BAB. III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan

10  86  Download (0)

Teks penuh

(1)

22 3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan maksud untuk menggambarkan suatu fenomena atau kondisi tertentu. Di satu sisi kajian ini berupaya mendeskripsikan suatu fenomena secara apa adanya dari prespektif pelakunya, sedang dari sisi pendeskripsian itu dilakukan dengan bantuan alat-alat analisis kuantitatif. Dengan demikian diharapkan fenomena tentang kesiapan Pemda dalam implementasi SAP, kendala-kendala yang dihadapi di daerah dapat dideskripsikan secara gamblang untuk kemudian dianalisis dan diinterprestasikan untuk menarik suatu kesimpulan.

Menurut Arikunto (2010) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, situasi, peristiwa, kegiatan dan lain-lain yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. Menurut Bungin (2005), penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, maupun fenomena tertentu.

Penelitian kualitatif menurut Moleong (2005) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara

(2)

holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode yang alamiah.

3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel merupakan suatu sifat yang dapat memiliki berbagai macam nilai (Ikhsan, 2008). Sedangkan definisi operasional merupakan suatu definisi yang dinayatakan dalam bentuk istilah yagn diuji secara spesifik atau dengan pengukuran kriteria (Ikhsan, 2008). Variabel pada penelitian diukur dengan komitmen, sumber daya manusia, infrastruktur, dan sistem informasi yang dijelaskan sebagai berikut.

3.2.1. Komitmen

Menurut Kusuma (2013) komitmen organisasi merupakan orientasi hubungan aktif antara individu dan organisasi. Orientasi hubungan tersebut mengakibatkan individu atas kehendak sendiri bersedia memberikan sesuatu dan sesuatu yang diberikan itu menggambarkan dukungannya bagi tercapainya tujuan organisasi. Komitmen adalah dukungan dengan kesungguhan dari petugas akutansi dalam penerapan sistem akutansi berbasis akrual.

3.2.2. Sumber Daya Manusia

Menurut Solehudi (2012), sumber daya manusia adalah semua manusia yang terlibat dalam pembuatan laporan keuangan daerah. Penyiapan dan penyusunan laporan keuangan tersebut memerlukan SDM yang menguasai akuntansi pemerintahan. Laporan keuangan diwajibkan untuk disusun secara tertib

(3)

dan disampaikan masing-masing oleh pemerintah pusat dan daerah kepada BPK selambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Selanjutnya, selambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir, laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK tadi diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada DPR dan oleh Pemerintah kepada DPRD.

3.2.3. Infrastruktur

Infrastruktur adalah pendukung utama penerapan sistem akuntansi Pemerintah berbasis akrual yang diukur dengan aset fisik yang penting dalam kelancaran penerapan SAP berbasis akrual. Salah satu infrastruktur yang penting adalah memilih atau mengembangkan aplikasi komputer pengelolaan keuangan daerah (Wibowo, 2014).

3.2.4. Sistem informasi

Sesuai dengan Peraturan Bupati Jepara Nomor 48 Tahun 2013 Sistem informasi merupakan serangkaian prosedur yang saling berhubungan untuk mengolah dokumen sumber dalam rangka menghasilkan informasi untuk penyusunan neraca dan laporan barang milik daerah serta laporan manajerial lainnya sesuai ketentuan yang berlaku. Menurut Solehudi (2012), sistem informasi adalah sistem pengendalian intern yang memadai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundangundangan.

(4)

3.3. Sumber dan Pengumpulan Data

Menurut Ikhsan (2008) sumber data dapat dikatakan sebagai awal dari mana datangnya data dan merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan pada setiap penentuan metode pengumpulan data. Untuk memperoleh data dan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen atau alat pengumpulan data sebagai berikut:

a. Data Primer. Data Primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pihak pertama (Ikhsan, 2008). Pengumpulan data dalam penelitian ini yakni dengan melakukan Survey Lapangan. Survey ini dilakukan secara lebih mendalam dengan cara mengamati secara langsung pada objek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam metode survey dalam penelitian ini adalah kuisioner dan wawancara. Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan pihak-pihak terkait yang bertujuan untuk mendalami informasi yang belum didapat pada studi kepustakaan sedangkan kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan data penelitian pada kondisi tertentu kemungkinan tidak memerlukan kehadiran peneliti. Pertanyaan peneliti dan jawaban responden dapat dikemukakan secara tertulis melalui suatu kuesioner. Kuesioner yang digunakan sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2013). b. Data Sekunder. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang

diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (Ikhsan, 2008). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder yaitu peraturan Bupati Jepara mengenai Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah,

(5)

Kebijakan Akuntansi dan Bagan Akun Standar, peraturan lain terkait dengan SAP berbasis akrual serta hasil dari sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jepara berkaitan dengan persiapan implementasi SAP berbasis akrual.

3.4. Sampel Penelitian

Menurut Ikhsan (2008) sampel merupakan bagian dari jumlah maupun karakteristik yang dimiliki populasi dan dipilih secara hati-hati dari populasi tersebut. Semakin banyak sampel yang digunakan dalam penelitian maka semakin mencerminkan keadaan populasinya. Jumlah sampel yang digunakan tergantung dengan keadaan populasi. Apabila keadaan populasi memiliki karakteristik yang sama atau homogen, maka jumlah sampel yang diambil dapat lebih kecil. Namun apabila keadaan populasi adalah heterogen maka sampel yang diambil harus benar-benar representatif (Arikunto, 2010). Penentuan jumlah sampel sangat penting dalam penelitian. Agar hasil penelitian lebih baik, maka diperlukan sampel yang baik pula yaitu sampel yang representatif. Arikunto (2010) menyatakan bahwa ukuran sampel sangat ditentukan oleh besarnya ukuran populasi. Untuk populasi dengan ukuran kurang dari seratus, sampel dapat diambil seluruhnya (seluruh anggota populasi menjadi sampel atau disebut juga sebagai sampel total). Namun demikian, menurut Bungin (2005) dalam menentukan besaran sampel dari populasi yang telah diketahui jumlahnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus Slovin :

(6)

Dimana :

n = Jumlah sampel yang dicari N = Jumlah populasi

d = Tingkat signifikansi (α = 5%)

Karena pada penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai sumber datanya, maka sumber data disebut responden yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan peneliti baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Kuesioner diberikan kepada Petugas Akuntansi SKPD sedangkan wawancara diberikan kepada PPK SKPD, PPKD, dan seksi akuntansi di SKPKD. Jumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Jepara sebesar 44 buah, terdiri dari 1) Dinas, berjumlah 13 buah

2) Badan/Sekretariat, berjumlah 12 buah 3) Kantor, berjumlah 3 buah

4) Kecamatan, berjumlah 16 buah

Dengan menggunakan perhitungan rumus Slovin di atas, maka besaran sampel untuk penelitian ini dihitung sebagai berikut:

Sampel sebanyak 40 buah tersebut dengan rincian sebaran sampel sebagai berikut: 1) Dinas, berjumlah 12 buah

2) Badan/Sekretariat, berjumlah 11 buah 3) Kantor, berjumlah 3 buah

(7)

3.5. Skala Pengukuran Sikap

Skala adalah perangkat ukur yang digunakan untuk mengetahui intensitas, arah atau tingkat dalam sebuah variabel yang berada pada tingkat pengukuran ordinal. Menurut Ikhsan (2008) pengukuran adalah penetapan/pemberian angka terhadap obyek atau fenomena menurut aturan tertentu. Dalam penelitian akuntansi keperilakuan, komponen sikap dapat dijelaskan melalui tiga dimensi yaitu :

1) Afektif, merefleksikan perasaan atau emosi seseorang terhadap suatu obyek; 2) Kognitif, menunjukkan kesadaran seseorang terhadap aatu pengetahuan

obyek tertentu;

3) Komponen-komponen perilaku, menggambarkan suatu keinginan-keinginan atau kecenderungan seseorang untuk melakukan tindakan.

Penelitian ini menggunakan Skala Likert. Menurut Sarwono (2006) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap dalam suatu penelitian. Skala Likert merupakan metode mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Skala ini mempunyai jarak dari sangat positif ke sangat negatif terhadap obyek sikap tertentu. Skala Likert juga diartikan sebagai cara pengukuran dengan menghadapkan seorang responden dengan sebuah pernyataan dan kemudian diminta untuk memberikan jawaban. Biasanya Skala Likert diekspresikan mulai dari yang paling negatif , netral sampai ke yang paling postif. Skala pengukuran kuesioner pada penelitian ini menggunakan skala:

(8)

2 = tidak siap 3 = cukup siap 4 = siap 5 = sangat siap 3.6. Metode Analisis Data 3.6.1. Uji Instrumen Data

a. Uji Validitas. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2010). Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana validitas data diperoleh dari penyebaran kuisioner. Uji validitas dapat dilakukan dengan menghitung korelasi antar masing-masing pertanyaan ataupun pernyataan dengan skor total pengamatan (Arikunto, 2010). Menurut Ikhsan (2008) validitas merupakan akurasi temuan penelitian yang mencerminkan kebenaran sekalipun responden yang dijadikan obyek pengujian berbeda. Hasil uji validitas dinyatakan valid jika nilai perolehan hasil uji validitas lebih kecil dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan.

b. Uji Reliabilitas. Reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat ukur (Ikhsan, 2008). Menurut Arikunto (2010) Reliabilitas adalah suatu instrumen yang cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Reliabilitas dapat dikatakan menunjukkan kekonsistenan dari suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Makin kecil kesalahan pengukuran makin

(9)

pengukuran dalam penelitian ini menggunakan reliabilitas menggunakan metode Cronbach alpha (α). Menurut Ikhsan (2008) instrumen dapat dikatakan handal (reliabel) bila memiliki koefisien reliabilitas diatas 0,60.

3.6.2. Analisis Deskripstif Kualitatif

Teknik yang dipakai dalam menganalisis data adalah analisis kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Analisis kualitatif merupakan analisis yang mendasarkan pada adanya hubungan semantis antar variabel yang sedang diteliti (Sarwono, 2006). Penelitian ini menggunakan deskripsi analisis untuk mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai penelitian. Metode ini untuk memaparkan sesuatu dengan cara mendiskripsikan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi yang saat ini terjadi. Metode analisis deskriptif sesuai dengan hakikatnya adalah data yang telah terkumpul kemudian diseleksi, dikelompokkan, dilakukan pengkajian, intepretasi dan disimpulkan. Selanjutnya hasil kesimpulan itu dideskripsikan. Adapun langkah-langkah analisis deskriptif antara lain:

a. Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan Pola Jawaban. Pada tahap ini dibutuhkan pengertian yang mendalam terhadap data, perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali. Berdasarkan hasil kuesioner, peneliti melakukan pengelompokan atau distribusi tentang karakteristik responden seperti umur, jenis kelamin,

(10)

pendidikan dan jabatan. Selanjutnya juga dilakukan pengelompokan jawaban responden kesiapan penerapan SAP berbasis akrual.

b. Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data. Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Berdasarkan hasil jawaban kuisioner dan wawancara maka pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternatif lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran.

c. Menulis Hasil Penelitian. Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis untuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek, dibaca berulang kali sehingga penulis mengerti benar permasalahannya, kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencakup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :