• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DINAMIKA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA PENGGUNAAN LAHAN

PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG

(Land Use Dynamic in East Coast of Lampung Province)

Oleh/By:

Yatin Suwarno1 dan Rahmatia Susanti2

1

Peneliti Madya Bidang Penginderaan Jauh, Bakosurtanal

2

Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut, Bakosurtanal Jln. Raya Jakarta – Bogor Km. 46 Cibinong, Jawa Barat Email:

Diterima (received): 15 April 2010; Disetujui untuk dipublikasikan (accepted): 17 November 2010

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji dinamika penggunaan lahan pesisir timur Provinsi Lampung dari tahun 1975 sampai tahun 2009. Sumber data yang digunakan adalah citra ALOS AVNIR-2

(resolusi 10m x 10m) tahun 2009, citra Landsat ETM+ (resolusi 60m x 60m) tahun 2000,

Peta Penggunaan Lahan Bakosurtanal skala 1:250.000 tahun 1986, dan Peta Topografi JANTOP skala 1:50.000 tahun 1975. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 34 tahun (1975-2009) terjadi dinamika yang berbeda untuk setiap jenis penggunaan lahan. Lahan hutan mengalami penurunan terus dari tahun 1975 sampai tahun 2009, yang diduga karena alih fungsi untuk penggunaan lahan yang lebih ekonomis (perkebunan, tambak, sawah, dan ladang). Penggunaan lahan permukiman dan perkebunan mengalami kenaikan terus, hal ini seiring dengan peningkatan populasi penduduk dan mulai dibukanya berbagai jenis komoditi perkebunan. Adapun lahan sawah dan tambak yang semula naik sampai tahun 2000 kemudian turun hingga tahun 2009, ini diduga lebih bersifat pertimbangan ekonomi yaitu pemanfaatan yang lebih menguntungkan pada saat tertentu.

Kata Kunci: Dinamika, Penggunaan Lahan, Lahan Pesisir

ABSTRACT

This study examines the dynamics of land use in east coast of Lampung Province from 1975 until 2009. Data sources used were image of ALOS AVNIR-2 (resolution 10m x 10m) in 2009, Landsat ETM+ (60m x 60m resolution) in 2000, Land use map, scale of 1:250.000 from Bakosurtanal in 1986, and Topographic Maps, scale of 1:50.000 from Jawatan Topografi in 1975. The results of this research showed that during 34 years (1975 – 1986) there has been different dynamic for each type of land use. Forest land continues to decrease from 1975 until 2009, indicating the functional transfer for more economical uses (plantations, ponds and rice paddies). The land uses for settlement and plantations have continued to rise, in line with the increase in population and start opening various types of plantation commodities. As for paddy fields and ponds, which initially rose until 2000 and then fell until 2009, was thought to be more profitable consideration at a given time.

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Persoalan lahan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik di Jawa maupun luar Jawa, di perkotaan maupun jauh di luar perkotaan. Persoalan lahan selain tumpang tindih kepemilikan lahan, juga karena alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan. Alih fungsi lahan tidak sedikit menimbulkan degradasi lahan, yaitu menurunnya kualitas lahan akibat dampak pembangunan.

Degradasi lahan di perkotaan lebih didorong oleh pesatnya pembangunan, sehingga membutuhkan lahan baik untuk bisnis seperti pembangunan pabrik mau-pun untuk keperluan pemukiman. Se-dangkan degradasi lahan di luar perkotaan lebih berorientasi pada bisnis seperti pembukaan lahan tambak, perta-nian dan perkebunan yang dinilai lebih banyak menguntungkan.

Provinsi Lampung sebagai daerah paling dekat dengan Pulau Jawa menjadi wilayah eksodus orang-orang dari Jawa, baik dalam bentuk rombongan transmit-grasi semenjak tahun 1970-an maupun yang datang secara perorangan yang menjadi penduduk tetap hingga saat ini.

Pesisir timur sebagai bagian wilayah Provinsi Lampung cepat mengalami perubahan sebagai dampak dari pening-katan populasi penduduk. Orang dari Jawa yang agraris mengawali pembukaan lahan pertanian (sawah, ladang/tegalan dan kebun) di wilayah Lampung. Orang dari pesisir utara Jawa (Pati dan sekitarnya) memulai usahanya dengan membuka tambak. Kedua hal ini yang penyebab terjadinya dinamika perubahan lahan pada wilayah pesisir timur Provinsi Lampung.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika spasial perubahan penggunaan lahan wilayah pesisir timur

Provinsi Lampung dari tahun 1975 sampai tahun 2009.

Lokasi Penelitian

Secara administratif lokasi penelitian tercakup dalam 4 kabupaten bagian timur Provinsi Lampung, yaitu: Tulang Bawang, Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan (Gambar 1).

Gambar 1. Lokasi Penelitian

METODE PENELITIAN Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam peneli-tian ini adalah sebagai berikut:

a. Peta Lingkungan Pantai Indonesia sebanyak 6 Nomor Lembar Peta. b. Citra satelit, yaitu ALOS AVNIR-2

tahun 2009 dan Landsat ETM+ tahun 2000.

c. Peta Liputan Lahan Bakosurtanal skala 1:250.000 tahun 1986. d. Peta Topografi Jawatan Topografi

skala 1:50.000 tahun 1975.

e. Data sekunder, baik data statistik maupun data spasial.

Peralatan yang digunakan meliputi: a. Perangkat keras: komputer/notebook. b. Perangkat lunak: ER Mapper (untuk

pemrosesan citra), Arcview (untuk analisis spasial dan penyajian peta), ENVI (untuk konversi data raster ke vektor), MS Word dan Exceel (untuk pengolah data).

(3)

Metode Inventarisasi

Tahapan inventarisasi yang dilakukan dalam penelitian ini, terutama untuk data yang bersumber dari citra satelit adalah sebagai berikut:

Pra Pengolahan Citra

Input data utama adalah citra Landsat ETM+ tahun 2000 dan citra ALOS tahun 2009. Citra penginderaan jauh ini terlebih dahulu dilakukan image compiling yaitu melakukan enkripsi struktur data citra satelit menjadi 1 file terdiri dari 6 band pada citra Landsat ETM+ (minus band 6 dan band 8) dan 4 band pada citra ALOS. Setelah itu dilakukan koreksi citra yaitu koreksi radiometrik dan geometrik. Korek-si radiometrik dilakukan untuk memodi-fikasi nilai-nilai spektral setiap piksel per band suatu citra sehingga pengaruh noise

dapat tereliminasi.

Sedangkan koreksi geometrik dilaku-kan untuk memperbaiki posisi citra. Koreksi geometrik dilakukan proses rektifikasi citra dengan menggunakan transformasi polinomial (tipe geocoding). Untuk memperoleh ketelitian yang lebih baik, sesuai dengan spesifikasi teknis survei dan pemetaan digunakan titik kontrol lapangan (Ground Control

Point/GCP) dengan sebaran yang merata

di seluruh liputan citra. Dalam proses rektifikasi citra ini digunakan peta acuan sebagai dasar pengambilan titik-titik GCP yaitu menggunakan Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) Bakosurtanal skala 1 : 50.000. Output resolusi piksel pada masing-masing citra tetap dipertahankan yaitu 30 meter untuk citra Landsat ETM+, dan 10 meter untuk citra ALOS AVNIR 2. Setelah dilakukan proses koreksi ini maka citra siap untuk dianalisis.

Pemrosesan Data

Klasifikasi liputan lahan dilakukan dengan cara interpretasi visual yang dilakukan dengan digitasi on screen pada setiap citra. Penentuan klasifikasi meng-gunakan peta rupabumi Indonesia Bako-surtanal sebagai acuannya. Untuk

memu-dahkan dalam menginterpretasi penggu-naan lahan pada Landsat, maka digu-nakan komposit citra 541 karena band 5 sangat efektif untuk membedakan vege-tasi dan band 1 sangat efektif untuk mem-bedakan tubuh air, sedangkan untuk citra ALOS digunakan komposit citra 431 kare-na band 4 yaitu inframerah dekat sangat efektif untuk membedakan vegetasi.

Peta hasil klasifikasi penggunaan lahan tersebut kemudian dilakukan spa-sial analisis (union) untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada setiap periode waktu.

Metode Analisis

a. Inventarisasi penggunaan lahan dari citra satelit dengan pengolahan citra

(image processing).

b. Inventarisasi penggunaan lahan dari peta dengan penyamaan format. c. Analisis perubahan (dinamika) dengan

spasial analisis (union) dalam Sistem Informasi Geografis (SIG).

HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Lahan Tahun 1975

Penggunaan lahan pesisir tahun 1975 ini bersumber dari peta topografi skala 1:50.000 produksi Jawatan Topo-grafi Angkatan Darat. Peta tersebut infor-masinya cukup detil, yang membedakan penggunaan lahan menjadi 11 (sebelas) klas. Penggunaan lahan yang penting antara lain: hutan (99.366,28 ha), mangrove (67,04 ha), ladang/tegalan (4.369,20 ha), perkebunan (92,42 ha), permukiman (954,23 ha), dan tambak (1.705,19 ha). Total luas penggunaan lahan yang tercakup dalam 6 (enam) lembar peta LPI menurut hasil perhi-tungan dengan GIS adalah 206.432,92 ha.

Penggunaan Lahan Tahun 1986

Penggunaan lahan ini bersumber dari peta rupabumi skala 1:250.000 produksi Bakosurtanal. Menurut riwayatnya, peta

(4)

tersebut merupakan hasil kompilasi dari Peta Liputan Lahan Bakosurtanal tahun 1981 dilengkapi dengan data Jalan dan Jembatan Kanwil PU Dati I Sumatera Tahun 1985/1986. Sesuai dengan skala-nya (skala tinjau), klasifikasi yang ada lebih sederhana yaitu hanya 9 (sembilan) klas. Penggunaan lahan yang penting antara lain: hutan (96.129,23 ha), perke-bunan (1.234,64 ha), permukiman (6.046,94 ha) dan tambak (2.914,95 ha). Total luas penggunaan lahan adalah 206.435,95 ha.

Penggunaan Lahan Tahun 2000

Penggunaan lahan pesisir tahun 2000 ini diperoleh dari hasil interpretasi Citra Satelit Landsat ETM+ tahun 2000. Citra Landsat ini memiliki resolusi (60mx60m). Klasifikasi penggunaan lahan terdiri dari 12 (duabelas) klas. Tubuh air (rawa dan sungai) menempati lokasi yang paling luas (42.546,03 ha), disusul hutan (43.749,57 ha), kemudian ladang/tegalan

(26.561,23 ha), lahan terbuka (18.478,90 ha), permukiman (12.688,25 ha), perke-bunan (14.243,77 ha) dan tambak (12.891,36 ha).

Penggunaan Lahan Tahun 2009

Penggunaan lahan pesisir timur Provinsi Lampung tahun 2009 ini diperoleh dari hasil interpretasi Citra Satelit ALOS AVNIR-2 tahun 2009. Citra satelit ALOS ini memiliki resolusi (10mx10m). Klasifikasi terdiri dari 12 (duabelas) klas. Tubuh air (rawa dan sungai) merupakan yang paling luas (63.861,81 ha), disusul hutan (42.819,17 ha), kemudian lading/tegalan (27.273,35 ha), lahan terbuka (21.097,95 ha), permukiman (14.507,65 ha), perkebunan (14.324,53 ha). Adapun penggunaan lahan yang lain (≤ 1.977,15 ha).

Penggunaan lahan pesisir timur Lampung dari tahun (1975-2009) disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Penggunaan Lahan Pesisir Timur Lampung Tahun (1975–2009)

Penggunaan Lahan Tahun 1975 Tahun 1986 Tahun 2000 Tahun 2009

Hutan Lahan Kering 99,366.28 96,129.23 43,749.57 42,819.17

Mangrove 67.04 - 1,544.92 1,977.15 Semak Belukar 16,182.07 - 18,282.81 6,705.18 Ladang /Tegalan 4,369.20 - 26,561.23 27,273.35 Lahan Terbuka - 25,148.02 18,478.90 21,097.95 Perkebunan 92.42 1,234.64 14,243.77 14,324.53 Permukiman 954.23 6,046.94 12,688.25 14,507.65 Sawah 15.02 - 9,957.16 3,733.84 Tambak 1,705.19 2,914.95 12,891.36 5,496.05 Rawa/Sungai 26,398.93 10,123.64 42,546.03 63,861.81 Pasir 467.32 23.45 5,120.85 4,079.55 Laut - 1,598.78 367.17 551.00

Tidak ada data 56,815.22 63,216.30 - 4.96 Jumlah (Ha) 206,432.92 206,435.95 206,432.02 206,432.19

(5)

Dinamika Penggunaan Lahan Tahun (1975 – 2009)

Data pengunaan lahan dalam jangka waktu di atas tidak memiliki jenis dan jumlah klas yang sama. Oleh karena itu analisis dinamika lahan pesisir dari tahun 1975 – 2009 hanya dilakukan terhadap klas penggunaan lahan tertentu.

1. Lahan Hutan

Lahan hutan meliputi hutan lahan kering dan hutan lahan basah (mangrove). Luas lahan hutan terus mengalami penurunan dari tahun 1975 hingga tahun 2009 (Gambar 2). Penurunan luas lahan hutan sangat signifikan terjadi dari tahun 1986 (96.129,23 ha) sampai tahun 2000 (45.294,49 ha). Terjadinya penurunan ini diduga karena alih fungsi menjadi ladang (pada hutan lahan kering) dan tambak (pada hutan lahan basah). Alih fungsi lahan hutan ini banyak terjadi di Kabupaten Tulangbawang dan Lampung Timur.

2. Lahan Perkebunan

Luas lahan perkebunan mengalami peningkatan dari tahun 1975 hingga tahun 2009 (Gambar 3). Kenaikan luas secara signifikan terjadi dari tahun 1986 (1.234,64 ha) sampai tahun 2009 (14.243,77 ha). Lahan perkebunan banyak dijumpai di Kabupaten Tulang-bawang, meliputi karet dan sawit.

Gambar 2. Dinamika lahan hutan

Gambar 3. Dinamika perkebunan

Gambar 4. Dinamika permukiman

Gambar 5. Dinamika lahan tambak

(6)

3. Lahan Permukiman

Luas lahan permukiman mengalami kenaikan terus dari tahun 1975 sampai 2009 (Gambar 4). Periode tahun 1975 sampai 1986 adalah masuknya trans-migran dari Jawa secara besar-besaran, kenaikan luas permukiman cukup signifikan dari (954,23 ha) menjadi (6.046,94 ha). Setelah tahun 1986 eksodus penduduk dari Jawa diduga lebih bersifat perorangan. Kebutuhan lahan permukiman sebagai konsekuensi dari bertambahnya jumlah penduduk di wilayah ini.

4. Lahan Tambak

Luas lahan tambak mengalami kenaik-an dari tahun 1975 sampai 2000, kemudian menurun hingga tahun 2009

(Gambar 5). Peningkatan luas tambak

terjadi di semua wilayah kecuali di Ka-bupaten Lampung Tengah. Kenaikan harga udang diduga sebagai pemicu pembukaan tambak secara besar-besaran oleh pihak swasta. Sedang-kan penurunan yang terjadi setelah tahun 2000 diduga ada beberapa sebab, yaitu alih fungsi menjadi sawah karena harga udang jatuh, terjadi abrasi di beberapa tempat, reboisasi bakau di sebagian lahan tambak dan sebagian tidak diolah karena dianggap kurang produktif.

5. Lahan Sawah

Pada awalnya (mulai tahun 1975) lahan sawah mengalami kenaikan, kemudian menurun sejak tahun 2000

(Gambar 6). Dinamika pada lahan

sawah ini diduga lebih bersifat pertimbangan ekonomi, misalnya alih fungsi menjadi tambak karena harga udang dan bandeng sedang bagus. Penggunaan lahan pada setiap periode (tahun 1975, 1986, 2000 dan 2009) disajikan pada Lampiran 1, 2, 3

dan Lampiran 4.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut:

1. Terjadi dinamika penggunaan lahan pesisir timur Provinsi Lampung selama 34 tahun (1975-2009), mengalami baik penurunan, kenaikan, maupun kenaik-an dkenaik-an penurunkenaik-an.

2. Penurunan lahan hutan dari tahun 1975 sampai tahun 2009, diduga karena alih fungsi yang dianggap lebih menguntungkan (sawah, ladang/ tegalan, tambak dan perkebunan). 3. Kenaikan lahan perkebunan seiring

dengan kenaikan lahan permukiman akibat meningkatnya jumlah populasi penduduk.

4. Dinamika pada lahan tambak dan sawah (awalnya naik kemudian turun) diduga lebih bersifat pertimbangan ekonomi, pemanfaatan yang lebih menguntungkan pada saat tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda - BPS Provinsi Lampung. 2009.

Provinsi Lampung Dalam Angka.

Tanjungkarang. Lampung.

Bappeda Kabupaten Tulangbawang. 2007.

Neraca Sumberdaya Alam Kabupaten

Tulangbawang. Menggala. Lampung.

Campbell, J.B. 1987. Introduction to

Remote Sensing. Guilford Press. New

York.

Lillesand, T.M. and R.W. Kiefer. 1990.

Penginderaan Jauh dan Interpretasi

Citra. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta. 725 halaman.

Pemerintah Provinsi Lampung – Proyek Pesisir PKSPL IPB. 2002. ATLAS Sumber Daya Wilayah Pesisir

(7)

Lampiran 1. Peta Penggunaan Lahan Pesisir Timur Provinsi Lampung Tahun 1975 04° 106° 107° 105° 05° 06° 06° 05° 04° 105° 106° 107° P. SUMATERA P. J A W A L A U T J A W A DIAGRAM LOKASI 02' 58' 54' 50' 46' 04° 05' S 04° 05' S 05° 58' S 05° 58' S 57' 53' 47' 35' 39' 43' 1 06 ° 0 5' T 31' 19' 23' 27' 49' 45' 41' 53' 05' 01' 57' 09' 11' 15' 33' 29' 25' 13' 17' 21' 09' 37' 1 06 ° 0 5' T 37' 09' 21' 17' 13' 25' 29' 33' 15' 11' 09' 57' 01' 05' 53' 41' 45' 49' 27' 23' 19' 31' 43' 39' 35' 47' 53' 57' 1 05 ° 4 5' T 1 05 ° 4 5' T Rawa Jitu II Sidorejo Makambang Sindangbudiman Basung Sekering Pegadungan Manjangan Pasirpanjang Sekopong Kambas Kecil Kambas Sidomulyo Labuhan Maringgai Mandalasari Sidomakmur Nibung Nyihul Labuhanjati Rejosari Mundu Ruguk Rimaubalak Kandangbalak RimaubalakTka Dondong Buntar Terusan L A U T J A W A 46' 50' 54' 58' 02' SUMBER DATA :

1. Peta Lingkungan Pantai Indonesia Lembar 1111-01,02,03,04,05,06 2. Peta Topografi skala 1 : 50.000, JANTOP tahun 1975

PETA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG TAHUN 1975

DICETAK DAN DITERBITKAN OLEH:

BADAN KOORDINASI SURVEY DAN PEMETAAN NASIONAL (BAKOSURTANAL) JL. RAYA JAKARTA - BOGOR KM. 46 TLP. : (021) 8752062 FAX : 62-21-8753067 TLX. : 48305 BAKOST IA CIBINONG 16911 BOGOR

KETERANGAN ....___.. Sungai Danau PERAIRAN Batas kabupaten/kota Batas kecamatan Batas desa .. ..__ BATAS ADMINISTRASI ...__... PERHUBUNGAN Jalan arteri Jalan kolektor Jalan lokal Jalan lain Jalan setapak

PENGGUNAAN LAHAN PESISIR

U 2 0 2 4 6 Km 46' 50' 54' 58' 02' Belukar Hutan Mangrove Pasir Permukiman Rawa Tegalan Tidak Ada Data

(8)

Lampiran 2. Peta Penggunaan Lahan Pesisir Timur Provinsi Lampung Tahun 1986 Hutan Mangrove Pasir Permukiman Rawa Tegalan 02' 58' 54' 50' 46' 2 0 2 4 6 Km U

PENGGUNAAN LAHAN PESISIR

Jalan arteri Jalan kolektor Jalan lokal Jalan lain Jalan setapak PERHUBUNGAN ...__... BATAS ADMINISTRASI .. ..__ Batas kabupaten/kota Batas kecamatan Batas desa PERAIRAN Sungai Danau ....___.. KETERANGAN

DICETAK DAN DITERBITKAN OLEH:

BADAN KOORDINASI SURVEY DAN PEMETAAN NASIONAL (BAKOSURTANAL) JL. RAYA JAKARTA - BOGOR KM. 46 TLP. : (021) 8752062 FAX : 62-21-8753067 TLX. : 48305 BAKOST IA CIBINONG 16911 BOGOR

PETA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG TAHUN 1986

SUMBER DATA :

1. Peta Lingkungan Pantai Indonesia Lembar 1111-01,02,03,04,05,06 3. Peta Rupabumi Indonesia skala 1 : 250.000, BAKOSURTANAL tahun 1986 02' 58' 54' 50' 46' L A U T J A W A Terusan Buntar RimaubalakTka Dondong Kandangbalak Rimaubalak Ruguk Mundu Rejosari Labuhanjati Nyihul Nibung Sidomakmur Mandalasari Labuhan Maringgai Sidomulyo Kambas Kambas Kecil Sekopong Pasirpanjang Manjangan Pegadungan Sekering Basung Sindangbudiman Makambang Sidorejo Rawa Jitu II 1 05 ° 4 5' T 1 05 ° 4 5' T 57' 53' 47' 35' 39' 43' 31' 19' 23' 27' 49' 45' 41' 53' 05' 01' 57' 09' 11' 15' 33' 29' 25' 13' 17' 21' 09' 37' 1 06 ° 0 5' T 37' 09' 21' 17' 13' 25' 29' 33' 15' 11' 09' 57' 01' 05' 53' 41' 45' 49' 27' 23' 19' 31' 1 06 ° 0 5' T 43' 39' 35' 47' 53' 57' 05° 58' S 05° 58' S 04° 05' S 04° 05' S 46' 50' 54' 58' 02' 04° 106° 107° 105° 05° 06° 06° 05° 04° 105° 106° 107° P. SUMATERA P. J A W A L A U T J A W A DIAGRAM LOKASI

(9)

Lampiran 3. Peta Penggunaan Lahan Pesisir Timur Provinsi Lampung Tahun 2000 02' 58' 54' 50' 46' 2 0 2 4 6 Km U

PENGGUNAAN LAHAN PESISIR

Hutan Lahan Kering Ladang / Tegalan Hutan Lahan Terbuka Hutan Mangrove Perkebunan Sawah Semak Belukar Tambak Permukiman / Industri Jalan arteri Jalan kolektor Jalan lokal Jalan lain Jalan setapak PERHUBUNGAN ...__... BATAS ADMINISTRASI .. ..__ Batas kabupaten/kota Batas kecamatan Batas desa PERAIRAN Sungai Danau ....___.. KETERANGAN

DICETAK DAN DITERBITKAN OLEH:

BADAN KOORDINASI SURVEY DAN PEMETAAN NASIONAL (BAKOSURTANAL) JL. RAYA JAKARTA - BOGOR KM. 46 TLP. : (021) 8752062 FAX : 62-21-8753067 TLX. : 48305 BAKOST IA CIBINONG 16911 BOGOR

PETA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2000

SUMBER DATA :

1. Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 50.000

Lembar 1110 - 21,22,23,24,51,52,53,54 dan 1111 - 21,22,23,24,51,52,53,54 2. Citra Landsat Etm tahun : 2000

3. Peta Lingkungan Pantai Indonesia Lembar 1111-01,02,03,04,05,06 02' 58' 54' 50' 46' L A U T J A W A Terusan Buntar RimaubalakTka Dondong Kandangbalak Rimaubalak Ruguk Mundu Rejosari Labuhanjati Nyihul Nibung Sidomakmur Mandalasari Labuhan Maringgai Sidomulyo Kambas Kambas Kecil Sekopong Pasirpanjang Manjangan Pegadungan Sekering Basung Sindangbudiman Makambang Sidorejo Rawa Jitu II 1 05 ° 4 5' T 1 05 ° 4 5' T 57' 53' 47' 35' 39' 43' 31' 19' 23' 27' 49' 45' 41' 53' 05' 01' 57' 09' 11' 15' 33' 29' 25' 13' 17' 21' 09' 37' 1 06 ° 0 5' T 37' 09' 21' 17' 13' 25' 29' 33' 15' 11' 09' 57' 01' 05' 53' 41' 45' 49' 27' 23' 19' 31' 1 06 ° 0 5' T 43' 39' 35' 47' 53' 57' 05° 58' S 05° 58' S 04° 05' S 04° 05' S 46' 50' 54' 58' 02' 04° 106° 107° 105° 05° 06° 06° 05° 04° 105° 106° 107° P. SUMATERA P. J A W A L A U T J A W A DIAGRAM LOKASI

(10)

Lampiran 4. Peta Penggunaan Lahan Pesisir Timur Provinsi Lampung Tahun 2009

SUMBER DATA :

1. Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 50.000

Lembar 1110 - 21,22,23,24,51,52,53,54 dan 1111 - 21,22,23,24,51,52,53,54 2. Citra ALOS AVNIR - 2 Tahun : 2009

3. Peta Lingkungan Pantai Indonesia Lembar 1111-01,02,03,04,05 dan 06

PETA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2009

DICETAK DAN DITERBITKAN OLEH:

BADAN KOORDINASI SURVEY DAN PEMETAAN NASIONAL (BAKOSURTANAL) JL. RAYA JAKARTA - BOGOR KM. 46 TLP. : (021) 8752062 FAX : 62-21-8753067 TLX. : 48305 BAKOST IA CIBINONG 16911 BOGOR

KETERANGAN ....___.. Sungai Danau PERAIRAN Batas kabupaten/kota Batas kecamatan Batas desa .. ..BATAS ADMINISTRASI__ ...__... PERHUBUNGAN Jalan arteri Jalan kolektor Jalan lokal Jalan lain Jalan setapak 04° 106° 107° 105° 05° 06° 06° 05° 04° 105° 106° 107° P. SUMATERA P. J A W A L A U T J A W A DIAGRAM LOKASI Permukiman / Industri Tambak Semak Belukar Sawah Perkebunan Hutan Mangrove Hutan Lahan Terbuka Ladang / Tegalan Hutan Lahan Kering

PENGGUNAAN LAHAN PESISIR

U 2 0 2 4 6 Km 02' 58' 54' 50' 46' 04° 05' S 04° 05' S 05° 58' S 05° 58' S 57' 53' 47' 35' 39' 43' 1 06 ° 0 5' T 31' 19' 23' 27' 49' 45' 41' 53' 05' 01' 57' 09' 11' 15' 33' 29' 25' 13' 17' 21' 09' 37' 1 06 ° 0 5' T 37' 09' 21' 17' 13' 25' 29' 33' 15' 11' 09' 57' 01' 05' 53' 41' 45' 49' 27' 23' 19' 31' 43' 39' 35' 47' 53' 57' 1 05 ° 4 5' T 1 05 ° 4 5' T Rawa Jitu II Sidorejo Makambang Sindangbudiman Basung Sekering Pegadungan Manjangan Pasirpanjang Sekopong Kambas Kecil Kambas Sidomulyo Labuhan Maringgai Mandalasari Sidomakmur Nibung Nyihul Labuhanjati Rejosari Mundu Ruguk Rimaubalak Kandangbalak RimaubalakTka Dondong Buntar Terusan L A U T J A W A 46' 50' 54' 58' 02'

Gambar

Tabel 1. Penggunaan Lahan Pesisir Timur Lampung Tahun (1975–2009)  Penggunaan Lahan  Tahun 1975  Tahun 1986  Tahun 2000  Tahun 2009  Hutan Lahan Kering  99,366.28   96,129.23   43,749.57   42,819.17
Gambar 2. Dinamika lahan hutan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi penurunan kapasitas lahan akibat alih guna lahan hutan menjadi lahan perkebunan kakao, dimana lahan hutan

Apabila pembangunan industri terus dilakukan dengan cara mengambil alih fungsi lahan pertanian sehingga luas lahan sawah yang akan terus berkurang, maka akan

Pada faktor kepadatan penduduk ini, penggunaan lahan hutan, lainnya, perkebunan dan pertanian lahan kering serta sawah memiliki nilai Exp ( β ) lebih kecil dari

Penurunan kualitas (degradasi) dan dalam waktu bersamaan alih fungsi lahan pangan menjadi perkebunan kelapa sawit terus berlanjut dan berlangsung secara masif, tidak saja

Sedangkan berkurangnya luas hutan primer disebabkan karena adanya konversi hutan oleh masyarakat menjadi perkebunan kelapa, perkebunan kelapa sawit dan tambak, serta

Alih fungsi lahan tambak ke non tambak terus terjadi secara progresif dan mengancam keberlanjutan pertanian di Kecamatan Manyar. Penelitian ini dilaksanakan di

Pada faktor kepadatan penduduk ini, penggunaan lahan hutan, lainnya, perkebunan dan pertanian lahan kering serta sawah memiliki nilai Exp (β) lebih kecil dari satu,

Melindungi area dengan nilai cadangan karbon tinggi hutan alam dan lahan gambut: • Mempertahankan Ekosistem hutan alam di Kawasan Peruntukan Perkebunan seluas640.000 hapada tahun 2030