• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar Proses Pendidikan Matematika 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dasar Proses Pendidikan Matematika 1"

Copied!
193
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan petunjuk, bimbingan dan kekuatan lahir dan batin sehingga diktat Dasar Proses Pembelajaran Matematika 1 ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa kami haturkan pada junjungan kita Nabi Muhamad SAW beserta keluarganya.

Diktat ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Dasar Proses Pembelajaran Matematika 1 yang dibimbing oleh ibu Dra.Hj.Jumroh,M.Pd. Diktat ini dibuat sebagai referensi untuk diskusi berkelompok.

Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan diktat ini sebagai karya yang baik, namun kami menyadari masih banyak kekurangan serta kesalahan dalam pembuatan dan penulisannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi peningkatan pembuatan diktat dimasa yang akan datang.

Akhirnya, semoga diktat ini bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Mei 2013

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...

Daftar Isi ...

Tujuan Pengajaran Berkaitan Dengan Konsep ...

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...

1.2 Rumusan Masalah ...

1.3 Tujuan Masalah ...

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Pembelajaran ...

2.1.1 Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Nasional ...

2.1.2 Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan ...

2.1.3 Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Materi Di Sekolah ...

2.2 Fakta,Konsep,Prinsip,Skill Dan Pemecahan Masalah Matematika ...

2.2.1 Fakta ...

2.2.2 Konsep ...

2.2.3 Prinsip ...

2.2.4 Skill ...

2.2.5 Problem Solving(Pemecahan Masalah) ...

Soal Latihan Dan Penyelesaian ...

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...

Daftar Pustaka ...

Keterampilan Bertanya ...

(5)

1.1 Latar Belakang ...

1.2 Rumusan Masalah ...

1.3 Tujuan Masalah ...

BAB II PEMBAHASAN

2.1Definisi Keterampilan Bertanya ... 2.2Fungsi dan Tujuan Ketrampilan Bertanya ... 2.3Jenis – Jenis Pertanyaan ... 2.4Komponen – Komponen Ketrampilan Bertanya ... 2.5Prinsip Penggunaan ... 2.6Hal- Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberi Pertanyaan ... 2.7Kelemahan dan Kelebihan dari Keterampilan Bertanya ... BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ... 3.2 Saran ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Memberikan Dan Mengadakan Variasi ...

BAB I KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENGUATAN

1.1Keterampilan Memberikan Penguatan ... 1.2Manfaat penguatan ... 1.3Komponen - Komponen Keterampilan Memberi Penguatan ... 1.4Prinsip-prinsip Keterampilan Memberi Penguatan ... BAB II KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

2.1. Pengertian Variasi ... 2.2Komponen-komponen dalam keterampilan mengadakan variasi ... 2.3Prinsip - Prinsip penggunaan variasi ... 2.4Manfaat Variasi Gaya Mengajar ... BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan ... 3.2. Saran ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Membuka Dan Menutup Pelajaran ... BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang ... 1.2Tujuan ... 1.3Rumusan Masalah ... BAB II PEMBAHASAN

(6)

2.3 Komponen-komponen Membuka dan Menutup Pelajaran ... 2.3.1 Komponen-komponen Membuka Pelajaran ... 2.3.2 Komponen-komponen Menutup Pelajaran... BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Menjelaskan ... BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan ... BAB II PEMBAHASAN

2.1Pengertian Keterampilan Menjelaskan ... 2.2Komponen Keterampilan Menjelaskan ... 2.3Prinsip Keterampilan Menjelaskan ... 2.4Fungsi Mempelajari Keterampilan Menjelaskan ... 2.5Penerapan Keterampilan Menjelaskan ... BAB III PENUTUP

3.1Kesimpulan ... 3.2Saran ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil ... BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang ... 1.2Rumusan Masalah ... BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diskusi Kelompok Kecil ... 2.2 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Diskusi Kelompok kecil ... BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ... Daftar Pustaka ... Pengajaran Remidial Dan Pengelolahan Kelas ... BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan ... BAB II PEMBAHASAN

(7)

2.1.6 Perbedaan Pengajaran Remidial Dari Pengajaran Biasa ... 2.1.7 Pendekatan Dalam Kegiatan Remidial ... 2.2 Pengelolaan Kelas ... 2.2.1 Pengertian Pengelolaan Kelas ... 2.2.2 Pentingnya Pengelolaan Kelas Dalam Proses Pembelajaran ... 2.2.3 Perbedaan Pengelolaan Kelas Dari Pembelajaran ... BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ... 3.2 Saran ... Daftar Pustaka ... Macam-Macam Metode Mengajar Matematika ... BAB I PENDAHULUAN

2.1.2 Metode Inkuiri Dalam Pembelajaran Matematika ...

2.1.3 Tujuan Pembelajaran Inkuiri ...

2.1.4 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Penerapan Metode Inkuiri ...

2.1.5 Prosedur Pelaksanaan Metode Inkuiri ...

2.16 Kelebihan Dan Kekurangan Metode Inkuiri ...

2.1.7 Penerapan Metode Inkuiri Dalam Meningkatkan Kemampuan ...

2.2 Metode Drill ...

2.2.1 Pengertian Metode Drill ...

2.2.2 Macam-Macam Metode Drill ...

2.2.3 Tujuan Penggunaan Metode Drill ...

2.2.4 Syarat-Syarat Dalam metode Drill ...

2.2.5 Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill ...

2.2.6 Keuntungan Atau Kebaiakan Metode Drill ...

(8)

2.2.8 Langkah-Langkah Metode Drill ...

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...

3.2 Saran ...

Daftar Pustaka ...

Metode Permainan Dan Metode Pemberian Tugas ...

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...

1.2 Rumusan Masalah ...

1.3 Tujuan ...

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Metode Permainan ...

2.1.1 Kelebihan Metode Permainan ...

2.1.2 Kelemahan Metode Permainan ...

2.2 Definisi Metode Pemberian Tugas ...

2.2.1 Tujuan Dan Hal Yang Harus Diperhatikan ...

2.2.2 Kelebihan Metode Pemberian Tugas ...

2.2.3 Kelemahan Metode Pemberian Tugas ...

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...

3.2 Saran ...

Daftra Pustaka ...

(9)
(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu ilmu yang universal dan menjadi dasar

bagi pengembangan ilmu pengetahuan lainnya. Sebagai ilmu yang universal,

matematika mendapatkan tempat yang strategis dalam struktur kurikulum

pendidikan di tanah air, utamanya pada pendidikan dasar dan menengah,

yakni sebagai mata pelajaran wajib dalam kelompok mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi (PP 19 tahun 2005, pasal 7, ayat 4).

Sebagai salah satu mata pelajaran dalam rumpun tersebut, mata pelajaran

matematika bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar berguna untuk

membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis,

sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas,

2006:345).

Mencapai kebergunaan tersebut, maka ditetapkan rumusan tujuan

pembelajaran matematika yang lebih rinci, yaitu agar peserta didik memiliki

kemampuan:

(1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep

dan mengaplikasikan konsep/algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan

tepat, dalam pemecahan masalah,

(2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau

(11)

(3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami

masalah,merancang model matematika,menyelesaikan model dan

menafsirkan solusi yang diperoleh,

(4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media

lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,

(5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,

yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari

matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

(Depdiknas, 2006:346).

Setiap tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran matematika

pada dasarnya untuk melatih siswa agar dapat memecahkan suatu masalah

atau berupa soal dalam pembelajaran matematika.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka dalam makalah ini kami akan

membahas tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan

fakta,konsep, prinsip, skill dan pemecahan masalah matematika.

1.2 Rumusan Masalah

• Apa saja tujuan pembelajaran Matematika?

• Apa saja pembelajaran matematika yang harus dialami oleh siswa?

• Apa perbedaan Fakta, konsep, prinsip, dan skill ?

(12)

1.3 Tujuan Masalah

• Dapat memahami apa sebenarnya tujuan pembelajarn matematika

• Agar mengetahui apa saja pembelajaran matematika yang harus dialami oleh siswa?

• Dapat membedakan Fakta, Konsep, Prinsip, dan Skill?

(13)

BAB II

TUJUAN-TUJUAN PEMBELAJARAN YANG

BERKAITAN DENGAN FAKTA, KONSEP, PRINSIP KETERAMPILAN DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DAN CARA

MENGAJARKANNYA

2.1 TUJUAN-TUJUAN PEMBELAJARAN

2.1.1 FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

Berdasarkan pada Bab II pasal 3 UU RI No.20/2003 tentang Sisdiknas:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan memmbentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertakwa kepada Tughan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2.1.2 TUJUAN PENDIDIKAN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

1) TUJUAN PENDIDIKAN DASAR

(14)

2) TUJUAN PENDIDIKAN MENENGAH

Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

3) TUJUAN PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN

Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

2.1.3 FUNSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DI

SEKOLAH

Tujuan Umum Pendidikan Matematika ditekankan kepada siswa untuk

memiliki:

1) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat

digunakan dalam memecahkan masalah:

a. Dalam Matematika itu sendiri.Contoh : dalam menyelesaikan

soal-soal Matematika dan mengembangkan konsep dan prinsip dalam

matematika.

b. Dalam pelajaran lain, seperti fisika, kimia, ekonomi, teknologi, dan

sebagainya.

c. Kehidupan nyata sehari-hari seperti jual beli, pertukangan, dan

sebagainya.

2) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi,orang

dapat menyampaikan informasi dengan bahasa Matematika, misalnya

men yajikan masalah kedalam model matematika hyang dapat berupa

(15)

Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa matematika justru lebih

praktis, sistematis,dan efisian. Begitu pentingnys matematika sehingga

bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa yang digunakan

masyarakat.

3) Keampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang

dapat digunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir

logis, berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat

disiplin dalam memandang menyelesaikan masalah.

2.2 FAKTA, KONSEP, PRINSIP, SKILL DAN PEMECAHAN

MASALAH MATEMATIKA SERTA CARA MENGAJARKANNYA

Pembelajaran matematika yang harus dialami siswa digolongkan menjadi

4 kategori, yaitu fakta,konsep, prinsip, dan skill.

2.2.1 FAKTA

Fakta adalah suatu pemufakatan atau konvensi sembarang dalam

matematika Contoh : Lambang-lambang dalam hukum-hukum

matematika atau istilah-istilah/nama-nama dalam matematika seperti : 2,

+, , , , dan lain-lain.

Cara pembelajaran fakta dapat dengan berbagai tekhnik yaitu:

• Informasi

• Menghafal

• Drill

• Peragaan

• dll

Siswa dikatakan telah mempelajari dan menguasai fakta bila ia dapat

menuliskan fakta itu dan menggunakannya dengan tepat dalam

(16)

2.2.2 KONSEP

Konsep dalam matematika adalah pengertian abstrak dari suatu objek

atau kejadian baik konkret maupun abstrak. Dari pengertian tersebut

memungkinkan kita dapat mengelompokan (mengklasifikasikan) objek

atau kejadian itu adalah contoh atau bukan contoh dari pengertian

tersebut.

Contoh : Konsep Himpunan, konsep persamaan, konsep fungsi, konsep

segitiga siku-siku, konsep matriks, dan sebagainya.

Bagaimana siswa mempelajari konsep ?

Dalam mempelajari konsep seorang siswa memerlukan kondisi internal

dan kondisi eksternal.

1) Kondisi internal adalah kondisi yang ada dalam diri siswa berupa pola

pengembangan mental yang memungkinkan dirinya merasakn

(feeling), dan dapat menggunakan konsep tersebut untuk dapat

mengenal/membedakan dari yang lain.

2) Kondisi eksternal adalah kondisi yang diciptakan / diarahkan oleh

guru.

Dalam mempelajari suatu konsep seorang siswa melalui proses:

1) Persepsi(tanggapan) yaitu tanggapan baru dengan bantuan tanggapan

yang telah ada. Siswa mendapat kesempatan untuk menghubungkan

pengertian lama dengan pengetahuan baru.

2) Abstraksi yaitu daya (kesanggupan) untuk memperoleh suatu

(17)

3) Generalisasi yaitu penggunaan pengertian yang dimiliki, pada hal yang

lain (pengertian yang berlaku secara umum).

Berikut ini adalah skema tentang proses pemahaman konsep oleh siswa:

Cara / pendekatan dasardalam pembelajaran konsep.

Sebelum pembelajaran suatu konsep dimulai hendaklah diyakini terlebih dahulu

bahwa siswa telah memiliki pengetahuan prasyarat.

Contoh: sebelum mempelajari konsep fungsi,hendaknya siswa telah memahami konsep relasi/pemetaan.

Adapun pendekatannya yang dapat dilakukan adalah:

a. Dengan menanyakan kepada siswa untuk menunjukkan mana dari contoh-contoh yang diberikan termasuk konsep mana yang bukan konsep yang

dimaksud.

PERSEPSI PENGALAMAN HAL KONKRIT

HAL KONKRIT

HAL KONKRIT

HAL KONKRIT Lama Baru

Disusun abstraksi

PENGERTIAN

(18)

b. Pendekatan Deduktif, yaitu pendekatan yang dimulai dari defenisiyang diikuti dengan

contoh-contoh.

c. Pendekatan Induktif, yaitu pendekatan yang dimulai dari contoh-contoh

Defenisi

Contoh Contoh Contoh

Defenisi

(19)

d. Pendekatan Gabungan induktif dengan deduktif.

Untuk Memilih pendekatan b,c,atau d perlu dipikirkan pertimbangan mengenai

waktu dan hasil berikut:

Pertimbangan

pilihan

Deduktif Induktif

Waktu

Hasil

Waktu terbatas

Daya ingat tidak

lama

Memerlukan Waktu

banyak

Daya ingat lama

Contoh Contoh Contoh Contoh Contoh Contoh

Defenisi

(20)

Berikut contoh Pembelajaran konsep sector lingkaran (juring lingkaran)

Diberikan pasangan contoh dan bukan contoh

Contoh contoh contoh

bukan contoh bukan contoh bukan contoh

2.2.3 PRINSIP

Di dalam matematika prinsip/kaidah adalah terdiri dari beberapa

konsep bersama-sama dengan hubungan antara konsep-konsep tersebut.

Jadi, prinsip didefenisikan sebagai pola hubungan fungsional antara

konsep-konsep.Prinsip biasa disebut hukum, dalil, maupun teorema.

Hukum,dalil atau teorema tersebut dapat disajikan dalam bentuk rumus

atau dengan pernyataaan verbal.

Contoh :

• Dua segitiga kongruen, jika dua sisi dan sudut apitnya sama

(21)

• Jumlah sudut-sudut dalam suatu segitiga = 1800

• Dalam setiap segitiga ABC berlaku aturan sinus ;

C

Suatu prinsip yang merupakan hubungan fungsional dari

konsep-konsep akan memungkinkan kita untuk:

Meramalkan akiba-akibat

Merangkan peristiwa-peristiwa

Membuat kesimpulan-kesimpulan

Memecahkan masalah (problem solving)

Cara mengajarkan prinsip: Pemantapan pengetahuan prasyarat,kemudian

melalui proses penemuan terbimbing,diskusi kelompok,pemecahan masalah.

Pengujian pemahaman prinsip:

Siswa telah memahami prinsip, jika ia dapat mengenal konsep-konsep yang

ada dalam prinsip itu, meletakkan kosep-konsep itu dalam hubungannya satu

sama lain secara benar dan menggunakannya pada situasi tertentu.

Sebagai contoh.mRumus dalil Pytagoras dalam segitiga siku-siku

c

b a

(22)

Kemungkinan-kemungkinan kemampuan siswa:

Yang hanya ingat rumus ini, berarti baru menguasai fakta

Yang dapat mengklasifikasikan a sebagai sisi miring dan b,c sebagai sisi

siku-siku, berarti telah menguasai konsep

Yang dapat menggunakan rumus, mensubtitusikan panjang sisi segitiga yang

diketahui kedalam rumus tersebut lalu mencari penyelesainnya, berarti siswa

telah menguasai skill

Yang dapat membuktikan atau menemukan dalil pytagoras tersebut serta

menerapkannya dalam masalah-masalah berbeda, dikatakan siswa telah

menguasai prinsip.

2.2.4 SKILL

Skill adalah keterampilan untuk menjalankan prosedur(algoritma) dalam

menyelesaikan masalah. Skill merupakan pola yang kompleks dari aktivitas

yang memerlukan manipulasi dan koordinasi bahan-bahan pelajaran tesebut.

Skill dapat digolongkan kedalam dua jenis yaitu psikomotor dan intelektual.

Contoh:

• Mengendarai sepeda motor, memotong kaca, menggunakan alat-alat komputasi(computer,kalkulator), alat-alat matematika, jangka, mistar untuk

melukis bangun-bangun geometri, dan sebagainya adalah keterampilan

psikomotorik

• Menyelasikan soal-soal statistic, soal-soal persamaan kuadrat, mencari invers fingsi, dan lain-lain adalah keterampilan intelektual.

Cara pembelajaran skil:

Pengembangan penguasaan skill ( mental skill) betul-betul diperlukan tetapi

skill tersebut harus berlandaskan pengertian dan tidak hanya penghafalan

(23)

Beberapa saran pembelajaran skill:

a) Kembangkan pengertiannya lebih dahulu sebelum skill

b)Hindarkan drill rutin yang mengarah kepada mekanis

c) Hindarkan pemberian drill yang sama karena akan membuat bosan, adakan

variasi

d)Beri dorongan dan hadiah untuk suatu originalitas

e) Gunakan ide-ide geometri, untuk memantapkan skill dalam aljabar, atau

dengan ide flow chart ( diagram alur) untuk siswa yang lambat.

f) Kaitkan skil baru dengan skill yang telah dipelajari sebelumnya.

g)Betulkan segera jikaada kesalahan dasar

h)Bangkitkan minat ingin tahu ( antusias) dengan pertannyan-pertannyaan yang

menantang

i) Hendaknya sering memberikan soal-soal terbuka sehingga siswa dapat

mendapatkan kesempatan menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan

suatu soal.

2.2.5 PROBLEM SOLVING (Pemecahan Masalah)

Pemecahan masalah adalah petunjuk untuk melakukan suatu tindakan

yang berfungsi untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan suatu

permasalahan (Made Wena, 2011: 60). Berkaitan dengan kemampuan

pemecahan masalah, Polya (dalam Sudarmin Usman, 2007: 343)

mendefinisikan Pemecahan Masalah sebagai usaha mencari jalan keluar dari

suatu kesulitan, mencapai suatu tujuan yang tidak dengan segera dapat

dicapai.

Suatu situasi menjadi masalah bagi seseorang jika ia sadar akan situasi

(24)

perlu bertindak dan melakukan tindakan, dan juga situasi itu belum segera

dapat diselesaikan

Siswa menghadapi masalah bila siswa mencari penyelesaian, dan belum

ada jalan yang jelas untuk sam[pai ke penyelesaiannya, Suatu soal termasuk

masalah atau tidak tergantung latar belakang siswa.

Belajar memecahkan masalah adalah belajar penuh makna.Dengan

memecahkan masalah siswa belajar mentransfer konsep dan prinsip

matematika ke situasi baru (baik matematika maupun bukan

mateatika).Pemecahan masalah menimbulkan motivasi.

Krulik dan Rudnik (1995, Lidinillah, 2008) mengenalkan lima tahapan

pemecahan masalah yang dikhususkan bagi anak sekolah dasar, yang disebut

sebagai heuristic, yakni langkah pemecahan masalah tanpa harus berurutan.

Lima langkah tersebut adalah:

1. Read and Think, yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta,

mengidentifikasi fakta, pertanyaan, memvisualisasi situasi, menjelaskan

setting, dan menentukan tindakan selanjutnya.

2. Explore and Plan, yang meliputi kegiatan mengorganisasikan informasi,

mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan, mencari apakah

ada informasi yang tidak diperlukan, menggambar/mengilustrasikan

model masalah, dan membuat diagram, table, atau gambar.

3. Select a strategy, yang meliputi kegiatan menemukan/membuat pola,

bekerja mundur, coba dan kerjakan, simulasi atau eksperimen,

penyederanaan atau ekspansi, membuat daftar berurutan, deduksi logis,

dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah

(25)

4. Find an Answer, yang meliputi kegitan memprediksi, menggunakan kemampuan berhitung, menggunakan kemampuan aljabar, menggunakan

kemampuan geometris, dan menggunakan kalkulator jika diperlukan.

5. Reflect and Extend, yakni memeriksa kembali jawaban, menentukan solusi

alternative, mengembangkan jawaban pada situasi lain.

Langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah:

1) Memahami pokok permasalahan

2) Mendiskusikan alternatif pemecahannya

3) Memecahkan persoalan utam menjadi bagian-bagian kecil

4) Menyederhanakan persoalan

5) Menggunakan pengalaman masalah lampau

6) Mencoba berbagai cara, bekerja secara sistematis, mencatat apa yang

terjadi, mengecek hasilnya dengan mengulangi kembali

langkah-langkahnya.

7) Mencoba memahami dan menyelesaikan persoalan yang lain,

PETUNJUK PEMECAHAN

MEMAHAMI MASALAH

• Baca dan pelajari permasalahannya

• Tentukan apa yang ingin anda coba dapatkan

(26)

SOAL-SOAL LATIHAN DAN

PENYELESAIANNYA

1. SOAL GABUNGAN UNTUK FAKTA,KONSEP,PRINSIP,DAN SKILL

Diketahui persamaan lingkaran x2 + y2 + 4x - 6y – 12 = 0

Tentukan titik pusat dan jari-jarinya !

Penyelesaian:

• Tebak dan periksa

• Tuliskan dalam kalimat

• Gunakan alasan logika

• Kerjakan kembali dari awal

• Sket sebuah gambar

• Buat dan tata terorganisir

• Buat sebiah tabel

(27)

48

Jadi, lingkaran tersebut berpusat di P(-2,3) dan berjari-jari 5.

Bukti kemampuan siswaterhadap soal tersebut:

• Bagi anak yang hanya mengingat persamaan tersebut adalah persamaan lingkaran, berarti anak baru menguasai fakta

• Jika anak itu dapat memahami persamaan lingkaran itu yang mana nilai A,B,dan C serta P adalah titik pusat dan r adalah jari-jari, serta memahami

yang mana untuk mencari titik pusat dan jari-jari, berarti anak tersebut

sudah memahami konsep.

• Jika anak tersebut sudah dapat menggunakan rumus, dan mensubtitusikan nilai A,B dan C ke dalam rumus serta mengoperasikan sehingga

memperoleh titik pusat dan jari-jarinya, maka anak tersebut sudah

menguasai skill

• Dan apabila anak sudah dapat membuktikan hasil jawabannya dengan gambar,maka anak tersebut sudah memahami prinsip.

2. SOAL TINGKAT SMA

Harga 2 kg buah mangga, 2 kg buah jeruk, dan 1 kg buah anggur adalah

Rp70.000,00, dan harga 1 kg buah mangga, 2 kg buah jeruk, dan 2 kg buah

anggur adalah Rp90.000,00. Jika harga 2 kg buah mangga, 2 kg buah jeruk,

dan 3 kg buah anggur adalah Rp130.000,00. maka harga buah mangga, buah

jeruk, dan buah anggur masing-masing per kg nya adalah…….

(28)

Misalkan: banyaknya buah mangga per kg adalah x

banyaknya buah jeruk per kg nya adalah y

banyaknya buah anggur per kgnya adalah z

2x + 2y + z = 70.000 ……..(1)

x + 2y + 2z = 90.000 ……..(2)

2x + 2y + 3z = 130.000 ……..(3)

Eliminasi persamaan (1) dan (2)

2x + 2y + z = 70.000

x + 2y + 2z = 90.000

x – z = – 20.000……….(4)

Eliminasi persamaan (2) dan (3)

x + 2y + 2z = 90.000

2x + 2y + 3z = 130.000

– x – z = – 40.000……(5)

Eliminasi persamaan (4) dan (5)

x – z = – 20.000

– x – z = – 40.000

(29)

x = 10.000

Subtitusikan x = 10.000 ke persamaan (4) maka diperoleh nilai z

x – z = – 20.000

(10.000) – z = – 20.000

z = 30.000

Subtitusikan nilai x dan z ke persamaan (1) maka diperoleh nilai y

2x + 2y + z = 70.000

Jadi, harga buah mangga per kg nya adalah Rp10.000,00, harga buah jeruk per

kg nya adalah Rp10.000,00 dan harga buah anggur per kg nya adalah

Rp30.000,00

3. SOAL TINGKAT SMP

(30)

)

(31)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tujuan Umum Pendidikan Matematika ditekankan kepada siswa untuk

memiliki:

1) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.

2) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi,orang dapat menyampaikan informasi dengan bahasa Matematika

3) Keampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat digunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis,

berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam

memandang menyelesaikan masalah.

Pembelajaran matematika yang harus dialami siswa digolongkan menjadi 4

kategori, yaitu fakta,konsep, prinsip, dan skill.

Fakta adalah suatu pemufakatan atau konvensi sembarang dalam

matematika. Konsep dalam matematika adalah pengertian abstrak dari suatu

objek atau kejadian baik konkret maupun abstrak.

Prinsip didefenisikan sebagai pola hubungan fungsional antara

konsep-konsep.

Skilladalah keterampilan untuk menjalankan prosedur(algoritma) dalam

menyelesaikan masalah.

Langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah:

(32)

2) Mendiskusikan alternatif pemecahannya

3) Memecahkan persoalan utam menjadi bagian-bagian kecil

4) Menyederhanakan persoalan

5) Menggunakan pengalaman masalah lampau

6) Mencoba berbagai cara, bekerja secara sistematis, mencatat apa yang

terjadi, mengecek hasilnya dengan mengulangi kembali

langkah-langkahnya.

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Nyimas, dkk., 2007.Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar (dalam

Paket Bahan Ajar Unit 5 oleh Konsorsium Pendidikan Jarak Jauh S1

PGSD)

Branca, N.A (1980). Problem Solving as a Goal, Process and Basic Skill. Dalam

Krulik,S dan Reys,R.E (ed). Problem Solving in School Mathematics.

NCTM: Reston. Virginia

Hastuti, Sri. 1996/1997. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Dirjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D III.

Ruseffendi,E.T (1991a). Pengantar kepada Membantu Guru Mengem-bangkan

Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito

Sehatta, Seragih., 2007. Pengembangan Progam Pengajaran Matematika.

Pekanbaru : Cendekia Insani.

Soleh,M (1998). Pokok-Pokok Pengajaran Matematika Sekolah. Jakarta:

Depdikbud

Sujono (1988). Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta:

Proyek Pengembangan LPTK, Depdikbud

Sumarmo,U, Dedy, E dan Rahmat (1994). Suatu Alternatif Pengajaran untuk

Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta:

(34)

Usman, Sudarmin., 2007. Strategi Pemecahan Masalah Dalam Penyelesaian

Soal Cerita Di Sekolah Dasar, ( dalam Jurnal Samudra Ilmu, Volume 2 Nomor 2 oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang)

http://madfirdaus.wordpress.com/2009/11/23/kemampuan-pemecahan-masalah-matematika/

http://p4tkmatematika.org/file/problemsolving/TahapanMemecahkanMasalah.pd

(35)
(36)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keterampilan bertanya dalam proses belajar mengajar berpengaruh

terhadap tingkat keberhasilan proses belajar. Teknik belajar yang terlalu

monoton dan tidak memiliki variasi akan membentuk suasana yang

membosankan sehingga peserta didik tidak tertarik dalam mengikuti

pelajaran. Maka untuk menciptakan kehidupan interaksi belajar mengajar

yang efektif, Guru perlu menimbulkan adanya dialog atau tanya jawab.

Dialog antara Guru dan peserta didik akan menciptakan interaksi

belajar yang lebih efektif dan akrab. Adanya tanya jawab yang dilakukan

secara kelompok atau secara individu diharapkan akan membentuk suasana

belajar yang menyenangkan. Dengan adanya tanya jawab akan memberi

motivasi tersendiri kepada peserta didik agar membangkitkan pemikiran dan

cara pandang yang luas terhadap materi yang sedang dipelajari di dalam

kelas. Selain itu adanya tanya jawab dapat terlihat bahwa sejauh mana

peserta didik memahami materi yang sedang didiskusikan.

Selama pelajaran berlangsung, siswa ikut serta secara aktif dalam

pembahasan materi yang diberikan oleh Guru. Pertanyaan yang berkaitan

dengan isi pelajaran atau juga pengalaman yang dihayati dengan tanya jawab

itu, pelajaran akan lebih mendalam dan meluas. Adanya teknik tanya jawab

yang dilakukan oleh guru bertujuan agar siswa dapat mengerti, atau

mengingat terhadap fakta-fakta yang dipelajari, didengar ataupun dibaca,

sehingga memiliki pemahaman yang mendalam terhadap fakta tersebut.

Dengan adanya tanya jawab diharapkan dapat menjelaskan

(37)

masalah sehingga dapat menjawab soal atau masalah dengan benar dan

tepat. Penggunaan teknik tanya jawab juga dilakukan oleh guru guna

meneliti sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi atau masalah yang

dihadapi.

Pada hakikatnya melalui bertanya kita akan mengetahui dan

mendapatkan informasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui. Dikaitkan

dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan

siswa, antara siswa ini menunjukan adanya interaksi di kelas yang dinamis

dan multi arah. Keterampilan bertanya ini mutlak harus dikuasai oleh guru

baik itu guru pemula maupun yang sudah profesional karena dengan

mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan

balik dari materi serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta.

Pertanyaan yang baik memiliki kriteria-kriteria khusus seperti: jelas,

informasi yang lengkap, terfokus pada satu masalah, berikan waktu yang

cukup, sebarkan terlebih dahulu pertanyaan kepada seluruh siswa, berikan

respon yang menyenangkan sesegera mungkin dan yang terakhir tuntunlah

jawaban siswa sampai ia menemukan jawaban sendiri.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah di makalah ini sebagai berikut:

1. Apakah pengertian dari keterampilan bertanya ?

2. Apa saja fungsi dan tujuan ketrampilan bertanya?

3. Apa sajakah jenis - jenis pertanyaan?

4. Apa saja komponen-komponen ketrampilan bertanya?

5. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam memberi pertanyaan?

(38)

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :

1. Untuk mengetahui pengertian dari keterampilan bertanya

2. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan ketrampilan bertanya

3. Untuk mengetahui jenis-jenis pertanyaan

4. Untuk mengetahui komponen – komponen ketrampilan bertanya

5. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam

(39)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Keterampilan Bertanya

G.A. Brown dan R. Edmondson (1984) mengemukakan definisi

pertanyaan yaitu, “segala pernyataan yang meninginkan tanggapan verbal

(lisan).

Ketrampilan bertanya menurut marno (2008 : 115) adalah suatu

pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya guru dalam pegajaranya selalu

melibatkan/menggunakan tanya jawab. Pertanyaan tidak selalu dalam kalimat

tanya, tetapi juga bisa dalam bentuk kalimat perintah atau kalimat pertanyaan.

Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa keterampilan bertanya adalah suatu

proses yang dilakukan oleh guru kepada siswa ataupun dari siswa kepada guru

untuk mengetahui suatu jawaban baik dalam bentuk pertanyaan, perintah,

ataupun pernyataan yang berkaitan dengan lisan individu sehingga dapat

mengetahui tingkat pemikiran ataupun pemahaman individu masing-masing.

2.2 Fungsi dan Tujuan dari Keterampilan Bertanya

Didalam proses belajar mengajar keterampilan bertanya diperlukan untuk

mengukur kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran. Adapun fungsi

dari keterampilan bertanya antara lain:

1. Mendorong siswa untuk berpikir

2. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar

(40)

4. Mendiagnosis kelemahan siswa

5. Memusatkan perhatian siswa pada satu masalah

6. Membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik

Disamping fungsi, adapula tujuan dari keterampilan bertanya, yaitu:

1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap suatu

masalah yang sedang dibicarakan. Dengan memberikan pertanyaan

kita akan dapat menarik minat peserta didik dalam perkuliahan.

Terlebih jika pertanyaan yang kita berikan tidak sembarangan, alias

memerlukan pemikiran dan renungan mendalam karena cukup pelik

dan tidak dapat dilihat secara hitam putih. Untuk memancing rasa

ingin tahu peserta didik kita perlu memilih pertanyaan terkait dengan

isu-isu baru yang lagi trending topik dan sesuai dengan dunia peserta

didik.

2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan

informasi. Dengan kita memberikan pertanyaan sebenarnya menuntut

peserta didik merenungkan kembali informasi dan pengetahuan yang

telah diperoleh. Dengan pertanyaan kita dapat melatih peserta didik

melakukan proses seleksi pengethuan untuk menjawab persoalan yang

kita ajukan.

3. Menguji dan mengukur hasil belajar. Tujuan terakhir dari keterampilan

bertanya adalah untuk menguji dan mengukir hasil belajar. Ini berarti

kegiatan bertanya dikaitkan dengan tujuan pembelajaran apakah sudah

tercapai ataukah belum.

(41)

Keterampilan bertanya di dalam proses belajar mengajar banyak

jenis-jenisnya, diantaranya:

a. Jenis pertanyaan menurut maksudnya

1. Pertanyaan permintaan (compliance question)

Pertanyaan permintaan (compliance question), yakni pertanyaan yang

mengharapkan agar siswa mematuhi perintah yang diucapkan dalam

bentuk pertanyaan.

Contoh:

o Dapatkah kamu tenang agar suara bapak dapat didengar oleh kalian?

o Dapatkah kamu menutupkan jendela-jendela itu agar suasana kelas

tidak terganggu dengan kebisingan dari kelas sebelah?

o Dapatkah kamu membuat jarring-jaring kubus tanpa tutup?

2. Pertanyaan retoris (rhetorical question)

Pertanyaan retoris (rhetorical question), yaitu pertanyaan yang tidak

menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru. Hal ini

merupakan teknik penyampaian informasi kepada murid..

Contoh:

• Mengapa observasi diperlukan sebelum melaksanakan PPL? Sebab

observasi merupakan masukkan bagi calon guru yang sedang PPL.

• Mengapa Foramenifora digolongkan phylum Protozoa? Sebab

tubuhnya hanya terdiri satu sel.

• Mengapa kuadrat bilangan kompleks selain nol tidak positif? Sebab

(42)

3. Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question,)

Pertanyaan menuntun (prompting question), yaitu pertanyaan yang

diajukan untuk menuntun dalam proses berpikirnya. Hal ini dilakukan

apabila guru menghendaki agar siswa memperhatikan dengan saksama

bagian tertentu atau inti pelajaran yang dianggap penting. Dari segi

yang lain, apabila siswa tidak dapat menjawab atau salah menjawab,

guru mengajukan pertanyaan lanjutan yang akan menuntun proses

berpikir siswa sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan

jawaban bagi pertanyaan pertama tadi.

Contoh:

Guru : Anak-anak dalam melakukan perang melawan Belanda,

Pangeran

Diponegoro dibantu oleh? Guru diam sejenak kemudian, coba

kamu Tono!

Tono :Nampak kesulitan untuk menjawab pertanyaan Guru.

Guru : Coba kamu ingat-ingat. Kemudian guru menuntun jawab, Kiai

Tono : Kiai Mojo.

Guru : Siapa lagi?

Tono : Imam Bonjol Pak!

Guru : Bukan! Itu kan Peminpin Perang Padri! Coba pikir lagi!

Tono : Lupa Pak.

Guru : Masa lupa! Sen …

Tono : Ya, Pak saya ingat, yaitu Ali Basah Sentot.

Guru : Coba diulangi jawaban tadi.

Tono : Kiai Mojo dan Ali Basah Sentot Pak.

(43)

4. Pertanyaan menggali (probing question).

Pertanyaan menggali (probing question), yaitu pertanyaan lanjutan

yang akan mendorong murid untuk lebih mendalami jawabannya

terhadap pertanyaan pertama. Dengan pertanyaan menggali ini siswa

didorong untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang

diberikan pada pertanyaan sebelumnya.

Contoh :

Guru : Anak-anak, faktor-faktor apa yang menyebabkan

bertambahnya Angka pengangguran di Indonesia? Guru diam

sejenak, kemudian coba kamu Desi !

Desi : Banyak Pabrik/Perusahaan yang gulung tikar Pak!

Guru : Bagus! Coba apalagi?

Desi : Adanya Krisis Moneter Pak!

Guru : Apalagi!

Desi : Tidak tahu Pak!

Guru :Coba diantara kalian yang bisa membantu Desi, angkat tangan!

(Guru menunjuk salah satu siswa yang angkat tangan) coba

kamu Ghofur!

Ghofur : Bahan baku yang dimport harga berlibat ganda!

Guru : Pinter! Coba apalagi!

Hal ini dilakukan secara terus menerus sampai pertanyaan tersebut

terjawab sempurna, dan terakhir Desi disuruh mengulangi semua

(44)

b. Jenis pertanyaan menurut Taksonomi Bloom

1. Pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question)

pertanyaan pengetahuan (knowledge) merupakan pertanyaan penalaran

dalam kategori yang terendah, yang hanya menuntut siswa untuk dapat

mngungkapkan kembali pengetahuan tentang fakta, kejadian, definisi

dan sebagainya. Siswa hanya dituntut mengingat kembali apa yang

dipelajarinya.Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan

pengetahuan ini antara lain:

Apa? Sebutkan! Berilah nama!

Siapa? Ingatlah istilah! Golongkan!

Bilamana? Kemukakan definisi!

Di mana? Pasangkan!

2. Pertanyaan pemahaman (conprehention question)

Pertanyaan ini meminta untuk menujukkan bahwa ia telah mengerti

atau memahami sesuatu. Ia dikatakan memahami sesuatu berarti ia

telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa yang

dipelajarinya dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Jadi pada

tingkat ini siswa sudah tidak lagi mengingat dan mengahfal informasi

yang diperoleh, melainkan harus dapat memilih dan

mengorganisasikan informasi tersebut.

Bentuk pertanyaan jenis ini adalah:

1) Memberkan penjelasan dengan kata-kata sendiri

2) Menyatakan ide-ide pokok tentang sesuatu dengan kata-kata sendiri

3) Membedakan atau membandingkan

4) Menerangkan dengan grafik

(45)

Untuk pertanyaan pemahaman perlu diigat bahwa informasi atau

bahan pelajaran harus sudah diberikan/diajarkan kepada siswa,

sehingga waktu guru memberikan pertanyaan yang maksudnya untuk

mengetahui apakah informasi yang telah diberikan telah dipahami

siswa, mereka sudah mempunyai bahan untuk menjawab.

Berapa kata yang dapat digunakan untuk pertanyaan pemahaman adalah:

Bedakanlah Terjemahkan

Terangkan Ubahlah

Simpulkan Berilah contoh

Bandingkanlah Berikan interpretasi

Jelaskan dengan kata-katamu

sendiri

3. Pertanyaan penerapan (application question)

pertanyaan penerapan adalah pertanyaan pertanyaan yang menuntut

suatu jawaban dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh

seelumnya.

Disini siswa dihadapkan pada pemecahan masalah sederhana dengan

menggunakan pengetahuan yang telah dipelajarinya. Dengan

menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau proses yang

dipeajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan suatu

jawaban yang benar terhadap masalah itu.

Beberapa kata yang sering digunakan untuk pertanyaan penerapan

adalah:

(46)

Tunjukkanlah Tuliskan suatu contoh

Demonstrasikan Siapkanlah

Buatlah sesuatu Klasifikasikanlah

4. Pertanyaan sintetis (synthesis question),

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan tingakta tinggi yang menuntut

siswa untuk berpikir orisinil dan kreatif. Dengan pertanyaan ini akan

diperoleh kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian atau

unsur-unsur agar dapat merupakan suatu kesatuan. Mereka dituntut

untuk mendakan induksi (dari fakta-fakta/unsur-unsur/informasi,

diambil suatu kesimpulan atau generalisasi). Siswa tidak hanya

menerka jawaban, melainkan harus berpikir dengan sunguh-sunguh.

Jenis pertanyaan ini akan dapat meningkatkan kreativitas serta daya

penalaran siswa. Pertanyaan sintesis ini dapat berbentuk:

1) Pertanyaan yang meminta siswa mengadakan prediksi atau

membuat ramalan

2) Pertanyaan yang diminta siswa mengungkapkan ide dan

mengahasilkan komunikasi orisinil

3) Pertanyaan yang menuntut pemecahan masalah

Dengan jenis pertanyaan ini, guru dapat membantu siswa untuk

mengembangkan daya kreasinya. Berikut ini adalah kata-kata yang

sering digunakan dalam pertanyaan-pertanyaan sintesis:

Ramalkanlah……. Tulislah…….

Bentuk…. Bagaimana kita dapat

memecahkan….

Ciptakanlah….. Apa yang terjadi seaindainya…

(47)

memperbaiki….

Rancanglah…. Kembangkan…..

5. Pertanyaan evaluasi (evaluation question).

Pertanyaan ini menuntut proses berpikir yang paling tinggi, karena

pekerjaan menialai hanya mungkin dilakukan dengan baik bila

fungsi-fungsi kognitif yang lain, dari pengetahuan sampai dengan sintesis

telah dikuasai. Untuk dapat menyatakan pendapat atau menilai

berbagai ide, karya seni, pemecahan masalah serta alasan-alasan

keputusannya, harus digunakan kriteria-kriteria tertentu, apakah

berupa kriteria yang benar atau nilai-nilai yang dipilih oleh siswa

sendiri.

Dalam pertanyaan evaluasi adanya standar atau kriteria pengukuran

merupakan sesuatu yang mutlak. Penggunaan standar atau kriteria

yang berbeda akan mengakibatkan jawaban yang berbeda pula. Tetapi

dalam mengembangkan penalaran siswa, jawaban-jawaban yang

berbeda tersebut memang diharapkan. Hal ini menunjukkan adanya

pemikiran dari setiap siswa, berarti bukan hanya menghafal atau

meniru jawaban orang lain. Pertanyaan evaluasi dapat dikategorikan

sebagai berikut:

1) pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat tentang

berbagai persoalan

2) pertanyaan yang menilai suatu ide

3) pertanyaan yang meminta siswa menetapkan suatu cara pemecahan

masalah

4) pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya seni terbaik

Dari pertanyaan di atas kita dapat melihat bahwa siswa akan dapat

(48)

sejauh mana sesuatu itu memenuhi kriteria, baik yang menggunakan

standar objektif maupun nilai yang bersifat pribadi. Kadang-kadang

siswa mempunyai pandangan yang berbeda, oleh karena itu perlu

didukung oleh alasan-alasan atau argumentasi tertentu. Dengan

demikian siswa akan belajar menggunakan penalaran tingkat tinggi.

Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan ini ialah:·

Berilah pendapat…..· Alternatif mana yang lebih baik….·

Setujukah anda…..· Kritiklah….·

Berilah alasan…· Nilailah…..·

Bandingkan…..· Bedakanlah…….

Selain jenis-jenis ada syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi suatu

pertanyaan yang baik:

1. Dikalimatkan dengan kalimat yang mudah ditangkap oleh siswa

2. Diajukan secara klasikal terlebih dahulu, kemudian secara individual

3. Urutan menjawab janganlah tetap atau alfabetis

4. Kemukakan pertanyaan dengan nada yang enak dan raut muka yang

manis

2.4 Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya

Pada dasarnya, ketrampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi 2

bagian besar, yaitu:

a. Keterampilan Bertanya Dasar

Bertanya dasar adalah pertanyaan pertama dan pembuka yang

diajukan guru pada awal pertanyaan. Keterampilan bertanya dasar

(49)

1. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat

Pertanyaan yang diajukan guru hendaknya singkat dan jelas,

sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Pertanyaan yang

demikian dapat dibuat dengan menggunakan struktur kalimat

yang sederhana serta kata-kata yang sudah dikenal oleh siswa.

Contoh:

Apa yang menyebabkan sehingga banyak siswa diberi

kesempatan bertanya tidak menggunakannya?

Mengapa banyak siswa tidak menggunakan kesempatan

bertanya?

Dari ungkapan pertanyaan diatas jelas bahwa pertanyaan

kedua lebih jelas dan singkat untuk dimengerti siswa dari pada

pertanyaan pertama

2. Pemberian acuan

Sebuah pertanyaan dapat dijawab jika yang ditanya

mengetahui informasi yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut.

Oleh karena itu sebelum bertanya, guru perlu memberikan acuan

berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Siswa akan

mengolah informasi yang diberikan sehingga dapat menjawab

pertanyaan guru.

Contoh:

Jika diketahui akar-akar persamaan kuadrat x1 dan x2, maka

persamaaan kuadrat dapat ditulis (x – x1) (x – x2).

Persamaan kuadrat yang akar-akarnya 3 dan -4.

3. Pemusatan

Pertanyaan dapat dibagi menjadi pertanyaan luas dan

(50)

yang umum dan cukup luas, sedangkan pertanyaan yang sempit

menuntuk jaawaban yang khusus spesifik.

Contoh:

Sebutkan bilangan-bilangan kelipatan 5 yang habis dibagi

3?

Diantara bilangan-bilangan 10, 15. 25., 35, 45, 55 dan 75,

manakah bilangan kelipatan 5 yang habis dibagi 3?

Dari 2 pertanyaan diatas kita dapat mengetahui bahwa

pertanyaan 1 membutuhkan jawaban yang sangat luas,

sedangkan pertanyaan 2 lebih membutuhkan jawaban yang

spesifik.

4. Pemindahan Giliran

Ada kalanya sebuah pertanyaan lebih-lebih pertanyaan yang

cukup kompleks, tidak dapat dijawab secara tuntas oleh seorang

siswa. Dalam hal ini guru perlu memberikan kesempatan kepada

siswa lain dengan cara pemindahan giliran. Pemindahan giliran,

artinya setelah siswa pertama memberikan jawaban, guru

meminta siswa kedua melengkapi jawaban tersebut, kemudian

meminta lagi siswa ketiga dan seterusnya.

Cara seperti ini dapat mendorong siswa untuk selalu

memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta

meningkatkan interaksi antar siswa.

5. Penyebaran

Penyebaran pertanyaan berarti menyebabkan giliran untuk

menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Kalau mungkkin

semua siswa di dalam kelas mendapat giliran yang merata untuk

(51)

guru, lebih-lebih guru yang biasa mengajukan pertanyaan pada

siswa tertentu. Ada kalanya guru melupakan siswa yang duduk

dideretan belakang, sehingga aman untuk dari kejaran pertanyaan

guru. Tujuan penyebaran pertanyaan adalah untuk meningkatkan

perhatian dan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar.

6. Pemberian Waktu Berfikir

Untuk menjawab satu pertanyaan, seseorang memerlukan

waktu untuk berfikir. Demikian juga seorang siswa yang harus

menjawab pertanyaan guru memerlukan waktu untuk memikirkan

jawaban pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, setelah mengajukan

pertanyaan guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum

meminta atau menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaannya.

Kebiasaan guru yang menunjuk siswa lebih dahulu untuk

menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan itu diajukan, tidak

dapat dibenarkan, sebab tidak memberi waktu untuk berfikir, dan

siswa lain tidak memprhatikan

pertanyaan guru.

7. Pemberian Tuntunan

Kadang-kadang pertanyaan yang diajukan guru tidak dapat

dijawab oleh siswa, ataupun jika ada yang menjawab, jawaban

yang diberikan tidak seperti yang diharapkan. Dalam hal ini, guru

tidak boleh diam dan menunggu sampai siswa memberikan

jawaban. Guru harus memberikan tuntunan yang memungkinkan

siswa secara terhadap mampu memberikan jawaban yang

diharapkan. Tuntutan dapat diberikan antara lain dengan berbagai

(52)

Memparafrase, yaitu mengungkapkan kembali pertanyaan dengan cara lain yang lebih mudah dan sederhana, sehingga

dapat dipahami oleh siswa.

Mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang

dapat menuntun siswa menemukan jawaban.

Mengulangi penjelasan / informasi sebelumnya yang

berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan.

b. Keterampilan Bertanya Lanjut

Pertanyaan lanjutan adalah kelanjutan dari pertanyaan dasar yang

mengutamakan usaha mengembangkan keterampilan berfikir,

memperbesar partisipasi dan mendorong agar dapat berinisiatif sendiri.

Selain itu pertanyaan lanjutan juga memiliki fungsi yaitu:

Mengembangkan kemampuan dalam menemukan,

mengorganisasi, dan menilai informasi.

Membentuk pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan atas

informasi yang lengkap

Mengembangkan ide dan mengemukaannya kepada kelompok

Memberikan kesempatan memperoleh sukses melebihi yang

biasa dicapai

Ketika kita menerapkan keterampilan bertanya lanjut, guru juga

menerapkan atau menggunakan keterampilan bertanya dasar, komponen

keterampilan bertanya lanjut terdiri atas :

1. Pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan.

Pertanyaaan tang diajukan guru mengundang siswa berpikir.

Jika guru hanya mengajukan pertanyaan yang bersifat ingatan.

Seperti hanya menanyakan : apa, siapa, dimana, atau berapa,

(53)

siswa tidak perlu berpikir tetapi hanya mengingat, tetapi jika guru

mengajukan pertranyaan mengapa bagaimana pendapatmu, jelaskan

terjadinya, dan yang sejenis, siswa akan berpikir keras sehingga

menuntut terjadinya proses nental yang tinggi

2. Pengaturan ururtan pertanyaan

Agar kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara

baik dan wajar , guru hendaknya mengatur ururtan pertanyaan yang

di ajukan . pertanyaan pada tingkat tertentu hendaknya di

mantapkan kemudian beralih ketingkat pertanyaan yang lebih tinggi

3. Penggunaan pertanyaan pelacak

Jika guru mengajukan pertanyaan tingkat tinggi dan jawaban

yang diberikan oleh iswa dianggap benar tetapi masih dapat di

lengkapi lagi, guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak yang

dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawaban yang

diberikan

Teknik pertanyaan pelacak yang dapat di gunakan guru

antara lain sebagai berikut:

a. Meminta klarifikasi

Teknik ini di pakai guru, jika jawaban sswa, kurang jelas

atau diungkapkan dengan kalimat yang kabur

Contoh :

Dapatkah anda menjelaskan apa yang anda maksudkan

dengan...?

Coba ulangi jawaban apa yang anda jelaskan tadi?

Coba rangkum apa yang anda jelaskan tadi?

(54)

Teknik ini dapat digunakan jika guru menginginkan siwa

memberikan bukti-bukti dari pendapat atau pandangan yang

diberikannya sebagai jawaban atas pertanyaan guru

Contoh :

Dapatkah anda memberi alasan , mengapa anda berpendapat

sperti it!

Coba berikan bukti-bukti akan kebenaran pendapat anda itu !

Coba jelaskan , bagaiman anda sampai pada kesimpulan seperti

itu

c. Meminta kesepaktan pandangan siswa

Jika guru meminta pandangan siswa sudah menyatakan

pendapatnya, untuk mendapatkan kesepakatan dan kebenran akan

pendapat tersebut, guru dapat meminta pendapat siwa lain

Contoh :

Siapa yang setuju dengan pendapat itu? Beri alasan

Anda yang tak setuju dengan pendapat tadi ? apa alasan anda ?

Bagaimana penndapat anda terhadap pendapatyang di ajukan

tadi

d. Meminta ketepatan jawaban

Teknik ini dapat digunakan guru jika jawaban yang diberikan

oleh siswa kurang tepat atau kurang sempurna. Pertanyaan pelacak

yang diberikan guru diharapkan dapat menutun siswa melengkapai

atau memperbaiki jawaban yang diberikan membuat siswa mejadi

malu

e. Meminta jawaban yang lebih relavan

Jika siswa memberikan jawaban yang kurang relavan dengan

pertanyaan guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak. Tujuan

(55)

kakan ketidak relevan jawaban , serat menuntun siswa untuk

memberikan jawaban yang lebh relevan

f. Meminta contoh

Teknik hampir sama dengan teknik meminta siswa

memberikan alasan, yaitu jika siswa memberikan jawaban yang

sama-sama tau terluas , guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak

untuk meminta siswa memberikan ilustrasi atau contoh konkret dari

jawaban.

g. Meminta jawaban yang lebih kompleks

Jika guru menganggap bahwa jawaban siswa masih dapat

dikembangkan menjadi jawaban yang lebih kompleks, guru dapat

mengajukan pertanyaan pelacak.

Pertanyaan pelacak bertujuan untuk membimbing siswa

berpikir lebih kritis dalam mengembangkan jawabannya.

4. Peningkatan terjadinya interaksi

Meningkatkan interaksi merupakan salah satu usaha untuk

meningkatkan keterlibatan siswa mental intelektual siswa secara

maksimal.

Dalam kaitan dengan keterampilan bertanya lanjut, peningkatan

terjadinya interaksi dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

Menghindari atau mengurangi pertanyaan yang hanya dijawab

oleh seorang siswa, sebagai gantinya siswa diminta

mendiskusikan jawaban pertanyaan tersebut dalam pasangan

atau kelompok kecil.

Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan sehingga guru

(56)

Jika siswa mengajukan pertanyaan, berikan kesempatan kepada

siswa lain untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga terjadi

interaksi antar siswa.

Dengan cara tersebut diatas, partisipasi siswa dalam kelas

dapat ditingkatkan.

2.5 Prinsip Penggunaan

Dalam menerapkan keterampilan bertanya, guru hendaknya

memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan atau hal-hal yang mempengaruhi

keefektifan pertanyaan sebagai berikut:

1. Kehangatan dan keantusiasan

Pertanyaan hendaknya diajukan dengan penuh kehangatan dan

keantusiasan karena hal ini akan mempengaruhi kesungguhan siswa

dalam menjawab pertanyaan.

2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan berikut:

a.Mengulangi pertanyaan sendiri

Mengulangi pertanyaan sendiri akan membuat siswa tidak

memperhatikan pertanyaan pertama, sehingga menurunkan perhatian

dan partisipasi siswa.

b. Mengulangi jawaban siswa

Mengulangi jawaban siswa yang bertujuan untuk memberikan

(57)

mengulangi jawaban siswa, maka siswa lain tidak akan mendengarkan

jawaban temannya karena akan diulang guru.

c. Menjawab pertanyaan sendiri

Guru cenderung menjawab sendiri pertanyaan kalau siswa tidak

ada yang memberikan jawaban. Kebiasaan ini tidak baik karena dapat

membuat siswa frustasi dan malas belajar.

d. Mengajukan jawaban yang memancing jawaban serentak

Sebagai suatu selingan, guru kadang-kadang mengajukan

pertanyaan yang memancing jawaban serentak sehingga kelas jadi

hidup. Namun kalau hal ini dibiasakan akan menurunkan fungsi

pertanyaan karena guru tidak tahu siapa yang menjawab dan siswa

malas berpikir karena guru tidak meminta jawaban perorangan. Untuk

menghindari kebiasaan ini, guru hendaknya menyusun pertanyaan

secara baik dengan tingkat kesukaran yang sesuai, sehingga siswa

tidak mungkin menjawabnya secara serentak.

e. Mengajukan pertanyaan ganda

Kadang-kadang guru cenderung mengajukan pertanyaan yang

menanyakan beberapa hal sehingga siswa harus melakukan beberapa

tugas dalam waktu yang singkat.

f. Menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan

Guru kadang-kadang cenderung menunjuk siswa tertentu untuk

menjawab pertanyaan yang akan diajukan. Hal ini sebaiknya dihindari

karena dapat membuat siswa lain tidak memperhatikan pertanyaan

(58)

menunggu sejenak, kemudian baru menunjuk siswa untuk

menjawabnya.

Memberikan waktu berfikir

Pada pertanyaan tingkat lanjut, waktu berpikir yang diberikan

hendaknya lebih lama dari waktu berpikir yang diberikan ketika

menerapkan keterampilan bertanya dasar.

Hal ini sangat perlu diperhatikan karena siswa memerlukan waktu

yang cukup untuk berpikir dan menyusun jawabannya.

4. Mempersiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan

Pertanyaan-pertanyaan pokok yang akan diajukan oleh guru

hendaknya disiapkan secara cermat sehingga urutan tingkat kesukaran

pertanyaan dapat disusun lebih dahulu, dan materi pelajaran dapat dicakup

secara tuntas.

5. Menilai pertanyaan yang telah diajukan

Pertanyaan-pertanyaan pokok hendaknya dinilai oleh guru setelah

pelajaran berlangsung, sehingga ketepatan jumlah pertanyaan, tingkat

kesukaran, kualitas pertanyaan dalam mengembangkan kemampuan

berpikir, dan cakupan materi dapat diketahui dengan jelas.

Dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan keterampilan

bertanya tersebut diatas, diharapkan guru akan mampu mengembangkan

kemampuan berpikir siswa serta meningkatkan keterlibatan mental

(59)

2.6 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberi Pertanyaan

Sebagai guru yang profesional sebaiknya guru tersebut harus

memperhatikan pertanyaan yang dia akan berikan. Berikut ini hal-hal yang harus

diperhatikan oleh guru yakni sebagai berikut:

1. Sebelum memberi pertanyaan hendaknya guru sudah mengetahui jawaban

yang dimaksud, sehingga jawaban yang menyimpang dari siswa akan

segera dapat diketahui dan diatasi.

2. Guru harus mengetahui pokok masalah yang ditanyakan dan memberi

pertanyaan sesuai dengan pokok yang dibahas.

3. Hendaknya guru memberi pertanyaan dengansikap hangat dan antusias

agar murid berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, maka guru harus

menunjukkan sikap yang baik diwaktu bertanya dan menerima jawaban

dari siswa. Ada beberapa sikap yang perlu diperhatikan guru dalam

bersikap diwaktu bertanya atau menerima jawaban.

a. Menunjukkan gaya, ekspresi wajah, posisi badan dan gerakan badan

yang baik dan tepat diwaktu memberi pertanyaan dan menerima

jawaban

b. Memberi penguatan bagi siswa yang menjawab dengan benar

c. Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab

pertanyaan dengan cara yang simpatik.

d. Apabila guru tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan

siswa hendaknya tidak langsung menjawab dengan berbelit-belit atau

menjawab dengan sekedarnya.

e. Menerima jawaban siswa dengan menggunakan sebagai tolak uraian

selanjutnya. Hal ini penting untuk mengaitkan bahan yang dibahas

(60)

4. Hendaknya guru menghindari beberapa kebiasaan yang tidak perlu, yang

bisa merugikan siswa dalam proses belajarnya.

2.7 Kelemahan dan Kelebihan dari Keterampilan Bertanya

Terdapat kelemahan dan kelebihan di dalam keterampilan bertanya yaitu:

1. Kelemahan, seperti:

mudah menjurus kepada hal yang tidak dibahas.

Bila guru kurang waspada pedebatan beralih kepada sentiment

pribadi.

Tidak semua anak mengerti dan bisa mengajukan pendapat.

2. Kelebihannya, seperti:

mempererat hubungan keilmuan antara guru dan siswa.

Melatih anak-anak mengeluarkan pendapatnya secara merdeka,

sehingga pelajaran akan lebih menarik.

(61)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

keterampilan bertanya adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru

kepada siswa ataupun dari siswa kepada guru untuk mengetahui suatu

jawaban baik dalam bentuk pertanyaan, perintah, ataupun pernyataan yang

berkaitan dengan lisan individu sehingga dapat mengetahui tingkat

pemikiran ataupun pemahaman individu masing-masing.

Adapun fungsi dari keterampilan bertanya antara lain:

1. Mendorong siswa untuk berpikir

2. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar

3. Merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan

4. Mendiagnosis kelemahan siswa

5. Memusatkan perhatian siswa pada satu masalah

6. Membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik

Selain itu adapula komponen yang harus kita ketahui di dalam

keterampilan bertanya yaitu:

1. Keterampilan bertanya dasar , yakni pertanyaan pertama dan pembuka

yang diajukan guru pada awal pertanyaan

2. Keterampilan bertanya lanjutan, yakni kelanjutan dari pertanyaan

dasar yang mengutamakan usaha mengembangkan keterampilan

berfikir, memperbesar partisipasi dan mendorong agar dapat

(62)

3.2 Saran

Sebagai seorang guru yang profesional kita harus memiliki kemampuan

untuk bertanya dengan siswa dan dapat mengarahkan apabila siswa bertanya

kepada kita sebagai seorang guru. ada beberapa hal yang harus diperhatikan

oleh guru agar para siswa nyaman untuk bertanya, diantaranya:

• guru harus menunjukkan keantusiasan dan kehangatan pada saat memberi

pertanyaan

• guru sebaiknya memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir agar

dapat memberikan jawaban yang tepat

• guru harus bisa mengatur lalu lintas bertanya agar seluruh siswa dapat

memahami jawaban yang akan disampaikan oleh temannya

• guru sebaiknya menghindari pertanyaan ganda yang dapat

(63)

DAFTAR PUSTAKA

Diktat Dasar Proses Pembelajaran Matematika I

Brown, George. Micro Teaching: A Programme of Teaching Skills. New York:

Metheuen Inc., 1984

Cole, G. Peter and Lorna K.S. Chan. Teaching Principles and Practice. New

York: Prentice Hall, 1990

Jacobsen, David, Paul Eggen and Donald Kauchak. Methods for Teaching: A

Skills Approach. Ohio: Merril Publishing Company, 1989

Wiryawan, Sri Anitah dan Noorhadi. Strategi Belajar Menagajar. Jakarta: UT,

1999

http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/16/ketrampilan-bertanya-dalam-kelas-509440.html

http://www.docstoc.com/docs/75370112/Keterampilan-bertanya

http://www.squidoo.com/keterampilan-dasar-mengajar

http://gurukita.guru-indonesia.net/artikel_detail-30362.html

(64)
(65)

BAB I

KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENGUATAN

1. 1.Keterampilan Memberikan Penguatan

Penguatan adalah suatu respons terhadap suatu perilaku yang dapat

meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku tersebut.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian keterampilan memberi

penguatan diantaranya adalah :

1. JJ. Hasibuan mendefinisikan memberikan penguatan diartikan dengan

tingkah laku guru dalam merespons secara positif suatu tingkah laku

tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.

2. Moh Uzer Usman menerangkan arti keterampilan memberi penguatan

(reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal

ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku

guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan

informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima (siswa) atas

perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau

penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat

meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut”.

3. Made Pidarta menyebutkan bahwa keterampilan memberi penguatan

adalah “Penguatan terhadap individu-individu sehingga dia konsisten

dengan tingkah lakunya yang sudah baik serta meningkatkannya menjadi

(66)

4. A. Mursal dan H.M. Taher menjelaskan bahwa keterampilan memberi

penguatan adalah “Suatu alat pendidikan yang diberikan kepada murid

sebagai imbalan terhadap prestasi belajar yang dicapai”.

5. Sudirman menerangkan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah

“Alat pendidikan refresif yang menyenangkan untuk membina tingkah

laku yang dikehendaki dengan memberikan pujian, hadiah, tanda

penghargaan, pemberian kesempatan untuk melakukan aktivitas yang

disenangi oleh siswa”.

6. Toenlioe mengemukakan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah

“Pemberian respon terhadap suatu tingkah laku dengan maksud untuk

mendorong berulang kembalinya tingkah laku yang direspon tersebut”.

Menurut Burhus Frederic Skinner tahun 1990 menyatakan bahwa

ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses

belajar.

Skinner menyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif

dan negatif. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan

tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak yang melakukan

pengulanggan perilakunya itu, contohnya pujian. Sebaliknya jika respon siswa

kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pembelajaran,

harus segera diberi penguatan negatif agar respon tersebut tidak di ulangi lagi

dan berubah menjadi respon yang sifatnya positif contohnya teguran, peringatan

atau sanksi.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian

bahwa keterampilan memberi penguatan merupakan suatu alat pendidikan yang

menyenangkan berupa pujian, hadiah dan tanda penghargaan yang bertujuan

untuk memperkuat tingkah laku anak didik yang sudah baik, sukses dalam

Referensi

Dokumen terkait

Tugas guru tidak sebatas melaksanakan kegiatan belajar mengajar, namun sebagai guru kelas atau guru mata pelajaran harus melaksanakan tugas lain seperti kebersihan

siswa dilaksanakan secara mandiri, di manapun dan kapanpun dia sempat. Sekolah ini pun tidak memerlukan guru tersendiri karena dapat memanfaatkan guru dari sekolah

melakukan koordinasi dengan guru mengenai penggunaan ruang kelas bila memungkinkan menghubungkan antara konten pelajaran dengan situasi nyata sesuai kehidupan siswa,

Berdasarkan analisis terhadap data hasil penelitian di SDN 17 Laman Tanjung khususnya kelas VI pada mata pelajaran IPS dengan penggunaan metode cooperative learning tipe

Metode penugasan adalah cara dimana murid melakukan kegiatan pembelajaran dan guru bertugas menyajikan bahan pelajaran. Kemudian tugas yang diberikan oleh guru

a) Melakukan studi literatur mengenai Pendekatan keterampilan proses b) Melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kelas V di SDN 13 Mempawah Timur

(KBBI, 1997:652) Metode mengajar ialah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada pelajaran; cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan

Langkah-langkah metode Role Playing sebagai berikut : guru mengemukakan tujuan pembelajaran, guru menyampaikan tugas-tugas yang harus dilaksanakan siswa dalam role playing,