• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAUT FAKTOR UTAMA INTEGRITAS NASIONAL ME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAUT FAKTOR UTAMA INTEGRITAS NASIONAL ME"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAUT FAKTOR UTAMA INTEGRITAS NASIONAL: MENYIMPUL INDONESIA LEWAT LAUT

OLEH SUMIYATI Pendahuluan

Membahas mengenai kawasan Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan tidak terlepas dari membicarakan masalah letak geografisnya, juga membicarakan masalah integrasi wilayahnya. wilayah Indonesia yang di satukan oleh laut, merupakan bentangan kepuluan yang ditarik dari ujung barat pulau Sumatera, jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, selain itu terbentang gugusan pulau-pulau kecil seperti kepulauan Maluku yang dikenal dengan pulau rempah-rempah, dari arah selatan pulau ini tersebar gugusan pualu-pulau Sunda kecil yang tersebar antara pulau Jawa dan Australia dan jelas terlihat di sini posisi Indonesia menjadi jembatan antara dua benua besar yaitu benua Asia dan Australia. Pemahaman sejarah nasional bangsa Indonesia harus seimbang antara pengetahuan sejarah darat dan sejarah laut sehingga bisa dikatakan sebagai wawasan pengetahuan secara menyeluruh yang disebut “Tanah Air”.

Sejarah panjang bangsa Indonesia merupakan sejarah hubungan melalui komunikasi dan lalu-lintas antar pulau. Perkembangan navigasi dan tehnologi kapal telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak dulu menjadi penunjang pada saat itu. kegiatan masyarakat terdahulu yang lebih dominan pada laut telah melekatkan sebuah istilah yang biasa di sebuat dengan “zaman Bahari”, menurut kamus Umun zaman bahari diartikan sama atau bersinonim dengan zaman purbakala, bahari di sinonimkan dengan purbakala yang berarti membahas masalah maritime. Hal ini menjadi sangat penting setelah wawasan nusantara di terima dan diakui sebagai pandangan resmi yang dianut oleh pemerintah dan bangsa indonesia dimana cara pandang akan Negara Indonesia bukanlah Negara republic yang terdiri dari pulu-pulau melainkan Negara kesatuan kepulaun yang memiliki kedaulatan territorial yang termasuk didalamnya laut dan selat berdasarkan perbatasan yang telah di sepakati.

(2)

kekeliruan karena sebenarnya harus diartika sebagai Negara Laut yang ditaburi palau-pulau bukan Negara kepulauan yang di kelilingi oleh laut sehingga membuat cara pikir kita tentang Negara Indonesia menjadi Negara yang harus memiliki wawasan maritime yang wajib menjadi prioritas utama dan istimewa.

Nusantara dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Sedangkan wawasan Nusantara dipahami sebagai konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan, yakni menyatukan bangsa dan negara secara utuh dan menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional meliputi aspek politik, ekonomi dan sosial budaya.

Sesuai dengan United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982 bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) maka peran terdepan wilayah negara sangat penting sekali, hal ini berkaitan dalam penentuan luas wilayah suatu negara. Prinsip negara kepulauan menganut cara untuk menentukan luas negara dan perairan teritorialnya ditarik garis lurus dari pulau-pulau yang paling depan sejauh 12 mil. Jadi apabila ada pulau-pulau terdepan atau terluar hilang yang berfungsi sebagai titik-titik pengukur, akan berpengaruh secara otomatis terhadap luas wilayah, hal ini memungkinkan wilayah negara akan menjadi sempit. Padahal Kita ketahui penentuan wilayah teritorial laut tidak saja berkaitan dengan kedaulatan wilayah suatu negara, tetapi juga pula menyangkut aspek ekonomi untuk kesejahteraan rakyat yaitu kekayaan alam yang terkandung di lautan, serta aspek pertahanan dan keamanan. Oleh sebab itu perhatian terhadap aspek maritim bukanlah hal yang pantas di lakukan, melainkan menjadi suatu yang wajib mendapat prioritas utama. Dalam hal ini yang menjadi pokok perhatian adalah menyoroti secara khusus sebagian dari masa bahari1 bangsa dan negara. Laut sebagai faktor utama yang menyatukan wilayah Indonesia.2 Posisinya di antara dua benua dan dua samudra menempati posisi yang strategis terutama dalam perekonomian. Karena itu Indonesia seharusnya menjadi negara yang lebih memprioritaskan aspek maritim demi kemakmuran rakyatnya secara menyeluruh.

1 Masa lampau dan maritim.

(3)

Fakta geografis Indonesia

Fakta geografis wilayah Indonesia yang memiliki wilayah laut yang lebih luas dibanding wilayah daratan yakni 3,1 juta km dengan panjang garis pantai 81.000 km, yang terdiri dari 17.508 pulau (besar dan kecil). Ini mengukuhkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Laut sebagai infrastruktur utama yang di tengahnya di taburi pulau-pulau besar dan kecil memiliki nilai strategis bagi komunikasi sosial budaya masyarakat karenanya pembangunan nasional harus di arahkan pada pengembangan dan pemanfaatan unur-unsur kelautan secara keseluruhan yang mencakup dunia perikanan, industri maritim, jasa perhubungan laut, dan sebagainya.3 Selain itu, kondisi iklim Indonesia yang tropis membuat Indonesia menjadi salah satu wilayah yang subur dan memungkinkan tumbuh suburnya hasil alam dan perkembangan yang cukup baik pada ternak.

Laut sebagai faktor integritas nasioanal berawal dari laut menjadi infrastruktur bagi pelayaran. Melalui kegiatan pelayaran terjadi komunikasi budaya antar daerah dan dengan adanya alur perdagangan yang terjadinya siar agama baik Islam maupun Kristen. Di Indonesia ada tiga jalur laut besar yang menghubungkan nusantara yang juga di sebut sebagai laut inti yaitu Laut Jawa, Laut Banda dan Laut Flores. kekuatan yang menguasai kawasan laut inti ini niscaya menguasai menguasai wilayah Nusantara. Dengan kata lain daerah inti bukanlah salah satu pulau di antara puluhan ribu pulau Indonesia, melainkan kawasan bahari yang terletak di tengah-tengah Nusantara dan yang terbentang dari barat ke timur. Penguasaan efektif atas laut inti inilah yang menentukan penguasa seluruh kepulauan Indonesia.

Maritim Dalam Bingkai Sejarah

Nusantara tidak pernah kering dari pembicaraan tentang kemasyhuranya yang telah menciptakan para peluat – pelaut handal yang telah mengarungi samudera luas. Pencitraan masyarakat Nusantara yang merupakan pelaut ulung tak pernah asing disetiap telinga penghuni jagat bumi, banyak hal yang medukung kenapa Nusantara bisa menjadi wilayah yang sangat Starategis bagi pelayaran itu karena yang terutama letaknya lebih banyak laut yang didalamnya ditaburi pulau-pulau. Posisi ini menjanjikan potensi alam yang sangat dibutuhkan dan jarang

(4)

didapat pada wilayah atau belahan dunia manapun. Kekayaan alam yang terkandung dalam kepulauan Nusantara menjadi primadona dunia salah satunya rempah-tempah,kayu manis dan juga kayu putih. Letak geografis yang mendukung terjadinya aktifitas niaga adalah karena ini merupakan kawasan yang memiliki pos-pos perniagaan yang bebas.

Para penjelajah dan pedagang akan lebih memilih pelayaran lewat Nusantara di banding jalur lain disamping mengurani resiko bajak laut, melewati perairan Nusantara akan lebih aman dari ancaman cuaca yang tidak menentu, sebab laut dikawasan Nusantara tidak terlalu beriak dan bergelombang dan jarang terjadi badai. Para pedagang luarpun banyak yang telah menjalin hubungan perdagangan dengan Nusantara dimana para pedagang dari Cina dan India merupakan patner dagang yang telah beribu tahun menjalin hubungan dagang dari awal munculnya kerajaan Sriwijaya hingga kerajaan-kerajaan setelah Majapahit.

Paradikma yang di gunakan oleh sistim pemerintahan Sriwijaya dalam pengembangan perdagangan dan pelayaran sehingga menjadikanya sebagai Negara dan Kerajaan maritime yang gilang-gemilang pada masanya, strategi yang sangat brilian yang pernah diterpakan oleh raja Sriwijaya dalam mempertahankan integritas wilayahnya dan menjamin keamanan bagi para pelayar yang akan menuju daerah pelabuhannya, strategi ini dengan merangkul para kelompok-kelompok bebas yang hidup dilaut dan pengembara laut atau yang dikenal dengan manusia perahu yang hidupnya hanya bergantung pada laut untuk menjadi para armada pengaman lautnya dan mengiring para pelayar terutama para pedagang untuk singgah dan berlabuh dipelabuhannya.4

Strategi yang digunakan oleh Majapahitpun tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh Kerajaan Sriwijaya. Penguatan sektor wilayah laut menjadi penting untuk dimempertahankan selain laut penting juga menjaga kedaulatan darat dengan menundukan wilayah – wilayah yang akan mendukung Integrasi diwilayah teritori Majapahit.

(5)

Gajah Mada selaku pelaksana pemerintah telah membentuk sebuah sistim pertahanan wilayah di laut dengan memberikan pengawasan yang ketat terhadap daerah bawahan baik yang terdekat maupun yang terjauh sampai diwilayah Sunda kecil ke Flores dan Ternate di arah timur dan daerah Campa dan Ayuthea wilayah utara sampai Johor dan beberapa kerajaan Melayu yang berada di Wilayah barat. Pada pola penjagaan wilayah lautnya bahkan sudah dikenal pola patroli laut dan konvoi ekspedisi, baik sebagai pengaman jalur perdagangan maupun sebagai sistem pertahanan.

Keberhasilan Kerajaan Majapahit mewujudkan visi Sumpah Palapa, selain dibakar semangat kebangsaan patriotik di bawah komando Mahapatih Gajah Mada, juga banyak disumbang oleh keberhasilan Majapahit dalam mengembangkan teknologi bahari berupa kapal bercadik yang menjadi tumpuan utama kekuatan armada lautnya.

Paradikma masyarakat Nusantara yang merupakan masyarakat yang hidup lebih banyak tergantung pada laut berubah drastis setelah masuknya Portugis pada tahun 1511 dan Malakka di taklukan. walaupun pangeran pati Unus dari Jepara berusaha menghadang dan melumpuhkan ekspansi Portugis namun gagal. Perubahan cara pikir masyarakat tentang laut, seolah laut merupakan suatu mimpi buruk yang harus di jauhi dan sumber malapetaka yang tidak boleh di dekati dan itu semakin parah dengan hadirnya armada Belanda yang membangun Persekutuan Dagang Hindia Timur atau di kenal dengan VOC pada tahun 1602. Pelarangan berlayar tanpa adaya pas jalan dan meminimalisir hunungan niaga dengan penerapan pajak yang tinggi pada pelbuhan-pelabuhan tertentu yang merupakan pusat niaga menjadi faktor secara tidak langsung mengunci masyarakat Nusantara pada nalar darat. Ditambah lagi dengan pemusnahan dan memerangi kapal dan perahu-perahu masyarakat yang telah lama mendiami laut dengan menyebutnya sebagai bajak Laut5

(6)

pengembangan maritim yang semakain maju dan untuk menjaga itu semua kerajaan Gowa menjalin banyak hubungan dengan kerajaan-kerajaan dalam wilayah sulawesi termasuk kerjaan kembar Pitu Ba’bana Binanga yang berada di Mandar dan merupakan kerajaan Maritim dengan basis laut sebagai penopang hidup yang utama. Kerajaan gowa melakukan banyak ekspansi kewilayah-wilayah strategis di luar wilayah Sulawesi termasuk Ternate dan Tidore, Sumbawa, dan kalimantan.

Kerajaan Gowa betul-betul menjalankan pola maritim sehingga terkenal dengan para pelaut-pelautnya yang telah mengarungi belahan dunia dan yang tidak harus kita lupakan sorang bangsawan Gowa yang terkenal dengan Nama Karaeng Pattingaloang yang telah menggabar peta dunia, yang menjabat sebagai Tuma Bicara Butta dalam kerajaan Gowa merupakan tokoh yang berperan penting dalam kemajuan serta keberhasilan kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaanya.

Perkembangan maritim bukan hanya kita melihat dari perkembangan kerajaan yang besar namun juga harus kita lihat dari perkembangan masyarakatnya, seperti yang telah dikembangkan oleh manusia perahu atau yang dikenal dengan suku Bajoe, mereka tinggal di suku perahu dan kehidupan berpidah-pindah menjadi chiri khas dalam perjalanan hidup mereka. Banyak yang mengidentifikasikannya sebagai suku Bugis yang telah lama malang melintang pada perairan nusantara, mengarungi banyak pulau dan hidup diatas deru ombak. Jika kita berbicara masalah maritime bukan hanya pada wilayah lautnya melainkan bagai mana kita mampu mengolah laut seingga bisa memberikan kesejahteraan bagi bangsa yang memang,seharusnya sejahtera.

Dalam perjalanan sejarah telah banyak mencatat bagaimana dinamika perkembangan sepak terjang kerajaan besar yang telah membangun negeriya dengan basis dan pemikiran maritim dan niaga. Pembacaan keadaan yang secara tepat dibaca oleh Karaeng Tumaparisin Kalonna, telah membawa kerajaan Gowa-Tallo pada jaman Keemasanya. Raja Gowa-Tallo juga menjalin hubungan baik dengan Pedagang Portugis dan memberi hak istimewa untuk itu, tanpa membatasi kebebasan berdagang pada pedagang di luar Portugis.

(7)

o Pertama, budaya maritim bangsa Indonesia mengalami kemunduran pada abad ke-18 ketika kolonialis Belanda mulai membatasi akses masyarakat Indonesia saat itu untuk berhubungan dengan laut, seperti larangan berdagang dengan pihak selain Belanda. Padahal, suatu peradaban muncul dan berkembang pada awalnya dari wilayah pantai, di mana penduduk yang bersangkutan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pendatang asing. Akibatnya, budaya Maritim menjadi luntur.

o Kedua, kebijakan kurang berpihak pada bidang Maritim Sebagai contoh, penghitungan Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah otonom dirumuskan berdasarkan perbandingan luas wilayah darat terhadap penduduk. Sehingga wajar bila Gubernur Maluku menuntut keadilan DAU karena wilayah lautnya lebih luas daripada daratan. Ini menunjukkan bangsa kita tidak peka dan tidak peduli terhadap keberadaan laut yang mempersatukan kepulauan Nusantara.

o Ketiga, bangsa kita tidak bisa menangkap momentum kebangkitan Asia Pasifik di mana sea trade meningkat tajam. Ironisnya, perusahaan pelayaran nasional justru menjadi lumpuh karena kalah bersaing dengan perusahaan pelayaran asing yang didukung oleh permodalan yang kuat. Beruntunglah pada tahun ini lahir Inpres Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional.

o Keempat, kita kurang serius memanfaatkan UNCLOS 1982 padahal UNCLOS 1982

o merupakan prestasi terbaik kita dalam memperjuangkan konsepsi negara kepulauan. Bangsa kita kurang maksimal memanfaatkannya. Akibatnya, isu perbatasan pulau-pulau terluar tidak maksimal tertangani. Tidak mengherankan bila sewaktu-waktu bisa saja terjadi insiden seperti kasus Gugus Tempur Kapal Induk USS Carl Vinson pada Juli 2003 di perairan Bawean dan lepasnya pulau-pulau terluar, seperti Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Hal tersebut dapat saja terulang kembali bila tidak diwaspadai.

(8)

sumber daya laut di perairan ZEE seluas 2,7 juta kilometer persegi, menghasilkan sekitar 6,7 juta ton ikan setiap tahun. Namun, kenyataannya, ikan hasil tangkapan dari wilayah perairan Indonesia pada umumnya dinikmati oleh pengusaha-pengusaha asing.

Pelayaran Dan Perdagangan

Selama berabad-abad lamanya kerajaan-kerajaan kecil yang terpencar letaknya di pulau-pulau Indonesia secara ekonomi, kultural,dan sewaktu-waktu secara politis telah tergabung atau digabungkan dalam satuan yang lebih besar. Adanya komunikasi dan lalu lintas antar pulau memungkinkan bagi penduduknya yang telah mengembangkan suatu jaringan hubungan maritim yang lebih baik, yang di dukung oleh kemajuan teknologi kapal, dan keahlian navigasi. Sifat internasional dari pelayaran dan perdagangan telah nampak pula pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu. Dalam pelayaran dan perdagangan masa lalu angin memiliki peran penting. Pengetahuan tentang angin darat dan angin laut adalah pengetahuan yang sangat penting bagi para nelayan karena dengan demikian mereka bisa menentukan waktu yang baik untuk turun kelaut, dan lebih luasnya lagi dengan adanya penguasaan tentang angin musim, bagaimana para pedagang memanfaatkan angin musim untuk melakukan pelayaran dalam kegiatan perdagangan. Pelayaran besar yang tergantung pada angin sudah tentu memerlukan pengalaman dan pengetahuan tentang sistim angin di perairan ini.

(9)

perkembangan perdagangan maritim mengalami kemajuan yang sangat pesat ketika abad ke-15 dimana rempah-rempah menjadi komuditi utama yang paling laku di pasaran dunia khusunya Eropa. Pada masa itu Malaka berhasil menjadi pelabuhan utama bagi perdagangan rempah-rempah dan daerah transit bagi para pedagang baik luar maupun lokal. Tom pires menjelaskan bagaimana Malaka memiliki jaringan perdagangan yang sangat luas. Dari hubungan dagang yang sangat luas, Malaka berinteraksi hampir dengan seluruh wilayah nusantara begitupun dengan daerah lainya seperti pada trayek Timor dan Maluku dengan hasil alamnya yang sangat penting. kemudian bagaimana Bahasa Melayu menjadi bahasa pemersatu dalam dunia perdagangan di pelabuhan Malaka dan kemudian bahasa melayu digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia sampai hari ini. Perdagangan rempah-rempah telah membuka banyak jalur pelayaran bagi perdagangan maritim, ketika banyak kemudian para pedagang Eropa datang dan ada beberapa yang kemudian membuka jalur atau rute perjalan yang baru.

Selain rempah-rempah, hasil hutan juga merupakan salah satu komuditi ekspor yang penting, dan barang lainya yang tidak kalah pentingnya dan juga diekspor adalah budak belian yang kemudian diperlukan di istana, rumah bangsawan dan hartawan, namun biasa juga budak dipekerjakan sebagai buruh kasar di pelabuhan dan sebagai pendayung perahu perang, mereka yang menjadi budak lebih banyak karena kalah perang dan ada juga yang menjadi budak karena melanggar adat atau tidak mampu membayar utang, dan yang seperti ini biasanya hanya bersifat sementara karena sampai utangnya lunas.6

Perdagangan merupakan media yang juga di gunakan sebagai siar agama baik Islam, Kristen maupun agama lainya, namun yang mengakar di Indonesia adalah agama Islam yang di bawa oleh para pedagang dari Arab, Cina, dan India dan sebagian Kristen yang juga di bawa oleh para pedagang seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda yang banyak di temukan di wilayah timur Indonesia khususnya pulau NTT dan tersebar di seluruh Indonesia. Dua agama yang memiliki pengaruh yang sangat kuat dan masih terasa sampai sekarang, dan dari dua agama ini juga banyak kemudian kebudayaan yang terlahir. Perkembangan pengaruh Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh politik yang ada di luar nusantara seperti dengan kejayaan Turki Otoman yang pada tahun 1453 berhasil menaklukan Kostantinopel.7 pada jaman kerajaam Islam,

(10)

jalur perdagangan antar Pulau di Indonesia menjadi bagian yang inheren dalam konteks perdagangan internasional.

Perdagangan maritim sangat penting sebagai media integrasi baik secara politik maupun ekonomi, dan ini sangat di sadari sepenuhnya oleh kolonial Belanda, yang kemudian pada abad ke-17 hingga abad ke- 19, kebijakan politik lebih di fokuskan pada perdagangan maritim, terutama dari dan ke pulau Maluku yang merupakan daerah asal rempah-rempah. Kemudian di tegaskan dengan dioperasikanya Koninklije Pakervaart maatschappij (KPM) pada tahun 1891, yang difokuskan khusus pada integrasi ekonomi dan politik nusantara di bawah payung politik Hindia Belanda, dan kemudian setelah kemerdekaan KPM dinasionalisasi dan diganti menjadi PELNI tahun 1957. 8

Pemanfaatan laut sebagai transportasi dan perdagangan maritim telah menimbulkan dinamika sosial dan politik antar kekuatan politik lokal maupun asing di masa lalu. Seperti yang telah dilakukan oleh tiga kerajaan yang berada di wilayah timur Nusantara antaralain : Gowa, Buton dan Maluku, yang menfokuskan pembangunan pada sektor kemaritiman, hanya kemudian yang berkembang dan mencapai puncak keemasanya pada abad ke-17 adalah kerajaan Gowa. Seiring dengan perkembangan perdagangan maritim yang berkembang pesat, kerajaan Gowa menjalin hubungan persahabatan dengan banyak kerajaan di Sulawesi lainya, seperti kerajaan Pitu’ Babana Binanga yang berada di Mandar yang merupakan kerajaan maritim dengan basis laut sebagai penopang hidup yang utama dan beberapa wilayah yang terintegrasi kedalam politik pemerintahan Gowa-tallo seperti Bima, Sumbawa dan beberapa wilayah selatan Nusantara. Persaingan memberi warna tersendiri pada dinamika perkembangan perdagangan maritim, yang kemudian tambah rumit dengan kedatangan Eropa, terutama bangsa Belanda yang kemudian membentuk persekutuan dagang (voc) dan ikut terlibat.

(11)

dalam masyarakat selalu ada interaksi dan sistim saling melengkapi untuk hidup. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memang tidak terpisahkan, karena memiliki ikatan secara kultural dan saling melengkapi satu sama lain, seperti ketika naik sebuah peradaban satu daerah akan mempengaruhi daerah lainya yang ada di sekitarnya. Kemudian terpotong dengan kedatangan bangsa Eropa terutama dengan di bentuknya VOC.

Perekembangan pelayaran dan perdagangan maritim terangsang dari posisi Nusantara yang memang merupakan masyarakat bahari dan sudah sejak lama sadar dengan persatuan bangsa dan Negara, sehingga saat berbicara masalah integritas nasional masyarakat merasa bukanlah suatu yang baru karena keseluruhan Indonesia telah mereka susuri dalam pelayaran bahari dengan pemanfaatan laut sebagai infrastruktur. Tidak ada pemetaan tentang batas pulau karena Indonesia disatukan oleh laut.

Integritas Nasional

Integritas nasional karena adanya hubungan manusia secara struktur yang akan menciptakan hubungan antara daerah atau wilayah baik dalam bentuk persahabatan maupun hubungan diplomasi , dalam hal ini menjadi pondasi utama integrasi nasional adalah pandangan Maritim, dengan adanya hubungan lewat laut memungkinkan terjadinya komunikasi Budaya. Dalam hal ini kita merujuk pada pandangan Broundel yang dimana melihat laut sebagai unsur pemersatu dan kenyataan bahwa bangsa Indonesia merupakan kesatuan politik yang mengikat beribu pulau. Laut sebagai sarana transportasi menjadi sarana utama dalam hubungan dengan daerah luar, sehingga dari hubungan ini terjadi kegiatan perdagangan, pertukaran budaya, maupun siar agama. 9 kemajuan budaya akan tampak pada perkembangan kota pantai dimana pelabuhan sebagai dinamika perdagangan dan pelayaran dan menjadi pusat kekuatan politik.

Pada abad ke-16 pelayaran dan perniagaan membawa perubahan yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Nusantara pada umumnya, seperti perubahan agama, politik dan ekonomi kemudian terjadi perubahan sosial. Pada masa ini terjadi perubahan jalur perdagangan dan rute pelayaran yang sebelumnya berpusat di Malaka , namun setelah Malaka ditaklukan oleh Portugispada tahun 1511 banyak daerah yang sebelumnya tidak terlalu menarik kemudian muncul menjadi daerah perniagaan yang ramai, seperti kerajaan Aceh, beberapa kerajaan pesisir

(12)

di Jawa, dan kerajaan Gowa-tallo. Kemudian beberapa kerajaan menjalin hubungan, baik hubungan persahabatan maupun hubungan diplomasi, integrasi merupakan proses penyatuan wilayah dan mengkombinasikan banyak suku bangsa menjadi satu. Kenapa kemudian bangsa harus memiliki perekat karena tampa perekat maka bangsa Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau akan berdiri sendiri-sendiri tampa sadar bahwa masyarakat nusantara merupakan bangsa yang memiliki kultur yang sama, yang dimana pada awalnya percaya pada dewa-dewa dan lain sebagainya dan kenapa harus ada integrasi karena integritas nasional menyangkut berbagai elemen yang selain berkaitan dan bervariasi. Dalam integritas nasional terdapat unsur yang saling menguntungkan.

Integritas nasional semakin jelas dengan adanya Deklarasi Juanda tahun1957 dimana isinya menjelaskan tentang wilayah Indonesia dan menegaskan bahwa bahwa wilayah baik pulau terdepan maupun yang terdalam di satukan oleh laut. Integrasi nasional di pandang utuh dalam proses penyatuan yang mencakup cara dan proses penyatuan di mana orang yang berada di dalam sebuah wilayah yang berbeda dan memiliki perbedaan etnik, sosial-budaya, latar belakang ekonomi merasa bahwa mereka merupakan satu kesatuan sebagai bangsa. Kompenen yang penting dalam pembentukan perasaan sebagai satu kesatuan dan identitas bersama adalah dengan adanya pengalaman yang sama dalam sejarah dan politik.

Konsep integritas nasional setelah kemerdekaan, secara sadar telah ada jauh sebelum kemerdekaan bangsa dari kolonialisasi barat, dimana melaui laut sebgai infrastruktur dan perdagangan maritim sebagai kegiatannya telah mengintegrasikan sejumlah kawasan nusantara dalam kesatuan politik bangsa Indonesia, dengan ini yang harus kita pahami adalah bagai mana kemudian kita membangun kembali pelayaran dan perdagangan jalur laut, serta memaksimalkan funsi laut, disamping sebagai jalur transportasi laut, juga pemanfaatan sumber daya alam laut, dan laut juga sebagai basis pertahanan dan keamanan wilayah .

(13)

merupakan integritas yang tercipta dari kegiatan pelayaran dan perdagangan masa lampau, sehingga tercipta integritas budaya, dan penyatuan secara politik.

Laut dipandang penting oleh pemeintah jokowi sebagai sebuah potensi alam yang akan memberikan kelimpahan bagi rakyat indonesia dengan banyaknya potensi yang terpendam, namun yang terlupakan adalah memahami laut sebgai konsep penyatuan secara gegrafis, meminjam istilah AB. Lapian “laut adalah faktor pemersatu” seharusnya dipahami sebagai sebuah penguatan integritas bangsa, penguatan dalam bidang politik dan ekonomi bukan malah sebaliknya yang membangun pemahaman yang berat sebelah terhadap kelautan karena tetap dipandang sebagai pemisah.

Dalam pembelajaranpun yang disuguhkan hanyalah “mitos” nenek moyang bangsa indonesia adalah para pelaut ulung namun tidak ada lanjutan yang menjelaskan kenapa menjadi pelaut ulung? Apakah karena memiliki persenjataan?, atau memiliki kapal yang besar?. Mereka menjadi pelaut yang ulung karena integrasi yang terbangun dengan kuat dan sistematis, ada konsesi penyatuan yang disadari penting unuk dijaga.

Konsep Negara Maritim dan Ketahanan Nasional.

(14)

Perkembangan Wawasan dan Pembangunan Kelautan. Pada tanggal 26 September 1998 kembali dicanangkan Deklarasi Bunaken dengan tidak lanjut The Ocean Charter. Isi Deklarasi : Mulai saat ini visi pembangunan dan persatuan nasional Indonesia harus juga berorientasi laut. Semua jajaran pemerintah dan masyarakat hendaknya juga memberikan perhatian untuk pengembangan, pemanfaatan, dan pemeliharaan potensi kelautan Indonesia. Visi Kelautan terus berkembang hingga era reformasi dengan Pembangunan Maritim Indonesia (1998-2004) mencakup aspek : Perikanan, Pehubungan laut, Industri Maritim, Pertambangan dan Energi, Wisata Bahari, Pembangunan SDM, IPTEK dan Kelembagaan Maritim. Berdirinya Kabinet Gotong Royong dan Kabinet Persatuan (1999-2004) dengan tindak lanjut dibentuknya Departemen Eksplorasi Laut yang akhirnya menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan. Beberapa waktu yang lalu telah dilaksanakan World Ocean Conference 2009 di Menado yang juga telah menunjukan peran dan wawasan kelautan bangsa Indonesia kepada dunia Internasional.

Pengembangan Negara Maritim. Gagasan Negara Maritim Indonesia sebagai aktualisasi wawasan nusantara untuk memberi gerak pada pola pikir, pola sikap dan pola tindak bangsa Indonesia secara bulat dalam aktualisasi wawasan nusantara. Pengembangan konsepsi negara maritim Indoensia sejalan dengan upaya peningkatan kemampuan bangsa kita menjadi bangsa yang modern dan mandiri dalam teknologi kelautan dan kedirgantaraan bagikesejahteraan bangsa dan negara. Bumi maritim Indonesia adalah bagian dari sistem planet bumi yang merupakan satu kesatuan alami antara darat dan laut di atasnya tertata secara unik, menampilkan ciri-ciri negara dengan karakteristik sendiri yang menjadi wilayah yurisdiksi Negara Republik Indonesia.

(15)

Pendukung dalam mewujudkan ketahanan nasional adalah dengan memaksimalkan penjagaan pada sektor laut dalam hal ini pemerintah memperhatikan sistem pertahanan dan keamanan untuk menjamin tegaknya hukum dan perlindungan beserta potensi nasional yang dimiliki di wilayah perairan yurisdiksi Indonesia, harus berada dalam kerjasama taktis pengendalian penuh. Dengan begitu kekuatan maritim Indonesia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakter negara kepulauan yang juga memiliki kawasan laut internasional serta syarat untuk memenangkan perang yang memiliki arti strategis harus cepat dikuasai.

Seorang akademisi memaparkan secara rinci mengenai peran navies (Angkatan Laut) secara universal dengan memiliki fungsi trinity ideas dalam pelaksanaan operasi patroli bersama, yakni11

1. Military

Peran militer merupakan fungsi pokok dari trinitas Booth yang membentuk karakter Angkatan Laut. Peran ini umumnya digunakan pada saat terjadi konflik di laut dengan penggunaan ancaman dan kekuatan perang. Penggunaan militer tersebut ditujukan dalam keadaan damai maupun perang diantaranya : strategic nuclear deterrence. conventional deterrence and defence, extended deterrence and defence, international orde.

2. Diplomatic

Selain menunjukkan keunggulan maneuver kapal perang Angkatan Laut, negara juga meyakinkan negara-negara yang menjadi target utamanya melalui suatu cara tanpa penggunaan kekuatan senjata. Diplomasi adalah salah satu cara meyakinkan lawan akan keunggulan yang ditawarkan, tujuan dari diplomasi itu sendiri adalah selalu menghindari upaya penggunaan kekuatan senjata, begitupun juga di salam suatu perkumpulan negara-negara sahabat dapat bekerjasama membantu terlepas dari konflik yang terjadi.

3. Policing/constabulary

Policy ditekankan pada wilayah perairan territorial, dan dikhususkan mengatur kebutuhan masyarakat terhadap tantangan keadaan dunia luar. Peranan ini ditugaskan termasuk di dalamnya polisi perairan, penjaga perbatasan, serta bantuan militer hingga instansi masyarakat. Pertahanan maritime negara-negara pantai sebagian besar tergantung pada

(16)

stabilitas tatanan internasional. Bagaimanapun juga kecilnya angka kapal perang setidaknya memiliki pengaruh terhadap kekuatan militer mereka.

Peran Angkatan Laut secara tradisional pun tidak bisa berperan banyak, karena tidak sama dengan melawan musuh peperangan, maritime security operations dan law enforcement lebih memungkinkan untuk dilaksanakan di waktu sekarang maupun yang akan datang dengan berbagai pertimbangan kebijakan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan seharusnya sadar benar dengan pentingnya keamanan jalur laut sebagai infrastruktur paling vital, jalur pelayaran terutama pada wilayah terdepan dan lintas negara menjadi perioritas utama dalam pengawalan keamanan.

Kasus terkait pelayaran laut yang baru-baru ini terjadi adalah pembajakan sebuah kapal angutan batubara yang melintasi Filipina dibajak oleh sekelompok perompak teroris walaupaun kapal dan sandera berhasil dibebaskan itu seharusnya tidak memberhentikan para pemangku pemerintah untuk berpikir dan meracang bagaimana seharusnya pengamanan jalur laut bsa diatasi. Karena peristiwa-peristiwa perampokan yang terjadi dilaut tidak terjadi satu atau dua kali saja melainkan berkali-kali. Tekait dengan hal lain yang penting diperhatikan adalah pelanggaran wilayah Alki yang sangat sering dan memicu konflik yang berkepanjangan dan berujung dengan terlepasnya pulau-pulau terdepan seperti ligitan dan sapan. Yang tidak pernah berhenti sampai hari ini adalah kasus celah Timur yang selalu luput dari informasi dan kahirnya menjdi wilayah galangan minyak yang di sponsori oleh Australia.

Ketahanan maritim tidak hanya berupa pengamanan terhadap sumber daya laut yang dimiliki yang sebenanya tidak menyentuh secara keseluruhan substansi yang sebenarnya. Berbicara kemaritiman adalah berbicara integritas nasional, kesatuan nasional dan kedaulatan nasional dan ini menjadi hal yang penting yang seharusnya menjadi perhatian utama bagi kita bangsa Indonesia yang merupakan negara Kepulauan.

Untuk memujudkan hal tersebut Buzan berpendapat, bahwa konsep keamanan terdapat di dalamnya politik yang berperan penting dalam menjustifikasi penggunaan militer, maupun intensitas peran pemerintahan. Hal lain dalam pemikiran kemaritiman, pembahasan tidak hanya mengenai konsep pertahanan pertahanan maritim yang beskala militer akan tetapi juga termasuk pada permasalahan pertahanan terhadap ancaman non-militer, antara lain penyelundupan kayu, imigran gelap, pencurian sumber daya kelautan, dan berbagai jenis pelanggaran lainnya.

(17)

1. Ketahanan Nasional di Laut.

Ketahanan Nasional dapat diatasi dengan baik oleh bangsa Indonesia, maka tercapailah suatu keadaan yang dinamakan ketahanan nasional untuk mencapai keadaan tersebut, terdapat suatu pemahaman yang dinamakan "geostrategi" secara umum, geostrategi merupakan upaya untuk memperkuat ketahanan diberbagai bidang yaitu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, kehidupan beragama dan pembangunan. Lingkungan laut atau maritim mempunyai lima dimensi strategi Militer yang saling berhubungan meliputi :

a. Dimensi ekonomi. Penggunaan laut sebagai media perhubungan, transportasi dan perdagangan telah dimanfaatkan sejak dahulu hinga sekarang, dan hampir 99,5 % pergerakan roda perekonomian di dunia adalah melewati jalur laut, volume muatan meningkat delapan kali sejak tahun 1945 dan kecenderungan semakin meningkat sampai sekarang. Telah diyakini bahwa perdagangan lewat laut yang terpadat adalah 6 melalui Selat Malaka atau melalui jalur alternatif ALKI I,II,III.

b. Dimensi Politik. Perubahan dimensi politik dari lingkungan maritim berkembang sangat tajam semenjak tahun 1970-an. Bagi sejumlah besar Negara pantai, khususnya bagi dunia ketiga, perairan yang berbatasan dengan pantai memberikan prospek satu- satunya untuk perluasan. Tuntutan kedaulatan sering merupakan tindakan politik untuk mendapatkan konsekuensi ekonomi daripada sekedar perhitungan jangka panjang tentang untung dan ruginya. Perselisihan atas perbatasan laut seringkali lebih dimotivasi oleh simbol politik dari perhitungan biaya dan manfaatnya.

c. Dimensi Hukum. Basis dimensi hukum dalam lingkungan maritim adalah Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional (UNCLOS 1982). Kecenderungan dari penekanan hukum di laut sekarang lebih banyak dipokuskan pada masalah lingkungan hal mana dapat berakibat pembatasan gerakan kapal dan mengurangi hak Negara bendera, disamping itu ada kebutuhan untuk penertiban lebih efektif atas rezim yang ada khususnya yang berhubungan masalah perikanan dan perdagangan narkoba secara illegal.

d. Dimensi Militer. Di laut dimensi militer selalu berkembang mengikuti perkembangan teknologi, sehingga profesionalisme Angkatan Laut suatu Negara selalu dikaitkan dengan penguasaan dan penggunaan teknologi yang mutakhir.

(18)

harus ditangani. Untuk itu suatu bangsa harus mempunyai kekuatan, kemampuan, daya tahan dan keuletan yang dinamakan ketahanan nasional.

Upaya kesejahteraan sosial bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup yang kerta raharja dalam suasana demokratis, adil dan merata, dengan kata lain, berkembangnya masyarakat madani Indonesia (Indonesian civil society). Kemantapan keamanan nasional dan adanya masyarakat yang madani akan menjamin dapat dikembangkannya kesejahteraan nasional. Sebaliknya kemantapan kesejahteraan nasional akam menjamin terciptanya stabilitas nasional. Dengan meningkatnya kemantapan kesejahteraan nasional dan diikuti oleh meningaktnya kemantapan nasional, maka melalui pemerataan pembangunan yang konsepsional dapat dicapai stabilitas nasional yang dinamis.

Dalam dinamika inilah ketahanan nasional harus diwujudkan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan pendekatan keamanan (security approach). Ketahanan nasional mencakup dua aspek, yaitu aspek alamiah dan aspek kemasyarakatan.

Aspek alamiah meliputi : Kondisi georafis Negara, keadaan dan kekayaaan alam serta keadaan dan kemampuan penduduk. Sedangkan aspek kemasyarakatan: Ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan keamanan, aspek-aspek tersebut tidak ditinjau secara terpisah-pisah melainkan memiliki korelasi secara keseluruhan merupakan suatu konfigurasi yang menimbulkan daya tahan nasional.

Kesimpulanya: Kebijakan Kelautan Nasional merupakan kebijakan pemerintah Republik Indonesia yang menyangkut pengelolaan laut yurisdiksi nasional secara terpadu dan komprehensif. Hal tersebut akan bertumpu pada tiga bidang pokok, yaitu Politik, Ekonomi dan Pertahanan Keamanan, oleh karena itu langkah awal yang harus dilakukan adalah penciptaan ocean governance guna mewujudkan ketahanan nasional.

(19)

Adiwijoyo,Suwarno. Konsilidasi wawasan maritim Indonesia,Jakarta: Pusat Kajian Reformasi, 2005.

Burhanuddin, Safrudin., Sejarah Maritim Indonesia, Jakarta: Pusat Kajian Sejarah dan Budaya Maritim Asia Tenggara, 2003.

Lapian,Adrian B., Pelayaran Dan Perdagangan Abad Ke-16 & 17, Jakarta:Komunitas Bambu, 2008.

.,Orang Laut, Bajak Laut, Raja laut,(Sejarah Kawasan Laut Sulawesi) , Jakarta: Komunitas Bambu, 2009.

., Laut, Pasar dan Komunikasi Budaya, makalah Kongres nasional, Jakarta, 1996. Rahman,Abd., Spirit Bahari Orang Buton, Makassar: Rayhan Intermedia, 2010.

Riclefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2007. Vlekke, Bernard H.W., Nusantara, Sejarah Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2008.

Artikel: Diyauddin,” Posisi Tawar Militer dan Pertahanan Keamanan Indonesia Sebagai Negara Kepulauan Dalam Geostrategi”.

Makalah : AA.B Lapian,Laut, pasar dan komunikasi Budaya, malakah: kongres nasional sejarah, 1996.

Referensi

Dokumen terkait

saham pada perusahaan go public di BEI adalah variable earning per share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap variable harga saham (HS). Sedangkan

50.000.000 lima puluh juta rupiah sebagai dana talangan melalui pembicaraan telepon terdakwa berjanji akan mengembalikan uang tersebut selama 1 satu bulan dan uang tersebut

Dalam pelaksanaan penyelenggaraan Inkubasi Bisnis Outwall Tahap Awal disusun organisasi penyelenggaraan, disusun berdasarkan kebutuhan dengan melibatkan berbagai

» Betapapun besar, sulit, dan beratnya suatu urusan di hadapan seseorang, baginya.Taufik hanya dapat diperoleh dengan memohon kepada-Nya, Rabb.. Dengan demikian, urusan tersebut

perusahaan, menjadi bidang garapan wajib IbPE. UKM mitra yang dipilih harus mampu meng-hasilkan produk atau komoditas yang berpeluang ekspor atau minimal dijual antar

niger adalah 4.5, sedangkan Oktavia (2014)) menemukan aktivitas optimum β- glukosidase pada isolat kapang EN (isolat dari Enhalus sp ) yang dikulturkan pada

Dari hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan terdapat 5 (lima) isolat cendawan endofit nonpatogen yang berasosiasi dengan akar tanaman cabai dan

Sebab, sejak kecil ia sudah akrab dengan buku-buku milik ayahnya yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Hukum UNAIR. Akhirnya, pengetahuan akan hukum dan kepekaan