• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agresi Militer Cina terhadap India pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Agresi Militer Cina terhadap India pada"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Mata Kuliah Analisis Politik Luar Negeri

ANALISIS KEBIJAKAN AGRESI MILITER CINA TERHADAP

INDIA PADA PERANG SINO-INDIAN

Oleh :

Jaka Haritstyo Prabowo (11141130000039)

Putri Larasati (11141130000043)

Nanda Khairunnisa Jusuf (11141130000051)

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah

Kedekatan Cina dan India mulai dari awal kemerdekaan India pada 1947 memunculkan optimisme bahwa kedua negara ini dapat membentuk kerjasama yang kuat pasca masa kolonialisme di dunia. Kedekatan wilayah dan potensi yang dimiliki masing-masing memunculkan optimisme akan terjalinnya hubungan kuat dari berbagai bidang. Kedua negara ini menjalin masa damai dari 1949 hingga 1957, bahkan saling memperkuat hubungan diplomasi mereka. Akan tetapi keberlangsungan hubungan yang baik ini tidak bertahan lama.1

Pada awal tahun 1950-an muncul permasalahan serius terkait perbedaan mengenai batas negara. Sengketa wilayah Cina-India ini berawal dari ketidaksepahaman berkaitan dengan perjanjian di masa sebelum India merdeka, yaitu pada masa penjajahan Inggris di India. Pada pertemuan Simla di tahun 1913-1914 terjalin kesepakatan antara India yang saat itu dijajah Inggris, Tibet, dan Cina mengenai batas wilayah yaitu garis McMahon.

Namun, batas ini sendiri cenderung samar-samar dan Cina sendiri mengaku tidak secara formal menandatangani perjanjian tersebut. Hal tersebut berujung kepada pertanyaan mengenai legitimasi dari kesepakatan tersebut oleh pemerintah Cina baik dari petinggi nasionalis maupun komunis di sana.2

Makalah ini akan menjelaskan agresi Cina terhadap India yang memicu terjadinya perang Sino-Indian serta faktor penyebab dan dampak dari perseteruan antara kedua negara ini. Selain itu, pemakalah juga akan menganalisis kasus ini menggunakan pendekatan security dilemma, sovereignty, dan bioregional.

2. Rumusan Masalah

1 Wahelguru Pal Singh Sidhu, China and India: Cooperation or Conflict?, Amerika Serikat: International Peace Academy, 2003, hlm. 10.

(3)

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

1) Apa yang melatarbelakangi agresi Cina ke India yang berujung kepada Perang Sino-Indian pada 1962?

2) Bagaimana pelaksanaan kebijakan agresi militer Cina terhadap India pada Perang Sino-Indian?

3) Bagaimana hubungan Cina dan India pasca agresi militer Cina ke India pada Perang Sino-Indian?

3. Kerangka Teori

Makalah ini akan menganalisis faktor-faktor penyebab dibuatnya kebijakan agresi militer oleh Cina terhadap India pada Perang Sino-Indian. Dalam menganalisis hal tersebut, terdapat tiga konsep kunci yang sekiranya dapat memaparkan analisis dengan baik, yaitu konsep security dilemma (dilema keamanan), sovereignty (kedaulatan), dan bioregion yang mana semuanya dpaat pula termasuk menjadi bagian dari national interest (kepentingan nasional).

Dengan konsep-konsep yang menjadi acuan dalam menganalisis kebijakan agresi militer oleh Cina terhadap India pada Perang Sino-Indian, dapat diketahui bahwasanya unit analisis dalam analisis ini bersumber dari pertanyaan “Mengapa Cina melakukan agresi militer terhadap India pada Perang Sino Indian?”. Dari pertanyaan tersebut, maka dapat diketahui bahwa unit analisisnya adalah negara-bangsa. Sedangkan unit eksplanasi berangkat dari pernyataan “Karena Cina mengalami security dilemma, ingin mempertahankan dan meraih sovereignty, serta memiliki kepentingan bioregional.” Dari pernyataan tersebut, unit eksplanasinya ialah negara-bangsa. Maka hubungan antara unit analisis dengan unit eksplanasi ialah analisis korelasional.

(4)

Dilema keamanan adalah sesuatu yang muncul ketika ada aksi dari suatu negara untuk meningkatkan keamanan negaranya, yang di sisi lain dapat menimbulkan reaksi dari negara lain berupa peningkatan keamanan di negara lain tersebut, yang kemudian dapat melemahkan kekuatan keamanan negara pertama. Menurut Barry R. Posen, keamanan memang menjadi first concern dari tiap-tiap negara karena adanya sistem global yang anarki. Sistem global yang anarki mengindikasikan bahwa tidak ada negara yang lebih kuat dari negara lain. Namun hal tersebut justru menimbulkan kecemasan dan kecurigaan suatu negara terhadap negara lain akan kapasitas keamanannya.3

Benjamin Miller menjelaskan bahwa terdapat lima metode dalam konsep keamanan, yaitu the origin of threats, the nature of threats, changing response, changing responsibility of security, dan core values of security.4 The origin of

threats adalah metode yang menyoroti ancaman eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu negara. Pada masa Perang Dingin, ancaman yang dihadapi oleh suatu negara lebih sering bersifat eksternal, yaitu ancaman yang datang dari negara lain. Namun pasca Perang Dingin, ancaman internal lebih banyak dirasakan oleh negara-negara ketimbang ancaman eksternal. Ancaman internal ini biasanya disebabkan oleh sentimen budaya, etnis, dan agama.

Metode yang kedua yaitu the nature of threats. The nature of threats

sebenarnya menyoroti kepada ancaman militer yang tradisional. Namun seiring berkembangnya hubungan internasional, ancaman tidak hanya berupa aspek militer, tapi juga aspek lain seperti ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup, demokratisasi, Hak Asasi Manusia, dan lain sebagainya. Metode ini dihasilkan dari maraknya interaksi antar aktor hubungan internasional. Kemudian metode yang ketiga yaitu changing response di mana telah terjadi perubahan cara dalam merespon isu-isu internasional dari cara militer menjadi cara nonmiliter.

3 Barry R. Posen, “The Security Dilemma and Ethnic Conflict”, dalam Michael Brown, ed., Ethnic Conflict and International Security, Cambridge: MIT Press, 1993.

4 Benjamin Miller, “The Concept of Security: Should it be Redefined?”, dalam

(5)

Metode keempat ialah changing responsibility of security, yaitu usaha untuk mendefinisikan ulang tentang apa itu keamanan. Jika sebelumnya hanya negaralah aktor tunggal yang berhak untuk menjadi sentral penjaga keamanan, kini keamanan lebih bergantung kepada interaksi individu secara mengglobal. Metode core values of security memisahkan antara tradisionalis dan nontradisionalis. Penganut tradisionalis memetakan nilai kemanan hanya pada independensi, integritas teritorial, dan kedaulatan. Sedangkan nontradisionalis menambahkan nilai-nilai baru dalam keamanan, yaitu perlindungan terhadap HAM, demokratisasi, pemberantasan organisasi kejahatan transnasional, dan lain sebagainya.

Pada tanggal 19 sampai 25 April 1960, Perdana Menteri Cina, Zhou, melakukan kunjungan diplomatik ke India. Saat itu, Perdana Menteri Zhou melakukan negosiasi dengan Perdana Menteri India yaitu Perdana Menteri Nehru perihal solusi atas sengketa perbatasan yang tak berkesudahan. Namun sangat disayangkan, negosiasi tersebut gagal dan tidak menghasilkan keputusan yang berarti. Setelah pertemuan Perdana Menteri kedua negara tersebut menemui jalan buntu, India menerapkan Forward Policy.

Kebijakan Forward Policy oleh India adalah peningkatan kesiagaan pasukan militer India di wilayah yang diklaim oleh Cina. India pada saat itu menambah pasukan yang bersiaga terutama di titik penting yang menjadi wilayah persengketaan seperti Aksai Chin, Arunachal Pradesh, hingga teritorial wilatah Lakhsa. Kebijakan ini diharapkan mampu membuat Cina hengkang dari perebutan teritorial tersebut.5

Pada kenyataannya, dalam merespon Forward Policy India, Cina justru meningkatkan kehadiran militernya di wilayah yang dipersengketakan. 20 Oktober 1962, pasukan Cina menyerang pasukan India dari pos Dhola di sektor timur. Selain itu juga, pos barat diserang pula oleh Cina. Kekuatan pasukan Cina

(6)

dengan mudah menaklukan tentara India di sana.6 Perdana Menteri Zhou sebenarnya sudah mengusahakan adanya gencatan senjata, namun Presiden Nehru menolak ajakan gencatan senjata tersebut. Penolakan ajakan gencatan senjata tersebut membuat Cina semakin meningkatkan kapasitas militernya di wilayah yang dipersengketakan.

Kebijakan agresi militer Cina terhadap India dalam Perang Sino-Indian ini merupakan respon terhadap ancaman eksternal tradisionalis yang berbentuk peningkatan kapasitas militer oleh India di wilayah yang dipersengketakan. Dapat dikatakan bahwa Cina mengalami security dilemma ketika India melaksanakan kebijakan Forward Policy di wilayah perbatasan. Atas dasar security dilemma tersebut, akhirnya Cina memutuskan untuk melakukan kebijakan agresi militer terhadap India di wilayah yang dipersengketakan.

B. Sovereignty (Kedaulatan)

Menurut Kasner, terdapat empat pengertian kedaulatan, yaitu:

1. Kedaulatan domestik, yaitu bagaimana berjalannya suatu organisasi yang memiliki otoritas publik di suatu negara dan sejauh mana otoritas tersebut dapat dijalankan.

2. Kedaulatan interdependen, yaitu bagaimana sebuah otoritas publik dapat mengatur lalu-lintas transnasional seperti barang, manusia, ide, penyakit, dan lain sebagainya, yang keluar dan masuk ke dalam wilayah kewenangannya.

3. Kedaulatan hukum internasional, yaitu pengakuan suatu entitas politik dalam sistem internasional.

4. Kedaulatan Westphalian, yaitu pengaturan institusional untuk mengatur kehidupan politik yang berdasarkan pada teritorialitas dan ketiadaan aktor eksternal dalam struktur otoritas domestik.7

6 Ibid., hlm. 15.

(7)

Pada 1954, Perdana Menteri Nehru dari India dan Mao sebagai pemimpin pemerintah komunis dari Cina menandatangani “Panscheel Agreement”. Isi utama perjanjian ini adalah India mengakui Tibet sebagai wilayah dari Cina. Hal tersebut dilakukan India agar Cina dapat menerima pula penentuan batas wilayah menurut garis McMahon. Namun menurut Cina, kedua hal tersebut ialah masalah yang berbeda dan Cina tetap tidak mau mengakui batas wilayah berdasarkan garis McMahon. Justru Perdana Menteri Zhou dari Cina menyarankan batas wilayah baru berdasarkan LAC (Line of Actual Control).8

LAC adalah garis batas wilayah yang ditentukan oleh Cina pasca agresi militernya ke Tibet. Perdana Menteri Nehru dari India menolak tawaran Perdana Menteri Zhou tersebut karena LAC yang mengharuskan India mengakui bahwa Aksai Chin yang berada di perbatasan Cina-India menjadi milik Cina.9 Di sisi lain, Cina juga tidak setuju dengan klaim India yang ingin mengontrol Arunachal Pradesh. Dengan kata lain, Cina ingin mendapatkan kedua wilayah tersebut agar bisa memiliki otoritas di sana. Otoritas yang ingin didapatkan oleh Cina di kedua wilayah tersebut berkaitan dengan keinginan Cina untuk meraih atau mempertahankan kedaulatan Westphalian-nya. Cina ingin memiliki otoritas untuk mengatur kedua wilayah tersebut demi kepentingan domestiknya tanpa ada campur tangan pihak eksternal, yang mana dalam kasus ini adalah India.

C. Bioregion

Definisi bioregion bersifat dinamis dan dapat berkembang mengikuti dimensi waktu. Menurut Berg dan Dasmann, bioregion adalah regional yang tidak memiliki batas yang jelas tetapi diidentifikasi ciri-ciri alami geographic terrain

dan terrain of consciousness.10 Bioregion juga dapat didefinisikan sebagai kesatuan pemahaman secara ekologi, antropologi, dan geografi berdasarkan ilmu

8 Wahelguru Pal Singh Sidhu, Op. Cit., hlm. 13-14. 9 Ibid.

(8)

pengetahuan dan pengetahuan lokal.11 Bioregion pun dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu natural region (fisiografis, vegetasi, dan hidrologis) dan social region (kultural, politik, dan ekonomi).12

The Bioregional Association of North Americas (BANA) menetapkan definisi bioregion sebagai: a) penemuan, pemahaman, restorasi, dan pemeliharaan sistem alam lokal; b) pembangunan dan penerapan cara-cara praktis berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia; c) mendukung pembangunan budaya baru berdasarkan situasi hakikat fenomena suatu daerah.13 Dari beberapa poin tersebut, nampak jelas bahwa sasaran utama pendekatan bioregion adalah mengembalikan dan memelihara sistem alam, serta mengembangkan perangkat berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Cina melakukan agresi militer terhadap India pada Perang Sino-Indian untuk meraih kedaulatan di wilayah Aksai Chin dan Arunachal Pradesh yang diklaim oleh India. Kedaulatan tersebut menjadi sangat penting jika melihat keuntungan yang mungkin didapatkan oleh Cina dari memegang kontrol di dua wilayah tersebut. Menurut data yang telah dihimpun oleh berbagai lembaga riset, Cina memiliki kepentingan strategis di Aksai Chin, terutama kepentingan militer.14 Sejak Tibet berada di bawah kontrol Cina, Aksai Chin merupakan jalur penghubung antara Cina dan Tibet yang paling mudah diakses. Tibet sendiri memang harus sering dipantau oleh Cina karena berbagai kestrategisan yang dimilikinya.

Tibet merupakan wilayah dengan berbagai macam kekayaan logam, mulai dari batu bara, emas, hingga perunggu. Selain itu juga, Tibet adalah wilayah dengan persediaan air bersih terbesar ketiga di dunia. Dengan mendapatkan

11 M. V. McGinnis, Bioregionalism, London: Routledge, 1999, hlm. 167-170.

12 Donald Alexander, Bioregionalism: The Need for a Firmer Theoretical Foundation, University of Waterloo, 1996.

13 Ivan V. Ageung, Pendekatan Bioregion (Kawasan Pengelolaan Sumber Daya Alam), 2005.

(9)

wilayah teritorial Tibet, Cina mendapatkan keuntungan karena dapat mengadakan perencanaan berkaitan dengan sumber air seperti saluran irigasi, kontrol banjir, hingga pembangkit listrik tenaga air. Selain itu pula, Tibet merupakan lahan yang tepat untuk membangun lapangan militer. Oleh karena itu, bila Cina menguasai Aksai Chin, mobilitas pembangunan dan kemudahan lainnya oleh Cina15

Sedangkan wilayah Arunachal Pradesh diinginkan oleh kedua belah pihak baik Cina dan India karena memiliki potensi dalam sektor pariwisata dan perairan. Arunachal Pradesh ialah wilayah yang memiliki keindahan alam yang sangat melimpah, khususnya yang berupa perairan. Itulah mengapa di Arunachal Pradesh digalakkan beberapa proyek besar untuk membangun dam dan memberdayakan pembangkit listrik tenaga air. Namun sayang, akibat pembangunan infrastruktur besar-besaran tersebut, tatanan sosial masyarakat di sana justru tidak stabil. Bahkan oleh UNESCO, masyarakat Arunachal Pradesh dinobatkan sebagai “endangered languages and location”.16

Data tersebut membuat Cina tergiur untuk memiliki otoritas di Arunachal Pradesh. Selain ingin mengembangkan natural region, Cina dengan peradabannya yang maju juga memiliki indikasi untuk membangun social region di Arunachal Pradesh. Kemungkinan besar selain dengan memberdayakan sumber alam di Arunachal Pradesh, Cina juga akan melakukan doktrin sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang khas dimiliki oleh Cina. Cina memang terkenal sebagai bangsa yang ingin memperluas cakupan peradabannya.

15 Commodore Katherine Richards, China-India: An Analysis of the Himalayan Territorial Dispute, Australia: Australian Defence College, hlm. 8.

(10)

BAB II PEMBAHASAN

1. Latar Belakang Agresi Militer Cina terhadap India pada Perang Sino-Indian

A. Ketidaksepahaman Batas Wilayah

Setelah India dan Tibet resmi menetapkan garis McMahon sebagai batas wilayah, Cina melakukan invansi di Tibet pada 1950 di mana pada saat itu India dan Cina berbagi batas wilayah berdasarkan kesepakatan peninggalan kolonialisme yang dibiarkan begitu saja baik oleh India maupun Cina. Dari perspektif Cina sendiri melihat kesepakatan garis McMahon adalah ilegal dan tidak sesuai dengan bagaimana batas negara dalam tingkat internasional.17

Di tahun 1950 ini, Cina masuk ke wilayah Lhasa dan membawa Tibet di bawah kontrol mereka. Hal ini juga disebabkan pimpinan dari Tibet yaitu Dalai Lama menyetujui tujuh belas poin perjanjian pada Mei 1951 yang menghapuskan klaim Tibet untuk merdeka.18

Perdana Menteri India pada saat itu, yaitu Perdana Menteri Nehru mengambil tindakan sebagai respon dari keberadaan Cina di Tibet dengan meningkatkan kesiagaan di batas wilayah Nepal, Bhutan, dan Sikkim hingga India sendiri dan menambah penjagaan di Tawang yang merupakan kota yang dekat dengan garis McMahon. Nehru juga mengusahakan negosiator dari India untuk mundur dari Tibet namun gagal.19

Pada 1954, Perdana Menteri Nehru dari India dan Mao sebagai pemimpin pemerintah komunis dari Cina menandatangani “Panscheel Agreement”. Isi utama perjanjian ini adalah India mengakui Tibet sebagai wilayah dari Cina. India menggunakan perjanjian ini sebagai jalan agar Cina menerima batas wilayah sebagaimana garis McMahon peninggalan masa

(11)

kolonial. Namun dari perspektif pemerintah Cina, kedua hal tadi adalah hal berbeda. Cina tetap menolak keberadaan garis McMahon.20

Kemudian, pada 1958, Perdana Menteri Zhou dari Cina mengirim surat kepada Perdana Menteri Nehru yang mengatakan bahwa baik dari Cina dan India sebaiknya saling mempertahankan status quo hingga ada kejelasan dan pembahasan di masa depan berkaitan dengan sengketa wilayah dan tidak bertindak melewati batas. Zhou lebih lanjut menawarkan apa yang disebut sebagai LAC (Line of Actual Control) yaitu merupakan garis batas antara Cina dan India. Perbedaan LAC dari garis McMahon adalah garis ini ditentukan oleh Cina pasca agresi ke Tibet. Nehru menolak tawaran Zhou tersebut karena dari LAC yang ditawarkan tersebut mengharuskan India mengakui bahwa Aksai Chin yang berada di perbatasan Cina-India menjadi milik Cina.21

Setelah tawaran Zhou gagal, ia memutuskan untuk melakukan kunjungan diplomatik ke India pada 19 hingga 25 April 1960 dan bertemu dengan Nehru untuk membahas penyelesaian terkait permasalahan wilayah ini. Namun, negosiasi dan pembicaraan mengenai solusi tentang permasalahan batas wilayah ini menemui jalan buntu.22

B. Forward Policy oleh India

Setelah pertemuan Perdana Menteri kedua negara tersebut menemui jalan buntu, India menerapkan Forward Policy. Kebijakan ini membuat setiap pasukan India mensiagakan diri di wilayah yang diklaim oleh Cina. Kebijakan ini diharapkan mampu menahan pasukan Cina dari menduduki teritorial yang menjadi sengketa kedua negara. Namun Cina juga memutuskan untuk meningkatkan kehadiran militer dan mensiagakan pasukan di area yang tidak jauh dari pasukan India. Hal tersebut menyebabkan konfrontasi dari kedua pasukan Cina dengan India. Setelah itu, perang tidak bisa terelakkan pada 20 Oktober 1962.23

(12)

C. Kepentingan Cina di wilayah Tibet

Tibet merupakan wilayah yang sangat sentral berkaitan dengan sengketa wilayah Cina dengan India. Tibet juga merupakan wilayah strategis yang merupakan pintu penghubung India dan Cina. Kekayaan alam yang ada di Tibet selain perlu diamankan oleh Cina, juga memerlukan komponen penting agar mobilitas dari wilayah Cina lainnya menuju Tibet yang saat itu baru masuk wilayah Cina agar lebih terjangkau dan pembangunan dapat lebih cepat disana.24

Sebelumnya, keberhasilan PLA (People Liberation Army) dari Cina menaklukkan Tibet memberikan keuntungan dalam segi geopolitik. Tibet merupakan tempat yang strategis untuk membuat pangkalan udara dan meningkatkan kekuatan militer. Hal inilah yang membuat India cenderung lebih mendukung kemerdekaan dari Tibet ketimbang mereka harus masuk di bawah wilayah Cina.25

Tibet merupakan wilayah dengan berbagai macam kekayaan logam mulai dari batu bara, emas, hingga perunggu. Selain itu juga, Tibet adalah wilayah dengan persediaan air bersih terbesar ketiga di dunia. Di mana aliran dari sungai yang ada mengalir ke sungai-sungai yang ada di Cina. Dengan mendapatkan wilayah teritorial Tibet, Cina mendapatkan keuntungan karena dapat mengadakan perencanaan berkaitan dengan sumber air seperti saluran irigasi, kontrol banjir, hingga pembangkit listrik tenaga air.26

Banyaknya keuntungan yang didapat dari Tibet ini menunjukkan betapa pentingnya untuk memastikan siapakah yang memegang kontrol wilayah tersebut. Bagi Cina, kekuasaan atas teritorial Tibet akan membawa dampak positif bagi pembangunan negara baik dari segi perekonomian

24 Commodore Katherine Richards, Op. Cit., hlm. 7. 25 Ibid., hlm. 8-10.

(13)

maupun segi militer. Maka dari itu , Cina merasa diperlukan akses yang lebih cepat ke Tibet untuk meningkatkan mobilitas dan kemudahan lainnya.

2. Agresi Militer Cina hingga Perang Sino-Indian 1962

Setelah Forward Policy diberlakukan oleh India, pasukan India yang berada di perbatasan bersiaga dan meningkatkan persenjataan mereka di sepanjang wilayah yang diklaim oleh Cina. Konfrontasi dari pasukan kedua negara tidak dapat terelakkan. 20 Oktober 1962, pasukan Cina menyerang pasukan India dari pos Dhola di sektor timur. Selain itu juga pos barat diserang pula oleh Cina. Kekuatan pasukan Cina dengan mudah menaklukan tentara India di sana.27

Kemudian sehari setelahnya, Cina menarik pasukannya dan Perdana Menteri Zhou secara pribadi menemui Perdana Menteri Nehru kembali untuk mengupayakan gencatan senjata dan penarikan pasukan. Zhou sangat berharap penyelesaian masalah ini dapat cepat terlaksana agar menghindari kerugian perang yang lebih besar.28

Namun, Nehru memutuskan menolak pengajuan genjatan senjata dari Zhou tersebut. Pada akhirnya Cina meningkatkan kekuatan militer dalam skala besar dan kekalahan India tidak dapat terelakkan.29 Perang Sino-Indian tersebut berakhir pada 22 November 1962 di mana Cina memutuskan secara sepihak melakukan gencatan senjata di perbatasan tersebut. India kalah dan terpaksa kehilangan wilayah mereka yang jatuh ke tangan Cina dan selain itu pula dipermalukan dalam skala besar oleh Cina. Kemudian, hubungan diplomatik Cina dan India terputus hingga pertengahan 1970 sebelum mereka kembali membuka negosiasi terkait sengketa batas wilayah yang terjadi.30

27 Wahelguru Pal Singh Sidhu, Op. Cit., hlm. 15. 28 Loc. Cit.

29 Navile Maxwell, “Sino-Indian Border Dispute Reconsidered”, dalam Economic and Political Weekly, 1999, hlm. 913.

(14)

3. Hubungan Diplomatik Cina-India Pasca Perang Sino-Indian

Penyelesaian permasalahan diawali pada Desember 1988, dimana PM India Rajiv Gandhi mengunjungi Tiongkok. India mengajak Tiongkok untuk membentuk JWG atau Joint Working Group dan ini menjadi kerangka dasar untuk melakukan kerjasama pertahanan dan keamanan di perbatasan kedua negara. Selama pertemuan berlangsung, keduanya menyepakati pertukaran pengembangan akademik, militer, ilmu pengetahuan dan teknologi. Selanjutnya, Menteri Pertahanan India Sharad Pawar mengunjungi Tiongkok pada Juli 1992 yang mengawali untuk melakukan hubungan dalam bidang militer. Selain itu, kunjungan ini pun menghasilkan dilakukannya Perjanjian yang disebut, ”The Agreement on Maintaining Peace and Tranquility in the Border Areas aling the Line Actual Control”, untuk Memelihara Perdamaian dan Keamanan di sepanjang Garis Kontrol Aktual atau LAC yang ditandatangani pada 7 September 1993.31

Kemudian dibuat pula “The Agreement on Confidence-Building Measures in Military Fields along the Line of Actual Control in the India-Tiongkok Border”, yaitu kerangka CBM atau Confidence Building Measures

pada 29 November 1996 untuk menyatakan dan menegaskan kembali perjanjianyang di buat pada tahun 1993. Implementasi dan pelaksanaan CBM dalampenerapan disepanjang LAC ini, maka dibentuk dalam bentuk protocol, yang disebut “Protocol between the Government of the Republic of India and the Government of the People’s Republic of Tiongkok on Modalities for the Implementation of Confidence Building Measures in the Military Field along the Line of Actual Control in the India-Tiongkok Border Areas”. Protokol ini dilaksanakan setelah kunjungan PM Tiongkok Wen Jiabao ke India pada April 2005 dan ditandatangani pada 11 April 2005. Dalam protokol ini diuraikan

31 Rup Narayan Das, India-Tiongkok Defence Cooperation and Military

(15)

ketentuan yang harus dilakukan untuk implementasi CBM yang ditandatangani pada 1996. Hal ini semakin menjelaskan komitmen keduanya untuk meningkatkanhubungan alam bidang pertahanan dan keamanan.

Dalam kesepakatan CBM ini keduanya menyepakati untuk membatasi penggunaan peralatan militer seperti tank, kendaraan militer, senjata-senjata dengan standar tinggi, penggunaan misil darat, misil udara dan sistem persenjataan lain. Kemudian keduanya melakukan pertukaran data dan informasi dalam bidang pertahanan untuk mengurangi dan melindungi wilayah atau zona pengawasan di sepanjang perbatasan India dan Tiongkok.32

Pertemuan selanjutnya dilakukan dalam rangka kewajiban untuk menjalin hubungan secara berlanjut semenjak perjanjian sebelumnya disepakati. Kunjungan ini dilakukan oleh Menteri Pertahanan India, Praneb Mukherjee ke Tiongkok pada Mei 2006 dan menghasilkan poin penting yakni ditandatanganinya MoU. MoU ini membahas tentang mekanisme dan waktu mengenai kunjungan-kunjungan yang dilakukan Menteri Pertahanan. MoU ini kemudian dipertegas dengan ditandatanganinya Joint Declaration pada 21 November 2006. Joint Declaration ini pada dasarnya membahas tentang diperkuatnya rasa saling percaya dan rasa saling memahami diantara kedua negara.

Kemudian pada tahun 2012 India dan Tiongkok membuat mekanisme untuk membangun rasa saling percaya antara kedua negara di sepanjang garis LAC dan memperkuat kemampuan komandan yang bertugas di sepanjang wilayah guna menghilangkan kesalahpahaman.33 Hal ini dilakukan agar pelaksanaan perjanjian-perjanjian sebelumnya berjalan lancar. Perjanjian ini disebut, “Agreement between the Government of the Republic of India and the Government of the People's Republic of Tiongkok on the Establishment of a

32 Ibid, hlm. 111.

(16)

Working Mechanism for Consultation and Coordination on India-Tiongkok Border Affairs”.

Kemudian, India dan Tiongkok kembali melakukan kerjasama pertahanan terkait persoalan di perbatasan, yaitu “Indo-Tiongkok Border Defence Cooperation Agreement (BDCA)”, pada tahun 2013. Perjanjian ini dilakukan untuk meningkatkan kembali kerjasama demi mencapai keamanan dan perdamaian di wilayah perbatasan.

Tujuan dibuatnya perjanjian kerjasama pertahanan di perbatasan atau BDCA ini adalah untuk memperluas hubungan dan meresmikan aturan dalam melakukan pengawasan guna mencegah terjadinya ketegangan diantara keduanya.34 Persoalan perbatasana India dan Tiongkok manjadi persoalan yang sensitif, sehingga sangat mudah bagi keduanya untuk menimbulkan konflik. Dengan bagitu perlu upaya untuk meencegah hal-hal yang dapat menjadi akar permasalahan.

(17)

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan

Konflik Cina-India merupakan salah satu konflik perebutan batas wilayah yang paling terkenal di seluruh dunia karena CIna dan Indiamerupakan dua negara terbesardi dataran Asia. Konflik perbatasan ini memakan waktu selama puluhan tahun dan mengalami proses yang panjang dalam menemukan pemecahannya, bahkan hingga saat ini.

Masing-masing dari Cina maupun India memiliki kepentingan di wilayah-wilayah persengketaan sehingga sulit mencari titik tengah penyelesaiannya. Berdasarkan referensi yang kami dapatkan, dapat diketahui bahwa kasus ini tergolong dalam unut analisi korelasional, di mana unit analisisnya adalah sebab-sebab Cina melakukan agresi militer terhadap India, sedangkan unit eksplanasinya adalah poin-poin yang menjadi alasan agresi tersebut.

Selain itu, pasca Perang Sino-Indian ini, CIna dan India tidak memutuskan hubungan diplomatiknya, melainkan semakin mengeratkan hubungannya. Hal ini terwujud dari beberapa perjanjian damai yang telah ditandatangani oleh kedua negara ini pasca Perang.

2. Saran

(18)

Daftar Pustaka

1. Ageung, Ivan V. 2005. Pendekatan Bioregion (Kawasan Pengelolaan Sumber Daya Alam).

2. Alexander, Donald. 1996. Bioregionalism: The Need for a Firmer Theoretical Foundation. University of Waterloo.

3. Breg, Peter. 2003. The Bioregional Approach for Making Sustainable Cities. Japan Urban Green Technology.

4.

Chung, Tan. ed. 1998. Across The Himalayan Gap: An Indian Quest for Understanding China.

5.

Das, Rup Narayan. 2010. India-Tiongkok Defence Cooperation and Military Engagement. New Delhi: Institute for Defence Studies and Studies and Analyises.

6. Dhamardhikary, Shripad. 2008. Massive Dam Plans for Arunachal. Diakses dari http://indiatogether.org/arunachal-environment, pada tanggal 5 Juni 2016, pukul 07:41 WIB.

7. Katherine Richards, Commodore. 2015. China-India: An Analysis of the Himalayan Territorial Dispute. Australia: Australian Defence College.

8. Krasner, Stephen D. 1999. Sovereignty: Organized Hypocrisy. Princeton University Press.

9. Maxwell, Navile. 1999. “Sino-Indian Border Dispute Reconsidered”, dalam

Economic and Political Weekly.

10. McGinnis, V. 1999. Bioregionalism. London: Routledge.

11. Miller, Benjamin. 2001. “The Concept of Security: Should it be Redefined?”, dalam Journal of Strategic Studies, 24:2.

12. Pal Singh Sidhu, Wahelguru. 2003. China and India: Cooperation or Conflict?. Amerika Serikat: International Peace Academy.

13.

Posen, Barry R. 1993. “The Security Dilemma and Ethnic Conflict”, dalam Michael Brown, ed., Ethnic Conflict and International Security. Cambridge: MIT Press.

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Kenakalan yang dilakukan siswa SMA Negeri 7 Surakarta sebagian besar merupakan kenakalan yang bersifat pelanggaran terhadap tata tertib atau peraturan sekolah. Kenakalan yang

Produk-produk sisa lainnya yang difiltrasi, misalnya fenol (berasal dari berbagai makanan), kreatinin, dan asam urat, termasuk bahan sisa yang berpotensi merugikan tubuh

Penelitian yang dilakukan Mandasari, Choiri, dan Sari (2013) dengan judul Analisa Beban Kerja Perawat UGD Menggunakan Maslach Burnout Inventory dan

Modul ini terdiri dari 4 (empat) kegiatan belajar yang mencakup : Kegiatan Belajar 1 Konstruksi Balok dengan Beban Terpusat dan Merata, Kegiatan Belajar 2 : Konstruksi Balok

Berdasarkan penjelasan analisis diatas bahwa kinerja system antrian pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kantor Cabang Utama Bandung masih belum baik karena

Ada memiliki hubungan pengetahuan tentang JKN dengan sikap kepesertaan JKN mandiri di Puskesmas Mergangsan Yogyakarta tahun 2015, menunjukkan dari hasil uji

Sedangkan alasan peneliti memilih model bisnis kanvas sebagai analisis model bisnis karena dengan menggunakan model bisnis kanvas (CMB) suatu organisasi bisnis dapat mengetahui