• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMB (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMB (1)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1. Pembimbing I 2. Pembimbing II

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN KETERAMPILAN PROSES

SAINS SISWA PADA MATERI SEL DI SMA NEGERI 1 MALLUSETASI BARRU

Asmawati Azis1, Wistiani, Rachmawaty2 Pendidikan Biologi/1214041023

[email protected]

Abstract

The study aims to determine the effectiveness of guided inquiry learning in the cell material in SMA Negeri 1 Mallusetasi Barru. This pre-experimental study using pretest - posttest one group design involving MIA class XI student of SMAN 1 Mallusetasi Barru selected by purposive sampling. Research was conducted during 4 meetings for the provision of material and 2 meetings for evaluation (pre-test and post-test). Guided inquiry learning effectiveness seen with increased cognitive achievement and growth of science process skills of students. The data were analyzed by descriptive and inferential hypothesis testing using t-test analysis with a 0.05 significance level. The results showed: a). improvement of cognitive learning outcomes of students with an average n-gain of 0.72 and a significance value of 0:00 <α = 0:05; b). growing and increasing students' science process skills in the aspect of formulate problems, observing, hypothesizing, and making conclusions.

Keywords: guided inquiry, learning outcomes, science process skills.

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi sel di SMA Negeri 1 Mallusetasi Barru. Penelitian pra-eksperimen ini menggunakan one group pretest posttest design dengan melibatkan siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Mallusetasi Barru yang dipilih secara purposive sampling. Penelitian dilaksanakan selama 4 kali pertemuan untuk pemberian materi dan 2 kali pertemuan untuk evaluasi (pre-test dan post-test). Keefektifan pembelajaran inkuiri terbimbing dilihat dengan meningkatnya hasil belajar kognitif dan tumbuhnya keterampilan proses sains siswa. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan uji hipotesis secara inferensial menggunakan analisis uji-t dengan taraf signifikansi 0.05. Hasil penelitian menunjukkan: a). peningkatan hasil belajar kognitif siswa dengan rata-rata n-gain sebesar 0.72 dan nilai signifikansi sebesar 0.00 < α = 0.05; b). tumbuh dan meningkatnya keterampilan proses sains siswa pada aspek merumuskan masalah, mengamati, membuat hipotesis, dan membuat kesimpulan.

(2)

Pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam pendidikan yang bertujuan untuk membantu seseorang baik secara individu maupun kelom-pok dalam mengembangkan penget-ahuannya agar menjadi manusia yang cerdas dan terampil (Haling, 2007). Peraturan Pemerintah (2005) memberi gambaran bahwa pembelajaran pada satuan pendidikan hendaknya membe-rikan ruang untuk perkembangan siswa melalui proses pembelajaran yang aktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang.

Depdiknas (2003) merumuskan 7 ciri kegiatan pembelajaran yang efektif dapat memberdayakan potensi siswa yaitu pembe-lajaran yang bermakna, berpusat pada siswa, belajar dengan mengalami, mengembangkan keteram-pilan sosial, kognitif dan emosional, mengembangkan keingintahuan dan imajinasi, belajar sepanjang hayat, memadukan kemandirian dan kerja-sama. Kegiatan pembelajaran yang efektif tentunya sangat diharapkan guna mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Efektifnya pembelajaran tidak sebatas hanya melihat hasil evaluasi belajar siswa namun ada aspek lain yang perlu diperhatikan diantaranya keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah keteramplan proses sains pada aspek bertanya, mengamati, membuat hipotesis dan membuat kesimpulan. Salah satu pembelajaran yang mengarahkan terciptanya suasana kegiatan belajar yang dapat melatih keterampilan siswa adalah pembelajaran inkuiri.

Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, melibatkan siswa secara langsung dalam proses ilmiah (Trianto, 2007). Inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran se-bagai proses dalam menemukan infor-masi guna menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah, serta mema-hami fenomena alam melalui prosedur

yang sistematis. Lima komponen umum dalam pembelajaran inkuiri yaitu bertanya, keaktifan siswa, peni-laian kinerja, dan penggunaan sumber belajar yang beragam (Kaniawati, 2010).

Pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki langkah-langkah pembela-jaran yang dikemukakan oleh Hanson (2012) yaitu: orientasi kepada masa-lah (dilaksanakan untuk memunculkan ketertarikan siswa terhadap proses pembelajaran, memberikan motivasi, membangitkan keingintahuan siswa); eksplorasi pengetahuan (memberikan kesempatan pada siswa untuk mela-kukan observasi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, serta memba-ngun hipotesis berdasarkan permasa-lahan yang diajukan guru); memba-ngun konsep; mengaplikasikan penge-tahuan; dan penutup (mengarahkan siswa untuk mampu melaporkan hasil temuannya, merefleksi apa yang telah dipelajari, hingga mengonsolidasikan pengetahuannya).

METODE

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pra-ekspe-rimen. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil, yaitu pada bulan Juli sampai Agustus tahun ajaran 2016/2017. Desain penelitian yang yaitu one group pretest-postest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI SMA Negeri 1 Mallu-setasi, Barru. Terdiri atas tiga kelas yaitu XI MIA-1, XI MIA-2 dan XI MIA-3. Sampel dalam penelitian adalah kelas XI MIA-1 SMAN 1 Mallu-setasi yang dipilih dengan menggu-nakan teknik purposive sa mpling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tertulis dan lembar observasi keterampilan proses sains selama berlangsungnya pembe-lajaran. Tes tertulis berupa tes pilihan ganda dan esai dalam bentuk pretest-posttest. Data dianalisis dengan uji paired sampel t test.

HASIL

(3)

Tabel 1.1 Statistik deskriptif nilai hasil belajar biologi yang diajar dengan model Inkuiri Terbimbing materi sel kelas XI SMA Negeri 1 Malusetasi

Statistik Deskriptif

Hasil Belajar

Pretest Posttest

Jumlah Sampel (N) 20 20

Nilai Terendah 8 60.20

Nilai Tertinggi 20 81.30

Rata-Rata 10.30 74.40

Rentang 12.00 21.10

Standar Deviasi 2.62 6.32

Median 10 73.70

Modus 10 81.30

Tabel 1.2 Rata-rata gain ternormalisasi hasil belajar biologi yang diajar dengan model Inkuiri Terbimbing materi sel kelas XI SMA Negeri 1 Malusetasi

Jumlah Siswa

Rata-rata Nilai Ujian

Rata-rata

N-Gain Kategori Pretest Postest

20 10.30 74.40 0.72 Tinggi

Tabel 1.3 Hasil perhitungan jumlah skor dan persentase keterampilan proses sains siswa saat proses pembelajaran menggunakan model Inkuiri Terbimbing materi sel kelas XI MIA 1 SMA Negeri 1 Malusetasi

Keterampilan Proses Sains

Skor Keterampilan Proses Sains Tiap

Pertemuan

Jumlah Skor KPS

Persentase

KPS Kategori I II III IV

Merumuskan

masalah 20 34 36 36 126 78.7 Tinggi

Mengamati 24 32 32 38 126 78.7 Tinggi

Membuat

hipotesis - 19 26 - 22.5 56.2 Sedang

Membuat

kesimpulan 19 30 34 36 119 74.5 Sedang

Berdasarkan data hasil analisis maka dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pada pretest adalah 10.30 dan pada postest adalah 74.40, sehingga, rata-rata Gain adalah 0.72. Dari nilai

(4)

H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil statistik uji-t diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.00. Nilai signifikansi 0.00 < α = 0.05, berarti H0 ditolak dan H1 diterima.

Hasil observasi keterampilan proses sains menunjukkan tumbuh dan meningkatnya KPS siswa pada tiap pertemuan dengan rata-rata persentase yang dicapai sebesar 78.7% pada aspek merumuskan masalah, 78.7% untuk aspek mengamati, 56.2% pada aspek membuat hipotesis dan 74.5% pada aspek membuat kesimpulan.

PEMBAHASAN

Inkuiri terbimbing merupakan salah satu pembelajaran yang menun-tut siswa melakukan penyelidikan terhadap suatu masalah agar dapat menemukan informasi penting dari masalah yang disajikan. Penyelidikan dapat dilakukan melalui eksperimen maupun dengan mengamati objek secara langsung atau menggunakan gambar, video animasi, wacana/artikel. Proses penyelidikan akan membuat siswa aktif dalam mencari informasi yang dibutuhkan, sehingga pembela-jaran akan menjadi efektif.

Melalui teknik analisis statistik inferensial dengan menggunakan program SPSS 20.0 diperoleh nilai sig. (2-tailed) 0,00 < α 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan nilai signifikansi tersebut, dapat dikatakan bahwa ada perbedaan hasil belajar biologi siswa sebelum diberi perlakuan (pretest) dan sesudah diberi perlakuan (posttest) yang diajar dengan menggunakan model inkuiri terbimbing. Dilihat dari kategori hasil belajar siswa setelah diberi perlakuan, terdapat 8 orang mencapai kategori hasil belajar sangat baik atau 40% dari keseluruhan siswa dan 10 orang dengan kategori hasil belajar baik atau 50% dari keseluruhan siswa. Hal tersebut karena dalam pembelajaran inkuiri terbimbing siswa diberikan kesempatan untuk mencari dan mengolah sendiri pengetahuan mereka, sehingga pengetahuan yang mereka temukan menjadi lebih bermakna. Sebagaimana yang dijelaskan Tangkas (2012) dalam penelitiannya bahwa pembelajaran dengan inkuiri

terbim-bing memberi kesempatan kepada siswa berdiskusi, mengemukakan gagasan lama atau baru untuk membangun pengetahuan-pengetahuan dalam pikirannya. Adapun 2 orang atau 10% dari keseluruhan siswa dengan kategori hasil belajar masih cukup. 10% tersebut memiliki nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sekolah yaitu 64.6 dan 60.2. Penyebab dari hal tersebut karena siswa yang bersangkutan tidak memperhatikan pembelajaran dengan baik.

Penyajian masalah di awal pembelajaran bertujuan untuk menarik perhatian dan rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran. Siswa akan lebih antusias dan lebih aktif dalam melakukan penyelidikan informasi guna menjawab rasa ingin tahunya terhadap masalah yang disajikan. Misalnya pada pertemuan pertama, siswa diberikan masalah “jika suatu sel dipapar dengan senyawa seperti narkoba dalam waktu lama, apakah akan mengganggu aktivitas di dalam sel? Mengapa?”. Dari masalah tersebut, siswa berusaha mencari jawaban sendiri dengan mengamati setiap peristiwa pada video animasi “struktur, fungsi dan bioproses” di dalam sel yang ditayangkan. Hasil pengamatan siswa pada video animasi dicocokkan dengan konsep atau informasi-informasi yang ada di buku. Selanjutnya siswa mengolah sendiri informasi yang mereka temukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disediakan di LKPD seperti “setujukah kamu jika mikroorganisme Parakaryon myojine-nsis digolongkan sebagai mikroor-ganisme prokaryotik karena memiliki nukleoid? berdasarkan video/gambar yang kamu amati, bagaimana membe-dakan difusi sederhana dan difusi difasilitasi? Apakah yang membe-dakan antara transpor aktif dan trans-por pasif?.

(5)

menggunakan rumus n-gain, terjadi peningkatan pada hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) dan setelah perla-kuan (postest) sebesar 0.72 yang berada dalam kategori tinggi. Seba-gaimana yang diungkapkan oleh Nurhayati (2011), pembelajaran inkuiri merupakan proses dimana siswa menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilannya yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki serangkaian fakta, berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah atau menja-wab pertanyaan.

Berdasarkan data lembar observasi keterampilan proses sains yang diperoleh menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa kelas XI MIA 1 SMA Negeri 1 Malusetasi dapat tumbuh dan ditingkatkan dengan menerapkan model inkuiri terbimbing dalam pembelajaran. Dilihat dari presentase rata-rata keterampilan proses sains siswa pada empat pertemuan untuk aspek merumuskan masalah berada pada kategori tinggi yaitu 78.7%, aspek mengamati berada pada kategori tinggi yaitu 78.7%, aspek membuat hipotesis berada pada kategori sedang yaitu 56.2%, dan aspek membuat kesimpulan berada pada kategori sedang yaitu 70.7%. Hal ini sejalan dengan laporan Pandilla bahwa keterampilan proses terintegrasi lebih sulit dibandingkan keterampilan proses dasar. Dari semua kelompok yang diamati oleh Pandilla dalam Lotti (2003), hanya keterampilan proses dasar yang mencapai 50%.

Hasil observasi keterampilan proses sains menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga keterampilan siswa dapat berkembang. Berdasarkan study yang dilakukan Crawley dalam Lintuan et al. (2005), bahwa aktivitas penyelidikan berbasis laboratorium akan diikuti oleh berkembangnya aktivitas siswa. Dengan mengalami pembelajaran inkuiri siswa menda-patkan pengetahuan yang nyata. Emereole (2008), juga mengung-kapkan gagasan dari hasil penelitian di Bostwana bahwa pengetahuan kerja praktek harus membantu siswa mema-hami konsep sains yang mendasari keterampilan proses. Siswa tidak ha-nya belajar keterampilan

proses dasar yang dianggap penting tetapi pembe-lajaran harus seimbang untuk keteram-pilan proses terintegrasi sehingga menekankan pada pembelajaran kerja praktek melalui inkuiri.

KESIMPULAN

1. Pembelajaran inkuiri terbimbing efektif meningkatkan hasil belajar kognitif yang dilihat dari nilai n-gain berada pada kategori tinggi, nilai signifikansi sebesar 0.00 < α = 0.05, dan ketuntasan belajar kelas mencapai 90%.

2. Pembelajaran inkuiri terbimbing efektif menumbuhkan keteram-pilan proses sains siswa pada aspek merumuskan masalah, mengamati dan membuat kesimpulan yang dilihat dari kategori rata-rata per-sentase KPS dan ketuntasan belajar kelas berturut-turut mencapai 85%, 80% dan 80%, sedangkan aspek membuat hipotesis hanya menca-pai 50%.

SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan untuk merefleksi hasil penelitian sehingga dapat memperbaiki pembelajaran selanjutnya. Lebih mengontrol aktivi-tas siswa, lebih tegas terhadap siswa agar pembelajaran lebih efektif dan apa yang diharapkan dapat tercapai.

DAFTAR RUJUKAN

Adnan. 2014. Teori Belajar Kons-truktivisme. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Ambasari, Wiwin., Santosa, Slamet., Maridi.

2013. The Application of Guided Inquiry Approach to Basic Science Process Skills of Students in Grade VIII Junior High School 7 Surakarta. Jurnal Pendidikan Biologi. Vol. 5, No. 1 Hal. 81-95. FKIP UNS.

Amelia, Riska Ayu. 2013. Pengaruh Model CIRC (Cooperatif In-tegrited Reading and Compo-sition) terhadap Efektivitas Pembelajaran Seni Tari pada Siswa Kelas VII SMP Yas Bandung.

(6)

Materi Sistem Gerak. Makassar: Skripsi UNM.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasa r-Dasa r Evaluasi Pendidikan edisi Kedua. Jakarta: Bumi aksara.

Barbara, et al. 2012. Guided Inquiry Design: A Framework for Inquiry in Your School. The Journal of the New Members Round Table. Vol. 4/NO. 1. Rutgers University of Cali-fornia.

Carnesi, Sabrina and Digiorgio, Karen. 2009. Teaching the Inquiry Process to 21st Century Learners. Virginia: Library Media Connection.

Depdiknas. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Depdiknas. 2004. Model-Model Pembelajaran Matematika pada Diklat Instruktur / Pengembang Matematika Smp. Jakarta: Depdiknas.

Diknas dan Depag RI. 2009. Pandua n untuk Peningkatan Proses Belajar Mengajar. Jakarta: JICA.

Ditjen PMPTK. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemili-hannya. Ditjen PMPTK. Dorathy et al. 2014. Relative Effect of Two

Forms of Pedagogy on Secondary School Students Performance in Ecology Con-cepts in Rivers State. Inter-national Journal of Education and Research. Vol. 2/NO. 10. UDSS Nigeria.

Emereole, Hezekiah Ukegbu. 2008. Learners’ and Teachers’ Concep-tual Knowledge of Science Processes : the Case of Bots-wana. International Journal of Science and Mathematics Edu-cation. Vol. 7. Taiwan. Gulacar, Ozcan., Sinan, Olcay., Bowman, R.

Charles. 2014. Exploring the Changes in Student’ Understanding of the Scientific Method Using Word Associations. Res Science Education. Media Dordrecht. Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran.

Makassar: Badan Penerbit UNM.

Kaniawati, Ida. 2010. Diklat Peningkatan Kompetensi Penga-was dalam Rangka Penjaminan Mutu Pendidikan. UPI.

Kenneth, et al. 2013. A Study on the Effect of Guided Inquiry Tea-ching Method on Student Achievement in Logic. Inter-national Researcher. Vol. 2/NO. 1. Gambia.

Kurniati, Desi., Masykuri, Mohammad., Saputro, Sulistyo. 2016. Penerapan Model Pembe-lajaran Inkuiri Terbimbing Di-lengkapi LKS untuk Mening-katkan Keterampilan Proses Sains dan Prestasi Belajar pada Materi Pokok Hukum Dasar Kimia Siswa Kelas X Mia 4 SMA N 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Pendidikan Kimia (JPK). Vol. 5 No. 1. Surakarta.

Lintuan et. all. 2005. Investigating the

Effectiveness of Inquiry Instruction on the Motivation of Different Learning Styles Students. International Journal of Science and Mathematics Education. Vol. 3. Taiwan.

Lotti, H Kimberly. 2003. Evaluation of a Statewide Science Inservice and Outreach Program : Teacher and Student Outcomes. Journal of Science Education and Technology. Vol. 12, No. 1.

Meltzer, D. E. 2002. The Relationship Between Mathematics Prepa-ration and Conceptual Learning Gains in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostic Pretest Scores. American Jour-nal Physics, 70 (12).

Mulyatiningsih, Endang. 2010. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan dalam Diklat Peningkatan Kompetensi Penga-was. Jawa Barat: Ditjen PMPTK.

NSES. 2000. Inquiry Instruction in the AP Science Classroom: an Approach to Teaching and Learning. Advanced Placement Program.

Nurhayati, B. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar: Badan Penerbit UNM. Permendiknas. 2006. Peraturan Menteri

(7)

Permendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebu-dayaan nomor 64 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Per-mendikbud.

Permendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebu-dayaan nomor 65 tentang Stan-dar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Per-mendikbud. Peraturan Pemerintah. 2005. Standar Nasional

Pendidikan. Jakarta: Peraturan Pemerintah. Santoso, Edy. 2011. Model-Model Pembelajaran.

Edy Santoso.

Siregar, Syofian. 2011. Statistika Deskriptif untuk Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.

Sofiani, Erlina. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbim-bing terhadap Hasil Belajara Fisika pada Konsep Listrik Dinamis. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.

Strom, K. Reba. 2012. Using Guided Inquiry to Improve Process Skills and Content Knowledge in Primary Science. A Professional Paper Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Master of Science. Montana State Uni-versity.

Subiantoro, W. Agus. 2011. Pentingnya Praktikum dalam Pembelajaran IPA. Yogyakarta: Pelatihan Pengembangan Prakti-kum IPA Berbasis Lingkungan. Sudijono, Anas. 2013. Pengantar Evaluasi

Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suyono. 2004. Pembelajaran Efektif dan Produktif Berbasis Literasi: Analisis Konteks, Prinsip, dan Wujud Alternatif Strategi Implementasinya di Sekolah. Bandung.

Tangkas, I Made. 2012. Pengaruh Implementasi Model Pembela-jaran Inkuiri Terbimbing terha-dap Kemampuan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X SMAN 3 Amlapura. Program Pascasarna Universitas Pendidikan Ganesha.

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: RajaGrafindo. Trianto. 2007. Model-model Pembela-jaran

Inovatif Berorienta si Konstruktifistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya.

Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Gambar

Tabel 1.1 Statistik deskriptif nilai hasil belajar biologi yang diajar dengan model Inkuiri Terbimbing materi sel kelas XI SMA Negeri 1 Malusetasi Hasil Belajar

Referensi

Dokumen terkait

Lahan hutan mengalami penurunan terus dari tahun 1975 sampai tahun 2009, yang diduga karena alih fungsi untuk penggunaan lahan yang lebih ekonomis (perkebunan, tambak, sawah, dan

Untuk dapat meningkatkan mutu siaran tersebut diperlukan dukungan dana, salah satu sumber dana yang diandalkan oleh RRI berasal dari iklan, dalam hal ini pihak bagian

Proses data mining untuk prediksi dengan Naive Bayes dilakukan dengan menggunakan data latih dan data uji yang terdapat dalam database, kemudian data tersebut akan

Adapun tampilan menu biodata pelanggan pada aplikasi Microsoft visual studio tentang Sistem Keamanan Internet Speedy Pada Plsa Telkom Tanjungbalai yaitu sebagai berikut

Pada pengukuran debit air yang dilakukan pada lokasi penelitian, perbedaan curah hujan yang terjadi pada saat kemarau dan penghujan mempengaruhi debit air sungai,

Sebagai tanaman sela dalam pola agroforestri, kacang tanah memberikan interaksi bagi tanah dan tanaman di sekitarnya.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan lahan untuk perumahan di Kabupaten Bantul dimasa yang akan datang, memetakan daya dukung permukiman dan

a) Menganalisis pengaruh pemberian ekstrak Phyllanthus niruri L dosis 125, 250 dan 500 µg selama 7 hari terhadap peningkatan jumlah lekosit pada mencit.. Balb/C yang