PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alquran sebagai wahyu yang sekarang sudah berupa teks (nash) merupakan sebuah konsep yang bermakna dan bisa dipahami oleh siapapun berdasarkan resepsi pembacanya. Makna al-Qur'an adalah wahyu dari Allah, yang dibawa Jibril kepada Muhammad, dengan menggunakan bahasa Arab, termasuk dalam jenis wahyu yang termaktub dalam kitab-kitab para rasul terdahulu.
Bentuk-bentuk perubahan nomina dalam al-Qur'an bisa disebabkan karena perluasan makna, penyempitan makna, perubahan makna total, ameliorasi, atau karena adanya eufemisme. Perubahan makna dalam nomina bahasa Arab Alquran berdampak positif terhadap pola pikir dan pemahaman masyarakat akan kajian al-Qur'an secara komprehensif dan integralistik sehingga satu kata tidak hanya dipahami dengan monomakna tetapi multimakna.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut !
1. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi makna? 2. Apa yang dimaksud dengan perubahan makna? 3. Apa saja karakeristik perubahan makna? 4. Apa sebab-sebab perubahan makna? 5. Apa saja jenis-jenis perubahan makna?
6. Apa yang dimaksud dengan penyempitan makna ?
PEMBAHASAN
A. Faktor-faktor Perubahan makna
Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh berbagai faktor.
Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna suatu kata atau ujaran yakni faktor kebahasaan dan faktor sosial. Faktor penyebab terjadinya perubahan makna kata atau ujaran yang bersifat kebahasaan adalah faktor yang ada dalam atau terkait langsung dengan kata atau ujaran tersebut sedangkan faktor sosial berkaitan dengan masyarakat penutur, perkembangan sosial budaya, kondisi psikologis dan lain-lain.1
B. Perubahan Makna
Makna secara sinkronis tidak akan berubah, Pernyataan ini juga menyiratkan bahwa kalau secara sinkronis makna sebuah kata tidak akan berubah maka secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah, artinya dalam waktu yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu relatif lama terdapat kemungkinan makna sebuah kata tersebut akan berubah.
Sebagai contoh, kata sastra paling tidak telah mengalami tiga kali perubahan makna, pada mulanya kata sastra ini bermakna tulisan atau huruf; lalu berubah menjadi bermakna buku, kemudian berubah lagi bermakna buku yang baik isinya dan baik bahasanya, dan sekarang yang disebut karya sastra adalah karya yang bersifat imaginatif kreatif. Banyak kata yang maknanya sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, malah jumlahnya semakin banyak daripada yang berubah atau yang pernah berubah.
C. Karakteristik Perubahan makna
D. Sebab-Sebab Perubahan Makna
Breal pernah mengemukakan adanya proses penularan contagion, dalam arti makna sebuah kata mungkin dialihkan kepada kata yang lain hanya karena kata-kata itu selalu hadir bersama-sama dalam suatu konteks. Perubahan makna bisa disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya:
Menurut Dr. Ahmad Mukhtar Umar ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan makna suatu kata atau ujaran, di antaranya:
1. Adanya kebutuhan.
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa makna bahasa selalu mengalami perubahan karena berbagai faktor. Pertanyaan berikutnya yang mengemuka adalah bagaimanakah bentuk atau jenis perubahan yang terjadi. Salah satu bentuk atau jenis perubahan makna sebagaimana berikut ini.
F. Penyempitan Makna (Tadlyiqul Ma’na)
Penyempitan makna (narrowing) yang oleh Ibrahim Anis disebut dengan takhsishul ma’na adalah perubahan makna dari yang umum (kully) ke yang lebih khusus (juz’iy). Yang dimaksud dengan perubahan penyempitan adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada umumnya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas
hanya pada sebuah makna saja.3 Dengan bahasa yang berbeda, tetapi esensi maknanya sama,
Djajasudarma (1999) menyatakan bahwa penyempitan atau pembatasan makna berarti makna yang dimiliki oleh kata lebih terbatas dibandingkan dengan makna semula.
Dalam bahasa Indonesia, kata tukang yang memiliki makna luas ‘ahli’ atau ‘bisa mengerjakan sesuatu’, maknanya menjadi terbatas dengan munculnya unsur pembatas, misalnya pada: tukang kayu, tukang catut, tukang tambal ban, dan seterusnya. Dalam bahasa arab kata يمارح pada awalnya memiliki makna luas, yakni mengacu pada setiap perbuatan yang haram. Akan tetapi, sejak abad ke 7 H, dalam beberapa buku cerita, makna kata ini menyempit, yakni berarti maling atau al-lishshu. Bahkan sampai sekarang, kata يمارح yang berarti maling masih digunakan. Demikian pula kata ميرحلا yang awalnya digunakan untuk mengacu pada setiap muhrim mengalami penyempitan makna, yakni mengacu pada perempuan (an-nisa’).4
Menurut Umar (1982), di Amerika sepuluh tahun yang lalu, apabila seorang perempuan mengatakan a pill, pendengar bertanya-tanya: untuk apa? Apakah a pill yang dimaksud itu untuk mencegah kehamilan? Ataukah a pill yang dimaksud itu untuk obat sakit kepala? Atau untuk obat sakit mag?. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kata a pill pada awalnya memiliki makna yang luas (tidak terbatas). Akan tetapi, setelah penggunaan alat kontrasepsi berupa tablet begitu meluas, maka makna kata a pill menjadi menyempit, sehingga setiap ada ungkapan kata a pill, maka makna yang diacu adalah tablet untuk mencegah kehamilan. Dalam bahasa Indonesia, kata tukang yang memiliki makna luas ‘ahli’ atau ‘bisa mengerjakan sesuatu’, maknanya menjadi terbatas dengan munculnya unsur pembatas, misalnya pada (1) tukang kayu, (2) tukang catut, (3) tukang tambal ban, dst. (Djajasudarma, 1999).
Penyempitan makna ini juga menggejala pada setiap bahasa, khususnya bahasa Arab. Kata يمارح pada awalnya memiliki makna luas, yakni mengacu pada setiap perbuatan haram. Akan tetapi, sejak abah ke 7 H, dalam beberapa buku cerita, makna kata ini menyempit, yakni berarti maling atau al-lishshu. Bahkan sampai sekarang, kata يمارح yang berarti maling masih digunakan. Dalam bahasa lisan, kata ةراهط yang berarti bersih juga mengalami penyempitan makna, yakni berubah menjadi ناتخلا. Demikian pula, kata ميرحلا yang awalnya digunakan untuk mengacu pada setiap muhrim mengalami penyempitan makna, yakni mengacu pada perempuan (an-nisa’). Kata شيعلا (hidup) di Mesir berarti roti (al-khubz) dan di beberapa negara Arab berarti nasi (ar-ruz).5
3 Abdul Chaer, Kajian Bahasa : Struktur Internal, Pemakaian dan Pembelajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 2007), h. 68.
Misal kata yang mengalami penyempitan makna adalah kata مللاععyang berarti cendekiawan, tenaga ahli, pakar, atau sarjana. Namun kata ini mengandung beberapa arti lain, yaitu (1) berilmu dalam ajaran agama Islam, misalnya ia seorang alim yang disegani di komplek perumahan itu, dan (2) saleh. Seperti dalam kalimat: kelihatannya ia sangat alim dan tidak pernah meninggalkan shalat. Penyempitan terjadi karena kata ‘alim’ hanya ditujukan kepada orang yang ahli ibadah dan berilmu saja. Sama halnya kata ulama dalam QS: Fathir: 28
Kata ‘ulama’ telah mengalami perubahan dari makna dasarnya. Kata ‘ulama’ yang diserap dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari kata ‘alim pada mulanya mengacu pada para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, sehingga para pakar ilmu bahasa, pakar pertanian, pakar ekonomi, pakar informasi, pakar ilmu agama, dan lainnya juga disebut dengan ‘ulama’. Akan tetapi, ketika kata ‘ulama’ ini diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai variabel kultural yang mempengaruhi, maka kata ini sudah dibatasi hanya untuk para pakar di bidang ilmu agama Islam atau kaum agamawan (muslim). Perubahan inilah yang disebut dengan penyempitan makna.6
G. Analisis Narrowing (Penyempitan Makna) kata Hizb dalam al-Qur’an
Hizb yang akar katanya terdiri dari huruf ba’, za’, dan ba’ memiliki arti dasar “tertimpa, menyusahkan, menolong dan menghimpun ke dalam kelompok atau golongan.”7
Dengan demikian kata tersebut dapat mengandung arti berkumpulnya manusia dalam suatu kelompok untuk saling menolong dengan tujuan menghilangkan kesusahan. Dalam Arabic-English Lexicon kata tersebut diartikan dengan a party or company of men8 “sebuah partai
atau kumpulan dari orang-orang.” Decasa menyimpulkan kata tersebut mengandung arti a faction, a group of supporters of a man who share his ideas and are readsy to defend him.9
“Sebuah faksi, satu kelompok pendukung dari seseorang yang menerima idenya dan siap untuk mempertahankannya.
Dalam al-Qur’an kata ini dengan segala bentuknya terulang sebanyak 20 kali, dengan perincian hizb sebanyak delapan kali, antara lain terdapat pada Q.S Maidah/5:56, Q.S
al-6 Muhanndis Azzuhri, Perubahan Makna Nomina Bahasa Arab dalam aL-Qur’an:Analisis Sosiosemantik.pdf.
7 Ali Nurdin, Qur’anic Society:Menelusuri konsep masyarakat ideal dalam al Qur’an, (Yogyakarta: PT Gelora aksara pratama,2006), h.87.
8 Ali Nurdin, Qur’anic Society:Menelusuri konsep masyarakat ideal dalam al Qur’an, h.88.
Mu’minun/23:53, Q.S al-Rum/30:32, Q.S al-Mujadilah/58:19 dan 22, Q.S Fathir/35:6. Kata hizbaini terulang sekali dalam Q.S al-Kahf/18:12, dan al-ahzab bentuk jamak dari hizb terulang sebanyak sebelas kali.
Kata tersebut dalam al Qur’an seringkali dirangkai dengan kata lain, misalnya hizb Allah yang terulang tiga kali, di antaranya adalah Q.S al-Maidah/5: 56
- ن
م ُوبءلهَاغمللا م
ء هء ههلللا ب
م زلحه ن
ل إهفم الُونءممآ ن
م يذهللاوم هءلمُوس
ء رموم هملللا ل
ل ُومتميم نمموم
٥٦
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”
Abdullah Yusuf ‘Ali yang menerjemahkan dengan fellowship (pengikut).10 Di luar hizb
Allah kata tersebut digunakan al Qur’an untuk menyebut kelompok yang buruk, antara lain pertama, kelompok yang suka memecah bela agama. Hal ini diinformasikan dalam Q.S al-Rum/30:32
- ن
م ُوحءرهفم ملههيلدملم َاممبه ب
ب زلحه ل
ل ك
ء َااعيمش
ه اُونءَاك
م وم ملهءنميده اُوقءرلفم نميذهللا نممه
٣٢
-“ Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” Kedua, kelompok atau pengikut setan (hizb al-syaitan), dijelaskan dalam Q.S al Mujadilah/58:19
لمأم ن
ه َاط
م يلشششللا ب
ء زلششحه ك
م ششئهلمولأء ههلللا رمكلذه ملهءَاس
م نأ
م فم نءَاط
م يلشللا مءههيللمعم ذمُومحلتمسلا
- ن
م ورءس
ه َاخ
م للا م
ء هء ن
ه َاط
م يلشللا ب
م زلحه ن
ل إه
١٩
-“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.”
Ketiga, kelompok yang berselisih, terdapat dalam Q.S Maryam/19: 37
- م
ب ششيظ
ه ع
م م
ب ُولششيم دههمش
ل مل نمه اورءفمكم نميذهلللل لليلُومفم ملههنهيلبم نمه ب
ء ازمحللل
م ا ف
م لمتمخلَافم
٣٧
-“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.”ق
م دمششص
م وم هءلءُوششس
ء رموم هءششلللا َانمدمششع
م وم َامم اذمهم اُولءَاقم ب
م ازمحللل
م ا نمُونءمهؤلمءللا َىأمرم َامللموم
- َااميلهس
ل تموم َاانَامميإه للإه ملهءدمازم َامموم هءلءُوس
ء رموم هءلللا
٢٢
-“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya[1207] kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
“Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?”
Dari pemaparan makna hizb di atas dapat dikatakan bahwa secara umum penggunaan kata tersebut dalam al Qur’an mengandung pengertian sebagai kelompok tertentu yang memiliki militansi dan menyatu dalam satu wadah yang disepakati untuk membendung atau menanggulangi kesulitan.11 Atau yang diduga akan menyulitkan kelompok mereka. Dari
pengertian tersebut jelas ada kesamaan antara makna istilah dengan arti yang digunakan dalam al Qur’an. Makna ini kemudian berkembang sehingga termasuk juga sebuah kelompok yang memperjuangkan cita-cita baik atau buruk. Dari sinilah kata tersebut diartikan sebagai partai politik. Disini terlihat terjadi penyempitan makna dari makna awalnya.12
Tidak ada penjelasan dari para ahli bahasa tentang jumlah minimal anggota dari sebuah hizb, tiga orang pun sudah dapat dikatakan sebagai hizb. Hal ini mengacu kepada Q.S al Kahf/18:12
- اادممأم اُوثءبهلم َاممله َىص
م حلأ
م نهيلبمزلحهللا يلأم مملمعلنمله ملهءَانمثلعمبم ملثء
١٢
-11 Ali Nurdin, Qur’anic Society:Menelusuri konsep masyarakat ideal dalam al Qur’an, h.89-90.
“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).”
Dari pemaparan al Qur’an juga diketahui bahwa kata hizb berkonotasi netral, tergantung kata yang mengikutinya, meskipun penggunaannya dalam al Qur’an lebih banyak yang berkonotasi buruk. Namun demikian al Qur’an hanya membagi ke dalam dua kelompok saja yaitu hizb Allah dan hizb al-syaitan.
PENUTUP
Kesimpulan
Setiap bahasa akan mengalami perkembangan sesuai dengan pergantian zaman. Di antara perkembangan bahasa itu adalah perubahan makna, yaitu perubahan kata-kata atau bunyi ujaran terhadap maknanya. Atau perubahan makna yang terjadi disebabkan karena terdapat hubungan yang mendasar antara makna asalnya dengan makna yang muncul kemudian. Dan perubahan itu tidak terjadi langsung seketika, namun ada beberapa faktor yang mendorong terhadap perubahan tadi sesuai dengan perkembangan zaman.Faktor yang mempengaruhi perubahan makna secara umum ada dua, yakni faktor kebahasaan dan non kebahasaan. Salah satu bentuk perubahan makna yaitu ; penyempitan / narrowing.
Dalam pembahasan diatas kata Hizb dalam al-qur’an mengandung pengertian sebagai kelompok tertentu yang memiliki militansi dan menyatu dalam satu wadah yang disepakati untuk membendung atau menanggulangi kesulitan atau yang diduga akan menyulitkan kelompok mereka. Dari pengertian tersebut jelas ada kesamaan antara makna istilah dengan arti yang digunakan dalam al Qur’an. Makna ini kemudian berkembang sehingga termasuk juga sebuah kelompok yang memperjuangkan cita-cita baik atau buruk. Dari sinilah kata tersebut diartikan sebagai partai politik. Disini terlihat terjadi penyempitan makna dari makna awalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Kajian Bahasa : Struktur Internal, Pemakaian dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2007.
Azzuhri, Muhandis. Perubahan Makna Nomina Bahasa Arab dalam aL-Qur’an:Analisis Sosiosemantik.pdf
Ali, Nurdin. Qur’anic Society:Menelusuri konsep masyarakat ideal dalam al Qur’an. Yogyakarta: PT Gelora aksara pratama, 2006.
http://mauidzaneesasmart.blogspot.co.id/2009/06/perubahan-makna-oleh-mauidzatun-nisa.html