DALAM KITAB
AL-UMM
TESIS
Oleh:
ANI SAUL MUTHOHAROH NIM 212315009
PROGRAM STUDI AH{WA<L SYAKHS{IYYAH
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
DALAM KITAB AL-UMM
TESIS
Diajukan pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo untuk Memenuhi Tugas Akhir dalam Penyelesaian
Program Magister Ahwal Syakhsiyyah
Oleh:
ANI SAUL MUTHOHAROH NIM 212315009
PROGRAM STUDI AH{WA<L SYAKHS{IYYAH
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
ii
Terakreditasi B sesuai SK BAN-PT Nomor : 2619/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PT/XI/2016 Alamat: Jl. Pramuka 156 Ponorogo 63471 Telp. (0352) 481277 Fax. (0352) 461893
Website: www.iainponorogo.ac.id Email: [email protected]
Kepada Yth.
Direktur Pascasarjana
Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Di
Ponorogo
NOTA PERSETUJUAN Assalamu‟alaikum Wr. Wb.
Setelah membaca, meneliti, membimbing dan melakukan perbaikan seperlunya, maka tesis saudara:
Nama : Ani Saul Muthohharoh NIM : 212315009
Judul : Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam Al-Shafi’i
dalam Kitab Al-Umm
Telah saya setujui dan dapat diajukan untuk memenuhi tugas akhir dalam menempuh Program Pascasarjana pada Program Studi Ahwal Syakhsiyyah IAIN Ponorogo.
Dengan ini saya ajukan tesis tersebut pada sidang tesis yang diselenggarakan oleh tim penguji yang ditetapkan oleh Direktur Pascasarjana.
Wa‟alaikum salam Wr. Wb.
Ponorogo, 3 Juli 2017 Pembimbing
iii
Terakreditasi B sesuai SK BAN-PT Nomor : 2619/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PT/XI/2016 Alamat: Jl. Pramuka 156 Ponorogo 63471 Telp. (0352) 481277 Fax. (0352) 461893
Website: www.iainponorogo.ac.id Email: [email protected]
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TESIS
Tesisi yang berjudul: “Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam Al-Shafi’i dalam Kitab Al-Umm” yang ditulis oleh Ani Saul Muthoharoh,
NIM: 212315009, telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Tesis dan telah
diperbaiki sesuai dengan saran-saran Tim Penguji pada ujian tesis
TIM PENGUJI:
Ketua Sidang
Zahrul Fata, M.IRK,Ph.D.
NIP 197504162009011009 Tanggal, 9 Agustus 2017
Penguji I
Dr. Moh. Shohibul Itmam, M.H. NIP 197902152009121003
Penguji II
Iza Hanifuddin, Ph.D. NIP 196906241998031002
(………) Tanggal, 9 Agustus 2017
Ponorogo, 9 Agustus 2017 Mengesahkan,
Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo
iv
Terakreditasi B sesuai SK BAN-PT Nomor : 2619/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PT/XI/2016 Alamat: Jl. Pramuka 156 Ponorogo 63471 Telp. (0352) 481277 Fax. (0352) 461893
Website: www.iainponorogo.ac.id Email: [email protected]
PERNYATAAN DAN KEASLIAN TULISAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Ani Saul Muthohharoh
NIM : 212315009
Program Studi : Magister Ahwal Syakhsiyyah
Perguruan Tinggi : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul: “Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam Al-Shafi‟i Dalam Kitab Al-Umm” adalah benar-benar hasil karya sendiri. Di dalamnya tidak terdapat bagian yang berupa plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku. Apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan di dalam karya tulis ini, saya bersedia menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya.
Ponorogo, 9 Agustus 2017 Penulis,
v
vi
mengarungi samudra Ilahi Robbi tanpa ada batasan sedikit pun, dengan keringat yang bercucuran dan yang air mata yang mengalir deras, kupersembahkan karya tulis tesis ini untuk orang-orang selalu hadir, menemani serta member dorongan yang sangat besar dan berharap keindahan-Nya. Kupersembahkan bagi mereka yang
tetap setia berada di ruang dan waktu kehidupan ku khususnya untuk:
Kedua orang tuaku yang paling kusayangi ( Bapak Mahfud Efendi dan Ibu Sumiati) beliau yang telah mendidik dan menyayangi saya sejak kecil sampai sekarang dan detik ini, serta memberi semangat dan motivasi dalam menjalanipahit dan manisnya hidup ini.
Suamiku yang telah sabar membantu dalam hal apa-pun.
Para Dosen IAIN Pascasarjana khususnya Dosen Syari‟ah yang selalu membimbing dan member wawasan serta ilmu yang beliau punya dan selalu member petuah tentang hakikat kehidupan.
Kakakku tercinta dan Adikku yang kusayang ( Ika Nur Diana Wati dan Huda Efendi Saputra) yang telah memberikan motivasi untuk semangat dalam mengerjakan skripsi.
Teman-temanku Jurusan AS, Fakultas Syari‟ah angkatan 2017 yang selalu bersama-sama dalam meraih cita-cita dan keinginan yang luhur.
Kawan-kawan disetiap almamater yang ku singgahi, pp Al-Islam Joresan, PP Al-Aminah Jalen, Asrama Joresan sampai IAIN Ponorogo yang ku tersayang, terima kasih atas kenangan yang takkan ku lupakan dalam hidupku.
vii
Program Studi Ahwal Shakhsiyyah, Program Pascasarjana, Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Iza Hanifuddin, Ph.D
Kata Kunci: Perkawinan, Kewarisan, Mafqu<<<<<d, Tirkah, Mashlahah.
Mafqu>d yang dimaksud di sini adalah seorang suami yang hilang dan tidak diketahui kabarnya, apakah harus dikatakan hidup atau sudah meninggal, serta ada batasan-batasan waktu orang bisa dikatakan masih hidup atau sudah meninggal. Begitu pula mengenai status perkawinan mafqu>d. Untuk menentukan seseorang dikatakan hilang (mafqu>d) tentu bukanlah hal yang mudah. Di dalam KUH Perdata (BW) pasal 467 dijelaskan bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka 5 tahun, Sedangkan diukur dengan jangka waktu menurut Imam Abu H{ani>fah mengemukakan harus melewati waktu 90 tahun. Sedangkan menurut Imam al-Shafi‟i yaitu empat tahun yang dasar hukumnya ada dalam kitab Al-Umm, Untuk mengungkap hal tersebut, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perspektif Imam Al-Shafi’i tentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm? 2. Bagaimana epistimologi Imam Al-Shafi’i mengenai mafqu>d dalam kitab Al-Umm? 3. Bagaimana status hukum perkawinan dan kewarisan mafqu>d perspektif Imam Al-Shafi‟i dalam kitab al-Umm?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research (kajian kepustakaan), yaitu penelitian dengan menggunakan upaya pencarian dokumen atau kepustakaan yang berdasarkan kitab, buku, dan lainnya. Metode Penelitiannya menggunakan metode Normatif.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa:1. Penggunaan asal kata mafqu>d adalah dari Al-Qur‟an Surat Yusuf ayat 72. Karena kata mafqu>d memiliki arti kehilangan yang dapat dipakai untuk menyebutkan orang yang hilang. Perspektif Imam Al-Shafi’i> tentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm adalah orang dapat dikatakan hilang ketika lebih dari 4 (empat) tahun tidak diketahui keberadaannya atau sudah lewat masa yang orang-orang seperti dia tidak dapat hidup lagi menurut adat. 2. Epistemologi pendapat Imam Al-Shafi>’i> tentang mafqu>d adalah ditentukan tenggang waktu vonis kematian kepada mafqu>d, diterangkan juga orang hilang dikatakan meninggal dunia adalah 90 tahun menurut Abu Hanifah. Hal ini dilatarbelakangi dengan melihat umur orang-orang yang sebayanya di wilayahnya. Namun, pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam
viii
telah melimpahkan segala nikmat, taufik dan rahmad-Nya, sehingga dapat menyelesaikan tesis dengan judul, “Status Hukum Perkawinan Mafqud Perspektif Imam Al-Shafi‟i Dalam Kitab Al-Umm”.
Shalawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita
Nabi besar Muhammad saw. beserta para sahabat yang selalu berpegang teguh dalam memperjuangkan agama Allah SWT. Keberhasilan Penulis dalam
menyelesaikan tesis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag. selaku Rektor IAIN Ponorogo yang
telah menerima Penulis untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan ini.
2. Bapak Dr. Aksin, M.Ag. Selaku Direktur Pascasarjana (IAIN) Ponorogo
3. Bapak Dr. Abid Rohmanu, M.H.I. selaku Ketua Program Studi Ahwal
Syakhsiyyah Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
4. Bapak Iza Hanifuddin, Ph.D. selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, arahan, serta penyusunan laporan penelitian ini hingga
dapat diselesaikan.
5. Segenap Dosen dan civitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo yang telah memberikan ilmu, bantuan dan kemudahan.
6. Kedua orang tua yang telah mengiringi masa-masa perkuliahanku dengna do‟a.
7. Suamiku yang telah memberi motivasi kepada saya,
8. Semua pihak yang telah banyak membantu hingga terselesaikannya
penyusunan tesis ini yang tak mungkin disebutkan satu persatu.
Semoga semua amal baik mereka diridhoi Allah Swt, dan diterima sebagai
amal shalih serta dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Akhirnya peneliti
berharap semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan
demi sempurnanya penelitian ini.
Ponorogo, 9 Agustus 2017 Penulis
ix
pedoman transliterasi berdasarkan buku pedoman penulisan Tesis Pasca
Sarjana IAIN Ponorogo 2017 sebagai berikut:
Arab Indonesia Arab Indonesia
ء
‘ض
d{ب
Bط
t{ت
Tظ
z{ث
Thع
‘ج
Jغ
ghح
h{ف
fخ
Khق
qد
Dك
kذ
Dhل
lر
Rم
mز
Zن
nس
Sو
wش
Shه
hص
s{ي
y2. Untuk menunjukkan bunyi hidup panjang caranya dengan menuliskan
coretan horisontal diatas huruf u>, i>, dan a>,
3. Bunyi hidup dobel (diftong) Arab ditransliterasikan dengan menggabung dua huruf ‚ay‛ dan ‚aw‛
Contoh: bayna, „alayhim, qawl, mawd}ū’ah.
4. Kata yang ditransliterasikan dan kata-kata dalam bahasa asing yang belum
x Contoh:
Ibn Taymiyah bukan Ibnu Taymiyah. Inna al-din‟inda Allah al Islam bukan Inna al-dina‟inda Allahi al-Islamu … fahuwa wa>jib bukan fahuwa
wa>jibuatau fahuwa wa>jibun.
6. Kata yang berakhir dengan ta‟marbuthah dan berkedudukan sebagai sifat
(na‟at) dan idhafah ditransliterasikan dengan “ah” sedangkan mudhaf
ditransliterasikan dengan “at”
Contoh:
1. Na‟at dan mud}a>f ilayh : sunnah sayyi‟ah
2. Mud{af: d}awa>bith al-qira>’ah
7. Kata yang berakhiran dengan (ya‟ bertashdid) ditransliterasikan dengan i>.
Jika i> diikuti oleh ta‟ marbut}ah maka transliterasinya adalah i>yah. Jika ya‟
bertashdid berada di tengah kata ditransliterasikan yy.
Contoh:
xi
HALAMAN SAMPUL ... i
NOTA PERSETUJUAN ... ii
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TESIS ... iii
PERNYATAAN DAN KEASLIAN TULISAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix
HALAMAN DAFTAR ISI ... xi
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Penegasan Istilah ... 9
C. Rumusan Masalah ... 9
D. Tujuan Penelitian ... 10
E. Kegunaan Penelitian ... 10
F. Kajian Terdahulu ... 11
BAB II : KAJIAN MADZHAB DAN HUKUM ISLAM TENTANG MAFQUD A. Pengertian mafqu>d... 13
xii BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian ... 56
B. Teknik Pengumpulan Data ... 56
C. Objek Penelitian ... 57
D. Sumber Data… ... 57
E. Metode Analisis Data ... 58
F. Sistematika Pembahasan... 59
BAB IV : BIOGRAFI IMA<M AL-SHA<FI’I< A. Biografi Imam Al-Sha<fi’i ... 61
1. Nasab dari Pihak Bapak dan ibu ... 61
2. Kelahiran dan Garis Keturunan... 61
3. Istri Imam Shafi‟i serta Kelebihan Imam Shafi‟i ... 65
4. Guru dan Murid Imam al-Sha>fi>’i ... 68
5. Karya-karya karangan Imam al-Sha>fi>’i ... 69
6. Kelebihan Imam al-Sha>fi>’i... 71
7. Wafatnya Imam al-Sha>fi>’I ... 79
BAB V : ANALISIS PENDAPAT IMA<M AL-SHA>FI>’I A. Analisis tentang Pendapat Imam Shafi>’i> tentang Mafqu>d dalam Kitab Al-Umm ... 80
xiii
Kitab Al-Umm ... 87
BAB VI : PENUTUP ...
A. Kesimpulan ... 93
B. Saran-saran ... 94
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Dalam hukum Islam membahas berbagai hal tentang kehidupan
manusia. Di antaranya adalah yang akan dibahas pada penelitian ini mengenai
status perkawinan dan kewarisan. Selain kedua hal tersebut masuk pada
wilayah hukum Islam, antara perkawinan dan kewarisan tentunya memiliki
keterkaitan yang erat. Bukti dari hal tersebut adalah dalam ilmu mawaris
tentunya terdapat pembahasan tentang penyebab warisan. Penyebab seseorang
berhak menerima warisan adalah adanya perkawinan, nas}ab(kekerabatan),
wala‟1
(memerdekakan hamba sahaya atau budak), dan aspek keislaman.2
Begitu pula mengenai status perkawinan dan kewarisan mafqu>d. Untuk
menentukan seseorang dikatakan hilang (mafqu>d) tentu bukanlah hal yang
mudah. Di dalam KUH Perdata (BW) pasal 467 dijelaskan bahwa seseorang
yang telah pergi meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka 5 tahun,
atau telah lewat 5 tahun sejak terakhir didapat berita kejelasan tentang keadaan
orang tersebut, tanpa memberi kuasa untuk mewakili urusan-urusan dan
kepentingan-kepentingannya, dapat dimohonkan oleh pihak yang memiliki
kepentingan keperdataan dengan orang tersebut ke pengadilan untuk dipanggil
menghadap ke persidangan untuk memastikan keberadaan dan nasibnya.
1
Otje Salman, Hukum Waris Islam (Bandung:PT.Refika Aditama, 2010, 49.
2Abu Ihsan, S}ahi>h Fiqih Sunnah
Jangka waktu ini adalah dalam waktu 3 bulan.3
Dalam menentukan tenggang waktu yang dijadikan ukuran seseorang
yang hilang tersebut masih dalam keadaan masih hidup atau sudah mati, Imam
Al-Shafi’imenjelaskan dari pendapatnya „Umar ibn Khattab bahwa tenggang waktu yang diperbolehkan untuk memberikan vonis kematian kepada si
mafqu>dialah 4 tahun, maka dengan adanya keputusan hakim tersebut harta si
mafqu>d itu boleh dibagikan kepada ahli warisnya sesuai dengan ketentuannya.4
Tenggang waktu tersebut disandarkan kepada perkataan Sayyidina „Umar r.a.,
yang mengatakan:
(ﻗـ
ﻰﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ﻝﺎ
)
ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺎﻤﻳﺍ ﻝﺎﻗ ﺏﺎﻄﳋﺍ ﺮﻤﻋ ﹼﻥﺍ ﺐﻴﺴﳌﺍ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﲕﳛ ﻦﻋ ﻚﻟﺎﻣ ﺎﻧﱪﺧﺍ
ﻭ ﺮﻬﺷﺍ ﺔﻌﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﰒ ﲔﻨﺳ ﻊﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﺎﻬﻧﺎﻓ ﻮﻫ ﻦﻳﺍ ﺭﺪﺗ ﱂ ﺎﻬﺟﻭﺯ ﺕﺪﻘﻓ
ﺮﺸﻋ
“Imam Al-Shafi’i berkata: Ima>m Malik menggambarkan kepada saya dari
Yah}}}yabin Sa‟id bin Musayyab bahwasanya „Umar bin Khattab berkata; setiap
perempuan yang ditinggalkan pergi oleh suaminya yang tiada mengetahui di mana suaminya, maka ia diminta menaati 4 (empat) tahun. Kemudian setelah itu beriddah 4 bulan 10 hari dan kemudian ia menjadi halal (HR. Bukha>ri> dan
Shafi’i.‛
Dari keterangan di atas, dapat dilihat bahwa Imam Al-Shafi’i membolehkan seorang hakim dalam memutuskan orang yang hilang (mafqu>d)
setelah menanti lebih dari 4 (empat) tahun atau sudah lewat masa yang
orang-orang seperti dia tidak dapat hidup lagi menurut adat.
Ada dua pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam mencari
kejelasan status hukum orang yang hilang, di antaranya adalah berdasarkan
3
Subekti, Kitab UU Perdata (Jakarta: Pradnya Paramita, tt), 144.
4Ima>m Sha>fi>’i>
, Al-Umm.Terj., 395.
5Ima>m Abi ‘Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Shafi>’i>,
bukti-bukti otentik yang dapat diterima secara syari‟at Islam, misalnya putusan
tersebut berdasarkan persaksian dari orang yang adil dan terpercaya. Jika
demikian hal nya, maka si mafqu>d sudah hilang status mafqu>dnya, ia
ditetapkan seperti orang yang mati hakiki sejak diputuskan. Selain itu juga
dapat dilihat berdasarkan batas waktu lamanya kepergian.6
Sedangkan, untuk menentukan hidup atau matinya orang yang hilang,
ulama-ulama berbeda pendapat. Seorang yang hilang dianggap sudah
meninggal dunia apabila teman-teman sebayanya yang ada di tempat itu sudah
mati (pendapat ini dipegang oleh ulama‟ H{anafiyah), sedangkan diukur dengan
jangka waktu Imam Abu H{ani>fah mengemukakan harus melewati waktu 90
tahun. Pendapat Imam Al-Shafi’i mengenai batas waktu orang yang hilang adalah 90 Tahun yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebayanya di
wilayahnya. Namun, pendapat yang paling shohih menurut anggapan Imam Al -Shafi’iadalah batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan
tetapi cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim, kemudian
divonisnya sebagai orang yang telah mati. Karena menurut Imam Al -Shafi’iseorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang
yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati
sesudah berlalunya waktu tertentu, kebanyakan orang tidak hidup melebihi
waktu tersebut. Seseorang yang hilang di anggap sudah meninggal dunia
apabila telah terlewati tenggang waktu 70 tahun. Sepotong Hadis Nabi
menyatakan bahwa”Umur umatku antara 70 dan 60 tahun”. Hasan bin Ziyad
6
Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Dunia
berpendapat harus ditunggu secara sempurna 120 tahun 7.
Menurut bahasa, kata mafqu>d dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna
menghilang.Kata mafqu>d merupakan bentuk isim maf‟ul dari kata faqida yafqadu
yang artinya hilang.8Jadi, katamafqu>d secara bahasa artinya ialah hilangnya
seseorang karena suatu sebab-sebab tertentu. Adapun pengertian mafqu>dmenurut
istilah, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama yaitu:
Kalangan Hanafiyah mengatakan bahwa mafqu>d ialah:orang yang tidak
diketahui hidup dan matinya.9 Sementara Kalangan Malikiyyah menjelaskan
bahwa: mafqu>d ialah orang yang hilang dari keluarganya dan mereka merasa
kehilangan orang tersebut hingga terputus kabar mengenai orang yang hilang
tersebut.10Wahbah Zuhaili memberikan penjelasan mafqu>d ialah orang hilang
yang tidak diketahui apakah masih hidup yaitu bisa dharapkan kehadirannya
ataukah sudah mati berada dalam kubur.11
Orang yang hilang dalam Fiqih disebut ‚mafqu>d” yakni orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui hidup-matinya.12 Menurut
H{as}biAs}-S}iddiqi bahwa mafqu>d adalah orang pergi (tidak ada di tempat) yang
tidak diketahui alamatnya (tempat tinggalnya) dan tidak pula diketahui apakah
dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.13
7
Amis syarifuddin, Hukum kewarisan islam.
8
Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap
(Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997), 321. 9
Ibnu Humam Al Hanafi, Fathul Qadir Juz 6 (Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyah,t.th), 133.
10
Abu bakar bin Hasan Al- Kasynawi, Ashal Al- MadarikJuz 1(Beirut: Dar Al- KutubAl-
Ilmiyah, t.th), 407. 11
Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu(Damaskus: Dar Al- Fikr, 2006), 7187.
12
Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2012),
135. 13
Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa mafqu>dyaitu
hilangnya seseorang dari suatu tempat, tidak diketahui kabar dan keberadaannya
secara pasti, serta tidak diketahui apakah dirinya masih hidup atau sudah
meninggal dunia. Suami yang mafqu>dyakni seorang suami yang hilang dari
keluarganya tanpa diketahui dimana dia berada dan kapan dia akan kembali.
Kepergian suami mungkin karena kesengajaan dengan motif melarikan diri akibat
suatu hal, atau mungkin karena ia meninggal dunia dan tidak diketahui kabarnya,
atau mungkin karena hal lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
suami yang mafqu>dadalah seorang suami yang hilang dari keluarganya tanpa
diketahuitempat tinggalnya dan kabar mengenai hidup atau matinya.
Orang yang hilang menurut situasi dan kebiasaannya ia akan binasa
(seperti waktu peperangan, tenggelam waktu pelayaran atau pesawat jatuh dan
temannya ada yang selamat), maka orang yang hilang harus diselidiki selama 4
tahun, jika tidak ada kabar beritanya, maka hartanya sudah dapat dibagi,
pendapat ini dipegang oleh ulama-ulama Hanabilah. Sedangkan apabila
kehilangan tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa yang membawa kematian
(seperti pergi berdagang atau merantau) ulama Hanabilah berbeda pendapat,
yaitu: menunggu sampai 90 tahun sejak ia dilahirkan atau diserahkan kepada
ijtihad hakim.ia jelas hidup pada saat kematian pewaris dan diantara syarat
pemaris ialah pasti tentang kematiannya. Ketidakpastian tersebut menimbulkan
masalah dalam kewarisan. mafqu>d dalam kewarisan ini menyangkut dua hal
yaitu: dalam posisinya sebagai pewaris, berkaitan dengan peralihan hartanya
peralihan harta pewaris kepadanya secara legal.14
Dalam faraid dijelaskan, hukum kewarisan adalah hukum yang
mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan (tirkah)
pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa
bagiannya masing-masing.15 Unsure-unsur Hukum waris di Indonesia ada tiga
yaitu: (a.) Pewaris adalah orang yang telah meninggal dunia dan meninggalkan
sesuatu yang dapat beralih kepada keluarganya yang masih hidup, baik
keluarga melalui hubungan kekerabatan, perkawinan maupun keluarga melalui
persekutuan hidup dalam rumah tangga. (b.) Harta warisan adalah harta
kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia kepada ahli
warisnya. Harta warisan tersebut terdiri atas: harta bawaan atau harta asal,
harta perkawinan, harta pusaka dan harta yang menunggu. (c.) Ahli waris
adalah orang yang berhak menerima warisan.16
Nikah dalam syari‟at Islam maksudnya adalah akad perkawinan.17
Mengenai permasalahan seorang istri yang ditinggal lama oleh suaminya
hendaknya sabar dan tidak boleh menuntut cerai, ini adalah pendapat dari
madzhab Al-Shafi’i, H{anafi, , Dha>hiriyah. Sedangkan menurut riwayat ImamMalik, bahwa apabila ada laki-laki yang hilang di negara Islam dan
terputus beritanya, maka istrinya harus melapor kepada hakim, dan apabila
hakim tidak mampu untuk mendapatkannya, maka istrinya diberi waktu
menunggu selama 4 tahun, dan kalau waktu 4 tahun sudah terlewati, maka
14
Ibid. 15
Rachmadi Usman, Hukum Kewarisan Islam dimensi KHI.
16
Zainuddin, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesi (Jakarta:Sinar Grafika,2012, 2-3.
17
istrinya beriddah sebagaimana lazimnya seorang istri yang ditinggal mati oleh
suaminya, dan setelah itu diperkenankan kawin dengan laki-laki lain. Dengan
riwayat tersebut berarti seseorang yang hilang dapat dinyatakan mati setelah
lewat waktu 4 tahun.
Selain perkawinan, hukum kewarisan dalam Islam juga mendapat
perhatian besar, karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat
yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggal mati pewarisnya.
Naluri manusia yang menyukai harta benda tidak jarang memotivasi seseorang
untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan harta benda tersebut,
termasuk didalamnya terhadap harta peninggalan pewarisnya sendiri.
Kenyataan demikian telah ada dalam sejarah umat manusia hingga sekarang
ini.Terjadinya kasus-kasus gugat waris di pengadilan, baik pengadilan agama
maupun pengadilan negeri menunjukkan krusialnya fenomena tersebut.18
Turunnya ayat-ayat al-Qur‟an yang mengatur pembagian harta warisan
yang menunjukkannya bersifat qath’i> al-dalalah adalah merupakan refleksi sejarah dari adanya kecenderungan materialistis umat manusia, disamping
sebagai rekayasa sosial terhadap sistem hukum yang berlaku di masyarakat.19
Hukum kewarisan sebagai suatu pernyataan tekstual yang tercantum dalam
al-Qur‟an merupakan suatu hal yang absolut dan universal bagi setiap muslim
untuk mewujudkan dalam kehidupan sosial. Sebagai ajaran yang universal,
hukum kewarisan Islam mengandung nilai-nilai abadi dan unsur yang berguna
untuk senantiasa siap mengatasi segala kesulitan sesuai dengan kondisi ruang
18
Akhmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia(Jakarta: Grafindo, 1998), 355.
dan waktu.20 Namun demikian, masih terdapat masalah-masalah mengenai
hukum waris yang tidak tercantum dalam al-Qur‟an sehingga menimbulkan
perbedaan pendapat dikalangan ahli hukum fikih, diantara salah satunya adalah
pusaka orang yang hilang (mafqu>d).
Dalam konteks kewarisan seseorang yang hilang (mafqu>d), dia dapat
berperan sebagai pewaris ataupun ahli waris. Bila dalam kepergiannya
meninggalkan harta, maka ia berperan sebagai pewaris. Sedangkan, jika ia
adalah orang yang berhak mendapat warisan, maka ia disebut ahli waris.
Dalam hal ini para ulama sepakat menetapkan bahwa harta dari pewaris yang
hilang ditahan dahulu sampai ada berita yang jelas. Namun, para ulama‟
berbeda pendapat sampai kapan penangguhan dilakukan, apakah ditetapkan
berdasarkan perkiraan waktu saja atau diserahkan kepada ijtihad hakim.
Islam menganjurkan pernikahan dan menyatakan bahwa nikah termasuk
sunnah dan jejak para Rasul. Allah berfirman,”Dan sesungguhnya kami telah
mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka
istri-istri dan keturunan21 Dalam qaul jadid (Kitab Al-Umm) ditetapkan bahwa
istri yang ditinggal suami tanpa berita, maka istrinya tidak diperbolehkan
menikah dengan orang lain sampai diperoleh kepastian bahwa suaminya telah
mati atau telah menceraikannya dan kemudian ia menjalani iddah.22
Dari uraian di atas peneliti melakukan penelitian mengenai status
perkawinan dan kewarisan mafqu>d menurut perspektif Imam Al-Shafi’idalam
20
Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Dunia
Pustaka Jaya, 1995), 1. 21
ibid 22
kitab Al-Umm. Maka atas dasar latar belakang tersebut, peneliti mengadakan
penelitian dengan judul “Status Hukum Perkawinan Mafqu>d Perspektif Imam
Al-Shafi’i> dalam Kitab Al-Umm”.
B.Penegasan Istilah
1. Perkawinan: ikatan yang menghalalkan pergaulan danmembatasi hak dan
kewajiban serta bertolong-tolongan antaraseorang laki-laki dan seorang
perempuan yang antara keduanyabukan merupakan mahram.
2. Hukum kewarisan Islam: hukum yang mengatur peralihan pemilikan harta
peninggalan (tirkah) pewaris, menetapkan siapa-siapa yang berhak menjadi
ahli waris, menentukan berapa bagian masing-masing ahli waris, dan
mengatur kapan pembagian harta kekayaan pewaris dilaksanakan.
3. Mafqu>d: orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui
hidup-matinya.
C.Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini antaralain:
1. Bagaimana perspektif Imam Al-Sha>fi>’i tentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm?
2. Bagaimana epistimologi Imam Al-Sha>fi>’i mengenai mafqu>d dalam kitab Al-Umm?
3. Bagaimana status hukum perkawinan dan kewarisan mafqu>d perspektif
D.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menjelaskan perspektif Imam Al-Shafi’itentang mafqu>d dalam kitab Al-Umm.
2. Untuk menjelaskan epistimologi Imam Al-Shafi’imengenai mafqu>d dalam kitab Al-Umm.
3. Untuk menjelaskan status hukum perkawinan dan kewarisan mafqu>d
perspektif Imam Al-Shafi’idalam kitab Al-Umm.
E.Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan apa yang telah diungkapkan dalam tujuan penelitian, besar
harapan penulis untuk bisa memberikan manfaat dari penyusunan tesis ini, baik
secara khusus bagi pribadi penulis maupun secara umum bagi para pembaca.
Setidaknya ada 2 hal yang menjadi kegunaan penyusunan tesis ini, yaitu:
1. Secara teoritis
Diharapkan dapat memberikan kontribusi khazanah keilmuan dalam
kajian hukum Islam, khususnya dalam kajian ilmu waris Islam dan hukum
perkawinan.
2. Secara praktis
Tulisan ini diharapkan memberikan pemahaman yang bisa diterima
oleh masyarakat muslim tentang permasalahan penetapan status hukum
-Shafi’idalam kitab Al-Umm. Sehingga nantinya, masyarakat dapat mengerti
ketentuan dan prosedur waris dari mafqu>d.
F. Kajian Terdahulu
Di samping memanfaatkan berbagai teori yang relevan dengan bahasan
ini, penulis juga melakukan telaah hasil penelitian terdahulu yang jenis
penelitiannya ada relevansinya dengan penelitian ini.
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ahlis Hanawa
pada tahun 2016 mahasiswa UIN SunanKalijaga Yogyakartajurusan
Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah dan Hukum, yang berjudul “Orang
Hilang (Al- mafqu>d) dalam Ilmu Waris (Menurut Imam Al-Shafi’idan Imam Abu H{anifah)”. Hasil penelitian menunjukkan bahwaImam Al-Shafi’idan Imam Imam Abu H{anifah memutuskan menggunakan is}tish}ab al-h}al, terkait
memutuskan kondisi orang yang hilang.Mereka juga memberikan kewenangan
kepada hakim untuk ikut serta dalam menangani kasus ini, membuat keputusan
kematian atau hidupnya orang yang hilang.Dalam putusan mereka juga harus
terdapat unsur maqa>sid. Karena dalam kasus ini menyangkut pula tujuan
hukum Islamyang dirangkum dalam teori maqa>sid, yakni menjaga harta, terkait
warisan dan menjaga keturunan, terkait perselisihan mengenai pembagian harta
peninggalan.Persamaan antara penelitian pertama ini dengan penelitian yang
akan dilakukan peneliti adalah terletak pada pembahasan tentang
mafqu>dmengenai hal kewarisan. Perbedaannya adalah pada penelitian yang
akan dilakukan oleh peneliti selain membahas tentang status kewarisan,
terletak pada perspektif yang digunakan. Pada penelitian pertama ini menurut
Imam Al-Shafi’idan Ima>m Abu H{anifah, sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti menurut hukum Islam dan perdata.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Andreas Pangoloan pada tahun
2016 mahasiswa Universitas Pasundan Bandung jurusan Ilmu Hukum fakultas
Hukum, yang berjudul “Analisis Hukum tentang Pembagian Harta Warisan
Orang Hilang (Mafqu>d) Menurut Hukum Islam.”.Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dalam pembagian warisan harta kekayaan menurut hukum
Islam dapat dilakukan apabila pewaris telah meninggal dunia dan ahli waris
mendapatkan hak-haknya setelah dikurangi oleh biaya-biaya hutang pewaris
dan bahwa batas waktu orang hilang yang dipersangkakan meninggal adalah
setelah 3 kali pemanggilan pengadilan atau dalam kurun waktu minimal 4
tahun tidak dapat diketahui keberadaanya maka dapat dinyatakan meninggal
oleh hakim melalui penetapan pengadilan. Persamaan antara penelitian pertama
ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah terletak pada
pembahasan tentang mafqu>d dan waris dalam hukum Islam. Perbedaannya
adalah pada penelitian kedua ini membahas tentang pembagian harta warisan
orang hilang (mafqu>d). Sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh
peneliti mengenai status hukum perkawinan orang yang hilang (mafqu>d).
Peneliti akan membahas bagaimanakah status perkawinan orang yang mafqu>d
tersebut, boleh menikah lagi atau harus menunggu suami yang mafqu>d
tersebut. Peneliti konsentrasi pada kitab al-Umm supaya lebih focus untuk
BAB II
KAJIAN MADZHAB DAN HUKUM ISLAM TENTANG MAFQUD
A.Pengertian Mafqud
Mafqud ialah bila seseorang pergi dan terputus kabar beritanya, tidak
diketahui tempatnya dan tidak diketahui apakah dia masih hidup atau sudah mati,
sedang hakim menetapkan kematiannya.23 Menurut bahasa, kata mafqu>d dalam
bahasa Arab secara harfiah bermakna menghilang. Kata mafqu>d merupakan
bentuk isim maf‟ul dari kata faqida, yafqadu yang artinya hilang.24Jadi,
katamafqu>d secara bahasa artinya ialah hilangnya seseorang karena suatu
sebab-sebab tertentu. Adapun pengertian mafqu>d menurut istilah, sebagaimana yang
dikemukakan oleh para ulama yaitu:
Kalangan Hanafiyah mengatakan bahwa mafqu>d ialah:orang yang tidak
diketahui hidup dan matinya.25 Sementara Kalangan Malikiyyah menjelaskan
bahwa: mafqud ialah orang yang hilang dari keluarganya dan mereka merasa
kehilangan orang tersebut hingga terputus kabar mengenai orang yang hilang
tersebut.26Wahbah Zuhaili memberikan penjelasan mafqu>d ialah orang hilang
yang tidak diketahui apakah masih hidup yaitu bisa dharapkan kehadirannya
ataukah sudah mati berada dalam kubur.27
23
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Bandung: Pt. Al-Ma‟arif, 1987, 306.
24
Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997), 321.
25Ibnu Humam Al Hanafi, Fathul Qadir,Juz 6, Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyah,t.th, hlm. 133 26
Abu bakar bin Hasan Al- Kasynawi, Ashal Al- Madarik, Juz 1, Beirut: Dar Al- Kutub Al- Ilmiyah, t.th, hlm. 407.
27
Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al- Islami Wa Adillatuhu, Juz. 9, Damaskus: Dar Al- Fikr, 2006, hlm. 7187.
Orang yang hilang dalam Fiqih disebut ‚mafqu>d” yakni orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui hidup-matinya.28 Menurut
H{as}biAs}-S}iddiqi> bahwa mafqu>d adalah orang pergi (tidak ada di tempat) yang
tidak diketahui alamatnya (tempat tinggalnya) dan tidak pula diketahui apakah
dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.29
Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa mafqu>dyaitu
hilangnya seseorang dari suatu tempat, tidak diketahui kabar dan keberadaannya
secara pasti, serta tidak diketa/hui apakah dirinya masih hidup atau sudah
meninggal dunia. Suami yang mafqu>d yakni seorang suami yang hilang dari
keluarganya tanpa diketahui dimana dia berada dan kapan dia akan kembali.
Kepergian suami mungkin karena kesengajaan dengan motif melarikan diri akibat
suatu hal, atau mungkin karena ia meninggal dunia dan tidak diketahui kabarnya,
atau mungkin karena hal lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
suami yang mafqu>dadalah seorang suami yang hilang dari keluarganya tanpa
diketahuitempat tinggalnya dan kabar mengenai hidup atau matinya.
Ketetapan hakim dalam memutuskan kematian ada kalanya berdasarkan
dalil, seperti kesaksian orang-orang yang adil. Dalam keadaan seperti ini
kematiannya pasti dan tetap sejak adanya dalil mengenai kematiannya.Ada
kalanya berdasarkan tanda-tanda yang tidak adil, dimana hakim memutuskan
kematian mafqu>d berdasarkan daluwarsa maka kematiannya adalah kematian
secara hukum, karena mungkin dia masih hidup.Dalam pembagian harta waris
28
Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group,2012), 135. 29
terhadap masalah mafqu>d ini para ulama sepakat mensistematisasi
pembagiannya seperti pembagian
waris dengan jalan perkiraan, seperti kewarisan khunsa dan anak dalam
kandungan.Batas waktu untuk menetapkan lematian mafqu>d para ulama fiqih
berselisih pendapat tentang batas waktu untuk menetapkan kematian mafqu>d
Imam Malik berpendapat bahwa masa tunggu seseorang yang dapat
dikategorikan sebagai mafqu>d adalah empat tahun. Hal ini didasarkan pada
sebuah hadis yang mengatakan:
“Setiap isteri yang ditinggal pergi oleh suaminya, sedang dia tidak
mengetahui di mana suaminya maka dia menunggu empat tahun.”30
Adapun menurut Imam Abu H{ani>fah, mengatakan bahwa masa tunggu
seseorang yang dapat dikategorikan sebagai mafqu>d tidak adanya ketentuan
batas waktu. Tetapi hal ini diserahkan kepada ijtihad hakim di setiap masa.
ImamAh}mad berpendapat bahwa apabila dia pergi ketempat yang
memungkinkan diamati maka sesudah diselidiki dengan teliti ditetapkan
kematiannya dengan berlalunya waktu empat tahun, karena biasanya dia sudah
meninggal.Yang demikian ini serupa dengan berlalunya masa yang tidak
mungkin dia hidup dalam masa seperti itu.31
Dalam menentukan tenggang waktu yang dijadikan ukuran seseorang
yang hilang tersebut masih dalam keadaan masih hidup atau sudah mati, Imam
Al-Shafi>’i> menjelaskan dari pendapatnya „Umar ibn Khattab bahwa tenggang waktu yang diperbolehkan untuk memberikan vonis kematian kepada si
30
Ibid, 151-152. 31
mafqu>d ialah 4 tahun, maka dengan adanya keputusan hakim tersebut harta si
mafqu>d itu boleh dibagikan kepada ahli warisnya sesuai dengan
ketentuannya.32 Tenggang waktu tersebut disandarkan kepada perkataan Umar
Ibn Khattab yang mengatakan:
(ﻗـ
ﻰﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ﻝﺎ
)
ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺎﻤﻳﺍ ﻝﺎﻗ ﺏﺎﻄﳋﺍ ﺮﻤﻋ ﹼﻥﺍ ﺐﻴﺴﳌﺍ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﲕﳛ ﻦﻋ ﻚﻟﺎﻣ ﺎﻧﱪﺧﺍ
ﻭ ﺮﻬﺷﺍ ﺔﻌﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﹼﰒ ﲔﻨﺳﻊﺑﺭﺍ ﺮﻈﺘﻨﺗ ﺎﻬﻧﺎﻓ ﻮﻫ ﻦﻳﺍ ﺭﺪﺗ ﱂ ﺎﻬﺟﻭﺯ ﺕﺪﻘﻓ
ﺮﺸﻋ
‚Ima>m Shafi’i> berkata: Ima>m Malik menggambarkan kepada saya dari Yah}ya
bin Sa‟id bin Musayyab bahwasanya „Umar ibn K}hattab berkata; setiap
perempuan yang ditinggalkan pergi oleh suaminya yang tiada mengetahui di
mana suaminya, maka ia diminta menaati 4 (empat) tahun.”
Dari keterangan di atas, dapat dilihat bahwa Imam Al-Shafi’i> membolehkan seorang hakim dalam memutuskan orang yang hilang (mafqu>d)
setelah menanti lebih dari 4 (empat) tahun atau sudah lewat masa yang
orang-orang seperti dia tidak dapat hidup lagi menurut adat.
Ada dua pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam mencari
kejelasan status hukum orang yang hilang, diantaranya adalah berdasarkan
bukti-bukti otentik yang dapat diterima secara syariat Islam, misalnya putusan
tersebut berdasarkan persaksian dari orang yang adil lagi terpercaya. Jika
demikian hal nya, maka si mafqu>d sudah hilang status mafqu>dnya, ia di
tetapkan seperti orang yang mati hakiki sejak diputuskan. Selain itu, juga dapat
dilihat berdasarkan batas waktu lamanya kepergian.34
32Ima>m Shafi>’i>
, Al-Umm.Terj., 395.
33Ima>m Abi ‘Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Shafi>’i>, Al-UmmJuz 7
(Dar Kotob Al-Ilmiyah: Beirut, 2002), 403.
34
Sedangkan, untuk menentukan hidup atau matinya orang yang hilang,
ulama-ulama berbeda pendapat.Seorang yang hilang dianggap sudah
meninggal dunia apabila teman-teman sebayanya yang ada di tempat itu sudah
mati (pendapat ini dipegang oleh ulama’ H{anafiyah), sedangkan diukur dengan
jangka waktu Imam Abu H{ani>fah mengemukakan harus melewati waktu 90
tahun yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebayanya diwilayahnya.
Namun, pendapat yang paling sa}hi>h menurut anggapan Imam Al-Shafi’i adalah batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi cukup
dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim, kemudian divonisnya
sebagai orang yang telah mati. Karena menurut Imam Al-Shafi’Iseorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak
lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati sesudah berlalunya waktu
tertentu, kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut.Seseorang
yang hilang di anggap sudah meninggal dunia apabila telah terlewati tenggang
waktu 70 tahun.
Orang yang hilang menurut situasi dan kebiasaannya ia akan binasa
(seperti waktu peperangan, tenggelam waktu pelayaran atau pesawat jatuh dan
temannya ada yang selamat), maka orang yang hilang harus diselidiki selama 4
tahun, jika tidak ada kabar beritanya, maka hartanya sudah dapat dibagi,
pendapat ini dipegang oleh ulama-ulama Hanabilah. Sedangkan apabila
kehilangan tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa yang membawa kematian
(seperti pergi berdagang atau merantau) ulama Hanabilah berbeda pendapat,
ijtihad hakim.
Pembahasan tentang kewarisan tidak terlepas dari beberapa
pemasalahan yang dihadapi, salah satunya adalah mengenai status kewarisan
terkait orang hilang. Dari akibat hukum perkawinan di atas salah satunya
adalah timbulnya hubungan antara orang tua dan anak. Dari akibat tersebut,
dalam hubungannya dengan masalah kewarisan lebih rinci dijelaskan pada
pembahasan mengenai sebab-sebab timbulnya kewarisan. Sebab yang
menimbulkan waris-mewarisi dalam Islam, menurut Sayid Sabiq ada 3 yaitu:
hubungan kerabat atau nasab, perkawinan dan wala‟. Adapun pada literatur
hukum Islam lainnya ada 4 sebab, yakni: perkawinan, kekerabatan atau
nasa>b,wala‟ dan hubungan sesama Islam.35
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama
mengatakan bahwa seorang istri yang ditinggal lama oleh suaminya hendaknya
sabar dan tidak boleh menuntut cerai. Ini adalah pendapat mazhab Hanafiyah
dan Al-Shafi’i. Mereka berdalil bahwa pada asalnya pernikahan antara kedu masih berlangsung hingga terdapat keterangan yang jelas, bahwa suaminya
meninggal atau telah menceraikannya.5
Mereka cenderung memandangnya dari segi positif, yaitu dengan
menganggap orang yang hilang itu masih hidup, sampai dapat dibuktikan dengan
bukti-bukti bahwa ia telah wafat. Sikap yang diambil ulama fikih ini berdasarkan
kaidah istishab, yaitu menetapkan hukum yang berlaku sejak semula, sampai ada
dalil yang menunjukan hukum lain. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa
35
Moh. Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia
persoalan status hukum istri yang suaminya mafqu>d itu sebenarnya tidak ada
alasan, kecuali jika suami yang hilang itu tidak meninggalkan apapun yang
menjadi kewajibannya bagi istrinya. Hal ini berarti bahwa suami itu dianggap ada
disamping istrinya. Karena tidak ada hak istri yang tidak dibayarkan selain dari
bersetubuh, sedangkan bersetubuh adalah hak suami.7
Akan tetapi anggapan masih hidup tersebut tidak bisa dipertahankan terus
menerus, karena ini akan menimbulkan kerugian bagi orang lain. Oleh karena
harus digunakan suatu pertimbangan hukum untuk mencari kejelasan status hukum
bagi si mafqu>d karena yang berhak untuk menetapkan status bagi orang hilang
tersebut adalah hakim, baik untuk menetapkan bahwa orang hilang itu telah wafat
atau belum.
Ada dua macam pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam
mencari kejelasan status hukum bagi si mafqu>d yaitu:
1. Berdasarkan bukti-bukti yang otentik yang dibenarkan oleh syariat, yang dapat
menetapkan suatu ketetapan hukum. Misalnya, ada dua orang yang adil dan
dapat dipercaya untuk memberikan kesaksian bahwa si fulan yang hilang telah
meninggal dunia, maka Hakim dapat menjadikan dasar persaksian tersebut
untuk memutuskan status kematian bagi si mafqu>d Jika demikian halnya, maka
si mafqu>d sudah hilang statusmafqu>d. Ia ditetapkan seperti orangyang mati
hakiki.
Berdasarkan tenggang waktu lamanya si mafqu>d pergi atau berdasarkan
kadaluwarsa. Dalam kondisi seperti ini, Hakim menghukuminya sebagai orang
karena masih ada kemungkinan orang tersebut masih hidup.8 Sedangkan
Pendapat kedua mengatakan bahwa seorang istri yang ditinggal lama oleh
suaminya, dan merasa dirugikan secara batin, maka diaberhak menuntut cerai. Ini
adalah pendapat Hanabilah dan Malikiyah.9
B.Mafqu>d Menurut Para Mazhab
Tentang periode yang dapat diputuskan oleh hakim bahwa mafqu>ditu
telah wafat, as-Shabuny mengatakan:
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mafqu>d itu dianggap telah wafat
jika orang-orang yang seusia dengan dia di daerahnya telah semua wafat,
sehingga tidak ada lagi yang masih hidup, dan ini waktunya sekitar 90 tahun.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tenggat waktu itu adalah 70
tahun, dengan landasan hadits Rasul yang menyatakan bahwa usia umatku
berkisar antara 60 sampai dengan 70 tahun.36
Ulama Al-Shafi>’iyah berpendapat bahwa tenggat waktu itu adalah 90
tahun, yaitu batas usia orang-orang yang seperiode dengan dia di daerahnya.
Tetapi, pendapat yang sahih di kalangan ini adalah penentuannya bukan
berdasarkan pada bilangan waktu tertentu, melainkan berdasarkan pada bukti,
yakni jika telah ada bukti bagi hakim tentang kematian mafqud bersangkutan,
maka berdasarkan bukti itu hakim menetapkan kematian mafqu>d bersangkutan
36
dan itu setelah berlangsung suatu periode di mana secara kebiasan bahwa
seseorang sudah tidak mungkin lagi hidup di atas usia tersebut.37
Ulama Hanabilah berpendapat bahwa jika mafqu>d itu hilang dalam
suasana yang memang memungkinkan yang bersangkutan itu telah binasa,
seperti pergumulan peperangan yang begitu dahsyat di mana kedua belah pihak
saling berhadap-hadapan dalam penyerangan, atau tenggelamnya alat angkutan
yang ditumpanginya, di mana sebagian penumpang selamat dan sebagian lagi
tidak selamat, maka di sini ditunggu sampai tenggat waktu empat tahun.
Tetapi jika ia hilang dalam suasana yang tidak mungkin ia`binasa, seperti pergi
untuk berdagang, perjalanan wisata, atau menuntut ilmu, maka dalam hal ini
ada dua pendapat:
1. ditunggu sampai yang bersangkutan berusia 90 tahun karena biasanya di
atas usia ini sudah tipis kemungkinannya bagi seseorang untuk dapat
bertahan hidup;
2. Diserahkan pada petimbangan hakim.
Terkait dengan batas waktu, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama
terutama para ulama dari mazhab yang empat.
a. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal
rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat
orang yang sebaya di wilayahnya, yakni tempat dia tinggal. Apabila
orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada, maka ia dapat diputuskan
37
sebagai orang yang sudah meninggal. Dalam riwayat lain, dari Abu Hanifah,
menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan puluh (90) tahun
b. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh
(70) tahun. Hal ini didasarkan pada lafaz hadis secara umum yang
menyatakan bahwa umur umat Muhammad SAW, antara enam puluh
hingga tujuh puluh (70) tahun.Dalam riwayat lain, dari Imam Malik,
disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam, hingga tidak
dikenal rimbanya, dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna
mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali
keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan
prasarana yang ada. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu, maka
sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk
menunggu. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum
juga diketemukan atau dikenali rimbanya, maka mulailah ia untuk
menghitung idahnya sebagaimana lazimnya istri yang ditinggal mati
suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari. Bila usai masa idahnya, maka ia
diperbolehkan untuk menikah lagi.
c. Sedangkan dalam mazhab Al-Shafi>’i dinyatakan bahwa batas waktu orang
yang hilang empat tahun, yakni dengan melihat umur orang-orang yang
sebaya di wilayahnya. Namun, pendapat yang paling sahih menurut
anggapan Imam Al-Shafi>’i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat
ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi, cukup dengan apa yang dianggap
Karena menurut Imam Al-Shafi>’i seorang hakim hendaknya berijtihad
kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal
rimbanya sebagai orang yang sudah mati, sesudah berlalunya waktu
tertentu.
d. Sementara itu, mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang
itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi
peperangan, atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam,
maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat (4) tahun. Apabila
setelah empat (4) tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui
beritanya, maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Demikian
juga istrinya, ia dapat menempuh masa idahnya, dan ia boleh menikah lagi
setelah masa idah yang dijalaninya selesai.38
C.Mafqu>d dalam Hukum Islam dan Hukum Perdata
Hakim dalam memutuskan perkara mafqu>d harus berdasarkan pada alat
bukti yang jelas sehingga dapat diduga keras bahwa mafqu>dtersebut telah
wafat. Hakim dapat memutuskan mafqu>d telah wafat dalam keadaan:
1. Hilang dalam situasi yang patut dianggap bahwa ia telah binasa, seperti
karena ada serangan mendadak atau dalam keadaan perang, (diputus mafqu>d
jangka waktunya 40 tahun sejak kepergiannya).
2. Pergi untuk suatu kepentingan, tetapi tidak pernah kembali. (diputus mafqu>d
jangka waktunya 40 tahun sejak kepergian
38
3. Hilang dalam kegiatan wisata atau urusan bisnis (hakim memutuskan
mafqud dengan pertimbangan sendiri).39
Andul Aziz Dahlan menyebutkan salah satu aspek yang dapat dijadikan
pertimbangan oleh hakim dalam memutus perkara mafqu>d adalah dengan
memperhatikan teman-teman seumur atau generasi dengan yang bersangkutan.
Hakim dapat memutus atau memvonis orang yang mafqu>d itu mati atau belum.
Hakim hendaknya berijtihad kemudian memfonis bahwa orang yang hiang dan
tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati sesudah berlalunya
waktu tertentu. Kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. Orang
yang hilang dianggap sudah meninggal dunia apabila telah terlewati tenggang
waktu 70 tahun.
Orang yang hilang menurut situasi dan kebiasaannya ia akan binasa
(seperti waktu peperangan, tenggelam waktu pelayaran atau pesawat jatuh dan
temannya ada yang selamat), maka urang yang hilang harus diselidiki selama 4
tahun, jika tidak ada kabar beritanya, maka hartanya sudah dapat dibagi,
pendapat ini dipegang oleh ulama hanabilah. Sedangkan apabila kehilangan
tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa yang membawa kematian (seperti
pergi berdagang atau merantau) ulama Hanabilah berbeda pendapat yaitu:
menunggu sampai 90 tahun sejak ia dilahirkan atau diserahkan kepada ijtihad
hakim. 40
Kitab undang-undang hukum perdata (staatsblad) 1847 no. 23 atau BW
di pasal 467-471 telah mencantumkan mengenai mafqu>d orang yang hilang.
39
Ibid 40
KUH Perdata tidak menggunakan mafqu>d akan tetapi menggunakan istilah
orang yang diperkirakan telah meninggal dunia.
Pasal 467 KUH Perdata menentukan bahwa seseorang yang telah pergi
meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka waktu 5 tahun atau telah
lewat waktu 5 tahun sejak berakhir di dapat berita kejelasan tentang keadaan
orang tersebut tanpa memberi kuasa untuk mewakili urusan-urusan dan
kepentingannya. Dapat dimohonkan oleh pihak yang mewakili kepentingan
keperdataan dengan orang tersebut ke pengadilan untuk dipanggil menghadap
ke persidangan untuk memastikan keberadaan dan nasibnya. Jangka waktu
panggilan ini adalah dalam waktu 3 bulan. 41
Jika orang tersebut tidak dapat menghadap untuk memberikan kesan
dan petunjuk bahwa dia masih hidup, walaupun telah dipanggil, maka harus
dipanggil untuk yang kedua kalinya, begitu seterusnya sampai panggilann ke
tiga (jangka waktu panggilan adalah 3 bulan). Panggilan tersebut di umumkan
di surat-surat kabar, papan pengumuman di pengadilan, dan papan
pengumuman di alamat terakhir orang tersebut diketahui. Apabila sudah
dipanggil tiga kali tetap tidak datang menghadap, maka pengadilan bisa
menetapkan secara umum bahwa orang itu telah meninggal, terhitung sejak
hari ia meninggalkan tempat tinggalnya, atau sejak hari berita terakhir
mengenai hidupnya. Tanggal pasti tentang penetapan “meninggalnya secara
hukum yang bersangkutan” harus dinyatakan secara jelas dalam putusan (pasal
468).
41
Dalam putusan tersebut juga harus dimuat pertimbangan hakim
mengenai kemungkinan sebab-sebab yang bersangkutan tidak bisa memenuhi
panggilan persidangan. Sebab-sebab yang mungkin telah menghalangi yang
bersangkutan tidak bisa membaca pengumuman panggilan tersebut, dan hal-hal
yang berhubungan dengan dugaan tentang kematian. Namun hakim dapat
menunda pengambilan putusan sampai jangka waktu lima tahun lebih atau
memerintahkan panggilan lanjutan jika ada pertimbangan lain dianggap perlu
dan penting untuk diindahkan oleh hakim. Hal ini sangat tergantung
kebijaksanaan Hakim dalam melihat fakta terhadap kenyataan dalam
persidangan.
Masalah berbedaberlaku apabila orang yang pergi meninggalkan tempat
kediamannya tersebut telah memberikan kuasa kepada orang lain untuk
menjadi kuasa atau wakilnya dalam segala urusan dan kepentingan, maka
jangka waktu yang berlalu adalah sepuluh tahun sesudah keberangkatannya
atau setelah berita terakhir bahwa ia masih hidup dan dalam jangka waktu
sepuluh tahun tersebut tidak ada tanda-tanda apakah ia masuh hidup atau telah
wafat. Adapun teknis beracaranya sama dengan mereka yang pergi tanpa
meninggalkan kuasa apapun. Putusan yang telah diambil oleh pengadilan
mengenai mafqud tersebut harus diumumkan dalam media surat kabar yang
D. Perkawinan
1. Definisi Perkawinan
Perkawinan adalah sunnatullah, hukum alam di dunia. Perkawinan
dilakukan oleh manusia, hewan, bahkan oleh tumbuh-tumbuhan42. Ia
adalah salah suatu cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi
makhluk-Nya untuk berkembang biak dan melestarikan hidupnya. Allah
berfirman dalam (surat yasin: 36) yang berbunyi:
Artinya: Maha Suci Allah yang telah menjadikan pasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan di bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
Dalam surat (Adz-Dzariyat: 49) juga dijelaskan yang berbunnyi:
Artinya: Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.
Nikah menurut bahasa adalah al-jam‟u dan al-dhamu yang artinya
kumpul. Maka nikah (zawaj) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwij yang
artinya akad nikah. Juga bisa diartikan (wath‟u al-zaujah) bermakna
menyetubuhi isteri. Menurut Rahmat Hakim: bahwa kata nikah berasal
dari bahasa Arab “nikahun” yang merupakan masdar atau asal kata dari
kata kerja (fi‟il madhi)“nakaha”, sinonimnya “tazawwaja” kemudian
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai perkawinan. Kata nikah
42
sering juga dipergunakan sebab telah masuk dalam bahasa Indonesia.
Makna nikah adalah akad atau ikatan, karena dalam suatu proses
pernikahan terdapat ijab dan kabul. Selain itu nikah juga bisa diartikan
sebagai bersetubuh. Adapun menurut syara‟ bahwa nikah adalah akad
serah terima antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk saling
memuaskan satu sama lainnya dan untuk membentuk sebuah bahtera
rumah tangga yang sakinah serta masyarakat yang sejahtera. 43
Para ahli fikih berkata: zawwaj atau nikah adalah akad yang secara
keseluruhan di dalamnya mengandung kata nikah atau tazwij. “ akad yang
mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan kelamin dengan
lafadz nikah atau tazwij atau yang semakna keduanya”.44
Perkawinan menurut Sayuti Tha}li>b, ialah perjanjian suci membentuk
keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Perjanjian
tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan segi perkawinan serta
menampakkannya kepada masyarakat umum, sedangkan sebutan suci
dimaksudkan untuk menyatakan segi keagamaannya dari suatu
perkawinan”.Tinjauan perkawinan dari aspek agama dalam hal ini
terutama dilihat dari hukum Islam, yang merupakan keyakinan sebagian
besar masyarakat Indonesia. Menurut hukum Islam khususnya yang diatur
dalam Ilmu Fiqih, pengertian perkawinan atau akad nikah adalah "ikatan
yang menghalalkan pergaulan danmembatasi hak dan kewajiban serta
43
Beni Ahmad Soebani, Fiqih Munakahat (Bandung:Pustaka Setia, 2013, 11.
44
Tihami, Fikih Munakahat Kajian Fikih NikahLengkap (Jakarta: Rajagrafindo Persada,
bertolong-tolongan antaraseorang laki-laki dan seorang perempuan yang
antara keduanyabukan merupakan muhrim”.45
1) Hukum Perkawinan
Menurut Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, perkawinan
merupakan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua
makhluk Tuhan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan.46
Menurut Ibn Rusyd; bahwa segolongan fuqaha‟, yakni mayoritas ulama
berpendapat bahwa nikah itu hukumnya sunnah. Golongan zahiriyah
berpendapat bahwa nikah itu wajib. Para ulama Malikiyah mutaakhirin
berpendapat bahwa nikah itu wajib untuk sebagian orang, sunnah untuk
sebagian lainnya dan mubah untuk segolongan yang lain. Demikian itu
menurut mereka ditinjau berdasarkan kekhawatiran dirinya.47
Perbedaan pendapat ini kata Ibn Rusyd disebabkan adanya
penafsiran apakah bentuk kalimat perintah dalam ayat dan hadis-hadis
yang berkenaan dengan masalah ini, harus diartikan wajib, sunnah
ataukah mungkin mubah. Dalam surat al-Nisa:3 dijelaskan bahwa:
Artinya: ……Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi :
dua, tiga atau empat. …...
45
Ibid.
47
Bagi fuqaha yang berpendapat bahwa kawin itu wajib bagi
sebagian orang, sunnah untuk sebagian yang lain, dan mubah untuk
yang lain, maka pendapat ini didasarkan atas pertimbangan
kemaslahatan. Qiyas seperti inilah yang disebut qiyas mursal. Yakni
suatu qiyas yang tidak mempunyai dasar penyandaran. Kebanyakan
ulama mengingkari qiyas tersebut, tetapi dalam madzhab Maliki
tampak jelas dipegangi.
Menurut Ulama kontemporer Al-Jaziri mengatakan bahwa
sesuai dengan keadaan orang yang melakukan perkawinan, hukum
nikah berlaku untuk hukum-hukum syara‟ yang lima, adakalanya wajib,
haram, makruh, sunnah, dan adakalanya mubah.
a. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Wajib
Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan
untuk kawin dan dikhawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina
seandainya tidak kawin maka hukum melakukan perkawinan bagi
orang tersebut adalah wajib. Hal ini didasarkan pada pemikiran
hukum bahwa setiap muslim wajib menjaga diri untuk tidak berbuat
yang terlarang. Jika penjagaan diri itu harus dengan melakukan
perkawinan, sedang menjaga diri itu wajib, maka hukum melakukan
perkawinan itupun wajib sesuai dengan kaidah yang mengatakan
“Sesuatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka
sesuatu itu hukumnya wajib juga.”48
b. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Sunnah.
Orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan
untuk melangsungkan perkawinan, tetapi kalau tidak kawin tidak
dikhawatirkan akan berbuat zina, maka hukum melakukan
perkawinan bagi orang tersebut adalah sunnah. Alasan menetapkan
hukum sunnah itu ialah dari anjuran Al-Qur‟an yang disebutkan
dalam surat An-Nur:32 yang berbunnyi:
Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba-hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Tetapi berdasarkan qorinah-qorinah yang ada, perintah nabi
tidak memfaidahkan hukum wajib, tetapi hukum sunnah saja.
c. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Haram
Bagi orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak
mempunyai kemampuan serta tanggung jawab untuk melaksanakan
kewajiban-kewajiban dalam rumah tangga sehingga apabila
melangsungkan perkawinan akan terlantarlah dirinya dan isterinya,
48
maka hukum melakukan perkawinan bagi orang tersebut adalah
haram. Dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah: 195 dijelaskan bahwa:
Artinya: ….. Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke
dalam kebinasaan……..
Termasuk juga hukumnya haram perkawinan bila seseorang
kawin dengan maksud untuk menerlantarkan orang lain, masalah
wanita yang dikawini itu tidak diurus hanya agar wanita itu tidak
dapat kawin dengan orang lain.
d. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Makruh.
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan
perkawinan juga cukup mempunyai kemampuan untuk menahan diri
sehingga tidak memungkinkan dirinya tergelincir berbuat zina
sekiranya tidak kawin. Hanya saja orang ini tidak mempunyai
keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi kewajiban suami istri
dengan baik.
e. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Mubah.
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk
melakukannya, tetapi apabila tidak melakukannya, tidak khawatir
akan ber