ARTIKEL PENELITIAN INTERNAL ABSTRAK

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ARTIKEL PENELITIAN INTERNAL ABSTRAK

Iswahyudi Joko Suprayitno dan Dwi Sulistyaningsih, 2011.Keefektifan Pembelajaran Matematika Realistik dipadu Strategi Turnamen Belajar untuk Mencapai Ketuntasan Belajar dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berbahasa Inggris.Penelitian Internal.

Secara umum tujuan pendidikan dapat digolongkan menjadi tiga domain atau ranah; yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari ketiga domain tersebut, domain kognitif sangat diutamakan dalam pendidikan di Indonesia sementara domain yang lain kurang diperhatikan. Apabila hal tersebut dibiarkan terus menerus tanpa sama sekali memperhatikan domain yang lain, kiranya mudah dipahami kalau hasil pendidikan itu sangat mungkin mencapai tingkat kecerdasan yang tinggi, tetapi tidak menunjukkan sikap-sikap yang diharapkan dalam pergaulan sehari-hari.

Dengan adanya hal tersebut peneliti ingin mencobakan suatu strategi dalam pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan realistik dipadu strategi turrnamen belajar dengan media LKS. Disini setiap siswa diharapkan menjadi lebih aktif dan memahami proses pembelajaran yang diberikan sehingga siswa dapat memberikan kontribusi pemikiran baru yang tercipta melalui pemecahan masalah matematika realistik dan terbentuk suatu lingkungan belajar yang kondusif. Dalam hal ini setiap individu dalam kelas dapat berfungsi dan dipandang sebagai sumber informasi atau sebagai sumber belajar. Selain penggunaan pembelajaran matematika realistik disini turnamen berperan juga dalam mengaktifkan siswa karena dalam turnamen ini siswa akan diajak melakukan permainan dan berkompetisi, sehingga tidak hanya ranah kognitifnya saja yang terambil, tetapi ranah afektif dan psikomotorik akan terlibat juga didalamnya. Sedangkan LKS digunakan sebagai pendamping dari pembelajaran yang dilaksanakan.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana pencapaian ketuntasan belajar siswa, meneliti pengaruh dari keaktivan siswa dan keterampilan proses terhadap kognitifnya, kemudian akan diuji perbedaan antara hasil belajar pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dengan pendekatan ekspositori. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Semarang pada siswa kelas VII. Disini populasinya seluruh siswa kelas VII yang terdiri dari 8 kelas dengan masing-masing kelas berisi 32 siswa. Sampel dilakukan dengan cluster random sampling untuk mengambil kelas eksperimen yaitu VIIA dan kelas kontrol VIIB. Variabel bebasnya adalah; keaktivan siswa, keterampilan proses, dan jenis strategi pembelajaran. Sedangkan variabel terikatnya adalah kognitif siswa. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dokumentasi, lembar observasi, angket, dan tes. Data yang diperoleh diolah dengan analisis deskriptif, analisis uji t satu sampel, dan analisis regresi linier sederhana.

Hasil penelitian dengan pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar dengan media LKS menunjukkan bahwa; (1) ketuntasan belajar dalam keaktivan siswa 72,87 %, keterampilan proses 73,40%, dan kognitif siswa telah mencapai 70%, (2) keaktivan siswa mempengaruhi kognitif sebesar 58,9%, sedangkan keterampilan proses mempengaruhi kognitif sebesar 53,3%, (3) uji rata-rata pihak kanan menunjukkan bahwa hasil belajar dengan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dengan media LKS lebih baik dibandingkan pendekatan pembelajaran ekspositori.

Dengan adanya pembelajaran ini diharapkan guru dapat mengembangkan kreatifitasnya dan dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran ini perlu juga dikembangkan pada materi lain yang dipelajari. Dengan adanya variasi pembelajaran seperti ini diharapkan meningkatkan keaktivan siswa dan keterampilan dalam berproses, sehingga dapat mendukung terciptanya kognitif yang lebih baik.

Kata kunci: Pembelajaran matematika realistik, turnamen belajar, LKS, ekspositori, dan ketuntasan belajar siswa.

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara umum tujuan pendidikan (behavioral) dapat digolongkan menjadi tiga domain atau ranah; yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif menunjukkan tujuan pendidikan yang terarah kepada kemampuan-kemampuan intelektual, kemampuan berpikir maupun kecerdasan yang akan dicapai. Domain afektif menunjukkan tujuan pendidikan yang terarah kepada kemampuan bersikap dalam menghadapi realitas atau masalah-masalah yang muncul di sekitarnya. Disini keaktivan siswa menjadi bagian penting dalam belajar. Domain psikomotorik menunjukkan tujuan pendidikan yang terarah pada keterampilan-keterampilan dalam proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran matematika, para guru masih cenderung menggunakan metode ekspositori yang hampir sepenuhnya jam pelajaran untuk ceramah dan membahas soal-soal. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan yang dikehendaki kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dalam pembelajaran matematika perlu menggunakan metode pembelajaran yang berbeda seperti yang akan diteliti disini yaitu metode pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar.

Pembelajaran aktif adalah suatu pendekatan dalam kegiatan belajar yang menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga siswa merasa benar-benar ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Aktifitas yang banyak dilakukan siswa ini tidak berarti guru bisa tinggal diam. Guru tetap harus menjalankan fungsi dan perannya secara aktif, misalnya dengan memberi petunjuk dan pengarahan tentang apa yang harus dilakukan siswanya sekaligus mendampinginya dalam proses pembelajaran, serta menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat agar pembelajaran aktif ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Dalam pembelajaran aktif, metode yang sering digunakan adalah membentuk kelompok belajar di kalangan siswa. Dengan belajar kelompok setiap siswa akan mampu berinteraksi dengan anggota kelompok lain untuk bisa memecahkan masalah secara bersama-sama, saling bantu-membantu, saling mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan kelompok lain. Interaksi itu juga akan memunculkan persaingan yang sehat di kalangan siswa yang pada akhirnya akan memunculkan iklim belajar yang menyenangkan.

Siswa yang kurang dilibatkan dalam kegiatan mental untuk mengembangkan kompetensi kognitif dan keterampilan intelektual akan membawa implikasi pada rendahnya respon siswa terhadap pelajaran matematika. Siswa kurang termotivasi dalam belajar dan kurang mengembangkan keaktivan berupa sikap yang positif dalam pembelajaran matematika. Rendahnya respon siswa terhadap keaktivan dan keterampilan proses dalam matematika berimplikasi pada kognitif, misalnya dapat dilihat dari rendahnya nilai matematika pada siswa SMP Negeri 13 kelas VII pada semester pertama rata-rata kelas 60, dengan siswa yang tuntas belajar hanya 80 dari 256 siswa dalam kelas tersebut karena nilai Kriteria Tuntas Minimal (KKM) Matematika adalah 71. Tentunya keadaan demikian bila tidak segera dilakukan tindakan perbaikan dapat berpengaruh terhadap rendahnya kognitif matematika.

Dengan penggunaan pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar dalam pembelajaran matematika diharapkan dapat memberikan peluang secara luas pada siswa untuk meningkatkan keaktivannya dalam pembelajaran secara interaktif dan meningkatkan ketrampilan dalam berproses. Dua hal ini

(3)

berpikir (kognitif). Suasana demikian tentunya akan berpengaruh pada berkembangnya kemampuan berpikir dan keterampilan hidup (life skill) siswa.

Dalam hal ini penulis akan meneliti hal tersebut, maka peneliti mengambil judul ”Keefektifan Pembelajaran Matematika Realistik dipadu Strategi Turnamen Belajar untuk Mencapai Ketuntasan Belajar dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berbahasa Inggris”

B. Perumusan Masalah

Dengan berdasarkan pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah yang diambil sebagai berikut;

1) Apakah siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan belajar dalam keaktivan siswa? 2) Apakah siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik dipadu

strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan belajar dalam keterampilan proses siswa?

3) Apakah pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar siswa dapat mencapai ketuntasan belajar dalam aspek kognitif siswa?

4) Apakah ada pengaruh keaktivan siswa dalam pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa?

5) Apakah ada pengaruh keterampilan proses dalam pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa?

6) Apakah kognitif pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar lebih baik daripada kognitif pembelajaran ekspositori?

C. Penegasan Istilah

1) Pembelajaran matematika realistik adalah pembelajaran matematika yang berpandangan bahwa matematika harus dikaitkan dengan hal yang nyata bagi murid, dan harus dipandang sebagai suatu keaktivan manusia (Freudenthal, 1991).

2) Turnamen belajar adalah teknik pembelajaran yang sama seperti Student Teams

Achievement Divisions (STAD) dalam setiap hal kecuali satu: sebagai ganti kuis dan

strategi skor perbaikan individu, turnamen belajar menggunakan turnamen permainan akademik

3) Proses menurut Muhibbin (2003:109) berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Sedangkan keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang komplek dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif. Jadi keterampilan proses bagi siswa dalam proses pembelajaran adalah suatu kesanggupan/kecakapan yang diperoleh akibat dari cara atau langkah-langkah strategi pembelajaran yang dikenakan pada siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku.

4) Ketuntasan Belajar: tuntas berarti selesai secara menyeluruh. Dalam KTSP ketuntasan belajar meliputi aspek kognitif, psikomotor, dan afektif (Depdiknas, 2006). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Jadi ketuntasan belajar adalah perolehan secara menyeluruh kepandaian/ilmu (kognitif, psikomotor, dan afektif) melewati suatu usaha.

5) Efektivitas adalah bagaimana suatu organisasi berusaha mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional. Efektivitas juga berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, adanya partisipasi aktif dari anggota (Mulyasa, 2003:82).

(4)

Sedang menurut kamus besar bahasa Indonesia, 1989: 266 Keefektivan artinya keadaan berpengaruh, keberhasilan terhadap usaha atau tindakan. Dalam penelitian ini efektivitas pembelajaran ditandai dengan hal-hal sebagai berikut; tercapainya ketuntasan belajar dalam keaktivan siswa dan keterampilan proses, berpengaruhnya kedua variabel tersebut terhadap kognitif siswa, dan diperolehnya kognitif yang lebih baik menggunakan metode pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar daripada metode pembelajaran ekspositori.

TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar

Belajar adalah suatu proses atau usaha seseorang yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan latihan, baik berupa diperolehnya pengetahuan, sikap maupun keterampilan baru. Kegiatan atau usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu merupakan proses belajar. Sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan kognitif (Hudoyo 1988: 1).

B. Keaktivan Siswa

Keaktivan belajar matematika adalah proses komunikasi antara siswa dan guru dalam lingkungan kelas baik proses akibat dari hasil interaksi siswa dan guru, siswa dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan akademik, sikap, tingkah laku dan keterampilan yang dapat diamati melalui, perhatian siswa, kesungguhan siswa, kedisiplinan siswa, dan keterampilan bertanya/menjawab siswa.

C. Keterampilan Proses

Proses menurut Muhibbin (2003:109) berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Sedangkan keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang komplek dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif. Jadi keterampilan proses bagi siswa dalam proses pembelajaran adalah suatu kesanggupan/kecakapan yang diperoleh akibat dari cara atau langkah-langkah strategi pembelajaran yang dikenakan pada siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku.

D. Kognitif Siswa

Menurut Winkel (1991:42), kognitif merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Prestasi adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu kegiatan, secara singkat dapat dikatakan prestasi adalah hasil usaha. Perbedaan kognitif dengan prestasi belajar, bahwa penilaian kognitif dilakukan sekali setelah suatu kegiatan pembelajaran dilaksanakan, sementara penilaian prestasi belajar dilakukan setelah beberapa kali penilaian kognitif dan kognitif yang terakhir dianggap sebagai prestasi belajar karena diharapkan merupakan hasil yang maksimal, tetapi kedua istilah tersebut dikatakan identik karena sama-sama merupakan hasil usaha yaitu belajar.

E. Kriteria Tuntas Belajar

Ketuntasan belajar atau disebut juga daya serap adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran. Ketuntasan belajar pada materi pelajaran atau tujuan pembelajaran, di mana keduanya dapat dianalisis secara perorangan atau perkelas.

Dalam penelitian ini kriteria ketuntasan belajar siswa bila telah menguasai 71% dari keseluruhan materi pokok yang diberikan.

(5)

F. PendidikanMatematikaRealistik dan Pembentukan Kemampuan Berpikir Siswa Pengembangan matematika realistik didasarkan pada pandangan Freudenthal terhadap matematika yang berpandangan sebagai berikut; matematika harus dikaitkan dengan hal yang nyata bagi murid, dan matematika harus dipandang sebagai suatu keaktivan manusia.

Sejalan dengan itu, menurut Soedjadi (2000) pendidikan matematika realistik memiliki filsafat dasar yaitu bahwa “matematika adalah keaktivan manusia”, dan tidak lagi dipandang “siap pakai”. Filsafat ini mengakibatkan perubahan yang amat mendasar tentang proses pembelajaran matematika. Tidak lagi hanya pemberian informasi dalam pembelajaran matematika, tetapi harus mengubah menjadi keaktivan manusia untuk memperoleh pengetahuan matematika. Selanjutnya PMR memiliki karakteristiknya; menggunakan konteks, menggunakan model, menggunakan konstribusi siswa, interaksi, dan presentasi.

Implementasi PMR di Indonesia harus dimulai dengan mengadaptasikan agar sesuai dengan karakteristik dan budaya bangsa Indonesia. Pengimplementasian di kelas harus didukung oleh sebuah perangkat yang dalam hal ini adalah buku ajar yang sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia. Implementasi PMR di kelas meliputi tiga fase yakni; fase pengenalan, fase eksplorasi dan fase meringkas.

G. Teams Games Tournaments atauTurnamen Belajar

Komponen-komponen turnamen belajar adalah sebagai berikut: Presentasi kelas, tim dan permainan. Turnamen merupakan struktur bagaimana dilaksanakannya permainan tersebut. Turnamen itu biasanya dilaksanakan pada akhir minggu, setelah guru menyelesaikan presentasi kelas dan tim-tim memperoleh kesempatan berlatih. Untuk turnamen pertama, guru menetapkan siapa yang akan bertanding pada meja permainan. Menetapkan empat siswa peringkat atas dalam kinerja yang lalu pada meja, masing-masing siswa mewakili timnya. Empat siswa berikutnya pada meja 2, dan seterusnya. Bertanding dengan lawan seimbang ini, menyerupai sitem skor perbaikan individual pada STAD, yang memungkinkan bagi setiap siswa dari seluruh tingkat kinerja yang lalu menyumbang secara maksimal kepada skor timnya apabila mereka melakukan yang terbaik. Diagram 1 menunjukkan hubungan antara tim-tim heterogen itu dengan meja-meja yang homogen.

Setelah minggu pertama tersebut, siswa dapat berpindah meja bergantung kepada kinerja mereka sendiri pada turnamen yang paling mutakhir. Pemenang pada tiap meja naik ke atas menuju ke meja yang lebih tinggi berikutnya (misalnya, dari meja 2 ke meja 3). Dengan cara ini, jika ada siswa yang salah tempat pada awalnya, mereka akhirnya akan bergerak ke atas atau ke bawah sampai mereka berada pada tingkat kinerja yang benar.

H. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah seperangkat pertanyaan dan tugas yang disusun dalam suatu lembaran untuk memahami suatu konsep. LKS bertujuan untuk mengarahkan siswa melalui tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mencapai suatu pemahaman terhadap konsep tertentu. Oleh karena tujuan akhir dari pemberian lembar kerja siswa adalah tercapainya pemahaman pada diri siswa terhadap suatu konsep maka suatu lembar kerja siswa harus disusun secara sistematis.

I. Teori Belajar yang Mendukung Pendekatan PMR dipadu Strategi Turnamen Belajar

a. Teori Piaget

a.1. Memusatkan pada proses berpikir atau proses mental

a.2. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran

(6)

a.3. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam kemajuan perkembangan. b. Teori Belajar Ausubel

Menurut Ausubel belajar bermakna timbul jika siswa mencoba menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya.

J. Metode Ekspositori

Metode ekspositori adalah cara penyampaian pelajaran dari seorang guru kepada siswa di dalam kelas dengan cara berbicara di awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal disertai tanya jawab (Suyitno, 2004: 4).

Kekurangan dari metode ekspositori adalah:

a. Pada metode ini tidak menekankan penonjolan keaktivan fisik seperti keaktivan mental siswa.

b. Kegiatan terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). c. Pengetahuan yang didapat dengan metode ekspositori cepat hilang.

d. Kepadatan konsep dan aturan-aturan yang diberikan dapat berakibat siswa tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan.

(Suharyono, 1996). K. Soal Cerita

Soal cerita dalam matematika lebih ditekankan kepada penajaman intelektual anak sesuai dengan realitas sehari-hari. Karena masalah matematika sehari-hari lebih banyak bersifat kata-kata daripada simbol. Bentuk masalah-masalah yang dihadapi dirangkai menjadi kata yang harus diterjemahkan dalam bentuk kalimat matematika. L. Hasil Penelitian Terkait

1) Penelitian Asmin (2001) dari Universitas Negeri Medan

2) Penelitian Darhim dan Hamzah (2006) dari Universitas Pendidikan Indonesia 3) Penelitian Supriyono dan Sukestiyarno (2002) dari Universitas Negeri Semarang 4) Penelitian Mastur Burhanudin (2006) dari Universitas Pendidikan Indonesia 5) Penelitian Khoirul Anwar (2006) dari Universitas Negeri Semarang

6) Penelitian Iswahyudi Joko (2007) dari Universitas Negeri Semarang M. Kerangka Berpikir

N. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian pada landasan teori dan kerangka berpikir diatas dapat ditarik kesimpulan sementara (hipotesis) penelitian sebagai berikut;

1) Pembelajaran matematika realistik dipadu turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan belajar dalam keaktivan siswa dalam pembelajaran.

2) Pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan belajar dalam keterampilan proses siswa dalam pembelajaran.

3) Pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan kognitif siswa dalam pembelajaran.

Proses belajar mengajar Buku Panduan + LKS

Siswa mempelajari materi, melakukan pengamatan,

praktek langsung, dan mengerjakan LKS

Interaksi siswa dan guru

Pembelajaran PMR + Turnamen belajar

Ketuntasan siswa dalam keaktivan, keterampilan

(7)

4) Terdapat pengaruh keaktivan siswa dalam pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa.

5) Terdapat pengaruh positif keterampilan proses pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa.

6) Kognitif pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar lebih baik daripada kognitif pembelajaran dengan metode ekspositori.

TUJUAN PENELITIAN A. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian sebagai berikut:

1) Untuk mengetahui sejauh mana pencapaian ketuntasan belajar siswa dalam keaktivan, keterampilan proses, dan kognitif siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar.

2) Untuk mengetahui besarnya pengaruh keaktivan siswa dalam pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa.

3) Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan proses siswa dalam pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa.

4) Untuk mengetahui apakah kognitif pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar lebih baik daripada kognitif pembelajaran dengan metode ekspositori.

B. Manfaat Penelitian

Dengan penelitian ini, diharapkan siswa menjadi lebih berani dalam memberi tanggapan, siswa dapat menghargai pendapat orang lain, penalaran siswa menjadi lebih baik, komunikasi matematika menjadi terbangun secara baik, siswa menjadi mengerti tentang matematika tanpa harus menghapal, siswa belajar secara menyenangkan, tidak takut salah, dan siswa dapat mengembangkan keterampilan yang dipunyai. Dengan hal ini keaktivan dan keterampilan proses siswa dapat mendukung terciptanya kognitif siswa yang lebih baik. Sedangkan bagi guru diharapkan dipeolehnya suatu variasi strategi pembelajaran yang lebih efektif pada materi matematika dan guru dapat memfungsikan diri sebagai fasilitator sehingga dapat mengaktifkan siswa menjadi lebih aktif dan mau berkompetisi.

Kemudian pada penentu kebijakan diharapkan memperoleh masukan tentang variasi pembelajaran berdasarkan pendekatan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dan penentu kebijakan dapat mulai menentukan kebijakan kurikulum sendiri yang lebih mengena pada siswa, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih baik dan menyenangkan.

KONTRIBUSI PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk pemecahan masalah pembangunan sumberdaya, yaitu sebagai bahan masukan yang berguna bagi sekolah yang mengelola siswa khususnya tentang faktor keaktifan, keterampilan berproses, dan kognitif sebagai pendukung tercapainya ketuntasan siswa.

METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup

1. Populasi. Populasi yang ditetapkan peneliti adalah semua kelas VII SMP Negeri 13 Semarang pada Semester 1 tahun pelajaran 2011/2012.

(8)

2. Sampel. Kelas VII A sebagai kelompok eksperimen, kelas VII B sebagai kelompok kontrol, dan kelas VII C sebagai kelas uji coba instrumen. Semuanya dipilih secara

cluster random sampling.

B. Variabel Penelitian

a) Untuk hipotesis 1, 2, dan 3 diatas dikenakan pada kelas eksperimen. Variabelnya adalah keaktivan siswa dalam pembelajaran, keterampilan proses pembelajaran siswa, dan kognitif siswa.

b) Untuk hipotesis 4 dikenakan pada kelas eksperimen.

Variabel independennya (X) keaktivan siswa dalam pembelajaran. Variabel dependennya (Y) adalah kognitif siswa

c) Untuk hipotesis 5 dikenakan pada kelas eksperimen.

Variabel independennya (X) Keterampilan proses siswa dalam pembelajaran. Variabel dependennya (Y) adalah kognitif siswa

d) Untuk hipotesis 6 dikenakan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

Variabel independennya adalah jenis strategi pembelajaran. Variabel dependennya adalah kognitif siswa.

C. Desain Penelitian

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut:

d.1 Dokumentasi. Metode ini digunakan untuk memperoleh nama-nama siswa yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini dan data nilai siswa pada awal masuk SMP Negeri 13 Semarang Semarang tahun pelajaran 2011/2012. Nilai tersebut digunakan untuk mengetahui homogenitas sampel awal yang akan diteliti.

Evaluasi guru (peneliti)

dan siswa mengenai pembelajaran PMR

Pendekatan PMR dipadu strategi turnamen belajar Menyusun rencana pembelajaran

Mempersiapkan modul dan LKS

Memberikan tugas mempelajari modul dan mengerjakan tugas terstruktur dalam LKS

Siswa melakukan pengamatan, praktek secara langsung, merangkum, dan mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul

Tatap muka di kelas dan guru melakukan pengulangan materi dan pembahasan permasalahan dari tugas dengan diskusi bersama siswa Permainan secara kompetisi individu maupun kelompok sesuai dengan

strategi turnamen belajar

Evaluasi Kognitif + Keaktivan siswa Pengamatan

keterampilan proses

(9)

d.2 Tes. Tes digunakan untuk mengukur kognitif siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

d.3 Pengamatan atau observasi. Hal ini dilakukan untuk mengamati keaktivan siswa, suasana proses pembelajaran, dan keterampilan proses yaitu dengan lembar pengamatan

d.4 Angket. Digunakan untuk memperoleh data yang lebih lengkap tentang keaktivan siswa terhadap pembelajaran dengan tugas terstruktur yang menggunakan pendekatan PMR dipadu strategi turnamen belajar.

E. Instrumen dan Teknik Pengambilan Data

Dalam pelaksanaan penelitian, teknik pengambilan data pada variabel keaktivan siswa dan keterampilan proses dilakukan dengan lembar pengamatan sedangkan untuk variabel kognitif kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol pengukurannya dengan tes tertulis.

Indikator–indikator variabel keterampilan proses dan variabel keaktivan akan diuji validitas isinya, sedangkan untuk variabel kognitif akan dilakukan reliabilitas, validitas, tingkat kesulitan soal, dan daya beda.

Dari hasil analisis tersebut terlihat bahwa 10 item dari 15 item soal yang diujicobakan layak untuk dipakai yaitu dengan kriteria valid dan mempunyai daya pembeda yang tidak jelek sehingga soal tersebut dapat digunakan. Soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal nomor 1, 3, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 13, dan 15. Perhitungan analisis uji coba tes selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7 dan 8. F. Metode Analisis Data

Tahap awal yang merupakan tahap pemadanan sampel dan tahap akhir, yang merupakan tahap analisis data untuk menguji hipotesis penelitian.

1) Analisis Data Awal a. Uji Normalitas

b. Uji Kesamaan Dua Varians (homogenitas) c. Uji Kesamaan Rata-Rata

2) Analisis Data Akhir

Setelah semua perlakuan berakhir kemudian diberi tes. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis yang diharapkan. Data yang terkumpul dilakukan uji statistik deskriptif dan dilanjutkan analisis data kuantitatif.

Untuk menguji hipotesis nomor 1, 2, dan 3 ini digunakan uji t satu sampel. Sedangkan untuk menguji hipotesis nomor 4 dan 5 ini digunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji regresi linier sederhana. Dalam hal ini diolah menggunakan program microsoft exel dan SPSS versi 16.0. Kemudian untuk menguji hipotesis 6 dilakukan uji t satu sampel.

G. Indikator Pencapaian

Target pencapaian untuk keaktivan siswa, keterampilan proses, dan kognitif siswa pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar pada penelitian ini akan memprogramkan sebesar 71%. Hal ini dengan pertimbangan menghindari jenjang siswa yang pandai dan tidak (keheterogenan siswa dalam kelas). Sedangkan standar ketuntasan belajar minimal mata pelajaran matematika yang ditetapkan di SMP Negeri 13 Semarang adalah 71

(10)

I. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan 1 Bulan ke:2 3 4

1 Perijinan xx

2 Penyusunan Perangkat Tes xx

3 Analisa perangkat Tes xx

4 Pelaksanaan Pretest xx

5 Pembelajaran kelas eksperimen dan kelas Kontrol xx xx

6 Pelaksanaan posttest xx xx

7 Analisa Hasil Uji coba xx

8 Pelaporan xx

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2011. Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan, terlebih dahulu menentukan materi penelitian, subjek penelitian, menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari; kisi-kisi soal uji coba, soal uji coba, rencana pembelajaran, soal evaluasi tiap pertemuan, lembar kerja siswa, angket keaktivan siswa, dan angket keterampilan proses. Materi pokok yang dipilih adalah operasi hitung bilangan bulat.

Model pembelajaran yang digunakan dalam kelas eksperimen yaitu model pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dan di kelas kontrol digunakan pembelajaran dengan metode ekspositori. Pelaksanaan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terdiri dari 3 tahap utama yaitu; pengenalan, eksplorasi, dan meringkas.

2. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Proses pembelajaran sesuai dengan jadwal pelajaran kelas VII semester 1 tahun pelajaran 2011/2012 yaitu pada tanggal 28 Oktober, 5, 8, 12, dan 15 April 2011.. Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat dilaporkan hasil angket siswa variabel keaktivan, hasil pengamatan variabel keterampilan proses, dan kognitif siswa. Descriptive Statistics 32 56.47 91.76 72.8676 7.7287 59.733 32 59.41 90.59 73.4007 6.7397 45.423 32 48.00 100.00 81.5000 12.3784 153.226 32 KEAKTIVN K_PROSES HSL_BLJR Valid N (listwise)

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance

a) Keaktivan siswa terhadap pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar

Nilai interval 57,41 sampai 88,33 berada dalam interval minimum atau maksimum, sebab data nilai minimum 56,47 dan maksimumnya 91,76. Hal ini dikatakan data mempunyai simpangan baku kecil yang berarti data cenderung homogen.

b) Keterampilan proses siswa terhadap pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar

(11)

Nilai interval 59,92 sampai 86,88 berada dalam interval minimum atau maksimum, sebab data nilai minimum 59,41 dan maksimumnya 90,59. Hal ini dikatakan data mempunyai simpangan baku kecil yang berarti data cenderung homogen.

c) Pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa

Nilai interval 56,74 sampai 106,26 berada dalam interval nilai minimum tetapi diluar nilai maksimum, sebab data nilai minimum 48 dan maksimumnya 100. Hal ini dikatakan data mempunyai simpangan baku tidak kecil. Ini berarti data cenderung mengumpul ke kanan atau tidak homogen.

B. Uji Hipotesis Penelitian

1) Siswa dengan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan belajar dalam keaktivannya.

Ho : µ ≤ 0 (rataan nilai keaktivan sama atau kurang dari 71) H1 : µ > 71 (rataan nilai keaktivan melebihi 71)

nilai uji ketuntasan variabel keaktivan secara statistik menunjukkan diatas harapan karena telah melebihi dari target 71% yaitu 72,87%.

2) Siswa dengan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan belajar dalam keterampilan proses.

Ho : µ ≤ 0 (rataan nilai keterampilan proses sama atau kurang dari 71) H1 : µ > 71 (rataan nilai keterampilan proses melebihi 71)

Dengan demikian perolehan nilai uji ketuntasan variabel keterampilan proses secara statistik menunjukkan diatas harapan karena telah melebihi dari target 71% yaitu 73,40%.

3) Siswa dengan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar dapat mencapai ketuntasan kognitifnya.

Hasil perhitungan uji keefektifan pembelajaran kelompok eksperimen diperoleh thitung = 5,26. Dengan kriteria uji pihak kanan, untuk α = 5% dan dk = n – 1 = 32 – 1 = 31, diperoleh t(0.95)(31) = 1,7. Karena thitung > ttabel maka disimpulkan bahwa rata-rata kognitif kelompok eksperimen ≥ 71, sehingga dapat dinyatakan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 41.

4) Terdapat pengaruh keaktivan siswa dalam pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa.

a) Hasil Uji Normalitas b) Hasil Uji Homogenitas

c) Hasil Uji Regresi Linier Sederhana

Hubungan X terhadap Y adalah linier berarti besarnya koefisien korelasi adalah 0,768. R2 = 0,589 = 58,9%, artinya keaktivan mempengaruhi kognitif siswa sebesar 58,9%, sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 41,1%.

5) Terdapat pengaruh positif keterampilan proses pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa.

Hubungan X terhadap Y adalah linier berarti besarnya koefisien korelasi adalah 0,730. R2 = 0,533 = 53,3%, artinya keterampilan proses mempengaruhi kognitif sebesar 53,3%, sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 46,7%.

6) Kognitif pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar lebih baik daripada kognitif pembelajaran dengan metode ekspositori.

Dari penelitian diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen x1 = 81.50 dan rata-rata kelompok kontrol x2= 76.59, dengan n1 = 32 dan n2 = 31 diperoleh thitung =

(12)

1.687. Dengan α = 5% dan dk = 32 + 32 – 2 = 62, diperoleh ttabel =1.67. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti rata-rata kognitif matematika pada materi operasi hitung pada bilangan bulat dengan pembelajaran matematika realistik dipadu dengan strategi turnamen belajar lebih dari rata-rata kognitif matematika dengan metode ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 40.

C. Pembahasan

1. Proses Kelompok Eksperimen

Pada fase pengenalan, guru memperkenalkan masalah realistik dalam matematika kepada seluruh siswa serta membantu untuk memberi pemahaman

(setting) masalah. Pada fase ini sebaiknya ditinjau ulang semua konsep-konsep yang

berlaku sebelumnya dan diusahakan untuk mengaitkan masalah yang dikaji saat itu ke pengalaman siswa sebelumnya

Pada fase eksplorasi, siswa dianjurkan bekerja secara individual, berpasangan atau dalam kelompok kecil. Pada saat siswa sedang bekerja, mereka mencoba membuat model situasi masalah, berbagi pengalaman atau ide, mendiskusikan pola yang dibentuk saat itu, serta berupaya membuat dugaan. Selanjutnya dikembangkan strategi-strategi pemecahan masalah yang dilakukan berdasarkan pada pengetahuan informal atau formal yang dimiliki siswa. Di sini guru berupaya meyakinkan siswa dengan cara memberi pengertian sambil berjalan mengelilingi siswa, melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan siswa, dan memberi motivasi kepada siswa untuk giat bekerja. Dalam hal ini, peranan guru adalah memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang memerlukan bantuan. Bagi siswa yang berkemampuan tinggi, dapat diberikan pekerjaan yang lebih menantang yang berkaitan dengan masalah. Didalam fase eksplorasi ini terdapat presentasi dan turnamen. Dalam presentasi ini siswa diberikan LKS sebagai bahan panduan. LKS tersebut dibaca dan dibahas dalam tim. Pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan isi yang dirancang untuk mengetes pengetahuan siswa yang diperoleh dari presentasi kelas dan latihan tim.

Setelah itu diadakan turnamen. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu. Permainan dimainkan pada meja-meja yang berisi tiga siswa, tiap-tiap siswa mewakili tim yang berbeda. Kebanyakan permainan hanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberi nomor dan disajikan pada lembar pertanyaan-pertanyaan. Seorang siswa mengambil sebuah kartu bernomor dan berusaha menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor kartu tersebut. Diadakan aturan tantangan yang memungkinkan seorang pemain mengemukakan jawaban berbeda untuk menantang jawaban lawannya. Turnamen itu biasanya dilaksanakan pada akhir minggu, setelah guru menyelesaikan presentasi kelas dan tim-tim memperoleh kesempatan berlatih dengan LKS. Untuk turnamaen pertama, guru menetapkan siapa yang akan bertanding pada meja permainan. Menetapkan tiga siswa peringkat atas dalam kinerja yang lalu pada meja, masing-masing siswa mewakili timnya. Tiga siswa berikutnya pada meja 2, dan seterusnya. Bertanding dengan lawan seimbang ini, menyerupai sitem skor perbaikan individual pada STAD, yang memungkinkan bagi setiap siswa dari seluruh tingkat kinerja yang lalu menyumbang secara maksimal kepada skor timnya apabila mereka melakukan yang terbaik.

Setelah minggu pertama tersebut, siswa dapat berpindah meja bergantung kepada kinerja mereka sendiri pada turnamen yang paling mutakhir. Pemenang pada tiap meja naik ke atas menuju ke meja yang lebih tinggi berikutnya (misalnya, dari meja 2 ke meja 3). Dengan cara ini, jika ada siswa yang salah tempat pada awalnya,

(13)

mereka akhirnya akan bergerak ke atas atau ke bawah sampai mereka berada pada tingkat kinerja yang benar.

Pada fase meringkas, guru dapat mengawali pekerjaan lanjutan setelah siswa menunjukkan kemajuan dalam pemecahan masalah. Sebelumnya mendiskusikan pemecahan-pemecahan dengan berbagai strategi yang mereka lakukan. Dalam hal ini, guru membantu siswa meningkatkan kinerja matematika secara lebih efisien dan efektif. Peranan siswa dalam fase ini sangat penting seperti: mengajukan dugaan, pertanyaan kepada yang lain, bernegosiasi, alternatif-alternatif pemecahan masalah, memberikan alasan, memperbaiki strategi dan dugaan mereka, dan membuat keterkaitan. Sebagai hasil dari diskusi, siswa diharapkan menemukan konsep-konsep awal/utama atau pengetahuan matematika formal sesuai dengan tujuan materi. Dalam fase ini guru juga dapat membuat keputusan pengajaran yang memungkinkan semua siswa dapat mengaplikasikan konsep atau pengetahuan matematika formal.

Berdasarkan pertemuan pertama masih terdapat kekurangan selama proses pembelajaran sebagai berikut, kinerja guru dalam pengelolaan pembelajaran belum dilaksanakan dengan baik karena model ini merupakan hal yang baru bagi guru. Motivasi yang diberikan guru masih terlalu sedikit, peran guru dalam membimbing siswa dalam mengorganisasi tugas-tugas masih perlu ditingkatkan sehingga masih terdapat beberapa kelompok yang belum memahami tugas yang harus diselesaikan sehingga banyak siswa yang bertanya, bercerita sendiri, dan tidak aktif dalam kelompoknya sehingga menimbulkan kegaduhan. Dalam membimbing siswa membuat hasil karya, peran guru juga masih perlu ditingkatkan.

Penyajian hasil diskusi kelompok oleh wakil dari setiap kelompok belum disajikan dengan baik, tulisan yang ditampilkan belum lengkap dan tulisannya kecil-kecil, suara yang dikeluarkan juga masih pelan sehingga belum bisa dimengerti oleh teman sekelasnya dengan baik sehingga terkesan menerangkan untuk dirinya sendiri. Reaksi dari siswa atau kelompok lain juga belum ada karena masih belum ada siswa yang bertanya atau menanggapi tentang penyajian dari kelompok yang maju.

Kerja sama siswa pada pertemuan pertama belum baik karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang dilaksanakan, masih banyak siswa yang pasif dalam kelompoknya dan belum ada pembagian tugas yang merata dalam kelompok. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama belum dilaksanakan dengan baik, sehingga masih perlu diperbaiki, agar kemampuan dalam memecahkan masalah dan bekerja sama dapat ditumbuhkembangkan sehingga kognitif dapat ditingkatkan.

Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua sudah lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Tetapi motivasi yang diberikan guru masih sedikit. Bimbingan penyelidikan secara individual atau kelompok juga masih perlu ditingkatkan, karena masih ada beberapa siswa yang belum aktif dalam pelaksanaan diskusi. Peran guru dalam membimbing pengembangan dan penyajian hasil karya perlu ditingkatkan karena belum dibuat kesepakatan dengan siswa tentang posisi kertas dalam menyajikan hasil karya sehingga siswa masih semaunya sendiri.

Keaktivan siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa belum terlaksana dengan maksimal, mereka masih canggung untuk saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya sehingga masih sering bertanya kepada guru bila menemui kesulitan. Dalam menyampaikan tanggapan dan gagasan secara lisan juga perlu ditingkatkan, karena dalam penyajian hasil diskusi masih terlihat malu-malu sehingga memakan banyak waktu.

(14)

Kerjasama siswa sudah semakin baik, karena siswa sudah mengenal model pembelajaran yang dilaksanakan. Partisipasi siswa di dalamnya menunjukkan sedikit peningkatan. Diskusi antar teman dalam kelompok terlaksana dengan baik walau masih ada sebagian siswa yang tidak berperan aktif dalam kelompoknya.

Pelaksanaan pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar pada pertemuan ketiga menunjukkan peningkatan yang lebih baik daripada pertemuan kedua. Guru telah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan lengkap dan memunculkan masalah dengan sangat baik. Bimbingan guru dalam mengorganisasi tugas-tugas sudah sangat baik juga, siswa sudah dengan sendirinya mengambil dan mempersiapkan logistik yang diperlukan walaupun masih terkesan ramai. Bimbingan individual maupun kelompok sudah mulai ditingkatkan, sehingga suasana pembelajaran menjadi kondusif, hampir seluruh siswa aktif dalam pembelajaran. Peran guru dalam membimbing siswa menyajikan hasil karya sudah lebih baik. Penulisan hasil diskusi dalam kertas manila sudah tertulis lengkap. Dalam menyimpulkan materi pada pertemuan ketiga ini, guru masih berperan cukup banyak karena siswa masih kesulitan dalam merangkai kata-kata.

Keaktivan siswa pada pertemuan ketiga juga meningkat dibanding pertemuan II. Sebagian besar siswa melakukan keaktivan matematika seperti menghitung, mengamati, mencatat, memprediksi, dan membuat kesimpulan sehingga pembagian tugas dalam kelompok sudah lebih merata dan tidak terlihat siswa yang diam atau bercerita sendiri. Interaksi antar siswa sudah baik, mereka sudah saling bekerjasama, berdiskusi, bertanya dan menjelaskan, bahkan sudah ada sebagian kelompok yang berdiskusi dengan guru ketika guru memberikan bimbingan kelompok.

Siswa menjadi lebih berani dalam menyajikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Wakil kelompok yang maju setiap kali pertemuan tidak sama dengan pertemuan sebelumnya, hal ini untuk melatih keberanian tiap-tiap anak. Suara yang dikeluarkan sudah cukup keras sehingga siswa lain yang di belakang dapat mendengar. Beberapa anak sudah berani bertanya dan menanggapi secara lisan hasil presentasi kelompok yang maju. Kerjasama siswa pada pertemuan ini, menunjukkan peningkatan. Semua anggota kelompok sudah terbiasa membagi tugas untuk memecahkan masalah, setiap anggota kelompok terlibat di dalamnya.

Pada pertemuan keempat, guru sudah agak mengurangi pemberian bantuan karena siswa sudah bisa melakukannya sendiri. Guru hanya memberikan bantuan pada kelompok yang mengalami kesulitan. Pada pertemuan yang ke keempat ini, guru tetap mengaktifkan diskusi/dialog antar teman dalam kelompoknya. Diskusi antara guru dengan siswa juga semakin meningkat, siswa sudah tidak merasa canggung lagi bertanya kepada guru. Hubungan yang baik antara guru dengan siswa dan sesama siswa dalam kelompok telah meningkatkan kerjasama yang baik sehingga jumlah siswa yang mengalami kesulitan sudah berkurang.

Keaktivan siswa yang dilakukan pada pertemuan keempat sudah baik. Model kerja sama yang dilaksanakan pada model pembelajaran realistik yang dipadu strategi turnamen belajar telah meningkatkan keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat. Siswa sudah berani menyampaikan gagasannya secara lisan. Dalam penyampaian hasil diskusi, siswa sudah dapat menyampaikan gagasan kelompoknya secara lengkap dan teratur.

Kerjasama siswa pada pertemuan keempat juga semakin baik. Antar sesama anggota kelompok sudah saling membantu dalam mengutarakan pendapat, dan saling mendengarkan pendapat yang diajukan oleh salah satu anggota. Mereka berbicara secara teratur dan bergiliran sehingga suasana diskusi terlihat semakin kondusif.

(15)

Pelaksanaan pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar pada pertemuan kelima sudah baik. Guru telah melaksanakan tahap-tahap pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar dengan sangat baik. Guru telah memunculkan masalah dan memotivasi siswa untuk bisa memecahkan masalah yang diajukan dengan sangat baik sehingga siswa semakin senang dengan model pembelajaran yang dilaksanakan. Peran guru dalam membimbing siswa mengorganisasikan tugas-tugas dan berbagi tugas dengan teman kelompoknya juga sudah baik. Siswa sudah dengan sendirinya melaksanakan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Bantuan yang diberikan guru sudah berkurang, guru hanya memberikan bantuan pada siswa atau kelompok yang membutuhkan.

Ada peningkatan keaktivan siswa dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya, dengan model kerja kelompok yang dilakukan setiap kali pertemuan telah meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. Bentuk kerjasama yang selalu mereka kerjakan juga melatih mereka untuk selalu menghargai orang lain.

Menurut peneliti, kerjasama yang baik ini menjadi salah satu pendukung keberhasilan siswa yang ditunjukkan tidak hanya pada kognitifnya saja tetapi pada kemampuan siswa dalam memahami dan memecahkan masalah serta kerjasama yang dapat ditumbuhkembangkan. Model pembelajaran ini membuat mereka menjadi berani mengemukakan pendapat dan meningkatkan percaya diri bagi siswa untuk tampil di depan kelas.

2. Proses Kelompok Kontrol

Pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas kontrol adalah pembelajaran ekspositori. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Dalam pembelajaran ekspositori, guru menjelaskan materi secara urut kemudian siswa diberi kesempatan untuk mencatat. Selanjutnya guru memberikan beberapa contoh soal latihan. Kemudian guru memberikan soal-soal latihan untuk dikerjakan di buku latihan. Setelah selesai mengerjakan soal, beberapa siswa diminta untuk mengerjakan soal tersebut di papan tulis. Guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa mengenai hal-hal yang belum dipahami. Di akhir pembelajaran, guru menegaskan kembali tentang materi yang telah dipelajari kemudian memberi tugas rumah.

Pembelajaran dengan metode ekspositori pada awalnya memang membuat siswa lebih tenang karena guru yang mengendalikan siswa. Siswa duduk dan memperhatikan guru menerangkan materi pelajaran. Hal semacam ini justru mengakibatkan guru kurang memahami pemahaman siswa, karena siswa yang sudah jelas atau belum hanya diam saja. Siswa yang belum jelas kadang tidak berani atau malu untuk bertanya pada guru. Pada waktu mengerjakan soal latihan hanya siswa yang pandai saja yang serius mengerjakan soal yang diberikan oleh guru sedangkan yang lain lebih asyik bercerita dengan temannya.

Permasalahan lain yang dihadapi oleh siswa adalah tentang kemampuan siswa dalam memahami dan memecahkan masalah. Karena pembelajaran tidak menggunakan sistem kelompok maka masalah yang diberikan harus dikerjakan sendiri, oleh karena itu pemahaman siswa dalam memahami arti atau maksud soal yang diberikan agak lambat dan kecepatan berhitung pun agak lambat sehingga memakan banyak waktu, dalam setiap kali pertemuan tidak selalu bisa memberikan evaluasi. Karena itu guru yang memberikan pelajaran sebaiknya mengadakan variasi model pembelajaran dalam mengajar.

Berdasarkan analisis hasil penelitian, kita ketahui bahwa kognitif kelas eksperimen lebih baik dari kognitif kelas kontrol. Hal ini disebabkan karena kedua

(16)

kelas ini diberi perlakuan yang berbeda. Pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran matematika realistik yang dipadu dengan strategi turnamen belajar sedangkan pada kelas kontrol dengan menggunakan metode ekspositori. Indikator dari keefektifan pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil tes secara individual yang mampu menyelesaikan minimal 71% dari tujuan keseluruhan, tetapi juga ketuntasan belajar secara klasikal yang mencapai sekurang-kurangnya 71% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas telah tuntas belajar.

Suatu proses pembelajaran juga dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan kerjasama siswa dalam kelompoknya. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pun semakin meningkat pada setiap pertemuan.

Pada pertemuan kelima guru memberikan penguatan materi dan beberapa soal latihan yang harus dikerjakan secara individual karena siswa harus dilatih untk berfikir mandiri. Tidak selamanya siswa harus menyelesaikan masalah secara bersama-sama atau kelompok. Selain itu dengan pemberian masalah yang berbeda dari tiap kelompok juga menyebabkan pemahaman yang berbeda, siswa lebih menguasai masalah yang dihadapi dalam kelompoknya sedangkan masalah yang terdapat dalam kelompok lain siswa perlu pemahaman khusus.

Pelaksanaan model pembelajaran yang monoton dapat menyebabkan kejenuhan pada siswa, untuk lebih memotivasi dan menghindari kejenuhan pada siswa dalam pelaksanaan pembelajaran matematika realistik yang dipadu dengan strategi turnamen belajar guru dapat mengadakan variasi dengan memberikan keleluasaan dalam memilih masalah untuk diselidiki dan pemecahannya dapat dilakukan dengan beragam material dan peralatan, dan pelaksanaannya bisa dilakukan di dalam kelas, bisa juga dilakukan di perpustakaan atau laboratorium, bahkan dilakukan diluar sekolah agar siswa lebih memahami peran matematika yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Hambatan yang dialami selama proses pembelajaran kiranya dapat menjadi tinjauan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran serupa. Pembelajaran matematika realistik yang dipadu dengan strategi turnamen belajar perlu terus ditingkatkan untuk meningkatkan kognitif siswa.

Pada metode ekspositori, karena tidak adanya sistem kelompok maka kerjasama antar individu tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Dengan metode pembelajaran yang demikian belum bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tursinah (2004) mengenai kelemahan metode ekspositori yang diterapkan pada kelompok kontrol ini.

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab IV di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Secara deskriptif hasil variabel keaktivan siswa mempunyai rataan 72,87 (skor terendah 56,47 dan skor tertinggi 91,76) yang berkategori tinggi. Hasil ini memberikan gambaran keaktivan siswa terhadap pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar. Setelah diadakan uji pihak kanan diperoleh signifikansi sebesar 4,40% kurang dari 5% maka Ho ditolak, artinya penyataan rataan variabel keaktivan siswa melebihi skor 71 dapat diterima. Dengan demikian perolehan skor uji ketuntasan variabel keaktivan siswa secara statistik menunjukkan diatas harapan karena telah melebihi dari target 71% yaitu 72,87%.

(17)

2) Variabel keterampilan proses mempunyai rataan 73,40 (skor terendah 59,41 dan skor tertinggi 90,59) yang berkategori tinggi.. Setelah diadakan uji pihak kanan diperoleh signifikansi sebesar 0,8% kurang dari 5% maka Ho ditolak, artinya penyataan rataan variabel keterampilan proses melebihi skor 71 dapat diterima. Dengan demikian perolehan skor uji ketuntasan variabel keterampilan proses siswa secara statistik menunjukkan diatas harapan karena telah melebihi dari target 71% yaitu 73,40%.

3) Ketuntasan variabel kognitif dengan uji t mempunyai thitung = 5,26 dan ttabel = 1,7. Karena thitung > ttabel maka disimpulkan bahwa rata-rata kognitif kelompok eksperimen ≥ 71. Dengan ini dapat dinyatakan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar dalam variabel kognitif.

4) Adanya pengaruh keaktivan siswa dengan pembelajaran matematika realistik dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa ditunjukkan dengan persamaan regresi Y = -8,082 + 1,229 X yang bersifat linier. Besarnya pengaruh keaktivan siswa terhadap kognitif diketahui dari nilai R2 = 0,589 = 58,9%, artinya keaktivan siswa mempengaruhi kognitif sebesar 58,9%, sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 41,1%.

5) Adanya pengaruh keterampilan proses dengan pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar terhadap kognitif siswa ditunjukkan dengan persamaan regresi Y = -16,912 + 1,341X yang bersifat linier. Besarnya pengaruh keterampilan proses terhadap kognitif diketahui dari nilai R2 = 0,533 = 53,3%, artinya keterampilan proses mempengaruhi kognitif sebesar 53,3%, sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 46,7%.

6) Nilai rata-rata kognitif pada pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar lebih baik daripada nilai rata-rata kognitif pembelajaran dengan metode ekspositori. Pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami soal cerita dan memecahkan masalah yang diberikan. Selain itu pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar juga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, meningkatkan keterampilan proses siswa, dan juga menumbuhkembangkan kerjasama antar siswa dalam kelompok, sehingga kognitifnya dapat menjadi lebih baik

B. Saran

1. Guru diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dalam membuat soal diskusi dengan lebih mengaitkan masalah pada soal dengan kegiatan sehari-hari sehingga keaktifan siswa dapat lebih ditingkatkan.

2. Dalam proses pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar masih memerlukan adanya perbaikan pada guru agar dapat lebih memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan cara memberikan keleluasaan kepada siswa dalam menyelesaikan masalah.

3. Pembelajaran matematika realistik yang dipadu strategi turnamen belajar perlu terus diterapkan dan dikembangkan pada materi yang lain agar siswa lebih memahami bahwa materi yang dipelajari ada hubungannya dan berguna bagi kehidupan sehari-hari.

4. Bagi guru-guru bidang studi lain diharapkan dapat melaksanakan variasi pendekatan pembelajaran sehingga para siswa dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran dan keterampilan prosesnya. Dengan ini diharapkan nilai kognitif siswa dapat menjadi lebih baik.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :