3.2 Pengembangan Infrastruktur
3.2.3 Pelabuhan
Kondisi sebagian besar wilayah di Indonesia yang didominasi oleh wilayah kepulauan dengan dibatasi perairan sangat luas menjadikan kebutuhan untuk menumbuhgerakkan pembangunan nasional. Sektor perhubungan udara dan perhubungan laut memegang peranan penting dalam mendekatkan suatu wilayah dengan wilayah lain, suatu daerah dengan pulau terpencil serta wilayah perbatasan dalam rangka perwujudan wawasan nusantara, sehingga dapat menggairahkan tumbuhnya perdagangan umumnya (Trisalyono, 1996 : 43-44).
Peranan transportasi dalam dinamika masyarakat bahkan dinamika Negara dan bangsa sangatlah penting khususnya dalam menunjang perdagangan. Dalam dunia transportasi terdapat ungkapan
ship follow the trade and trade follow the ship. Kata ship follow the trade mengandung makna bahwa transportasi (ship) mengikuti perkembangan maupun kemanjuan aktivitas perdagangan. Dan kata
trade follow the ship berarti pula bahwa perkembangan kegiatan perdagangan tergantung pada transportasi (ship). Dengan begitu dapat diartikan bahwa perkembangan suatu daerah ataupun masyarakat/wilayah tergantung dari perkembangan sarana dan prasarana transportasi,atau sebaliknya, perkembangan saran dan prasarana transportasi suatu daerah tergantung pada perkembangan aktivitas atau kegiatan perdagangan dari daerah atau dari masyarakat di wilayah tersebut. Dengan demikian, transportasi atau aktivitas perdagangan dan perkembangan wilayah saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jelas bahwa transportasi memiliki nilai startegis bagi suatu wilayah. Nilai strategis transportasi di sini, terutama nilai ekonomisnya memberi tambahan kesejahteraan hidup bagi masyarakat. Nilai ekonomi dari transportasi membuat transportasi semakin penting dan membutuhkan berbagai macam kajian.
Transportasi sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Dengan adanya transportasi, menyebabkan adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan menurut keahlian sesuai dengan budaya, adat istiadat suatu bangsa atau daerah. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau bangsa tergantung pada ketersediaan pengangkutan pada daerah yang bersangkutan. Suatu barang atau komoditi mempunyai nilai menurut tempat dan waktu, jika barang tersebut dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain (time utility and place utility). Dalam hal ini, dengan menggunakan trasportasi dapat menciptakan suatu barang/komoditi berguna menurut waktu dan tempat (Salim, 1993).
Pengembangan pelabuhan untuk mendukung akses dan infrastruktur KEK Merauke adalah dengan Pelabuhan Kumbe, Pelabuhan Bian dan Kimaan.
1. Pelabuhan Kumbe 2. Pelabuhan Bian
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 3. Statusnya pelabuhan perikanan yang dikelola kementerian kelautan dan perikanan
4. Pelabuhan Kimaan – Pelabuhan Wanam
Hal yang perlu diketahui dalam proses pengembangan pelabuhan dan revitalisasi kelas pelabuhan tersebut diantaranya adalah :
1. Fasilitas pelabuhan yang sudah ada
2. Kegiatan perekonomian – pasar dan atau pusat perdagangan
3. Jaringan jalan – kualitas, kuantitas, kondisi akses jalur darat atau jenis jalan 4. Jumlah penduduk desa atau distrik yang dilayani
5. Program dinas atau kementerian perhubungan terkait dengan akses transportasi dan komunikasi
6. Jaringan listrik
7. Kedalaman air sungai atau laut yang menghadap pelabuhan 8. Gladak – jenis, panjang, kondisi
9. Mercusuar pelabuhan – kantor kontrol
Pelabuhan sederhana sebagai simpul kegiatan komoditas pertanian dapat di definisikan sebagai daerah terlindung dari gelombang laut yang dilengkapi dengan fasilitas terminal meliputi:
Pemecah gelombang, yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan dari gangguan gelombang.
Alur pelayaran, yang berfungsi untuk mengarahkan kapal-kapal yang akan keluar atau masuk ke pelabuhan.
Kolam pelabuhan, merupakan daerah perairan di mana kapal berlabuh untuk melakukan bongkar-muat, gerakan untuk memutar (di kolam putar), dsb.
Dermaga dan alat tambat, adalah bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapatkannya kapal dan menambatkannya pada waktu bongkar-muat barang. Sementara alat tambat digunakan untuk menambatkan kapal pada waktu merapat di deramga maupun menunggu di perairan sebelum bisa merapat ke dermaga.
Gudang dan gedung terminal administrasi. Gudang harus ada dan terletak di belakang dermaga untuk menyimpan barang-barang yang harus menuggu pengapalan.
Fasilitas bahan bakar untuk kapal.
Fasilitas pandu kapal, alat bongkar muat (forklift), kapal tunda dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk membawa kapal keluar atau masuk pelabuhan.
Pelabuhan juga merupakan suatu pintu gerbang untuk masuk ke suatu daerah tertentu dan sebagai prasarana penghubung antar daerah, antar pulau, bahkan antar negara. (Triatmodjo,
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke 2009). Pelabuhan memiliki kedudukan pada aspek teknis dan pengusahaan, maka di dalam perencanaan pengembangan ruang akan mencakup rencana fungsi kegiatan, rencana pemanfaatan ruang, rencana fasilitas pelabuhan, rencana pengelolaan lingkungan, rencana sarana dan prasarana alur pelayaran, rencana tahapan pelaksanaan pembangunan, rencana tahapan program investasi dan rencana biaya serta indikasi unit pelayanan pelabuhan. Masing-masing penjabaran dari rencana fungsi kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
Rencana fungsi kegiatan, mencakup rencana penetapan fungsi-fungsi kegiatan yang menggambarkan fungsi primer sebagai kegiatan utama serta fungsi sekunder sebagai kegiatan penunjang.
Rencana pemanfaatan ruang, menjabarkan seluruh fungsi kegiatan yang terdapat di dalam kawasan pelabuhan menjadi zona-zona dengan menempatkan lokasi kegiatan yang diproyeksikan untuk kebutuhan di masa mendatang.
Rencana Pengembangan Fasilitas Pelabuhan adalah perkiraan kebutuhan fasilitas pelabuhan yang mencakup wilayah daratan dan perairan pelabuhan yang merupakan hasil rencana peruntukan tata guna tanah dan perairan sesuai tahapan arah pengembangan pelabuhan.
Rencana pengelolaan lingkungan, berisikan arahan jenis-jenis penanganan lingkungan, jaringan pergerakan dan utilitas dalam kawasan, yang terdiri dari : pembangunan baru, peningkatan, perbaikan, pembaharuan, pemugaran, dan perlindungan serta pengoperasian pelabuhan.
Rencana prasarana pendukung berupa arahan kebijaksanaan penetapan sistem pergerakan transportasi darat (jaringan jalan tol/non tol dan rel kereta api) dan transportasi udara, identifikasi sumber-sumber daya dan energi, arahan pola jaringan primer dan sekunder mengenai suplai air bersih, suplai listrik, jaringan telekomunikasi, suplai bahan bakar minyak, jaringan drainase, jaringan limbah (sewerage) dan sistem pembuangan sampah serta ruang pendukung kegiatan perkapalan (kapal-kapal kerja dan fasilitas perbaikan kapal).
Rencana Struktur Sarana dan Prasarana Keselamatan Pelayaran.
Rencana tahapan pelaksanaan pembangunan, berisikan arahan prioritas tahapan pelaksanaan pembangunan pelabuhan selama kurun waktu perencanaan. Tahapan Pembangunan dibagi dalam Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jangka Pendek (5 tahun), Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jangka Menengah (10 tahun) dan Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang (25 tahun).
Desain Kerangka Hukum KSPPN Merauke
Rencana Tahapan Program Investasi dan Rencana Biaya.
Melihat dari topografi dan kondisi alam Kabupaten Merauke serta melihat dari Tatanan Pelabuhan Nasional yang tertuang pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 53 Tahun 2002 maka rekomendasi alokasi pelabuhan yang paling memungkinkan dapat diletakkan pada daerah:
" Distrik Ilwayab dengan Pelabuhan Sungai di Kota Wanam yang berskala lokal " Distrik Tubang dengan Pelabuhan Sungai di Area Kimaam yang berskala lokal
" Distrik Kurik, Distrik Malind, dan Distrik Animha dengan Pelabuhan Sungai di Area Sungai Bian yang berskala lokal
" Pelabuhan utama Kota Merauke dengan kelas pelabuhan penyeberangan skala regional dengan kebutuhan dermaga untuk bongkar muat
Kondisi pantai dan lahan di sekitar wilayah kawasan pengembangan pertanian Merauke yang saat ini diperuntukkan bagi kepentingan prasarana pelabuhan, baik untuk fasilitas darat maupun fasilitas jalur pelayaran sungai besar dipetakan dengan infrastruktur lain dalam Gambar 3.6. Gambar 3.6. menunjukkan kondisi salah satu dermaga di Kabupaten Merauke yang perlu diperbaiki apabila akan ditingkatkan menjadi pelabuhan.
Gambar 3.6. Kondisi Dermaga Bian di Distrik Malind Sumber: Tim P2EB UGM, 2015