4.4.1 HAM, Hak, dan Kewajiban Warga Negara Membicarakan hak asasi manusia (HAM) berarti membicarakan manusia dengan kemanusiaannya, yakni

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 4.4.1 HAM, Hak, dan Kewajiban Warga Negara

Membicarakan hak asasi manusia (HAM) berarti membicarakan manusia dengan kemanusiaannya, yakni membicarakan hak-hak yang melekat kepada manusia secara kodrati yang tanpa hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Melekat secara kodrati inilah yang membedakan antara HAM dengan hak-hak yang lainnya.

Seluruh HAM adalah hak, namun tidak seluruh hak adalah HAM. Ciri penting yang membedakan antara hak pada umumnya dengan HAM terletak pada keterkaitan hak itu dengan kemartabatan hidup manusia yang jika hak itu dicabut darinya maka kemartabatan hidupnya sebagai manusia juga terganggu. Contoh, memiliki mobil adalah hak, tapi bukan HAM yang disebabkan oleh karena memiliki mobil atau tidak memiliki mobil tidak mempengaruhi kemartabatan hidup seseorang yang bersifat mendasar.

Secara etimologis, sebagaimana diuraikan Majda, hak asasi manusia terdiri dari tiga kata, yakni, hak, asasi, dan manusia. Dua kata pertama berasal dari bahasa Arab, sementara kata manusia kata dalam bahasa Indonesia. Kata haqq merupakan bentuk tunggal dari kata haquq yang diambil dari kata haqqa, yahiqqu, haqqaan yang berarti benar, nyata, pasti, tetap dan wajib. Jadi haqq adalah kewenangan atau kewajiban untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu (Majda, 2013: hlm 17).

Kata asasiy berasal dari kata assa, yaussu, asasaan yang artinya membangun, mendirikan, dan meletakan. kata asas merupakan bentuk tunggal dari kata asus yang berarti asal, esensial, pangkal dari segala sesuatu. Sehingga kata asasi di adobsi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi bersifat dasar atau pokok. Selanjutnya Majda menguraikan bahwa dalam Bahasa Indonesia, HAM dapat diartikan sebagai hak-hak mendasar pada diri manusia. Istilah ini memiliki pemaknaan yang relatif sama dengan haququl insan dalam Bahasa Arab, human rights dalam Bahasa Inggris, droits de l’homme dalam Bahasa Prancis, dan menscherechte dalam Bahasa Belanda/Jerman (Majda, 2013: hlm 17-18).

(2)

2 1. Soetandyo Wignjosoebroto: HAM adalah hak-hak mendasar (fundamental) yang diakui secara universal sebagai hak-hak yang melekat pada manusia karena hakekat dan kodratnya sebagai manusia (Dalam Eko Prasetyo, dkk, 2008: hlm 1)

2. Muladi: HAM adalah hak yang melekat secara alamiah (inheren) pada diri manusia sejak manusia itu lahir, dan tanpa hak tersebut manusia tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang utuh (Dalam Eko Prasetyo, dkk, 2008: hlm 2).

3. Darji Darmogiharjo: HAM adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa (Dalam Ali Imran, 2017: hlm 128).

4. Ketetapan MPR-RI No. XVII/MPR/1989 Tentang Hak Asasi Manusia: HAM adalah hak sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal dan abadi, berkaitan dengan harkat dan martabat manusia

5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Pasal 1 angka 1): HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan kebaradaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Berdasarkan defenisi-defenisi tersebut, sebagaimana diuraikan oleh Eko Prasetyo dkk (2009: hlm 2-4), dapat disarikan sifat dasar HAM, yakni:

1. melekat pada manusia

HAM melekat pada manusia, tidak diberi, tidak bisa dibeli, tidak diperoleh dengan cara apapun atau diwariskan.

2. universal

HAM berlaku bagi semua orang. 3. fundamental

HAM membentuk landasan bagi keberadaannya sebagai manusia 4. setara

(3)

3 5. tidak dapat dipisahkan

HAM tidak dapat dilepaskan, dihilangkan, atau diserahkan, dan tidak dapat dibatasi kecuali dengan dinyatakan lain menurut undang-undang.

6. tidak dapat dibagi

HAM tidak dapat dipisah-pisahkan, semuanya saling berkaitan dan tidak dapat dibagi.

7. tidak absolut

Dapat dikorbankan pada jika ada kepentingan sosial yang lain yang lebih penting, dalam situasi khusus, waktu terbatas dan dengan tujuan yang dianggap benar-benar perlu (misalnya dalam keadaan perang). Namun ada beberapa hak yang dikategorikan sebagai Non-derogable rights (tidak bisa dibatasi) seperti hak hidup, hak untuk tidak disiksa dan hak untuk tidak diperbudak.

8. perlindungan minimal

Memberikan pengakuan moral tentang martabat dan kesataraan semua manusia serta setiap orang perlu diberi kesempatan mengembangkan diri secara penuh. HAM adalah perlindungan minimal yang bisa diperoleh setiap orang.

9. kewajiban negara

Pengakuan sah atas kewajiban negara untuk menjamin bahwa hak-hak tersebut dihormati, dilindungi, dan dapat dipenuhi bagi semua warga negara. Tonggak sejarah perkembangan HAM, sebagaimana diuraikan oleh Majda (2013: hlm 8-10) dapat dirinci sebagai berikut:

1. Perjanjian Agung (Magna Charta) di Inggris pada 15 Juni 1215, yang isi pokoknya antara lain hendaknya raja tidak melakukan pelangaran terhadap hak milik dan kebebasan pribadi seseorang maupu rakyat.

2. Petition of Rights di Inggris tahun 1628 yang berisi penegasan tentang pembatasan kekuasaan raja dan dihilangkannya hak raja untuk melaksanakan kekuasaan kepada siapapun, atau untuk memenjarakan, menyiksa, dan mengirimkan tentara tanpa dasar hukum.

3. Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat pada 6 Juli 1776 yang menegaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam persamaan dan kebebasan.

(4)

4 4. Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia dan Warga Negara (Declaration of the Rights of Man and of the Citizen) di Prancis tahun 1789 yang mengadopsi lima hak yakni, kepemilikan harta, kebebasan, permasaan, keamanan, dan perlawanan terhadap penindasan.

5. Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights/UDHR) pada 10 Desember 1948 yang kemudian diperingati sebagai Hari HAM Se-Dunia. Deklarasi ini memuat antara lain pokok-pokok tentang kebebasan, permasaan, kepemilikan harta, hak-hak dalam perkawinan, pendidikan, hak kerja dan kebebasan beragama.

Konsepsi HAM memunculkan kewajiban dan tanggung jawab HAM (duty holder and bearer) kepada negara dan pemerintah. Hal ini sebagai mana dinyatakan pada Deklarasi dan Program Aksi Wina tahun 1993 yang berbunyi “Human rights and fundamental freedoms are the birthright of all human beings; their protection and promotion is the first responsibility of Governments”. pada Pasal 28 I ayat (4) UUD NRI Tahun 1945 juga dinyatakan bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan, pemenuhan HAM adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.

Penegasan tentang tanggung jawab dan kewajiban negara terutama pemerintah juga ditemukan pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM), yakni pada Pasal 8 dan Pasal 39. Pada Pasal 71 UU HAM dinyatakan bahwa kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya pertahanan keamanan negara, dan bidang lain. Dengan demikian pada konteks HAM, negara melalui pemerintah adalah pemangku kewajiban dan tanggung jawab HAM, sedangkan masyarakat adalah pemangku atau pemengang hak.

Bentuk-bentuk kewajiban dan tanggungjawab negara pada UUDNRI Tahun 1945 dan UU HAM antara lain:

1. Pasal 6 ayat (1) UU HAM terkait keharusan pemerintah untuk melindungi perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat.

(5)

5 2. Pasal 28I ayat (4) UUDNRI Tahun 1945 dan pasal 8 serta pasal 71 UU HAM terkait tanggung jawab negara terutama pemerintah untuk melindungi, memajukan, menegakan dan memenuhi HAM.

3. Pasal 34 ayat (3) UUDNRI Tahun 1945 terkait tanggung jawab negara menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas layanan umum yang layak.

Selain HAM sebagai hak dasar juga dikenal adanya kewajiban dasar terkait dengan HAM. Pada pasal (1) angka 2 UU HAM dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan kewajiban dasar manusia adalah, “seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia”. Selanjutnya pada UU HAM, dimuat ketentuan tentang kewajiban manusia baik sebagai individu maupun sebagai warganegara sebagai berikut:

1. Pasal 26 ayat (2) terkait kewajiban warga negara untuk melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara sesuai ketentuan peraturang perundang-undangan.

2. Pasal 67 terkait kewajiban setiap orang untuk patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia.

3. Pasal 68 terkait kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4. Pasal 69 Ayat (1) terkait kewajiban setiap orang untuk menghormati hak

asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

5. Pasal 69 ayat (2) terkait kewajiban dan tanggungjawab untuk menghormati HAM orang lain.

6. Pasal 70 terkait kewajiban setiap orang untuk tunduk pada pembatasaan yang ditetapkan oleh undang-undang dalam menjalankan hak dan kebebasannya

Pengaturan pada pada pasal 28J UUDNRI Tahun 1945 dan Pasal 70 UU HAM menunjukan bahwa dapat dilakukan pembatasan terhadap hak yang dimiliki seseorang sebagai berikut:

(6)

6 1. ditetapkan dengan undang-undang

2. untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain

3. memenuhi tuntutan yang adil sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.

4.4.2 Pengaturan Hak dalam Instrumen HAM

Secara umum hak-hak apa saja yang dikategori sebagai HAM yang harus dihormati, dilindungi dan dipenuhi dapat kita lihat pada berbagai peraturan yang terkait dengan HAM baik yang bersifat internasional maupun yang bersifat nasional. Berbagai peraturan yang terkait dengan HAM ini dikenal dengan istilah instrumen HAM. Instrumen HAM ini berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk menghormati, memajukan, melindungi dan memenuhi HAM.

Instrumen Internasional HAM yang telah diratifikasi oleh Indonesia antara lain:

1. Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia/DUHAM) yang di deklrasrikan pada 10 Desember 1948 2. International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) Tahun 1966.

Telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 12 Tahun 2005

3. International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) tahun 1966. Telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2005

4. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination Tahun 1969. Telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 29 Tahun 1999 5. Convention on the Elimination of All Forums of Discrimination against

Women Tahun 1981. Telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 7 tahun 1984.

6. Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment Tahun 1987. Telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1998.

7. Convention on the Rights of the Child Tahun 1989. Telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden No. 86 Tahun 1990

(7)

7 8. Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families tahun 1990. Telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 2012.

9. Convention on the Right of Persons with Disabilities, Tahun 2006. Telah diratifikasi melalui Undang-undang No. 19 Tahun 2011.

Instrumen nasional HAM antara lain: 1. UUDNRI Tahun 1945;

2. Tap MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang HAM;

3. Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum;

4. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM;

5. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM; 6. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

7. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

8. Undang-Undang No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

9. Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik 10. Undang-Undang No. 40 Tahun 2008 Tentang Pengahapusan Diskriminasi

Ras dan Etnis

11. Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban

12. Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdangangan Orang.

13. Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas

14. Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Mengacu kepada pengaturan HAM ICCPR dan ICESCR, HAM dapat dikategorikan menjadi hak sipil politik dan hak sosial, ekonomi, dan budaya diatur pada, yakni:

1. Hak sipil politik yang terdiri dari: a. hak untuk hidup;

(8)

8 b. hak atas kebebasan berbicara dan berkeyakinan;

c. hak untuk berkumpul dan berserikat; d. hak untuk proses hukum yang adil;

e. hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan dan dalam pemilihan umum yang bebas;

f. hak untuk bebas dari penyiksaan.

2. Hak sosial, ekonomi dan budaya yang terdiri dari: a. hak atas pangan

b. hak atas air

c. hak atas perumahan yang layak d. hak atas kesehatan

e. hak atas pendidikan f. hak atas pekerjaan

g. hak atas lingkungan hidup

Dari segi subjeknya, HAM dibedakan menjadi dua macam, yakni (a) hak-hak asasi individu dan (b) hak-hak-hak-hak asasi kolektif (Subandi Al Marsudi, 2012: hlm 97). Kedua macam HAM tersebut dapat diadakan lagi menurut objek dan kepentingannya atau menurut jenisnya menjadi (Subandi Al Marsudi, 2012: hlm 98):

1. hak-hak pribadi atau personal rights

2. hak-hak asasi ekonomi atau property rigths

3. hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama didepan hukum dan pemerintahan atau rights of legal equality.

4. hak-hak asasi politik atau polical rigths.

5. hak-hak sosial dan kebudayaan atau social an culture rigths.

6. hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakukan tata cara peradilan dan perlindungan atau procedural rights.

7. hak-hak asasi untuk membangun atau rights to development.

Pancasila sebagai dasar negara juga mengandung muatan HAM sebagaimana disarikan oleh Ali Imran (2016: hlm 134-136), sebagai berikut:

(9)

9 Sila berisi jaminan kepada setiap orang untuk bebas menganut agama menurut agama dan kepercayaannya masing-masing serta setiap agama mempunyai kedudukan yang sama terhadap negara.

2. Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab

Sila ini berisi pengakuan terhadap kesataraan umat manusia dan adanya hak bagi setiap bangsa untuk hidup merdeka, bebas dari kolonialisme dan imperialisme. HAM yang terkandung dalam sila ini antara lain hak untuk tidak diperbudak, hak untuk tidak dianiaya, hak untuk memperoleh peradilan yang adil dan perlindungan hukum, hak untuk tidak diperlakukan sewenang-wenang dan hak hak untuk tidak dianggap bersalah sampai adanya putusan hakim yang bersifat tetap.

3. Sila Ketiga, Persatuan Indonesia

Sila ini berarti mengutamakan persatuan dan kepentingan bangsa di atas kepentingan suku, golongan, partai, dan organisasi sosial lainnya yang juga berarti setiap kelompok tersebut mempunyai kedudukan dan hak yang sama dalam Negara Republik Indonesia.

4. Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusayawaratan/perwakilan

Sila mengandung jaminan terhadap hak-hak politik untuk bebas menyalurkan aspirasinya melalui pemilihan umum. Selain itu sila ini juga memberikan jaminan kesempatan yang sama bagi seluruh warga negara untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik sebagai bentuk dari pelaksanaan prinsip kedaulatan rakyat.

5. Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sila ini berarti setiap orang berhak menikmati kehidupan yang layak sebagai manusia terhormat. Pada konteks keadilan sosial, dijamin hak bagi setiap orang untuk hidup layak, adanya hak milik, hak untuk memiliki jaminan sosial, hak untuk memperoleh pekerjaan dengan sistem pengupahan yang layak dan adil dan adanya jaminan atas kesehatan.

Jaminan HAM juga ditemukan pada UUD NRI 1945 pada berbagai pasal-pasal khususnya pada BAB X Tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri dari Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J. Ali Imran (2017: hlm 137) mengindentifikasi

(10)

10 sebelas hak yang diatur pada Pasal 27 sampai Pasal 34 selain yang diatur pada pada Pasal 28A sampai dengan pasal 28J. Untuk Pasal 28A sampai Pasal 28J sendiri, Ali Imran (2017: hlm 137-142) mengidentifikasi 112 hak yang dijamin di sana. Berikut Pasal 28A sampai Pasal 28I UUD NRI Tahun 1945.

Pasal 28A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya

Pasal 28B

(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.

(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi

Pasal 28C

(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pasal 28D

(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.

(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.

(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan. Pasal 28E

(1) Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih

(11)

11 kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuaidengan hati nuraninya.

(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

Pasal 28F

Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Pasal 28G

(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.

(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

Pasal 28H

(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.

(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut

tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun. Pasal 28I

(12)

12 (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

(2) Setiap orang bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.

(5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.

Rumusan mengenai hak pada UUDNRI 1945 membedakan antara hak-hak pribadi (individu) dengan hak-hak warganegara. Hak pribadi merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan terhadap hak kodrati yang melekat kepada manusia sebagai manusia, sedangkan hak-hak warganegara merupakan pengakuan hak yang dimiliki oleh seseorang pada kedudukannya sebagai warganegara. Perbedaan ini dapat dilihat dari penggunaan kata ‘setiap orang’ dan kata ‘setiap warganegara’ untuk menyebut hak-hak tertentu. Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J UUDNRI Tahun 1945 pada umumnya mengatur tentang hak pribadi, sedangkan rumusan terhadap hak-hak warganegara dapat dilihat pada pasal-pasal berikut:

1. Pasal 27 ayat (1) terkait hak warganegara untuk mendapatkan kesamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan

2. Pasal 27 ayat (2) terkait hak warganegara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan

3. Pasal 27 ayat (2) terkait hak dan kewajiban warganegara untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara

(13)

13 4. Pasal 28 terkait hak warganegara untuk berserikat, berkumpul, mengeluarkan

pikiran dengan lisan dan tulisan.

5. Pasal 29 ayat (2) terkait hak penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 6. Pasal 30 ayat (1) terkait hak dan kewajiban warganegara untuk ikut serta

dalam usaha pertahanan dan keamanan negara

7. Pasal 31 ayat (1) terkait hak warganegara untuk mendapatkan pendidikan 8. Pasal 34 ayat (1) terkait hak fakir miskin dan anak-anak terlantar

9. Pasal 34 ayat (4) terkait hak warganegara untuk mendapatkan fasilitas kesehatan dan layanan umum yang layak

Hak-hak yang diatur pada UU HAM sebagai berikut: 1. hak hidup (Pasal 9)

2. hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan (Pasal 10) 3. hak mengembangkan diri (Pasal 11-16)

4. hak memperoleh keadilan (Pasal 17-19) 5. hak atas kebebasan pribadi (Pasal 20-27) 6. hak atas rasa aman (Pasal 28-35)

7. hak atas kesejahteraan (Pasal 36-42)

8. hak turut serta dalam pemerintahan (Pasal 43-44) 9. hak wanita (Pasal 45-51)

10. hak anak (Pasal 52-66)

Indonesia juga memiliki lembaga-lembaga terkait HAM Nasional, diantaranya:

1. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang didirikan berdasarkan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.

2. Komisi Nasional Lanjut Usia (Komnas Lansia), didirikan berdasarkan Kepres No. 52 Tahun 2004 tentang Komisi Nasional Lanjut Usia.

3. Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), didirikan berdasarkan Kepres No. 181 Tahun 1998 tentang Komnas Anti-Kekerasan terhadap Perempuan

4. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), didirikan berdasarkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

(14)

14 5. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), didirikan berdasarkan

UU No. 13 Tahun 2006 tentang LPSK

6. Ombudsman Republik Indonesia (ORI), didirikan UU No. 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman

7. Mahkamah Konstitusi (MK), didirikan berdasarkan UU No. 24 Tahun 2003 tentang MK, sebagaimana diubah dengan UU No. 8 Tahun 2011 8. Komisi Yudisial (KY), didirikan berdasarkan UU No. 22 Tahun 2004

tentang KY, sebagaimana diubah dengan UU No. 18 Tahun 2011

4.4.3 Pelanggaran HAM

Secara umum belum ada definisi pelanggaran HAM yang disepakati secara umum. Meski demikian, sebagai diuraikan oleh Rhona K.M Smith, dkk (2008: 69), beberapa ahli mendefenisikan pelanggaran HAM sebagai pelanggaran terhadap kewajiban negara yang lahir dari instrumen-instrumen internasiol HAM baik dilakukan dengan perbuatannya sendiri (acts of commission) maupun oleh karena kelalaiannya sendiri (acts of ommission). Mengutip dari C. De Rover, Rhona K.M. Smith dkk menguraikan rumusan lain dari pelanggaran HAM yakni, sebagai tindakan atau kelalaian oleh negara yang belum dipidana dalam hukum pidana nasional tetapi merupakan norma HAM yang diakui secara internasional (Rhona K.M. Smith dkk, 2008: 69) Dengan demikian, pada pelanggaran HAM terdapat unsur negara, baik berupa tindakan maupun berupa kelalaian. Terdapatnya unsur negara inilah yang membedakan antara pelanggaran HAM dengan tindak pidana pada umumnya.

Pelanggaran HAM menurut Pasal (1) angka 6 UU HAM adalah “ setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja, atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku”. Defenisi yang digunakan menunjukan bahwa pelanggaran HAM terjadi untuk perbuatan secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut HAM

(15)

15 seseorang atau kelompok baik disengaja maupun tidak sengaja maupun karena kelalaian.

Untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di bentuk Pengadilan HAM baik bersifat permanen ataupun sementara (ad hoc). Indonesia memiliki Pengadilan HAM permanen yang dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk mengadili pelanggaran HAM berat berupa kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan.

Kejahatan Genosida sebagai mana diatur pada Pasal 8 UU No. 26 Tahun 2000 adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara:

1. Membunuh anggota kelompok;

2. Mengakibatkan penderitaan fisik dan mental berat terhadap anggota-anggota kelompok;

3. Menciptakan kondisi-kondisi kehidupan kelompok yang mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh maupun sebagiannya;

4. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok; atau

5. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lainnya.

Kejahatan Kemanusiaan sebagai mana diatur pada Pasal 9 UU No. 26 Tahun 2000 adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa:

1. Pembunuhan; 2. Pemusnahan; 3. Perbudakan;

4. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;

5. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik secara sewenang-wenang yang melanggar ketentuan pokok hukum internasional 6. Penyiksaan;

(16)

16 7. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya

8. Pengganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah di akui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;

9. Penghilangan paksa; atau 10. Kejahatan apartheid

Untuk kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi sebelum disahkannya UU No. 26 Tahun 2000, dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc yang bersifat sementara untuk kasus-kasus tertentu sebagai diatur pada BAB VIII UU No. 26 Tahun 2000 Pasal 43 dan Pasal 44. Kasus pelanggaran HAM yang pernah disidangkan oleh Pengadilan HAM Ad Hoc ini diantaranya Kasus Pelanggaran HAM Berat di Timor-Timor Pasca Jejak Pendapat yang disidangkan pada Pengadilan HAM Ad Hoc di Jakarta tahun 2002-2003 dan kasus Pelanggaran HAM pada Peristiwa Tanjung Periok yang disidangkan pada Pengadilan HAM Ad Hoc di Jakarta tahun 2003-2004.

Pada tingkat internasional, Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan suatu Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB atas dasar adanya ancaman atas kemaanaan dan perdamaian dunia. Pengadilan HAM bersifat ad hoc yang pernah dibentuk adalah:

1. Pengadilan Nuremberg (Trial of the Major War Criminals Before the International Military Tribunal (IMT)). Pengadilan ini adalah pengadilan atas pelaku kejahatan pada perang Nazi yang bersidang sejak 20 November 1945 sampai 1 Oktober 1946.

2. Pengadilan Tokyo (International Military Tribunal for the Far East, disingkat IMTFE). Pengadilan ini dibentuk untuk mengadili kejahatan perang yang dilakukan oleh Jepang di Timur Jauh. Pengadilan bersidang sejak 3 Mei 1946 sampai 12 Nopember 1948.

3. Pengadilan Yugoslavia (International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia). Pengadilan ini dibentuk untuk mengadili kejahatan genosida,

(17)

17 kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang terhadap etnis tertentu di beberapa wilayah yang ingin memisahkan diri dari Yugoslavia, yakni Bosnia, Kroasia dan Kosovo. Pengadilan ini mulai diluncurkan sejak 25 Mei 1993 dan vonis terakhir di jatuhkan pada 15 Maret 2004.

4. Pengadilan Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda/ICTR). Pengadilan ini dibentuk untuk mengadili kekerasan etnik yang terjadi antar suku Hutu dan suku Tutsi di Rwanda dimana lebih dari 800.000 orang dari suku Tutsi dan kaum moderat Hutu dibantai dengan sadis oleh pemerintah Rwanda yang berkuasa saat itu. Pengadilan ini didirikan pada November 1994 dan pada 31 Desember 2014 Dewan Keamanan PBB telah menyerukan agar pengadilan ini menyelesaikan pekerjaannya pada dan mempersiapkan penutupannya dan penyerahan tanggung jawabnya kepada Mekanisme Residual Internasional untuk Pengadilan Kriminal

4.5 Rangkuman

1. HAM tidak sama dengan hak pada umumnya. Semua HAM adalah hak sebaliknya tidak semua hak adalah HAM. HAM menyangkut martabat hidup manusia yang merupakan hak kodrati manusia sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa yang jika hak itu dicabut dari seseorang, maka seseorang tersebut kehilangan kemartabatan hidupnya sebagai manusia. Konsepsi HAM memunculkan kewajibaan dan tanggung jawab bagi negara dan pemerintah untuk menghomati, memajukan, melindungi dan memenuhi HAM. Selain HAM, manusia juga memiliki kewajiban dasar, yakni menghormati hak asasi manusia yang lainnya.

2. Hak-hak yang merupakan HAM di atur pada berbagai instrument HAM baik internasional maupun nasional yang secara umum dapat dikategorikan kepada hak-hak sipil politik dan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Indonesia mengakui HAM yang diatur pada Pasal 28A sampai 28 J UUDNRI 1945 sebagai jaminan konstitusional HAM di Indonesia. Lima sila Pancasila juga mengandung muatan HAM di dalam sila-silanya. Indonesia juga memiliki UU HAM dan berbagai instrument HAM nasional lainnya yang terkait dengan HAM.

(18)

18 3. Pelanggaran HAM tidak sama dengan pelanggaran hukum pada umumnya. Pelanggaran HAM bersifat khusus yakni terlanggarnya kewajiban negara untuk menghomati, memajukan, melindungi dan memenuhi HAM. Oleh karena itu pelanggaran HAM melibatkan adanya keterlibatan negara pada pelanggaran tersebut. Untuk kasus pelanggaran HAM berat Indonesia memiliki Pengadilan HAM yang didirikan berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 yang juga memungkin untuk diadilinya pelanggaran HAM yang terjadi sebelum UU tersebut disahkan melalui pengadilan HAM yang bersifat Ad Hoc.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :