenggang waktu 70 tahun. Sepotong Hadis Nabi

menyatakan bahwa”Umur umatku antara 70 dan 60 tahun”. Hasan bin Ziyad

6

Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Dunia

(19)

berpendapat harus ditunggu secara sempurna 120 tahun 7.

Menurut bahasa, kata mafqu>d dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna

menghilang.Kata mafqu>d merupakan bentuk isim maf‟ul dari kata faqida yafqadu

yang artinya hilang.8Jadi, katamafqu>d secara bahasa artinya ialah hilangnya

seseorang karena suatu sebab-sebab tertentu. Adapun pengertian mafqu>dmenurut

istilah, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama yaitu:

Kalangan Hanafiyah mengatakan bahwa mafqu>d ialah:orang yang tidak

diketahui hidup dan matinya.9 Sementara Kalangan Malikiyyah menjelaskan

bahwa: mafqu>d ialah orang yang hilang dari keluarganya dan mereka merasa

kehilangan orang tersebut hingga terputus kabar mengenai orang yang hilang

tersebut.10Wahbah Zuhaili memberikan penjelasan mafqu>d ialah orang hilang

yang tidak diketahui apakah masih hidup yaitu bisa dharapkan kehadirannya

ataukah sudah mati berada dalam kubur.11

Orang yang hilang dalam Fiqih disebut ‚mafqu>d” yakni orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui hidup-matinya.12 Menurut

H{as}biAs}-S}iddiqi bahwa mafqu>d adalah orang pergi (tidak ada di tempat) yang

tidak diketahui alamatnya (tempat tinggalnya) dan tidak pula diketahui apakah

dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.13

7

Amis syarifuddin, Hukum kewarisan islam.

8

Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap

(Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997), 321. 9

Ibnu Humam Al Hanafi, Fathul Qadir Juz 6 (Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyah,t.th), 133.

10

Abu bakar bin Hasan Al- Kasynawi, Ashal Al- MadarikJuz 1(Beirut: Dar Al- KutubAl-

Ilmiyah, t.th), 407. 11

Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu(Damaskus: Dar Al- Fikr, 2006), 7187.

12

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2012),

135. 13

(20)

Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa mafqu>dyaitu

hilangnya seseorang dari suatu tempat, tidak diketahui kabar dan keberadaannya

secara pasti, serta tidak diketahui apakah dirinya masih hidup atau sudah

meninggal dunia. Suami yang mafqu>dyakni seorang suami yang hilang dari

keluarganya tanpa diketahui dimana dia berada dan kapan dia akan kembali.

Kepergian suami mungkin karena kesengajaan dengan motif melarikan diri akibat

suatu hal, atau mungkin karena ia meninggal dunia dan tidak diketahui kabarnya,

atau mungkin karena hal lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

suami yang mafqu>dadalah seorang suami yang hilang dari keluarganya tanpa

diketahuitempat tinggalnya dan kabar mengenai hidup atau matinya.

Orang yang hilang menurut situasi dan kebiasaannya ia akan binasa

(seperti waktu peperangan, tenggelam waktu pelayaran atau pesawat jatuh dan

temannya ada yang selamat), maka orang yang hilang harus diselidiki selama 4

tahun, jika tidak ada kabar beritanya, maka hartanya sudah dapat dibagi,

pendapat ini dipegang oleh ulama-ulama Hanabilah. Sedangkan apabila

kehilangan tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa yang membawa kematian

(seperti pergi berdagang atau merantau) ulama Hanabilah berbeda pendapat,

yaitu: menunggu sampai 90 tahun sejak ia dilahirkan atau diserahkan kepada

ijtihad hakim.ia jelas hidup pada saat kematian pewaris dan diantara syarat

pemaris ialah pasti tentang kematiannya. Ketidakpastian tersebut menimbulkan

masalah dalam kewarisan. mafqu>d dalam kewarisan ini menyangkut dua hal

yaitu: dalam posisinya sebagai pewaris, berkaitan dengan peralihan hartanya

(21)

peralihan harta pewaris kepadanya secara legal.14

Dalam faraid dijelaskan, hukum kewarisan adalah hukum yang

mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan (tirkah)

pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa

bagiannya masing-masing.15 Unsure-unsur Hukum waris di Indonesia ada tiga

yaitu: (a.) Pewaris adalah orang yang telah meninggal dunia dan meninggalkan

sesuatu yang dapat beralih kepada keluarganya yang masih hidup, baik

keluarga melalui hubungan kekerabatan, perkawinan maupun keluarga melalui

persekutuan hidup dalam rumah tangga. (b.) Harta warisan adalah harta

kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia kepada ahli

warisnya. Harta warisan tersebut terdiri atas: harta bawaan atau harta asal,

harta perkawinan, harta pusaka dan harta yang menunggu. (c.) Ahli waris

adalah orang yang berhak menerima warisan.16

Nikah dalam syari‟at Islam maksudnya adalah akad perkawinan.17

Mengenai permasalahan seorang istri yang ditinggal lama oleh suaminya

hendaknya sabar dan tidak boleh menuntut cerai, ini adalah pendapat dari

madzhab Al-Shafi’i, H{anafi, , Dha>hiriyah. Sedangkan menurut riwayat ImamMalik, bahwa apabila ada laki-laki yang hilang di negara Islam dan

terputus beritanya, maka istrinya harus melapor kepada hakim, dan apabila

hakim tidak mampu untuk mendapatkannya, maka istrinya diberi waktu

menunggu selama 4 tahun, dan kalau waktu 4 tahun sudah terlewati, maka

14

Ibid. 15

Rachmadi Usman, Hukum Kewarisan Islam dimensi KHI.

16

Zainuddin, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesi (Jakarta:Sinar Grafika,2012, 2-3.

17

(22)

istrinya beriddah sebagaimana lazimnya seorang istri yang ditinggal mati oleh

suaminya, dan setelah itu diperkenankan kawin dengan laki-laki lain. Dengan

riwayat tersebut berarti seseorang yang hilang dapat dinyatakan mati setelah

lewat waktu 4 tahun.

Selain perkawinan, hukum kewarisan dalam Islam juga mendapat

perhatian besar, karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat

yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggal mati pewarisnya.

Naluri manusia yang menyukai harta benda tidak jarang memotivasi seseorang

untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan harta benda tersebut,

termasuk didalamnya terhadap harta peninggalan pewarisnya sendiri.

Kenyataan demikian telah ada dalam sejarah umat manusia hingga sekarang

ini.Terjadinya kasus-kasus gugat waris di pengadilan, baik pengadilan agama

maupun pengadilan negeri menunjukkan krusialnya fenomena tersebut.18

Turunnya ayat-ayat al-Qur‟an yang mengatur pembagian harta warisan

yang menunjukkannya bersifat qath’i> al-dalalah adalah merupakan refleksi sejarah dari adanya kecenderungan materialistis umat manusia, disamping

sebagai rekayasa sosial terhadap sistem hukum yang berlaku di masyarakat.19

Hukum kewarisan sebagai suatu pernyataan tekstual yang tercantum dalam

al-Qur‟an merupakan suatu hal yang absolut dan universal bagi setiap muslim

untuk mewujudkan dalam kehidupan sosial. Sebagai ajaran yang universal,

hukum kewarisan Islam mengandung nilai-nilai abadi dan unsur yang berguna

untuk senantiasa siap mengatasi segala kesulitan sesuai dengan kondisi ruang

18

Akhmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia(Jakarta: Grafindo, 1998), 355.

(23)

dan waktu.20 Namun demikian, masih terdapat masalah-masalah mengenai

hukum waris yang tidak tercantum dalam al-Qur‟an sehingga menimbulkan

perbedaan pendapat dikalangan ahli hukum fikih, diantara salah satunya adalah

pusaka orang yang hilang (mafqu>d).

Dalam konteks kewarisan seseorang yang hilang (mafqu>d), dia dapat

berperan sebagai pewaris ataupun ahli waris. Bila dalam kepergiannya

meninggalkan harta, maka ia berperan sebagai pewaris. Sedangkan, jika ia

adalah orang yang berhak mendapat warisan, maka ia disebut ahli waris.

Dalam hal ini para ulama sepakat menetapkan bahwa harta dari pewaris yang

hilang ditahan dahulu sampai ada berita yang jelas. Namun, para ulama‟

berbeda pendapat sampai kapan penangguhan dilakukan, apakah ditetapkan

berdasarkan perkiraan waktu saja atau diserahkan kepada ijtihad hakim.

Islam menganjurkan pernikahan dan menyatakan bahwa nikah termasuk

sunnah dan jejak para Rasul. Allah berfirman,”Dan sesungguhnya kami telah

mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka

istri-istri dan keturunan21 Dalam qaul jadid (Kitab Al-Umm) ditetapkan bahwa

istri yang ditinggal suami tanpa berita, maka istrinya tidak diperbolehkan

menikah dengan orang lain sampai diperoleh kepastian bahwa suaminya telah

mati atau telah menceraikannya dan kemudian ia menjalani iddah.22

Dari uraian di atas peneliti melakukan penelitian mengenai status

perkawinan dan kewarisan mafqu>d menurut perspektif Imam Al-Shafi’idalam

20

Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Dunia

Pustaka Jaya, 1995), 1. 21

ibid 22

(24)

kitab Al-Umm. Maka atas dasar latar belakang tersebut, peneliti mengadakan

penelitian dengan judul “Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam

Al-Shafi’i> dalam Kitab Al-Umm”.

B.Penegasan Istilah

1. Perkawinan: ikatan yang menghalalkan pergaulan danmembatasi hak dan

kewajiban serta bertolong-tolongan antaraseorang laki-laki dan seorang

perempuan yang antara keduanyabukan merupakan mahram.

2. Hukum kewarisan Islam: hukum yang mengatur peralihan pemilikan harta

peninggalan (tirkah) pewaris, menetapkan siapa-siapa yang berhak menjadi

ahli waris, menentukan berapa bagian masing-masing ahli waris, dan

mengatur kapan pembagian harta kekayaan pewaris dilaksanakan.

3. Mafqu>d: orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui

hidup-matinya.

C.Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini antaralain:

1. Bagaimana perspektif Imam Al-Sha>fi>’i tentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm?

2. Bagaimana epistimologi Imam Al-Sha>fi>’i mengenai mafqu>d dalam kitab Al-Umm?

3. Bagaimana status hukum perkawinan dan kewarisan mafqu>d perspektif

(25)

D.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menjelaskan perspektif Imam Al-Shafi’itentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm.

2. Untuk menjelaskan epistimologi Imam Al-Shafi’imengenai mafqu>d dalam kitab Al-Umm.

3. Untuk menjelaskan status hukum perkawinan dan kewarisan mafqu>d

perspektif Imam Al-Shafi’idalam kitab Al-Umm.

E.Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan apa yang telah diungkapkan dalam tujuan penelitian, besar

harapan penulis untuk bisa memberikan manfaat dari penyusunan tesis ini, baik

secara khusus bagi pribadi penulis maupun secara umum bagi para pembaca.

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi kegunaan penyusunan tesis ini, yaitu:

1. Secara teoritis

Diharapkan dapat memberikan kontribusi khazanah keilmuan dalam

kajian hukum Islam, khususnya dalam kajian ilmu waris Islam dan hukum

perkawinan.

2. Secara praktis

Tulisan ini diharapkan memberikan pemahaman yang bisa diterima

oleh masyarakat muslim tentang permasalahan penetapan status hukum

(26)

-Shafi’idalam kitab Al-Umm. Sehingga nantinya, masyarakat dapat mengerti

ketentuan dan prosedur waris dari mafqu>d.

F. Kajian Terdahulu

Di samping memanfaatkan berbagai teori yang relevan dengan bahasan

ini, penulis juga melakukan telaah hasil penelitian terdahulu yang jenis

penelitiannya ada relevansinya dengan penelitian ini.

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ahlis Hanawa

pada tahun 2016 mahasiswa UIN SunanKalijaga Yogyakartajurusan

Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah dan Hukum, yang berjudul “Orang

Hilang (Al- mafqu>d) dalam Ilmu Waris (Menurut Imam Al-Shafi’idan Imam Abu H{anifah)”. Hasil penelitian menunjukkan bahwaImam Al-Shafi’idan Imam Imam Abu H{anifah memutuskan menggunakan is}tish}ab al-h}al, terkait

memutuskan kondisi orang yang hilang.Mereka juga memberikan kewenangan

kepada hakim untuk ikut serta dalam menangani kasus ini, membuat keputusan

kematian atau hidupnya orang yang hilang.Dalam putusan mereka juga harus

terdapat unsur maqa>sid. Karena dalam kasus ini menyangkut pula tujuan

hukum Islamyang dirangkum dalam teori maqa>sid, yakni menjaga harta, terkait

warisan dan menjaga keturunan, terkait perselisihan mengenai pembagian harta

peninggalan.Persamaan antara penelitian pertama ini dengan penelitian yang

akan dilakukan peneliti adalah terletak pada pembahasan tentang

mafqu>dmengenai hal kewarisan. Perbedaannya adalah pada penelitian yang

akan dilakukan oleh peneliti selain membahas tentang status kewarisan,

(27)

terletak pada perspektif yang digunakan. Pada penelitian pertama ini menurut

Imam Al-Shafi’idan Ima>m Abu H{anifah, sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti menurut hukum Islam dan perdata.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Andreas Pangoloan pada tahun

2016 mahasiswa Universitas Pasundan Bandung jurusan Ilmu Hukum fakultas

Hukum, yang berjudul “Analisis Hukum tentang Pembagian Harta Warisan

Orang Hilang (Mafqu>d) Menurut Hukum Islam.”.Hasil penelitian

menunjukkan bahwa dalam pembagian warisan harta kekayaan menurut hukum

Islam dapat dilakukan apabila pewaris telah meninggal dunia dan ahli waris

mendapatkan hak-haknya setelah dikurangi oleh biaya-biaya hutang pewaris

dan bahwa batas waktu orang hilang yang dipersangkakan meninggal adalah

setelah 3 kali pemanggilan pengadilan atau dalam kurun waktu minimal 4

tahun tidak dapat diketahui keberadaanya maka dapat dinyatakan meninggal

oleh hakim melalui penetapan pengadilan. Persamaan antara penelitian pertama

ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah terletak pada

pembahasan tentang mafqu>d dan waris dalam hukum Islam. Perbedaannya

adalah pada penelitian kedua ini membahas tentang pembagian harta warisan

orang hilang (mafqu>d). Sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh

peneliti mengenai status hukum perkawinan orang yang hilang (mafqu>d).

Peneliti akan membahas bagaimanakah status perkawinan orang yang mafqu>d

tersebut, boleh menikah lagi atau harus menunggu suami yang mafqu>d

tersebut. Peneliti konsentrasi pada kitab al-Umm supaya lebih focus untuk

(28)

BAB II

KAJIAN MADZHAB DAN HUKUM ISLAM TENTANG MAFQUD

A.Pengertian Mafqud

Mafqud ialah bila seseorang pergi dan terputus kabar beritanya, tidak

diketahui tempatnya dan tidak diketahui apakah dia masih hidup atau sudah mati,

sedang hakim menetapkan kematiannya.23 Menurut bahasa, kata mafqu>d dalam

bahasa Arab secara harfiah bermakna menghilang. Kata mafqu>d merupakan

bentuk isim maf‟ul dari kata faqida, yafqadu yang artinya hilang.24Jadi,

katamafqu>d secara bahasa artinya ialah hilangnya seseorang karena suatu

sebab-sebab tertentu. Adapun pengertian mafqu>d menurut istilah, sebagaimana yang

dikemukakan oleh para ulama yaitu:

Kalangan Hanafiyah mengatakan bahwa mafqu>d ialah:orang yang tidak

diketahui hidup dan matinya.25 Sementara Kalangan Malikiyyah menjelaskan

bahwa: mafqud ialah orang yang hilang dari keluarganya dan mereka merasa

kehilangan orang tersebut hingga terputus kabar mengenai orang yang hilang

tersebut.26Wahbah Zuhaili memberikan penjelasan mafqu>d ialah orang hilang

yang tidak diketahui apakah masih hidup yaitu bisa dharapkan kehadirannya

ataukah sudah mati berada dalam kubur.27

23

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Bandung: Pt. Al-Ma‟arif, 1987, 306.

24

Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997), 321.

25Ibnu Humam Al Hanafi, Fathul Qadir,Juz 6, Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyah,t.th, hlm. 133 26

Abu bakar bin Hasan Al- Kasynawi, Ashal Al- Madarik, Juz 1, Beirut: Dar Al- Kutub Al- Ilmiyah, t.th, hlm. 407.

27

Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al- Islami Wa Adillatuhu, Juz. 9, Damaskus: Dar Al- Fikr, 2006, hlm. 7187.

(29)

Orang yang hilang dalam Fiqih disebut ‚mafqu>d” yakni orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui hidup-matinya.28 Menurut

H{as}biAs}-S}iddiqi> bahwa mafqu>d adalah orang pergi (tidak ada di tempat) yang

tidak diketahui alamatnya (tempat tinggalnya) dan tidak pula diketahui apakah

dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.29

Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa mafqu>dyaitu

hilangnya seseorang dari suatu tempat, tidak diketahui kabar dan keberadaannya

secara pasti, serta tidak diketa/hui apakah dirinya masih hidup atau sudah

meninggal dunia. Suami yang mafqu>d yakni seorang suami yang hilang dari

keluarganya tanpa diketahui dimana dia berada dan kapan dia akan kembali.

Kepergian suami mungkin karena kesengajaan dengan motif melarikan diri akibat

suatu hal, atau mungkin karena ia meninggal dunia dan tidak diketahui kabarnya,

atau mungkin karena hal lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

suami yang mafqu>dadalah seorang suami yang hilang dari keluarganya tanpa

diketahuitempat tinggalnya dan kabar mengenai hidup atau matinya.

Ketetapan hakim dalam memutuskan kematian ada kalanya berdasarkan

dalil, seperti kesaksian orang-orang yang adil. Dalam keadaan seperti ini

kematiannya pasti dan tetap sejak adanya dalil mengenai kematiannya.Ada

kalanya berdasarkan tanda-tanda yang tidak adil, dimana hakim memutuskan

kematian mafqu>d berdasarkan daluwarsa maka kematiannya adalah kematian

secara hukum, karena mungkin dia masih hidup.Dalam pembagian harta waris

28

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media

Group,2012), 135. 29

(30)

terhadap masalah mafqu>d ini para ulama sepakat mensistematisasi

pembagiannya seperti pembagian

waris dengan jalan perkiraan, seperti kewarisan khunsa dan anak dalam

kandungan.Batas waktu untuk menetapkan lematian mafqu>d para ulama fiqih

berselisih pendapat tentang batas waktu untuk menetapkan kematian mafqu>d

Imam Malik berpendapat bahwa masa tunggu seseorang yang dapat

dikategorikan sebagai mafqu>d adalah empat tahun. Hal ini didasarkan pada

sebuah hadis yang mengatakan:

“Setiap isteri yang ditinggal pergi oleh suaminya, sedang dia tidak

mengetahui di mana suaminya maka dia menunggu empat tahun.”30

Adapun menurut Imam Abu H{ani>fah, mengatakan bahwa masa tunggu

seseorang yang dapat dikategorikan sebagai mafqu>d tidak adanya ketentuan

batas waktu. Tetapi hal ini diserahkan kepada ijtihad hakim di setiap masa.

ImamAh}mad berpendapat bahwa apabila dia pergi ketempat yang

memungkinkan diamati maka sesudah diselidiki dengan teliti ditetapkan

kematiannya dengan berlalunya waktu empat tahun, karena biasanya dia sudah

meninggal.Yang demikian ini serupa dengan berlalunya masa yang tidak

mungkin dia hidup dalam masa seperti itu.31

Dalam menentukan tenggang waktu yang dijadikan ukuran seseorang

yang hilang tersebut masih dalam keadaan masih hidup atau sudah mati, Imam

Al-Shafi>’i> menjelaskan dari pendapatnya „Umar ibn Khattab bahwa tenggang waktu yang diperbolehkan untuk memberikan vonis kematian kepada si

30

Ibid, 151-152. 31

(31)

mafqu>d ialah 4 tahun, maka dengan adanya keputusan hakim tersebut harta si

mafqu>d itu boleh dibagikan kepada ahli warisnya sesuai dengan

ketentuannya.32 Tenggang waktu tersebut disandarkan kepada perkataan Umar

Ibn Khattab yang mengatakan:

(ﻗـ

ﻰﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ﻝﺎ

)

ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺎﻤﻳﺍ ﻝﺎﻗ ﺏﺎﻄﳋﺍ ﺮﻤﻋ ﹼﻥﺍ ﺐﻴﺴﳌﺍ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﲕﳛ ﻦﻋ ﻚﻟﺎﻣ ﺎﻧﱪﺧﺍ

ﻭ ﺮﻬﺷﺍ ﺔﻌﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﹼﰒ ﲔﻨﺳﻊﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﺎﻬﻧﺎﻓ ﻮﻫ ﻦﻳﺍ ﺭﺪﺗ ﱂ ﺎﻬﺟﻭﺯ ﺕﺪﻘﻓ

ﺮﺸﻋ

‚Ima>m Shafi’i> berkata: Ima>m Malik menggambarkan kepada saya dari Yah}ya

bin Sa‟id bin Musayyab bahwasanya „Umar ibn K}hattab berkata; setiap

perempuan yang ditinggalkan pergi oleh suaminya yang tiada mengetahui di

mana suaminya, maka ia diminta menaati 4 (empat) tahun.”

Dari keterangan di atas, dapat dilihat bahwa Imam Al-Shafi’i> membolehkan seorang hakim dalam memutuskan orang yang hilang (mafqu>d)

setelah menanti lebih dari 4 (empat) tahun atau sudah lewat masa yang

orang-orang seperti dia tidak dapat hidup lagi menurut adat.

Ada dua pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam mencari

kejelasan status hukum orang yang hilang, diantaranya adalah berdasarkan

bukti-bukti otentik yang dapat diterima secara syariat Islam, misalnya putusan

tersebut berdasarkan persaksian dari orang yang adil lagi terpercaya. Jika

demikian hal nya, maka si mafqu>d sudah hilang status mafqu>dnya, ia di

tetapkan seperti orang yang mati hakiki sejak diputuskan. Selain itu, juga dapat

dilihat berdasarkan batas waktu lamanya kepergian.34

32Ima>m Shafi>’i>

, Al-Umm.Terj., 395.

33Ima>m Abi ‘Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Shafi>’i>, Al-UmmJuz 7

(Dar Kotob Al-Ilmiyah: Beirut, 2002), 403.

34

(32)

Sedangkan, untuk menentukan hidup atau matinya orang yang hilang,

ulama-ulama berbeda pendapat.Seorang yang hilang dianggap sudah

meninggal dunia apabila teman-teman sebayanya yang ada di tempat itu sudah

mati (pendapat ini dipegang oleh ulama’ H{anafiyah), sedangkan diukur dengan

jangka waktu Imam Abu H{ani>fah mengemukakan harus melewati waktu 90

tahun yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebayanya diwilayahnya.

Namun, pendapat yang paling sa}hi>h menurut anggapan Imam Al-Shafi’i adalah batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi cukup

dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim, kemudian divonisnya

sebagai orang yang telah mati. Karena menurut Imam Al-Shafi’Iseorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak

lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati sesudah berlalunya waktu

tertentu, kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut.Seseorang

yang hilang di anggap sudah meninggal dunia apabila telah terlewati tenggang

waktu 70 tahun.

Orang yang hilang menurut situasi dan kebiasaannya ia akan binasa

(seperti waktu peperangan, tenggelam waktu pelayaran atau pesawat jatuh dan

temannya ada yang selamat), maka orang yang hilang harus diselidiki selama 4

tahun, jika tidak ada kabar beritanya, maka hartanya sudah dapat dibagi,

pendapat ini dipegang oleh ulama-ulama Hanabilah. Sedangkan apabila

kehilangan tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa yang membawa kematian

(seperti pergi berdagang atau merantau) ulama Hanabilah berbeda pendapat,

(33)

ijtihad hakim.

Pembahasan tentang kewarisan tidak terlepas dari beberapa

pemasalahan yang dihadapi, salah satunya adalah mengenai status kewarisan

terkait orang hilang. Dari akibat hukum perkawinan di atas salah satunya

adalah timbulnya hubungan antara orang tua dan anak. Dari akibat tersebut,

dalam hubungannya dengan masalah kewarisan lebih rinci dijelaskan pada

pembahasan mengenai sebab-sebab timbulnya kewarisan. Sebab yang

menimbulkan waris-mewarisi dalam Islam, menurut Sayid Sabiq ada 3 yaitu:

hubungan kerabat atau nasab, perkawinan dan wala‟. Adapun pada literatur

hukum Islam lainnya ada 4 sebab, yakni: perkawinan, kekerabatan atau

nasa>b,wala‟ dan hubungan sesama Islam.35

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama

mengatakan bahwa seorang istri yang ditinggal lama oleh suaminya hendaknya

sabar dan tidak boleh menuntut cerai. Ini adalah pendapat mazhab Hanafiyah

dan Al-Shafi’i. Mereka berdalil bahwa pada asalnya pernikahan antara kedu masih berlangsung hingga terdapat keterangan yang jelas, bahwa suaminya

meninggal atau telah menceraikannya.5

Mereka cenderung memandangnya dari segi positif, yaitu dengan

menganggap orang yang hilang itu masih hidup, sampai dapat dibuktikan dengan

bukti-bukti bahwa ia telah wafat. Sikap yang diambil ulama fikih ini berdasarkan

kaidah istishab, yaitu menetapkan hukum yang berlaku sejak semula, sampai ada

dalil yang menunjukan hukum lain. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa

35

Moh. Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia

(34)

persoalan status hukum istri yang suaminya mafqu>d itu sebenarnya tidak ada

alasan, kecuali jika suami yang hilang itu tidak meninggalkan apapun yang

menjadi kewajibannya bagi istrinya. Hal ini berarti bahwa suami itu dianggap ada

disamping istrinya. Karena tidak ada hak istri yang tidak dibayarkan selain dari

bersetubuh, sedangkan bersetubuh adalah hak suami.7

Akan tetapi anggapan masih hidup tersebut tidak bisa dipertahankan terus

menerus, karena ini akan menimbulkan kerugian bagi orang lain. Oleh karena

harus digunakan suatu pertimbangan hukum untuk mencari kejelasan status hukum

bagi si mafqu>d karena yang berhak untuk menetapkan status bagi orang hilang

tersebut adalah hakim, baik untuk menetapkan bahwa orang hilang itu telah wafat

atau belum.

Ada dua macam pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam

mencari kejelasan status hukum bagi si mafqu>d yaitu:

1. Berdasarkan bukti-bukti yang otentik yang dibenarkan oleh syariat, yang dapat

menetapkan suatu ketetapan hukum. Misalnya, ada dua orang yang adil dan

dapat dipercaya untuk memberikan kesaksian bahwa si fulan yang hilang telah

meninggal dunia, maka Hakim dapat menjadikan dasar persaksian tersebut

untuk memutuskan status kematian bagi si mafqu>d Jika demikian halnya, maka

si mafqu>d sudah hilang statusmafqu>d. Ia ditetapkan seperti orangyang mati

hakiki.

Berdasarkan tenggang waktu lamanya si mafqu>d pergi atau berdasarkan

kadaluwarsa. Dalam kondisi seperti ini, Hakim menghukuminya sebagai orang

(35)

karena masih ada kemungkinan orang tersebut masih hidup.8 Sedangkan

Pendapat kedua mengatakan bahwa seorang istri yang ditinggal lama oleh

suaminya, dan merasa dirugikan secara batin, maka diaberhak menuntut cerai. Ini

adalah pendapat Hanabilah dan Malikiyah.9

B.Mafqu>d Menurut Para Mazhab

Tentang periode yang dapat diputuskan oleh hakim bahwa mafqu>ditu

telah wafat, as-Shabuny mengatakan:

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mafqu>d itu dianggap telah wafat

jika orang-orang yang seusia dengan dia di daerahnya telah semua wafat,

sehingga tidak ada lagi yang masih hidup, dan ini waktunya sekitar 90 tahun.

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tenggat waktu itu adalah 70

tahun, dengan landasan hadits Rasul yang menyatakan bahwa usia umatku

berkisar antara 60 sampai dengan 70 tahun.36

Ulama Al-Shafi>’iyah berpendapat bahwa tenggat waktu itu adalah 90

tahun, yaitu batas usia orang-orang yang seperiode dengan dia di daerahnya.

Tetapi, pendapat yang sahih di kalangan ini adalah penentuannya bukan

berdasarkan pada bilangan waktu tertentu, melainkan berdasarkan pada bukti,

yakni jika telah ada bukti bagi hakim tentang kematian mafqud bersangkutan,

maka berdasarkan bukti itu hakim menetapkan kematian mafqu>d bersangkutan

36

(36)

dan itu setelah berlangsung suatu periode di mana secara kebiasan bahwa

seseorang sudah tidak mungkin lagi hidup di atas usia tersebut.37

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa jika mafqu>d itu hilang dalam

suasana yang memang memungkinkan yang bersangkutan itu telah binasa,

seperti pergumulan peperangan yang begitu dahsyat di mana kedua belah pihak

saling berhadap-hadapan dalam penyerangan, atau tenggelamnya alat angkutan

yang ditumpanginya, di mana sebagian penumpang selamat dan sebagian lagi

tidak selamat, maka di sini ditunggu sampai tenggat waktu empat tahun.

Tetapi jika ia hilang dalam suasana yang tidak mungkin ia`binasa, seperti pergi

untuk berdagang, perjalanan wisata, atau menuntut ilmu, maka dalam hal ini

ada dua pendapat:

1. ditunggu sampai yang bersangkutan berusia 90 tahun karena biasanya di

atas usia ini sudah tipis kemungkinannya bagi seseorang untuk dapat

bertahan hidup;

2. Diserahkan pada petimbangan hakim.

Terkait dengan batas waktu, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama

terutama para ulama dari mazhab yang empat.

a. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal

rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat

orang yang sebaya di wilayahnya, yakni tempat dia tinggal. Apabila

orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada, maka ia dapat diputuskan

37

(37)

sebagai orang yang sudah meninggal. Dalam riwayat lain, dari Abu Hanifah,

menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan puluh (90) tahun

b. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh

(70) tahun. Hal ini didasarkan pada lafaz hadis secara umum yang

menyatakan bahwa umur umat Muhammad SAW, antara enam puluh

hingga tujuh puluh (70) tahun.Dalam riwayat lain, dari Imam Malik,

disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam, hingga tidak

dikenal rimbanya, dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna

mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali

keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan

prasarana yang ada. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu, maka

sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk

menunggu. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum

juga diketemukan atau dikenali rimbanya, maka mulailah ia untuk

menghitung idahnya sebagaimana lazimnya istri yang ditinggal mati

suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari. Bila usai masa idahnya, maka ia

diperbolehkan untuk menikah lagi.

c. Sedangkan dalam mazhab Al-Shafi>’i dinyatakan bahwa batas waktu orang

yang hilang empat tahun, yakni dengan melihat umur orang-orang yang

sebaya di wilayahnya. Namun, pendapat yang paling sahih menurut

anggapan Imam Al-Shafi>’i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat

ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi, cukup dengan apa yang dianggap

(38)

Karena menurut Imam Al-Shafi>’i seorang hakim hendaknya berijtihad

kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal

rimbanya sebagai orang yang sudah mati, sesudah berlalunya waktu

tertentu.

d. Sementara itu, mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang

itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi

peperangan, atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam,

maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat (4) tahun. Apabila

setelah empat (4) tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui

beritanya, maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Demikian

juga istrinya, ia dapat menempuh masa idahnya, dan ia boleh menikah lagi

setelah masa idah yang dijalaninya selesai.38

C.Mafqu>d dalam Hukum Islam dan Hukum Perdata

Hakim dalam memutuskan perkara mafqu>d harus berdasarkan pada alat

bukti yang jelas sehingga dapat diduga keras bahwa mafqu>dtersebut telah

wafat. Hakim dapat memutuskan mafqu>d telah wafat dalam keadaan:

1. Hilang dalam situasi yang patut dianggap bahwa ia telah binasa, seperti

karena ada serangan mendadak atau dalam keadaan perang, (diputus mafqu>d

jangka waktunya 40 tahun sejak kepergiannya).

2. Pergi untuk suatu kepentingan, tetapi tidak pernah kembali. (diputus mafqu>d

jangka waktunya 40 tahun sejak kepergian

38

(39)

3. Hilang dalam kegiatan wisata atau urusan bisnis (hakim memutuskan

mafqud dengan pertimbangan sendiri).39

Andul Aziz Dahlan menyebutkan salah satu aspek yang dapat dijadikan

pertimbangan oleh hakim dalam memutus perkara mafqu>d adalah dengan

memperhatikan teman-teman seumur atau generasi dengan yang bersangkutan.

Hakim dapat memutus atau memvonis orang yang mafqu>d itu mati atau belum.

Hakim hendaknya berijtihad kemudian memfonis bahwa orang yang hiang dan

tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati sesudah berlalunya

waktu tertentu. Kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. Orang

yang hilang dianggap sudah meninggal dunia apabila telah terlewati tenggang

waktu 70 tahun.

Orang yang hilang menurut situasi dan kebiasaannya ia akan binasa

(seperti waktu peperangan, tenggelam waktu pelayaran atau pesawat jatuh dan

temannya ada yang selamat), maka urang yang hilang harus diselidiki selama 4

tahun, jika tidak ada kabar beritanya, maka hartanya sudah dapat dibagi,

pendapat ini dipegang oleh ulama hanabilah. Sedangkan apabila kehilangan

tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa yang membawa kematian (seperti

pergi berdagang atau merantau) ulama Hanabilah berbeda pendapat yaitu:

menunggu sampai 90 tahun sejak ia dilahirkan atau diserahkan kepada ijtihad

hakim. 40

Kitab undang-undang hukum perdata (staatsblad) 1847 no. 23 atau BW

di pasal 467-471 telah mencantumkan mengenai mafqu>d orang yang hilang.

39

Ibid 40

(40)

KUH Perdata tidak menggunakan mafqu>d akan tetapi menggunakan istilah

orang yang diperkirakan telah meninggal dunia.

Pasal 467 KUH Perdata menentukan bahwa seseorang yang telah pergi

meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka waktu 5 tahun atau telah

lewat waktu 5 tahun sejak berakhir di dapat berita kejelasan tentang keadaan

orang tersebut tanpa memberi kuasa untuk mewakili urusan-urusan dan

kepentingannya. Dapat dimohonkan oleh pihak yang mewakili kepentingan

keperdataan dengan orang tersebut ke pengadilan untuk dipanggil menghadap

ke persidangan untuk memastikan keberadaan dan nasibnya. Jangka waktu

panggilan ini adalah dalam waktu 3 bulan. 41

Jika orang tersebut tidak dapat menghadap untuk memberikan kesan

dan petunjuk bahwa dia masih hidup, walaupun telah dipanggil, maka harus

dipanggil untuk yang kedua kalinya, begitu seterusnya sampai panggilann ke

tiga (jangka waktu panggilan adalah 3 bulan). Panggilan tersebut di umumkan

di surat-surat kabar, papan pengumuman di pengadilan, dan papan

pengumuman di alamat terakhir orang tersebut diketahui. Apabila sudah

dipanggil tiga kali tetap tidak datang menghadap, maka pengadilan bisa

menetapkan secara umum bahwa orang itu telah meninggal, terhitung sejak

hari ia meninggalkan tempat tinggalnya, atau sejak hari berita terakhir

mengenai hidupnya. Tanggal pasti tentang penetapan “meninggalnya secara

hukum yang bersangkutan” harus dinyatakan secara jelas dalam putusan (pasal

468).

41

(41)

Dalam putusan tersebut juga harus dimuat pertimbangan hakim

mengenai kemungkinan sebab-sebab yang bersangkutan tidak bisa memenuhi

panggilan persidangan. Sebab-sebab yang mungkin telah menghalangi yang

bersangkutan tidak bisa membaca pengumuman panggilan tersebut, dan hal-hal

yang berhubungan dengan dugaan tentang kematian. Namun hakim dapat

menunda pengambilan putusan sampai jangka waktu lima tahun lebih atau

memerintahkan panggilan lanjutan jika ada pertimbangan lain dianggap perlu

dan penting untuk diindahkan oleh hakim. Hal ini sangat tergantung

kebijaksanaan Hakim dalam melihat fakta terhadap kenyataan dalam

persidangan.

Masalah berbedaberlaku apabila orang yang pergi meninggalkan tempat

kediamannya tersebut telah memberikan kuasa kepada orang lain untuk

menjadi kuasa atau wakilnya dalam segala urusan dan kepentingan, maka

jangka waktu yang berlalu adalah sepuluh tahun sesudah keberangkatannya

atau setelah berita terakhir bahwa ia masih hidup dan dalam jangka waktu

sepuluh tahun tersebut tidak ada tanda-tanda apakah ia masuh hidup atau telah

wafat. Adapun teknis beracaranya sama dengan mereka yang pergi tanpa

meninggalkan kuasa apapun. Putusan yang telah diambil oleh pengadilan

mengenai mafqud tersebut harus diumumkan dalam media surat kabar yang

(42)

D. Perkawinan

1. Definisi Perkawinan

Perkawinan adalah sunnatullah, hukum alam di dunia. Perkawinan

dilakukan oleh manusia, hewan, bahkan oleh tumbuh-tumbuhan42. Ia

adalah salah suatu cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi

makhluk-Nya untuk berkembang biak dan melestarikan hidupnya. Allah

berfirman dalam (surat yasin: 36) yang berbunyi:

                      

Artinya: Maha Suci Allah yang telah menjadikan pasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan di bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Dalam surat (Adz-Dzariyat: 49) juga dijelaskan yang berbunnyi:

            

Artinya: Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

Nikah menurut bahasa adalah al-jam‟u dan al-dhamu yang artinya

kumpul. Maka nikah (zawaj) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwij yang

artinya akad nikah. Juga bisa diartikan (wath‟u al-zaujah) bermakna

menyetubuhi isteri. Menurut Rahmat Hakim: bahwa kata nikah berasal

dari bahasa Arab “nikahun” yang merupakan masdar atau asal kata dari

kata kerja (fi‟il madhi)“nakaha”, sinonimnya “tazawwaja” kemudian

diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai perkawinan. Kata nikah

42

(43)

sering juga dipergunakan sebab telah masuk dalam bahasa Indonesia.

Makna nikah adalah akad atau ikatan, karena dalam suatu proses

pernikahan terdapat ijab dan kabul. Selain itu nikah juga bisa diartikan

sebagai bersetubuh. Adapun menurut syara‟ bahwa nikah adalah akad

serah terima antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk saling

memuaskan satu sama lainnya dan untuk membentuk sebuah bahtera

rumah tangga yang sakinah serta masyarakat yang sejahtera. 43

Para ahli fikih berkata: zawwaj atau nikah adalah akad yang secara

keseluruhan di dalamnya mengandung kata nikah atau tazwij. “ akad yang

mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan kelamin dengan

lafadz nikah atau tazwij atau yang semakna keduanya”.44

Perkawinan menurut Sayuti Tha}li>b, ialah perjanjian suci membentuk

keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Perjanjian

tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan segi perkawinan serta

menampakkannya kepada masyarakat umum, sedangkan sebutan suci

dimaksudkan untuk menyatakan segi keagamaannya dari suatu

perkawinan”.Tinjauan perkawinan dari aspek agama dalam hal ini

terutama dilihat dari hukum Islam, yang merupakan keyakinan sebagian

besar masyarakat Indonesia. Menurut hukum Islam khususnya yang diatur

dalam Ilmu Fiqih, pengertian perkawinan atau akad nikah adalah "ikatan

yang menghalalkan pergaulan danmembatasi hak dan kewajiban serta

43

Beni Ahmad Soebani, Fiqih Munakahat (Bandung:Pustaka Setia, 2013, 11.

44

Tihami, Fikih Munakahat Kajian Fikih NikahLengkap (Jakarta: Rajagrafindo Persada,

(44)

bertolong-tolongan antaraseorang laki-laki dan seorang perempuan yang

antara keduanyabukan merupakan muhrim”.45

1) Hukum Perkawinan

Menurut Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, perkawinan

merupakan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua

makhluk Tuhan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan.46

Menurut Ibn Rusyd; bahwa segolongan fuqaha‟, yakni mayoritas ulama

berpendapat bahwa nikah itu hukumnya sunnah. Golongan zahiriyah

berpendapat bahwa nikah itu wajib. Para ulama Malikiyah mutaakhirin

berpendapat bahwa nikah itu wajib untuk sebagian orang, sunnah untuk

sebagian lainnya dan mubah untuk segolongan yang lain. Demikian itu

menurut mereka ditinjau berdasarkan kekhawatiran dirinya.47

Perbedaan pendapat ini kata Ibn Rusyd disebabkan adanya

penafsiran apakah bentuk kalimat perintah dalam ayat dan hadis-hadis

yang berkenaan dengan masalah ini, harus diartikan wajib, sunnah

ataukah mungkin mubah. Dalam surat al-Nisa:3 dijelaskan bahwa:

                           

Artinya: ……Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi :

dua, tiga atau empat. …...

45

Ibid.

47

(45)

Bagi fuqaha yang berpendapat bahwa kawin itu wajib bagi

sebagian orang, sunnah untuk sebagian yang lain, dan mubah untuk

yang lain, maka pendapat ini didasarkan atas pertimbangan

kemaslahatan. Qiyas seperti inilah yang disebut qiyas mursal. Yakni

suatu qiyas yang tidak mempunyai dasar penyandaran. Kebanyakan

ulama mengingkari qiyas tersebut, tetapi dalam madzhab Maliki

tampak jelas dipegangi.

Menurut Ulama kontemporer Al-Jaziri mengatakan bahwa

sesuai dengan keadaan orang yang melakukan perkawinan, hukum

nikah berlaku untuk hukum-hukum syara‟ yang lima, adakalanya wajib,

haram, makruh, sunnah, dan adakalanya mubah.

a. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Wajib

Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan

untuk kawin dan dikhawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina

seandainya tidak kawin maka hukum melakukan perkawinan bagi

orang tersebut adalah wajib. Hal ini didasarkan pada pemikiran

hukum bahwa setiap muslim wajib menjaga diri untuk tidak berbuat

yang terlarang. Jika penjagaan diri itu harus dengan melakukan

perkawinan, sedang menjaga diri itu wajib, maka hukum melakukan

perkawinan itupun wajib sesuai dengan kaidah yang mengatakan

(46)

“Sesuatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka

sesuatu itu hukumnya wajib juga.”48

b. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Sunnah.

Orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan

untuk melangsungkan perkawinan, tetapi kalau tidak kawin tidak

dikhawatirkan akan berbuat zina, maka hukum melakukan

perkawinan bagi orang tersebut adalah sunnah. Alasan menetapkan

hukum sunnah itu ialah dari anjuran Al-Qur‟an yang disebutkan

dalam surat An-Nur:32 yang berbunnyi:

                                  

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba-hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Tetapi berdasarkan qorinah-qorinah yang ada, perintah nabi

tidak memfaidahkan hukum wajib, tetapi hukum sunnah saja.

c. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Haram

Bagi orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak

mempunyai kemampuan serta tanggung jawab untuk melaksanakan

kewajiban-kewajiban dalam rumah tangga sehingga apabila

melangsungkan perkawinan akan terlantarlah dirinya dan isterinya,

48

(47)

maka hukum melakukan perkawinan bagi orang tersebut adalah

haram. Dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah: 195 dijelaskan bahwa:

                      

Artinya: ….. Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke

dalam kebinasaan……..

Termasuk juga hukumnya haram perkawinan bila seseorang

kawin dengan maksud untuk menerlantarkan orang lain, masalah

wanita yang dikawini itu tidak diurus hanya agar wanita itu tidak

dapat kawin dengan orang lain.

d. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Makruh.

Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan

perkawinan juga cukup mempunyai kemampuan untuk menahan diri

sehingga tidak memungkinkan dirinya tergelincir berbuat zina

sekiranya tidak kawin. Hanya saja orang ini tidak mempunyai

keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi kewajiban suami istri

dengan baik.

e. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Mubah.

Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk

melakukannya, tetapi apabila tidak melakukannya, tidak khawatir

akan ber

Referensi

Dokumen terkait

Kajian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi kitab tadabbur al- Qur’a&gt;n karya Bahctiar Nasir. Kitab tadabbur al- Qur’a&gt;n ini bisa katakan sebagai satu -satunya

Apabila memperhatikan ayat-ayat tersebut di atas, maka Allah menyebutkan dua pandangan yaitu: al-kitab (al- Qur’an) dan al -Hikmah. Imam Syafi’i telah mendengar pendapat

Dengan melakukan kajian secara teori tentang relevansi konsep pendidikan Islam perspektif Imam Al-Ghazali ketika dikaitkan dalam pengajaran perkuliahan di STAI

“Kerasulan Muhammad dalam perspektif al -Quran dan al- Kitab” maka dengan demikian berdasarkan hal tersebut penulis akan menguraikan perbandingannya sebagai berikut:

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etika peserta didik perspektif imam al ghazali terlah dalam kitab ihya’ ulumuddin yaitu, Seorang peserta didik harus membersihkan /

Imam al-Shafi’i dikenali sebagai tokoh fiqh hasil daripada keilmuan yang tinggi dan peninggalan kitab ulung seperti al-Umm dan al-Risalah yang menjadi rujukan dasar Mazhab Shafi’i di

Ajaran moderasi tersebut berasal darii nasehat-nasehat imam al-Ghazali di dalam kitab Ayyuha al Walad Tesis: Muhammad Mahrus: Metode Penddikan Islam menurut Imam Al- Ghazali

SHAHIH TERJEMAH KITAB AL-M �THA IM MALIK MALIK BIN ANAS BIN MALIK BIN 'AMR, AL-IMAM, ABU'ABD ALLAH AL-HUMYARI AL-ASBAHI