Usulan Master Plan Kawasan Sentra Produksi Pangan Merauke
Laporan Kajian Penyusunan
Usulan Master Plan
Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional
Di Kabupaten Merauke
Disusun Oleh:
Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis (P2EB)
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
Usulan Master Plan Kawasan Sentra Produksi Pangan Merauke
Daftar Isi
BAB I ... 7
PENDAHULUAN ... 7
1.1 Latar Belakang ... 7
1.2 Maksud dan Tujuan ... 8
1.3 Sasaran ... 8
1.4 Ruang Lingkup ... 9
BAB II ... 10
ANALISIS POTENSI KAWASAN ... 10
2.1 Deskripsi Wilayah Kabupaten Merauke ... 10
2.2 Kondisi Sumberdaya Lahan ... 12
2.3 Kondisi Sumberdaya Manusia ... 15
2.4 Kajian Sejuta Lahan Merauke (SLM) ... 16
2.4.1 Kajian Tanah dan Lahan ... 17
2.4.2 Kajian Makroekonomi dan Bisnis ... 19
2.4.3 Kajian Ekonomi dan Kelembagaan Mikro ... 22
2.5 Kawasan Ekonomi Khusus Pangan Merauke (KEK) ... 24
2.5.1 Rencana KEK Merauke ... 26
BAB III ... 32
ANALISIS RENCANA PENGEMBANGAN ... 32
3.1 Perencanaan Lokasi Kawasan ... 32
3.2 Pengembangan Infrastruktur ... 35
3.2.1 Jaringan Transportasi Darat dan Sungai ... 36
3.2.2 Jaringan Irigasi ... 37
3.2.3 Pelabuhan ... 40
Usulan Master Plan Kawasan Sentra Produksi Pangan Merauke
3.3. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan ... 44
BAB IV ... 51
ANALISIS MODEL PENGUSAHAAN ... 51
4.1 Latar Belakang ... 51
4.2 Kajian Literatur Praktek Terbaik ... 52
4.2.1 Indonesia ... 52
4.2.2 Vietnam ... 54
4.2.3 Thailand ... 54
4.2.4 Tanzania ... 54
4.3 Identifikasi Pemangku Kepentingan Dalam Model Bisnis ... 55
4.3.1 Pemangku Kepentingan Utama ... 55
4.3.2 Pemangku Kepentingan Pendukung ... 56
4.4 Acuan Pengembangan Model Bisnis ... 56
4.4.1 Kondisi dasar... 56
4.4.2 Pendekatan Sawah Modern ... 58
4.4.3 Asumsi Potensi Manfaat Keuangan KSPPN ... 58
4.4.4 Menjamin Kepentingan Seluruh Pemangku ... 60
4.4.5 Kriteria Pembagian Peran ... 61
4.4.6 Tujuan Model Bisnis ... 62
4.5 Model Bisnis yang Diusulkan ... 63
4.5.1 Bagan Model Bisnis ... 63
4.5.2 Aliran Insentif ... 65
4.5.3 Alasan mengikuti Model Bisnis ... 66
4.5.4 Prinsip dalam Kontrak ... 67
4.5.5 Perumusan Kontrak ... 69
4.5.6 Prosedur Adopsi Model Pengusahaan ... 70
4.6 Variasi Model ... 71
Usulan Master Plan Kawasan Sentra Produksi Pangan Merauke
4.6.2 Model Sewa Lahan Murni ... 73
4.6.3 Model Pertanian Kontrak ... 74
4.6.4 Model Campuran ... 75
4.6.5 Pemilihan Variasi ... 76
4.7 Ilustrasi Implementasi Model Pengusahaan ... 77
4.7.1. Fase 1: Insiasi dan perencanaan ... 77
4.7.2 Fase 2: Implementasi dan pembelajaran ... 79
4.7.3 Fase 3: Berlanjut dan tumbuh ... 81
4.8 Kunci Sukses Kerjasama dalam Model Pengusahaan ... 81
BAB V ... 85
ANALISIS KERANGKA HUKUM ... 85
DAN KELEMBAGAAN ... 85
5.1 Pengantar ... 85
5.2 Kawasan Strategis Nasional (UU Penataan Ruang) ... 85
5.2.1 Kelembagaan Pengelola Kawasan Strategis Nasional ... 88
5.3 Kawasan Khusus (UU Pemerintah Daerah) ... 90
5.3.1 Kelembagaan Pengelola Kawasan Khusus ... 91
5.4 Kawasan Sentra Produksi Pangan (Peraturan Menteri Pertanian) ... 91
5.4.1 Kawasan Pertanian Nasional ... 93
5.4.2 Maksud dan Tujuan Pengembangan Kawasan ... 93
5.4.3 Sumber Pembiayaan Pengembangan Kawasan ... 93
5.4.4 Strategi Umum Pengembangan Kawasan ... 94
5.4.5 Penguatan Kelembagaan Kawasan ... 94
5.4.6 Pembentukan Organisasi Pelaksana ... 95
5.5 Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan (Peraturan Presiden RPJMN) ... 100
5.5.1 Kelembagaan Pengelola Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan ... 104
BAB VI ... 108
Usulan Master Plan Kawasan Sentra Produksi Pangan Merauke
6.1 Visi dan Misi ... 108
6.1.1 Pemerintah Pusat ... 108
6.1.2 Pemerintah Kabupaten Merauke ... 109
6.2 Tujuan dan Sasaran Strategis ... 110
6.2.1 Tujuan ... 110
6.2.2 Sasaran Strategis ... 110
6.3 Strategi ... 110
6.4 Rencana Aksi ... 111
6.5 Peta Panduan ... 115
6.6 Prinsip Dasar dan Prasyarat Keberhasilan ... 117
6.6.1 Prinsip Dasar ... 117
6.6.2 Prasyarat Keberhasilan ... 117
BAB VII ... 120
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 120
7.1 Kesimpulan ... 120
7.2 Rekomendasi ... 122
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Swasembada pangan nasional merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia. Secara spesifik, kebutuhan beras Indonesia yang besar memerlukan lahan pertanian yang luas dan produktivitas tinggi yang diharapkan mampu menyediakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup dan secara berkesinambungan. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras namun berakhir setelah tahun 1993 sehingga jutaan ton beras harus diimpor setiap tahun. Permasalahan pokok yang dihadapai Indonesia saat ini adalah masih rendahnya tingkat produktivitas sawah karena terbatasnya upaya intensifikasi persawahan termasuk rendahnya penerapan teknologi. Indonesia juga menghadapi permasalahan perubahan fungsi lahan pertanian menjadi bangunan dan pemukiman terutama di Pulau Jawa yang merupakan lumbung padi nasional. Perubahan fungsi kawasan menyebabkan pembukaan lahan pertanian baru di Jawa sulit dilakukan. Kondisi lahan di Pulau Jawa yang semakin sempit untuk pertanian mendorong ide penggantian lahan pertanian (terutama sawah) yang hilang di Jawa dengan lahan baru di luar Jawa dengan luasan yang dapat memenuhi kemandirian pangan nasional.
Peningkatan ketersedian pangan, baik padi maupun pangan lainnya, melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri merupakan salah satu strategi utama pembangunan nasional (RPJMN 2015-2019). Upaya peningkatan produksi padi dilakukan dengan menyediakan lahan padi secara bertahap seluas 1 juta hektar di luar Pulau Jawa. Menurut data Badan Pusat Statistik Tahun 2004, Kabupaten Merauke merupakan salah satu wilayah di luar Pulau Jawa yang memiliki ketersedian lahan yang melimpah untuk kegiatan pertanian dengan produksi padi sebesar 177 ribu ton pada tahun 2013. Meski demikian, potensi lahan sawah yang sangat luas tersebut, belum dimanfaatkan secara optimal.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan Master Plan Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional di Kabupaten Merauke (KSPPN Merauke) ini adalah untuk memadukan rencana pengembangan kawasan pangan, model pengusahaan, dan lembaga pengelola menjadi suatu kesatuan yang utuh baik dalam perspektif sistem maupun kewilayahan, sehingga dapat mendorong peningkatan pemanfaatan lahan sawah, daya saing komoditas, wilayah serta pada gilirannya kesejahteraan petani dan masyarakat khususnya di Kabupaten Merauke.
Adapun tujuan dari penyusunan Master Plan KSPPN Merauke adalah sebagai berikut:
1). sebagai panduan bagi para pemangku kepentingan i.e. pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Merauke, pemilik lahan, petani, investor, dan para pihak terkait lainnya di Merauke dalam merencanakan dan menetapkan sasaran dan lokasi kegiatan serta melakukan kegiatan usaha untuk mendukung pencapaian target produksi/populasi dan produktivitas komoditas pertanian strategis yang sesuai dengan kondisi alam dan sosial di Merauke (padi, jagung, kedelai dan daging sapi) serta komoditas unggulan nasional lainnya; dan
2). sebagai acuan bagi para pemangku kepentingan dalam menetapkan kebijakan yang terkait dengan pengembangan komoditas pertanian strategis dan unggulan nasional yang sesuai dengan kondisi alam dan sosial di Merauke secara komprehensif dan terpadu dari aspek hulu, hilir maupun aspek penunjangnya dalam rangka mewujudkan sinergitas dan pengutuhan pembangunan KSPPN Merauke.
1.3 Sasaran
Sasaran yang diharapkan dari Master Plan KSSPN Merauke adalah:
1). terjaminnya dukungan perencanaan wilayah, sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan program dan kegiatan KSPPN Merauke yang terkait dengan pencapaian target dan perlindungan lahan berkelanjutan bagi komoditas strategis nasional guna mewujudkan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor serta peningkatan kesejahteraan petani di KSPPN Merauke;
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 3). terumuskannya bahan koordinasi lintas sektoral dan lintas jenjang pemerintahan dalam meningkatkan daya saing wilayah dan komoditas strategis dan komoditas unggulan pertanian nasional di KSPPN Merauke.
1.4 Ruang Lingkup
Lingkup materi yang dibahas dalam Master Plan KSPPN Merauke meliputi:
1. analisis potensi lingkungan hidup, ekonomi, dan sosial;
2. peta indikatif potensi lahan sawah 1,2 juta ha untuk kegiatan pertanian pangan; 3. peta indikatif pola pemanfaatan lahan pertanian;
4. peta indikatif pola kebutuhan sarana dan prasarana; 5. analisis pengembangan model pengusahaan;
6. analisis dasar hukum pengembangan kawasan pertanian pangan; 7. analisis pengembangan lembaga/badan pengelola; dan
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
BAB II
ANALISIS POTENSI KAWASAN
2.1 Deskripsi Wilayah Kabupaten Merauke
Kabupaten Merauke merupakan kabupaten terluar Sisi Timur Indonesia dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Secara geografis Kabupaten Merauke terletak antara 137037’57’’ -
141001’46’’ BT dan 6049’18’’- 9008’51’’ LS. Secara administratif, Kabupaten Merauke berbatasan
dengan Kabupaten Bovendigoel dan Mappi di sebelah Utara; berbatasan dengan Papua Nugini di sebelah Timur; dan berbatasan dengan Laut Arafuru di sebelah Timur dan Selatan. Ibukota Kabupaten Merauke adalah Distrik Merauke. Pada tahun 2013, luas Kabupaten Merauke adalah 46.791,63 km2 dan merupakan kabupaten terluas di Propinsi Papua (BPS, 2013). Kabupaten Merauke mamiliki 20 Distrik dengan Distrik Waan yang memiliki wilayah terluas. Peta administratif Kabupaten Merauke dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Peta Administrasi Kabupaten Merauke (Sumber: BAPPEDA Kabupaten Merauke, 2011)
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke sebagai sistem pusat permukiman perkotaan dan juga pengembangan potensi satuan wilayah. Hal yang disoroti pada bahasan kali ini adalah pengembangan kawasan pertanian pada 12 Distrik yang diantaranya termasuk pada wilayah:
1. Distrik Muting, 2. Distrik Jagebob, 3. Distrik Tanah Miring, 4. Distrik Semangga, 5. Distrik Kaptel, 6. Distrik Animha, 7. Distrik Kurik, 8. Distrik Malind, 9. Distrik Okaba, 10. Distrik Ngguti, 11. Distrik Kubang; dan 12. Distrik Ilwayab.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Gambar 2.2. Bagan Sederhana Sebuah Kawasan Agropolitan Terpadu
Dalam dokumen RPJM Kabupaten Merauke disebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan yang harus dimulai dari “kampung”, hal tersebut menandakan bahwa pembangunan guna mengembangkan otensi kawasan khususnya kawasan pertanian perlu dimulai secara bottom up. Sehingga kunci untuk menuju keberhasilan pembangunan kawasan strategis yang terkonsentrasi pada komoditas pertanian atau biasa disebut kawasan agro yaitu dengan memberlakukan setiap distrik yang potensial pada Kabupaten Merauke sebagai unit tunggal otonom mandiri. Hal yang dimaksud dengan unit tunggal yakni unit yang fungsinya selain menjaga intervensi sektor-sektor pusat yang tidak terkait dengan program pengembangan kawasan pertanian, juga dari segi ekonomi perlu untuk mampu mengatur perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pertaniannya sendiri, dan juga terintegrasi secara sinergik dengan keseluruhan sistem pengembangan wilayahnya. Dengan konsep agropolitan yang terimplementasikan dengan baik, maka kita akan dapat menjumpai wilayah perdesaan yang modern dan maju tanpa harus ‘mengkota’.
2.2 Kondisi Sumberdaya Lahan
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke peralatan pertanian modern. Sawah techno adalah konsep yang perlu diusung sebagai media pengelolahan lahan sawah.
Potensi lahan sawah di Kabupaten Merauke sangat luas dan belum dimanfaatkan secara optimal. Secara umum, Kabupaten Merauke terbagi ke dalam kawasan lindung seluas 1,7 juta Ha dan kawasan budidaya seluas 2,97 juta Ha. Kawasan lindung di Kabupaten Merauke terbagi ke dalam Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam (KSA/KPA) dan Hutan Lindung (HL). Kawasan lindung merupakan kawasan non budidaya yang memiliki fungsi utama untuk melindungi kelestarian sumber daya alam dari kegiatan budidaya.
Menurut Lampiran SK Menhut No. 782/Menhut-II/2012, kawasan budidaya di Kabupaten Merauke terbagi ke dalam: (1) Hutan Produksi Terbatas (HPT), (2) Hutan Produksi Tetap (HP), (3) Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) dan (4) Areal Penggunaan Lain (APL). Gambar 2.3. menjelaskan persebaran arahan pemanfaatan lahan di Kabupaten Merauke. Luas setiap pemanfaatan lahan dijelaskan lebih lanjut dalam Tabel 2.1.
Gambar 2.3. Peta Arahan Pemanfaatan Lahan Kabupaten Merauke (Sumber: Kementrian Kehutanan, 2013)
Tabel 2.1. Luas Arahan Pemanfaatan Lahan Kabupaten Merauke
No. Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Luas
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 1 Hutan Lindung (HL)
Lindung
279.700 5,98
2 Kawasan Suaka Alam/Kawasan
Pelestarian Alam (KSA/KPA) 1.429.000 30,57
3 Hutan Produksi Terbatas (HPT)
Budidaya
228.500 4,89
4 Hutan Produksi Tetap (HP) 1.024.000 21,90
5 Hutan Produksi yang dapat
Dikonversi (HPK) 1.301.000 27,83
6 Areal Penggunaan Lain (APL) 412.100 8,82
Total luas 4.674.300 100,00
Sumber: Analisis, 2015
Sistem lahan di Kabupaten Merauke menjadi salah satu dari variabel penentuan lahan indikatif potensial sebagai lahan pertanian. Sistem lahan yang potensial untuk pengembangan kawasan pangan adalah sistem lahan ABB (Ambebe), BST (Boset), KPI (Kepi), MBN (Mibini), TKK (Tohkiki) dan WDO (Wando) (RePPProT, 1990). Analisis lahan pada setiap sistem lahan dilakukan dengan survei lapangan dan analisis laboratorium untuk mengetahui potensi tanah, lahan dan air untuk pembukaan kawasan pangan di Kabupaten Merauke (Tim P2EB UGM, 2015). Hasil penilaian potensi lahan indikatif untuk lahan pertanian terbagi ke dalam dua kelas, yakni lahan potensial seluas 2.091.968 Ha dan lahan kurang potensial seluas 2.587.032 Ha. Persebaran lahan indikatif potensial sebagai lahan pertanian di Kabupaten Merauke dijelaskan pada Gambar 2.4.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
2.3 Kondisi Sumberdaya Manusia
Kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang baik sangat dibutuhkan dalam penerapan teknologi mesin pertanian untuk pengembangan kawasan pangan di Kabupaten Merauke. Berdasarkan SK Bupati Merauke tentang Wilayah Administrasi, Kabupaten Merauke memiliki 20 Distrik yang terbagi ke dalam 160 kampung dan 8 kelurahan. Dalam pengembangan kawasan pangan nasional di Kabupaten Merauke, kawasan kampung memiliki peranan penting sebagai kawasan penyangga terhadap kawasan perkotaan dengan arahan pengembangan kawasan yang memiliki fokus budidaya pertanian sesuai dengan potensi kesesuaian lahan.
Jumlah penduduk di Kabupaten Merauke pada tahun 2010 terhitung mencapai 195.716 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 41,8 jiwa/km2 (Merauke dalam Angka, 2010). Struktur
kependudukan di Kabupaten Merauke menunjukkan bahwa angka rasio beban tanggungan di Kabupaten Merauke pada tahun 2010 adalah sebesar 56,91 % yang berarti 100 jiwa penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan mendukung 57 jiwa penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) (Gambar 2.5).
Gambar 2.5. Piramida penduduk di Kabupaten Merauke Tahun 2010 (Sumber: RPJP Kabupaten Merauke, 2012)
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke (SAKERNAS, 2010). Dilihat dari aspek tingkat pendidikan pencari kerja, penduduk dengan pendidikan SLTA merupakan pencari kerja terbanyak di Kabupaten Merauke, yakni sebesar 80% dari total pencari kerja, sementara pencari kerja yang merupakan penduduk dengan tingkat pendidikan tertinggi yakni sarjana hanya berjumlah 4,5%. Lapangan usaha di bidang pertanian di Kabupaten Merauke memiliki persentase tenaga kerja terbesar dibandingkan dengan lapangan usaha di bidang lainnya, yakni mencapai 44,96%. Perbandingan jumlah tenaga kerja di setiap lapanganusaha dapat dilihat pada Gambar 2.6.
Gambar 2.6. Grafik persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha di Kabupaten Merauke Tahun 2010
(Sumber: RPJP Kabupaten Merauke, 2012)
2.4 Kajian Sejuta Lahan Merauke (SLM)
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke Potensi kompleksitas yang akan dihadapi SLM bersifat multi dimensi, yang setidaknya mencakup dimensi teknis, dimensi sosial budaya, dan dimensi ekonomi. Rangkuman dari hasil kajian SLM adalah sebagai berikut:
2.4.1 Kajian Tanah dan Lahan
Potensi lahan sawah di Kabupaten Merauke dikaji berdasarkan hasil kajian dari kondisi air, tanah dan lahan. Indikatif potensi lahan sawah untuk kegiatan pertanian di Kabupaten Merauke disusun berdasarkan peta sistem lahan karena memiliki informasi general yang dapat digunakan sebagai dasar analisis potensi lahan, khususnya lahan pertanian. Hasil analisis dikatakan indikatif karena sebaran titik sampel belum sesuai dengan standar pemetaan yang baku untuk skala 1:250.000, sehingga hasil analisis membutuhkan pengecekan lebih detil. Kabupaten Merauke terdiri atas 17 sistem lahan.
Potensi lahan pertanian Kabupaten Merauke dianalisis berdasarkan informasi dari kartu data peta sistem lahan dan hasil uji laboratorium.Pengambilan sampel pra studi kelayakan SLM telah dilakukan pada 51 titik pengamatan. Pengambilan sampel lahan, tanah dan air merupakan dasar untuk mengidentifikasi potensi lahan. Kegiatan survei lapangan merupakan kegiatan pendukung dalam analisis data untuk mengetahi kondisi aktual lahan seperti pada Gambar 2.7 Kegiatan survei lapangan sangat penting dilakukan karena data sekunder yang terbatas untuk kajian di Kabupaten Merauke.
Gambar 2.7 Kegiatan survei potensi lahan SLM; a) Koordinasi lokasi survei; b) Pengamatan dan pengukuran lahan. Sumber: Tim SLM-P2EB UGM, 2015
Potensi pengembangan lahan pertanian di Kabupaten Merauke berdasarkan kondisi air, tanah dan lahan menunjukkan bahwa terdapat pada 6 sistem lahan. Sistem lahan yang potensial digunakan untuk lahan sawah adalah sistem lahan ABB (Ambebe), BST (Boset), KPI (Kepi), MBN (Mibini), TKK (Tohkiki), dan WDO (Wando) dengan luas area 2.091.968 ha (Gambar 2.8). Berdasarkan hasil kaijan kesesuaian pada beberapa titik sampel tanah memiliki klasifikasi sesuai untuk lahan pertanian sawah. Hasil kajian pra studi kelayakan SLM masih bersifat umum. Analisis potensi
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke lahan menghasilkan kesesuaian lahan pada titik pengamatan dan belum dapat digunakan sebagai hasil kajian yang bersifat luasan karena jumlah sampel yang diambil belum sesuai dengan prosedur pemetaan yang baku. Keterbatasan mengenai waktu dan biaya menjadi kendala dalam kajian ideal potensi kesesuaian lahan. Keberlanjutan studi kelayakan pembukaan lahan pertanian satu juta hektar di Kabupaten Merauke perlu dilakukan guna memberikan hasil kajian yang lebih sesuai dengan kondisi lahan.
Lahan 1.000 ha merupakan pilot project lahan yang menjadi cikal bakal pengembangan kegiatan SLM di Kabupaten Merauke. Survei tanah, lahan dan air dilakukan di lahan 1.000 ha untuk mengetahui potensi lahan untuk pemanfatan kegiatan pertanian, khususnya tanaman padi sawah irigasi. Pengambilan sampel tanah dilakukan untuk mengetahui kondisi fisika dan kimia tanah pada lahan 1.000 ha. Observasi dan pengambilan sampel tanah pada lahan 1.000 ha dilakukan secara acak sebanyak 21 titik. Semua sampel di-uji cepat di lapangan untuk mengetahui gambaran umum kondisi tanah pada lahan 1.000 ha.
Gambar 2.8 Peta indikatif potensi lahan sawah Kabupaten Merauke Sumber: Tim SLM-P2EB UGM, 2015
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke sawah adalah S3n artinya lahan 1.000 ha hampir sesuai untuk pemanfaatan tanaman padi. Kesesuaian lahan potensial pada lahan 1.000 ha adalah S2wrn dan S2wrfn, artinya lahan cukup sesuai untuk padi dengan faktor pembatas berupa: ketersediaan air (w), media perakaran (r), retensi hara (f), dan ketersediaan hara(n) sehingga diperlukan upayan penanganan untuk menjadikan sangat sesuai (S1). Hambatan pada sebagian lahan 1.000 ha yang termasuk di dalam wilayah sistem lahan ABB adalah adanya indikasi pirit pada tanah, sehingga pengelolaan lahan harus dilakukan secara tepat dan akurat. Hasil survei lahan SLM ditemukan lahan yang gagal tanam akibat hama seperti berupa kangguru, rusa dan burung.
Kondisi air permukaan (sungai) di Kabupaten Merauke dapat dijadikan sebagai sumber air baku irigasi karena kandungan/sifat fisika, kimia dan biologi air memenuhi standar baku mutu air untuk irigasi pertanian. Pemanfaatan air tanah tidak disarankan untuk digunakan karena proses pengisian kembali (recharge) air tanah perlu waktu sangat lama (waktu geologi). Pola pemanfaatan lahan pertanian indikatif berdasarkan pada lahan indikatif potensial di Kabupaten Merauke didominasi oleh pemanfaatan tanaman padi sawah irigasi.
Rekomendasi yang dapat disampaikan terkait dengan tindak lanjut dari kajian potensi lahan dan tanah untuk pengembangan lahan sawah sejuta hektar adalah perlu diadakan survei lanjutan yang ditujukan untuk:
1) melakukan uji presisi dan akurasi atas batas-batas satuan sistem lahan yang ada berbasis analisis citra beresolusi spasial halus dan peta terkini yang berskala besar. Ujia akurasi dan presisi didasarkan atas kenyataan bahwa peta sistem lahan yang telah ada telah dibuat berdasarkan analisis citra dengan resolusi kasar (Landsat MSS dengan resolusi spasial 60 m) sehingga mempunyai akurasi dan presisi yang rendah;
2) melakukan penambahan titik pengamatan tanah agar memenuhi standard baku pemetaan. Peta yang diharapkan dapat digunakan untuk penyusunan rencana operasional pembukaan lahan sawah semestinya berskala detil (paling tidak berskala 1:10.000 hingga 1:5.000)
2.4.2 Kajian Makroekonomi dan Bisnis
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke terhadap SLM menjadi fokus utama dari studi makroekonomi dan bisnis, sedangkan kajian untuk UTLS dan ST5000 menjadi kajian pendukung.
Secara internal, SLM memiliki strengths: (i) letak geografis yang strategis; (ii) kondisi alam yang mendukung; (iii) sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai; dan (iv) masyarakat yang toleran dan demokratis. Weakness SLM: (a) infrastruktur yang terbatas; (b) kondisi birokrasi yang kurang efektif; (c) biaya logistik yang tinggi; dan (d) jaringan bisnis dan pemasaran yang kurang. Secara eksternal, SLM memiliki opportunities: (i) pasar regional, nasional dan internasional yang berkembang; (ii) perekonomian nasional yang stabil; (iii) peningkatan perdagangan internasional; dan (iv) relokasi industri ke daerah berkembang. Threats SLM: (a) kurangnya koordinasi antar pemerintah pusat dan daerah; (b) situasi politik nasional dan regional;, (c) kapasitas sumber daya manusia yang kurang; (d) keberlanjutan komitmen dan dukungan pemerintah pusat.
Tinjauan usahatani UTLS dari aspek pasar dan pemasaran menunjukan pasar domestik dan regional memiliki kapasitas untuk menyerap hasil produksi UTLS dan Bulog dapat menjadi konsumen utama di Merauke. Tinjauan dari aspek teknis dan teknologi menunjukkan bahwa pendekatan sawah-tekno dapat memberikan potensi produktivitas lahan hingga 8 ton gabah per hektar sawah (20% lebih tinggi dari rata-rata produktifitas sawah di Kabupaten Merauke). Sarana bengkel dan kapasitas skill tenaga kerja yang terbatas menghambat produktifitas yang lebih optimal. Ditinjau dari aspek operasional, organisasi UTLS masih dalam tahap pengembangan; secara umum telah berjalan dengan baik namun komunikasi antara pihak pengelola di Kabupaten Merauke dan pemilik di Jakarta masih perlu ditingkatkan. Ditinjau dari aspek keuangan, meski masih dalam tahap pengembangan UTLS memiliki estimasi net-profit yang positif. Rekapitulasi laporan keuangan UTLS belum dapat menggambarkan akfitifas keuangan secara komprehensif sehingga perlu pencatatan keuangan yang lebih baik.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke orang. Ditinjau dari aspek keuangan, dengan berbagai asumsi, ST5000 berpotensi memiliki net present value sebesar Rp. 2 triliun, benefit-cost ratio 6,34 dan payback period 26 bulan. Mengekstrapolasi hasil estimasi ST5000, SLM berpotensi menguntungkan secara keuangan dengan net present value sebesar Rp. 400 triliun.
Secara ekonomi, SLM berpotensi memberi kontribusi yang positif terhadap perekonomian Indonesia, mengingat: Indonesia masih mengimpor beras, masih dibutuhkan pembukaan lapangan pekerjaan baru, sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki dampak yang paling signifikan dalam mengurangi kemiskinan, tingkat kemiskinan Propinsi Papua yang masih tinggi dan sektor pertanian masih terpusat di Jawa (pemerataan pembangunan). Terdapat beberapa potensi kompleksitas yang perlu diperhatikan: (i) hubungan dengan masyarakat setempat; (ii) kondisi infrastruktur; (iii) ketersediaan input produksi; (iv) sumber pembiayaan; (v) legalitas dan birokrasi; (vi) perkembangan perekonomian nasional dan internasional; serta (vii) resiko alam.
Berdasarkan seluruh temuan dan data yang ada, dari sudut pandang makroekonomi dan bisnis, disimpulkan SLM layak untuk dilanjutkan ke tahap studi kelayakan (feasibility study). Studi kelayakan sangat diperlukan, mengingat ide SLM tidak jauh berbeda dengan Merauke Integrated Food and Energy (MIFEE). Kegagalan MIFEE menjadi pembelajaran berharga akan potensi kompleksitas yang ada.
Rekomendasi dari pra studi kelayakan makroekonomi dan bisnis adalah sebagai berikut: 1) SLM dilanjutkan ke tahap studi kelayakan (feasibility study).
2) Konsep SLM perlu dikembangkan lebih rinci terutama identifikasi dalam hal: tujuan, cakupan, target, struktur organisasi, legalitas dan pihak yang terlibat.
3) Dokumentasi kegiatan dan keuangan dari UTLS dan ST5000 perlu diperhatikan karena akan menjadi informasi yang sangat berharga dalam mengidentifikasi potensi manfaat maupun kompleksitas dari SLM serta dalam memprediksi besaran manfaat dan biaya dari SLM.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
2.4.3 Kajian Ekonomi dan Kelembagaan Mikro
Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa usahatani padi di Merauke memberikan pendapatan dan keuntungan yang positif bagi petani. Permasalahan yang dihadapi petani dalam pengembangan usahatani padi di antaranya ketersediaan dan kecukupan sarana produksi, air irigasi, serta kesuburan lahan. Hasil analisis SWOT pada aras mikro menunjukkan bahwa strategi untuk pengembangan agribisnis padi di Merauke adalah strategi S-T. Strategi S-T bermakna bahwa strategi pengembangan usahatani dapat dilakukan dengan mengoptimalkan anasir-anasir kekuatan untuk mengatasi potensi ancaman. Beberapa pilihan strategi yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan antara lain (i) pengupayaan jaminan kepastian hukum dan usaha; (ii) sosialisasi mengenai desain kemitraan; (iii) mengupayakan RTRW sebagai acuan pengembangan dan pengelolaan lahan.
Studi pra-kelayakan SLM perlu menggunakan analisis SWOT tingkat makro dan tingkat mikro. Hubungan antara SWOT tingkat makro (Kabupaten Merauke) dan tingkat mikro (perusahaan) disajikan pada Gambar 4. SWOT tingkat makro, faktor internal (kekuatann dan kelemahan) yang dimiliki yaitu daerah (Kabupaten Merauke) sedangkan faktor eksternal yang dimiliki oleh daerah, provinsi, nasioanal dan internasional memberikan peluang dan tatangan kepada Kabupaten Merauke untuk mengembangkan SLM. Pada tingkat mikro, faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang dimiliki oleh Kabupaten Merauke akan menjadi salah satu faktor eksternal Perusahaan. Faktor eksternal perusahaan yang lain adalah Provinsi/Nasional/Internasional.
Desain strategi pengembangan kelembagaan agribisnis padi dilakukan melalui kemitraan inti-plasma model Academician Business Communities and Government (ABCG) atau Public Private Partnership (PPP). Prinsip dasar kemitraan bisnis model ABCG adalah memberikan peran setara baik sektor (A) perguruan tinggi; (B) dunia usaha; (C) masyarakat; dan (G) pemerintah. Pengembangan kelembagaan perlu memuat prinsip-prinsip dasar kemitraan dan sistem pembagian manfaat/keuntungan yang berkeadilan, yang dipahami dan disepakati oleh para pemangku kepentingan. Masing-masing pemangku kepentingan juga harus dapat memerankan diri secara optimal dalam proses kemitraan.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke sesuai dengan kaidah keilmuan. Koperasi sebagai wadah kerjasama ekonomi dan kelembagaan diharapkan dapat memerankan diri sebagai jembatan dan representasi dari petani plasma dalam penyediaan input produksi, penjualan hasil produksi, pengembangan produk, dan pemasaran hasil bekerjasama dengan inti.
Gambar 2.9 Hubungan SWOT tingkat makro dan tingkat mikro Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Pemerintah berperan sebagai pembuat regulasi agar proses kemitraan dapat berjalan secara berkelanjutan dan saling menguntungkan bagi pihak-pihak yang terlibat. Pemerintah juga perlu menciptakan iklim kemitraan bisnis yang berdaya saing sehingga bisa berperan secara signifikan dalam ekonomi nasional maupun internasional.
Rencana pengembangan agribisnis padi di Kabupaten Merauke perlu mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, sosial budaya, lingkungan dan kelembagaan. Aspek ekonomi menekankan bahwa rencana pengembangan kawasan agribisnis diharapkan akan memberikan banyak manfaat bagi para pemangku kepentingan yang terlibat. Petani plasma akan memperoleh manfaat berupa peningkatan produksi, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan rumah tangga. Perusahaan inti akan memperoleh manfaat dalam bentuk keuntungan finansial yang berkelanjutan. Pengembangan kawasan agribisnis akan berdampak bagi pengembangan perekonomian daerah, antara lain dalam bentuk peningkatan pendapatan daerah, perluasan
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke lapangan kerja serta pertumbuhan dan pengembangan kawasan. Pengembangan kawasan agribisnis akan berkontribusi bagi penyediaan dan kemandirian pangan secara nasional, menurunkan tingkat kemiskinan, mendorong proses integrasi masyarakat dan ketahanan nasional.
2.5 Kawasan Ekonomi Khusus Pangan Merauke (KEK)
Di kabupaten Merauke, juga terdapat ide untuk mengembangkan suatu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan pertanian sebagai sektor utamanya. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pangan secara khusus didefinisikan sebagai daerah bebas dari kebijakan pemerintah dan dianggap sebagai wilayah untuk tujuan pemenuhan swasembada pangan dan perdagangan luar negeri yang meliputi kebijakan dan tarif. Tujuan utama dari wilayah ini ialah untuk meningkatkan investasi dalam negeri serta membangkitkan aktivitas ekonomi tambahan, mendukung kegiatan ekspor barang dan jasa, mendukung investasi sumber daya baik dari dalam negeri maupun luar negeri, meningkatkan kesempatan kerja, dan membangun fasilitas infrastruktur (Dohrmann, 2008). KEK Pangan juga memberikan media yang tidak hanya menarik perusahaan domestik maupun perusahaan nasional dalam mencari lokasi yang mudah dan efisien untuk bisnis lepas pantai, tetapi juga memungkinkan industri local untuk meningkatkan ekspor melalui bantuan dari mitra asing dengan harga yang kompetitif.
Pemerintah Kabupaten Merauke telah mencanangkan lahan seluas 1,2 juta hektar lahan sebagai sentra pangan nasional. Di dalam rencana ini, sawah pertanian diharapkan akan dikelola dengan pendekatan mekanisasi dimana setiap hektar lahan sawah berpotensi memiliki tingkat produktifitas gabah sebesar 8 ton per hektar atau sekitar 5 ton padi per hektar. Apabila terwujud maka Indonesia berpotensi menjadi negara swasembada beras dan negara eksportir beras. Namun rencana ini tidak bisa berjalan apabila tidak didukung pembangunan industri beras atau industri pengolahan beras.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke Peningkatakan ekspor, investasi domestik, dan FDI (foreign direct investment) memungkinkan peningkatan hubungan kemitraan antara publik dengan swasta yang akhirnya dapat mengembangkan infrastruktur kelas dunia, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan kesempatan kerja. Pengembangan KEK dilakukan tidak hanya di Indonesia tapi juga oleh China dan India. China mendirikan KEK dengan tujuan untuk menarik penanaman modal asing (PMA), memperluas ekspor dan mempercepat transfer teknologi mutakhir. Sedangkan India mebuka KEK dengan tujuan perdagangan luar negeri, kebijakan dan tariff. Sehingga di wilayah tersebut di India tercipta lingkungan internasional yang kompetitif dan bebas untuk ekspor dan rendering jasa.
Gambar 2.10 Rantai Produksi Beras dengan Sistem Tradisional dan Industri
Dalam rangka mempercepat pencapaian ketahanan dan kedaulatan pangan, Pemerintah Indonesia berencana untuk memiliki program Sejuta Lahan Merauke (SLM) di Kabupaten Merauke yang didukung oleh keberadaan KEK Pangan di Merauke. Peningkatan penanaman modal melalui
Konsume n Beras:
1.Rumah tangga 2.Industri
beras
Konsumen Beras:
1. Rumah tangga 2. Industri beras 3. Industri
turunan beras 4. Konsumen luar
negeri
Produksi Penggilingan Padi Beras Pasar Konsumen
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geostrategis dan geoekonomi Merauke. Geostrategis adalah kombinasi faktor geopolitik (pengaruh faktor geografi, ekonomi, dan demografi dalam politik luar negeri suatu negara) dan strategi yang memberikan peran tertentu pada suatu kawasan geografis. Dengan adanya KEK, pendekatan produksi di sektor pertanian diharapkan dapat beralih dari rantai produksi yang bersifat tradisional ke industrialisasi.
Kabupaten Merauke merupakan kabupaten yang mempunyai nilai geostrategis dan geoekonomi. Oleh karena itu, Kabupaten Merauke membutuhkan sarana kawasan pengembangan yang memanfaatkan keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. Salah satu bentuk kawasan pengembangan yang kemungkinan dibentuk adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus, KEK merupakan kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu.
2.5.1 Rencana KEK Merauke
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Gambar 2.11. Rencana okasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Merauke
Kabupaten Merauke saat ini merupakan lumbung padi nasional di kawasan Indonesia timur. Oleh karena itu pengembangan kawasan industri pangan terpadu di Merauke ini diharapkan dapat mendukung pencapaian nilai produk pangan yang lebih tinggi. Dengan gambaran konsep sebagai berikut:
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke Zonasi KEK industri terbagi ke dalam kawasan industri utama yang dilengkapi oleh sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung. Kondisi fisik eksisting kawasan usulan KEK industri saat ini merupakan lahan kosong yang telah dilewati oleh jalan utama dengan lebar jalan + 12 – 21 m, yang merupakan akses utama yang menghubungkan setiap zona dalam KEK. Pembagian zonasi pada KEK industri dapat dilihat pada Gambar 2.12 dengan luas setiap kawasan dijelaskan pada Tabel 2.2.
Gambar 2.12. Rencana Peruntukan Ruang KEK Merauke Tabel 2.2. Luas Zonasi Kawasan Industri
Kawasan Luas (Ha)
Fasilitas Umum 22.35
Industri Agro 42.56
Industri Mesin Pertanian 13.70
Infrastruktur Pendukung 18.00
Pergudangan 7.31
Perkantoran 13.87
Perumahan Pegawai 24.18
Ruang Terbuka Hijau 23.70
Jalan Utama 17.59
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke Secara singkat, sarana dan prasarana yang akan dibangun dalam setiap zona dijelaskan sebagai berikut:
1. Fasilitas umum
Didirikan untuk kepentingan umum dalam KEK, yang terdiri dari: a. Rumah sakit
b. Fasilitas ibadah c. Hotel
d. Gedung serbaguna
2. Industri agro
Merupakan zona lokasi dibangunnya industri pengolahan produk pangan dan industri pendukungnya, yang terdiri dari:
a. Pabrik rice to rice b. Rice mill
c. Rice husking
d. Pengolahan by rice product berikut turunannya e. Pengolahan pakan ternak
Merupakan industri pendukung dalam KEK untuk menunjang keberlangsungan kegiatan pengolahan produk pangan, yang terdiri dari:
a. Toko mesin pertanian b. Bengkel dan retailer c. Industri pupuk d. Industri logistik
4. Infrastruktur pendukung
Merupakan infrastruktur yang dibangun untuk mendukung operasional dari industri-industri dalam KEK, yang terdiri dari:
a. Listrik
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke a. Gudang bahan baku
b. Gudang hasil
c. Tempat seleksi dan pengolahan hasil
6. Perkantoran
Didirikan sebagai fasilitas untuk menunjang kegiatan pemerintahan serta kegiatan perdagangan dan jasa dalam KEK, yang terdiri dari:
a. Kantor otoritas KEK b. Kantor Pemasaran
7. Perumahan pegawai
Didirikan sebagai fasilitas untuk menunjang kehidupan pegawai sebagai tenaga kerja dalam KEK, yang terdiri dari:
a. Perumahan b. Taman rekreasi c. Ruko
8. Ruang terbuka hijau
Berfungsi sebagai fasilitas sosial yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum dalam KEK untuk aktivitas bersama di lingkungan terbuka, yang terdiri dari:
a. Civic center b. Taman hiburan
2.5.2 Hinterland dari KEK Merauke
KEK Pangan Merauke diharapkan menjadi pusat pengelolahan hasil pertanian beras menjadi kualitas terbaik untuk dapat dipasarkan ke luar daerah. KEK Merauke berada dalam hinterland
kawasan pangan Kabupaten Merauke. Hinterland KEK Pangan Merauke merupakan kawasan penopang dan penunjang dalam pengembangan KEK Pangan Merauke berupa daerah pertanian lahan sawah beserta daerah pendukung lainnya.
Hinterland KEK Pangan Merauke berada pada 6 daerah administratif Kabupaten Merauke. Keenam distrik yang masuk dalam hinterland KEK Pangan Merauke yaitu Distrik Animba, Distrik Kurik, Distrik Tanah Miring, Distrik Semangga, Distrik Malind Distrik Jagebob. Batas alam pada hinterland KEK Pangan Merauke yaitu sisi tenggara dibatasi oleh Sungai Maro, sisi barat daya oleh Laut Arafuru dan sisi barat laut oleh Sungai Bian serta ditengahnya dialiri oleh Sungai Kumbe.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke Gambar Appendix 1.1 menujukkan lokasi rencana KEK Pangan Merauke beserta rencana pertanian lahan sawah dan pendukung lainnya. Dengan rincian luasan sebagai berikut:
• Hinterland seluas 250.442 hektar (warna merah muda).
• Kawasan sawah seluas 212.500 hektar (warna hijau)
• KEK seluas 183,25 hektar (warna kuning).
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
BAB III
ANALISIS RENCANA PENGEMBANGAN
3.1 Perencanaan Lokasi Kawasan
Perencanaan spasial merupakan dasar untuk dapat menentukan lokasi KSPPN Merauke. Rancangan terkait potensi hingga kendala yang dihadapi dalam penentuan lokasi KSPPN Merauke dianalisa secara mendalam untuk memperoleh akurasi hasil dan dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah. Kondisi khas pada setiap kawasan tidak dapat serta merta diterapkan secara menyeluruh dalam pengaplikasian metode sehingga perlu dibuat skenario atau model-model yang berbasis pada karakteristik wilayahnya. Mendukung tujuan kawasan sentra produksi pangan nasional merauke perencanaan dimulai dari pemetaan kawasan.
Pemetaan kawasan sentra produksi pangan nasional di Kabupaten Merauke berasal dari hasil-hasil basis data yang ada. Data sekunder dan data primer berupa dokumen publikasi ataupun kajian sektoral satu bidang keilmuan merupakan harta berharga dalam perencaan kawasan. Pemetaan kawasan sentra produksi pangan nasional di Kabupaten Merauke bersumber dari fungsi kawasan Kementerian Kehutanan (2013), pola ruang Kabupaten Merauke (2011) dan indikatif potensi lahan sawah Kabupaten Merauke ( P2EB UGM1, 2015). Pengembangan kawasan sentra produksi
pangan nasional di Kabupaten Merauke juga perlu didukung perencanaan sarana dan prasaran (infrastruktur) yang memadai. Pembuatan masterplan (rencana induk) dalam upaya pengembangan KSPPN perlu diwujudkan guna mendukung percepatan arahan kebijakan yang dapat diambil.
Hasil indikasi menunjukkan potensi lahan sekitar 2 juta lahan dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian terutama sawah. Keterbatasan data dan informasi yang dapat menjadi dasar untuk perencanaan KSPPN Kabupaten Merauke merupakan tantangan dalam proses perencanaan yang dimiliki. Penjabaran dan tingkat akurasi hasil pemetaan KSPPN Kabupaten Merauke masih perlu dikaji lebih mendalam untuk dapat sesuai diterapkan secara mendetail. Hasil pemetaan kawasan sentra produksi pangan nasional Kabupaten Merauke diharapkan memberikan gambaran secara umum terkait pengembangan KSPPN dan arahan kebijakan yang dapat diambil.
1 Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada. P2EB
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke Rencana kawasan sentra prosuksi pangan nasional di Kabupaten Merauke optimis dapat mencapai luasan 1,2 juta hektar. Lahan pertanian untuk kawasan sentra produksi pangan bertujuan untuk menjadi lumbung pangan nasional. Pencapai pemanfaatan lahan pertanian terutama untuk sawah dengan komoditas beras layak untuk direncanakan. Perencanaan dasar yaitu pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi dimanfaatkan lahan sawah berdasarkan ketersediaan data yang ada.
Rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Merauke tahun 2011 memiliki pola ruang pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah. Peruntukan lahan pertanian dapat dijadikan dasar penentuan kawasan sentra yang dapat dijadikan acuhan sebagai lahan sawah. Gambar 3.1. menunjukkan kawasan produksi pangan yang direncanakan Kabupaten Merauke berdasarkan pola ruang tahun 2011. Tahapan pengembangan menjadi 3 tahap merupakan optimistis pemerintah Kabupaten Merauke dalam pemanfaatan lahan agar dapat cepat dilaksanakan.
Gambar 3.1. Peta Rencana Kawasan Produksi Pangan Kabupaten Merauke (Sumber: Pola Ruang Kabupaten Merauke, 2011)
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhan lahan 1,2 juta hektar lahan sawah membutuhkan analisa dan kajian mendalam terhadap lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan sawah.
Dasar penentuan lahan untuk dapat dimanfaatkan berasal dari pemanfaatan lahan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan tahun 2013. Peta pemanfaatan lahan memiliki fungsi lahan sebagai kawasan lindung dan budidaya. Pemanfaatan lahan untuk lahan pertanian sawah dapat dilakukan pada kawasan budidaya Kabupaten Merauke dengan luasan 2.965.500 hektar. Kawasan budidaya atas dasar pemanfaatan lahan Kabupaten Merauke tidak seluruhnya berpotensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian sawah.
Pola ruang untuk pertanian lahan kering dan lahan basah yang telah ada perlu ditambahkan dengan hasil kajian mengenai indikatif lahan potensial lahan sawah Kabupaten Merauke hasil pra studi kelayakan (pra Fesiable Study) (P2EB UGM, 2015). Berdasarkan penilaian kesesuaian lahan pada beberapa sampel sistem lahan di Kabupaten Merauke, terdapat lahan indikatif potensial sebagai lahan pertanian di Kabupaten Merauke seluas 2.091.968 hektar yang terdiri dari total lahan di luar kawasan lindung. Dalam luasan lahan indikatif potensial ini, hutan yang dapat dikonversi (HPK) yang telah dibebani perizinan adalah seluas 1.240.606 hektar (Gambar 3.2.)
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
3.2 Pengembangan Infrastruktur
Sarana dan prasarana pendukung berupa transportasi dan sumber energi di wilayah Kabupaten Merauke berperan penting dalam melakukan pengembangan kawasan pertanian pangan. Sarana dan prasarana pendukung pengembangan kawasan pertanian pangan ini mencakup: (1) jaringan transportasi darat dan sungai, (2) jaringan irigasi, (3) pelabuhan, dan (4) listrik.
Perencanaan jaringan jalan sebagai prasarana pendukung di kawasan pangan dibutuhkan untuk tujuan percepatan pertumbuhan ekonomi dan membuka akses wilayah (Pustral UGM, 2015). Perencanaan jaringan jalan termasuk ke dalam sistem prasarana transportasi darat yang mencakup 4 (empat) kategori jalan, yakni jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan. Pengembangan sarana transportasi sungai bertujuan untuk membuka akses wilayah Kabupaten Merauke dengan wilayah sekitarnya dan merupakan bagian vital dalam aspek perhubungan mengingat kondisi jaringan jalan darat masih kurang memadai secara menyeluruh. Perencanaan jaringan irigasi juga dibutuhkan untuk menjaga dan mengatur ketersediaan air irigasi pada pertanian lahan basah. Kebutuhan air untuk irigasi sawah di Kabupaten Merauke diperoleh dari sumber-sumber air baik air permukaan maupun air bawah permukaan. Jaringan prasarana transportasi laut mencakup jalur pelayaran dan pelabuhan laut yang terdiri dari pelabuhan pengumpul dan pengumpan, serta pelabuhan perikanan yang dikembangkan di Distrik Merauke.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Gambar 3.3. Peta Rencana Pengembangan Infrastruktur Kabupaten Merauke (Sumber: Tim P2EB-UGM, 2015)
3.2.1 Jaringan Transportasi Darat dan Sungai
Program pengembangan kawasan dengan alokasi pertanian yang mencakup hamper seluruh wilayah Kabupaten Merauke memerlukan pengembangan akses dan jaringan penghubung yang masksimal. Hal tersebut perlu didukung dengan rencana sarana prasarana yang sekiranya akan mempermudah aliran barang komoditas dari lokasi produsen ke lokasi distributor atau bahkan konsumen. Sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 2009 mengenai lalu Lintas Angkutan Jalan yang menyebutkan bahwa penyelenggaraan lalulintas, angkutan dan jalan memiliki tujuan untuk terwujudnya pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional.
UU Nomor 22 Tahun 2009 menjadi acuan pula untuk Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014 yang dalam hal ini menjadi dasar penetapan alokasi jaringan jalan pada pengembangan kawasan pertanian Kabupaten Merauke. Merunut pada kedua acuan maka penentuan jalan bebas hambatan yang dicanangkan ini perlu melihat dari berbagai segi diantaranya adalah menetapkan:
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke b) Titik awal dan perencanaan,
c) Hasil identifikasi daerah-daerah yang layak dilintasi berdasarkan struktur mekanika tanah, struktur geologi, dan kondisi kontur
Sehingga perlu adanya indentifikasi dan kajian yang lebih dalam terkait rencana pembangunan jalan penghubung kota antar distrik di dalam cakupan pengembangan kawasan pertanian.
Program pengembangan kawasan dengan alokasi pertanian yang mencakup hamper seluruh wilayah Kabupaten Merauke memerlukan pengembangan akses dan jaringan penghubung yang masksimal. Hal tersebut perlu didukung dengan rencana sarana prasarana yang sekiranya akan mempermudah aliran barang komoditas dari lokasi produsen ke lokasi distributor atau bahkan konsumen. Rencana jalan yang termuat pada RTRW belum sepenuhnya mencakup seluruh daerah Kabupaten Merauke, sehingga rekomendasi jalur jalan dengan hierarki arteri dengan konsep rute jalan strategis dan berbeton. Rencana jalan dengan lebar 12 meter dan tebal 20 cm dengan rute koridor Kota Merauke – S. Bian dan S. Bian – Kinam dengan jarak sekitar 400 km.
Topografi Kabupaten Merauke tidak sepenuhnya datar dan tidak terhalang oleh sungai dan rawa. Akses jalan yang direncanakan akan melewati beberapa sungai yang mengalir pada wilayah Kabupaten Merauke. Sungai besar yang membelah Kabupaten Merauke yaitu Sungai Bian sehingga diperlukan pembangunan jembatan besar yang dapat menghubungkan akses jalan dari wilayah timur dan barat. Rekomendasikan pembangunan jembatan yang melalui Sungai Bian sesuai yang tertera pada RPJPD Kabupaten Merauke yang menghubungkan Distrik Animha dan Distrik Kaptel.
3.2.2 Jaringan Irigasi
Merunut pada acuan utama perencanaan kawasan pada Kabupaten Merauke, pengembangan jaringan irigasi dan juga penyediaan sarana air baku bergantung pada pengelolaan aliran DAS Einladen-Digul-Buraka-Biguma yang perlu menyesuaikan kebutuhan yang tercipta dari penggunaan yang sudah ada saat ini. Dokumen RTRW Kabupaten Merauke menyebutkan bahwa pengembangan pertanian sawah basah yang dialokasikan seluas 490.000 hektar membutuhkan suplai air irigasi sebanyak 505.000 liter setiap detik yang pembangunannya menyesuaikan penentuan petak tanah.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 21.775.000 liter per detik (Tabel 3.1.). Potensial sumber air terbesar di Kabupaten Merauke berasal dari DAS Bian. Pemenuhan kebutuhan air irigasi perlu dikaji lebih mendalam dalam perhitungan total kebutuhan air hingga perencaan teknis irigasi.
Tabel 3.1. Debit Andalan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sebagian Kabupaten Merauke
No Nama Sumber: Pola PSDA WS Einlanden-Digul-Bikuma, 2014
Perencanaan jaringan irigasi perlu memperhatikan kondisi fisik lahan dan pemilihan teknik irigasi yang tepat. Hasil kajian pra studi kelayakan satu juta lahan sawah Merauke (2015) diindikasikan terdapat kadar pyrite yang berpengaruh terhadap hasil pertanian (bersifat racun) apabila lahan terbuka pada kedalaman sekitar 1 meter dan kontak dengan air. Indikasi awal melalui tahap pemetaan dalam kajian studi kelayakan (feasibility study (FS)) perlu dilakukan guna memberikan pencanaan yang layak sehingga menghasilkan produksi yang optimal dan berkelanjutan.
Pengembangan kawasan pertanian sawah pada beberapa Lokasi berada pada lahan kering. Model pengelolaan dan pengusahaan irigasi pada lahan kering dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya adalah:
! Irigasi Lokal melalui proses pipanisasi. Di sini juga berlaku gravitasi, di mana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disebar hanya terbatas sekali atau secara lokal. Pipanisasi dapat diterapkan pada daerah yang kondisi topografi bergelombang. Pipanisasi mungkin dapat diterapkan seperti pada Distrik Muting, Distrik Olikobel, Distrik Ulilin. ! Irigasi Penyemprotan. Merupakan irigasi yang biasanya menggunakan alat bantu penyemprot
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke diberlakukan pada seluruh lahan pertanian sawah yang dialokasikan untuk dikembangkan pada Kabupaten Merauke.
Gambar 3.4. Contoh alat irigasi semprot
(sumber:
http://i00.i.aliimg.com/wsphoto/v0/32320593122_1/H-Quality-Greenhouse-Hanging-Mist-Sprayer-Kits-font-b-Atomization-b-font-font-b-Nozzle-b.jpg)
! Irigasi Pompa Air Air diambil dari sumur dan juga sungai yang kemudian dinaikkan melalui pompa air (Gambar 3.5.). Pada beberapa distrik yang dialiri dengan sungai seperti Distrik Muting, Distrik Jagebob, Distrik Tanah Miring, dan Distrik Animha.
Gambar 3.5. Contoh irigasi pompa
(Sumber:
http://cimg.antaranews.com/jogja/2012/10/ori/20121011img00785-20121011-1329.jpg)
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
3.2.3 Pelabuhan
Kondisi sebagian besar wilayah di Indonesia yang didominasi oleh wilayah kepulauan dengan dibatasi perairan sangat luas menjadikan kebutuhan untuk menumbuhgerakkan pembangunan nasional. Sektor perhubungan udara dan perhubungan laut memegang peranan penting dalam mendekatkan suatu wilayah dengan wilayah lain, suatu daerah dengan pulau terpencil serta wilayah perbatasan dalam rangka perwujudan wawasan nusantara, sehingga dapat menggairahkan tumbuhnya perdagangan umumnya (Trisalyono, 1996 : 43-44).
Peranan transportasi dalam dinamika masyarakat bahkan dinamika Negara dan bangsa sangatlah penting khususnya dalam menunjang perdagangan. Dalam dunia transportasi terdapat ungkapan
ship follow the trade and trade follow the ship. Kata ship follow the trade mengandung makna bahwa transportasi (ship) mengikuti perkembangan maupun kemanjuan aktivitas perdagangan. Dan kata
trade follow the ship berarti pula bahwa perkembangan kegiatan perdagangan tergantung pada transportasi (ship). Dengan begitu dapat diartikan bahwa perkembangan suatu daerah ataupun masyarakat/wilayah tergantung dari perkembangan sarana dan prasarana transportasi,atau sebaliknya, perkembangan saran dan prasarana transportasi suatu daerah tergantung pada perkembangan aktivitas atau kegiatan perdagangan dari daerah atau dari masyarakat di wilayah tersebut. Dengan demikian, transportasi atau aktivitas perdagangan dan perkembangan wilayah saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jelas bahwa transportasi memiliki nilai startegis bagi suatu wilayah. Nilai strategis transportasi di sini, terutama nilai ekonomisnya memberi tambahan kesejahteraan hidup bagi masyarakat. Nilai ekonomi dari transportasi membuat transportasi semakin penting dan membutuhkan berbagai macam kajian.
Transportasi sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Dengan adanya transportasi, menyebabkan adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan menurut keahlian sesuai dengan budaya, adat istiadat suatu bangsa atau daerah. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau bangsa tergantung pada ketersediaan pengangkutan pada daerah yang bersangkutan. Suatu barang atau komoditi mempunyai nilai menurut tempat dan waktu, jika barang tersebut dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain (time utility and place utility). Dalam hal ini, dengan menggunakan trasportasi dapat menciptakan suatu barang/komoditi berguna menurut waktu dan tempat (Salim, 1993).
Pengembangan pelabuhan untuk mendukung akses dan infrastruktur KEK Merauke adalah dengan Pelabuhan Kumbe, Pelabuhan Bian dan Kimaan.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 3. Statusnya pelabuhan perikanan yang dikelola kementerian kelautan dan perikanan
4. Pelabuhan Kimaan – Pelabuhan Wanam
Hal yang perlu diketahui dalam proses pengembangan pelabuhan dan revitalisasi kelas pelabuhan tersebut diantaranya adalah :
1. Fasilitas pelabuhan yang sudah ada
2. Kegiatan perekonomian – pasar dan atau pusat perdagangan
3. Jaringan jalan – kualitas, kuantitas, kondisi akses jalur darat atau jenis jalan 4. Jumlah penduduk desa atau distrik yang dilayani
5. Program dinas atau kementerian perhubungan terkait dengan akses transportasi dan komunikasi
6. Jaringan listrik
7. Kedalaman air sungai atau laut yang menghadap pelabuhan 8. Gladak – jenis, panjang, kondisi
9. Mercusuar pelabuhan – kantor kontrol
Pelabuhan sederhana sebagai simpul kegiatan komoditas pertanian dapat di definisikan sebagai daerah terlindung dari gelombang laut yang dilengkapi dengan fasilitas terminal meliputi:
Pemecah gelombang, yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan dari
gangguan gelombang.
Alur pelayaran, yang berfungsi untuk mengarahkan kapal-kapal yang akan keluar atau
masuk ke pelabuhan.
Kolam pelabuhan, merupakan daerah perairan di mana kapal berlabuh untuk melakukan
bongkar-muat, gerakan untuk memutar (di kolam putar), dsb.
Dermaga dan alat tambat, adalah bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapatkannya
kapal dan menambatkannya pada waktu bongkar-muat barang. Sementara alat tambat digunakan untuk menambatkan kapal pada waktu merapat di deramga maupun menunggu di perairan sebelum bisa merapat ke dermaga.
Gudang dan gedung terminal administrasi. Gudang harus ada dan terletak di belakang dermaga
untuk menyimpan barang-barang yang harus menuggu pengapalan.
Fasilitas bahan bakar untuk kapal.
Fasilitas pandu kapal, alat bongkar muat (forklift), kapal tunda dan perlengkapan lain yang
diperlukan untuk membawa kapal keluar atau masuk pelabuhan.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 2009). Pelabuhan memiliki kedudukan pada aspek teknis dan pengusahaan, maka di dalam perencanaan pengembangan ruang akan mencakup rencana fungsi kegiatan, rencana pemanfaatan ruang, rencana fasilitas pelabuhan, rencana pengelolaan lingkungan, rencana sarana dan prasarana alur pelayaran, rencana tahapan pelaksanaan pembangunan, rencana tahapan program investasi dan rencana biaya serta indikasi unit pelayanan pelabuhan. Masing-masing penjabaran dari rencana fungsi kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
Rencana fungsi kegiatan, mencakup rencana penetapan fungsi-fungsi kegiatan yang
menggambarkan fungsi primer sebagai kegiatan utama serta fungsi sekunder sebagai kegiatan penunjang.
Rencana pemanfaatan ruang, menjabarkan seluruh fungsi kegiatan yang terdapat di dalam
kawasan pelabuhan menjadi zona-zona dengan menempatkan lokasi kegiatan yang diproyeksikan untuk kebutuhan di masa mendatang.
Rencana Pengembangan Fasilitas Pelabuhan adalah perkiraan kebutuhan fasilitas
pelabuhan yang mencakup wilayah daratan dan perairan pelabuhan yang merupakan hasil rencana peruntukan tata guna tanah dan perairan sesuai tahapan arah pengembangan pelabuhan.
Rencana pengelolaan lingkungan, berisikan arahan jenis-jenis penanganan lingkungan,
jaringan pergerakan dan utilitas dalam kawasan, yang terdiri dari : pembangunan baru, peningkatan, perbaikan, pembaharuan, pemugaran, dan perlindungan serta pengoperasian pelabuhan.
Rencana prasarana pendukung berupa arahan kebijaksanaan penetapan sistem pergerakan
transportasi darat (jaringan jalan tol/non tol dan rel kereta api) dan transportasi udara, identifikasi sumber-sumber daya dan energi, arahan pola jaringan primer dan sekunder mengenai suplai air bersih, suplai listrik, jaringan telekomunikasi, suplai bahan bakar minyak, jaringan drainase, jaringan limbah (sewerage) dan sistem pembuangan sampah serta ruang pendukung kegiatan perkapalan (kapal-kapal kerja dan fasilitas perbaikan kapal).
Rencana Struktur Sarana dan Prasarana Keselamatan Pelayaran.
Rencana tahapan pelaksanaan pembangunan, berisikan arahan prioritas tahapan
pelaksanaan pembangunan pelabuhan selama kurun waktu perencanaan. Tahapan Pembangunan dibagi dalam Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jangka Pendek (5 tahun), Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jangka Menengah (10 tahun) dan Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang (25 tahun).
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Rencana Tahapan Program Investasi dan Rencana Biaya.
Melihat dari topografi dan kondisi alam Kabupaten Merauke serta melihat dari Tatanan Pelabuhan Nasional yang tertuang pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 53 Tahun 2002 maka rekomendasi alokasi pelabuhan yang paling memungkinkan dapat diletakkan pada daerah:
" Distrik Ilwayab dengan Pelabuhan Sungai di Kota Wanam yang berskala lokal " Distrik Tubang dengan Pelabuhan Sungai di Area Kimaam yang berskala lokal
" Distrik Kurik, Distrik Malind, dan Distrik Animha dengan Pelabuhan Sungai di Area Sungai Bian yang berskala lokal
" Pelabuhan utama Kota Merauke dengan kelas pelabuhan penyeberangan skala regional
dengan kebutuhan dermaga untuk bongkar muat
Kondisi pantai dan lahan di sekitar wilayah kawasan pengembangan pertanian Merauke yang saat ini diperuntukkan bagi kepentingan prasarana pelabuhan, baik untuk fasilitas darat maupun fasilitas jalur pelayaran sungai besar dipetakan dengan infrastruktur lain dalam Gambar 3.6. Gambar 3.6. menunjukkan kondisi salah satu dermaga di Kabupaten Merauke yang perlu diperbaiki apabila akan ditingkatkan menjadi pelabuhan.
Gambar 3.6. Kondisi Dermaga Bian di Distrik Malind Sumber: Tim P2EB UGM, 2015
3.2.4 Listrik
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke bermata pencahaian sebagai petani dan fasilitas umum diasumsikan sebesar 18,6 MWh. Total sementara kebutuhan daya listrik untuk menunjang keperluan lahan pangan nasional Kabupaten Merauke yaitu sebesar 19.015,2 MWh (Tabel 3.2.).
Tabel 3.2. Kebutuhan Daya Listrik Penunjang Lahan Pangan Nasional Kabupaten Merauke
No Penggunaan Daya Jumlah Total (MWh)
1 Rice Mill 3 MWh/unit 93 279
2 Penduduk 213 KWh/kapita 87.876 18717,6
3 Fasilitas Umum 0,2 MWh/site 93 18,6
Sumber: PU, 2008; Setiono, 2013 dan Analisis, 2015
Power Plant yang selama ini berbasis pada PLTD, pengembangan kawasan pertanian Merauke juga merekomendasi untuk mengembangkan teknologi microhidro dengan memanfaatkan sumberdaya alam air yang masih melimpah melalui sungai dan sumber air yang tersebar pada kontur tinggi di seluruh Kabupaten Merauke ataupun luar daerah yang mampu memasok listrik.
3.3. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Gambar 3.7. Peta Indikatif Rencana Klaster Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional Kabupaten Merauke
(Sumber: Tim P2EB UGM, 2015)
Kawasan sentra produksi pangan nasional direncanakan dibagi dalam klaster-klaster. Setiap klaster memiliki luas sekitar 10.000 hektar agar rangka pengelolaan lahan dapat dilakukan secara efisien. Pembagian klaster lahan sawah 10.000 hektar dilakukan dengan metode grid yang membagi rencana lahan sawah ke dalam klaster-klaster yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap klaster memiliki luas yang terbagi secara merata di lahan yang relatif datar. Pembagian rencana lahan sawah ini menghasilkan 125 klaster lahan sawah, sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.7.
Pengembangan kawasan sentra produksi pangan dapat dilakukan dengan beberapa tahap. Skema 1 yaitu menggunakan 3 tahapan dimana tahap 1 berada di sisi timur, tahap 2 berada pada sisi selatan-barat daya dan tahap 3 berada pada sisi utara-barat daya Kabupaten Merauke. Skema 1 pengembangan lahan sawah pada kawasan sentra produksi pangan di Kabupaten Merauke dibagi ke dalam 3 tahap dengan pembagian lokasi seperti pada Gambar 3.7. Skema 1 diharapkan dapat mempercepat pengembangan lahan dan efisien dalam pertimbangan waktu dengan luasan setiap tahapan (Tabel 3.3.).
Tabel 3.3. Luas Tahapan Skema 1 Pengembangan Lahan Sawah Kabupaten Merauke
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
1 559.652,11
2 200.042,39
3 450.092,51
Jumlah 1.209.787,01 Sumber: Analisis, 2015
Tahap 1 dalam pembangunan lahan sawah meliputi lahan seluas 559.652,11 Ha yang tersebar pada bagian timur Kabupaten Merauke dan mencakup sebagian dari wilayah 10 distrik, yakni Distrik Ulilin, Elikobel, Muting, Jagebob, Animha, Tanah Miring, Kurik, Sota, Maling dan Semangga. Penentuan lokasi untuk tahap pertama pembangunan lahan sawah ditetapkan berdasarkan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus di Salor. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Salor terletak di Distrik Kurik dan berfungsi sebagai pusat industri pengolahan produk pangan dan industri pendukungnya. Hal ini merupakan hasil dari pertimbangan arah pengembangan lahan sawah yang berasal dari pusat kegiatan produksi pangan dan bergerak ke daerah di sekitarnya untuk pembagian lokasi rencana lahan sawah yang merata dan mencapai titik-titik kegiatan distribusi hasil produksi pangan. Di sebelah tenggara rencana lahan sawah tahap 1 ini juga terdapat pelabuhan Kumbe sebagai pusat kegiatan distribusi hasil pangan yang dibawa dari pusat industri pengolahan pangan KEK Salor.
Gambar 3.7. Skema 1: Peta Indikatif Rencana Klaster Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional Kabupaten Merauke
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Tahap kedua pembangunan lahan sawah untuk kawasan produksi pangan Kabupaten Merauke dilaksanakan pada bagian utara Kabupaten Merauke yang mencakup sebagian wilayah Distrik Ngguti dan Tubang. Rencana lahan sawah tahap 2 ini meliputi area seluas 200.042,39 Ha yang juga dilewati oleh alur pelayaran provinsi di sebelah barat. Penetapan lokasi rencana lahan sawah tahap 2 ditentukan dengan pertimbangan adanya rencana pembangunan Pelabuhan Wanam yang terletak di sebelah barat rencana lahan sawah dan berfungsi sebagai titik kegiatan distribusi hasil produksi pangan.
Rencana lahan sawah untuk pembangunan kawasan sentra produksi pangan tahap akhir (tahap 3) terletak di bagian tengah Kabupaten Merauke yang berbatasan dengan rencana lahan sawah tahap 1 di sebelah timur dengan dipisahkan oleh Sungai Bian yang dilalui oleh alur pelayaran kabupaten. Rencana lahan sawah tahap 3 meliputi area seluas 450.092,51 Ha yang mencakup sebagian besar wilayah Distrik Okaba, serta sebagian kecil wilayah Distrik Ngguti dan Kapel. Terdapat dua pelabuhan yang terletak di area rencana lahan sawah tahap 3, yakni Pelabuhan Kimaam di sebelah barat yang dilalui oleh alur pelayaran provinsi dan Pelabuhan Bian di sebelah timur yang dilalui oleh alur pelayaran kabupaten untuk mendukung berlangsungnya kegiatan distribusi hasil produksi pangan di Kabupaten Merauke.
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Gambar 3.8. Skema 2: Peta Indikatif Rencana Klaster Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional Kabupaten Merauke
(Sumber: Tim P2EB UGM, 2015)
Tahap 1 dalam pembangunan lahan sawah meliputi lahan seluas 274.403,01 Ha yang tersebar pada bagian tenggara Kabupaten Merauke dan mencakup sebagian dari wilayah 6 distrik, yakni Distrik Jagebob, Tanah Miring, Kurik, Sota, Maling dan Semangga. Penentuan lokasi untuk tahap pertama pembangunan lahan sawah ditetapkan berdasarkan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus di Salor. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Salor terletak di Distrik Kurik dan berfungsi sebagai pusat industri pengolahan produk pangan dan industri pendukungnya. Hal ini merupakan hasil dari pertimbangan arah pengembangan lahan sawah yang berasal dari pusat kegiatan produksi pangan dan bergerak ke daerah di sekitarnya untuk pembagian lokasi rencana lahan sawah yang merata dan mencapai titik-titik kegiatan distribusi hasil produksi pangan. Di sebelah tenggara rencana lahan sawah tahap 1 ini juga terdapat pelabuhan Kumbe sebagai pusat kegiatan distribusi hasil pangan yang dibawa dari pusat industri pengolahan pangan KEK Salor.