BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan

36 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Masa ini dapat dikatakan sebagai masa yang paling penting dalam perkembangan pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya. Ini dikarenakan pada masa ini terjadi begitu banyak perubahan dalam diri individu baik itu perubahan fisik maupun perubahan psikologi. Pada wanita ditandai dengan adanya menarche (Proverawati 2010).

Menarche merupakan perdarahan pertama kali dari uterus yang terjadi pada wanita dimasa pubertas sekitar usia 12-14 tahun. Menarche merupakan perubahan yang menandakan bahwa remaja sudah memasuki tahap kematangan organ seksual. Dimulainya menarche membuat organ seks sekunder tumbuh berkembang, seperti pembesaran payudara, mulai tumbuh rambut ketiak, panggul membesar dan juga mulai berkembangnya beberapa organ vital yang siap untuk dibuahi (Manuaba, 2007). Usia menarche bervariasi pada setiap individu dan wilayah tempat tinggal. Namun usia menarche dapat dikatakan normal apabila terjadi pada usia 12-14 tahun (Susanti, 2012).

Kecenderungan usia menarche yang semakin dini juga berimplikasi pada resiko terjadinya kehamilan pada usia yang lebih muda (Silva, 2005; Rah dkk, 2009). Usia menarche yang terlalu cepat pada sebagian remaja putri

(2)

dapat menimbulkan keresahan karena secara mental mereka belum siap. Menstruasi juga berarti pengeluaran zat besi, yang mana pada setiap siklus menstruasi sekitar 4 mg zat besi dikeluarkan. Seorang remaja putri mengalami menarche 1 tahun lebih awal maka dia akan kehilangan zat besi sebanyak 48 mg lebih banyak (MacKibben, 2003).

Menurunnya usia menarche ini terdapat implikasi negatif terhadap kesehatan anak remaja dan membingungkan karena remaja merupakan sumber daya manusia yang penting. Implikasinya antara lain adalah meningkatnya resiko kanker payudara. Usia menarche pada awalnya diobservasi bersamaan dengan obesitas tipe abdominal serta peningkatan insulin, testosteron dan insulin-like growth factor 1, yang bertindak sebagai faktor pertumbuhan untuk proliferasi jaringan kelenjar mama dan mempromosi karsinogenesis kelenjar mama. Implikasi kesehatan yang lainnya adalah penyakit kardiovaskular serta gangguan metabolik atau gangguan psikologi (Karapanou dan Papadimitriou, 2010).

Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Rata-rata 900 juta remaja berada di Negara sedang berkembang. Tahun 2008 jumlah remaja di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 62 juta jiwa (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2011). Menurut Biro Pusat Statistik (2010) di Kabupaten Jember kelompok umur 10-19 tahun adalah terdiri dari 50,1% remaja laki-laki dan 49,9% remaja perempuan.

(3)

Studi pada 1166 remaja putri umur 12-16 tahun di Inggris menunjukkan usia menarche adalah 12 tahun 11 bulan, dibandingkan 20-30 tahun yang lalu 6 bulan. Studi yang dilakukan di Amerika juga menunjukkan adanya penurunan usia menarche 1-3 bulan per dekade. Selama 20 tahun terakhir ini di Moscow, usia menarche meningkat dari 12 tahun 6 bulan menjadi 13 tahun. Remaja putri di Yunani dan Kanada, terutama bagi mereka yang berbadan kurus dan aktivitas yang tinggi (Kabir, 2007).

Berdasarkan data Depkes RI (2010), diketahui bahwa di Indonesia terjadi penurunan usia menarche. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2010 terdapat 5,2% anak-anak di 17 Provinsi di Indonesia telah memasuki usia menarche di bawah usia 12 tahun. Hasil yang diperoleh dari Riskesda (2010) di Kabupaten Malang, Jawa Timur sebanyak 74,8% remaja putri memiliki status gizi normal. Sebesar 25,3% remaja putri mengalami menarche pada usia 11-12 tahun dan 36,5% pada usia 13-14 tahun. Anurogo (2011), mengungkapkan usia menarche terlalu dini dapat menjadi faktor risiko terjadinya disminore primer.

Penelitian di Indonesia, menurunnya umur menarche terjadi di daerah Jogyakarta, dari 562 remaja Jawa di Yogyakarta (300 perempuan dan 262 laki-laki), usia berkisar antara 11-18 tahun menunjukkan rata-rata tinggi dan berat badan serta usia menarche remaja Yogyakarta yang diukur tahun 2005 lebih besar dengan usia menarche lebih muda dibanding remaja Yogyakarta 23 tahun yang lalu. Tinggi dan berat badan serta usia menarche: 7,37 cm (5,1%), 9,21 kg (26,1%) dan 16,6 bulan (10,6%) (Rahmawati et al, 2005).

(4)

Menurut Proverawati (2009), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi usia menarche diantaranya adalah status gizi, sosial ekonomi, kelainan fisik, audio visual, lingkungan sosial dan genetik. Soetjiningsih, (2007), menyatkan bahwa usia menarche dini yang berhubungan dengan faktor gizi karena kematangan seksual dipengaruhi oleh nutrisi dalam tubuh remaja. Remaja yang lebih dini menarche akan memiliki indeks masa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dan remaja menarche terlambat memiliki IMT lebih kecil pada usia yang sama.

Selain status gizi, menurut Kartono (2006), menyatakan salah satu terjadinya menarche disebabkan oleh rangsangan-rangsangan kuat dari luar, salah satunya adalah melalui keterpaparan media massa, baik cetak atau elektronik. Penelitian Brown et al (2005) dikatakan adanya keterkaitan antara keterpaparan media massa (televisi, radio, dan majalah) dengan kecepatan usia pubertas remaja yang secara tidak langsung menyebabkan cepatnya usia menarche remaja putri. Survey tersebut menjelaskan bahwa dari media massa yang ada kebanyakan informasinya berisi mengenai seks dan remaja tersebut sering melihat atau mendengarkan media massa di ruangannya sendiri.

Pada studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan di 3 SMP/Sederajat di Kecamatan Ukui, dengan jumlah keseluruhan siswi kelas 1 berjumlah 131 orang. Di dapatkan hasil siswi yang mengalami menarche di bawah usia < 11 Tahun berjumlah 35 orang (29,91%). Sedangkan siswi yang mengalami menarche usia 11-12 Tahun sebanyak 55 orang (47,0%).

(5)

Selanjutnya siswi yang mengalami menarche pada usia > 12 Tahun sebanyak 27 orang (23,07%)

Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan di 3 SMP/Sederajat di Kecamatan Ukui, SMPN 2 merupakan salah satu SMP Negeri di kecamatan Ukui dengan faktor sosial ekonomi yang heterogen karena terdapatnya siswi yang merupakan penduduk tempatan , daerah transmigrasi dan lingkungan perusahaan. Dengan demikian di harapkan peneliti akan mendapatkan data yang lebih variatif dari status gizi, sosial ekonomi, keterpaparan dengan bacaan-bacaan majalah dewasa, dan keterpaparan dengan media audio visual.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik dan berminat untuk mengadakan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan kejadian menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 di Kecamatan Ukui.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan yaitu :

1. Apakah faktor status gizi berhubungan terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016 ?

2. Apakah faktor penggunaan media audio visual berhubungan terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016 ? 3. Apakah faktor keterpaparan majalah dewasa berhubungan terhadap

(6)

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2015. 2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya distribusi frekuensi status gizi siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

b. Diketahuinya distribusi frekuensi penggunaan media audio visual pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

c. Diketahuinya distribusi frekuensi keterpaparan bacaan pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

d. Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016

e. Menganalisa hubungan faktor status gizi terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

f. Menganalisa hubungan faktor penggunaan media audio visual terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

g. Menganalisa hubungan faktor keterpaparan bacaan majalah dewasa terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

(7)

D. Manfaat Penelitian 1. Aspek Teoritis

Untuk menambah pengetahuan penulis tentang menarche dan pengaplikasikan ilmu yang di peroleh selama mengikuti pendidikan serta untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam melakukan penelitian dan sebagai masukan yang dapat dijadikan sumbangan pemikiran dan perbandingan bagi penulis di masa yang akan datang serta untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya tentang menarche.

2. Aspek Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengawasan atau pembinaan kesehatan prepoduksi remaja, terutama instansi terkait khususnya tim promkes puskesmas kec ukui.

(8)

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A.

Konsep Dasar Menarche 1. Pengertian Menarche

Menarche adalah perdarahan kali pertama dari uterus terjadi pada wanita di masa pubertas sekitar usia 12–14 tahun. Perubahan yang menandakan bahwa remaja sudah memasuki tahap kematangan organ seksual dalam tubuh. Dimulainya menarche membuat organ seks sekunder tumbuh berkembang seperti pembesaran payudara, mulai tumbuh rambut ketiak, panggul membesar dan juga mulai berkembangnya beberapa organ vital yang siap untuk dibuahi (Manuaba, 2007). Usia menarche bervariasi pada setiap individu dan wilayah tempat tinggal. Namun usia menarche dapat dikatakan normal apabila terjadi pada usia 12–14 tahun (Susanti, 2012).

2. Macam–Macam Menarche

Menurut Winkjosastro (2005), menarche ada 2 (dua), yaitu : a. Menarche Prekoks

Yaitu sudah mengalami haid sebelum umur 10 tahun. b. Menarche Tarda

Yaitu menarche yang baru datang pada umur 14 – 16 tahun.

(9)

3. Mekanisme Menarche

Menurut Health Parenting Article (2007) dan Biohealthworld Article (2007), proses terjadinya menstruasi pada wanita dijelaskan sebagai berikut:

a. Wanita mempunyai sepasang indung telur yang disebut sebagai ovarium yang terletak disebelah kiri dan kanan rahim, dimana masing-masing menyimpan sekitar 200.000 hingga 400.000 telur yang belum matang/folikel. Sekali dalam satu bulan, di pertengahan siklus menstruasi akan mengeluarkan sel telur yang matang dari satu atau kedua indung telur, kejadian ini di namakan ovulasi.

b. Sel telur yang telah matang,akan dilepaskan dari ovarium menuju tuba faloopi untuk siap dibuahi, bila tidak ada sperma yang masuk, maka sel telur akan meuju rahim.

c. Hormon estrogen akan bekerjasama dengan hormone FSH (Stimulating Follicle Hormon) membantu sel telur tumbuh dalam rahim dan kemudian memberi signal kepada rahim agar mempersiapkan diri dalam menerima sperma untuk pembuahan.

d. Jika sel telur yang telah dilepaskan tersebut tidak dibuahi, maka endometrium (dinding rahim) akan meluruh dan dikeluarkan dari vagina dalam bentuk darah yang dinamakan menstruasi.

(10)

4. Konsep Dasar Usia Menarche Dini

Usia menarche bervariasi pada setiap individu dan wilayah tempat tinggal. Namun usia menarche dapat dikatakan normal apabila terjadi pada usia 12–14 tahun (Susanti, 2012). Dikatakan menarche dini berkaitan dengan pubertas prekoks yang terjadi pada anak di usia kurang dari 12 tahun (Susanti,2009).

Menarche dini merupakan menstruasi pertama yang dialami seorang wanita subur pada usia di bawah 12 tahun. Kondisi menarche dini karena mendapat produksi hormone estrogen lebih banyak dibanding wanita lain pada umumnya, itulah sebabnya menjadikan masalah ini menjadi penting. Usia rerata menarche di Amerika Serikat adalah 12,8 tahun sementara di China 17 tahun. Sejumlah penelitian berkata bahwa alasan kejadian kanker payudara di cina 1/3 dari kejadian di Amerika. Bahkan China, provinsi dengan rerata usia menarche lebih tua cenderung memiliki rerata terjadinya kanker payudara rendah (Rosenthal, 2009). Menarche dini dapat terjadi karena beberapa faktor yang meliputi keadaan gizi, genetik, konsumsi makanan, sosial ekonomi, keterpaparan media massa orang dewasa, perilaku seksual dan gaya hidup. Usia menarche dini yang berhubungan dengan faktor gizi karena kematangan seksual dipengaruhi oleh nutrisi dalam tubuh remaja. Remaja yang lebih dini mengalami menarche akan memiliki Indeks Massa Tubuh ( IMT ) yang lebih tinggi, sedangkan remaja yang mengalami menarche terlambat memiliki IMT lebih kecil pada usia yang sama (Soetjiningsih, 2007).

(11)

Faktor sosial dan ekonomi juga mempengaruhi terjadinya menarche dini. Pengaruh keadaan sosial ekonomi mempengaruhi kemampuan daya beli keluarga dalam mencukupi kebutuhan nutrisi makanan (Astuti, 2010).

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Menarche Dini 1. Kesehatan Umum Remaja.

Pada masa sekarang tingkat kesehatan masyarakat semakin meningkat, keadaan ini dipengaruhi oleh faktor dan pelayanan kesehatan yang semakin baik, Semua ini menyebabkan semakin berkurangnya penyakit-penyakit menahun dimasyarakat. Menurut Winkjosastro (2005) jika kesehatan remaja baik, maka akan mempengaruhi datangnya menarche pada remaja tersebut.

Faktor kesehatan mempunyai peran yang penting dalam perkembangan remaja. Anak dengan penyakit kronis yang di derita akan mengganggu kesehatan remaja, dimana kondisi ini akan menyebabkan kelambatan dalam perkembangan seksualnya. Penyakit kronis yang di derita bias penyakit jantung, kencing manis, TB paru, kanker, dll (Soetjiningsih 2010).

2. Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, I.D.N. 2002).

(12)

Status gizi adalah keadaan yang mencerminkan keseimbangan antara zat-zat gizi yang diserap oleh tubuh secara normal yang akan dijadikan energi guna metabolisme tubuh secara menyeluruh. Status gizi remaja wanita akan sangat mempengaruhi terjadinya menarche baik dari faktor terjadinya menarche, adanya keluhan-keluhan selama menarche maupun lamanya hari menarche. Wanita remaja secara psikologi yang pertama kali akan mengeluh rasa nyeri, perutnya terasa pegal dan kurang nyaman. Tetapi ada juga remaja yang tidak merasakan hal itu, dan itu semua karena asupan gizi yang edekuat. Gizi kurang atau terbatas akan mempengaruhi pertumbuhan fungsi organ tubuh, yang akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Hal ini akan mengakibatkan gangguan pada haid, tetapi akan berangsur baik bila asupan makanan bernutrisi baik (Proverawati, 2009)

Pertumbuhan normal tubuh memerlukan nutrisi yang memadahi, kecukupan energi, protein, lemak dan suplai semua nutrisi esensial yang menjadi basis pertumbuhan. Remaja memerlukan lebih banyak besi dan wanita membutuhkan lebih banyak lagi untuk mengganti besi yang hilang bersama darah haid (Arisman, 2007). Zat nutrien dibagi dua golongan besar yakni makro nutrien dan mikro nutrien (zat-zat mikro). Zat gizi makro merupakan komponen terbesar dari susunan diet serta berfungsi menyuplai energi dan zat-zat gizi esensial yang berguna untuk keperluan pertumbuhan sel atau jaringan, fungsi pemeliharaan maupun aktivitas tubuh (Almatsier, 2004).

(13)

Tabel 2.1 Daftar Kebutuhan Zat Gizi Remaja Putri

Umur (Th) Bb (Kg) Energi (Kal) Protein(Gr) Vitamin(Re) Fe(Mg) 10-12 37 1900 50 500 24 13-15 46 2100 60 500 19 16-19 50 2200 62 500 25

Sumber : Kemenkes RI (2013)

Gizi kaum remaja dicerminkan oleh pola makannya, karena akan sangat menentukan apakah mereka bisa mencapai pertumbuhan fisik optimal sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya. Untuk itu diperlukan gizi yang cukup sesuai dengan standar yang telah di cantumkan diatas.

Status gizi remaja wanita akan sangat mempengaruhi terjadinya menarche baik dari faktor terjadinya menarche, adanya keluhan-keluhan selama menarche maupun lamanya hari menarche. Wanita remaja secara psikologi yang pertama kali akan mengeluh rasa nyeri, perutnya terasa pegal dan kurang nyaman. Tetapi ada juga remaja yang tidak merasakan hal itu, dan itu semua karena asupan gizi yang adekuat. Gizi kurang atau terbatas akan mempengaruhi pertumbuhan fungsi organ tubuh, yang akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Hal ini akan mengakibatkan gangguan pada haid, tetapi akan berangsur baik bila asupan makanan bernutrisi baik (Proverawati, 2009).

Pada anak remaja putri mulai terjadi menarche (awal menstruasi) yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe. Oleh sebab itu kalau konsumsi makanan khususnya Fe kurang, maka akan terjadi kekurangan Fe (anemia). Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi :

(14)

a. Faktor External 1) Pendapatan

Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut.

2) Pendidikan

Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik.

3) Pekerjaan

Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

4) Budaya

Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan.

b. Faktor Internal 1) Usia

Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita.

(15)

2) Kondisi Fisik

Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat.

3) Infeksi

Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan.

Pengukuran antropometri yang meliputi berat badan, tinggi badan, dan Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) , merupakan indikator dalam mengukur status gizi yang secara tidak langsung dapat menentukan besar komposisi tubuh dengan status gizi tertentu (Supariasa 2012)

1) Berat Badan

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat/lebih lambat dari keadaan normal (Supariasa, 2012).

(16)

2) Tinggi Badan

Menurut penelitian Frisch dan Revelle (1970), bahwa ada keterkaitan antara usia menarche remaja putrid dengan tinggi badan. Disimpulkan bahwa kecepatan pertumbuhan tubuh memperngaruhi pubertas dan akhirnya menarche; remaja putri yang usia pubertasnya cepat maka pertumbuhan tinggi badannya juga cepat. Data tinggi badan biasanya didapatkan dengan pengukuran menggunakan microtoise yang memiliki ketelitian 0,1 cm dengan cara menggantungkan microtoise pada dinding yang rata dengan ketinggian 2 cm dari lantai (Santy, 2006).

3) BMI (Body Mass Index) atau IMT (Indeks Massa Tubuh)

Status gizi adalah salah satu indikator untuk menilai status kesehatan remaja yang mudah dan murah, yang dibutuhkan hanya disiplin dan komitmen untuk terus menerus secara rutin memantau berat badan dan tinggi badan. Status gizi pada remaja dihitung dengan menggunakan rumus indeks massa tubuh atau yang biasa disingkat dengan istilah IMT atau BMI (Body Mass Index). Akan tetapi IMT bukan tanpa kelemahan, karena IMT hanya menggambarkan proporsi ideal tubuh seseorang antara berat badan saat ini terhadap tinggi badan yang dimilikinya. IMT tidak mampu mengambarkan tentang proporsi lemak yang terkandung di dalam tubuh seseorang.

(17)

Meskipun demikian, jika nilai IMT sudah menunjukkan ke arah kelebihan berat badan atau overweight/obesitas, biasanya seseorang diminta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, apakah kelebihan berat badan tersebut merupakan hasil dari timbunan lemak atau otot, bisanya dengan menggunakan beberapa pengukuran antropometri seperti pengukuran lemak bawah kulit. Adapun Rumus IMT dapat dilihat sebagai berikut :

IMT = Berat badan (kg) / {Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)2 } Hasil ukur Status Gizi

Kurus, jika sesuai standar IMT/U = - 3 SD Hingga < -2SD Normal, jika sesuai standar IMT/U = - 2 SD hingga 1 SD Gemuk, jika sesuai standar IMT/U = >1 SD hingga 2 SD

Frisch (2005) dalam penelitiannya mengatakan bahwa terdapatnya hubungan antara usia menarche dengan berat badan kritis pada remaja. Frisch dan Revelle (2005) mendapatkan survei bahwa 3 atau 4 bulan per dekade di Eropa dalam kurun waktu 100 tahun terjadi penurunan usia menarche dalam hubungannya terhadap tinggi badan dan berat badan.

Menurut penelitian Andiri (2010), yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menarche dini pada remaja putri di SMA Bakti Senayan diketahui terdapat hubungan antara status gizi dengan menarche dini pada remaja putri dengan nilai p = 0,009 < 0,05.

(18)

3. Sosial Ekonomi (Pendapatan Orang Tua)

Sosial ekonomi keluarga merupakan gambaran penghasilan orang tua yang diperoleh dari usaha atau bekerja sehingga dapat memenuhi kebutuhan, kemakmuran dan kesejahteraan keluarga. Remaja dengan kondisi sosial ekonomi orang tua yang lebih baik, yang bersekolah pada sekolah yang berada di pusat kota yang penuh dengan segala fasilitas pertokoan, mall yang menyediakan fastfood juga fasilitas untuk mengakses informasi seperti warnet dan sebagainya memungkinkan remaja mempunyai status kesehatan dan nutrisi yang lebih baik serta paparan informasi yang lebih terbuka. Dengan demikian timbul pertanyaan apakah kondisi ini berpengaruh terhadap usia menarche dan indeks masa tubuh serta pola konsumsi remaja dibandingkan remaja yang bersekolah pada daerah pinggiran kota dengan segala fasiltas yang tersedia serta kondisi sosial ekonomi orang tua yang terbatas (Supariasa, Bakri dan Fajar 2012).

Tingkat sosial ekonomi sangat erat hubungannya dengan kemampuan penyediaan gizi dan pemeliharaan kesehatan secara umum dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga (Astuti, 2010).

Soetjiningsih (2010), mengemukakan bahwa upaya perbaikan tingkat sosial ekonomi, dapat menyebabkan terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat sehingga pertumbuhan dan perkembangan fisik terjadi secara optimal dan menarche terjadi lebih dini dari masa sebelumnya. Hal ini menunjukkan tingkat sosial ekonomi mempunyai hubungan yang bermakna dengan usia menarche. Kondisi sosial ekonomi yang baik

(19)

tentunya akan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari termasuk juga kebutuhan nutrisinya, dengan demikian kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya terpenuhi. Status sosial ekonomi seorang remaja dari kalangan ekonomi rendah akan berdampak pada makanan yang di konsumsinya, misalnya mereka makan seadanya tanpa memikirkan kandungan gizinya.

Sebaliknya remaja dari ekonomi tinggi mereka lebih mudah mendapatkan makanan yang disukainya karena di dukung oleh pendapatan yang di peroleh (Putri 2009).

Penghasilan orang tua berhubungan dengan gaya hidup dan kondisi psikologi remaja, dengan penghasilan orang tua yang lebih tinggi akan meningkatkan daya beli gaya hidup keseharian. Remaja dalam kondisi sosial ekonomi orang tua yang tinggi akan dipenuhi kebutuhan keseharian seperti fasilitas akses informasi dari media masa (elektronik dan cetak), makanan bergizi, makanan fast food, minuman soft drink sehingga remaja memperoleh informasi yang lebih terbuka (Astuti, 2010).

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) (2006), garis kemiskinan penduduk perkotaan ditetapkan sebesar Rp175.324 per kapita per bulan dan penduduk miskin perdesaan sebesar Rp131.256 per kapita per bulan. Dengan uang senilai tersebut seseorang diasumsikan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi setara dengan 2.100 kalori per kapita per hari, ditambah dengan pemenuhan kebutuhan pokok minimum lain seperti sandang,kesehatan,pendidikan, transportasi.

(20)

Untuk kabupaten pelalawan pada tahun 2016 upah minimum kabupaten pelalawan sebesar Rp. 2.176.500,-.

4. Media Audio Visual

Media audio visual merupakan media yang menyajikan tayangan dalam bentuk gambar dan suara melalui layar kacaca atau televisi. Audio visual memiliki fungsi sebagai berikut:

a. Memberikan informasi secara jelas b. Memberikan hiburan (Andina, 2011).

Televisi adalah salah satu media komunikasi massa yang mempunyai unsur-unsur kata, musik, dan sound effect serta visual. Unsur visual yaitu berupa gambar yang hidup yang mempunyai daya tarik yang kuat yang dapat memberikan kesan mendalam bagi pemirsanya (Lukman el Hakim 2014). Televisi sering menampilkan adegan percintaan atau pacaran yang akan cenderung mengajari anak-anak remaja untuk berpacaran,berpenampilan seksi, serta berpola hidup serba senang dan seba mudah. Ransangan-ransangan melalui arus informasi tersebut membuat anak-anak sekarang menjadi cepat matang secara fisik (Okanegara.2008). Menurut Matondang (2003) dikatakan bahwa:

a. Terpapar,jika remaja putri menonton acara televisi setelah pukul 21.00 >3 kali dalam seminggu atau pernah menonton film orang dewasa b. Tidak terpapar, jika remaja putri menonton acara televisi setelah pukul

21.00 WIB ≤ 3 kali dalam seminggu atau tidak pernah menonton film orang dewasa.

(21)

Menurut Santrock (2002), early-maturation sangat dipengaruhi oleh nutrisi, lingkungan, globalisasi, dan media massa. Anak-anak yang sedang menuju remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif. Informasi yang negatif di zaman sekrang ini muncul di banyak media seperti tayangan sinetron yang menampilkan film atau video porno dan bacaan yang mengarah pada hal berbau seksual. Ransangan-ransangan melaui arus informasi tersebut membuat anak-anak sekarang menjadi cepat matang secara fisik (Okanegara.2008).

Studi yang dilakukan oleh Brown dan Whiterspoon (2002), menyebutkan bahwa ada sebanyak 6-7 jam perhari remaja yang terpapar oleh berbagai macam bentuk media di amerika Serikat. Dari remaja yang berumur antara 8-13 tahun ada 44% yang lebih senang menyaksikan TV, 17% remaja yang menyukai mendengarkan radio, sedangkan sisanya adalah menggunakan komputer, melihat-lihat gambar, dan video games (Escobar-Chaves et al.2005).

Di Indonesia, khususnya di kota Padang, ditemukan bahwa beberapa anak perempuan telah mengalami pubertas pada usia baru mencapai 10-12 tahun. Ketika memasuki pengalaman pubertas yang menandakan adanya physical-maturation, mendorong keinginan remaja puber perempuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan kalangan lebih dewasa atau yang dianggap lebih matang pribadinya sehingga menimbulkan kecendrungan berperilaku mengikuti orang dewasa pada

(22)

umumnya, seperti berpacaran, merokok dan sering pulang malam (Zulkarnain.2007).

Menurut penelitian Andiri (2010), yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menarche dini pada remaja putri di SMA Bakti Senayan diketahui terdapat hubungan antara pengaruh media audio visual dengan menarche dini pada remaja putri dengan nilai p = 0,011 < 0,05.

5. Paparan Bacaan Majalah Dewasa

Myrtati (2009) mengatakan bahwa salah satu faktor yang berhubungan dengan umur menarche adalah faktor non-fisik atau psikologis yang menstimulasi percepatan kedewasaan. Rangsangan psikis yang dimaksud adalah pengaruh lingkungan, misalnya informasi seksual dari berbagai media, perilaku keluarga dan masyarakat, adat dan kebiasaan masyarakat setempat yang menstimulir kedewasaan.

Walaupun rangsangan psikis yang sama tidak selalu berdampak sama pada setiap orang, namun secara umum dapat diasumsikan bahwa dengan banyaknya rangsangan psikis, misalnya informasi seksual, akan memacu hipotalamus untuk mempengaruhi hipofisis dalam mensekresi FSH sehingga mempercepat datangnya menarche. Percepatan usia menarche akan memberi konsekuensi yang harus dihadapi oleh remaja putri. Semakin dini usia haid pertama secara biologis berart memungkinkan wanita remaja yang bersangkutan untuk lebih cepat dewasa dalam hal kemampuan sistem reproduksi. Hal ini memberikan

(23)

konsekuensi lain yang lebih besar, yaitu yang bersangkutan dapat segera mengandung bila mereka melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Sementara itu pada sisi yang lain, pranata sosial setempat masih tidak mentolelir terjadinya hubungan seksual diantara sepasang wanita dan pria tanpa mereka diikat oleh pranata perkawinan. Kesenjangan ini semakin menjadi permasalahan kompleks ketika lingkungan sosial setempat juga menuntut remaja wanita yang bersangkutan untuk tidak segera menikah dengan alasan harus menyelesaikan sekolah atau pekerjaannya terlebih dahulu (Hendarsari, 2010)

Media massa orang dewasa (pornografi) merupakan media yang menggambarkan adegan, maupun gambar yang bisa membangkitkan gairah birahi sehingga seseorang akan merasa senang. Teknologi yang semakin mudah untuk diakses membuat remaja sering kali dengan bebas mengakses media massa orang dewasa (Rofi’atu 2014).

Perilaku seksual adalah sikap dan tindakan seseorang yang mendorong untuk melakukan hasrat seksual seperti menyukai lawan jenis, berhayal dengan lawan jenis yang bukan dari anggota keluarga, berpelukan dan bergandengan tangan. Perilaku seksual bisa merangsang hipotalamus, mengeluarkan FSH dan LH dari hipofise anterior untuk mengsekresi hormone estrogen sehingga proses pematangan alat reproduksi seks sekunder lebih cepat (Soetjiningsih, 2010).

Menurut penelitian Andiri (2010), yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menarche

(24)

dini pada remaja putri di SMA Bakti Senayan diketahui terdapat hubungan antara kepertepaparan majalah dewasa dengan menarche dini pada remaja putri dengan nilai p = 0,033 < 0,05.

6. Kebudayaan

Kebudayaan yang ada dimasyarakat mempengaruhi prilaku dan kebiasaan seseorang. Dasar – dasar prilaku seseorang itu ditentukan oleh faktor biologis dan psikologis. Faktor biologis ini mempengaruhi sistem syaraf, kematangan seksual, dan proses pendewasaan. Sedangkan faktor psikologis mempengaruhi tempramen, kemampuan belajar, perasaan dan keterampilan. Jadi secara tidak langsung terlihat faktor biologis ini dapat mempercepat perkembangan seksual. Contohnya, kebudayaan di negara barat seperti AS, remajanya sudah melakukan prilaku seks dengan lawan jenis pada umur 13 tahun, keadaan dapat mempercepat kematangan tubuh seperti menarche (Joekonto, 2003).

7. Keturunan

Pembawa sifat keturunan pada manusia adalah kromosom dan gen. Penelitian Ong et al (2006) menyebutkan adanya keterkaitan antara umur menarche anak dengan umur menarche ibu. Dikatakan pula umur menarche ibu dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan badan anak sehingga mempengaruhi waktu menarchenya.

Usia ibu menarche dengan usia menarche responden berkaitan pada genetik atau keturunan. Usia menarche ibu kemungkinan

(25)

berhubungan dengan usia menarche siswi karena adanya faktor genetic yang berperan pada percepatan usia menarche (Rofi’atul, 2014).

C. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah suatu kerangka yang berhubungan dengan abstrak atau nyata yang disusun berdasarkan tema/topik (Manuaba, 2009). Adapun kerangka teori dalam penelitian ini sebagai berikut:

Faktor yang berhubungan :

Skema 2.1 Kerangka Teori

D. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Soekidjo 2002). Berdasarkan landasan teori di atas maka berikut adalah

1. Kesehatan umum remaja 2. Status gizi remaja 3. Pendapatan orang tua 4. Audio visual 5. Paparan majalah dewasa 6. Kebudayaan 7. Keturuannan Menarche dini

(26)

kerangka konsep penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya menarche dinipada siswi kelas 1 SMPN 2 Ukui.

Variabel independen Variabel dependen

Skema 2.2 Kerangka Konsep

E. Hipotesa

Hipotesa penelitian adalah jawaban sementara dari suatu penelitian, patokan duga atau dalil sementara yang kebenarannya akan di buktikan dengan penelitian tersebut. (Notoatmodjo, 2012). Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah:

1. Ada hubungan faktor status gizi terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

2. Ada hubungan faktor penggunaan media audio visual terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

3. Ada hubungan faktor keterpaparan bacaan majalah dewasa terhadap menarche dini pada siswi SMPN 2 kelas 1 Kecamatan Ukui Tahun 2016.

- Status gizi

- Audio visual

- Paparan majalah dewasa

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan rancangan crossectional, karena pengukuran variabel bebas dengan variable terikat dilakukan sekali waktu pada saat yang bersamaan. (Notoadmodjo 2007).

Sumber : Hidayat (2007)

Skema 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian dimulai

Menentukan subjek pilihan status gizi ,terpapar bacaan dewasa,terpapar media audio visual, siswi kelas 1 SMPN 2

Kecamatan Ukui Tahun 2016

Menentukan menarche dini siswi kelas 1 SMPN 2 Kecamatan Ukui Tahun

2016

Melakukan pengamatan secara bersamaan dalam

sekali waktu Melakukan pengolahan dan analisa data Hasil analisa 27

(28)

2. Alur Penelitian

Alur penelitian ini dapat dilihat pada skema sebagai berikut :

Skema 3.2 Alur Penelitian SMPN 2 Ukui Kabupaten Pelalawan

Proses izin penelitian dari tempat penelitian yaitu SMPN 2 Ukui

Kabupaten Pelalawan

Remaja Putri yang telah menarche N = 67 orang Status gizi 1. Kurus 2. Normal 3. Gemuk Keterpaparan bacaan majalah dewasa 1.Terpapar 2.Tidak Pengolahan Data

Analisa data : univariat dan bivariat

Penyajian hasil penelitian Penggunaan audio

visual 1.Terpapar 2.Tidak

(29)

3. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang akan peneliti lakukan meliputi :

a. Mengajukan permohonan surat izin pengambilan data kepada bagian Program Studi D IV Bidan Pendidik yang disetujui oleh Ketua STIKes Tuanku Tambusai Riau.

b. Memasukkan surat izin pengambilan data tersebut ke SMPN 2 Ukui. c. Melakukan studi pendahuluan di SMPN 2 Ukui.

d. Melakukan seminar proposal.

e. Setelah mendapatkan persetujuan untuk di teliti,kemudian mengajukan surat izin penelitian ke SMPN 2 Ukui.

f. Menjelaskan prosedur penelitian pada responden yang akan di teliti. g. Meminta responden untuk menandatangani surat persetujuan menjadi

responden penelitian.

h. Meminta responden untuk mengisi kuisioner penelitian. i. Mengumpulkan kuisioner yang telah diisi oleh responden. j. Mengolah data hasil penelitian.

4. Variabel Penelitian

Variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah

a. Variabel bebas yaitu status gizi, paparan media audio visual, paparan bacaan/ majalah dewasa.

(30)

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Ukui 2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 hingga 8 April tahun 2016.

C. Populasi Dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 1 SMPN 2 Ukui yang telah menarche yang berjumlah 67 orang siswi.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan di teliti atau sebagian jumlah dari karakteritis yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2011). Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 1 yang yang telah menarche yang berada di SMPN 2 Ukui.

Teknik sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik total sampling jadi, sampel dalam penelitian ini berjumlah 67 orang siswi. Adapun kriteria sampel dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian pada populasi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

1) Responden adalah siswi kelas 1 SMPN 2 Kecamatan Ukui 2) Responden sudah mengalami menstruasi

(31)

3) Responden yang berada ditempat pada saat penelitian 4) Bersedia untuk menjadi responden.

b. Kriteria eksklusi

Siswi SMPN 2 Ukui yang sakit kronis/sedang skorsing selama dalam waktu penelitian.

D. Alat Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Kuisioner sebagai pengumpulan data. jenis pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tertutup, sebanyak 12 pertanyaan. Sehingga responden hanya perlu memberikan jawaban berupa tanda (x) pada jawaban yang diberikan.

2. Melakukan pengukuran dan penimbangan berat badan dalam bentuk tabel.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Untuk keperluan analisa data, peneliti memerlukan sejumlah data pendukung yang berasal dari dalam dan luar lapangan, untuk itu peneliti menggunakan dua macam cara pengumpulan data. Yaitu:

a. Data Primer

Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner tertutup dan koisioner akan diberikan kepada responden untuk diisi, selain itu akan dilakukan pengukuran berat badan dan pengukuran tinggi badan terhadap responden.

(32)

b. Data Sekunder

Informasi yang dapat dari tata usaha SMPN 2 Ukui, meliputi jumlah siswi kelas 1 yang telah menarche.

F. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2011).

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Skala

Ukur Hasil Ukur

Status gizi Keadaan

keseimbangan

dalam bentuk

variabel tertentu atau perwujudan

dari nutriture

pada remaja putri

Timbangan Dan meteran Standar Antropometri Indeks BB/TB

index BB/TB Ordinal 0 = Kurus, jika sesuai

standar IMT/U= - 3 SD hingga < -2SD 1 = Normal, jika

sesuai standar IMT/U = - 2 SD hingga 1 SD 2 = Gemuk, jika sesuai standar IMT/U = >1 SD hingga 2 SD Media audio visual -Paparan terhadap acara televisi setelah pukul 21.00 WIB selama 1 minggu atau pernah menonton film orang dewasa Kuisioner Mengisi format isian Ordinal 0=Terpapar,jika menonton acara

televisi setelah pukul 21.00 > 3 kali dalam seminggu atau pernah menonton film orang dewasa

1=Tidak terpapar, jika

menonton acara

televise setelah pukul 21.00 WIB ≤ 3 kali dalam seminggu atau tidak pernah menonton film orang dewasa.

(33)

G. Pengolahan Data

Data yang di peroleh terlebih dahulu dilakukan pengolahan data sebagai berikut :

1. Editing, yaitu setiap lembar kuisioner di periksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan pada kuisioner telah terisi semua.

2. Coding, yaitu pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul kedalam komputer untuk dianalisa dengan menggunakan komputer.

Membaca buku cerita novel majalah dewasa -Paparan buku cerita novel majalah yaitu frekuensi membaca buku dalam minggu Kuisioner Mengisi format isian

Ordinal 0=Terpapar, jika

membaca buku /

tabloid/majalah orang

dewasa/dan pernah

membuka situs dewasa di internet

1=Tidak terpapar, jika tidak membaca buku/ tabloid/majalah dewasa

dan tidak pernah

membuka situs dewasa di internet Menarche Usia menarche adalah usia seorang wanita saat muncul haid pertama ( dalam tahun dan bulan )

Kuisioner Mengisi

format isian

Ordinal - 0 = Menarche dini

apabila menstruasi pertama < usia 12 Tahun - 1 = Menarche normal apabila menstruasi pertama ≥ 12 Tahun

(34)

3. Entry, yaitu memasukkan data yang telah terkumpul kedalam computer untuk dianalisa dengan menggunakan computer.

4. Cleaning, yaitu memeriksa kembali data yang telah dimasukkan kedalam computer untuk memastikan bahwa data tersebut telah bersih dari kesalahan.

5. Scoring, yaitu memberikan nilai atas jawaban yang diberikan serta dibuat persentase dari variable tersebut.

H. Analisa Data

1. Analisa Univariat

Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan prosentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2005). Dalam penelitian ini mengetahui presentase usia menarche, status gizi, media audio visual, serta presentase paparan terhadap majalah dewasa.

Rumus distribusi frekuensi:

Keterangan : P = Presentase

F = Frekuensi tiap kategori N = Jumlah sampel

(Sibagariang, 2010).

(35)

2. Analisa Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan dan berkolerasi. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan hubungan variabel bebas dan variabel terikat melalui uji statistik Chi square. Analisis dilakukan untuk mengetahui antara variabel independen dengan variabel dependen. Analisis yang digunakan adalah Chi square. Adapun syarat uji Chi square yang digunakan sebagai berikut:

a. Tidak ada sel dengan expected frequency <1

b. Banyak sel dengan expected frequency <5 tidak lebih dari 20% dari banyak sel seluruhnya.

Jika syarat uji Chi Square tidak terpenuhi baris/kolom sel digabungkan, jika tidka tetap memenuhi syarat gunakan uji lainnya yaitu Fisher Exact, dengan dasar pengambilan keputusan yaitu dengan membandingkan nilai P dengan nilai 0,05, sebagai berikut :

a. Jika nilai P 0,05, maka keputusan Ho diterima artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara variabel indepeden dan dependen b. Jika nilai P ≤ 0,05, maka keputusan Ho ditolak artinya terdapat

hubungan yang bermakna antara variabel indepeden dan dependen.

Menurut Sudigdo & Sofian (2014), untuk mengetahui besarnya resiko maka digunakan analisis odds rasio (OR) dengan interprestasi sebgai berikut :

(36)

a. Bila OR hitung > 1, maka faktor yang diteliti merupakan faktor resiko terjadi efek.

b. Bila OR hitung = 1, maka faktor yang diteliti belum bisa ditentukan dan memerlukan penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :