• Tidak ada hasil yang ditemukan

oleh A. NONTJI * dan O.H. ARINARDI *

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "oleh A. NONTJI * dan O.H. ARINARDI *"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Oseonologi di Indonesia 1975, No. 4: 21-36.

HIDROLOGI DAN DIATOM PLANKTON DI LAUT JAWA

oleh

A. NONTJI * dan O.H. ARINARDI *

ABSTRAK

Pengambilan sampel hidrologi dan plankton telah dilaksanakan da-lam bulan Mei 1964 pada dua garis di Laut Jawa masmg-masing dari depan Teluk Jakarta ke Tanjung Puting (Kalimantan) dan dari Tanjung Puting ke Pulau-Pulau Kangean. Pada bahagian tengah daerah I umum-nya ditemukan salinitas lebih dari 32,0 ‰ yang datang dari Laut Cina Selatan . Massa air ini tidak mencapai permukaan daerah II. Pengaruh sungai terhadap pengenceran air laut dapat terlihat pada penyebaran sa-linitas yang ternyata dapat mencapai jarak yang jauh khususnya dari sungai-sungai Kalimantan.

Diatom plankton terdapat dalam jumlah banyak di stasion-stasion yang salinitasnya rendah tetapi tidak diperoleh hubungan yang nyata dengan kadar fosfat. Terdapat empat genera yang umum ditemukan, masing-masing adalah Chaetoceros, Rhizosolenia, Thalassiothrix, dan Bacteriastrum.

Jumlah nisbi Rhizosolenia nampaknya mempunyai hubungan dengan salinitas. Jumlah Chaetoceros cenderung berbanding terbalik dengan jumlah Bacteriastrum.

ABSTRACT

HYDROLOGY AND PLANKTON DIATOMS OF THE JAVA SEA. Hy-drological and plankton sampling were made at two lines across the Java Sea in May 1964- namely from off Jakarta Bay to Tanjung Puting {Kali-mantan) and from Tanjung Puting to Kangean Islands. The central part of the first line was dominated by salinity higher than 32.0 ‰which derives from the South China Sea. This water mass did not reach the surface of the second line. The dilution effect of river discharge can be seen on the salinity distribution which can reach quite distant place especially that from Kalimantan.

Plankton diatoms occurred abundantly at the stations with low salinity but no relation was found with the phosphate content. Four genera were found to be common namely Ghaetoceros, Rhizosolenia, Thalassiothrix and

Bacteriastrum., The relative abundance of Rlhizosolenia seemed to have a fair agreement with the salinity. There appeared to be an inverse relation between the amount of Chaetoceros and Bacteriastrum.

PENDAHULUAN

Dari karya-karya WEEL (1923), BERLAGE (1927), VEEN (1953),

SOERIAATMADJA (1956), SJARIF (1959), WYRTKI (1961), RAHARDJO dan

ILAHUDE (1965) dapat disimpulkan bahwa keadaan hidrologi di Laut

(2)

Jawa sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Adapun musim-musim yang berlaku di Laut Jawa adalah musim barat (Desember sampai Pebruari) yang banyak mengandung hujan dan musim timur (Juni sampai Agustus) yang kering serta musim-musim peralihan diantara keduanya.

Dalam musim barat air dari Laut Cina Selatan memasuki Laut Jawa dari arah barat, yang dalam perjalanannya pada musim hujan tersebut mengalami banyak pengenceran dari sungai-sungai dari daratan sekitar-nya (Sumatera, Kalimantan, Jawa). Akibatsekitar-nya ialah salinitas turun merendah dan mendorong air yang bersalinitas tinggi ke arah timur.

Dalam musim timur kebalikannyalah yang terjadi dengan masuknya air Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang bersalinitas tinggi dari arah timur (Selat Makasar dan Laut Flores) yang mendorong air yang bersalinitas rendah kembali ke arah barat.

Pengaruh musim terhadap biologi di Laut Jawa belum banyak di-pelajari,khususnya mengenai planktonnya. DELSMAN (1939) mulai

mem-pelajari plankton dan ekologinya tetapi karyanya lebih banyak ditekankan-kan pada zooplankton. Karya lain yang sangat berharga adalah oleh ALLEN dan CUPP (1935) yang melaporkan diatom plankton yang

ditemu-kan di perairan ini. Mengenai produktivitasnya telah dilaporditemu-kan oleh DOTY et al. (1963) dan SOEGIARTO dan NONTJI (1966).

Adapun tulisan ini bermaksud untuk menggambarkan keadaan hidro-logi dan diatom plankton di Laut Jawa pada bulan Mei yakni musim peralihan dari musim barat ke musim timur. Seperti telah banyak di-ketahui, diatom merupakan komponen f itoplankton yang terpenting dilaut.

BAHAN DAN METODA

Dalam ekspedisi Baruna I bulan Mei 1964 telah dikerjakan 15 stasion hidrologi di Laut Jawa dengan kapal RI JALANIDHI, 13 diantaranya digunakan pula untuk pengambilan sampel fitoplankton. Penyebaran stasion terletak pada dua garis lintas yakni dari depan Teluk Jakarta ke Tanjung Puting (Kalimantan) yang selanjutnya disebut daerah I, dan dari Tanjung Puting ke Pulau-Pulau Kangean yang selanjutnya disebut daerah II (Gambar 1).

Pengambilan sampel hidrologi dilakukan dengan menggunakan botol Nansen yang dilengkapi dengan termometer-balik untuk pengukuran suhu air, Selanjutnya sampel yang diperoleh ditentukan salinitas dan kadar oksigennya masing-masing dengan metoda titrasi Knudsen dan Winkler sesuai dengan modifikasi yang dicantumkan dalam U.S. NAVY HYDROGRA

-PHIC OFFICE (1959). Kadar fosfat inorganik ditentukan menurut STRICK

-LAND dan PARSONS (1960). Data hidrologinya yang lengkap telah diter-bitkan (INSTITUTE OF MARINE RESEARCH 1971).

Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan dengan jaring Kitahara (diameter 30 cm, mata jaring 0,11 mm) yang ditarik secara vertikal dari dekat dasar ke permukaan. Semua sampel diawetkan dengan formalin 4%. Volume air yang tersaring dihitung dari luas mulut jaring dan 22

(3)
(4)

kolom air yang dilalui oleh jaring. Volume endapan ditentukan dengan menaruh sampel dalam tabung ukur selama 24 jam. Pencacahan dilaku-kan di bawah mikroskop dengan memeriksa beberapa tetes sampel yang sebelumnya telah dikocok homogen dan dengan menggunakan rumus:

dimana N = jumlah sel per m3

n — jumlah sel yang dicacah dalam m tetes m = jumlah tetes sampel yang diperiksa

s = volume sampel dengan pengawetnya (ml) a = volume tiap tetes sampel (pipet yang

diguna-kan memberidiguna-kan 0,05 ml)

v = volume air laut yang disaring (m3).

Agar dapat diperoleh gambaran mengenai peranan tiap takson sebagai anggota komunitas di setiap stasion maka jumlahnya dinyatakan secara nisbi yakni dengan persen dari jumlah cacahan sel per stasion.

HASIL

1. HIDROLOGI

Hasil pengukuran faktor-faktor hidrologi dapat dilihat dalam bentuk penampang pada Gambar 2 dan 3. Penampang daerah I dan II masing-masing terdiri dari 8 station. Pada penampang I kedalaman dasar laut berkisar 30 - 50 m sedang pada penampang II dasarnya kurang lebih me-landai dari 35 - 80 m.

a. Penampang I

Penyebaran suhu tidak digambarkan pada penampang I karena data-nya menunjukkan perbedaan-perbedaan suhu baik vertikal maupun hori-zontal pada semua stasion hampir seluruhnya kurang dari 0,3°C. Apa-bila dapat diberikan toleransi sebesar 1°C yang disebabkan oleh variasi harian pada lapisan atas (WYRTKI 1961) maka ternyata bahwa suhu pada seluruh penampang I adalah homogen dari permukaan sampai ke dasar. Suhu rata-rata pada permukaan adalah 29,4°C.

Penyebaran salinitas menunjukkan bahwa nilai yang lebih dari 33,0‰ hanya ditemukan pada permukaan di daerah bahagian tengah (stasion 5) dan lebih melebar pada lapisan yang lebih dalam. Baik ke arah pantai Jawa maupun Kalimantan terlihat adanya pengenceran hingga mencapai

nilai kurang dari 32,0 %o. ,

Kadar oksigen yang lebih dari 4 ml/1 hanya ditemukan pada permuka-an di bahagipermuka-an tengah (stasion 4 dpermuka-an 5) ypermuka-ang selpermuka-anjutnya berpermuka-angsur- berangsur-angsur berkurang pada lapisan yang lebih dalam dan mendekat ke pantai.

Kadar fosfat inorganik dengan nilai 0,10 - 0,20 µg-at.P/1 menempati sebahagian besar perairan pada penampang I ini. Hanya pada stasion 8 yang terdekat ke pantai Kalimantan ditemukan nilai yang lebih dari 0,20 ug-at.P/1 mulai dari permukaan sampai ke dasarnya.

(5)
(6)
(7)

b. Penampang II

Pada penampang II suhu hampir homogen sampai pada kedalaman 50 m yang berkisar dari 29,5°C sampai 28,5°C. Keadaan ini ditemukan sampai ke dasar di daerah dangkal dekat pantai Kalimantan, tetapi di laut yang lebih dalam dekat Kangean, hanya terdapat pada lapisan ba-hagian atas saja. Pada stasion 15 dan 16 ditemukan perubahan suhu yang agak besar di lapisan bawah, dari lebih 28,4°C pada kedalaman 50 m hingga 23,6°C pada 75 m, atau penurunan sebesar kurang lebih 5°C dalam jarak vertikal hanya 25 m.

Kecuali pada stasion 16 maka salinitas di lapisan bahagian atas sam pai kurang lebih 20 m umumnya kurang dari 32,0 °/oo dengan nilai ter-rendah di stasion 12 sebesar 30,12 °/oo. Dengan melihat garis-garis iso-halin 30,5 - 32,0 °/oo nampaknya terjadi pengenceran yang terkuat di permukaan stasion 12 yang kemudian melemah baik ke permukaan sekitar-nya maupun ke arah lapisan yang lebih dalam. Di lapisan bahagian ba-wah pada stasion 15 dan 16 baru ditemukan nilai salinitas yang lebih dari 33,5 %0.

Kadar oksigen yang lebih dari 4 ml/1 umumnya ditemukan di per-mukaan sampai pada kedalaman kurang lebih 20 m sedangkan kadar 3,6 - 3,9 ml/1 di lapisan menengah di bawahnya. Di lapisan bawah dekat dasar seluruhnya berkadar kurang dari 3,6 ml/1. Hanya pada stasion 16 di bawah lapisan 50 m ditemukan oksigen yang kadarnya kurang dari 3,0 ml/1 dengan nilai terendah 2,42 ml/1 di dekat dasar.

Kadar fosfat di permukaan, kecuali dekat pantai Kalimantan, sampai sedalam kurang lebih 20 m umumnya kurang dari 0,20 µg-at.P/1 sedangkan kadar yang lebih dari 0,30 µg-at.P/1 terdapat diseluruh lapisan bawah sampai ke dasar. Di stasion 15 dan 16 ditemukan lagi kadar fosfat yang tinggi di lapisan dalamnya sampai lebih dari 0,90 µg-at.P/1.

2. Diatom plankton

Hasil pencacahan dan pengukuran volume endapan dapat terlihat pada Tabel 1 dan Gambar 4. Pada daerah I (Gambar 5) diatom yang terbanyak ditemukan pada stasion 1 dekat pantai Jawa (214 x 103 sel/m3; 0,92 ml/m3) dan berangsur-angsur berkurang ke arah tengah, sedangkan pada daerah II jumlah tertinggi ditemukan pada stasion 12 (567 X 103 sel/m3; 2,12 ml/m3). Jumlah sel diatom rata-rata untuk seluruh stasion adalah 105 x 103 sel/m3 dengan volume endapan rata-rata sebesar 0,65 ml/m3.

Terdapat empat genera diatom yang umum ditemukan di seluruh sta-sion masing-masing adalah: Chaetoceros, Rhizosolenia, Thalassiothrix dan Bacteriastrum. Perbandingan keempat komponen ini dapat terlihat pada Gambar 5.

Genus Chaetoceros umumnya lebih sering ditemukan di daerah II

yang komponen utamanya adalah Chaetoceros lorenzianum GRUNOW

Di bahagian tengah jumlah nisbi Chaetoceros lorenzianum sudah ber-kurang dan didesak dengan dominasi Chaetoceros vanheurckii GRAN.

(8)

Disamping itu Chaetoceros coardatum LAUDER ditemukan dalam jumlah nisbi yang agak banyak di stasion 8 dan 13 sedangkan Chaetoceros laei-niosum SCHUTT di stasion 12.

Meskipun genus Rhizosolenia ditemukan pada semua stasion tetapi jumlah nisbinya umumnya sedikit, kecuali Rhizosolenia alata BRIGHTWELL yang tumbuh menonjol pada stasion 15 dan 16 masing-masing dengan 54% dan 38% dari jumlah sel. Di daerah I nampaknya jumlah nisbi Rhizosolenia cenderung semakin meninggi ke arah tengah Laut Jawa.

1 2 3 4 5 8 10 11 12 13 U 15 16 S

Dari genus Thalassiothrix yang sering ditemukan hanyalah Thalas-siothrix frauenfeldii GRUNOW.Pada bahagian tengah daerah II (stasion 11 dan 12) jumlah nisbinya melebihi 10%.

Genus Bacteriastrum terutama terdiri dari Bacteriastrum varians LAUDER yang pada stasion 2 - 4 mencapai 29-47% dan pada stasion 10 dan 13 masing-masing 22% dan 24%.

Genus Biddulphia yang umumnya terdiri dari Biddulphia chinensis GREVILLE ditemukan pula pada semua stasion meskipun dalam jumlah nisbi yang kecil, umumnya kurang dari 5%. Di stasion 14 ia ditemukan sampai lebih 12%.

Genus Hemiaulus umumnya ditemukan pula dalam jumlah yang se-dikit. Hanya pada stasion 8 ia sedikit menonjol sampai 17,4% dengan species utamanya Hemiaulus indicus KARSTEN.

Genera lainnya jumlahnya sedikit dan tidak memegang peranan penting sebagai komponen komunitas fitoplankton.

(9)
(10)

Tabel 1. Ringkasan data diatom dalam persen dari + kurang dari 1%,

(11)
(12)

DISKUSI

Hasil-hasil pengukuran parameter hidrologi menunjukkan bahwa alir-an dari sungai-sungai Jawa dalir-an Kalimalir-antalir-an mempunyai pengaruh ter-hadap keadaan hidrologi di perairan ini. Hal ini amat jelas terlihat pada garis-garis isohalin. Pada penampang I (Gambar 2) misalnya, kedua ujungnya baik yang berada di depan Teluk Jakarta maupun yang di pantai Kalimantan mempunyai salinitas yang rendah (kurang dari 32,0°/00)

yang kemudian meninggi ke jurusan tengah hingga mencapai 33,3 °/oo di stasion 5. Adalah menarik bila diperhatikan bahwa salinitas yang lebih dari 32,0 °/oo pada penampang I ini, yang penyebarannya cukup luas ter-dapat dari permukaan hingga ke dasar, tidak lagi ditemukan kelanjutan-nya di lapisan atas pada penampang II. Ini menunjukkan bahwa massa air yang menduduki sebagian besar penampang I berbeda dengan massa air yang terdapat pada lapisan atas. penampang II. Massa air yang sali-nitasnya nisbi tinggi di bahagian tengah penampang I ini bersumber dari Laut Cina Selatan, tetapi rupanya dalam penyusupannya ke Laut Jawa sudah tidak mencapai permukaan pada penampang II. Ini disebabkan karena pada bulan Mei tersebut musim timur sudah mulai berkembang seperti tercermin pada arah angin yang diamati pada setiap stasion yang umumnya dengan arah berkisar selatan sampai timur. Pada saat itu arus yang menuju ke baratpun tentunya sudah dapat diharapkan mulai ber-kembang hingga mencegah menyusupnya air dari Laut Cina Selatan lebih jauh ke timur. Sementara itu pada stasion yang paling timur (stasion 16) sudah mulai pula terlihat masuknya air dengan salinitas yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini pada dasarnya menunjukkan persamaan de-ngan pola yang dibuat oleh VEEN (1953) dan WYRTKI (1961) untuk bulan

Mei yang untuk jelasnya disajikan dalam Gambar 6. Menurut WYRTKI

(1961) maksimum penyusupan massa air dengan salinitas yang nisbi tinggi (lebih dari 32,0 °/00) dari Laut Cina Selatan ke Laut Jawa terjadi

pada bulan Mei, sedang pada bulan Juni sudah terdorong kembali ke arah pantai Sumatera.

Pada penampang II pengaruh sungai dari Kalimantan terlihat lebih kuat. Ini jelas ditunjukkan dengan penyebaran isohalin 30,5 °/oo sampai 32,0 °/oo- Pengenceran terkuat terjadi di permukaan stasion 12 dan ber-angsur-angsur berkurang ke arah stasion-stasion yang mengapitnya. Dalam penyebaran vertikalnya tampak bahwa air dengan salinitas rendah ini hanya menempati bahagian atas saja berkisar sampai pada kedalaman 20 m. Meskipun stasion 12 ini terletak lebih dari 100 mil dari pantai Kalimantan namun pengaruh sungai yang begitu kuat masih bisa dimung-kinkan karena lokasinya di depan sungai besar di Kalimantan Selatan, yakni Sungai Barito. SJARIF (1959) misalnya telah menunjukkan bahwa

di depan Banjarmasin salinitas dapat turun sampai kurang dari 24 %o yang selanjutnya pengaruh pengencerannya masih dapat terlihat jauh ke selatan sampai ke sekitar Pulau Masalembo. Hal ini sesuai dengan peng-amatan yang telah dilakukan lebih dahulu oleh SOERIAATMADJA (1956) yang meneliti salinitas di utara Pulau Jawa. Dari kedua penulis ini dapat 32

(13)

Gambar 6. Penyebaran isohalin di bahagian barat Laut Jawa. a. Rata-rata untuk bulan Mei dari data yang dapat dikumpulkan antara tahun 1906 - 1951 menurut VEEN (1953). b. Beberapa isohalin bulanan untuk tahun 1953 menurut WYRTKI (1961).

terlihat bahwa peranan sungai-sungai Kalimantan terhadap pengenceran Laut Jawa lebih besar dari sungai-sungai Jawa.

Di lapisan bawah stasion 15 dan 16 terlihat adanya massa air yang lain sifatnya yang mempunyai suhu dan oksigen yang rendah disertai salinitas dan fosfat yang tinggi yang datangnya dari Laut Flores.

Pengaruh kondisi hidrologi terhadap diatom plankton antara lain da-pat dilihat pada penyebarannya. Pada daerah I, salinitas pada stasion 1 yang terletak di depan muara Sungai Citarum ber-angsur-angsur naik ke arah bahagian tengah. Sebaliknya diatom di daerah I ini terbanyak didapatkan di stasion 1 dan berangsur-angsur berkurang ke arah tengah. Di daerah II ditemukan pula konsentrasi diatom yang tertinggi di stasion yang salinitasnya paling rendah (Gambar 5 stasion 12) bahkan disini konsentrasinya sampai mencapai lima kali lebih tinggi dari rata-rata jum-lah yang diamati pada seluruh stasion.

Dari kenyataan diatas nampak seakan-akan ada hubungan antara rendahnya salinitas dengan tingginya konsentrasi diatom. Tetapi hu-bungan ini rupanya bukan merupakan huhu-bungan "sebab akibat" (causal) melainkan keduanya dipengaruhi oleh penyebab yang sama, yang dalam hal ini bersumber pada pengaliran air sungai-sungai. Keadaan serupa telah ditunjukkan pula oleh WICKSTEAD (1958) dan CHUA (1970) di perairan Singapura. Jadi bersamaan dengan aliran dari sungai yang menurunkan salinitas akan terbawa pula bermacam-macam garam hara (nutrient), "trace elements" dan Iain-lain yang lebih memungkinkan fito-plankton untuk tumbuh dengan lebih subur. Keadaan semacam ini me-rupakan sebagian dari proses yang umum ditemukan di pantai yang di-kenal dengan istilah "land mass effect" (DOTY and OGURI 1956, DOTY

et al. 1963).

(14)

Walaupun demikian hasil pengukuran fosfat dalam pelayaran ini tidak menunjukkan hubungannya yang nyata dengan diatom plankton. Meskipun di stasion yang terdekat dengan Kalimantan (stasion 8) di-temukan fosfat yang lebih dari 0,20 µg-at.P/1 namun pada umumnya di permukaan sampai kurang lebih 20 m adalah rendah (kurang dari 0,20 µg-at.P/1) baik di daerah I maupun di daerah II.

DELSMAN (1939) maupun ILAHUDE (1970) telah mengungkapkan bahwa fosfat di permukaan Laut Jawa umumnya rendah dan tidak mempunyai variasi musiman yang besar. Hal ini kiranya dapat diterangkan dengan tingginya laju konsumsi fosfat oleh plankton di daerah ini hingga ham-pir selalu terdapat keseimbangan antara laju konsumsi dan laju penyedia-an fosfat.

Suatu hal yang menarik yang dapat pula terlihat dari data yang diperoleh ialah bahwa peranan Rhizosolenia sebagai unsur komunitas mempunyai hubungan dengan salinitas yang nampaknya seirama (Gam-bar 7). Sementara itu terdapat kecenderungan jumlah Chaetoceros ber-banding terbalik dngan Bacteriastrum (Gambar 8). Mengenai Cosci-34

(15)

Gambar 8. Hubungan antara Bacteriastrum dan Chaetoceros.

nodiscus yang disebut tidak pernah absen di Lauti Jawa (DELSMAN 1939) maupun di perairan Singapura (THAM 1953, CHUA 1970), ternyata dalam

pengamatan selama pelayaran ini ditemukan sangat jarang bahkan tidak dijumpai pada stasion 15.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan peserta ekspe-disi termasuk Komandan dan anak buah kapal RI JALANIDHI atas segala

bantuan dan kerja sama di lapangan yang telah memungkinkan terlak-sananya pekerjaan ini.

DAFTAR REFFERENS

ALLEN,W.E. and E.E. CUPP 1935. Plankton diatoms of the Java Sea. Ann. Jard. Bot. Buitenzorg 44 (2) : 1 - 174, 127 figs.

BEWLAGE, H.P. 1927. Monsoon currents in the Java Sea and its entrances, Kon. Magnet. Met. Observ. Batavia 19: 1-28, 61 charts.

CHUA,THIA ENG 1970. A preliminary study on the plankton of the Ponggol estuary.

(16)

DELSMAN,H.C. 1939. Preliminary plankton investigations in the Java Sea. Treubia 17 (2): 139-181.

DOTY,M.S. and M. OGURI 1956. The island mass effect. J. du Conceil 22 (1): 33 - 37. DOTY,M.S.; R.E. SOERIATMADJA and A. SOEGIARTO 1963,. Observations on the

pri-mary marine productivity of the northwestern Indonesian waters. Mar. Res. Indonesia 5: 1-25.

ILAHUDE,A.G. 1970. On thte occurence of upwelling in the Southern Makassar Strait.

Mar. Res. Indonesia 10: 3 - 29, 24 charts.

INSTITUTE OF MARINE RESEARCH 1971. Oceanographical cruise report (1963-1966). Inst.

M a r . Re s ., S p e c i a l Is s u e : 1 - 6 7 .

RAHARDJO.G. and A.G. ILAHUDE 1965. Temperature and salinity observations in the Java Sea. Baruna Exped. I, Sect, A.B.C (1): 77-116.

SJARIF,S. 1959. Seasonal fluctuations in the surface salinity along the coast of the Southern part of Kalimantan (Borneo). Mar. Res. Indonesia 4: 1 - 25. SOEGIARTO,A. and A. NONTJI 1966. A seasonal study of the primary marine productivity

in Indonesian waters. Paper submitted to the XI Pacific Science Congress, Tokyo,

SOERIAATMADJA,R.E. 1956. Seasonal fluctuations in the surface salinity off the north coast of Java. Mar. Res. Indonesia 1: 1-19.

STRICKLAND,J.D.H. and T.R. PARSONS 1960. A manual of seawater analysis. Fish. Res. Bd. Canada, Bull. 125: 1 -185.

THAM, AH KOW 1953. A preliminary study on the physical, chemical and biological characteristics of Singapore Straits. Col. Off. Fish. Bull. 1 (4): 1-65. U.S. NAVY HYDROGRAPHIC OFFICE 1959. Instruction manual for oceanographic

ob-servation. U.S. Navy Hydrogr. Off. Pub. 607: 1-210.

VEEN,P.C. 1958. Preliminary charts of the mean salinity of the Indonesian Archipelago and adjacent waters. Org. Sci. Res. Indonesia 17: 1-47.

WEEL.K.M. 1923. Meteorological and hydrographical observations made in the western part of the Netherlands East Indian Archipelago. Treubia 4: 1-559, 9 charts. WICKSTEAD,J.H. 1958. A survey of the larger zooplankton of Singapore Straits.

J. du Conceil 23 (3): 13I40-353.

WYRTKI,K. 1961. Physical oceanography of the southeast Asian waters. Naga Rep.

2: 1 -163, 44 plates.

Gambar

Gambar 2. Penampang salinitas, oksigen dan fosfat untuk daerah I.
Tabel 1. Ringkasan data diatom  dalam persen dari  + kurang dari 1%,
Gambar 6.    Penyebaran isohalin di bahagian barat Laut Jawa.    a. Rata-rata untuk  bulan Mei dari data yang dapat dikumpulkan antara tahun  1906 - 1951  menurut  VE EN    (1953)
Gambar 8.    Hubungan antara Bacteriastrum dan Chaetoceros.

Referensi

Dokumen terkait

Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang disebabkan oleh uropathogenic Escherichia coli (UPEC) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada masyarakat saat

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Fakultas Bisnis, Jurusan Akuntansi, Universitas Katolik Widya Mandala

bukan tidak mungkin di Untirta bisa diterapkan e-learning atau pembelajaran jarak jauh. Selama ini dosen menggunakan SIAKAD hanya untuk menginput nilai saja. Responden

Pilih Working, untuk mengaktifkan panel Collection Tie Point, klik titik 14003 pada foto 14004, koordinat akan tertulis di tabel Collection Tie Point, selanjutnya pada

Tanaman jambu mete menghasilkan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya. Selain

Kinerja reksadana terproteksi konvensional apabila di ukur dengan kinerja sharpe index memiliki kinerja positif. Sharpe index tertinggi di wakili reksadana terproteksi reksadana

Radang iris dan badan siliar menyebabkan penurunan permeabilitas dari blood-aqueous barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel radang

Di dalam proses fermentasi KBK dan TDL, kapang Aspergillus niger merubah senyawa-senyawa yang ada dalam substrat untuk pertumbuhan dan pembentukan protein, sehingga