PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DALAM KONTEKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI INDONESIA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Permasalahan Perencanaan dan Pembangunan
Oleh Kelompok 6:
No. Nama NIM
1. AFDEN MAHYEDA 21040117410029
2. ANDIKA BUDINGTYAS 21040117410060
3. WA ODE SITTI JURIANTI ASWAD 21040117410017
FAKULTAS TEKNIK
MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DALAM KONTEKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI INDONESIA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Permasalahan Perencanaan dan Pembangunan
Oleh Kelompok 6:
No. Nama NIM
1. AFDEN MAHYEDA 21040117410029
2. ANDIKA BUDINGTYAS 21040117410060
3. WA ODE SITTI JURIANTI ASWAD 21040117410017
FAKULTAS TEKNIK
MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DALAM KONTEKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI INDONESIA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Permasalahan Perencanaan dan Pembangunan
Oleh Kelompok 6:
No. Nama NIM
1. AFDEN MAHYEDA 21040117410029
2. ANDIKA BUDINGTYAS 21040117410060
3. WA ODE SITTI JURIANTI ASWAD 21040117410017
FAKULTAS TEKNIK
MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
ABSTRAK ...1
I. PENDAHULUAN...2
I.1 Latar Belakang...2
I.2 Perumusan Masalah ...3
I.3 Tujuan Penulisan...3
II. KAJIAN TEORI ...4
II.1 Wilayah Pesisir...4
II.2 Perencanaan Wilayah ...4
II.3 Pemberdayaan Masyarakat ...5
II.4 Pengelolaan Pesisir Berbasis Masyarakat...5
III. PEMBAHASAN...7
III.1 Deskripsi Proyek...7
III.2 Implementasi Proyek Pemberdayaan Masyarakat Pesisir...8
III.3 Implementasi Studi Kasus Lombok Timur...10
III.3.1 Stakeholder yang terlibat dalam program Co-Fish Lombok Timur...10
III.3.2 Tenaga Pendamping Co-Fish di Lombok Timur ...11
III.3.3 Kegiatan Pengelolaan Co-Fish di Lombok Timur...11
III.3.4 Kegiatan Pengelolaan...11
III.3.5 Aturan Pengelolaan ...12
III.4 Analisis dan Pembahasan ...13
III.4.1 Analisis dan Evaluasi Proyek ...13
III.4.2 Pembelajaran...13
IV. KESIMPULAN DAN SARAN...14
IV.1 Kesimpulan ...14
IV.2 Saran ...14
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
ABSTRAK
Sebagai negara Kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 65% wilayahnya berupa laut dan 50% penduduknya tinggal di wilayah pesisir, Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi yang sangat besar. Potensi tersebut berupa sumber daya alami seperti ikan, terumbu karang, hutan mangrove, pantai berpasir, ataupun sumber daya buatan seperti tambak, kawasan pariwisata, kawasan industri, dan perhubungan. Meskipun demikian kontribusi sektor kelautan masih relatif kecil bagi perekonomian nasional. Wilayah pesisir dan lautan di Indonesia, memiliki sumberdaya alam melimpah yang sekaligus juga menyimpan berbagai permasalahan yang perlu ditangani secara terintegrasi dan terpadu.
Arah modernisasi di sektor perikanan yang dilakukan selama ini pun dirasa hanya memberi keuntungan kepada sekelompok kecil yang memiliki kemampuan ekonomi dan politis. Sehingga, diperlukan sebuah alternatif lain yang memiliki paradigma dan strategi pembangunan yang menyeluruh dan terintegrasi serta dapat menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi, pengelolahan dan distribusi, dan juga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu pilar pembangunan wilayah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Banyak sekali program pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan di Indonesia. Salah satunya yaitu program kerjasama yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan Asian Development Bank (ADB). Program ini merupakan program dengan konsep pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir yang holistik dan terintegrasi. Oleh karena itu, penulisan ini dimaksudkan untuk melakukan review dan evaluasi terkait program pemberdayaan masyarakat pesisir tersebut akan menjadi bahan dan masukan yang penting bagi semua aktor pembangunan wilayah pesesir demi keberlanjutan program pembangunan wilayah pesisir di Indonesia.
Proyek ini dilakukan di empat kabupaten dan satu kota, meliputi Bengkalis di Provinsi Riau, Kota Tegal di Jawa Tengah, Trenggalek di Jawa Timur, Banyuwangi di Jawa Timur, dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat. Lingkup proyek mencakup kegiatan untuk (i) mempromosikan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat (Community-based Coastal Fisheries Resource Management/CFRM); (ii) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat pesisir melalui pemberian kesempatan dan fasilitas prasarana sosial yang tepat; (iii) merehabilitasi fasilitas di pusat pendaratan ikan (Fish Landing Centers/FLC) untuk memperbaiki sanitasi, lingkungan, dan kualitas ikan; dan (iv) memperkuat kemampuan pengelolaan sumber daya perikanan masyarakat pesisir, organisasi nonpemerintah, dan badan-badan nasional dan kabupaten.
I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
Sebagai negara Kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 65% wilayahnya berupa laut dan 50% penduduknya tinggal di wilayah pesisir, Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi yang sangat besar. Potensi tersebut berupa sumber daya alami seperti ikan, terumbu karang, hutan mangrove, pantai berpasir, ataupun sumber daya buatan seperti tambak, kawasan pariwisata, kawasan industri, dan perhubungan. Meskipun demikian kontribusi sektor kelautan masih relatif kecil bagi perekonomian nasional. Wilayah pesisir dan lautan di Indonesia, memiliki sumberdaya alam melimpah yang sekaligus juga menyimpan berbagai permasalahan yang perlu ditangani secara terintegrasi dan terpadu. Namun, perhatian pemerintah terkait kebijakan pembangunan wilayah pesisir pun dirasa masih kurang serius dan hal ini berimplikasi pada lambatnya pembangunan wilayah pesisir dan meningkatnya permasalahan wilayah pesisir.
Sementara itu, arus urbanisasi yang berdampak logis pada peningkatan kebutuhan hidup masyarakat, memberikan tekanan terhadap kebutuhan ruang di wilayah pesisir. Usaha semua aktor pembangunan wilayah pesisir dalam pemenuhan kebutuhan hidup linear terhadap permasalahan ekosistem dan lingkungan. Fadel Muhammad (2009) mengemukakan bahwa sebagian besar masyarakat pesisir hidup dibawah garis kemiskinan. Hal ini menjadi ironis, karena dengan potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang melimpah, pembangunan wilayah pesisir belum berjalan maksimal. Indikator kurang maksimalnya pembangunan wilayah pesisir tersebut bisa jadi diakibatkan oleh konsentrasi pembangunan wilayah yang masih hanya dalam takaran peningkatan produktivitas hasil eksploitasi sumber daya laut.
Berbagai permasalahan yang dialami masyarakat pesisir diatas memungkinkan dalam penggunaan segala macam teknik dalam upaya pemanfaatan sumber daya laut, termasuk cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Pernyataan tersebut telah menjadi sebuah realita yang banyak terjadi dan terus berkembang hingga saat ini di hampir semua wilayah pesisir di Indonesia. Karakteristik sosial dan budaya masyarakat pesisir yang masih sangat tergantung pada hasil eksploitasi sumber daya laut, terutama ikan, yang semakin hari semakin berkurang jumlahnya, tidak sejalan dengan tuntutan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Hal ini mengakibatkan ketidakberdayaan masyarakat pesisir dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang kemudian muncul.
Arah modernisasi di sektor perikanan yang dilakukan selama ini pun dirasa hanya memberi keuntungan kepada sekelompok kecil yang memiliki kemampuan ekonomi dan politis. Sehingga, diperlukan sebuah alternatif lain yang memiliki paradigma dan strategi pembangunan yang menyeluruh dan terintegrasi serta dapat menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi, pengelolahan dan distribusi, dan juga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu pilar pembangunan wilayah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir. Pemberdayaan masyarakat pesisir dalam upaya pengentasan kemiskinan umumnya menggunakan 5 pendekatan (Nikijuluw, 2001), diantaranya: 1. Penciptaan lapangan kerja alternatif sebagai sumber pendapatan lain bagi keluarga,
2. Mendekatkan masyarakat dengan sumber modal dengan penekanan pada penciptaan mekanisme mendanai diri sendiri (self financing mechanism),
3. Mendekatkan masyarakat dengan sumber teknologi baru yang lebih berhasil dan berdaya guna,
4. Mendekatkan masyarakat dengan pasar, serta
5. Membangun solidaritas serta aksi kolektif di tengah masyarakat.
didukung oleh kualitas lingkungannya yang lestari berdampak langsung pada pengentasan permasalahan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir. Hal ini menjadi indikator utama tercapainya pembangunan wilayah peisisir yang berkelanjutan.
Banyak sekali program pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan di Indonesia. Salah satunya yaitu program kerjasama yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan Asian Development Bank (ADB). Program ini merupakan program dengan konsep pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir yang holistik dan terintegrasi. Oleh karena itu, review dan evaluasi program pemberdayaan masyarakat pesisir tersebut akan menjadi bahan dan masukan yang penting bagi semua aktor pembangunan wilayah pesesir demi keberlanjutan program pembangunan wilayah pesisir di Indonesia.
I.2 Perumusan Masalah
Wilayah pesisir merupakan wilayah dengan karakteristik yang unik yang berbeda dengan wilayah lain. Indonesia dengan segala potensi sumber daya alam wilayah pesisir yang dimiliki, belum dapat mengoptimalisasikan pembangunan dan pengembangan wilayah pesisir dengan optimal. Beberapa pendekatan dan konsentrasi pembangunan melalui peningkatan produktivitas hasil eksploitasi sumber daya perikanan dirasa kurang berhasil. Hal ini terlihat dari berbagai permasalahan wilayah pesisir yang timbul terutama kemiskinan dan kerusakan ekosistem dan lingkungan yang terus menjadi perhatian serius oleh semua aktor pembangunan. Pola pendekatan perencanaan yang semulanya top down mulai bergeser dengan kombinasi yang lebih bersifat bottom updanopen menu. Perkembangan ilmu dan teknologi penangkapan ikan pun dinilai masih hanya menguntungkan sekelompok kecil pelaku usaha di sektor ini. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah aternatif lain yang holistik dan terintegrasi yang tidak hanya dapat memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat pesisir namun juga menjaga keberlanjutan ekosistem dan lingkungan wilayah pesisir.
I.3 Tujuan Penulisan
II. KAJIAN TEORI II.1 Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir merupakan zona penting karena pada dasarnya tersusun dari berbagai macam ekosistem seperti mangrove, terumbu karang, lamun, pantai berpasir dan lainnya yang satu sama lain saling terkait (Masalu, 2008). Perubahan atau kerusakan yang menimpa suatu ekosistem akan menimpa pula ekosistem lainnya. Selain itu wilayah pesisir juga dipengaruhi oleh berbagai macam kegiatan manusia baik langsung atau tidak langsung maupun proses-proses alamiah yang terdapat diatas lahan maupun lautan (Djau, 2012).
Scura et al. (1992) dalam Cicin-Sain and Knecht (1998), mengemukakan bahwa wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, yang didalamnya terdapat hubungan yang erat antara aktivitas manusia dengan lingkungan daratan dan lingkungan laut. Wilayah pesisir mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Memiliki habitat dan ekosistem (seperti estuari, terumbu karang, padang lamun) yang dapat menyediakan suatu (seperti ikan, minyak bumi, mineral) dan jasa (seperti bentuk perlindungan alam dan badai, arus pasang surut, rekreasi) untuk masyarakat pesisir.
2. Dicirikan dengan persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya dan ruang oleh berbagai stakeholders, sehingga sering terjadi konflik yang berdampak pada menurunnya fungsi sumberdaya.
3. Menyediakan sumberdaya ekonomi nasional dari wilayah pesisir dimana dapat menghasilkan GNP (gross national product) dari kegiatan seperti pengembangan perkapalan, perminyakan dan gas, pariwisata dan pesisir dan lain-lain.
4. Biasanya memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan merupakan wilayah urbanisasi. Wilayah pesisir dan lautan, ditinjau dari bebagai macam peruntukannya, merupakan wilayah yang sangat produktif.
Produktivitas primer di wilayah pesisir, seperti pada ekosistem estuari, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, ada yang mecapai lebih dari 10.000 gr C/m2/th, yaitu sekitar 100-200 kali lebih besar di bandingkan dengan produktivitas primer yang ada di perairan laut bebas (lepas pantai). Tingginya produktivitas primer pada ekosistem di wilayah pesisir memungkinkan tingginya produktivitas sekunder (ikan dan hewan-hewan laut lainnya) (Supriharyono, 2002). II.2 Perencanaan Wilayah
Menurut Friedmann & Weaver (1979:129) perencanaan wilayah hampir merupakan suatu upaya dalam membuat suatu formula bagipusat-pusat pertumbuhan dengan mengabaikan dimensi-dimensi lain darikebijakan wilayah. Wilayah atau teritorial kebijakan-kebijakan khusus menjadi latar belakang diskusi akademik. Sebagai kesimpulan dalam perencanaan wilayah perhatian tidak hanya diberikan sebatas pada sumberdaya alam, impelementasi politik dan organisasi administrasi bagi pembangunan pedesaan.
Definisi perencanaan wilayah yang lebih komprehensif dan mungkin dengan orientasi yang berbeda diberikan oleh Profesor Kosta Mihailovic dalam Faridad (1981:87), yang menyebutkan pembangunan wilayah diartikan sebagai perubahan sosial ekonomi dalam berbagai tipe wilayah, hubungan interregional yang dinamis dan faktor-faktor relevan yang memiliki keterkaitan dengan tujuan dan hasil dari pembangunan. Definisi ini menurut Faridad memiliki kelemahan kurang detail penjelasan secara ilmiah dan terlalu luas serta tidak menyentuh faktor- faktor yang relevan dalam pembangunan.
II.3 Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan menurut arti secara bahasa adalah proses, cara, perbuatan membuat berdaya, yaitu kemampuan untuk melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak yang berupa akal, ikhtiar atau upaya (Depdiknas, 2003). Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 2009). Dalam beberapa kajian mengenai pembangunan komunitas, pemberdayaan masyarakat sering dimaknai sebagai upaya untuk memberikan kekuasaan agar suara mereka didengar guna memberikan kontribusi kepada perencanaan dan keputusan yang mempengaruhi komunitasnya (Foy, 1994). Pemberdayaan adalah proses transisi dari keadaan ketidakberdayaan ke keadaan kontrol relatif atas kehidupan seseorang, takdir, dan lingkungan (sadan,1997).
Menurut Mubarak (2010) pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai upaya untuk memulihkan atau meningkatkan kemampuan suatu komunitas untuk mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak-hak dan tanggung jawabnya selaku anggota masyarakat.
Pada Pemberdayaan pendekatan proses lebih memungkinkan pelaksanaan pembangunan yang memanusiakan manusia. Dalam pandangan ini pelibatan masyarakat dalam pembangunan lebih mengarah kepada bentuk partisipasi, bukan dalam bentuk mobilisasi. Partisipasi masyarakat dalam perumusan program membuat masyarakat tidak semata-mata berkedudukan sebagai konsumen program, tetapi juga sebagai produsen karena telah ikut serta terlibat dalam proses pembuatan dan perumusannya, sehingga masyarakat merasa ikut memiliki program tersebut dan mempunyai tanggung jawab bagi keberhasilannya serta memiliki motivasi yang lebih bagi partisipasi pada tahaptahap berikutnya (Soetomo, 2006).
II.4 Pengelolaan Pesisir Berbasis Masyarakat
Pengelolaan berbasisi masyarakat dapat diartikan sebagai suatu system pengelolaansumber daya alam disuatu tempat dimanamasyarakat lokal ditempat tersebut terlibatsecara aktif dalam proses pengelolaan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya (Nurmalasari,2001). Di Indonesia pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat sebenarnya telah ditetapkan dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negaradan dipergunakan sebesar-besarnya bagikemakmuran rakyat. Ketentuan tersebut secarategas menginginkan agar pelaksanaanpenguasaan Negara atas sumber daya alamkhususnya sumber daya pesisir dan lautandiarahkan kepada tercapainya manfaat yangsebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyatbanyak, dan juga harus mampu mewujudkankeadilan dan pemerataan sekaligusmemperbaiki kehidupan masyarakat pesisirserta memajukan desa-desa pantai.
Pengelolaan sumberdaya alam dapat didekati dengan dua pendekatan yaitu pendekatan berbasis masyarakat dan pendekatan berbasis pemerintah. Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan yang berbasis pemerintah (pemerintah pusat), selama ini dianggap kurang berhasil karena banyak menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat khususnya di daerah. Kondisi ini tentunya diharapkan dapat diperbaiki baik oleh pemerintah maupun masyarakat di daerah terutama setelah adanya kewenangan pengelolaan melalui UU No.22 tahun 1999.
Memberikan tanggungjawab kepada masyarakat dalam mengelola sumberdaya pesisir adalah upaya untuk mendekatkan masyarakat dengan sumberdaya yang dimanfaatkannya bagi kelangsungan hidup mereka sehari-hari. Hal inilah yang sebenarnya merupakan substansi dari pelaksanaan otonomi daerah yang sering didengung-dengungkan. Tapia apa yang terjadi selama ini, justeru masyarakatlah yang dijauhkan dari sumberdayanya.Masyarakat dalam definisi PSPBM adalah komunitas atau sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Istilah komunitas sendiri berasal dari bidang ilmu ekologi yang secara sederhana merujuk pada kondisi saling berinteraksi antara individu suatu populasi yang hidup di lokasi tertentu. Interaksi antara individu dalam suatu masyarakat pada dasarnya bersifat kompetitif. Meskipun kerjasama merupakan sifat interaksi antara masyarakat juga dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir, namun hal ini lebih banyak terekspresi dalam bentuk saling berkompetisi. Saling berkompetisi dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir adalah salah satu alasan terjadinya kegagalan pengelolaan wilayah pesisir. Hal ini ditunjukkan dengan rusaknya sumberdaya dimaksud serta terjadinya kemiskinan. Namun demikian, interaksi antar masyarakat dapat dipandang juga sebagai potensi yang dapat dikembangkan untuk merumuskan suatu mekanisme pengelolaan sumberdaya pesisir yang efektif.
III. PEMBAHASAN III.1 Deskripsi Proyek
Proyek ini dilakukan di empat kabupaten dan satu kota, meliputi Bengkalis di Provinsi Riau, Kota Tegal di Jawa Tengah, Trenggalek di Jawa Timur, Banyuwangi di Jawa Timur, dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat. Lingkup proyek mencakup kegiatan untuk (i) mempromosikan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat (Community-based Coastal Fisheries Resource Management/CFRM); (ii) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat pesisir melalui pemberian kesempatan dan fasilitas prasarana sosial yang tepat; (iii) merehabilitasi fasilitas di pusat pendaratan ikan (Fish Landing Centers/FLC) untuk memperbaiki sanitasi, lingkungan, dan kualitas ikan; dan (iv) memperkuat kemampuan pengelolaan sumber daya perikanan masyarakat pesisir, organisasi nonpemerintah, dan badan-badan nasional dan kabupaten (Asian Development Bank., 1997).
Gambar III-1. Persebaran area proyek Coastal Community Development and Fisheries Resources Management
Proyek kerjasama ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Indonesia (1993/94 1998/99) dan dirancang untuk menangani dua masalah utama yang dihadapi perikanan dan sumber daya perikanan Indonesia, yaitu menipisnya sumber daya perikanan pesisir, dan meluasnya kemiskinan masyarakat pesisir. Kedua masalah ini saling berkaitan dan rancangan proyek ADB ini sesuai dengan kebutuhan untuk mengatasi secara bersamaan memutus lingkaran setan dari degradasi lingkungan dan kemiskinan.
Desain pelaksanaan kegiatan adalah berbasis masyarakat dalam rencana pengelolaan sumber daya pesisir dalam(i) mendirikan tempat-tempat perlindungan perikanan dan kawasan lindung laut; (ii) merehabilitasi habitat ikan, termasuk rehabilitasi dan penanaman kembali kawasan mangrove; (iii) menciptakan terumbu buatan dan restocking ikan; dan (iv) mengurangi penangkapan berlebih dan penggunaan metode destruktif melalui sistem surveillance perikanan berbasis masyarakat. Keberhasilan program ini harus didukung dengan pemberdayaan organisasi masyarakat, sehingga langkah awal untuk memulai program adalah dengan persiapan sosial masyarakat.
III. PEMBAHASAN
III.1 Deskripsi Proyek
Proyek ini dilakukan di empat kabupaten dan satu kota, meliputi Bengkalis di Provinsi Riau, Kota Tegal di Jawa Tengah, Trenggalek di Jawa Timur, Banyuwangi di Jawa Timur, dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat. Lingkup proyek mencakup kegiatan untuk (i) mempromosikan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat (Community-based Coastal Fisheries Resource Management/CFRM); (ii) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat pesisir melalui pemberian kesempatan dan fasilitas prasarana sosial yang tepat; (iii) merehabilitasi fasilitas di pusat pendaratan ikan (Fish Landing Centers/FLC) untuk memperbaiki sanitasi, lingkungan, dan kualitas ikan; dan (iv) memperkuat kemampuan pengelolaan sumber daya perikanan masyarakat pesisir, organisasi nonpemerintah, dan badan-badan nasional dan kabupaten (Asian Development Bank., 1997).
Gambar III-1. Persebaran area proyek Coastal Community Development and Fisheries Resources Management
Proyek kerjasama ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Indonesia (1993/94 1998/99) dan dirancang untuk menangani dua masalah utama yang dihadapi perikanan dan sumber daya perikanan Indonesia, yaitu menipisnya sumber daya perikanan pesisir, dan meluasnya kemiskinan masyarakat pesisir. Kedua masalah ini saling berkaitan dan rancangan proyek ADB ini sesuai dengan kebutuhan untuk mengatasi secara bersamaan memutus lingkaran setan dari degradasi lingkungan dan kemiskinan.
Desain pelaksanaan kegiatan adalah berbasis masyarakat dalam rencana pengelolaan sumber daya pesisir dalam(i) mendirikan tempat-tempat perlindungan perikanan dan kawasan lindung laut; (ii) merehabilitasi habitat ikan, termasuk rehabilitasi dan penanaman kembali kawasan mangrove; (iii) menciptakan terumbu buatan dan restocking ikan; dan (iv) mengurangi penangkapan berlebih dan penggunaan metode destruktif melalui sistem surveillance perikanan berbasis masyarakat. Keberhasilan program ini harus didukung dengan pemberdayaan organisasi masyarakat, sehingga langkah awal untuk memulai program adalah dengan persiapan sosial masyarakat.
III. PEMBAHASAN
III.1 Deskripsi Proyek
Proyek ini dilakukan di empat kabupaten dan satu kota, meliputi Bengkalis di Provinsi Riau, Kota Tegal di Jawa Tengah, Trenggalek di Jawa Timur, Banyuwangi di Jawa Timur, dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat. Lingkup proyek mencakup kegiatan untuk (i) mempromosikan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat (Community-based Coastal Fisheries Resource Management/CFRM); (ii) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat pesisir melalui pemberian kesempatan dan fasilitas prasarana sosial yang tepat; (iii) merehabilitasi fasilitas di pusat pendaratan ikan (Fish Landing Centers/FLC) untuk memperbaiki sanitasi, lingkungan, dan kualitas ikan; dan (iv) memperkuat kemampuan pengelolaan sumber daya perikanan masyarakat pesisir, organisasi nonpemerintah, dan badan-badan nasional dan kabupaten (Asian Development Bank., 1997).
Gambar III-1. Persebaran area proyek Coastal Community Development and Fisheries Resources Management
Proyek kerjasama ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Indonesia (1993/94 1998/99) dan dirancang untuk menangani dua masalah utama yang dihadapi perikanan dan sumber daya perikanan Indonesia, yaitu menipisnya sumber daya perikanan pesisir, dan meluasnya kemiskinan masyarakat pesisir. Kedua masalah ini saling berkaitan dan rancangan proyek ADB ini sesuai dengan kebutuhan untuk mengatasi secara bersamaan memutus lingkaran setan dari degradasi lingkungan dan kemiskinan.
III.2 Implementasi Proyek Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Berikut adalah implementasi kegiatan proyekpengelolaan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan ADB :
Tabel III-1. Tabel hasil pengembangan wilayah pesisir berbasis masyarakat
Ringkasan Target Evaluasi
Melakukan pendataan untuk lokasi sumber daya perikanan dan penilaian tingkat sosial ekonomi
Melakukan penilaian di area total allowable catch (TAC) pada lokasi project
Menghasilkan 4 area, yaitu REA I, REA II , SEA I, SEA II, dan TAC pada project.
REA = resource and ecological assessment
SEA =socio-economic assessment TAC =total allowable catch
Penerapan kegiatan konservasi untuk sumber daya perikanan dan habitat terkait
Mendirikan 4 kawasan lindungan laut, 25 terumbu buatan, melindungi 50 Ha Lombok Timur, 21 cluster terumbu karang buatan terdiri dari 2486 Ha, 10 lokasi perlindungan ikan seluas 453 Ha, luas hutan mangrove baru ikan pesisir dipantau dan diatur, sistem perizinan dan sebesar 80% di lingkungan pemerintahan, dan 70% di lingkungan masyarakat.
Tabel III-2. Tabel hasil peningkatan pendapatan dan perbaikan taraf hidup masyarakat pesisir
100 asosiasi nelayan dan koperasi terbentuk serta diperkuat
Terbentuknya 309 Kelompok Usaha Bersama, dan 18 Lembaga
100 asosiasi nelayan, dan koperasi penerima leyanan teknis, kredit, pemasaran, dan pelayanan sosial
Terbentuknya 309 Kelompok Usaha Bersama, dan 18 Lembaga Keuangan Masyarakat Pantai, dilengkapi dengan fasilitas teknis, produksi, peralatan, akses terhadap kredit dan pemasaran.
Mendirikan usaha mikro Meningkatnya penghasilan
5.000 rumah tangga nelayan 4.623 rumah tangga masyarakatdilatih dan diberi peralatan, dan akses terhadap kredit dan pemasaran. Pendapatan meningkat antara 50% - 67%.
Memperbaiki fasilitas
prasarana sosial dasar 35 desa nelayan telahmemperbaiki layanan infrastruktur sosial dasar
Membangun dan merahabilitasi fasilitas prasarana sosial dasar di 34 kampung nelayan pesisir.
Tabel III-3. Tabel hasil rehabilitasi fasilitas pangkalan pendarata ikan dan peningkatan kualitas produksi ikan
Ringkasan Target Evaluasi
Perbaikan lingkungan
pangkalan pendaratan ikan Rehabilitasi dan pengelolaan 6pangkalan pendaratan ikan Perbaikan terhadap 12 titikpangkalan pendaratan ikan Pemasangan instalasi air
bersih Pembangunan pembuangan air bersih,sistem drainase, dan pembuangan
penanganan ikan Penyimpanan penanganan ikan yang efisien diikan dan 4 lokasi
Penyimpanan ikan dan penanganan ikan yang efisien di 5 lokasi
Membangun dan
merehabilitasibreakwater dibangun di satu pusatStruktur pemecah gelombang pendaratan ikan
Struktur pemecah gelombang dibangun di Tegal dan Trenggalek
Peningkatan kualitas
produksi Mereduksi kerugian produksiikan sebesar 40% Kerugian produksi ikan diTrenggalek, Banyuwangi dan Bengkalis berkurang antara 5% dan 75%
Meningkatkan nilai produk
Tabel III-4. Tabel hasil penguatan kemampuan masyarakat pesisir, komunitas masyarakat, dan instansi pemerintah yang bersangkutan
Ringkasan Target Evaluasi
Memperkuat dan memperbaiki sistem informasi dan jaringan perikanan nasional perikanan, GIS, dan monitoring, control, and surveillance(MCS) c.
a. Peralatan GIS dipasang di lima Dinas Perikanan Provinsi dan lima Dinas Perikanan Kabupaten di lima lokasi project.
b. 89 staf dilatih GIS, dan 281 staf dilatih MCS.
Memberikan bantuan teknis, pelatihan peralatan untuk implementasi project
Bantuan teknis untuk
mendukung program utama Bantuan teknis untuk mendukungprogram utama
Mendirikan sistem manajemen
proyek Sistem mendukung disediakan kegiatanuntuk pengelolaan proyek
Sistem manajemen proyek yang efektif didirikan dan berfungsi di lima lokasi proyek staf instansi pemerintahan; 10 organisasi masyarakat; dan 35 komunitas
Pelatihan untuk :
a. 1983 staf di lingkungan Direktorat Perikanan dan dinas perikanan provinsi dan kabupaten b. 41 staf dari LSM
c. 43 staf dari lembaga perikanan mendapat penddikan pascasarjana di Thailand dan Bogor.
III.3 Implementasi Studi Kasus Lombok Timur
Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat satu lokasi program Coastal Community Development and Fisheries Resources Management Project (Co-fish)yaitu pengelolaan sumberdaya laut yang dilakukan dengan pendekatan co-management dengan melibatkan berbagai stakeholder, yang dihimpun dalam satu kelembagaan yang disebut KKPK (Komite Kelautan Perikanan Kabupaten) untuk tingkat kabupaten dan KPPL (Komite Pengelolaan Perikanan Laut) di tingkat kawasan dan desa. Selain itu, di daerah ini sebelum dijadikan lokasi Co-Fish, merupakan daerah yang telah menerapkan community based-management. Melalui proyek ini, maka pengelolaan sumberdaya laut dilakukan oleh suatu kelompok yang dibentuk pemerintah yaitu KPPL (Komite Pengelolaan Perikanan Laut) di Lombok Timur-Nusa Tenggara Barat, yang anggotanya terdiri dari para stakeholder.
III.3.1 Stakeholder yang terlibat dalam program Co-Fish Lombok Timur
kabupaten dan provinsi hingga tingkat pusat (Departemen Kelautan danPerikanan). III.3.2 Tenaga Pendamping Co-Fish di Lombok Timur
Dalam hampir seluruh kegiatan Co-fish juga didukung oleh tenaga pendamping, baik dari tim proyek(Bagian proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan/BP2MP2SP) maupun dari LSM dan perguruan tinggi (Fakultas Perikanan Universitas Gunung Rinjani, Universitas 45 Mataram). LSM yang dilibatkan dalam kegiatan Co-fish di Kabupaten Lombok Timur antara lain Yayasan Laut Biru di Mataram, Yayasan Sumberdaya Dan Lingkungan Untuk Pelestarian Pembangunan (YSLPP) di LombokBarat, dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya (LP2SD)diLombokTimur(Selong).
III.3.3 Kegiatan Pengelolaan Co-Fish di Lombok Timur
Kegiatan pengelolaan sumberdaya laut yang telah dilakukan dalam proyek Co-fish di Kabupaten Lombok Timur terdiri dari 4 (empat) paket kegiatan yaitu:
1. Kegiatan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, meliputi:
• kampanye aneka ragam hayati perikanan melalui berbagai media; • mengembangkan kawasan suaka;
• pengamanan kawasan perikanan;
• mereklamasi mangrove dan terumbu karang;
• pelatihan pengawasan dan pengendalian berbasis patisipasi masyarakat; • pelatihan pengelolaan masyarakat;
• pelatihan pengelolaan sumberdaya ikan bagi KPPL (Komite Pengelolaan Perikanan Laut); • Komite Penasehat Perikanan Lokal (FLAC); dan
• pendampingan LSM untuk pengelolaan keanekaragaman hayati perikanan.
2. Perbaikan Lingkungan dan Pusat Pendaratan Ikan (Enviromental Improvement and Fish Landing Centres/IFLC)
3. Pengembangan Usaha Ekonomi
Termasuk dalam komponen pengembangan masyarakat dan pengentasan Kemiskinan (community Develoment & poverty reduction/CDPR). Kegiatanya meliputi:
• pengembangan budidaya perikanan • Pelatihan kelompok usaha dan budidaya • Kredit dan usaha mikro
• pelatihan keterampilan perbaikan kapal • Pendampingan KUB dalam mengelola usaha
4. Penguatan Kelembagaan (InstitutionalStrengthening/IS)
5. Terdiri dari berbagai kegiatan untuk meningkatkan kemampuan institusi internal dan eksternal (KPPL, KUB, LKMP dan sejenisnya)
III.3.4 Kegiatan Pengelolaan
Kegiatan pengelolaan yang dilakukan bermacam-macam, antara lain berupa pengelolaan wilayah dan sumberdaya seperti suaka perikanan, kawasan onservasi laut, rehabilitasi hutan mangrove dan terumbu karang, pengembangan silvofisheries yang semua ini termasuk dalam kegiatan keanekaragaman hayati. Selain itu juga pelatihan-pelatihan dan pemberian pinjaman dana bergulir untuk modal usaha bagi kelompok usaha bersama (KUB), serta pelatihan-pelatihan kepada KPPL dalam kegiatan penguatan kelembagaan.
A. Keanekaragaman Hayati Perikanan
B. Perbaikan Lingkungan dan Pusat Pendaratan Ikan
a. Membangun, memperluas dan merehabilitasi kapasitas pendaratan dan pemasaran ikan b. Menambah suplai air bersih untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan higienis pengolahan
ikan
c. Menambah kapasitas docking kapan ikan
d. Membangun rumah permanen untuk karyawan TPI dan rumah singgah nelayan e. Membangun fasilitas pendukung kegiatan perikanan dan sosial
C. Pengembangan Usaha Ekonomi
a. Pemberian pelatihan keterampilan usaha (manajerial dan penguasaan teknologi) juga pemberian kemudahan akses modal, informasi pasar untuk memudahkan pemasaran hasil, kepada KUB yang telah terbentuk.
b. Pelatihan penguasaan teknologi yang diberikan kepada KUB antara lain teknik diberikan kepada KUB antara lain teknik lobster, rumput laut, kepiting bakau, teknik penangkapan dan pengolahan (pemindangan ikan dan pembuatan terasi udang secara higienis)
c. LKMP (Lembaga Keuangan Masyarakat Pantai), yaitu pelatihan mengenai pengelolaan keuangan. Pelatihan ini diberikan agar pengurus/pengelola LKMP lebih profesional, serta ada keseragaman administrasi antara LKMP-LKMP yang tersebar di wilayah binaanCo-fish sehingga memudahkan dalam mengevaluasi, monitoring dan auditing.
d. memberikan bantuan modal usaha berupa pinjaman dana bergulir untuk usaha budidaya ikan kerapu dengan teknik Keramba Jaring Apung (KJA) yang diberikan dalam bentuk barang (peralatan/keramba, benih dan pakan).
D. Penguatan Kelembagaan
Terbentuk lembaga masyarakat yang disebut KPPL, yaitu Komite Pengelolaan Perikanan Laut di tingkat desa. Keberadaan KPPL Kawasan yang anggotanya adalah warga masyarakat yang terkait (stakeholder) dari beberapa desa disekitar kawasan, Menambah suplai air bersih untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan higienis pengolahan ikan. Mengenai komite pengelolaan perikanan laut ini, selain ditingkat desa juga dibentuk pada tingkat kabupaten, yang disebut KKPK ( Komite Kelautan Perikanan Kabupaten). Dalam upaya peningkatan pengetahuan masyarakat yang terwakili oleh KUB, KPPL pengenalan bahan pengelolaan perikanan, pengenalan bahan sumberdaya laut, sistem MCS (Monitoring, Control and Surveilace), Co-fish telah memfasilitasi pembentukan kelompok usaha bersama (KUB) bagi rumah tangga perikanan (RTP), termasuk KUB untuk wanita nelayan. dan KPPK diberikan pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya perikanan laut. Materi pelatihan antara lain aspek hukum pengelolaan perikanan. III.3.5 Aturan Pengelolaan
III.4 Analisis dan Pembahasan III.4.1 Analisis dan Evaluasi Proyek
Proyek ini merupakan proyek pengelolaan sumber daya pesisir pertama di Indonesia yang memperkenalkan konsep partisipasi masyarakat berkolaborasi denganpara pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya, termasuk untuk kegiatan pemantauan dan pengawasannya. Organisasi masyarakat menjadi motor penggerak utama dalam keberhasilan proyek, sehingga persiapan sosial dan peningkatan kapasitas masyarakat menjadi langkah awal dalam pelaksanaan proyek. Edukasi terhadap kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya harus secara rutin diberikan , dan juga perlu adanya dukungan dari pemerintah daerah setempat
Secara keseluruhan proyek kegiatan yang telah dilaksanakan ini dinilai sangat relevan , pada saat perencanaan dan implementasi dilapangan. Proyek ini dirancang untuk mengatasi semakin menipisnya sumber daya perikanan pesisir dan kemiskinan yang semakin meluas sehingga menimbulkan kerugian pada level sosial masyarakat. Masalah masalah ini saling berkaitan dan harus ditangani secara bersamaan untuk memutus lingkaran setan dari degradasi lingkungan dan kemiskiman.
Dari hasil implementasi program menemukan bahwa pendekatan secara terpadu dan partisipatif, serta pelibatan kelembagaan pengelolaan konservasi dan pengelolaan pesisir menjadi penentu dalam kesuksesan pelaksanaan proyek. Strategi untuk mengurangi tingkat kemiskinan di wilayah proyek sudah sesuai, yaitu dengan menggabungkan:
a) strategi jangka pendek berupa pelatihan yang diberikan kepada masyarakat pesisir untuk mencari alternatif dalam pengolahan sumber daya laut, sehingga masyarakat pesisir tidak akan cepat menghabiskan sumber daya perikanan; dan
b) strategi jangka panjang berupa rehabilitasi yang telah dilaksanakan untuk kawasan mangrove, terumbu karang, dan edukasi terhadap pencegahan praktik penangkapan ikan secara merusak.
Proyek kerjasama ini dinilai telah memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan adanya kegiatan pengelolaan sumber daya, rehabilitasi, pengawasan, dan pemantauan yang diberikan kepada masyarakat pesisir. Proyek ini telah berhasil menunjukkan dampak positif seperti:
a) mengurangi kegiatan penangkapan ikan yang merusak; b) meningkatnya tutupan hutan mangrove;
c) peningkatan karang hidup dan terumbu buatan, tempat perlindungan ikan, dan pangkalan pendaratan ikan;
d) peningkatan tingkat tangkapan ikan dan jumlah spesies ikan yang tertangkap; dan
e) memperbaiki sanitasi dan kebersihan di pangkalan pendaratan ikan.Proyek ini juga telah berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat pesisir untuk melindungi sumber daya mereka sendiri melalui pengelolaan sumber daya pesisir yang baik, pemantauan dan pengawasan terhadap sumber daya perikanan, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk kegiatan mata pencaharian alternative dengan pemberian kemudahan akses kredit mikro.
III.4.2 Pembelajaran
IV. KESIMPULAN DAN SARAN IV.1 Kesimpulan
Secara keseluruhan proyek kegiatan yang telah dilaksanakan ini dinilai sangat relevan , pada saat perencanaan dan implementasi dilapangan. Dari hasil implementasi program menemukan bahwa pendekatan secara terpadu dan partisipatif, serta pelibatan kelembagaan pengelolaan konservasi dan pengelolaan pesisir menjadi penentu dalam kesuksesan pelaksanaan proyek. Strategi untuk mengurangi tingkat kemiskinan di wilayah proyek sudah sesuai. Proyek kerjasama ini dinilai telah memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan adanya kegiatan pengelolaan sumber daya, rehabilitasi, pengawasan, dan pemantauan yang diberikan kepada masyarakat pesisir. Proyek ini telah berhasil menunjukkan dampak positif seperti: mengurangi kegiatan penangkapan ikan yang merusak; meningkatnya tutupan hutan mangrove; peningkatan karang hidup dan terumbu buatan, tempat perlindungan ikan, dan pangkalan pendaratan ikan; peningkatan tingkat tangkapan ikan dan jumlah spesies ikan yang tertangkap; dan memperbaiki sanitasi dan kebersihan di pangkalan pendaratan ikan.Proyek ini juga telah berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat pesisir untuk melindungi sumber daya mereka sendiri melalui pengelolaan sumber daya pesisir yang baik, pemantauan dan pengawasan terhadap sumber daya perikanan, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk kegiatan mata pencaharian alternative dengan pemberian kemudahan akses kredit mikro.
IV.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA