KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan petunjuk, bimbingan dan kekuatan lahir dan batin sehingga diktat Dasar Proses Pembelajaran Matematika 1 ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa kami haturkan pada junjungan kita Nabi Muhamad SAW beserta keluarganya.
Diktat ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Dasar Proses Pembelajaran Matematika 1 yang dibimbing oleh ibu Dra.Hj.Jumroh,M.Pd. Diktat ini dibuat sebagai referensi untuk diskusi berkelompok.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan diktat ini sebagai karya yang baik, namun kami menyadari masih banyak kekurangan serta kesalahan dalam pembuatan dan penulisannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi peningkatan pembuatan diktat dimasa yang akan datang.
Akhirnya, semoga diktat ini bermanfaat bagi kita semua.
Palembang, Mei 2013
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...
Daftar Isi ...
Tujuan Pengajaran Berkaitan Dengan Konsep ...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Rumusan Masalah ...
1.3 Tujuan Masalah ...
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tujuan Pembelajaran ...
2.1.1 Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Nasional ...
2.1.2 Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan ...
2.1.3 Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Materi Di Sekolah ...
2.2 Fakta,Konsep,Prinsip,Skill Dan Pemecahan Masalah Matematika ...
2.2.1 Fakta ...
2.2.2 Konsep ...
2.2.3 Prinsip ...
2.2.4 Skill ...
2.2.5 Problem Solving(Pemecahan Masalah) ...
Soal Latihan Dan Penyelesaian ...
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...
Daftar Pustaka ...
Keterampilan Bertanya ...
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Rumusan Masalah ...
1.3 Tujuan Masalah ...
BAB II PEMBAHASAN
2.1Definisi Keterampilan Bertanya ... 2.2Fungsi dan Tujuan Ketrampilan Bertanya ... 2.3Jenis – Jenis Pertanyaan ... 2.4Komponen – Komponen Ketrampilan Bertanya ... 2.5Prinsip Penggunaan ... 2.6Hal- Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberi Pertanyaan ... 2.7Kelemahan dan Kelebihan dari Keterampilan Bertanya ... BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ... 3.2 Saran ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Memberikan Dan Mengadakan Variasi ...
BAB I KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENGUATAN
1.1Keterampilan Memberikan Penguatan ... 1.2Manfaat penguatan ... 1.3Komponen - Komponen Keterampilan Memberi Penguatan ... 1.4Prinsip-prinsip Keterampilan Memberi Penguatan ... BAB II KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI
2.1. Pengertian Variasi ... 2.2Komponen-komponen dalam keterampilan mengadakan variasi ... 2.3Prinsip - Prinsip penggunaan variasi ... 2.4Manfaat Variasi Gaya Mengajar ... BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan ... 3.2. Saran ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Membuka Dan Menutup Pelajaran ... BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang ... 1.2Tujuan ... 1.3Rumusan Masalah ... BAB II PEMBAHASAN
2.3 Komponen-komponen Membuka dan Menutup Pelajaran ... 2.3.1 Komponen-komponen Membuka Pelajaran ... 2.3.2 Komponen-komponen Menutup Pelajaran... BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Menjelaskan ... BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan ... BAB II PEMBAHASAN
2.1Pengertian Keterampilan Menjelaskan ... 2.2Komponen Keterampilan Menjelaskan ... 2.3Prinsip Keterampilan Menjelaskan ... 2.4Fungsi Mempelajari Keterampilan Menjelaskan ... 2.5Penerapan Keterampilan Menjelaskan ... BAB III PENUTUP
3.1Kesimpulan ... 3.2Saran ... Daftar Pustaka ... Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil ... BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang ... 1.2Rumusan Masalah ... BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Diskusi Kelompok Kecil ... 2.2 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Diskusi Kelompok kecil ... BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ... Daftar Pustaka ... Pengajaran Remidial Dan Pengelolahan Kelas ... BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan ... BAB II PEMBAHASAN
2.1.6 Perbedaan Pengajaran Remidial Dari Pengajaran Biasa ... 2.1.7 Pendekatan Dalam Kegiatan Remidial ... 2.2 Pengelolaan Kelas ... 2.2.1 Pengertian Pengelolaan Kelas ... 2.2.2 Pentingnya Pengelolaan Kelas Dalam Proses Pembelajaran ... 2.2.3 Perbedaan Pengelolaan Kelas Dari Pembelajaran ... BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ... 3.2 Saran ... Daftar Pustaka ... Macam-Macam Metode Mengajar Matematika ... BAB I PENDAHULUAN
2.1.2 Metode Inkuiri Dalam Pembelajaran Matematika ...
2.1.3 Tujuan Pembelajaran Inkuiri ...
2.1.4 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Penerapan Metode Inkuiri ...
2.1.5 Prosedur Pelaksanaan Metode Inkuiri ...
2.16 Kelebihan Dan Kekurangan Metode Inkuiri ...
2.1.7 Penerapan Metode Inkuiri Dalam Meningkatkan Kemampuan ...
2.2 Metode Drill ...
2.2.1 Pengertian Metode Drill ...
2.2.2 Macam-Macam Metode Drill ...
2.2.3 Tujuan Penggunaan Metode Drill ...
2.2.4 Syarat-Syarat Dalam metode Drill ...
2.2.5 Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill ...
2.2.6 Keuntungan Atau Kebaiakan Metode Drill ...
2.2.8 Langkah-Langkah Metode Drill ...
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...
3.2 Saran ...
Daftar Pustaka ...
Metode Permainan Dan Metode Pemberian Tugas ...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Rumusan Masalah ...
1.3 Tujuan ...
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Metode Permainan ...
2.1.1 Kelebihan Metode Permainan ...
2.1.2 Kelemahan Metode Permainan ...
2.2 Definisi Metode Pemberian Tugas ...
2.2.1 Tujuan Dan Hal Yang Harus Diperhatikan ...
2.2.2 Kelebihan Metode Pemberian Tugas ...
2.2.3 Kelemahan Metode Pemberian Tugas ...
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...
3.2 Saran ...
Daftra Pustaka ...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu ilmu yang universal dan menjadi dasar
bagi pengembangan ilmu pengetahuan lainnya. Sebagai ilmu yang universal,
matematika mendapatkan tempat yang strategis dalam struktur kurikulum
pendidikan di tanah air, utamanya pada pendidikan dasar dan menengah,
yakni sebagai mata pelajaran wajib dalam kelompok mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (PP 19 tahun 2005, pasal 7, ayat 4).
Sebagai salah satu mata pelajaran dalam rumpun tersebut, mata pelajaran
matematika bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar berguna untuk
membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas,
2006:345).
Mencapai kebergunaan tersebut, maka ditetapkan rumusan tujuan
pembelajaran matematika yang lebih rinci, yaitu agar peserta didik memiliki
kemampuan:
(1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep
dan mengaplikasikan konsep/algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah,
(2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau
(3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah,merancang model matematika,menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh,
(4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media
lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
(5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
(Depdiknas, 2006:346).
Setiap tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran matematika
pada dasarnya untuk melatih siswa agar dapat memecahkan suatu masalah
atau berupa soal dalam pembelajaran matematika.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka dalam makalah ini kami akan
membahas tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan
fakta,konsep, prinsip, skill dan pemecahan masalah matematika.
1.2 Rumusan Masalah
• Apa saja tujuan pembelajaran Matematika?
• Apa saja pembelajaran matematika yang harus dialami oleh siswa?
• Apa perbedaan Fakta, konsep, prinsip, dan skill ?
1.3 Tujuan Masalah
• Dapat memahami apa sebenarnya tujuan pembelajarn matematika
• Agar mengetahui apa saja pembelajaran matematika yang harus dialami oleh siswa?
• Dapat membedakan Fakta, Konsep, Prinsip, dan Skill?
BAB II
TUJUAN-TUJUAN PEMBELAJARAN YANG
BERKAITAN DENGAN FAKTA, KONSEP, PRINSIP KETERAMPILAN DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DAN CARA
MENGAJARKANNYA
2.1 TUJUAN-TUJUAN PEMBELAJARAN
2.1.1 FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
Berdasarkan pada Bab II pasal 3 UU RI No.20/2003 tentang Sisdiknas:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan memmbentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tughan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
2.1.2 TUJUAN PENDIDIKAN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
1) TUJUAN PENDIDIKAN DASAR
2) TUJUAN PENDIDIKAN MENENGAH
Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3) TUJUAN PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
2.1.3 FUNSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DI
SEKOLAH
Tujuan Umum Pendidikan Matematika ditekankan kepada siswa untuk
memiliki:
1) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat
digunakan dalam memecahkan masalah:
a. Dalam Matematika itu sendiri.Contoh : dalam menyelesaikan
soal-soal Matematika dan mengembangkan konsep dan prinsip dalam
matematika.
b. Dalam pelajaran lain, seperti fisika, kimia, ekonomi, teknologi, dan
sebagainya.
c. Kehidupan nyata sehari-hari seperti jual beli, pertukangan, dan
sebagainya.
2) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi,orang
dapat menyampaikan informasi dengan bahasa Matematika, misalnya
men yajikan masalah kedalam model matematika hyang dapat berupa
Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa matematika justru lebih
praktis, sistematis,dan efisian. Begitu pentingnys matematika sehingga
bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa yang digunakan
masyarakat.
3) Keampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang
dapat digunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir
logis, berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat
disiplin dalam memandang menyelesaikan masalah.
2.2 FAKTA, KONSEP, PRINSIP, SKILL DAN PEMECAHAN
MASALAH MATEMATIKA SERTA CARA MENGAJARKANNYA
Pembelajaran matematika yang harus dialami siswa digolongkan menjadi
4 kategori, yaitu fakta,konsep, prinsip, dan skill.
2.2.1 FAKTA
Fakta adalah suatu pemufakatan atau konvensi sembarang dalam
matematika Contoh : Lambang-lambang dalam hukum-hukum
matematika atau istilah-istilah/nama-nama dalam matematika seperti : 2,
+, , , , dan lain-lain.
Cara pembelajaran fakta dapat dengan berbagai tekhnik yaitu:
• Informasi
• Menghafal
• Drill
• Peragaan
• dll
Siswa dikatakan telah mempelajari dan menguasai fakta bila ia dapat
menuliskan fakta itu dan menggunakannya dengan tepat dalam
2.2.2 KONSEP
Konsep dalam matematika adalah pengertian abstrak dari suatu objek
atau kejadian baik konkret maupun abstrak. Dari pengertian tersebut
memungkinkan kita dapat mengelompokan (mengklasifikasikan) objek
atau kejadian itu adalah contoh atau bukan contoh dari pengertian
tersebut.
Contoh : Konsep Himpunan, konsep persamaan, konsep fungsi, konsep
segitiga siku-siku, konsep matriks, dan sebagainya.
Bagaimana siswa mempelajari konsep ?
Dalam mempelajari konsep seorang siswa memerlukan kondisi internal
dan kondisi eksternal.
1) Kondisi internal adalah kondisi yang ada dalam diri siswa berupa pola
pengembangan mental yang memungkinkan dirinya merasakn
(feeling), dan dapat menggunakan konsep tersebut untuk dapat
mengenal/membedakan dari yang lain.
2) Kondisi eksternal adalah kondisi yang diciptakan / diarahkan oleh
guru.
Dalam mempelajari suatu konsep seorang siswa melalui proses:
1) Persepsi(tanggapan) yaitu tanggapan baru dengan bantuan tanggapan
yang telah ada. Siswa mendapat kesempatan untuk menghubungkan
pengertian lama dengan pengetahuan baru.
2) Abstraksi yaitu daya (kesanggupan) untuk memperoleh suatu
3) Generalisasi yaitu penggunaan pengertian yang dimiliki, pada hal yang
lain (pengertian yang berlaku secara umum).
Berikut ini adalah skema tentang proses pemahaman konsep oleh siswa:
Cara / pendekatan dasardalam pembelajaran konsep.
Sebelum pembelajaran suatu konsep dimulai hendaklah diyakini terlebih dahulu
bahwa siswa telah memiliki pengetahuan prasyarat.
Contoh: sebelum mempelajari konsep fungsi,hendaknya siswa telah memahami konsep relasi/pemetaan.
Adapun pendekatannya yang dapat dilakukan adalah:
a. Dengan menanyakan kepada siswa untuk menunjukkan mana dari contoh-contoh yang diberikan termasuk konsep mana yang bukan konsep yang
dimaksud.
PERSEPSI PENGALAMAN HAL KONKRIT
HAL KONKRIT
HAL KONKRIT
HAL KONKRIT Lama Baru
Disusun abstraksi
PENGERTIAN
b. Pendekatan Deduktif, yaitu pendekatan yang dimulai dari defenisiyang diikuti dengan
contoh-contoh.
c. Pendekatan Induktif, yaitu pendekatan yang dimulai dari contoh-contoh
Defenisi
Contoh Contoh Contoh
Defenisi
d. Pendekatan Gabungan induktif dengan deduktif.
Untuk Memilih pendekatan b,c,atau d perlu dipikirkan pertimbangan mengenai
waktu dan hasil berikut:
Pertimbangan
pilihan
Deduktif Induktif
Waktu
Hasil
Waktu terbatas
Daya ingat tidak
lama
Memerlukan Waktu
banyak
Daya ingat lama
Contoh Contoh Contoh Contoh Contoh Contoh
Defenisi
Berikut contoh Pembelajaran konsep sector lingkaran (juring lingkaran)
Diberikan pasangan contoh dan bukan contoh
Contoh contoh contoh
bukan contoh bukan contoh bukan contoh
2.2.3 PRINSIP
Di dalam matematika prinsip/kaidah adalah terdiri dari beberapa
konsep bersama-sama dengan hubungan antara konsep-konsep tersebut.
Jadi, prinsip didefenisikan sebagai pola hubungan fungsional antara
konsep-konsep.Prinsip biasa disebut hukum, dalil, maupun teorema.
Hukum,dalil atau teorema tersebut dapat disajikan dalam bentuk rumus
atau dengan pernyataaan verbal.
Contoh :
• Dua segitiga kongruen, jika dua sisi dan sudut apitnya sama
• Jumlah sudut-sudut dalam suatu segitiga = 1800
• Dalam setiap segitiga ABC berlaku aturan sinus ;
C
Suatu prinsip yang merupakan hubungan fungsional dari
konsep-konsep akan memungkinkan kita untuk:
Meramalkan akiba-akibat
Merangkan peristiwa-peristiwa
Membuat kesimpulan-kesimpulan
Memecahkan masalah (problem solving)
Cara mengajarkan prinsip: Pemantapan pengetahuan prasyarat,kemudian
melalui proses penemuan terbimbing,diskusi kelompok,pemecahan masalah.
Pengujian pemahaman prinsip:
Siswa telah memahami prinsip, jika ia dapat mengenal konsep-konsep yang
ada dalam prinsip itu, meletakkan kosep-konsep itu dalam hubungannya satu
sama lain secara benar dan menggunakannya pada situasi tertentu.
Sebagai contoh.mRumus dalil Pytagoras dalam segitiga siku-siku
c
b a
Kemungkinan-kemungkinan kemampuan siswa:
Yang hanya ingat rumus ini, berarti baru menguasai fakta
Yang dapat mengklasifikasikan a sebagai sisi miring dan b,c sebagai sisi
siku-siku, berarti telah menguasai konsep
Yang dapat menggunakan rumus, mensubtitusikan panjang sisi segitiga yang
diketahui kedalam rumus tersebut lalu mencari penyelesainnya, berarti siswa
telah menguasai skill
Yang dapat membuktikan atau menemukan dalil pytagoras tersebut serta
menerapkannya dalam masalah-masalah berbeda, dikatakan siswa telah
menguasai prinsip.
2.2.4 SKILL
Skill adalah keterampilan untuk menjalankan prosedur(algoritma) dalam
menyelesaikan masalah. Skill merupakan pola yang kompleks dari aktivitas
yang memerlukan manipulasi dan koordinasi bahan-bahan pelajaran tesebut.
Skill dapat digolongkan kedalam dua jenis yaitu psikomotor dan intelektual.
Contoh:
• Mengendarai sepeda motor, memotong kaca, menggunakan alat-alat komputasi(computer,kalkulator), alat-alat matematika, jangka, mistar untuk
melukis bangun-bangun geometri, dan sebagainya adalah keterampilan
psikomotorik
• Menyelasikan soal-soal statistic, soal-soal persamaan kuadrat, mencari invers fingsi, dan lain-lain adalah keterampilan intelektual.
Cara pembelajaran skil:
Pengembangan penguasaan skill ( mental skill) betul-betul diperlukan tetapi
skill tersebut harus berlandaskan pengertian dan tidak hanya penghafalan
Beberapa saran pembelajaran skill:
a) Kembangkan pengertiannya lebih dahulu sebelum skill
b)Hindarkan drill rutin yang mengarah kepada mekanis
c) Hindarkan pemberian drill yang sama karena akan membuat bosan, adakan
variasi
d)Beri dorongan dan hadiah untuk suatu originalitas
e) Gunakan ide-ide geometri, untuk memantapkan skill dalam aljabar, atau
dengan ide flow chart ( diagram alur) untuk siswa yang lambat.
f) Kaitkan skil baru dengan skill yang telah dipelajari sebelumnya.
g)Betulkan segera jikaada kesalahan dasar
h)Bangkitkan minat ingin tahu ( antusias) dengan pertannyan-pertannyaan yang
menantang
i) Hendaknya sering memberikan soal-soal terbuka sehingga siswa dapat
mendapatkan kesempatan menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan
suatu soal.
2.2.5 PROBLEM SOLVING (Pemecahan Masalah)
Pemecahan masalah adalah petunjuk untuk melakukan suatu tindakan
yang berfungsi untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan suatu
permasalahan (Made Wena, 2011: 60). Berkaitan dengan kemampuan
pemecahan masalah, Polya (dalam Sudarmin Usman, 2007: 343)
mendefinisikan Pemecahan Masalah sebagai usaha mencari jalan keluar dari
suatu kesulitan, mencapai suatu tujuan yang tidak dengan segera dapat
dicapai.
Suatu situasi menjadi masalah bagi seseorang jika ia sadar akan situasi
perlu bertindak dan melakukan tindakan, dan juga situasi itu belum segera
dapat diselesaikan
Siswa menghadapi masalah bila siswa mencari penyelesaian, dan belum
ada jalan yang jelas untuk sam[pai ke penyelesaiannya, Suatu soal termasuk
masalah atau tidak tergantung latar belakang siswa.
Belajar memecahkan masalah adalah belajar penuh makna.Dengan
memecahkan masalah siswa belajar mentransfer konsep dan prinsip
matematika ke situasi baru (baik matematika maupun bukan
mateatika).Pemecahan masalah menimbulkan motivasi.
Krulik dan Rudnik (1995, Lidinillah, 2008) mengenalkan lima tahapan
pemecahan masalah yang dikhususkan bagi anak sekolah dasar, yang disebut
sebagai heuristic, yakni langkah pemecahan masalah tanpa harus berurutan.
Lima langkah tersebut adalah:
1. Read and Think, yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta,
mengidentifikasi fakta, pertanyaan, memvisualisasi situasi, menjelaskan
setting, dan menentukan tindakan selanjutnya.
2. Explore and Plan, yang meliputi kegiatan mengorganisasikan informasi,
mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan, mencari apakah
ada informasi yang tidak diperlukan, menggambar/mengilustrasikan
model masalah, dan membuat diagram, table, atau gambar.
3. Select a strategy, yang meliputi kegiatan menemukan/membuat pola,
bekerja mundur, coba dan kerjakan, simulasi atau eksperimen,
penyederanaan atau ekspansi, membuat daftar berurutan, deduksi logis,
dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah
4. Find an Answer, yang meliputi kegitan memprediksi, menggunakan kemampuan berhitung, menggunakan kemampuan aljabar, menggunakan
kemampuan geometris, dan menggunakan kalkulator jika diperlukan.
5. Reflect and Extend, yakni memeriksa kembali jawaban, menentukan solusi
alternative, mengembangkan jawaban pada situasi lain.
Langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah:
1) Memahami pokok permasalahan
2) Mendiskusikan alternatif pemecahannya
3) Memecahkan persoalan utam menjadi bagian-bagian kecil
4) Menyederhanakan persoalan
5) Menggunakan pengalaman masalah lampau
6) Mencoba berbagai cara, bekerja secara sistematis, mencatat apa yang
terjadi, mengecek hasilnya dengan mengulangi kembali
langkah-langkahnya.
7) Mencoba memahami dan menyelesaikan persoalan yang lain,
PETUNJUK PEMECAHAN
MEMAHAMI MASALAH
• Baca dan pelajari permasalahannya
• Tentukan apa yang ingin anda coba dapatkan
SOAL-SOAL LATIHAN DAN
PENYELESAIANNYA
1. SOAL GABUNGAN UNTUK FAKTA,KONSEP,PRINSIP,DAN SKILL
Diketahui persamaan lingkaran x2 + y2 + 4x - 6y – 12 = 0
Tentukan titik pusat dan jari-jarinya !
Penyelesaian:
• Tebak dan periksa
• Tuliskan dalam kalimat
• Gunakan alasan logika
• Kerjakan kembali dari awal
• Sket sebuah gambar
• Buat dan tata terorganisir
• Buat sebiah tabel
48
Jadi, lingkaran tersebut berpusat di P(-2,3) dan berjari-jari 5.
Bukti kemampuan siswaterhadap soal tersebut:
• Bagi anak yang hanya mengingat persamaan tersebut adalah persamaan lingkaran, berarti anak baru menguasai fakta
• Jika anak itu dapat memahami persamaan lingkaran itu yang mana nilai A,B,dan C serta P adalah titik pusat dan r adalah jari-jari, serta memahami
yang mana untuk mencari titik pusat dan jari-jari, berarti anak tersebut
sudah memahami konsep.
• Jika anak tersebut sudah dapat menggunakan rumus, dan mensubtitusikan nilai A,B dan C ke dalam rumus serta mengoperasikan sehingga
memperoleh titik pusat dan jari-jarinya, maka anak tersebut sudah
menguasai skill
• Dan apabila anak sudah dapat membuktikan hasil jawabannya dengan gambar,maka anak tersebut sudah memahami prinsip.
2. SOAL TINGKAT SMA
Harga 2 kg buah mangga, 2 kg buah jeruk, dan 1 kg buah anggur adalah
Rp70.000,00, dan harga 1 kg buah mangga, 2 kg buah jeruk, dan 2 kg buah
anggur adalah Rp90.000,00. Jika harga 2 kg buah mangga, 2 kg buah jeruk,
dan 3 kg buah anggur adalah Rp130.000,00. maka harga buah mangga, buah
jeruk, dan buah anggur masing-masing per kg nya adalah…….
Misalkan: banyaknya buah mangga per kg adalah x
banyaknya buah jeruk per kg nya adalah y
banyaknya buah anggur per kgnya adalah z
2x + 2y + z = 70.000 ……..(1)
x + 2y + 2z = 90.000 ……..(2)
2x + 2y + 3z = 130.000 ……..(3)
Eliminasi persamaan (1) dan (2)
2x + 2y + z = 70.000
x + 2y + 2z = 90.000
x – z = – 20.000……….(4)
Eliminasi persamaan (2) dan (3)
x + 2y + 2z = 90.000
2x + 2y + 3z = 130.000
– x – z = – 40.000……(5)
Eliminasi persamaan (4) dan (5)
x – z = – 20.000
– x – z = – 40.000
x = 10.000
Subtitusikan x = 10.000 ke persamaan (4) maka diperoleh nilai z
x – z = – 20.000
(10.000) – z = – 20.000
z = 30.000
Subtitusikan nilai x dan z ke persamaan (1) maka diperoleh nilai y
2x + 2y + z = 70.000
Jadi, harga buah mangga per kg nya adalah Rp10.000,00, harga buah jeruk per
kg nya adalah Rp10.000,00 dan harga buah anggur per kg nya adalah
Rp30.000,00
3. SOAL TINGKAT SMP
)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tujuan Umum Pendidikan Matematika ditekankan kepada siswa untuk
memiliki:
1) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
2) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi,orang dapat menyampaikan informasi dengan bahasa Matematika
3) Keampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat digunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis,
berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam
memandang menyelesaikan masalah.
Pembelajaran matematika yang harus dialami siswa digolongkan menjadi 4
kategori, yaitu fakta,konsep, prinsip, dan skill.
Fakta adalah suatu pemufakatan atau konvensi sembarang dalam
matematika. Konsep dalam matematika adalah pengertian abstrak dari suatu
objek atau kejadian baik konkret maupun abstrak.
Prinsip didefenisikan sebagai pola hubungan fungsional antara
konsep-konsep.
Skilladalah keterampilan untuk menjalankan prosedur(algoritma) dalam
menyelesaikan masalah.
Langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah:
2) Mendiskusikan alternatif pemecahannya
3) Memecahkan persoalan utam menjadi bagian-bagian kecil
4) Menyederhanakan persoalan
5) Menggunakan pengalaman masalah lampau
6) Mencoba berbagai cara, bekerja secara sistematis, mencatat apa yang
terjadi, mengecek hasilnya dengan mengulangi kembali
langkah-langkahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Nyimas, dkk., 2007.Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar (dalam
Paket Bahan Ajar Unit 5 oleh Konsorsium Pendidikan Jarak Jauh S1
PGSD)
Branca, N.A (1980). Problem Solving as a Goal, Process and Basic Skill. Dalam
Krulik,S dan Reys,R.E (ed). Problem Solving in School Mathematics.
NCTM: Reston. Virginia
Hastuti, Sri. 1996/1997. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Dirjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D III.
Ruseffendi,E.T (1991a). Pengantar kepada Membantu Guru Mengem-bangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Sehatta, Seragih., 2007. Pengembangan Progam Pengajaran Matematika.
Pekanbaru : Cendekia Insani.
Soleh,M (1998). Pokok-Pokok Pengajaran Matematika Sekolah. Jakarta:
Depdikbud
Sujono (1988). Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta:
Proyek Pengembangan LPTK, Depdikbud
Sumarmo,U, Dedy, E dan Rahmat (1994). Suatu Alternatif Pengajaran untuk
Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Usman, Sudarmin., 2007. Strategi Pemecahan Masalah Dalam Penyelesaian
Soal Cerita Di Sekolah Dasar, ( dalam Jurnal Samudra Ilmu, Volume 2 Nomor 2 oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang)
http://madfirdaus.wordpress.com/2009/11/23/kemampuan-pemecahan-masalah-matematika/
http://p4tkmatematika.org/file/problemsolving/TahapanMemecahkanMasalah.pd
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Keterampilan bertanya dalam proses belajar mengajar berpengaruh
terhadap tingkat keberhasilan proses belajar. Teknik belajar yang terlalu
monoton dan tidak memiliki variasi akan membentuk suasana yang
membosankan sehingga peserta didik tidak tertarik dalam mengikuti
pelajaran. Maka untuk menciptakan kehidupan interaksi belajar mengajar
yang efektif, Guru perlu menimbulkan adanya dialog atau tanya jawab.
Dialog antara Guru dan peserta didik akan menciptakan interaksi
belajar yang lebih efektif dan akrab. Adanya tanya jawab yang dilakukan
secara kelompok atau secara individu diharapkan akan membentuk suasana
belajar yang menyenangkan. Dengan adanya tanya jawab akan memberi
motivasi tersendiri kepada peserta didik agar membangkitkan pemikiran dan
cara pandang yang luas terhadap materi yang sedang dipelajari di dalam
kelas. Selain itu adanya tanya jawab dapat terlihat bahwa sejauh mana
peserta didik memahami materi yang sedang didiskusikan.
Selama pelajaran berlangsung, siswa ikut serta secara aktif dalam
pembahasan materi yang diberikan oleh Guru. Pertanyaan yang berkaitan
dengan isi pelajaran atau juga pengalaman yang dihayati dengan tanya jawab
itu, pelajaran akan lebih mendalam dan meluas. Adanya teknik tanya jawab
yang dilakukan oleh guru bertujuan agar siswa dapat mengerti, atau
mengingat terhadap fakta-fakta yang dipelajari, didengar ataupun dibaca,
sehingga memiliki pemahaman yang mendalam terhadap fakta tersebut.
Dengan adanya tanya jawab diharapkan dapat menjelaskan
masalah sehingga dapat menjawab soal atau masalah dengan benar dan
tepat. Penggunaan teknik tanya jawab juga dilakukan oleh guru guna
meneliti sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi atau masalah yang
dihadapi.
Pada hakikatnya melalui bertanya kita akan mengetahui dan
mendapatkan informasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui. Dikaitkan
dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan
siswa, antara siswa ini menunjukan adanya interaksi di kelas yang dinamis
dan multi arah. Keterampilan bertanya ini mutlak harus dikuasai oleh guru
baik itu guru pemula maupun yang sudah profesional karena dengan
mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan
balik dari materi serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta.
Pertanyaan yang baik memiliki kriteria-kriteria khusus seperti: jelas,
informasi yang lengkap, terfokus pada satu masalah, berikan waktu yang
cukup, sebarkan terlebih dahulu pertanyaan kepada seluruh siswa, berikan
respon yang menyenangkan sesegera mungkin dan yang terakhir tuntunlah
jawaban siswa sampai ia menemukan jawaban sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah di makalah ini sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari keterampilan bertanya ?
2. Apa saja fungsi dan tujuan ketrampilan bertanya?
3. Apa sajakah jenis - jenis pertanyaan?
4. Apa saja komponen-komponen ketrampilan bertanya?
5. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam memberi pertanyaan?
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1. Untuk mengetahui pengertian dari keterampilan bertanya
2. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan ketrampilan bertanya
3. Untuk mengetahui jenis-jenis pertanyaan
4. Untuk mengetahui komponen – komponen ketrampilan bertanya
5. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Keterampilan Bertanya
G.A. Brown dan R. Edmondson (1984) mengemukakan definisi
pertanyaan yaitu, “segala pernyataan yang meninginkan tanggapan verbal
(lisan).
Ketrampilan bertanya menurut marno (2008 : 115) adalah suatu
pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya guru dalam pegajaranya selalu
melibatkan/menggunakan tanya jawab. Pertanyaan tidak selalu dalam kalimat
tanya, tetapi juga bisa dalam bentuk kalimat perintah atau kalimat pertanyaan.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa keterampilan bertanya adalah suatu
proses yang dilakukan oleh guru kepada siswa ataupun dari siswa kepada guru
untuk mengetahui suatu jawaban baik dalam bentuk pertanyaan, perintah,
ataupun pernyataan yang berkaitan dengan lisan individu sehingga dapat
mengetahui tingkat pemikiran ataupun pemahaman individu masing-masing.
2.2 Fungsi dan Tujuan dari Keterampilan Bertanya
Didalam proses belajar mengajar keterampilan bertanya diperlukan untuk
mengukur kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran. Adapun fungsi
dari keterampilan bertanya antara lain:
1. Mendorong siswa untuk berpikir
2. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar
4. Mendiagnosis kelemahan siswa
5. Memusatkan perhatian siswa pada satu masalah
6. Membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik
Disamping fungsi, adapula tujuan dari keterampilan bertanya, yaitu:
1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap suatu
masalah yang sedang dibicarakan. Dengan memberikan pertanyaan
kita akan dapat menarik minat peserta didik dalam perkuliahan.
Terlebih jika pertanyaan yang kita berikan tidak sembarangan, alias
memerlukan pemikiran dan renungan mendalam karena cukup pelik
dan tidak dapat dilihat secara hitam putih. Untuk memancing rasa
ingin tahu peserta didik kita perlu memilih pertanyaan terkait dengan
isu-isu baru yang lagi trending topik dan sesuai dengan dunia peserta
didik.
2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan
informasi. Dengan kita memberikan pertanyaan sebenarnya menuntut
peserta didik merenungkan kembali informasi dan pengetahuan yang
telah diperoleh. Dengan pertanyaan kita dapat melatih peserta didik
melakukan proses seleksi pengethuan untuk menjawab persoalan yang
kita ajukan.
3. Menguji dan mengukur hasil belajar. Tujuan terakhir dari keterampilan
bertanya adalah untuk menguji dan mengukir hasil belajar. Ini berarti
kegiatan bertanya dikaitkan dengan tujuan pembelajaran apakah sudah
tercapai ataukah belum.
Keterampilan bertanya di dalam proses belajar mengajar banyak
jenis-jenisnya, diantaranya:
a. Jenis pertanyaan menurut maksudnya
1. Pertanyaan permintaan (compliance question)
Pertanyaan permintaan (compliance question), yakni pertanyaan yang
mengharapkan agar siswa mematuhi perintah yang diucapkan dalam
bentuk pertanyaan.
Contoh:
o Dapatkah kamu tenang agar suara bapak dapat didengar oleh kalian?
o Dapatkah kamu menutupkan jendela-jendela itu agar suasana kelas
tidak terganggu dengan kebisingan dari kelas sebelah?
o Dapatkah kamu membuat jarring-jaring kubus tanpa tutup?
2. Pertanyaan retoris (rhetorical question)
Pertanyaan retoris (rhetorical question), yaitu pertanyaan yang tidak
menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru. Hal ini
merupakan teknik penyampaian informasi kepada murid..
Contoh:
• Mengapa observasi diperlukan sebelum melaksanakan PPL? Sebab
observasi merupakan masukkan bagi calon guru yang sedang PPL.
• Mengapa Foramenifora digolongkan phylum Protozoa? Sebab
tubuhnya hanya terdiri satu sel.
• Mengapa kuadrat bilangan kompleks selain nol tidak positif? Sebab
3. Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question,)
Pertanyaan menuntun (prompting question), yaitu pertanyaan yang
diajukan untuk menuntun dalam proses berpikirnya. Hal ini dilakukan
apabila guru menghendaki agar siswa memperhatikan dengan saksama
bagian tertentu atau inti pelajaran yang dianggap penting. Dari segi
yang lain, apabila siswa tidak dapat menjawab atau salah menjawab,
guru mengajukan pertanyaan lanjutan yang akan menuntun proses
berpikir siswa sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan
jawaban bagi pertanyaan pertama tadi.
Contoh:
Guru : Anak-anak dalam melakukan perang melawan Belanda,
Pangeran
Diponegoro dibantu oleh? Guru diam sejenak kemudian, coba
kamu Tono!
Tono :Nampak kesulitan untuk menjawab pertanyaan Guru.
Guru : Coba kamu ingat-ingat. Kemudian guru menuntun jawab, Kiai
…
Tono : Kiai Mojo.
Guru : Siapa lagi?
Tono : Imam Bonjol Pak!
Guru : Bukan! Itu kan Peminpin Perang Padri! Coba pikir lagi!
Tono : Lupa Pak.
Guru : Masa lupa! Sen …
Tono : Ya, Pak saya ingat, yaitu Ali Basah Sentot.
Guru : Coba diulangi jawaban tadi.
Tono : Kiai Mojo dan Ali Basah Sentot Pak.
4. Pertanyaan menggali (probing question).
Pertanyaan menggali (probing question), yaitu pertanyaan lanjutan
yang akan mendorong murid untuk lebih mendalami jawabannya
terhadap pertanyaan pertama. Dengan pertanyaan menggali ini siswa
didorong untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang
diberikan pada pertanyaan sebelumnya.
Contoh :
Guru : Anak-anak, faktor-faktor apa yang menyebabkan
bertambahnya Angka pengangguran di Indonesia? Guru diam
sejenak, kemudian coba kamu Desi !
Desi : Banyak Pabrik/Perusahaan yang gulung tikar Pak!
Guru : Bagus! Coba apalagi?
Desi : Adanya Krisis Moneter Pak!
Guru : Apalagi!
Desi : Tidak tahu Pak!
Guru :Coba diantara kalian yang bisa membantu Desi, angkat tangan!
(Guru menunjuk salah satu siswa yang angkat tangan) coba
kamu Ghofur!
Ghofur : Bahan baku yang dimport harga berlibat ganda!
Guru : Pinter! Coba apalagi!
Hal ini dilakukan secara terus menerus sampai pertanyaan tersebut
terjawab sempurna, dan terakhir Desi disuruh mengulangi semua
b. Jenis pertanyaan menurut Taksonomi Bloom
1. Pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question)
pertanyaan pengetahuan (knowledge) merupakan pertanyaan penalaran
dalam kategori yang terendah, yang hanya menuntut siswa untuk dapat
mngungkapkan kembali pengetahuan tentang fakta, kejadian, definisi
dan sebagainya. Siswa hanya dituntut mengingat kembali apa yang
dipelajarinya.Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan
pengetahuan ini antara lain:
Apa? Sebutkan! Berilah nama!
Siapa? Ingatlah istilah! Golongkan!
Bilamana? Kemukakan definisi!
Di mana? Pasangkan!
2. Pertanyaan pemahaman (conprehention question)
Pertanyaan ini meminta untuk menujukkan bahwa ia telah mengerti
atau memahami sesuatu. Ia dikatakan memahami sesuatu berarti ia
telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa yang
dipelajarinya dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Jadi pada
tingkat ini siswa sudah tidak lagi mengingat dan mengahfal informasi
yang diperoleh, melainkan harus dapat memilih dan
mengorganisasikan informasi tersebut.
Bentuk pertanyaan jenis ini adalah:
1) Memberkan penjelasan dengan kata-kata sendiri
2) Menyatakan ide-ide pokok tentang sesuatu dengan kata-kata sendiri
3) Membedakan atau membandingkan
4) Menerangkan dengan grafik
Untuk pertanyaan pemahaman perlu diigat bahwa informasi atau
bahan pelajaran harus sudah diberikan/diajarkan kepada siswa,
sehingga waktu guru memberikan pertanyaan yang maksudnya untuk
mengetahui apakah informasi yang telah diberikan telah dipahami
siswa, mereka sudah mempunyai bahan untuk menjawab.
Berapa kata yang dapat digunakan untuk pertanyaan pemahaman adalah:
Bedakanlah Terjemahkan
Terangkan Ubahlah
Simpulkan Berilah contoh
Bandingkanlah Berikan interpretasi
Jelaskan dengan kata-katamu
sendiri
3. Pertanyaan penerapan (application question)
pertanyaan penerapan adalah pertanyaan pertanyaan yang menuntut
suatu jawaban dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh
seelumnya.
Disini siswa dihadapkan pada pemecahan masalah sederhana dengan
menggunakan pengetahuan yang telah dipelajarinya. Dengan
menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau proses yang
dipeajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan suatu
jawaban yang benar terhadap masalah itu.
Beberapa kata yang sering digunakan untuk pertanyaan penerapan
adalah:
Tunjukkanlah Tuliskan suatu contoh
Demonstrasikan Siapkanlah
Buatlah sesuatu Klasifikasikanlah
4. Pertanyaan sintetis (synthesis question),
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan tingakta tinggi yang menuntut
siswa untuk berpikir orisinil dan kreatif. Dengan pertanyaan ini akan
diperoleh kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian atau
unsur-unsur agar dapat merupakan suatu kesatuan. Mereka dituntut
untuk mendakan induksi (dari fakta-fakta/unsur-unsur/informasi,
diambil suatu kesimpulan atau generalisasi). Siswa tidak hanya
menerka jawaban, melainkan harus berpikir dengan sunguh-sunguh.
Jenis pertanyaan ini akan dapat meningkatkan kreativitas serta daya
penalaran siswa. Pertanyaan sintesis ini dapat berbentuk:
1) Pertanyaan yang meminta siswa mengadakan prediksi atau
membuat ramalan
2) Pertanyaan yang diminta siswa mengungkapkan ide dan
mengahasilkan komunikasi orisinil
3) Pertanyaan yang menuntut pemecahan masalah
Dengan jenis pertanyaan ini, guru dapat membantu siswa untuk
mengembangkan daya kreasinya. Berikut ini adalah kata-kata yang
sering digunakan dalam pertanyaan-pertanyaan sintesis:
Ramalkanlah……. Tulislah…….
Bentuk…. Bagaimana kita dapat
memecahkan….
Ciptakanlah….. Apa yang terjadi seaindainya…
memperbaiki….
Rancanglah…. Kembangkan…..
5. Pertanyaan evaluasi (evaluation question).
Pertanyaan ini menuntut proses berpikir yang paling tinggi, karena
pekerjaan menialai hanya mungkin dilakukan dengan baik bila
fungsi-fungsi kognitif yang lain, dari pengetahuan sampai dengan sintesis
telah dikuasai. Untuk dapat menyatakan pendapat atau menilai
berbagai ide, karya seni, pemecahan masalah serta alasan-alasan
keputusannya, harus digunakan kriteria-kriteria tertentu, apakah
berupa kriteria yang benar atau nilai-nilai yang dipilih oleh siswa
sendiri.
Dalam pertanyaan evaluasi adanya standar atau kriteria pengukuran
merupakan sesuatu yang mutlak. Penggunaan standar atau kriteria
yang berbeda akan mengakibatkan jawaban yang berbeda pula. Tetapi
dalam mengembangkan penalaran siswa, jawaban-jawaban yang
berbeda tersebut memang diharapkan. Hal ini menunjukkan adanya
pemikiran dari setiap siswa, berarti bukan hanya menghafal atau
meniru jawaban orang lain. Pertanyaan evaluasi dapat dikategorikan
sebagai berikut:
1) pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat tentang
berbagai persoalan
2) pertanyaan yang menilai suatu ide
3) pertanyaan yang meminta siswa menetapkan suatu cara pemecahan
masalah
4) pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya seni terbaik
Dari pertanyaan di atas kita dapat melihat bahwa siswa akan dapat
sejauh mana sesuatu itu memenuhi kriteria, baik yang menggunakan
standar objektif maupun nilai yang bersifat pribadi. Kadang-kadang
siswa mempunyai pandangan yang berbeda, oleh karena itu perlu
didukung oleh alasan-alasan atau argumentasi tertentu. Dengan
demikian siswa akan belajar menggunakan penalaran tingkat tinggi.
Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan ini ialah:·
Berilah pendapat…..· Alternatif mana yang lebih baik….·
Setujukah anda…..· Kritiklah….·
Berilah alasan…· Nilailah…..·
Bandingkan…..· Bedakanlah…….
Selain jenis-jenis ada syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi suatu
pertanyaan yang baik:
1. Dikalimatkan dengan kalimat yang mudah ditangkap oleh siswa
2. Diajukan secara klasikal terlebih dahulu, kemudian secara individual
3. Urutan menjawab janganlah tetap atau alfabetis
4. Kemukakan pertanyaan dengan nada yang enak dan raut muka yang
manis
2.4 Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya
Pada dasarnya, ketrampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi 2
bagian besar, yaitu:
a. Keterampilan Bertanya Dasar
Bertanya dasar adalah pertanyaan pertama dan pembuka yang
diajukan guru pada awal pertanyaan. Keterampilan bertanya dasar
1. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat
Pertanyaan yang diajukan guru hendaknya singkat dan jelas,
sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Pertanyaan yang
demikian dapat dibuat dengan menggunakan struktur kalimat
yang sederhana serta kata-kata yang sudah dikenal oleh siswa.
Contoh:
Apa yang menyebabkan sehingga banyak siswa diberi
kesempatan bertanya tidak menggunakannya?
Mengapa banyak siswa tidak menggunakan kesempatan
bertanya?
Dari ungkapan pertanyaan diatas jelas bahwa pertanyaan
kedua lebih jelas dan singkat untuk dimengerti siswa dari pada
pertanyaan pertama
2. Pemberian acuan
Sebuah pertanyaan dapat dijawab jika yang ditanya
mengetahui informasi yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut.
Oleh karena itu sebelum bertanya, guru perlu memberikan acuan
berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Siswa akan
mengolah informasi yang diberikan sehingga dapat menjawab
pertanyaan guru.
Contoh:
Jika diketahui akar-akar persamaan kuadrat x1 dan x2, maka
persamaaan kuadrat dapat ditulis (x – x1) (x – x2).
Persamaan kuadrat yang akar-akarnya 3 dan -4.
3. Pemusatan
Pertanyaan dapat dibagi menjadi pertanyaan luas dan
yang umum dan cukup luas, sedangkan pertanyaan yang sempit
menuntuk jaawaban yang khusus spesifik.
Contoh:
Sebutkan bilangan-bilangan kelipatan 5 yang habis dibagi
3?
Diantara bilangan-bilangan 10, 15. 25., 35, 45, 55 dan 75,
manakah bilangan kelipatan 5 yang habis dibagi 3?
Dari 2 pertanyaan diatas kita dapat mengetahui bahwa
pertanyaan 1 membutuhkan jawaban yang sangat luas,
sedangkan pertanyaan 2 lebih membutuhkan jawaban yang
spesifik.
4. Pemindahan Giliran
Ada kalanya sebuah pertanyaan lebih-lebih pertanyaan yang
cukup kompleks, tidak dapat dijawab secara tuntas oleh seorang
siswa. Dalam hal ini guru perlu memberikan kesempatan kepada
siswa lain dengan cara pemindahan giliran. Pemindahan giliran,
artinya setelah siswa pertama memberikan jawaban, guru
meminta siswa kedua melengkapi jawaban tersebut, kemudian
meminta lagi siswa ketiga dan seterusnya.
Cara seperti ini dapat mendorong siswa untuk selalu
memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta
meningkatkan interaksi antar siswa.
5. Penyebaran
Penyebaran pertanyaan berarti menyebabkan giliran untuk
menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Kalau mungkkin
semua siswa di dalam kelas mendapat giliran yang merata untuk
guru, lebih-lebih guru yang biasa mengajukan pertanyaan pada
siswa tertentu. Ada kalanya guru melupakan siswa yang duduk
dideretan belakang, sehingga aman untuk dari kejaran pertanyaan
guru. Tujuan penyebaran pertanyaan adalah untuk meningkatkan
perhatian dan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar.
6. Pemberian Waktu Berfikir
Untuk menjawab satu pertanyaan, seseorang memerlukan
waktu untuk berfikir. Demikian juga seorang siswa yang harus
menjawab pertanyaan guru memerlukan waktu untuk memikirkan
jawaban pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, setelah mengajukan
pertanyaan guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum
meminta atau menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaannya.
Kebiasaan guru yang menunjuk siswa lebih dahulu untuk
menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan itu diajukan, tidak
dapat dibenarkan, sebab tidak memberi waktu untuk berfikir, dan
siswa lain tidak memprhatikan
pertanyaan guru.
7. Pemberian Tuntunan
Kadang-kadang pertanyaan yang diajukan guru tidak dapat
dijawab oleh siswa, ataupun jika ada yang menjawab, jawaban
yang diberikan tidak seperti yang diharapkan. Dalam hal ini, guru
tidak boleh diam dan menunggu sampai siswa memberikan
jawaban. Guru harus memberikan tuntunan yang memungkinkan
siswa secara terhadap mampu memberikan jawaban yang
diharapkan. Tuntutan dapat diberikan antara lain dengan berbagai
Memparafrase, yaitu mengungkapkan kembali pertanyaan dengan cara lain yang lebih mudah dan sederhana, sehingga
dapat dipahami oleh siswa.
Mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang
dapat menuntun siswa menemukan jawaban.
Mengulangi penjelasan / informasi sebelumnya yang
berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan.
b. Keterampilan Bertanya Lanjut
Pertanyaan lanjutan adalah kelanjutan dari pertanyaan dasar yang
mengutamakan usaha mengembangkan keterampilan berfikir,
memperbesar partisipasi dan mendorong agar dapat berinisiatif sendiri.
Selain itu pertanyaan lanjutan juga memiliki fungsi yaitu:
Mengembangkan kemampuan dalam menemukan,
mengorganisasi, dan menilai informasi.
Membentuk pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan atas
informasi yang lengkap
Mengembangkan ide dan mengemukaannya kepada kelompok
Memberikan kesempatan memperoleh sukses melebihi yang
biasa dicapai
Ketika kita menerapkan keterampilan bertanya lanjut, guru juga
menerapkan atau menggunakan keterampilan bertanya dasar, komponen
keterampilan bertanya lanjut terdiri atas :
1. Pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan.
Pertanyaaan tang diajukan guru mengundang siswa berpikir.
Jika guru hanya mengajukan pertanyaan yang bersifat ingatan.
Seperti hanya menanyakan : apa, siapa, dimana, atau berapa,
siswa tidak perlu berpikir tetapi hanya mengingat, tetapi jika guru
mengajukan pertranyaan mengapa bagaimana pendapatmu, jelaskan
terjadinya, dan yang sejenis, siswa akan berpikir keras sehingga
menuntut terjadinya proses nental yang tinggi
2. Pengaturan ururtan pertanyaan
Agar kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara
baik dan wajar , guru hendaknya mengatur ururtan pertanyaan yang
di ajukan . pertanyaan pada tingkat tertentu hendaknya di
mantapkan kemudian beralih ketingkat pertanyaan yang lebih tinggi
3. Penggunaan pertanyaan pelacak
Jika guru mengajukan pertanyaan tingkat tinggi dan jawaban
yang diberikan oleh iswa dianggap benar tetapi masih dapat di
lengkapi lagi, guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak yang
dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawaban yang
diberikan
Teknik pertanyaan pelacak yang dapat di gunakan guru
antara lain sebagai berikut:
a. Meminta klarifikasi
Teknik ini di pakai guru, jika jawaban sswa, kurang jelas
atau diungkapkan dengan kalimat yang kabur
Contoh :
Dapatkah anda menjelaskan apa yang anda maksudkan
dengan...?
Coba ulangi jawaban apa yang anda jelaskan tadi?
Coba rangkum apa yang anda jelaskan tadi?
Teknik ini dapat digunakan jika guru menginginkan siwa
memberikan bukti-bukti dari pendapat atau pandangan yang
diberikannya sebagai jawaban atas pertanyaan guru
Contoh :
Dapatkah anda memberi alasan , mengapa anda berpendapat
sperti it!
Coba berikan bukti-bukti akan kebenaran pendapat anda itu !
Coba jelaskan , bagaiman anda sampai pada kesimpulan seperti
itu
c. Meminta kesepaktan pandangan siswa
Jika guru meminta pandangan siswa sudah menyatakan
pendapatnya, untuk mendapatkan kesepakatan dan kebenran akan
pendapat tersebut, guru dapat meminta pendapat siwa lain
Contoh :
Siapa yang setuju dengan pendapat itu? Beri alasan
Anda yang tak setuju dengan pendapat tadi ? apa alasan anda ?
Bagaimana penndapat anda terhadap pendapatyang di ajukan
tadi
d. Meminta ketepatan jawaban
Teknik ini dapat digunakan guru jika jawaban yang diberikan
oleh siswa kurang tepat atau kurang sempurna. Pertanyaan pelacak
yang diberikan guru diharapkan dapat menutun siswa melengkapai
atau memperbaiki jawaban yang diberikan membuat siswa mejadi
malu
e. Meminta jawaban yang lebih relavan
Jika siswa memberikan jawaban yang kurang relavan dengan
pertanyaan guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak. Tujuan
kakan ketidak relevan jawaban , serat menuntun siswa untuk
memberikan jawaban yang lebh relevan
f. Meminta contoh
Teknik hampir sama dengan teknik meminta siswa
memberikan alasan, yaitu jika siswa memberikan jawaban yang
sama-sama tau terluas , guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak
untuk meminta siswa memberikan ilustrasi atau contoh konkret dari
jawaban.
g. Meminta jawaban yang lebih kompleks
Jika guru menganggap bahwa jawaban siswa masih dapat
dikembangkan menjadi jawaban yang lebih kompleks, guru dapat
mengajukan pertanyaan pelacak.
Pertanyaan pelacak bertujuan untuk membimbing siswa
berpikir lebih kritis dalam mengembangkan jawabannya.
4. Peningkatan terjadinya interaksi
Meningkatkan interaksi merupakan salah satu usaha untuk
meningkatkan keterlibatan siswa mental intelektual siswa secara
maksimal.
Dalam kaitan dengan keterampilan bertanya lanjut, peningkatan
terjadinya interaksi dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
Menghindari atau mengurangi pertanyaan yang hanya dijawab
oleh seorang siswa, sebagai gantinya siswa diminta
mendiskusikan jawaban pertanyaan tersebut dalam pasangan
atau kelompok kecil.
Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan sehingga guru
Jika siswa mengajukan pertanyaan, berikan kesempatan kepada
siswa lain untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga terjadi
interaksi antar siswa.
Dengan cara tersebut diatas, partisipasi siswa dalam kelas
dapat ditingkatkan.
2.5 Prinsip Penggunaan
Dalam menerapkan keterampilan bertanya, guru hendaknya
memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan atau hal-hal yang mempengaruhi
keefektifan pertanyaan sebagai berikut:
1. Kehangatan dan keantusiasan
Pertanyaan hendaknya diajukan dengan penuh kehangatan dan
keantusiasan karena hal ini akan mempengaruhi kesungguhan siswa
dalam menjawab pertanyaan.
2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan berikut:
a.Mengulangi pertanyaan sendiri
Mengulangi pertanyaan sendiri akan membuat siswa tidak
memperhatikan pertanyaan pertama, sehingga menurunkan perhatian
dan partisipasi siswa.
b. Mengulangi jawaban siswa
Mengulangi jawaban siswa yang bertujuan untuk memberikan
mengulangi jawaban siswa, maka siswa lain tidak akan mendengarkan
jawaban temannya karena akan diulang guru.
c. Menjawab pertanyaan sendiri
Guru cenderung menjawab sendiri pertanyaan kalau siswa tidak
ada yang memberikan jawaban. Kebiasaan ini tidak baik karena dapat
membuat siswa frustasi dan malas belajar.
d. Mengajukan jawaban yang memancing jawaban serentak
Sebagai suatu selingan, guru kadang-kadang mengajukan
pertanyaan yang memancing jawaban serentak sehingga kelas jadi
hidup. Namun kalau hal ini dibiasakan akan menurunkan fungsi
pertanyaan karena guru tidak tahu siapa yang menjawab dan siswa
malas berpikir karena guru tidak meminta jawaban perorangan. Untuk
menghindari kebiasaan ini, guru hendaknya menyusun pertanyaan
secara baik dengan tingkat kesukaran yang sesuai, sehingga siswa
tidak mungkin menjawabnya secara serentak.
e. Mengajukan pertanyaan ganda
Kadang-kadang guru cenderung mengajukan pertanyaan yang
menanyakan beberapa hal sehingga siswa harus melakukan beberapa
tugas dalam waktu yang singkat.
f. Menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan
Guru kadang-kadang cenderung menunjuk siswa tertentu untuk
menjawab pertanyaan yang akan diajukan. Hal ini sebaiknya dihindari
karena dapat membuat siswa lain tidak memperhatikan pertanyaan
menunggu sejenak, kemudian baru menunjuk siswa untuk
menjawabnya.
Memberikan waktu berfikir
Pada pertanyaan tingkat lanjut, waktu berpikir yang diberikan
hendaknya lebih lama dari waktu berpikir yang diberikan ketika
menerapkan keterampilan bertanya dasar.
Hal ini sangat perlu diperhatikan karena siswa memerlukan waktu
yang cukup untuk berpikir dan menyusun jawabannya.
4. Mempersiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan
Pertanyaan-pertanyaan pokok yang akan diajukan oleh guru
hendaknya disiapkan secara cermat sehingga urutan tingkat kesukaran
pertanyaan dapat disusun lebih dahulu, dan materi pelajaran dapat dicakup
secara tuntas.
5. Menilai pertanyaan yang telah diajukan
Pertanyaan-pertanyaan pokok hendaknya dinilai oleh guru setelah
pelajaran berlangsung, sehingga ketepatan jumlah pertanyaan, tingkat
kesukaran, kualitas pertanyaan dalam mengembangkan kemampuan
berpikir, dan cakupan materi dapat diketahui dengan jelas.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan keterampilan
bertanya tersebut diatas, diharapkan guru akan mampu mengembangkan
kemampuan berpikir siswa serta meningkatkan keterlibatan mental
2.6 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberi Pertanyaan
Sebagai guru yang profesional sebaiknya guru tersebut harus
memperhatikan pertanyaan yang dia akan berikan. Berikut ini hal-hal yang harus
diperhatikan oleh guru yakni sebagai berikut:
1. Sebelum memberi pertanyaan hendaknya guru sudah mengetahui jawaban
yang dimaksud, sehingga jawaban yang menyimpang dari siswa akan
segera dapat diketahui dan diatasi.
2. Guru harus mengetahui pokok masalah yang ditanyakan dan memberi
pertanyaan sesuai dengan pokok yang dibahas.
3. Hendaknya guru memberi pertanyaan dengansikap hangat dan antusias
agar murid berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, maka guru harus
menunjukkan sikap yang baik diwaktu bertanya dan menerima jawaban
dari siswa. Ada beberapa sikap yang perlu diperhatikan guru dalam
bersikap diwaktu bertanya atau menerima jawaban.
a. Menunjukkan gaya, ekspresi wajah, posisi badan dan gerakan badan
yang baik dan tepat diwaktu memberi pertanyaan dan menerima
jawaban
b. Memberi penguatan bagi siswa yang menjawab dengan benar
c. Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab
pertanyaan dengan cara yang simpatik.
d. Apabila guru tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan
siswa hendaknya tidak langsung menjawab dengan berbelit-belit atau
menjawab dengan sekedarnya.
e. Menerima jawaban siswa dengan menggunakan sebagai tolak uraian
selanjutnya. Hal ini penting untuk mengaitkan bahan yang dibahas
4. Hendaknya guru menghindari beberapa kebiasaan yang tidak perlu, yang
bisa merugikan siswa dalam proses belajarnya.
2.7 Kelemahan dan Kelebihan dari Keterampilan Bertanya
Terdapat kelemahan dan kelebihan di dalam keterampilan bertanya yaitu:
1. Kelemahan, seperti:
mudah menjurus kepada hal yang tidak dibahas.
Bila guru kurang waspada pedebatan beralih kepada sentiment
pribadi.
Tidak semua anak mengerti dan bisa mengajukan pendapat.
2. Kelebihannya, seperti:
mempererat hubungan keilmuan antara guru dan siswa.
Melatih anak-anak mengeluarkan pendapatnya secara merdeka,
sehingga pelajaran akan lebih menarik.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
keterampilan bertanya adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru
kepada siswa ataupun dari siswa kepada guru untuk mengetahui suatu
jawaban baik dalam bentuk pertanyaan, perintah, ataupun pernyataan yang
berkaitan dengan lisan individu sehingga dapat mengetahui tingkat
pemikiran ataupun pemahaman individu masing-masing.
Adapun fungsi dari keterampilan bertanya antara lain:
1. Mendorong siswa untuk berpikir
2. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar
3. Merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan
4. Mendiagnosis kelemahan siswa
5. Memusatkan perhatian siswa pada satu masalah
6. Membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik
Selain itu adapula komponen yang harus kita ketahui di dalam
keterampilan bertanya yaitu:
1. Keterampilan bertanya dasar , yakni pertanyaan pertama dan pembuka
yang diajukan guru pada awal pertanyaan
2. Keterampilan bertanya lanjutan, yakni kelanjutan dari pertanyaan
dasar yang mengutamakan usaha mengembangkan keterampilan
berfikir, memperbesar partisipasi dan mendorong agar dapat
3.2 Saran
Sebagai seorang guru yang profesional kita harus memiliki kemampuan
untuk bertanya dengan siswa dan dapat mengarahkan apabila siswa bertanya
kepada kita sebagai seorang guru. ada beberapa hal yang harus diperhatikan
oleh guru agar para siswa nyaman untuk bertanya, diantaranya:
• guru harus menunjukkan keantusiasan dan kehangatan pada saat memberi
pertanyaan
• guru sebaiknya memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir agar
dapat memberikan jawaban yang tepat
• guru harus bisa mengatur lalu lintas bertanya agar seluruh siswa dapat
memahami jawaban yang akan disampaikan oleh temannya
• guru sebaiknya menghindari pertanyaan ganda yang dapat
DAFTAR PUSTAKA
Diktat Dasar Proses Pembelajaran Matematika I
Brown, George. Micro Teaching: A Programme of Teaching Skills. New York:
Metheuen Inc., 1984
Cole, G. Peter and Lorna K.S. Chan. Teaching Principles and Practice. New
York: Prentice Hall, 1990
Jacobsen, David, Paul Eggen and Donald Kauchak. Methods for Teaching: A
Skills Approach. Ohio: Merril Publishing Company, 1989
Wiryawan, Sri Anitah dan Noorhadi. Strategi Belajar Menagajar. Jakarta: UT,
1999
http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/16/ketrampilan-bertanya-dalam-kelas-509440.html
http://www.docstoc.com/docs/75370112/Keterampilan-bertanya
http://www.squidoo.com/keterampilan-dasar-mengajar
http://gurukita.guru-indonesia.net/artikel_detail-30362.html
BAB I
KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENGUATAN
1. 1.Keterampilan Memberikan Penguatan
Penguatan adalah suatu respons terhadap suatu perilaku yang dapat
meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku tersebut.
Ada beberapa pendapat tentang pengertian keterampilan memberi
penguatan diantaranya adalah :
1. JJ. Hasibuan mendefinisikan memberikan penguatan diartikan dengan
tingkah laku guru dalam merespons secara positif suatu tingkah laku
tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.
2. Moh Uzer Usman menerangkan arti keterampilan memberi penguatan
(reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal
ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku
guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan
informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima (siswa) atas
perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau
penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat
meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut”.
3. Made Pidarta menyebutkan bahwa keterampilan memberi penguatan
adalah “Penguatan terhadap individu-individu sehingga dia konsisten
dengan tingkah lakunya yang sudah baik serta meningkatkannya menjadi
4. A. Mursal dan H.M. Taher menjelaskan bahwa keterampilan memberi
penguatan adalah “Suatu alat pendidikan yang diberikan kepada murid
sebagai imbalan terhadap prestasi belajar yang dicapai”.
5. Sudirman menerangkan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah
“Alat pendidikan refresif yang menyenangkan untuk membina tingkah
laku yang dikehendaki dengan memberikan pujian, hadiah, tanda
penghargaan, pemberian kesempatan untuk melakukan aktivitas yang
disenangi oleh siswa”.
6. Toenlioe mengemukakan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah
“Pemberian respon terhadap suatu tingkah laku dengan maksud untuk
mendorong berulang kembalinya tingkah laku yang direspon tersebut”.
Menurut Burhus Frederic Skinner tahun 1990 menyatakan bahwa
ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses
belajar.
Skinner menyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif
dan negatif. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan
tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak yang melakukan
pengulanggan perilakunya itu, contohnya pujian. Sebaliknya jika respon siswa
kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pembelajaran,
harus segera diberi penguatan negatif agar respon tersebut tidak di ulangi lagi
dan berubah menjadi respon yang sifatnya positif contohnya teguran, peringatan
atau sanksi.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian
bahwa keterampilan memberi penguatan merupakan suatu alat pendidikan yang
menyenangkan berupa pujian, hadiah dan tanda penghargaan yang bertujuan
untuk memperkuat tingkah laku anak didik yang sudah baik, sukses dalam