• Tidak ada hasil yang ditemukan

sejarah dan sekelumit permasalahan dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "sejarah dan sekelumit permasalahan dalam"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“ SEJARAH DAN SEKELUMIT PERMASALAHAN DALAM PELAKSANAAN LANDREFORM”

Disusun Oleh :

Andi Mattalatta B111 15 308 AGRARIA C

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pasca kemerdekaa, pemerintah bersama jajarannya kala itu di sibukkan dengan berbagai permasalahan baru mulai dari system pemerintahan, ekonomi dan hukum. Permasalahan humum saat itu adalah sistem hukum yang digunakan Karena Indonesia masih tergolong baru maka untuk sementara system hokum yang dipergunakan adalah sitem hokum penjajah yankni sistem hukum belanda dengan istilah yang biasa kita dengar adalah

“burgelerk wethbook”. Sistem hukum itulah yang kemudian diberlakukan termasuk perihal dalam tanah, “burgerleck wethbook” pada kenyataan memang telah mengakomodir berbagai perturan tentang tanah akan tetatpi pada tataran implemetatif dari pertauran tersebut tidaklah sesuai dengan nilai-nilai atau keadaan yang terdapat pada rakyat Indonesia tidaklah sesuai dengan “burgerleck wethbook” sehingga pemerintah dengan segera mengadakan peraturan tentang tanah dengan berlandaskan pada asas-asas yang sesuai dengan tatarankehidupan rakyat Indonesia. Tertanggal 24 September 1960, pemerintah resmi memberlakukan perturan baru tentang tanah yakni Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, lebih lanjut akan disingkat UUPA.

Berdasarkan UUPA maka dapat ditarik pengertian umum bahwa Indonesia adalah negara agraris, sehingga mengerucutkannya dalam satu hal bahwa tanah merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh masyarakat agraris. Kata agraria itu sendiri berdasarkan Black Law Dictionary” adalah serangkaian peraturan peraturan hukum yang bertujuan mengadakan

(3)

meskipun demikian anehnya UUPA tidaklah menjelaskan secara eksplisit tentang tanah melainkan hanya menjelaskan secara tersirat dalam pasal 4 UUPA, Atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah. UUPA diharapkan mempu mewadai bebagai perturan,

permasalahan dan keinginan yang ada dalam masyarakat berkaitan dengan hal tersebut untuk menciptakan pengelolaan tanah yang optimal sehingga dibuatlah anak dari UUPA yang selanjutnya disebut “landreform” .

Landreform berasal dari bahasa Inggris yaitu “land” dan “reform”. Land artinya tanah, sedang reform artinya perombakan atau perubahan untuk membangun atau membentuk atau menata kembali struktur pertanian baru. Sedangkan landreform dalam arti sempit adalah penataan ulang struktur penguasaan dan pemilikan tanah, merupakan bagian pokok dalam konsep reform agraria (agraria reform). Semenjak era reformasi, telah terjadi perkembangan yang menggembirakan, dimana telah cukup banyak pihak yang membicarakan dan peduli dengan permasalahan ini, meskipun masih terbatas pada tingkat wacana. Namun demikian, sampai sekarang belum berhasil disepakati bagaimana landreform dan agraria reform(pembaruan agraria) tersebut sebaiknya untuk kondisi di Indonesia. Namun dalam proses perjalanan hidup masyrakat indonesia berbagai permasalahan landreform

terjadi tapi sayangnya landreform bak pajangangan diruang tamu yang hanya menjadi sekedar penghias yang tak berguna sama sekali mau itu dijabut atau dibuang tidak ada pengaruhnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan landreform ? 2. Bagaimana sejarah landreform ?

3. Apa dasar hukum landreform?

4. Apa saja bentk pelaksanaan yang terdapat dalam landreform ?

1.2 Tujuan

(4)

2. Mengetahui sejarah lanreform.

3.Mengetahui dasar hukum Landreform.

(5)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Landreform

Landreform berasal dari kata-kata dalam bahasa Inggris, yaitu “land”

dan “reform”. Land artinya tanah, sedangkan Reform artinya perubahan dasar atau perombakan atau penataan kembali struktur tanah pertanian. Jadi, landreform adalah perombakan struktur pertanian lama dan

pembangunan struktur pertanian baru1

Land reform bukanlah pertama kali ada diindonesia, sehingga berbagai pengertian dari landreform yang dikemukakan oleh ahli-ahli dari negara lain tak lazim utnuk dijumapi namun tidak menutup kemungkina untuk orang Indonesia mendefinisikan sendiri apa itu landreform. Dibawah ini kan di ulas berbagai pengertian landreform oleh ahli :

1. Boedi Harsono mengatakan landreform meliputi perombakan

mengenai pemilikan dan penguasaan tanah serta hubungan hubungan hukum yang bersangkutan dengan penguasaan tanah2

2. Menurut Jacoby landreform merupakan sebuah upaya penataan atau perombakan penguasaan tanah yang adil dan menyeluruh.

Landreform bukan hanya perkara retribusi pembagian tanah melainkan juga menyangkut perobakan total tatanan sosial ekonomi politik yang lebih luas.3

3. Lipton mendefinisikan Landreform diartikan sebagai “Pengambil alihan tanah secara paksa,yang biasnya dilakukan oleh negara,dari pemilik-pemilik tanah yang luas dengan ganti rugi sebagian. dodengan tanah dapat tersebar lebih merata daripada sebelum penganbi lalihan”.

1 Dr. H.M. Arba, S.H., M.hum., Hukum Agraria Indonesia ( Jakarta: PT. Sinar Grafika, 2016), hlm, 172.

2Ibid, 172

(6)

4. Gunawan Wiradi yang menyatakan bahwa” Landreform mengacu kepada penataan kembali susunan penguasaan tanah demi kepentingan petani kecil”.

5. Arie Sukanti Hutagalung menyatakan bahwa Lndreform adalah suatu perubahan yang disengaja dalam suatu sistem Land tenure,penguasaan hak-hak atas tanah dan lain-lain yang berhubungan dengan tanah.

6. A.P. Parlindungan berpendapat bahwa Landreform diindonesia bukan sekedar membagi-bagikan, ataupun bersifat politis,akan tetapi adalah sesuatu usaha reformasi hubungan antara manusia dengan tanah yang lebih manusiawi.4

Landreform di Indonesi dibagi menjadi dalam arti luas dan sempit, meliputi: 1. Landreform dalam arti luas, yang dikenal dengan istilah agraria reform

meliputi lima program, terdiri dari; a. Perombakan hukum agraria

b. Penghapusan hak-hak asing dan konsesi konsesi kolonial atas tanah c. Mengakhiri pengisapan foedal

d. Perubahan pemilik dan penguasaan tanah serta hubungan hukum yang berkaitan dengan pppenguasaan tanah , dan

e. Perencanaan persediaan peruntukan dan penggunaan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya.

2. Landreform dalam arti sempit, menyangkut perombakan mengenai pemilikan dan penguasaan tanah serta hubungan-hubungan hukum yang bersangkutan dengan penguasahaan tanah selanjutnya ketentuan ini akan digunakan dalam cara yang lebih terbatas mengarah pada program pemerintah menuju pemerataan kembali pemilikan tanah.5

4 Suryanto, “Makalah Lanreform”, diakses dari

http://menulis-makalah.blogspot.co.id/2015/06/cara-menulis-footnote-catatan-kaki-yang.html, pada tanggal 13 November 2016 pukul 22.48

(7)

2.2 Sejarah Landreform

Landreform di dunia pertama kali dikenali pada jaman Yunani Kuno di masa pemerintahan Solon (sekitar 549 SM) yang ditandai dengan diterbitkannya undang-undang agraria (Seisachtheia).Undang-undang ini diterbitkan untuk membebaskan Hektemor (petani miskin yang menjadi penyakap/penggarap tanah gadaian atau bekas tanahnya sendiri yang telah digadaikan pada orang kaya) dari kondisi pemerasan oleh pemegang gadai.Usaha ini dilanjutkan oleh Pisistratus melalui program redistribusi disertai fasilitas kredit.

Pada belahan dunia lain, di Roma pada jaman Romawi Kuno, telah dimulai Landreform dalam bentuk redistribusi tanah milik umum untuk mencegah pemberontakan rakyat kecil. UU Agraria (Iex Agrarian) berhasil diterbitkan pada 134 SM yang intinya membatasi penguasaan tanah dan redistribusi tanah milik umum. Sementara di Inggris, Landreform dikenal sebagai enclosure movement, yaitu pengaplingan tanah pertanian dan padangpengembalaan yang tadinya disewakan untuk umum menjadi tanah individu.

Gerakan Landreform berskala besar pertama kali berlangsung pada saat Revolusi Perancis (1789) dengan menghancurkan sistem penguasaan tanah feodal.Tanah dibagikan kepada petani.Tujuan utamanya adalah (i) membebaskan petani dari perbudakan; (ii) melembagakan usaha tani keluarga yang kecil sebagai satuan pertanian yang ideal.Gerakan ini berpengaruh luas ke seluruh Eropa.Terbukti pada tahun 1870 John Stuart Mill membentuk Land Tenure Reform Association yang mendorong pembentukan sistem penyakapan (tenancy). Bulgaria relatif lebih maju, pada tahun 1880 telah melakukan Landreform yang utuh, mencakup kegiatanpenunjang seperti koperasi kredit, tabungan, dan pembinaan usaha tani.

(8)

penyakapan atau tenancy (sewa, bagi hasil, gadai dan lainnya) dilarang; (iii) penguasaan tanah absentee dilarang; (iv) hak garap dan luas hak garapan ditentukan atas kriteria luas tanah yang benar-benar digarap; (v) menggunakan buruh upahan dilarang.

Tidak terbendung kemudian Landreform menjangkau Cina melalui 3 (tiga) program besar pada tahun 1920-1930.Salah satu programnya adalah menata kembali struktur penguasaan tanah.Program ini mengalami stagnasi ketika dijajah oleh Jepang (1935-1945), namun dilanjutkan kembali setelah era penjajahan Jepang dan mencapai puncaknya pada tahun 1959-1961. Tanah milik tuan tanah dibagikan kepada petani penggarap secara kolektip yang dalam perkembangannya menjadi milik Negara tetapi petani mempunyai akses sepenuhnya memanfaatkan tanah tersebut (BPN, 2007). Pelaksanaan landreform di Cina tidak hanya mematahkan dominasi tuan tanah tetapi juga meningkatkan konsumsi petani dan meningkatkan tabungan perdesaan.

Reforma agraria terus bergulir, kemudian paska perang dunia II reforma agraria berlanjut di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Bahkan pada era 1950-1960 merambah ke Asia, Afrika dan Amerika Latin, dengan masing-masing negara memiliki cirinya masing-masing.

(9)

Negara Asia lain yang dipandang cukup berhasil adalah Thailand, yang didukung sepenuhnya oleh Rajanya. Tetapi keberhasilan terbesar dialami oleh Taiwan yang berdampak pada terjadinya pergeseran struktur pekerjaan dari pertanian ke industri jasa, dengan pertanian tetap sebagai landasan pembangunannya (BPN, 2007). Namun demikian, tidak semua negara berhasil melaksanakan reforma agraria, seperti misalnya Zimbabwe, dikarenakan menjadikan tanah milik kulit putih sebagai sasaran reforma agraria.

Puncak dari gerakan reforma agraria pada bulan Juli 1979 ketika dilaksanakan konperensi dunia mengenai Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan (World Conference on Agrarian Reform and Rural Development) yang diselenggarakan oleh FAO (Food and Agriculture Organization) PBB di Roma. Konperensi ini menjadi tonggak penting karena berhasil menelurkan deklarasi prinsip dan program kegiatan (the Peasants’ charter/Piagam Petani) yang mengakui kemiskinan dan kelaparan merupakan masalah dunia,serta reforma agraria dan pembangunan perdesaan dilaksanakan melalui 3 (tiga) bidang yaitu (i) tingkat desa mengikutsertakan lembaga perdesaan, (ii) di tingkat nasional, reorientasi kebijakan pembangunan; (iii) di tingkat internasional, mendorong terlaksananya prinsip tata ekonomi internasional baru.

A. Sejarah Lanreform di Indonesia

(10)

Singgih Praptodihardjo) yang menghasilkan keputusan penting yang relatif senada diantaranya adalah (i) batas minimum pemilikan tanah pertanian (2 hektar) per keluarga; (ii) mengadakan ketentuan maksimum pemilikan tanah, hak usaha, hak sewa dan hak pakai; (iii) pengaturan hak ulayat dengan undang-undang.

Berikutnya dikenal pula Panitia Soewahjo yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1956 yang diketuai oleh Soewahjo Soemodilogo. Panitia ini berhasil menyusun naskah rancangan UUPA pada tanggal 1 Januari 1957, diantaranya yang terpenting adalah (i) asas domein diganti dengan hak kekuasaan Negara; (ii) diakuinya hak ulayat; (iii) dualisme hukum agraria dihapuskan; (iv) penetapan batas masimum dan minimum luas tanah yang boleh dimiliki; (v) tanah pertanian dikerjakan dan diusahakan sendiri; (vi) diadakan pendaftaran tanah dan perencanaan penggunaan tanah.

Naskah rancangan Panitia Soewahjo kemudian disempurnakan kemudian diberi nama Rancangan Soenarjo mengikuti nama Menteri Agraria pada saat itu dan diajukan ke DPR pada tahun 1958. Namun kemudian dengan berlakunya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali UUD 1945, sementara Rancangan Soenarjo berdasarkan UUDS 1950, kemudian disusun kembali naskah undang-undang tersebut. Rancangan yang baru tersebut dinamai Rancangan Sadjarwo mengikuti nama Menteri Agraria pada saat itu, yang kemudian diajukan kembali ke DPRGR. Naskah ini yang akhirnya disetujui menjadi UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) pada tanggal 24 September 1960

(Harsono, 1999 dan Hakim, tanpa tahun)

2.3 Dasar Hukum Landreform

(11)

kemakmuran rakyat”. Sehingga secara historis dapat dikatakan bahwa upaya pengaturan pertanahan, termasuk landreform, di Indonesia telah dimulai sejak proklamasi kemerdekaan. Hal ini kemudian ditindaklanjuti melalui UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

UUPA mempunyai dua substansi dari segi berlakunya, yaitu (i) tidak memberlakukan lagi hukum agraria kolonial, (ii) membangun hukum agraria nasional. UUPA juga merupakan undang-undang yang memberlakukan reforma agraria yang ditandai adanya Panca Program Reforma Agraria Indonesia, khususnya program ketiga yaitu perombakan pemilikan dan penguasaan atas tanah serta hubungan hukum yang ber-hubungan dengan penguasaan tanah dalam mewujudkan pemerataan kemakmuran dan keadilan, yang dikenal sebagai landreform (Hakim, tanpa tahun)

Keterkaitan UUPA dengan landreform tergambarkan jelas pada

muatannya, mulai dari Menimbang hingga Penjelasan UUPA, pasal 1 sampai pasal 19 maupun ketentuan Konversi (Parlindungan, 1987). Secara umum, materi UUPA yang sangat erat terkait landreform adalah pasal 7 yang

membatasi pemilikan dan penguasaan tanah, pasal 10 yang mengatur tanah pertanian wajib dikerjakan sendiri secara aktif, dan pasal 17 menetapkan batas maksimum luas pemilikan tanah.

Sebagai tindak lanjut dari pasal 7 dan 17 UUPA tentang pembatasan penguasaan dan pemilikan tanah serta batas maksimum-minimum pemilikan tanah, dikeluarkan Undang-Undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian yang dikenal sebagai UU Landreform. UU ini mengatur 3 (tiga) masalah pokok yaitu (i) penetapan luas maksimum penguasaan tanah, (ii) gadai tanah;(iii) luas minimum tanah pertanian.

(12)

dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan undang-undang. UU No. 20 Tahun 1961 ini memberi kewenangan kepada Presiden untuk mencabut hak atas tanah dengan memberikan ganti kerugian.

Sementara pemberian ganti rugi pada bekas pemilik tanah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 224 Tahun 1961 yang diubah dengan PP Nomor 41 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian. PP ini diantaranya mengatur obyek dan subyek landreform termasuk lembaga pendukung landreform. Hal ini membuktikan bahwa landreform di Indonesia pada dasarnya tidak sekedar redistribusi tanah tetapi juga mengatur tindak lanjut pembagian tanah tersebut, sehingga tujuannya tidak sekedar pemerataan tetapi juga peningkatan kesejahteraan petani (Sumaya, 2009).

Selain itu, yang mungkin kurang dikenal sebagai regulasi yang terkait landreform adalah UU Nomor 2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil (UUPBH), yang melindungi golongan ekonomi lemah (petani penggarap) dari praktek bagi hasil yang merugikan. Terkait pendaftaran tanah, yang

merupakan alat mengendalikan luas kepemilikan dan penguasaan tanah, diterbitkan PP Nomor 10 Tahun 1961 yang telah diubah dengan PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Upaya pelaksanaan landreform juga didukung oleh beberapa regulasi seperti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1974 tentang Pedoman Tindak Lanjut Pelaksanaan Landreform, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1991 tentang Pengaturan Penguasaan Tanah Obyek Landreform secara Swadaya, Instruksi Menteri Negara

(13)

Kemudian memasuki era reformasi pada tahun 1998, Majelis

Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengeluarkan Ketetapan MPR (TAP MPR) Nomor 16/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam Rangka Demokrasi Ekonomi. Pada pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa pengelolaan dan

pemanfaatan tanah dan sumberdaya alam lainnya harus dilaksanakan secara adil dengan menghilangkan 8 segala bentuk pemusatan penguasaan dan pemilikan dalam rangka pengembangan kemampuan usaha ekonomi kecil, menengah, koperasi dan masyarakat luas (Shohibuddin, 2009). Tidak banyak yang menyadari bahwa TAP MPR ini yang mengawali komitmen kita

menjalankan reforma agraria, yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan dan Peraturan Perundang-undangan dalam rangka Pelaksanaan Landreform.

Pada tahun 2001, MPR kembali menelurkan TAP MPR Nomor

IX/MPR/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam, yang mencantumkan prinsip dan arah kebijakan pembaharuan agraria di Indonesia. TAP MPR ini kemudian ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan, yang secara jelas mencantumkan langkah-langkah percepatan reforma agraria berupa penyempurnaan UUPA No 5/1960 dan regulasi lainnya, serta pembangunan sistem informasi dan manajemen pertanahan.

Baru pada tahun 2006, pelaksanaan reforma agraria dinyatakan secara tegas sebagai program pemerintah dengan menetapkannya sebagai salah satu fungsi Badan Pertanahan nasional (BPN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. Dari 21 fungsi yang diemban BPN, secara jelas dicantumkan salah satunya adalah reformasi agraria. Selain itu, BPN bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Dengan demikian, Perpres ini merupakan upaya

(14)

lebih memudahkan dalam memperoleh tanah sumber redistribusi kemudian diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, yang memberi peluang bagi penetapan tanah terlantar jika tanah tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan haknya. Terlepas dari peraturan perundang-undangan dan regulasi yang ada, pada dasarnya sejak awal MPR telah menunjukkan keinginan yang teguh untuk mendorong agar pemerintah melaksanakan program landreform. Terbukti dari pencantuman frasa “penataan kembali penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah sehingga benarbenar sesuai dengan asas adil dan merata”,termasuk menjadikan program transmigrasi sebagai bagian dari upaya landreform,pada setiap Garis Besar Haluan Negara (GBHN)6. Bahkan dalam GBHN 1988 secara khusus terdapat frasa “perlu dicegah pemilikan tanah perseorangan secara berlebihan, serta pembagian tanah menjadi sangat kecil sehingga tidak menjadi sumber kehidupan yang layak” (Hendrawan, 2003)

2.4 Pelaksanaan Landreform Di Inonesia

Landreform di Indonesia pernah diim-plementasikan dalam kurun waktu 1961 sam-pai 1965, namun kurang berhasil (Rajagukguk, 1995). Landasan hukum pelaksanaan land-reform di Indonesia adalah UUPA No. 5 tahun 1960, yaitu pasal 7 dan 17 untuk sumber pe-ngaturan pembatasan luas tanah maksimum, pasal 10 tentang larangan tanah absentee, dan pasal 53 yang mengatur hak-hak semen-tara atas tanah pertanian. Produk hukum yang secara lebih tajam lagi dalam konteks ini adalah UU Nomor 56 tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, serta PP No 224/ 1961 dan PP No 41/1964 tentang Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Rugi.

(15)

Saat program landreform tersebut di-luncurkan, kondisi politik di Indonesia sedang labil. Pada masa itu dikenal pendekatan “politik sebagai panglima”, dimana tiap kebijakan pemerintah dimaknai dalam konteks politik. Partai Komunis Indonesia (PKI) kemudian menjadikan landreform sebagai alat yang ampuh untuk memikat simpatisan. Landreform diklaim sebagai alat perjuangan partai mereka, dengan menjanjikan tanah sebagai faktor penarik untuk perekrutan anggota. Pola ini memang kemudian menjadikan PKI cepat disenangi oleh masyarakat luas terutama di Jawa yang petaninya sudah merasakan keku-rangan tanah garapan. Namun bagi petani bertanah luas,

landreform merupakan anca-man bagi mereka, baik secara politik maupun ekonomi, yaitu kekhawatiran terhadap akan menurunnya luas penguasaan tanah mereka yang akhirnya berimplikasi kepada penurunan pendapatan keluarga dan kesejahteraan.

Program landreform hanya berjalan intensif dari tahun 1961 sampai tahun 1965. Namun demikian, pemerintahan Orde Baru yang berkuasa pada masa berikutnya meng-klaim bahwa landrefrom tetap dilaksanakan meskipun secara terbatas. Dalam makalah Posterman (2002) diuraikan, bahwa dari tahun 1960 sampai 2000 secara akumulatif tercatat telah berhasil dilakukan distribusi lahan dalam konteks landreform seluas 850.128 ha. Jumlah rumah tangga tani yang menerima adalah 1.292.851 keluarga, dengan rata-rata keluarga menerima 0,66 ha.

Data ini sedikit berbeda dengan yang dikeluarkan oleh BPN (Kepala BPN, 2001), dimana dari total obyek tanah landreform 1.601.957 ha, pada kurun waktu 1961-2001 telah diredistribusikan tanah seluas 837.082 ha (52%) kepada 1.921.762 petani penerima. Selain itu, untuk tanah absentee

(16)

petani kepada tanah dilakukan melalui kebijakan berupa penyeimbangan sebaran penduduk dengan luas tanah, dengan cara memindahkan pendu-duk ke daerah-daerah yang tanahnya luas melalui transmigrasi. Program ini kemudian dibarengi dengan program pengembangan PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Luas tanah yang diberikan kepada transmigran dan petani plasma mengikuti ketentuan batas minimum penguasaan yaitu 2 ha lahan garapan per keluarga.

Peluang Pelaksanaan Landreform

Pembaruan agraria secara umum mensyaratkan dua hal pokok, dalam posisi ibarat dua sisi mata uang, yaitu komitmen politik pemerintah yang kuat di satu sisi, dan tersedianya modal sosial (social capital) misalnya berkembangnya civil society yang memadai. Dapat dikatakan, keduanya saat ini masih dalam kondisi tidak siap. Hambatan lain datang dari intervensi yang tak terbantahkan dari ideologi kapitalisme, khususnya melalui instrumen pasar global, yang telah menembus seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal sistem agraria suatu negara. Jika selama ini pemerintah yang menjadi penguasa terhadap petani dengan menggunakan tanah sebagai alat politiknya, terutama dalam era “Tanam Paksa”, maka di era pasar bebas ketika komo-ditas ditentukan oleh kehendak pasar, maka pasarlah yang menjadi penguasa. Dengan kata lain, sistem agraria yang akan berjalan di suatu negara, baik penguasaan, pemilikan, dan penggunaan; akan lebih ditentukan oleh pasar dengan ideologinya sendiri misalnya dengan penerapan prinsip-prinsip efisiensi dan keuntungan.

(17)

kondisi lemah. Narasi secara ringkas tentang kondisi keempat aspek tersebut diuraikan berikut ini.

Lemahnya Keinginan Elite Politik dan Kapasitas Pemerintah Lokal

Kunci pokok pelaksanaan landreform ada pada politisi, karena permasalahan land-reform ada dalam aspek politik. Hal ini dinyata-kan oleh Walinsky (1997; dalam Abdurrahman, 2004), yaitu: “ The key to who makes agrarian reform, and to what determines whether an attempted reform will be successful is political. Technical expertise in prepering and administering the necessary legislation in indispensible but experts do not make reform. Politician and only politicians, make good or poor reform or do not make them at all”. Di pundak para politikuslah masalah besar land-reform terletak. Hanya mereka yang mampu melakukannya, atau sebaliknya pada mereka jugalah yang memastikan apakah landreform

dapat dilaksanakan atau tidak sama sekali. Kunci pelaksanaan landreform

bukanlah pada perencana, pakar, ataupun undang-undang, meskipun dalam tataran wacana semua pihak boleh dan memang sebaiknya ikut terlibat.

Kesadaran dan kemauan pihak politisi dapat ditelusuri dari produk kebijakan yang mereka hasilkan. Dengan didasari Keppres No 131 tahun 1961 yang kemudian disempurna-kan dengan Keppres no 263 tahun 1964, dibentuk Panitia Landreform di Indonesia mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, sampai de-ngan kecamatan dan desa. Hal ini menanda-kan bahwa pemerintah menaruh perhatian yang tinggi, meskipun masih terkesan sentra-listik.

Namun kemudian keluar Keppres No 55 tahun 1980 tentang Organisasi dan Tata Kerja Penyelenggaraan Landreform, dimana Panitia

Landrfeorm tersebut dibubarkan dan dialihkan wewenangnya kepada jajaran birokrasi Departemen Dalam Negeri, mulai dari menteri sampai dengan camat dan kepala desa. Semakin jelas dari kebijakan ini, bahwa landreform

(18)

akses masyarakat dan swasta untuk terlibat kurang jelas posisi dan perannya.

Dapat dikatakan, kebijakan landreform di masa Orde Baru mengambang dan kabur. Sikap ini dapat dimaknai sebagai sebuah sikap untuk mengambil keuntungan secara politis dalam perebutan penguasaan lahan ketika berhadapan dengan petani dan masyarakat.

Dalam konteks otonomi daerah, di mana pemerintahan daerah semakin diper-kuat, namun aspek landreform secara umum masih menjadi kewenangan dari pusat. Lebih ironisnya, pemerintah lokal yang lebih berpihak kepada investor swasta, cenderung menjadi makelar untuk penyediaan tanah bagi mereka. Kebijakan landreform jelas bukan merupakan ide yang menguntungkan untuk meraih inves-tor, retribusi, dan pendapatan daerah.

Sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, telah diberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional. Kewenangan daerah Kabupaten/ Kota, meliputi:

(1) Pemberian izin lokasi, pengaturan perse-diaan dan peruntukan tanah; (2) Penyelesaian masalah sengketa tanah garapan di atas tanah negara;

(3) Penguasaan pendudukan tanah tanpa ijin dari pihak yang berwenang oleh pihak yang tidak berhak/kuasanya;

(4) Penyelesaian ganti rugi dan santunan dalam pengadaan tanah;

(5) Penyelesaian dan penetapan hak ulayat masyarakat hukum adat;

(6) Penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar;

(7) Penyelesaian dan pemanfaatan sementa-ra tanah kosong;

(8) Pengaturan tanah reklamasi dan tanah timbul;

(9) Rekomendasi obyek, subyek, redistribusi tanah obyek landreform;

(19)

(11) Penetapan harga dasar tanah; dan pene-tapan kawasan siap bangun.

Dalam PP no 25 tahun 2000, disebut-kan bahwa kewenangan penetapan persyarat-an landreform berada pada pemerintah pusat bersama-sama dengan antara lain: penetapan persyaratan pemberian hak atas tanah, pene-tapan standar administrasi pertanahan, dan penetapan pedoman biaya pelayanan perta-naham. Namun dalam Keppres Nomor 34 tahun 2003, pemerintah daerah Kabupaten/ Kota berwenang dalam menetapkan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti keru-gian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. Menurut penilaian Hutagalung (2004), kewenangan pemerintah daerah relatif kecil dalam pelaksanaan landreform.

Terlihat bahwa, sudah cukup banyak bentuk kewenangan yang diberikan kepada pemerintah daerah agar lebih leluasa dalam mengelola daerahnya. Meskipun demikian, dalam wawancara dengan berbagai pihak (dalam penelitian ”Studi Peluang dan Prospek Reforma Agraria di Sektor Pertanian” yang penulis ikuti tahun anggaran 2004), ditemukan kesan yang cenderung kurang peduli kepada kebijakan landreform. Mereka cenderung ber-lindung di balik sikap bahwa landreform adalah suatu yang sulit dan membutuhkan biaya yang besar, karena itu biarlah menjadi prioritas yang kesekian.

Dalam studi terhadap berbagai doku-men pembangunan yang dikeluarkan berbagai instansi, hukum dan peraturan tentang agraria, terutama Tap MPR No. IX tahun 2001, belum menjadi produk hukum yang dipedomani. Be-lum ditemukan adanya kebijakan pemerintah yang secara langsung berupaya untuk mem-perbaiki sistem agraria secara komprehensif.

Satu peristiwa penting yang patut di-catat pada kurun waktu tahun 2004 ini adalah dirintisnya pembentukan komisi khusus guna menangani konflik agraria oleh Komnas HAM dengan nama Komnas untuk Penyelesaian Konflik Agraria (KNuPKA), termasuk nanti di dalamnya peradilan khusus

(20)

besarnya permasalahan konflik agraria di Indonesia, dimana sepanjang tahun 1999 saja Komnas HAM telah menerima pengaduan 520 kasus, dan ini merupakan nomor tiga terba-nyak dibandingkan bidang lain (KPA, 2004). Keberadaan Komnas HAM terbatas karena meskipun dapat menerima permasalahan berkenaan dengan kekerasan, penyiksaan, dan diskriminasi, namun tidak menyinggung tentang sengketa tanahnya. Hal ini merupakan indikasi semakin baiknya kesadaran dan duku-ngan dari golongan elit dalam memperjuang-kan permasalahan reforma agraria secara luas. Namun demikian, melihat lambatnya perkembangan yang terjadi, maka aroma pesimisme dari dukungan elit politik sangat terasa.

BAB III KESIMPULAN

(21)

Memasuki abad ke 21 ini, dukungan internasional dan lembaga-lembaga donor dapat dikatakan negatif terhadap ide reforma agraria. Ditambah dengan kondisi politik dan keuangan dalam negeri yang masih sulit, maka wajar kalau kalangan elite politik menjadi tidak berani dalam memperjuangkan kebijakan ini. Peluang landreform semakin kecil jika diingat, bahwa sesungguhnya belum tumbuh kesadaran yang kuat pada golongan elit, bahkan masyarakat, bahwa segala permasa-lahan pembangunan pertanian dan pedesaan yang kita hadapi sekarang ini dapat diselesai-kan secara mendasar, yaitu melalui perbaikan struktur penguasaan dan pemilikan tanah pertanian (=landreform).

Meskipun demikian, salah satu pe-luang yang lebih realistis adalah melaksana-kan program landreform secara terbatas, yaitu untuk wilayah-wilayah yang tekanan penduduk dan konflik pertanahannya masih ringan, terutama di luar Jawa. Ide ini dapat menjadi satu point yang menarik, karena dengan segala permasalahan yang dihadapi ini, berpikir untuk melakukan reforma agraria secara serentak dan menyeluruh dapat dikata-kan hampir mustahil. Landreform terbatas di sebagian wilayah banyak diterapkan negara-negara lain, misalnya di India dan Jepang.

(22)

landreform maka seluruh pihak harus mendukung dan siap dengan kebijakan dan peranannya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. H.M. Arba, S.H., M.hum., Hukum Agraria Indonesia, PT. Sinar Grafika,Jakarta, 2016

Pingky Chrysantini, Berawal dari Tanah Melihat Kedalam Aksi Pendudukan Tanah, Yayasan AKATIGA, Bandung, 2007.

Harsono, Boedi. 2002. Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional dalam Hubungan-nya dengan Tap MPR RI Nomor IX Tahun 2001, Makalah pada Seminar Nasional Pertanahan 2002 “Pembaruan Agraria”. STPN Yogyakarta, Tanggal 16 Juli 2002.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan strategi pengadopsian konvergensi media yang dilakukan Koran Tribun dalam membangun pasar

• Semua pihak hendaklah bercakap mengikut giliran. • Apabila suatu pihak bercakap, pihak lain hendaklah mendengar dan memberi perhatian. • Apabila bercakap hendaklah dalam

Dengan banyaknya tentara yang bertugas di Aceh, pasca tsunami boleh dikata pekerjaan land clearing sudah dilakukan oleh tentara – dengan dibayar dari uang rakyat

Berdasarkan penelitian deteksi cemaran babi pada sediaan kapsul suplemen kecantikan di Kota Yogyakarta dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hama wereng hijau Nephoettix virescens pada tanaman padi sawah di Kecamatan Tomohon Barat Kota Tomohon, tertinggi

Sistem Informasi Geografi berbasis web dalam proyek akhir untuk memberikan informasi secara lengkap mengenai tempat – tempat wisata yang ada di Kabupaten Tulungagung, informasi yang

The result proves that the disclosure of Corporate Social Responsibility only have a positive influence toward the companies’ Return On Assets, while its not correlate

Hakikat dari pembentukan portofolio yang efisien dan optimal adalah untuk mengurangi risiko dengan cara diversifikasi saham, yaitu mengalokasikan sejumlah dana investor pada