Pernikahan dan Pembenaran dalam Gerakan Generasi Berencana
Oleh: Bambang Afriadi
Pernikahan merupakan pertalian dalam kehidupan sosial, bukan antara suami dan istri dan keturunan, bahkan antara kedua keluarga besar. Pada umumnya pernikahan dilakukan oleh orang yang sudah “dewasa”, memiliki kematangan emosional. Dengan kematangan
emosional maka akan menjaga keberlangsungan perkawinan (Idianto 2004:28). Sedangkan bagi agama Islam dalam sebuah hadis Rasullullah SAW bersabda “hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin, karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia berpuasa. Karena dengan berpuasa hawa nafsu terhadap perempuan berkurang”. Dalam hadis tersebut sangat jelas Nabi Muhammad menekankan kata “mampu”, dalam kamus tesaurus bahasa indonesia kata “mampu” berarti: berharta,
dikala diterpa cobaan dalam berkeluarga jika kata “mampu” bisa di implentasikan dengan
baik.
Setelah baca pendahuluan yang sedikit menggunakan konsep keilmuan dan keagamaan, mari kita membumikan semua konsep tersebut dalam sebuah retorika kehidupan akan dan berkeluarga. Terlalu banyak pendahuluan membingungkan dengan bahasa membingungkan akan lebih bingung ketika tidak bisa baca. Seperti dalam pendahuluan seseorang yang akan menikah dan menikah harus dan mesti mempersiapkan segalanya dari yang diduga dan tak terduga, dari hal yang enak yang akan didapat pasangan setelah acara pesta. Tetapi juga hal terburuk yang didapat, seperti mempelai wanita tiba-tiba kena serangan jantung waktu memikirkan yang enak setelah pesta lalu dimasukan lah dia kerumah sakit(jangan sampai terjadi). Tetapi mesti diantisipasi pula kejadian seperti itu, maka kembali lagi pada permasalahan awal kata “mampu” bagi sang mempelai pria mesti dan harus
bertanggung jawab sebagai kewajibannya. Terbayang pertanyaan apakah mampu sang mempelai lelaki bertanggung jawab, jika dia orang mampu maka kata “pasti” yang akan dijawab, jika dia orang kurang mampu atau pas-pasan maka jawabanya “dipaksakan”(merepotkan keluarga besar).
Selanjutnya kita mesti sadari cinta dan nafsu beda tipis, setipis kaca kamar mandi yang transparan dengan ketebalan 1cm tetapi tetap tipis(hanya iman yang tipis yang akan pipis, dan berkata sambil memandang kaca”yuk kita nikah aku sudah siap enak”, “tenang aku
akan tanggung jawab”), itulah nafsu. Maka rasionalitas seseorang pada saat itu dibutakan
dengan nafsu yang bergejolak dari dorongan emosional dan fungsi saraf, dalam bayanganya hanya kenikmatan. Atau setelah dengar slogan “aku pinang kau dengan bismillah”, sebuah
mesti dipantas pantaskan pembelaannya adalah terkadang sebuah janji depan saksi dan pemuka agama hanya basa-basi, terbata-bata saat ucapkan basa-basi menjadi sensasi. Banyak kaum irasional, irasional, irasional, sekali lagi irasional. Mereka berpandangan “nikah itu menyempurnakan ibadah dalam agama”, sekali lagi irasional. Memamang benar adanya
nikah menyempurnakan ibadah dalam agama. Mari kita berpikir rasional, bukan irasional, sekali lagi berpikir rasional terlebih dahulu. Pertama, dengan menikah maka keturunan yang akan dihasilkan, maka dengan keturunan tersebut pemeluk agama akan bertambah serta dakwah agama akan makin tersiar seantero dunia. Kedua, bagi seorang suami “bertanggung jawab penuh”membahagiakan istri dan anaknya dengan hal-hal yang baik. Bagi seorang
suami yang memiliki pekerjaan tetap berpenghasilan lebih serta masa depan terjamin dalam hal ekonomi. mudah saja bagianya membelikan dan membahagiakan anak dan istrinya dengan hal yang diinginkan. Contoh hal terburuk, ketika sang istri sakit maka dengan mudah suami akan bawa istrinya kerumasakit dengan fasilitas mewah. Tanpa harus memikirkan biaya, segalanya terjamin, terjamin, maka jelas kata “mampu” sangat ditekankan bagi
berangkat dan setelah bekarja cerdas. Atau anak telah dimandikan, serta membuat suami bahagia ketika bermurung durja. Itulah sebuah ibadah bagi seorang istri.
Oleh karena itu sangat rasional jika kata “mampu”dalam berperoses berkeluarga. Dalam pembahasan singkat kaum irasional berpengang teguh dengan pembenaran nikah itu menyempurnakan ibadah dalam agama. Bagi kaum irasional kata tersebut sebagai pelampiasan nafsu untuk menghalalkan perbuatannya untuk menikahi gadis idman tanpa memperhitungkan nasib masa depan kehidupannya. Selanjutnya “dengan menikah maka rizki akan bertambah”. Ini sebuah kata yang sangat motivatrif, bagaimana tidak dijanjikan rizki
untuk makan 3 kali sehari atau lebih tepatnya mencukupi dan melebihkan untuk mendapatkan sandang, papan dan pangan seorang suami akan berusaha keras untuk mendapatkannya.
Tulisan ini sebagai keritik bukan sebagai bahan pesimisme bagi yang akan menikah. Tetapi lebih dari itu sebuah kehidupan berumah tangga sangat dinamis, segala tantangan akan dihadapi. Maka persiapkanlah, karena orang yang bisa baca ini dan menggunakan media sosial merupakan orang yang memiliki gengsi. Kita tidak hidup di hutan yang serba berkecukupan, hidup di hutan pun mesti berburu dan bertani agar tetap survaif. Kita hidup di kota atau kampung yang jadi kota, oleh karena itu berfikirlah dengan matang dengan segala kemungkinan. Apakah “mampu”untuk segala kemungkinan tersebut, maka jawabannya lihat
dirimu dan tanggung jawabmu sekarang. Pernikahan itu sebuah hal yang mudah, tetapi mempertahankan pernuikahan itu lebih sulit dari pada mengucap janji setia didepan saksi dan pemuka agama. Sadar dan telaah mendalam bahwa dengan menikah tanggung jawab mempertahankan dan menjaga nama baik keluarga besar tidaklah mudah. Solusi dari nabi Muhammad bagi yang tidak mampu untuk menikah, maka puasalah dan kumpulkan bekal/uang dari puasamu untuk modalmu berkeluarga.