8.1. Aspek Lingkungan
Kerangka ini dimaksudkan untuk membantu peserta Kabupaten/Kota untuk dapat
melakukan evaluasi secara sistematik dalam penanganan, pengurangan dan
pengelolaan resiko lingkungan yang tidak diinginkan, promosi manfaat lingkungan
dan pelaksanaan keterbukaan serta konsultasi publik dengan warga yang terkena
dampak atau PAP (Potentially Affected People).
8.1.1. KLHS
A. Kaidah KLHS
Prinsip dalam penyusunan KLHS agar tercapai tujuan yang ingin dicapai untuk
mengukur dampak terhadap lingkungan yaitu:
• Keterkaitan (interdependency)
• Keseimbangan (equilibrium)
• Keadilan (justice)
Keterkaitan (interdependency) menekankan pertimbangan keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lain, antara satu unsur dengan unsur lain, atau
antara satu variabel biofisik dengan variabel biologi, atau keterkaitan antara lokal dan
global, keterkaitan antar sektor, antar daerah, dan seterusnya.
Keseimbangan (equilibrium) menekankan aplikasi keseimbangan antar aspek, kepentingan, maupun interaksi antara makhluk hidup dan ruang hidupnya,
seperti diantaranya adalah keseimbangan laju pembangunan dengan daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup, keseimbangan pemanfaatan dengan
perlindungan dan pemulihan cadangan sumber daya alam, keseimbangan antara
pemanfaatan ruang dengan pengelolaan dampaknya,dan lain sebagainya.
B
B
a
a
b
b
8
8
A
A
s
s
p
p
e
e
k
k
L
L
i
i
n
n
g
g
k
k
u
u
n
n
g
g
a
a
n
n
D
Keadilan (justice)untuk menekankan agar dapat dihasilkan kebijakan, rencana dan program yang tidak mengakibatkan pembatasan akses dan kontrol terhadap
sumber-sumber alam, modal dan infrastruktur, atau pengetahuan dan informasi
kepada sekelompok orang tertentu.
Atas dasar kaidah diatas, maka penerapan KLHS terhadap KRP bertujuan
untuk mendorong pembuat dan pengambil keputusan atas KRP menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut :
• Apa manfaat langsung atau tidak langsung dari usulan sebuah KRP?
• Bagaimana dan sejauh mana timbul interaksi antara manfaat KRP dengan
lingkungan hidup dan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam?
• Apa lingkup interaksi tersebut? Apakah interaksi tersebut akan menimbulkan
kerugian atau meningkatkan kualitas lingkungan hidup? Apakah interaksi tersebut
akan mengancam keberlanjutan dan kehidupan masyarakat?
• Dapatkah efek-efek yang bersifat negatif diatasi, dan efek-efek positifnya
dikembangkan?
• Apabila KRP mengintegrasikan seluruh upaya pengendalian atau mitigasi atas
efek-efek tersebut dalam muatannya, apakah masih timbul pengaruh negatif KRP
tersebut terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan secara umum?
B. Metode Penyusunan KLHS
Ruang lingkup yang menjadi kajian dalam penyusunan KLHS harus meliputi hal
hal sebagai berikut :
a. Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;
b. Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup;
c. Kinerja layanan/jasa ekosistem;
d. Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e. Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan
f. Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.
KLHS adalah proses untuk mempengaruhi penentuan pilihan-pilihan
pembangunan yang diusulkan dalam KRP yang terutama dilakukan melalui kegiatan
konsultasi dan dialog secara tepat dan relevan. Hal ini menyebabkan pelaksanaan
KLHS harus sesuai dengan kebutuhan tanpa terpaku dalam metoda dan prosedur yang
akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten akan mendorong lahirnya pemikiran untuk
alternatif –alternatif baru pembangunan melalui tahapan atau proses sebagai berikut :
a. Identifikasi isu-isu utama lingkungan atau pembangunan berkelanjutan yang perlu
dipertimbangkan dalam KRP;
b. Analisis dampak setiap alternatif strategi pembangunan dari KRP, khususnya
isu-isu yang relevan dan memberikan masukan untuk optimalisasi;
c. Mengkaji paling tidak dampak kumulatif yang mendasar dari KRP dan memberi
masukan untuk optimalisasi.;
d. Memaparkan proses KLHS, kesimpulan dan usulan rekomendasi kepada para
pengambil keputusan.
Metode pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan penyusunan KLHS
adalah sebagai berikut :
a. Melakukan seluruh persiapan dan mobilisasi sumberdaya yang diperlukan.
b. Melakukan pengumpulan data, peta dan informasi terkait
c. Melakukan pekerjaan yang terkoordinasi untuk menjaring masukkan mengenai
pengembangan infrastruktur di Kabupaten Banjar
d. Melakukan survey dan observasi untuk kelengkapan data.
e. Melakukan evaluasi dan analisis terhadap hasil survey dan observasi.
f. Menyelenggarakan presentasi hasil evaluasi dan analisisnya.
Mekanisme penyusunan KLHS sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
dilakukan dengan tahapan atau proses sebagai berikut :
1. Penapisan;
Penapisan adalah rangkaian langkah-langkah untuk menentukan apakah suatu
KRP perlu dilengkapi dengan KLHS atau tidak. Penentuan KRP telah memenuhi
kriteria pelaksanaan KLHS dilakukan melalui kesepakatan pihak-pihak yang
berkepentingan.
2. Pelingkupan;
Pelingkupan adalah rangkaian langkah-langkah untuk menetapkan nilai penting
KLHS, tujuan KLHS, isu pokok, ruang lingkup KLHS, kedalaman kajian dan
kerincian penulisan dokumen, pengenalan kondisi awal, dan telaah awal kapasitas
kelembagaan. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan sistematis dan
metodologis yang memenuhi kaidah ilmiah. Mengingat terbatasnya waktu dan
sumber daya yang tersedia, dalam kajian ini tidak dilakukan proses konsultasi
3. Pengkajian;
Pengkajian adalah rangkaian langkah-langkah untuk melakukan kajian ilmiah,
pemetaan kepentingan, dialog dan konsultasi serta penemuan pilihan-pilihan
alternatif rumusan maupun perbaikan dan penyempurnaan terhadap rumusan yang
sudah ada. Tim kajian melakukan serangkaian diskusi dan konsultasi dengan para
pihak (stakeholders) terkait, khususnya dengan instansi pemerintah dan Lembaga
Swadaya Masyarakat.
4. Perumusan dan pengambilan keputusan
Perumusan dan pengambilan keputusan adalah rangkaian langkah-langkah
persetujuan rekomendasi hasil KLHS dan interaksi antar pihak berkepentingan
dalam rangka mempengaruhi hasil akhir KRP.
Keseluruhan hasil pengkajian ini secara lengkap dituangkan dengan jelas dan
sistematis sehingga dapat dijadikan pedoman pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan.
Gambar 8.1. Mekanisme Penyelenggaraan KLHS
Pada tahap analisa atau pengkajian, harus dilakukan serangkaian kajian
dengan menerapkan daftar uji pada setiap langkah proses KRP, meliputi :
1. Uji Kesesuaian Tujuan dan Sasaran KRP.
Kepentingan pengujian adalah untuk memastikan bahwa :
a) tujuan dan sasaran umum KRP memang jelas,
b) berbagai isu keberlanjutan maupun lingkungan hidup tercermin dalam tujuan
c) sasaran terkait dengan keberlanjutan akan bisa dikaitkan langsung dengan
indikator-indikator pembangunan berkelanjutan,
d) keterkaitan KRP dengan KRP-KRP lain bisa dijelaskan dengan baik,
e) konflik kepentingan antara KRP dengan KRP-KRP lain segera bisa
teridentifikasi.
2. Uji Relevansi Informasi yang Digunakan.
Kepentingan utama pengujian ini adalah bukan menilai kelengkapan dan validitas
data, tetapi identifikasi kesenjangan antara data yang dibutuhkan dengan yang
tersedia serta cara mengatasinya. Hal ini terasa penting ketika KRP diharuskan
memperhatikan kesatuan fungsi ekosistem dan wilayah-wilayah rencana selain
wilayah administratifnya sendiri.
Selanjutnya pengujian juga lebih mengutamakan relevansi informasi dan
sumbernya agar proses kerja bisa efektif namun tetap memperhatikan
kendala-kendala setempat.
3. Uji Pelingkupan Isu-isu Lingkungan Hidup dan Keberlanjutan dalam KRP.
Pengujian ini ditujukan untuk memandu penyusun KRP memperhatikan isu-isu
lingkungan hidup maupun keberlanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun
internasional, dan melihat relevansi langsung isu-isu tersebut terhadap wilayah
perencanaannya.
4. Uji Pemenuhan Sasaran dan Indikator Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan.
Pengujian ini efektif bila konsep rencana sudah mulai tersusun, sehingga dapat
dilakukan penilaian langsung atas arahan-arahan rencana terhadap
indikator-indikator teknis lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Uji ini
sebenarnya merupakan iterasi atau pengembangan dari uji yang dilakukan di awal
proses penyusunan KRP sebagaimana dijelaskan pada nomor 1.
5. Uji Penilaian Efek-efek yang Akan Ditimbulkan.
Pengujian ini membantu penyusun KRP untuk dapat memperkirakan dimensi
besaran dan waktu dari efek-efek positif maupun negatif yang akan ditimbulkan.
Bentuk pengujian ini dapat disesuaikan dengan kemajuan konsep maupun
ketersediaan data, sehingga pengujian dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif.
Pengujian secara kuantitatif maupun kualitatif sama-sama bernilai apabila diikuti
dengan verifikasi berupa proses konsultasi maupun diskusi dengan pihak-pihak
6. Uji Penilaian Skenario dan Pilihan Alternatif.
Pengujian ini membantu penyusun KRP untuk memperoleh pilihan alternatif yang
beralasan, relevan, realistis dan bisa diterapkan. Keputusan pemilihan alternatif bisa
dilakukan dengan sistem pengguguran (memilih satu opsi dan menggugurkan yang
lainnya) atau mengkombinasikan beberapa pilihan dengan penyesuaian.
7. Uji Identifikasi Timbulan Efek atau Dampak dampak Turunan maupun Kumulatif.
Pengujian ini merupakan pengembangan dari jenis pengujian nomor 5, dimana
jenis-jenis KRP tertentu diperkirakan juga akan menimbulkan efek-efek atau
dampak-dampak lanjutan yang lahir dari dampak langsung yang ditimbulkan,
maupun akumulasi efek dalam jangka waktu panjang dan pada skala ruang yang
besar.
Kelompok-kelompok pengujian ini bisa dilakukan dengan cara :
• mengemasnya dalam berbagai model daftar pertanyaan, misalnya model daftar
uji untuk menilai mutu dokumen, model daftar uji untuk menilai konsistensi
muatan KRP terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan, model daftar uji untuk
menuntun pengambil keputusan mempertimbangkan kriteria-kriteria dan
opsi-opsi yang mendukung keberlanjutan, dan lain sebagainya
• melakukannya secara berurut sejalan dengan proses persiapan, pengumpulan
data, kompilasi data, analisis dan penyusunan rencana
• melakukannya secara berulang/iteratif
• mengembangkan atau memodifikasi jenis pertanyaan-pertanyaannya sesuai
Gambar 8.2. Kerangka Kerja dan Metodologi KLHS
Dalam pelaksanaannya, penyusunan KLHS dilakukan terhadap 3 kondisi KRP,
yaitu KRP yang sudah disusun atau dilaksanakan sebelumnya, KRP yang masih dalam
proses perencanaan atau penyusunan dan yang terakhir adalah KRP yang sedang
dalam proses penyusunan. Pendekatan pelaksanaan KLHS terhadap ketiga kondisi
KRP tersebut berbeda satu dengan lainnya, dengan skema pendekatan sebagai berikut
:
Gambar 8.4. Skema Alternatif Pelaksanaan Integrasi KLHS
C. Isu Strategis di Kabupaten Tapin
Isu Strategis lingkungan di Kabupaten Tapin meliputi:
1. Perlu ditingkatkannya Presentase Penanganan Sampah dimana pada tahun
2009 menunjukkan angka 13,48%
2. Menurunnya kualitas lingkungan permukiman perkotaan/pedesaan.
3. Berkembangnya kawasan perkebunan dilahan-lahan kritis,
4. Masih rendahnya pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian masyarakat
terhadap lingkungan,
5. Masih kurang jelasnya/ketidakpastian substansi dari produk hukum di bidang
lingkungan hidup.
6. Masih belum jelasnya mekanisme keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan lingkungan hidup.
7. Kurangnya pemahaman masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan
tentang hakekat dan fungsi analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)
dan belum diterapkannya rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan
rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) AMDAL secara konsisten serta
8. Pemahaman masyarakat akan dampak pemanasan global yang masih
rendah juga merupakan tantangan dalam upaya untuk memilih dan
memanfaatkan teknologi yang ramah dengan lingkungan.
8.2. Aspek Sosial
Kerangka ini dimaksudkan untuk membantu peserta Kabupaten/Kota untuk dapat
melakukan evaluasi secara sistematik dalam penanganan, pengurangan dan
pengelolaan resiko sosial yang tidak diinginkan, promosi manfaat sosial dan
pelaksanaan keterbukaan serta konsultasi publik dengan warga yang terkena
dampak atau DP (Displaced People).
8.2.1. Perlindungan Sosial pada Tahap Perencanaan Pembangunan
Keresahan masyarakat ditanggulangi dengan pendekatan/cara di bawah ini: • Menghindari pemasangan patok-patok yang masuk ke dalam
areal tanah milik penduduk tanpa sepengetahuan pemililiknya.
• Mengembangkan dialog-dialog informal dengan tokoh-tokoh masyarakat serta para pemilik tanah yang akan terkena kegiatan proyek.
• Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat dapat mengakses/ memperoleh gambaran yang benar mengenai kegiatan, manfaat serta dampak positif dan
negatif dari kegiatan proyek.
8.2.2. Perlindungan Sosial pada Tahap Pelaksanaan Pembangunan
Konflik sosial antara tenaga kerja pendatang yang dilibatkan dalam pelaksanaan
proyek dengan masyarakat di kawasan yang diremajakan diantisipasi dengan:
• Mengenali kehidupan sosial masyarakat setempat, dan kemudian menginformasikannya kepada tenaga kerja yang dilibatkan dalam proyek.
• Mengikutsertakan tenaga/pencari kerja yang berasal dari masyarakat setempat dalam kegiatan proyek.
Terganggunya kegiatan ekonomi dan kemungkinan menurunnya pendapatan
masyarakat karena masyarakat sulit pergi ke warung serta kios-kios yang ada
diantisipasi dengan menyediakan titian di bagian jalan berlumpur yang tidak mungkin
Terganggunya kehidupan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat
diantisipasi dengan menggunakan tenaga kerja yang mempunyai kehidupan dan adat
istiadat yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat setempat.
Menurunnya kualitas air baku akibat terjadinya genangan air yang
berkepanjangan karena peninggian badan jalan/gang diantisipasi dengan:
• Membuat saluran-saluran drainase sederhana (galian tanpa perkerasan) di kawasan-kawasan yang rawan genangan.
• Membuat dan pemasangan gorong-gorong di bawah badan jalan
Menurunnya kualitas udara akibat meningkatnya kadar debu dan asap di udara
diantisipasi dengan melaksanakan penyiraman jalan yang dilalui mobil proyek pada
waktu-waktu tertentu atau secara berkala untuk mengurangi debu.
Timbulnya kebisingan akibat penggunaan peralatan bermesin pengangkutan
bahan bangunan diantisipasi dengan:
• Menghindari/mengurangi penggunaan peralatan bermesin pada jam-jam masyarakat beristirahat.
• Menghindari penggunaan peralatan bermesin yang menimbulkan bunyi yang terlalu nyaring/berisik.
Kemungkinan terganggunya kegiatan ritual di langgar/masjid yang ada akibat
kebisingan dan getaran yang ditimbulan oleh peralatan-peralatan bermesin diantisipasi
dengan tidak menggunakan peralatan yang menimbulkan bunyi yang nyaring dan
getaran yang kuat di sekitar langgar-langgar yang ada pada jam masyarakat
melaksanakan ibadah Seperti halnya kegiatan beribadah. kegiatan belajar dan
mengajar di sekolah-sekolah yang ada dapat terganggu oleh kebisingan dan
getaran-getaran yang ditimbulkan oleh peralatan.
Terganggunya arus lalu lintas bermotor dan pejalan kaki, dan rusaknya jalan
karena pengangkutan bahan bangunan diantisipasi dengan melaksanakan
pengangkutan bahan bangunan tidak pada jam sibuk.
Kerusakan jaringan pipa distribusi air bersih diantisipasi dengan: • Memetakan, jaringan pipa distribusi air bersih beserta kondisinya.
• Menghindari tekanan atau pembebanan yang kuat terhadap titik- titik lemah dari jaringan pipa distribusi air minum.
Kemungkinan terpotongnya bagian depan/teras serta pagar rumahrumah
• Membuat perencanaan yang betul-betul sudah memperhitungkan segala kendala yang akan terjadi.
• Mengimplementasikan perencanaan yang fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan kendala yang ada di lapangan.
• Mengadakan pendekatan dan musyawarah dengan masyarakat agar mereka bersedia menggeser pagar rumah.
Kemungkinan terjadinya bahaya dan gangguan kesehatan terhadap masyarakat
diantisipasi dengan:
• Pemasangan rambu-rambu peringatan • Penutupan galian sesegera mungkin
Kemungkinan terjadinya kecelakaan terhadap anggota masyarakat karena
penggunaan peralatan besar, tumpukan bahan bangunan, dan galian-galian serta
kegiatan lainnya dihindari dengan:
• Menghindari penumpukan bahan-bahan bangunan yang menyita badan jalan, terutama di lokasi-lokasi yang kegiatan lalu lintasnya cukup sibuk.
• Memasang rambu-rambu peringatan tentang kemungkinan terjadinya bahaya. • Memasang lampu-lampu peringatan di titik-titik yang dinilai rawan terhadap
terjadinya kecelakaan pada malam hari.
• Menutup lubang-lubang bekas galian sesegera mungkin dengan tanah, atau menutupnya dengan tutup yang kuat dan sulit dibuka/diangkat oleh anak-anak. • Menempatkan penggorengan aspal jauh dari rumah penduduk dan
bangunan-bangunan serta bahan-bahan yang mudah terbakar.
Timbulnya persepsi masyarakat yang negati f karena tidak sesuainya realisasi
kegiatan proyek dengan keinginan masyarakat diantisipasi dengan:
• Menterjemahkan secara optimal keinginan masyarakat ke dalam perencanaan proyek.
• Mengadakan pertemuan formal dan informal dengan masyarakat.
8.2.3. Perlindungan Sosial pada Tahap Pasca Pelaksanaan Pembangunan
Kebisingan dan debu serta kecelakaan lalu-Iintas yang kemungkinan ditimbulkan
• Meningkatkan kegiatan penghijauan
• Pelaksanaan RKL ini tentunya akan melibatkan berbagai pihak, terutama instansi-instansi pemerintah.
Dengan pengimplementasian RKL tentunya diharapkan dampak negatif dari
kegiatan Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Kab.
Tapin dapat dicegah, atau diminimalkan sehingga kegiatan ini dapat mencapai sasaran
yang diinginkan. Untuk mengetahui dampak kegiatan ini terhadap lingkungan, perlu
dilakukan pemantauan lingkungan. Dalam kaitan ini, arahan RPL ini disusun untuk
mengidentifikasi berbagai parameter, meliputi:
• Protes, penolakan, atau keberatan masyarakat di kawasan perencanaan terhadap kegiatan yang akan dilakukan;
• Kelancaran lalu lintas dikawasan perencanaan;
• Jumlah kasus dan korban kecelakaan di sekitar kawasan perencanaan;
• Luas area yang tergenang air dan lamanya genagan di kawasan perencanaan; • Kadar debu dan keluhan masyarakat terhadap meningkatnya kadar debu akibat
kegiatan konstruksi;