BELAJAR DAN PEMBELAJARAN DALAM SUDUT PANDANG ISLAM MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh Bapak Drs. H. Wahyu Wibisana, M.Pd
disusun Oleh
Nama : Feridi NIM : 1206012 Kelas : Pilkom D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
II
penulis atau penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “BELAJAR DAN PEMBELAJARAN DALAM SUDUT PANDANG ISLAM”dengan baik tanpa adanya suatu halangan yang berarti.
Terselesaikannya penulisan atau penyusunan makalah ini adalah berkat dukungan dari semua pihak, untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:
1. Perpustakaan UPI sebagai sumber sarana referensi.
2. Orang tua penulis atau penyusun yang selalu memberikan dukungan dan do’anya.
3. Segenap pihak yang telah ikut andil dalam proses penyelesaian makalah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tulisan. Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta sumbangan ilmiah yang sebesar-besarnya terhadap penulis dan pembaca.
Bandung, 10 Mei 2015
III DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... II DAFTAR ISI... III
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Rumusan Masalah... 2
1.3. Tujuan Penulisan Makalah... 2
1.4. Manfaat Penulisan Makalah...3
BAB II PEMBAHASAN... 4
2.1. Konsep Pembelajaran...4
2.1.1. Makna Belajar... 4
2.1.2. Makna Pembelajaran...6
2.1.3. Konsep Pendidikan Islam...6
2.2. Tujuan Belajar dan Pembelajaran Islam...7
2.2.1. Membina Keilmuan...8
2.2.2. Membina Keyakinan... 9
2.2.3. Membina Ibadah...9
2.2.4. Membina Akhlak...10
2.2.5. Membina Profesi... 10
2.2.6. Membina Jasmani...11
2.2.7. Memelihara Nilai...12
2.3. Landasan Belajar dan Pembelajaran Islam...12
2.4. Prinsip-Prinsip Belajar Menurut Islam...12
2.4.1. Al Qur’an tentang Posisi Manusia... 12
2.4.2. Dasar Belajar dalam Islam... 13
2.4.3. Tujuan Belajar dalam Islam...14
2.4.4. Mengembangkan Ilmu...14
2.4.5. Aspek Moral dalam Belajar...15
2.4.6. Unsur Belajar...15
2.5. Pembelajaran Dalam Perspektif Al-Qur’an...17
2.5.1. Al-Qur’an Sebagai Solusi Terbaik...17
2.5.2. Paradigma Pembelajaran (Iqra)...18
2.5.3. Pembelajaran (Ta’lim)...19
2.6. Integrasi nilai-nilai Islami pada Pembelajaran...19
2.6.1. Pentingnya Integrasi Nilai-nilai Islami pada Proses Belajar Mengajar...19
2.6.2. Model, Metode dan Pendekatan Pembelajaran yang Terintegrasi dengan Nilai-nilai Islami...21
BAB III PENUTUP...24
3.1. Kesimpulan...24
1
Proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar itu “tampak” lewat perilaku siswa dalam mempelajari bahan ajar. Perilaku belajar itu tampak pada tindakan hasil belajar, termasuk tindakan belajar berbagai bidang Studi di sekolah. Perilaku belajar itu merupakan respons siswa terhadap tindak belajar dan tindak pembelajaran yang dilakukan guru. Belajar juga dapat diartikan sebagai memahami sesuatu yang baru dan kemudian memaknainya.
Pembelajaran dapat pula dipandang sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dalam literatur Studi Islam dijumapi sejumlah terminologi yang mendeskripsikan upaya-upayia pendidikan.
Islam berpandangan bahwa pada hakikatnya, yang melakukan kegiatan pendidikan itu adalah Allah Ta’ala. Hakikat ini tampak dalam QS AI-Fatihan ayat 2 yang menegaskan, “Segala puji bagi Allah Rabb (Pendidik) alam semesta”.di antara alam semesta itu adalah manusia. Tujuan belajar dan pembelajaran dalam Islam ialah membina manusia agar mampu melakukah penghambaan yang tulus kepada Allah semata.
2
maupun filosofi bagi belajar adalah juga merujuk dari dua sumber tersebut. Strategi pengembangan ilmu harus mengintensifkan dan mengekstensifkan belajar atau pendidikan itu sendiri, dengan berbagai sarana dan presaranannya.
Proses penafsiran Al~Quran tidak boleh berhenti. Pengkajian dan penelitian terhadap Al-Quran seyogyanya rnenjadi kepentingan utama dalam pengernbangan ilrnu dan seluruh bidang kehidupan. Terhentinya upaya penafsiran, pengkajian atau penelitian terhadap Al-Quran hakikatnya merupakan kemandegan dalam kehidupan kaum Muslim.
Dalam lingkup mikro, masih minimnya panduan Integrasi Nilai-nilai Islami pada proses pembelajaran di sekolah baik model, metode, ataupun pendekatan pembelajaran, dirasa perlu [kalau bukan harus] untuk menginterpretasikan kembali seluruh materi pelajaran sekolah dengan muatan-muatan nilai yang Islami.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang diuraikan diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah diantaranya :
1) Bagaimana pandangan islam mengenai belajar pembelajaran ? 2) Apa tujuan belajar pembelajaran bernilai islam?
3) Bagaimana landasan belajar pembelajaran menurut islam ? 4) Bagaimana nilai-nilai islam diintegrasikan dalam pembelajaran ?
1.3. Tujuan Penulisan Makalah
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1.4. Manfaat Penulisan Makalah
4 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Konsep Pembelajaran
2.1.1. Makna Belajar
Dalam lingkup pendidikan, belajar diidentikkan dengan proses kegiatan sehari-hari siswa di sekolah/madrasah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar dapat dipandang dari dua subjek, yaitu siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar itu sangat beragam, baik bahan-bahan yang dirancang dan disiapkan secara khusus oleh guru, ataupun bahan belajar yang ada di alam sekitar yang tidak dirancang secara khusus, tetapi bisa dimanfaatkan siswa, sedangkan dari sisi guru, belajar itu dapat diamati secara tidak langsung. Artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar itu “tampak” lewat perilaku siswa dalam mempelajari bahan ajar. Perilaku belajar itu tampak pada tindakan hasil belajar, termasuk tindakan belajar berbagai bidang Studi di sekolah. Perilaku belajar itu merupakan respons siswa terhadap tindak belajar dan tindak pembelajaran yang dilakukan guru. Belajar juga dapat diartikan sebagai memahami sesuatu yang baru dan kemudian memaknainya. Dengan perkataan lain, belajar adalah perubahan tingkah laku (change of behaviour) para peserta didik, baik pada aspek pengetahuan, sikap ataupun keterampilan sebagai hasil respons pembelajaran yang dilakukan guru.
keterampilan) berdasarkan apa yang telah mereka kuasai sebelumnya. Anak atau peserta didik adalah orang yang membangun. Makrza adalah apa yang mereka bangun. Apa yang mereka miliki atau kuasai sebelumnya adalah material atau bahan bangunan yang mereka gunakan untuk membangun.
Belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, ternyata bukan hanya sebagai pendapat dari hasil renungan manusia semata. Ajaran agama sebagai pedornan hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Walaupun tidak ada ajaran agama yang secara detail membahas tentang belajar, setiap ajaran agama baik secara eksplisit rnaupun implisit telah rnenyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia.
Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-Qur’an dan A1-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan (wisdom), Serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.
Di dalam A1-Quran, kata al-'ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama, yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw., menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia.
Bacalah dengan menyebut mama T uhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciplakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak deketahuinya.(Q.S. Al-’Alaq [96]:1-5).
6
Islam telah menekankan perintah untuk belajar, ayat pertama juga menjadi bukti bahwa Al-Quran memandang penting balajar agar manusia dapat memahami seluruh kejadian yang ada di sekitamya sehingga meningkatkan rasa syukur dan mengakui kebesaran Allah.
2.1.2. Makna Pembelajaran
Secara sederhana, istilah pembelajaran (instruction) bermakna sebagai upaya untuk rnembelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya dan berbagai strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Pembelajaran dapat pula dipandang sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dengan demikian, pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan terencana yang mengondisikan/merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu, kegiatan pembelajaran akan bermuara pada dua kegiatan pokok , yaitu:
1) bagaimana orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar
2) bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar.
Dengan demikian, makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan belajar, yang antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang untuk belajar.
Paparan di atas, mengilustlasikan bahwa belajar merupakan proses internal siswa dan pembelajaran merupakan kondisi eksternal belajar. Dari segi guru, belajar merupakan akibat tindakan pembelajaran.
2.1.3. Konsep Pendidikan Islam
terminologi tersebut dipayungi dengan istilah tarbiyyah. Secara harfiah istilah ini terpumpun pada tiga makna, yaitu (1) bertambah dan berkembang, (2) pertumbuhan dan peningkatan, dan (3) penataan dan perbaikan (AI-Hazimi, 2000:18).
Secara terminologis, pendidikan Islam berarti pengembangan, peningkatan, dan penataan perilaku manusia, baik yang bersifat tindakan maupun tuturan, berlandaskan pada Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad yang berbasis padake dua sumber itu, yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang atas kehendak mereka sendiri, dengan tujuan untuk membantu manusia dalam menyempurnakan aspek perkembangannya, menggali potensinya, mengarahkan kemampuannya, dan menata dayanya, agar dia mampu melakukan berbagai aktivitas serta mampu mewujudkan aneka tujuan yang ditetapkan Islam (AI-Hazimi, 2000; Ahmad, 1982;AI-Ahwani, 1967).
Islam berpandangan bahwa pada hakikatnya, yang melakukan kegiatan pendidikan itu adalah Allah Ta’ala. Hakikat ini tampak dalam QS AI-Fatihan ayat 2 yang menegaskan, “Segala puji bagi Allah Rabb (Pendidik) alam semesta”.di antara alam semesta itu adalah manusia. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya dilaku kan dengan mengikuti syariat Allah Swt dan agama-Nya. Pendidikan menuntut adanya rencana dan langkah-langkah yang berjenjang yang diikuti aneka kegiatan pendidikan dan pengajaran, selaras dengan urutan sistem yang berjenjang, bersarna dengan peserta didik dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.
2.2. Tujuan Belajar dan Pembelajaran Islam
8
selaras dengah kondisi hatinya di hadapan Zat Yang Nlahakuasa. Penghambaah yang diridhal Allah memiliki dua sisi, yaitu sisi peribadatan kepada Allah semata dan sisi penghambaah kepada hamba Allah sebagai pelaksanaan atas perintah-Nya.
Membangun Muslim yang sempurna kepribadiannya diwujudkan dengan memerhatikan hal-hal fundamental seperti kesehatan, perkembangan intelektual, pembinaan keyakinan, akhlak sosial, dan kreatifitas. Pembinaan kepribadian ini perlu dilakukan selaras dengan minat dan kesiapan anak, kesiapan guru dan pendidik, sarana dan parasarana, serta melalui kerja sama di antara orangtua, pendidik, dan pemerintah.
Secara rinci, tujuan pendidikan Islam itu diuraikan oleh Al-Hazimi (2000:75- 212) sebagai berikut.
2.2.1. Membina Keilmuan
Ilmu yang paling utama dan mulia ialah ilmu agama, sebab dengan ilmu agama manusia beroleh petunjuk. Jika tidak mengetahui dan memahami ilmu agama, dia akan tersesat dan merugi, baik di dunia maupun akhirat. Ilmu yang perlu diprioritaskan manusia ialah ilmu yang mampu mendekatkan diri kepada Allah Swt, yang menjauhkan dari kemaksiatan, dan yang bermanfaat bagi umat manusia.
llmu merupakan perhiasan bagi seorang Muslim dan sarana utama untuk meraih kebahagiaan. Manusia menggunakan ilmu untuk beribadah, berdagang, bekerja, dan melakukan kegiatan Iainnya.
Tujuan pernbinaan keilmuan tersebut dilakukan dengan upaya ta'lim, yaitu kegiatan membelajarkan orang lain yang dilakukan oleh para cendekiawan, ulama, ilmuwan, dan siapa saja yang mengetahui kebenaran. Upaya ini rnerupakan salan satu prinsip dalam ajaran Islam, yakni adanya kevvajiban individual untuk berdakvvah, mendidik, dan menyampaikan ajaran Islam kepada orang lain walaupun materi yang disampaikan itu hanya sedikit informasi.
pembelajandan murid. Da|dalam ilmu pendidikan lslarm istilah yang digunakan untuk mengungkapkan upaya mencari ilmu adalah
thalabul ’iImi.
2.2.2. Membina Keyakinan
Pembinaan keilmuan menuntut adanya ilmu-ilmu yang dibinakan kepadapembelajar. Ilmu yang pertama kali dibinakan ialah ilrnu agama Islam. Ilmu keislaman ini sangat beragam ditilikdari sejenis, Urutan kepentingan, kedalaman kajian, dan fungsinya. Oleh karena itu, Salah satu tugas ilmuwan ialah menyeleksi materi pertama yang perlu diberikan kepada pembelajar pada saat manusia mulai belajar. Sehubungan dengan penentuan materi pembelajaran pertama, Allah Swt telah memberikan isyarat dan petunjuk melalui ayat-ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan, yaitu ayat yang mengandung seruan untuk bertaunid. Urutan ini menunjukkan isyarat yang jelas bahwa materi pembelajaran pertama adalah tentang ketauhidan. Setelah jiwa mengenal Tuhan dan merasa tentram dengannya, barulah Tuhan menurunkan materi Iain yang berhubungan dengan hukumsyara’.
2.2.3. Membina Ibadah
Ibadah merupakan sebuah istilah yang dikenakan pada setiap perkara yang disukai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang Iahir maupun batin, selama perkara itu dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan ketentuan syari’ah. Dengan demikian, istilah ibadah menjangkau hampir selurun aspek kehidupan manusia yang ditujukan untuk meraih keridhaan-Nya. Berperilaku demikian merupakan tujuan kehadirannya di muka burni. Allah Swt tidak menciptakan manusia dan jin melainkan supaya mereka beribadah.
10
inte-nsitas perbuatan akhlak terpuji, sebaliknya, minimnya pelaksanaan ibadah akan berdampak pada rendahnya kemampuan mengontrol diri sehingga manusia terjerumus ke dalam akhlak tercela. Hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara ibadah dan perilaku (akhlak), baik perilaku terhadap diri sendiri maupun orang Iain.
2.2.4. Membina Akhlak
Pembinaan akhlak bertujuan mengontrol perilaku manusia agar selaras dengan moral, etika, dan nilai-nilai Islam. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap akhlaK sebagaimana hal itu terkandung dalam ayat-ayat AI-Quran dan hadis-hadis Nabi saw. Akhlak menegaskan sejumlah kaidah, prinsip, dan nilai yang apabila dipegang teguh oleh individu, niscaya dia sukses dan selamat dari berbagai fitnah, godaan, dan bisikan setan. Kesuksesan dan keberhasilan seorang Muslim dalam me-Iaksanakan tugas kekhalifahan ini dikontrol oleh tiga piranti akhlak berikut ini.
2.2.5. Membina Profesi
Allah Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan agama yang lurus, yang meliputi urusan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, syari’at Islam mernberikan batasan tentang profesi dan pekerjaan yang disukai, dianjurkan, dan diharamkan. Islam mendorong manusia supaya bekerja dan berkarya. Syariat juga mengatur hubungan antara majikan dan pekerja dengan berlandaskan pada etika, saling menguntungkan, dan saling menghargai. Hal ini membuat pekerja Muslim memiliki tanggung jawab kepada majikan dan Tuhannya.
lebih baik dari pada tangan yang di bawah; memberikan belanja kepada keluarga merupakan perbuatan yang utama; uang terbaik seseorang ialah yang dibelanjakan kepada keluarganya; pekerjaan sebagai sarana memberantas xemiskinan. Oleh karena itu, para nabi, sahabat, dan para ulama pun memiliki profesi tertentu. Prinsip yang mereka anut dalam bekerja ialah iknlas, amanah, dan memilih pekerjaan yang halal.
2.2.6. Membina Jasmani
Pendidikan lslam mementingkan pembinaan manusia secara utuh, yang meliputi aspek ruhani, intelektual, perilaku, dan jasmani. Islam memandang manusia, baik sebagai individu yang memiliki hak, perasaan, kebutuhan, dan kemampuan khusus, maupun sebagai anggota masyarakat Muslim. Maka, Islam membina manusia dalam seluruh aspek tersebut agar dia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pembinaan jasmani bertujuan agar seorang Muslim mampu melaksanakan berbagai hal yang diwajibkan dan disunnahkan oleh syari’at, seperti shalat, shaum, haji, dan upaya lain dalam menegakkan ajaran Islam. Upaya pemeliharaah kesehatah dimaksudkan agar manusia dapat beribadah, bertakvva, mehcari penghidupan, dan memakmurkan bumi.
Pendidikan jasmani merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Maka hukumnya tergantung pada hukum tujuannya. Jika tujuannya wajib, sarana itu pun wajib. Hukum wasilah (sarana) tergantung tujuan.
12
2.2.7. Memelihara Nilai
Sementara itu, Ibrahim (I999:67) menambahkan bahwa pendidikan diseleng-garakan untuk memelihara nilai. Oleh karena itu, perlu dikembangkan kekuatan, terutama kekuatan intelektual dan pengetahuan, untuk memelihara nilai-nilai Islam. Dalam Islam, kekuatan itu tidak hadir untuk melindungi bumi semata, tetapi untuk melindungi kemanusiaan, kehormatan, keyakinan, harta, dan nilai. Pandangan demikian berlandaskan pada asumsi bahwa ruh bumi itu nilai. Jika nilai sirna, bumi itu bagaikan debu belaka. Nilai itu melindungi manusia dan memberikan kekebalan dari berbagai gangguan yang datang dari Iuar. Jadi, tujuan pendidikan ialah untuk memahami nilai-nilai keislaman, memelihara, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
2.3. Landasan Belajar dan Pembelajaran Islam
Landasan pendidikan berarti ilmu dan hasi lkajian yang menopang pendidikan lslam dan membantu dalam me-nentukan sasaran dan tujuan pendidikan; membantu dalam merumuskan kurikulum, sumber belajar, dan kégiatan pendidikan Iainnya. Landasan dimaksud adalah Iandasan filosofis, psikologis, ekonomi, dan sosiologis (Ahmad, 1982).
Sehubungan dengan sistem pendidikan lslam, Al-Hazimi (2000) memaparkan secara rinci landasan pendidikan Islam di dalam bukunya yang berjudulUshulut Tarbiyyah Al-islamiyyah. Dia mengemukakan bahwa sistem pendidikan Islam dikembangkan berlandaskan pada landasan referensial, landasan kurekuler, landasan lapangan, dan landasan metodologis.
2.4. Prinsip-Prinsip Belajar Menurut Islam 2.4.1. Al Qur’an tentang Posisi Manusia
Ilmu dan iman menjadi bagian integral dalam diri seseorang, sehingga dengan demikian yang terjadi adalah ilmu amaliah yang berada dalam jiwa yang imaniah. Dengan begitu, teknologi, yang lahir dari ilmu, akan menjadi barang yang bermanfaat bagi umat manusia di sepanjang masa. Dan inilah yang mesti menjadi tanggung jawab umat Islam.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai hubungan ilmu, amal dan iman ini (lihat misalnya QS. Al-Baqarah : 82, 227 ; Ali-Imran : 57 ; An-Nisa’ : 57, 122 dan seterusnya). Dari banyak ayat Al-Qur’an ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa antara ilmu, amal dan iman menjadi sangat penting bagi umat manusia yang hendak menjadi khalifah di bumi ini. Dan amal baru bisa dinilai baik, saleh jika dipancarkan dari iman. Iman memberi dasar moral, amal saleh diwujudkan dalam bentuk konkret. Jadi terdapat hubungan yang organik antara iman dan amal salih.
2.4.2. Dasar Belajar dalam Islam
Sebagaimana pandangan hidup yang dipegang-teguhi oleh Umat Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul , maka sebagai dasar maupun filosofi bagi belajar adalah juga merujuk dari dua sumber tersebut.
Al-Qur’an dan Al-Hadis penuh dengan konsep dan tuntutan hidup manusia, begitu juga mengenai petunjuk ilmu pengetahuan. Jika manusia mau menggali kandungan isi Al-Qur’an, maka banyak diketemukan mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan ilmu (baik ilmu pengetahuan sosial maupun ilmu pengetahuan alam), Misalnya perhatikan surat Ali Imran : 190-191. Disini dipaparkan tentang kreasi penciptaan alam oleh Allah SWT. Yang harus direnungkan, demikian pula tentang kisah dan sejarah umat-umat di masa lampau.
14
2.4.3. Tujuan Belajar dalam Islam
Belajar memiliki dimensi tauhid, yaitu dimensi dialektika horizontal dan ketundukan vertikal. Dalam dimensi dialektika horizontal, belajar dalam Islam tak berbeda dengan belajar pada umumnya, yang tak terpisahkan dengan pengembangan sains dan teknologi (menggali, memahami dan mengembangkan ayat-ayat Allah). Pengembangan dan pendekatan-Nya secara lebih dalam dan dekat, sebagai rab al-alamin. Dalam kaitan inilah, lalu pendidikan hati (qalb) sangat dituntut agar membawa manfaat yang besar bagi umat manusia dan juga lingkungannya, bukan kerusakan dan kezaliman, dan ini merupakan perwujudan dari ketundukan vertikal tadi.
Sehingga belajar di dalam sudut pandang Islam juga mencakup lingkup kognitif (domain cognitive), lingkup efektif (domain affective) dan lingkup psikomotor (domain motor-skill). Tiga ranah atau lingkup tersebut sering diungkapkan dengan istilah : Ilmu amaliah, amal ilmiah dalam jiwa imaniah.
2.4.4. Mengembangkan Ilmu
Strategi pengembangan ilmu harus mengintensifkan dan mengekstensifkan belajar atau pendidikan itu sendiri, dengan berbagai sarana dan presaranannya. Sebab dalam Islam, pendidikan dan belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda dan dilakukan sepanjang masa).
Dan tidak aku jadikan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepada-Ku. (QS. Az-Zariyat : 56).
Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.4.5. Aspek Moral dalam Belajar
Pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya juga harus meujuk pada norma-norma Islam.
Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdasarkan norma-norma kebajikan dan jauh dari kejahatan. Islam memerintahkan perbuatan yang ma’ruf dan menjauhi perbuatan munkar, bahkan memberantas kejahatan dalam segala bentuknya. Beberapa hal di atas di dasarkan atas dalil Al-Qur’an antara lain surat Ali- Imran : 110 :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik(Q.S. Ali- Imran : 110).
2.4.6. Unsur Belajar
Sebagaimana penjelasan di dalam surat al-Alaq (1-5), bahwa proses belajar mengajar itu tidak lepas dari dua komponen penting, yaitu membaca dan menulis. Perintah pertama kali yang dikemukakan Allah Swt untuk manusia adalah ‘’Iqra’’. Di dalam bahasa Arab, Iqra
16
Menurut Quraish Shihab, wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebutbismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda–tanda sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Dengan kata lain obyek perintahiqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau. Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ngulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismi Robbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru.
Membaca dalam tradisi Arab merupakan pintu pengetahun pertama untuk mendapatkan ilmu dan informasi. Di dalam al-Qur’an, Allah Swt menjelaskan, (QS. Al-Isra’ (17:36). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Di sini, Allah Saw mendahulukan ‘’telingga’’ sebagai sarana untuk mendengar semua informasi. Berarti di dalam proses belajar mengajar, seorang murid (peserta didik) diharuskan hadir di dalam kelas, memasang telingga lebar-lebar. Agar supaya semua ilmu dan informasi yang di dengar bisa di simpan di dalam otak dengan baik dan sempurna. Selanjutnya, menggunakan ‘’mata’’ untuk melihat melihat dan tangan untuk mencatat setiap apa yang disampaikan oleh guru.
Namun belajar menurut Robert Gagne, merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Beberapa unsur dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Pembelajar
2) Rangsangan (stimulus)
Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajaran disebut situasi stimulus. Agar pembelajar mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati.
3) Memori
Memori pembelajar berisi berbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas belajar sebelumnya.
4) Respon
Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon. Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus tersebut.
2.5. Pembelajaran Dalam Perspektif Al-Qur’an 2.5.1. Al-Qur’an Sebagai Solusi Terbaik
18
seyogyanya rnenjadi kepentingan utama dalam pengernbangan ilrnu dan seluruh bidang kehidupan. Terhentinya upaya penafsiran, pengkajian atau penelitian terhadap Al-Quran hakikatnya merupakan kemandegan dalam kehidupan kaum Muslim; kemandegan kehidupan ilmiah lslami, kemandegan etos kerja yang lslami, kamandegan pendidikan yang Islami,dan kemandegan seluruh aspek peradaban kaum Muslim.
Al-Quran harus diaktualisasikan pada tataran obyektif. Obyektifikasi AI-Quran melalui pengkajian, uji coba, dan penerapan hasilnya merupakan kepentingan Al-Quran itu sendiri. Akan tetapi, konsep-konsep Al-Quran tidak bersifat instan. Pengkajian dan penelitian Al-Quran untuk rnenurunkan konsep-konsep secara komprehensif perlu mendapat perhatian yang serius. Sejalan dengan kernajuan ilmu dan teknologi yang telah berkembang menjadi spesialisasi dan spesifikasi yang sangat tajam dan beragam, penelitian Al-Quran seyogyanya dikembangkan sesuai dengan keragarnan tersebut. Kebutuhan atas pengkajian dan penelitian Al-Quran, pada dasarnya merupakan keniscayaan dari karakteristik AI-Quran itu sendiri pada satu sisi dan merupakan kenicayaan dari perkembangan kehidupan manusia pada sisi yang Iain.
2.5.2. Paradigma Pembelajaran (Iqra)
Iqra' sebagai paradigma pembelajaran, sekurang-kurangnya mengandung tiga makna pokok. Pertama, pengakuan eksistensi manusia sebagai makhluk pernbelajar. Kedua, pengakuan semua entitas (konkret dan abstrak) dan semua ayat (quraniyyahdankauniyyah) sebagai sumber belajar. Ketiga, pengakuan tauhidullah sebagai prinsip utama pengembangan pembelajaran. Di dalamnya tercakup konsep mu’aIlim
(guru atau penggiat belajar), mu’allim (pembelajar atau peserta belajar) dan ilmu yang Qurani.
wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw adalah
Tanpa pengantar apa-apa, Rasulullah saw yang mengaku tidak dapat membaca tiba-tiba diperintah untuk membaca. Makna yang paling kuat dari perintah tersebut adalah pengakuan adanya potensi atau kemampuan mernbaca dalam arti seluas-Iuasnya. Hal ini akan Iebih jelas apabila dihubungkan dengan pengakuan Rasulullah saw sendiri bahwa dirinya tidak dapat membaca. Allah Swt mustahil memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya ketika hamba tersebut tidak memiliki kesiapan untuk melakukannya.
2.5.3. Pembelajaran (Ta’lim)
Ta’liim dalam AI-Quran mengandung makna ”pembelajaran” yang dibedakan dari makna "pengajaran". Pembelajaran menghendaki agar aktivitas belajar dilakukan oleh pembelajar secara mandiri, sedangkan pada pengajaran siswa cenderung lebih banyak menerima dari guru. Pengertian ini dapat diungkap dari konsep ta’Iim pada QS AI-’Alaq yang diberi gambaran dengan ta’lim pada QS Al-Baqarah, 2:31, dan selanjutnya diberi gambaran langkah-Iangkahnya pada QS Ar-Rahman.
Hampir setengah dari konsep ta'lim dalam Al-Quran menernpatkan Allah Swt sebagai subjek (fa'il) dan sebagian objeknya terdiri dari manusia secara umum (insan). Jadi, Allah Swt sebagai Mu'allim
(penggiat belajar) dan manusia sebagai mu'allim (pembelajar). Pada konsep ta'lm (QS Al-’AIaq,96:4) dijelaskan bahwa Allah Swt membelajarkan manusia melalui media atau sarana.
2.6. Integrasi nilai-nilai Islami pada Pembelajaran
2.6.1. Pentingnya Integrasi Nilai-nilai Islami pada Proses Belajar Mengajar
20
muatan-muatan nilai yang Islami. Tujuan kurikulum pendidikan Islami tidak semata-mata mendorong anak didik untuk mampu berkomunikasi tanpa bimbingan orang lain dan sekaligus dapat memecahkan masalah dengan baik, akan tetapi lebih sebagai jiwa atau ruh dari pendidikan itu. Sebagaimana pendidikan yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw., yang lebih mengutamakan akhlak bagi ummatnya “li utammima makarim al-akhlak“.
Tujuan pendidikan nilai pada dasarnya membantu mengembangkan kemahiran berinteraksi pada tahapan yang lebih tinggi serta meningkatkan kebersamaan dan kekompakan interaksi atau apa yang disebut Piaget sebagai ekonomi interaksi atau menurut Oser dinyatakan dengan peristilahan kekompakan komunikasi. Tujuan pendidikan nilai tidak dapat tercapai tanpa aturan-aturan, indoktrinasi atau pertimbangan prinsip-prisnip belajar. Namun sebaliknya, dorongan moral komponen pembentukan struktur itu sangat penting. Oleh karena itu, pendidik seharusnya tidak hanya sekedar membekali dan menjejali siswa dengan pengetahuan tentang tujuan serta analisis dari hubungan antara tujuan dengan alat (W. Sumpeno, 1996:27).
Pentingnya integrasi pendidikan nilai tersebut menjadi satu kerangka normatif dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagaimana diungkapkan Ali Asraf bahwa tujuan pendidikan Islam :
1) Mengambangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam dan mengembangkan pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern.
2) Membekali anak didik dengan berbagai kemampuan pengetahuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan nasional.
3) Mengembangkan kemampuan pada diri anak didik untuk menghargai dan membenarkan superioritas komparatif kebudayaan dan peradaban Islam di atas semua kebudayaan lain.
sehingga kemampuan kreatif dapat berkembang dan berfungsi mengetahui norma-norma Islam yang benar dan yang salah. membantu anak yang sedang tumbuh untuk belajar berpikir secara logis dan membimbing proses pemikirannya dengan berpijak pada hipotesis dan konsep-konsep pengetahuan yang dituntut. Keenam, mengembangkan, menghaluskan, dan memperdalam kemampuan komunikasi dalam bahas tulis dan bahasa latin (asing).
2.6.2. Model, Metode dan Pendekatan Pembelajaran yang Terintegrasi dengan Nilai-nilai Islami
Pemberian nilai-nilai Islami pada proses pembelajaran tentunya harus melalui etika dan pola pembelajaran yang sistematis mengikuti model, metoda, pendekatan sebagai bentuk strategi belajar mengajar yang digunakan sehingga tujuan dapat tercapai secara maksimal. Dibawah ini diuraikan beberapa model, metode dan pendekatan pembelajaran terpadu dalam pembelajaran.
1) Model-model Pembelajaran Terpadu
Achmad (2002:14) sebagaimana pendapat yang dikutipnya dari Fogarty (1991) mengungkapkan bahwa terdapat 10 model pembelajaran terpadu yang dikelompokan menjadi tiga tipe model:
Tipe Pertama, yaitu model pembelajaran terpadu dalam satu bidang studi (model Fragmented, Connected, dan Nested).
Tipe kedua, yaitu model pembelajaran terpadu antar bidang studi (model Sequened, Shared, Webbed, Threaded, dan Integrated).
Tipe ketiga, yaitu model pembelajaran terpadu dalam faktor diri siswa(model Immersed dan Networked)
22
model keterpaduan yang menghubungkan atau mengaitkan secara mendasar sehingga terdapat benang merah yang dapat menghubungkan dan dikembangkan lebih luas.Integatedadalah model keterpaduan yang bertitik tolak pada persamaan topik/ konsep yang terjadi dari berbagai bidang yang dapat dirumuskan menjadi satu.
2) Metode dan Pendekatan Terpadu
Dalam mengembangkan pembelajaran yang terintegrasi nilai-nilai Islami (agama), diperlukan suatu pedoman yang dapat digunakan untuk menerapkan dalam pembelajaran tersebut. Untuk itu diperlukan Broad Curriculum (Integrated Curriculum) yang pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Huxley pada tahun 1969 di London sebagaimana diungkapkan Harry Suderadjat (Achmad Barik Marzuq, 2002:16). Kurikulum yang terpadu pada pembelajaran dengan nilai-nilai Islami sangat diperlukan untuk mempermudah guru dalam mengimplementasikannya.
Metode mengajar adalah cara-cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar, misalnya; ceramah, tanya jawab, diskusi sosiodrama, demonstrasi, dan eksperimen. Pendekatan lebih menunjukan pada bagaimana kelas dikelola, misalnya secara individu, kelompok dan klasikal. Steategi pembelajaran menunjuk kepada bagaimana guru mengatur keseluruhan proses belajar mengajar, meliputi: mengatur waktu, pemenggalan penyajian, pemiliham ,etode, dan pemilihan pendekatan.
tersebut antara lain:
1) Metode menasihati (moralizing) yaitu metode pendidikan nilai di mana seorang pendidik secara langsung mengajarkan sejumlah nilai yang harus menjadi pegangan hidup peserta didik. Dalam metode ini pendidik dapat menggunakan khotbah, berpidato, memberi nasehat atau memberi instruksi kepada peserta didik agar menerima saja sejumlah nilai sebagai pegangan hidup.
2) Metode serba membiarkan (a laissezfaire attitude), yaitu metode pendidikan nilai dimana seorang pendidik memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk menentukan pilihan terhadap nilai-nilai yang ditawarkan oleh pendidik. Pendidik hanya memberikan penjelasan tentang nilai-nilai tanpa memaksakan kehendaknya sendiri bahwa nilai ini atau itu yang seharusnya dipilih oleh peserta didik tetapi setelah memberi penjelasan pendidik mempersilahkan peserta didik mengambil sikap sendiri-sendiri.
24 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan
Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-Qur’an dan A1-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan (wisdom), Serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Di dalam A1-Quran, kata al-'ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama, yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw., menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia.
Pembelajaran (instruction) bermakna sebagai upaya untuk rnembelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya dan berbagai strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan.
Tujuan belajar dan pembelajaran dalam Islam ialah membina manusia agar mampu melakukah penghambaan yang tulus kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, ”TidakIah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah.” (QS Adz-Dzériyat, 51, 156). Penghambaan ini dilakukan pada berbagai tingkatah kekhusyukan.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai hubungan ilmu, amal dan iman ini (lihat misalnya QS. Al-Baqarah : 82, 227 ; Ali-Imran : 57 ; An-Nisa’ : 57, 122 dan seterusnya). Dari banyak ayat Al-Qur’an ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa antara ilmu, amal dan iman menjadi sangat penting bagi umat manusia yang hendak menjadi khalifah di bumi ini.
pernbelajar. Kedua, pengakuan semua entitas (konkret dan abstrak) dan semua ayat (quraniyyah dan kauniyyah) sebagai sumber belajar. Ketiga, pengakuan tauhidullah sebagai prinsip utama pengembangan pembelajaran. Di dalamnya tercakup konsep mu’aIlim (guru atau penggiat belajar),
mu’allim(pembelajar atau peserta belajar) dan ilmu yang Qurani.
26
DAFTAR PUSTAKA
Asyafah, A. dkk. (Penyunting). (2014).Model-model pembelajaran berbasis nilai islam. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Jamiludin. (2011). Integrasi pendidikan islami: nilai-nilai islami dalam pembelajaran[Online]. Diakses dari http://taqwimislamy.com/index.php /en/57-kurikulum/345-nilai-nilai-islami-dalam-pembelajaran
Majid, A. (2012).Belajar dan pembelajaran pendidikan agama islam.Edisi Pertama. Bandung: Rosdakarya Offset.
Nata, A. (2009). Perspektif islam tentang strategi pembelajaran. Edisi Pertama. Jakarta : Kencana.
Tafsir, A. (2012). Ilmu pendidikan islam. Edisi pertama, Bandung : Rosdakarya Offset.