Peran (Pendidikan) Sejarah dan Kebudayaan Nasional
dalam Meningkatkan Persatuan dan Persatuan Bangsa
Yudi Prasetyo
Program Studi Pendidikan Sejarah [email protected]
Abstrak
Artikel ini mengulas tentang peran pendidikan sejarah dan kaitannya dengan nasionalisme bangsa. Kebudayaan menjadi cikal-bakal terbentuknya rasa nasionalisme melalui berbagai wujud kebudayaan. Disamping itu juga membahas tentang bagaimana wujud kebudayaan memiliki peran krusial dalam pemersatu dan simbol nasionalisme bangsa dari era klasik hingga perannya di era masa kini. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode penelitian sejarah dengan kajian studi literatur dan pendeketan hermeunitika. Signifikansi dalam artikel ini adalah memberikan perspektif komprehensif perkembangan ilmu sejarah, pandangan masyarakat, peran pendidikan sejarah sebagai identitas bangsa, dan dampak yang akan diakibatkan atas negasi sejarah dalam konteks kebangsaan.
Kata kunci: Pendidikan, Sejarah, Kebudayaan Abstract
This article is reviewing about the role of culture history and its relevance with nationalism. Culture became the forerunner of the formation of a sense of nationalism through various forms of culture. Besides, it also discusses how a form of culture has a crucial role in unifying nationalism and symbols of the classical era up to its role in the present era. The method used in this article is a method of historical research with the study of literature and pendeketan hermeunitika. The significance of this article is to provide a comprehensive perspective of the development of the science of history, a view of society, the role of history education as the nation's identity, and the impact will be caused on the negation of history in the context of nationality.
Key words: Education, History, Culture
PENDAHU LUAN
Sejarah dan kebudayaan
merupakan hal yang tak dapat dipisahkan, eksistensinya
bagaikan dua sisi mata uang. Manusia merupakan subjek
dari proses
terbentuknya
kebudayaan, baik yang secara material maupun imaterial. Koentrjaraningrat, mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Terminologi “kebudayaan”
berasal dari kata Sansekerta,
buddhayah, yakni bentuk jamak dari budhi yang berarti ”budi atau “akal”. (Koetjaraningrat,n.y: 181).
Soekarno, budayawan Sidoarjo, menerjemahkan “kebudayaan” dalam bahasa Jawa yakni nalar, panemu utawa angen-angen sing dibabarno rupa tumindak, paugeran, pakaryan lan kawicaksanan. Utawa: babare nalar pambudine menungso sing wujud kagunan, kepinteran, raweruh,
tata pernatan, sing dilandesi karo cipta, rasa, karya, kuwasa lan sakteruse. ( Soekarno, 2015: 1)
Maka dapat diartikan bahwa ke-budaya-an dapat diartikan: ”hal-hal yang bersangkutan dengan akal” yang dapat berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan
kebudayaan merupakan
produk/hasil dari cipta, karsa, dan rasa tersebut. Pelbagai produk kebudayaan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah historiografi yang kelak menjadi indikator sebuah
bangsa atau
peradaban
mengalamai masa transisi dari masa prasejarah (belum mengenal tulisan) ke era sejarah (telah mengenal tulisan).
Kehidupan manusia sebagai entitas sosial sejak dilahirkan hingga kelak menemui masa akhir hayatnya tidak akan lepas dari kegiatan berbudaya dan
bersejarah.Koentjara ningrat
mengemukakan bahwa terdapat tujuh unsur kebudayaan, yakni:
1. Bahasa
2. Sistem pengetahuan
3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan hidup dan
teknologi 5. Sistem mata pencaharian hidup
6. Sistem religi 7. Kesenian
Ketujuh unsur tersebut kemudian tercipta, terlaksana, hingga menjadi kebiasaan (habit) yang kemudian bermuara pada proses terbentuknya tradisi. Proses tersebut tentunya juga tidak dapat dilepaskan dari proses ruang dan
waktu yang
merupakan ranah studi sejarah, terutama ilmu sejarah. Kerap kali sebuah tradisi menjadi pemahaman memory collective suatu masyarakat yang diturunkan dari generasi ke generasi
namun tidak
terdokumentasi dengan baik, sehingga ketika dilakukan
penelusuran sejarah dengan
menggunakan sumber-sumber tertulis maka yang terjadi adalah missing link terkait dengan ketiadaan sumber tertulis dan hanya mengandalkan sumber lisan / oral.(
Thompson, 2012: 26 ).
Sebuah tradisi
atau produk
kebudayaan akan diragukan
eksistensinya tanpa dukungan sumber tertulis yang otentik dan kredibel. Dokumen-dokumen tersebut dapat dijadikan sebagai legalitas atau bahkan legitimasi atas adanya sebuah pengakuan dan memiliki peran krusial sebagai identitas bangsa di masa kini, sekarang, dan yang akan datang. Selain itu sebuah bangsa akan dikatakan maju ketika
masyarakatnya terbiasa dengan budaya membaca (literasi) layaknya negara-negara di Eropa, Amerika,
Jepang, dan
Singapura.
Makalah ini akan mencoba untuk mencari dan mengaitkan
benang merah diantara peran sejarah dengan kebudayaan
nasional terkait dengan upaya peningkatan
persatuan dan kesatuan bangsa.
Glorifikasi Bangsa
Plato dalam
Timaeus dan Critia s, yang ditulis pada tahun 360 SM, berisi tentang referensi pertama Atlantis. Plato tidak pernah menyelesaikan Cri tias karena
berbagai faktor dan ketidaktahuan. Karya tersebut kemudian
ditelusuri dan dilanjutkan oleh berbagai peneliti generasi berikut setelah berabad-abad kemudian mulai dari Francis Bacon (1627), Isaac Newton (1728), Charles Etienne Brasseur de Bourbourg,
Edward Herbert Thompson dan Au
gustus Le
Plongeon pada akhir abad XIX
hingga pada
akhirnya seorang ahli geohistori asal Brasil, Arysio Santos Nunes dos Santos dengan karya Atlantis The Lost Continent Finally
Found adalah sebuah buku arkeologi
prasejarah yang menyatakan secara definitif letak peradaban Atlantis ada di Indonesia. (Santos, 2010).
Hal ini mengacu pada tesisnya yang mengatakan bahwa kawasan Atlantis terdapat di wilayah
Ring of Fire
dengan ciri rangkaian gunung api di berbagai kawasan Indonesia sehingga tidak mengherankan bila area Nusantara dikenal sangat subur akibat adanya abu vulkanik yang mampu
menyuburkan tanah di sekitarnya. Kesuburan dan keindahan alam Hindia Belanda di era kolonialisme Belanda
menghadirkan sebuah konsep “Mooi Indie”.
Menurut Onghokham, terminologi Mooi Indiё adalah penggambaran ciptaan kolonial Belanda tentang
alam dan
masyarakat Hindia Belanda secara damai, tenang, dan harmonis.
Pandangan tersebut berakar pada romantisisme Belanda yang ingin menciptakan Timur yang eksotis sekaligus
menguntungkan bagi sisi finansial. (Onghokham dalam Bachtiar
dkk, 2009: 163-164)
Penelitian tersebut memang masih perlu dikaji ulang namun apabila dikaitkan dalam konteks nasionalisme menunjukkan bahwa pada dasarnya nenek moyang kita di Nusantara
merupakan
generasi dari peradaban tertinggi di dunia yang hilang. Karya ini banyak diapresiasi oleh kalangan profesional,
akademisi, dan pengamat budaya karena mampu menstimulasi perasaan
nasionalisme di kalangan bangsa Indonesia.
Abad Kejayaan
Sriwijaya dan Majapahit
Kejayaan kedua kerajaan tersebut sangat berpengaruh dalam bidang maritim dan agraris di tingkat
perdagangan global abad VII – XVI. Kerajaan Sriwijaya menjadi penguasa
Nusantara dengan tingkat teknologi navigasi,
perkapalan yang
maju, serta jaringan
perdagangan maritim yang terintegrasi dengan baik. Jaringan perdagangan internasional Sriwijaya menjangkau
hingga ke wilayah Malaka, Borneo, Sulawesi, Maluku, Papua, dan sebagian
kepulauan Filipina sehingga lebih menyerupai
imperium.
(Hermann Kulke
dalam Coedes, 2014: 281-313).
Sedangkan Majapahit
mengalami masa kejayaannya pada tahun 1313-1364 dan merupakan cikal-bakal atas terbentuknya wilayah Nusantara oleh Patih Gadjah Mada. Tanpa adanya Sumpah Palapa niscaya terbentuknya Nusantara hanya sekedar sebuah wacana tanpa aksi.
Candi Borobudur
Eksistensi candi Borobudur menjadi salah satu
icon tujuh keajaiban dunia. Bangunan candi Budha yang dibangun pada abad IX tersebut memiliki tingkat kompleksitas
tinggi dan merupakan sebuah mahakarya tentang kisah Ramayana. Borobudur
menjadi bangunan
suci yang
melambangkan bagaimana proses perjalanan ajaran Budha Mahayana untuk mencapai tahap menjadi Budha. Tingkat kesulitan, detail,
dan nilai
sejarahnya yang tak terhingga telah menempatkan Borobudur sebagai salah satu bangunan
peninggalan
sejarah dunia (World Wonder Heritages).
Kemegahan dan pengakuan tersebut mampu menempatkan Borobudur sebagai salah satu wujud fisik kebudayaan yang menjadi identitas bangsa Indonesia di kancah di dunia terkait dengan keberadaan lokasi.
Hal ini
menunjukkan bahwa Jawa tidak hanya sebagai sebuah kawasan geografis namun telah menjadi pusat dari peradaban Jawa. (Rahardjo, 2011). Adanya peradaban
Jawa dan
Borobudur dapat
dijadikan sebagai identitas bangsa sekaligus glory of nation dalam rangka
pembentukan
nation building. (pembentukan kebangsaan)
Sejarah dan Kebudayaan Nasional dalam Proses
Terbentuknya Identitas
Indonesia merupakan sebuah negara yang multikulturalisme dengan berbagai keunikannya dari sisi sejarah, kultural, dan budaya dimana tercipta sebuah
melting pot (pusat pertemuan) dan
rendezvous
(persinggahan) entitas global. Posisi dan peran Indonesia di era merkantilisme abad XIII – XVIII menghasilkan interaksi sosial budaya yang intens dan massif sehingga terdapat pelbagai budaya yang berkembang dengan keunikan masing-masing yang khas, baik yang merupakan budaya asli Indonesia maupun masuknya
pengaruh asing.
Keanekaraga man tersebut menjadikan
Indonesia kaya akan berbagai kebudayaan. Wujud kebudayaan tersebut dapat berupa material dan imaterial yang secara sadar maupun tidak telah menjadi bagian yang identik dari masyarakat lokal. (Grosby, 2011: 57). Sebagai contoh adalah Ulos, tari Tor-Tor, Bika Ambon menjadi identitas bagi masyarakat Sumatera Utara, Palembang dengan makanan khas Pempek, atau Bali dengan tari Kecak, Sasando sebagai alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Timur dll.
Adanya pertemuan
kebudayaan asli
dan luar
menghasilkan sebuah percampuran budaya (inkulturasi) ataupun asimilasi yang khas. Kekhasan
kebudayaan
tersebut berada pada tahap lokal, nasional,
internasional yang kemudian dapat menjadi
kebudayaan
bangsa dan sekaligus menjadi kebudyaan
nasional identitas kebangsaan
bangsa.
Kamus ensiklopedia elektronik Wikipedia menerjemahkan kebudayaan
nasional sebagai kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi
kebudayaan nasional
menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:
“Kebudayaa n nasional yang
berlandaskan
Pancasila ad alah
dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembanguna n Nasional merupakan pembanguna n yang berbudaya”
Interpretasi atau penafsiran mengenai
kebudayaan
nasional berbeda-beda, Ki Hajar Dewantara
memandang kebudayaan nasional merupakan “puncak-puncak kebudayaan
daerah, sedangkan Koentjaraningrat menilai sebagai “sesuatu yang khas “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasika n diri dan menimbulkan rasa bangga”.
Sedyawati
memandang
identitas budaya bangsa Indonesia (dalam makna “kebudayaan nasional” Indonesia)
mempunyai dua sisi: pertama, segala sesuatu yang diciptakan dalam konteks
ke-Indonesia-an, kurang lebih pada masa pergerakan nasional hingga kini, kedua, “puncak-puncak” kebudayaan yang diangkat dari berbagai tradisi suku-suku bangsa yang ada di Indonesia, yang diterima sebagai milik kita bersama seluruh bangsa dan negara Indonesia. (Sedyawati, 2014).
Meski demikian semuanya
merupakan hasil
budi daya
masyarakat bangsa,
eksistensinya telah ada sejak masa lampau, memiliki nilai yang dibanggakan, bermuara pada lahirnya konsep identitas bangsa yang lebih mengedepankan ketunggalikaan (persatuan) dibanding kebhinekaan (keberagaman).
Wujud dari kebudayaan dapat direpresentasikan dalam berbagai hal contohnya: rumah, upacara,
pernikahan,
pakaian adat, kulinari, bahasa, seni sastra, tarian, lagu, maupun musik. Ungkapan grup vokal P-Project bahwa
“dangdut is the music of my coutry” mungkin benar adanya karena meski pun dangdut tidak merupakan ‘benar-benar’ asli Indonesia karena terdapat pengaruh musik dari Arab, Hindustan, dan Melayu namun kepopulerannya dan besarnya animo masyarakat Indonesia,
terutama wilayah Jawa Timur, telah melabeli musik dangdut adalah sebagai musik orang Indonesia. Hal ini terlihat dalam sebuah kompetisi
menyanyi dangdut di salah satu stasiun televisi swasta dimana sang pemenang akan diberikan hadiah berupa wisata sekaligus rekaman/membuat video klip dangdut di India
Kontribusi Pendidikan
Sejarah terhadap Bangsa
Keberadaan aneka jenis budaya di negeri yang maha kaya akan kebudayaan ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat relevan
dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Namun keanekaragaman tersebut tentunya juga harus didukung dengan adanya sumber sejarah sebagai upaya penelusuran jejak dan juga sekaligus penjaga memori kolektif agar terus hidup dan dapat difahami serta dilestarikan oleh generasi seterusnya terlebih lagi di dunia internasional dikenal hukum positif sehingga bukti tertulis merupakan hal
yang tak
terbantahkan.
Sejarah sebagai ilmu humaniora
memiliki peran yang sangat krusial dan bila boleh diumpamakan bagaikan senjata pemusnah massal apabila
disalahgunakan oleh pemiliknya. Sebaliknya sejarah akan mampu menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat bila mampu
memanfaatkannya sebagaimana slogan berbahasa Latin, historia magistra vitae, sejarah adalah ilmu kehidupan (Budiawan dalam
Lewis, 2009: pengantar).
Sejarah tidak hanya sebuah ilmu yang mempelajari masa lampau belaka karena di dalam sejarah terkandung sebuah hukum “challange and respons” – meminjam istilah Arnold Toybee-dimana terkandung hukum sebab-akibat. Apa yang terjadi hari ini tidak dapat dilepaskan dari apa yang telah terjadi di masa lampau dan apa yang akan terjadi di masa mendatang tidak terlepas dari apa yang tengah terjadi saat ini sehingga kita sebagai pelaku sejarah memahami bagaimana
kesinambungan yang terjadi.
Sejarah memang tidak mampu
menghadirkan masa lampau dengan berbagai kebenaran absolut karena telah terpisahkan oleh ruang dan waktu, namun sejarah mampu
merekonstruksi mozaik masa lampau sehingga menghasilkan sebuah realitas kebenaran relatif melalui metode dan pendekatan
multidimensional. Seluruh peristiwa sejarah yang telah terjadi maupun yang akan terjadi di dunia ini akan dapat difahami dan diprediksi dengan mengedepankan konsep tersebut (verstehen).
Tanpa adanya pemahaman
sejarah yang memadai akan berimplikasi terhadap munculnya
gerakan atau pandangan yang bersifat
chauvinime,
radikalisme, atau pun separatisme. Disinilah
pentingnya peran sejarah, terutama bagi kalangan pendidik.yang merupakan corong dari transfer ilmu, nilai, dan karakter terhadap peserta didik. Meraka merupakan
kalangan yang berinteraksi
langsung dengan peserta didik. Filosofi “ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, sebagai pedoman guru yang artinya: “di depan memberi teladan, di tengah menyemangati, dan mengiringi dari belakang
sambil memberi kekuatan”.
Soerang pendidik harus mampu
menciptakan sistem belajar dan mengajar yang berkarakter namun menarik minat peserta didik dalam kontek pembentukan nasionalisme, antara lain dengan cara: pertama, menetapkan
sejumlah pokok substansi bahan ajar yang relevan dengan tujuan “memperkuat bangsa”, kedua, menetapkan
metode
penyampaian dan porsi substansi yang sesuai dengan jalur dan jenjang yang diberikan, ketiga, pencarian sumber informasi dengan tema yang sesuai, dan keempat, menyusun
himpunan data ke dalam kemasan yang kreatif dan inovatif. (Prasetyo, 2015)
Pokok pembelajaran sejarah yakni kehadirannya menumbuhkemban gkan kesadaran budaya, kesadaran sejarah, dan nasionalisme adalah:
1. Sejarah Indonesia dilihat dari perkembangan berbagai subjek
seperti:sosialp olitik,kebuday aan, teknologi, kesenian dll 2. Sistem kebudayaan pada berbagai satuan sosial
3. Tantangan-tantangan pembangunan bangsa dan negara di masa yang akan datang 4. Penerapan nilai dari suatu proses sejarah sebagai
implemetasi pembentukan karakter bangsa
Capaian dari penerapan dari pembelajaran tersebut adalah bagaimana siswa mampu dibekali secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendekatan
kognitif adalah bagaimana siswa mampu berfikir kritis dan mengasah
intelektual terhadap pemahaman
perjalanan sejarah bangsa Indonesia
dari masa
agar siswa mampu memliki rasa, emosi, sistem nilai, dan sikap dalam sejarah, dan psikomotirik agar siswa mampu memiliki visi pandangan hidup yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Diharapakan para peserta didik tersebut dapat menjadi agen perubahan (agent of change) dan virus positif di masyarakat,
terutama terkait dengan bagaimana upaya pelestarian situs dan artefak bersejarah. Meraka dapat menjadi
agen yang
mengedukasi dalam proses gerakan cinta sejarah untuk memasyarakatkan sejarah sehingga masyarakat
menyadari bahwa sejarah merupakan bagian dari hidup manusia.
Simpulan
Pepatah “tak keneral maka tak sayang” bila dikorelasikan dengan pandangan siswa atau masyarakat
berbanding lurus dengan realitas kekinian. Perasaan acuh tak acuh atau ketidaktahuan
inilah yang menstimulus dan mengakumulasi ketidakhadiran rasa sense of belonging (rasa memiliki). Sejarah bagaikan
dianaktirikan dibanding ilmu-ilmu lain yang dianggap lebih populer dan menjamin masa depan, seperti kedokteran,
hukum, ekonomi, teknik, atau ilmu pengetahuan alam. Sejarah sebagai rumpun ilmu sosial humaniora kurang mendapat tempat dalam perpektif khalayak.
Ironis ketika sebuah
kebudayaan kita diambil atau diklaim pihak luar, sebagai contoh klaim Malaysia terhadap tari Pendet Bali, Reog Ponorogo, dan tempe, masyarakat hanya bersikap ‘merengek’ dan mencari dukungan dari kalangan ahli sejarah / pendidik sejarah sehingga terkesan
dibutuhkan ketika terjadi kontroversi.
Soekarno telah mengingatkan kita generasi muda dengan tagline Jas merah, jangan sekali-sekali
meninggalkan
sejarah karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya.
Kehidupan negara Islandia di masa silam merupakan salah satu negara termiskin di dunia namun sekarang mereka mampu menjadi negara dengan tingkat pendapat per kapita tertinggi di Eropa. Dengan adanya visi dan misi yang sama tentang sejarah maka tidak mustahil bangsa Indonesia akan mencapai
milestone (capaian) yang gemilang di masa mendatang agar mendapat kehidupan yang lebih baik. Sudah saatnya kita memulai dari diri sendiri untuk kemudian terbiasa melakukan hal yang luar biasa sehingga karya monumental ber-sejarah kita dapat dinikmati oleh generasi penerus yang akan datang. Tentu kita tidak ini mengalami
kehilangan jejak sejarah nenek moyang kita sebagaimana bangsa Aborigin yang hanya menjadi figuran dalam sejarah nasional Australia. Apabila ini dibiarkan maka apa yang dikatakan oleh
Collapse oleh
Diamond Jared niscaya hanya tinggal menunggu waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Harsja
W. dkk.
2009. Raden Saleh, Anak Belanda, Mooi Indië, dan
Nasionalism e. Depok: Komunitas Bambu.
Coedes, George dkk (eds.), 2014.
Kedatuan Sriwijaya: Kajian Sumber Prasasti dan Arkeologi. Komunitas Bambu: Depok.
Cote, Joost dan Loes
Westerbeek (ed.), 2004. Recalling the Indies: Kebudayaan Kolonial dan Identitas Poskolonial. Yogyakarta: Syaria.
Diamond, Jared. 2014.
Collapse:
Runtuhnya Peradaban Dunia, Gramedia: Jakarta.
Furnivall,J.S. 2009. Hindia Belanda: Studi tentang Ekonomi Majemuk, terj. Samsudin Berlian. Jakarta: Freedom Institute.
Grosby, Steven. 2011.
Sejarah Nasionalism e: Asal-usul Bangsa dan Tanah Air. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Kartodirdjo, Sartono. Modernisasi dalam Perspektif Sejarah. 1978. Yogyakarta: Jurusan Sejarah Fak. Sastra dan Kebudayaan UGM.
Koetjaraningrat, Pengantar Ilmu
Antropologi. Rineka Cipta: Jakarta.
Lewis, Bernard. Sejarah Diingat, Ditemukan Kembali, Ditemu-ciptakan. Ombak: Yogyakarta, 2009.
Rahardjo,
Supratikno. 2011. Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuna sampai Majapahit Akhir. Depok: Komunitas Bambu.
Santos, Arysio.
2010.
Atlantis The Lost
Continent Finally Found. Jakarta: Ufuk Press.
Sedyawati, Edy. 2014.
Kebudayaan Nusantara: Dari Keris Tor-tor sampai Industri Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
Soekarno. 2015. “Kebudayaa n (Jaman) Jenggala”,
makalah dipresentasik
an pada
seminar “Mengungka p Potensi Tinggalan Jenggala dalam Rangka Menelusuri Hari Jadi Sidoarjo”, Kamis, 23 April 2015
di UPT
Museum Mpu Tantular Sidoarjo
Thompson, Paul. 2012. Suara dari Masa Silam Teori dan Metode Sejarah Lisan. Ombak: Yogyakarta.
Yudi Prasetyo, 2015.
“Metode Pembelajara n Kratif Inovatif bagi Siswa”, makalah dipresentasik an dalam seminar “Menelusuri Jejak
Perkembang an Islam di Nusantara” tanggal 23-25 Maret 2015, Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Jawa Timur
Sumber internet:
http://id.wikipedia. org/wiki/Bud aya_Indonesi a, diakses
pada 23