1
ASPEK HUKUM DAN EKONOMI DALAM PENYELENGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN PILIHAN PASKA UNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
(Studi Kasus Pengusahaan Panas Bumi dalam Kawasan Hutan Di Jawa Barat)
Canggih Prabowo1
Abstrak
Dikembalikannya beberapa kewenangan dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat terkait penyelengaraan urusan pemerintahan pilihan sebagaimana termuat dalam Pasal 14 ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah ditujukan dalam rangka mewujudkan rencana pembangunan jangka menengah 2015-2019 guna mengupayakan ketahanan energi domestik dan bernilai strategis bagi hajat hidup orang banyak serta berfungsi meningkatkan daya saing industri nasional dan pertumbuhan ekonomi dalam bentuk kebijakan diversifikasi, efisiensi, dan konservasi energi melalui pengusahaan energi panas bumi dalam kawasan hutan sebagai komoditas bersama atas penyediaan alokasi energi final dan menjadi sumber penerimaan negara diantaranya berupa penjualan emisi karbon dihubungkan dengan perubahan tersebut, desentralisasi dimaknai secara sempit sebagai salah satu penghambat pembangunan sedangkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan keadilan sosial khususnya bagi masyarakat lokal akan kehilangan makna atas hasil pembangunan tersebut, sedangkan keberhasilan sebuah pembangunan sangat tergantung pada sejauhmana penalaran normatif warga negara turut dipertimbangkan antarpemangku kepentingan.
Kata kunci: Urusan pemerintahan pilihan, kebijakan energi, kawasan hutan, masyarakat lokal
LAW AND ECONOMIC ASPECTS OF GOVERNMENT AFFAIRS Organizing OPTIONS AFTER LAW NO. 23 YEAR 2014 ON LOCAL GOVERNMENT
(Case Study Geothermal in Forest West Java Areas) Abstract
The return of some powers from local governments to the central government administration affairs related to the organization of choice, as contained in Article 14 (2) and (4) of Law No. 23 Year 2014 jo. 9 Year 2015 on Regional Government addressed in order to realize the medium term development plan from 2015 to 2019 in order to pursue domestic energy security and strategic value to the lives of many people and works to increase the competitiveness of national industry and economic growth in the form of a policy of diversification, efficiency, and energy conservation through the utilization of geothermal energy in the forest as a commodity along with the provision of the allocation of final energy and a source of state revenue including the form of the sale of carbon emissions associated with these changes, decentralization is defined narrowly as one of the obstacles to development while the concern for environmental sustainability and social justice, especially for local communities will lose their meaning on the results of such development, while the success of a development is highly dependent on the extent of normative reasoning of citizens are taken into account among the stakeholders.
Keywords: selection of government affairs, energy policy, forest, local communities
A. Pendahuluan
Dalam lingkup makro provinsi Jawa Barat memiliki potensi cukup besar. Baik dari sisi letak geografi karena berdekatan dengan Jakarta sebagai ibu kota negara yang merupakan pusat
2 pemerintahan, perekonomian, keuangan atau permodalan, dan teknologi. Maupun dari sisi sumber daya alam terbarukan salah satunya berupa panas bumi dan dianugerahi keindahan alam dengan panorama pegunungan serta pantai.
Di Jawa Barat sendiri saat ini memiliki 43 lokasi manifestasi panas bumi di 11 Kabupaten, dengan total potensi mencapai 6.101 MWe. Total potensi Jawa Barat yang sudah proyek terbangkitkan menjadi energi listrik pada tahun 2014 adalah sebesar 1130 MWe diantaranya melalui: 2
5 PLTP Kamojang Kabupaten Garut
dan Kabupaten bumi di desa Cibuni kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung dalam kawasan perkebunan sebesar 100 kWe, yang mulai beroperasi pada tahun ini. Merujuk pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung untuk pembangkit tenaga listrik tersebut, secara nasional baru mencapai 1189 MWe atau sekitar 4% dari potensi yang tersedia dan baru terkonsentrasi di Jawa Barat sedangkan potensi nasional panas bumi di Indonesia mencapai 28 GW atau sekitar 40% hal ini menunjukan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah terdepan dalam pengembangan panas bumi.3
Selain itu Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan kepadatan populasi penduduk tertinggi di Indonesia dengan didukung sarana infrastruktur yang relatif baik terutama akses transmisi tenaga listrik ke PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) serta terdapat beberapa kawasan industri manufaktur seperti (1) Industri tekstil; (2) Industri kaca; (3) Industri baja, (4) Industri pupuk, (5) Industri pulp dan kertas, (6) Industri semen, (7) Industri keramik.4 yang
secara alamiah terus meningkat akan dibutuhkan alokasi penyediaan kebutuhan listrik yang berkesinambungan.
Dari beberapa potensi di atas, membuka pengembangan pangsa pasar energi terbarukan sebagai daya tarik utama bagi beberapa perusahaan energi panas bumi memilih lokasi di
2 http://esdm.jabarprov.go.id/index.php/en/2014-12-23-08-20-21/panas-bumi diunduh 26 Maret 2015.
3http://www.esdm.go.id/berita/45-panasbumi/3405-hambatan-pengembangan-panas-bumi-harus-dihilangkan.html diunduh 26 Maret 2015.
3 wilayah ini sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing industri nasional.
Kendati demikian, dari beberapa wilayah kerja panas bumi tersebut. Meski memiliki potensi pengusahaan, namun belum dapat berjalan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 32 Tahun 2014 Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam No. 15 Tahun 2010 tentang Daftar Proyek-Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas serta Transmisi Terkait, khusus untuk pengusahaan panas bumi dalam kawasan hutan ditetapkan melalui Nota Kesepahaman Antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Mineral dengan Kementerian Kehutanan No. 7662/05/MEM.S/2001 dan Nomor NK.16/Menhut-II/2011 tentang Percepatan Perizinan Pengusahaan Panas Bumi Pada Kawasan Hutan Produksi, Kawasan Hutan Lindung, dan Kawasan Hutan Konservasi antara lain yaitu:
No Pembangkit Listrik
2 PLTP Gunung Tampomas Kabupaten Sumedang dan Kabupaten
4 PLTP Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan, Kabupaten
5 PLTP Cisolok Cisukarame Kabupaten Sukabumi Kawasan Hutan Konservasi dalam Taman Nasional Gunung Salak
160
Selain wilayah kerja panas bumi yang berada Provinsi Jawa Barat di atas, terdapat 37 wilayah kerja diantaranya belum menunjukkan perkembangan signifikan, bahkan 12 proyek pembangkit listrik panas bumi tidak berjalan sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Presiden Boediono 2013 silam5 untuk memanfatkan potensi panas bumi nasional yang berada dalam
kawasan hutan konservasi sebanyak 29 lokasi dengan potensi sebesar 3.428 MW (10,9%) sedangkan yang berada dalam kawasan hutan lindung sebanyak 52 lokasi dengan potensi sebesar 8.41 MW (19,6%).6
Terkait hal ini, berbagai kendala dalam merealisasikan proyek pembangkit listrik panas bumi harus dihilangkan melalui perbaikan mendasar adapun kendala-kendala yang dihadapi antara lain lemahnya koordinasi antarpemangku kepentingan, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sedangkan pelaku usaha terdiri
5 Kliping Media Surat Kabar Kompas 13 Juni 2013.
6 http://www.esdm.go.id/berita/45-panasbumi/3405-hambatan-pengembangan-panas-bumi-harus-dihilangkan.html diunduh 26
4 dari: (1) Swasta; (2) Koperasi; (4) Badan usaha milik negara; (5) Badan usaha milik daerah serta keterlibatan masyarakat lokal, beberapa hal ini menjadi kendala tersendiri.7
Di samping itu, saat ini pemerintah memiliki beberapa pencapaian besar untuk membangun Indonesia selama lima tahun ke depan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2015-2019,8 memuat beberapa
pembangunan infrastruktur khusus pembangunan pembangkit listrik melalui pengusahaan energi panas bumi berskala kecil (100 kw-5 MW). Selanjutnya diturunkan dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik 2015-2024 berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 74 K/21/MEM/2015 tentang Pengesahan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) tahun 2015 sampai dengan 2024 guna menunjang alokasi ketersediaan akan kebutuhan energi listrik sebesar 35.000 MW dari besaran nilai tersebut, panas bumi menyumbang 4.000 MWe dari tahun 2014-2015 kemudian dalam jangka panjang meningkat menjadi 9.5000 MWe di tahun 2025.9
Rencana energi final seperti listrik merupakan salah satu cabang produksi penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. Sehubungan dengan itu, diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kenyamanan, sekaligus sebagai urat nadi kegiatan ekonomi dan penggerak pertumbuhan, oleh karena itu Indonesia memerlukan pengelolaan sumber daya alam energi primer dan final yang tepat secara konstitusional dan efisien agar kekayaan sumber daya energi primer dapat memberikan pemasukan bagi negara secara maksimal dan seluruh kebutuhan energi final masyarakat terpenuhi dengan harga terjangkau.10
Sedangkan dalam lingkup mikro dihubungkan dengan kendala-kendala tersebut, bertitik tolak pada penyelesaian program proyek pembangunan pembangkit tenaga listrik yang tidak dapat dilepaskan dari kapasitas pelaksanaan keserasian hubungan berupa pengelolaan pembagian urusan pemerintah yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda, bersifat saling berhubungan, saling tergantung, dan saling mendukung sebagai satu kesatuan sistem dengan memperhatikan cakupan pemanfaatan tidak langsung panas bumi.
Dalam kawasan hutan memerlukan kehati-hatian dan kecermatan pertimbangan dikarenakan munculnya persoalan-persoalan berkaitan kepentingan masyarakat sekitar kawasan hutan maupun daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi tantangan tersendiri yang turut pula diperhatikan berkenaan urusan pemerintahan sehingga diperlukan terobosan konkret mutlak diperlukan dengan turut memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, penataan tata ruang, lingkungan hidup, pemerataan, dan keanekaragaman daya dukung potensi sumber daya alam sebagaimana tertuang dalam Pancasila sebagai landasan idiil dan landasan konstitusional pemerintah daerah termaktub dalam Pasal 18, Pasal 18A11
dan Pasal 18B.12
Beberapa pasal dimaksud, menurut Bagir Manan menampakan prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:13
(1) Prinsip Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 18 ayat 2);
(2) Prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya (Pasal 18 ayat 5);
7 Ibid.
8 Buku I Agenda Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, hlm. 114.
9“u yada a et al, Geothe al Resou e Risk I I do esia –A “tatisti al I ui y , Paper Presented at the 30th Workshop on
Geothermal Reservoir Engineering, Stanford University, Stanford, California, 31 Januari–2 Februari 2011, hlm. 1. 10 Atiqah Nur Alami, Politik Luar Negeri Indonesia dan Isu Keamanan Energi, LIPI Press, 2014, hlm. 44.. 11 Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, 18 Agustus 2000. 12 Ibid.
5 (3) Prinsip kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat 1);
(4) Prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya (Pasal 18B ayat 2);
(5) Prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa (Pasal 18B ayat 1);
(6) Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum (Pasal 18 ayat 3);
(7) Prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil.
Secara konseptual, 3 (tiga) instrumen hukum tersebut bermaksud mencari keseimbangan ayunan bandul antara otonomi dan sentralisasi hanya dengan keseimbangan itu akan terjadi dinamika positif dalam rangka memelihara negara kesatuan maupun memaksimalkan peran dan partisipasi daerah untuk mewujudkan kemerdekaan.14
Di samping beberapa pasal tersebut berkaitan dengan Pasal 28H15 ayat (1), Pasal 33, dan
Pasal 33 ayat (4)16 menurut Jimly Asshiddiqie beberapa pasal tersebut memuat jaminan
perlindungan hak asas manusia bagi setiap orang untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat dalam hal ini negara dibebani kewajiban dan tanggung jawab untuk menjamin lingkungan hidup yang baik dan sehat dan dapat menuntut setiap orang untuk menghormati hak orang lain, dan apabila perlu dapat memaksa setiap orang untuk tidak merusak lingkungan hidup untuk kepentingan bersama dalam wujud pembangunan perekonomian nasional melalui pengarusutamaan atas demokrasi ekonomi haruslah mengandung prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.17
Mengenai hal ini Emil Salim menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar, bahkan salah satu terbesar di dunia. Keanekaregaman hayati tersebut berada di hutan. Oleh sebab itu, merupakan kewajiban negara untuk menjaga hutan.18
B. Implikasi Diterbitkannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah
Merujuk 2 (dua) landasan sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bergulirnya desentralisasi dan demokrasi ekonomi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan terbitnya perubahan atau penyempurnaan sebuah peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah melalui instrumen hukum ini mengatur 4 (empat) dimensi hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah meliputi: (1) Hubungan kewenangan; (2) Hubungan kelembagaan; (3) Hubungan keuangan; (4) Hubungan pengawasan.19
Beberapa hubungan ini bisa dikatakan sedang menuju upaya pematangan atas penyelengaraan otonomi daerah dalam lingkup negara kesatuan yang tidak lepas dari proses tarik ulur antara kepentingan nilai keekonomian dan kepentingan nilai pemanfaatan sumber daya alam antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah selanjutnya meletakan sistem hubungan dan kepentingan tersebut berdasarkan 3 (tiga) asas hukum pemerintahan daerah
14 Bagir Manan, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2005, hlm. viii.
15 Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, 7-18 Agustus 2000. 16 Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, 1-11 Agustus 2002.
17 Jimly Asshiddiqie, Green Constitution Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rajawali Press, Jakarta hlm. 182.
18 Francisia S. S. E. Seda, Dinamika Sumber Daya Alam, Negara Developmentalis, dan Masyarakat: Persepktif Sosiologi Perubahan
Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta, 2014, hlm. 145.
19 Badan Pembinaan Hukum Nasional, Naskah Akademik tentang Hubungan Kewenagan Pemerintah Pusat dan Daerah, hlm. 3.
6 sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 angka 8, angka 9, dan angka 11 Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah.
Selanjutnya untuk mengetahui pembentukan hukum praktis atas 3 (tiga) asas hukum tersebut dalam bentuk norma hukum dapat ditelusuri dalam beberapa pasal perubahan yang berkaitan dengan urusan pemerintahan pilihan diantara yakni: (1) Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang No. 23 Tahun jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan penyelengaraan urusan pemerintahan pilihan bidang kehutanan yang berkaitan dengan pengelolaan taman hutan raya kabupaten/kota menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota, selanjutnya diatur dalam lampiran BB Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan No 3 sub konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.20
Apabila, dibandingkan dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten secara eksplisit tidak memuat dan mengatur hal tersebut.
Berdasarkan Pasal 7 dan Pasal 66 Bab 8 mengenai penyerahan kewenangan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 jo. 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan mengamatkan pemerintah menerbitkan 2 (dua) peraturan pemerintah terkait dengan pengelolaan kawasan hutan yaitu Pasal 5 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan memberikan kewenangan luas bagi pemerintah kabupaten dan kota melalui perizinan meliputi pelaksanaan tata hutan pada setiap unit pengelolaan hutan di semua kawasan antara lain hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi.
Kemudian Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2011 Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam secara jelas mengatur untuk taman hutan raya, penyelengaraannya dilakukan oleh pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota. Dengan demikian, Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 di satu sisi mengacu Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2011 sedangkan di sisi lain dalam hal pemberian perizinan kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung tetap sebagai kewenangan pemerintah kabupaten dan kota berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2002.
Dalam hal kewenangan mengurus dan mengatur kawasan hutan secara otonom dikembalikan kepada pemerintah pusat yang diselengarakan melalui perusahaan umum kehutanan negara berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2003; (2) Pasal 14 ayat 4 Undang-Undang No. 23 Tahun jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan pemanfaatan langsung panas bumi dalam daerah kabupaten/kota menjadi kewenangan daerah/kabupaten, selanjutnya diatur dalam lampiran CC Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral no 4 sub energi baru terbarukan.21
Di bidang ini membagi kewenangan atas pemanfaatan panas bumi dalam bentuk pemanfaatan langsung untuk keperluan non listrik dan pemanfaatan tidak langsung untuk keperluan pembangkit tenaga listrik, mengenai hal ini selanjutnya diatur dalam Pasal 7 ayat (1) huruf Undang-Undang No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi.
Memberikan kewenangan bagi pemerintah kabupaten dan kota dalam pemanfaatan tidak langsung untuk kepentingan pengusahaan energi panas bumi dalam pembangunan pembangkit listrik kewenangan ini diselengarakan sesuai dengan Bab IV Pasal 5 ayat (3) huruf d
20 Lampiran, Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Lembaran Negara Tahun 20114 Nomor 244, hlm. 283.
7 mengenai Kewenangan Pengelolaan Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan menyatakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota di bidang ketenagalistrikan salah satunya adalah penetapan izin operasi yang fasilitas instalasinya dalam kabupaten/kota.
Namun, dengan diterbitkannya Undang-Undang No 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, 17 September 2014 dalam bab XII mengenai ketentuan penutup Pasal 87 menyatakan mencabut dan tidak dinyatakan tidak berlaku Undang-Undang No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi mengenai hal ini selanjutnya termuat dalam penjelasan umum paragraf 5 menerangkan sebagai berikut:
Dalam perkembangan lebih lanjut, pengusahaan Panas Bumi untuk pemanfaatan tidak langsung atau untuk pembangkitan tenaga listrik bersifat sangat strategis dalam menunjang ketahanan energi nasional karena listrik yang dihasilkan dari pembangkit tenaga listrik Panas Bumi dapat dimanfaatkan lintas batas administratif. Dalam jangka panjang harga listrik yang dihasilkan dari Panas Bumi lebih kompetitif dan lebih andal jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dari fosil sehingga Pemerintah memandang perlu meletakkan kewenangan penyelenggaraan Panas Bumi ke Pemerintah. Pemerintah fokus melakukan penyelenggaraan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung yang digunakan sebagai pembangkitan tenaga listrik .
Adapun penyelenggaraan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung dibagi kepada Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Dalam rangka mempercepat pengembangan Panas Bumi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, Pemerintah selain diberi kewenangan melakukan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi juga diberi kewenangan untuk melakukan Eksploitasi dan Pemanfaatan.
Penjelasan di atas, bisa dikatakan untuk mengatasi proyeksi kebutuhan energi 7 industri pilihan sebagaimana telah disinggung di awal melalui 3 skenario: skenario Business as Usual, skenario akselerasi, dan skenario akselerasi disertai efisiensi22 selaras dengan pandangan
Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah intervensi dalam rangka mencapai pemanfaatan energi yang optimal dengan memperhatikan peningkatan daya saing ekonomi, perlindungan konsumen, serta pemerataan penggunaan energi.23
Mengacu atas serangkaian perubahan dalam Undang-Undang Undang-Undang No. 23 Tahun jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah terkait urusan pemerintahan pilihan tersebut dihubungkan dengan pengertian desentralisasi menurut Jimly Asshiddiqie, pengertian desentralisasi itu sendiri biasanya dibedakan menjadi 3 (tiga) pengertian yaitu: 24
(1) Desentralisasi dalam arti dekonsentrasi, yaitu pelimpahan beban tugas atau beban kerja dari pemerintah pusat kepada kepada wakil pemerintah pusat di daerah tanpa diikuti oleh pelimpahan kewenangan untuk mengambil keputusan;
(2) Desentralisasi dalam arti pendelegasian kewenangan berisi penyerahan kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau unit organisasi pemerintahan daerah yang berada diluar jangkauan kendali pemerintah pusat;
(3) Desentralisasi dalam arti devolusi atau penyerahan fungsi dan kewenangan merupakan penyerahan fungsi pemerintahan dan kewenangan pusat kepada pemerintahan daerah.
22 Biro Perencanaan Kemeterian Perindustrian, Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri, Op.cit., hlm. v. 23 Purnomo Yusgiantoro, Ekonomi Energi: Teori dan Praktek, Jakarta : LP3ES, 2000 hlm. 324
8 Dengan penyerahan itu, pemerintah daerah menjadi otonom dan tanpa dikontrol oleh pemerintah pusat yang telah menyerahkan itu kepada pemerintah daerah. Sedangkan menurut RDH. Koesoemahatmadja menyatakan bahwa desentralisasi merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah-daerah yang mengurus rumah tangganya sendiri, sedangkan dekonsentrasi (deconcentratie) atau ambtelijke decentralisatie yaitu pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkatan lebih atas kepada bawahnya guna melancarkan pekerjan di dalam melaksanakan tugas pemerintahan.25
Kemudian secara umum, terdapat dua jenis kewenangan yang limpahkan kepada pemerintah daerah, yakni (1) Kewenangan teknis pengelolaan sumber daya alam kewenangan ini erat kaitannya dengan peraturan perundang-undangan berupa perizinan untuk penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya alam daerah; (2) Kewenangan mengatur dan mengurus sumber daya alam yang merupakan satu kesatuan yang utuh baik pengelolaan yang meliputi perencanaan, pemanfaatan/pengelolaan, pemulihannya, maupun kelembagaan, administrasi dan penegakan hukum.
Desentralisasi dalam urusan pemerintahan pilihan terdapat berbagai bentuk dan jenis desentralisasi sebagaimana telah dijabarkan. Masing-masing sumber daya alam diatur tersendiri dan berdiri sendiri serta sekaligus menentukan jenis desentralisasi dan sejauhmana desentralisasi dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah direalisasikan. Pengaturan yang sendiri-sendiri itulah yang seringkali membedakan ukuran desentralisasi antara satu bidang dengan bidang lainnya.26
Dalam hal ini, karakter Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah dalam hal penyelengaraan urusan pemerintahan pilihan bisa dikatakan berpotensi mengembalikan bandul kewenangan kepada pemerintah pusat (resentralisasi) dengan corak pemerintahan daerah berdasarkan desentralisasi dalam arti dekonsentrasi kendati menunjukan kemunduran dengan menyisakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam hal perencanaan dan pembuatan peraturan daerah serta pengelolaan taman nasional.
Argumentasi pada halamanan sebelumnya dapat ditinjau lebih lanjut Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo pada 24 Februari 2016, melakukan pengujian Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi [Pasal 5 ayat (1) huruf b, Pasal 6 ayat (1) huruf c, dan Pasal 23 ayat (2)] dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah [Lampiran CC Angka 4 pada Sub Urusan Energi Baru Terbarukan] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hingga tulisan ini disusun majelis hakim Mahkamah Konstitusi belum mengeluarkan putusan.
B. Ambivalen Otonomi Daerah atas Penyelengaraan Urusan Pemerintahan Pilihan Dihubungkan dengan Peraturan Perundang-Undangan Terkait
Dari uraian sebelumnya, nampak sikap ambivalen pemerintah pusat antara hak, kewenangan, dan kewajiban urusan pemerintahan dalam konteks pengertian otonomi daerah sebagaimana termuat Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Otonomi Daerah; Pengaturan Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Negara Kesatuan Repubik Indonesia.
25 RDH. Koesoemahatmadja, Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia, Bina Cipta,1979, hlm. 14.
26 Bernadinus Steni, Desentralisasi, Koordinasi dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Pasca Otonomi
9 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ini mengamanatkan secara langsung bahwa ketetapan ini tetap berlaku sampai dengan terbentuknya undang-undang tentang pemerintah daerah sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Selanjutnya penyelengaraan otonomi daerah, memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab di daerah secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hal ini penyelengaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan memperhatikan keanekaragaman daerah serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dilaksanakan dengan memperhatikan: (1) Potensi daerah; (2) Luas daerah; (3) Jumlah penduduk; (4) Keadaan geografi; (5) Tingkat pendapatan masyarakat di daerah.
Dalam rangka menjalankan kewenangan tersebut, Pemerintah daerah berwenang mengelola sumber daya alam nasional berupa sumber daya alam, sumber daya buatan, dan sumber daya manusia yang tersedia di daerah. Dalam hal ini materi norma hukum sebagaimana tercantum Pasal 14 Undang-Undang No. 23 Tahun jo. 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai sarana pemerintah pusat untuk menata kembali hubungan pemerataan pembangunan dengan pemerintah di satu sisi, sementara di sisi lain pemerintah pusat menerapkan kebijakan resentralisasi dikarenakan desentralisasi diartikan secara sempit sebagai penghambat pembangunan tenaga listrik panas bumi. Adapun sebagai gambaran atas pembangunan pembangkit tenaga listrik dari masa ke masa dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini:27 Tabel di atas menggambarkan, urusan pemerintahan pilihan tidak seluas-luasnya diserahkan kepada daerah otonom dikarenakan, pada bidang dimaksud bernilai ekonomi dan bersifat sangat strategis dalam menunjang ketahanan energi nasional sehingga secara tegas ditarik kembali menjadi bagian dari kewenangan pemerintah pusat.28 Lebih lanjut, otonomi
dan resentralisasi dalam hubungannya dengan urusan pemerintahan pilihan setidaknya terdapat beberapa perubahan penting yang terjadi dalam urusan pemerintahan tersebut diantaranya:29
1. Perubahan kewenangan dalam pengelolaan sumber daya alam;
2. Perubahan kewenangan dalam sumber-sumber keuangan (pajak dan retribusi).
3. Memindahkan alokasi anggaran dari pemerintah pusat ke tingkat daerah namun, prinsip dasar yang menyatakan bahwa sumber daya alam adalah milik negara tidak berubah.
27 Penelitian dan pengembangan kompas, diolah dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kompas, 9 Januari 2015. 28 I Nyoman Nurjaya, Pengelolaan Sumber Daya Alam Dalam Perspektif Antropologi Hukum, Prestasi Pustaka Publisher, 2008, Jakarta, hlm. 39-45.
10 Beberapa perubahan dalam kerangka resentralisasi tersebut, menyiratkan konsep tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa mengacu definisi oleh Bank Dunia
sebagai the way of state is used in managing economic and social resource for development of society dari definisi tersebut Bank Dunia mengidentifikasi 3 (tiga) aspek atas konsep tersebut antara lain: (1) Bentuk sistem pemerintahan ketatanegaraan; (2) Proses dimana kewenangan dijalankan untuk mengelola sumber daya ekonomi dan sosial untuk pembangunan serta (3) Kapasitas pemerintah untuk merancang, memformulasikan dan menerapkan setiap peraturan perundang-undangan guna menjalankan fungsinya.30
Sebagaimana dijelaskan pada butir (2) dan (3) menurut Herlambang Wiratraman dapat ditinjau dari sasaran yang senantiasa berpusat pada efisiensi pengelolaan sumber daya alam dan menopang pertumbuhan ekonomi disertai elemen-elemen kunci berupa akuntabilitas, kepastian hukum, transparansi, dan partisipasi.
Namun, elemen-elemen kunci ini belum berimbang urusan perlindungan hak-hak asasi manusia misalnya dalam urusan pemerintahan wajib (penataan tata ruang) dan urusan pemerintahan yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar (lingkungan), bukanlah urusan yang penting dalam kerangka tata kelola pemerintahan yang baik. A contrario, berarti, tata kelola pemerintahan yang baik akan menempatkan posisi pasar energi terbarukan secara dominan, dan urusan-urusan publik yang dimaksudkan pun telah diseleksi.31
Dalam hal ini memungkinkan terjadinya perselisihan dalam hal kewenangan urusan pemerintahan yang turut melibatkan kepentingan masyarakat umum hal ini dapat ditinjau dari dua segi: (1) Pengaturan kewenangan tersebut tersebar dalam berbagai undang-undang sektoral sampai dengan saat ini terdapat sebagian yang telah dan belum disesuaikan dengan Undang-Undang 23 Tahun 2014; (2) Pelimpahan urusan pemerintahan tidak sama dalam pembagian kewenangannya sebagaimana diatur dalam undang-undang sektoral,32 sehingga
memunculkan implikasi sebagaimana kemukakan oleh Bagir Manan disebut dengan spanning antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.33
Terkait kondisi sebagaimana dimaksud oleh Bagir Manan bersinggungan dengan kewenangan dan wewenang dalam hal ini menurut Prajudi menjelaskan kewenangan adalah apa yang disebut kekuasaan formal, kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif (diberikan oleh Undang-undang) atau dari Kekuasaan eksekutif administratif.34
Kewenangan (yang biasanya terdiri atas beberapa wewenang adalah kekuasaan terhadap segolongan orang-orang tertentu atau kekuasaan terhadap suatu bidang pemerintahan (atau bidang urusan) tertentu yang bulat, sedangkan wewenang hanya mengenai sesuatu onderdil tertentu saja. Jadi, menurut Prajudi di dalam kewenangan terdapat wewenang-wewenang (rechbevoegheden).35
Namun, beberapa literatur menggunakan kata kewenangan dan wewenang secara bergantian.36 Kewenangan dan wewenang kadangkala dikaitkan dengan kekuasaan. Menurut
Bagir Manan, wewenang dalam hukum tidak sama dengan kekuasaan (macht).37 Kekuasaan
30 Lilin Budiati, Good Governance Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Cetakan I, Ghalia Indonesia, Bogor, 2012, hlm. 48-49. 31 Digest Epistema, Volume 3 Tahun 2013, Herlambang P. Wiratraman, Good Goovernace dan Pembaruan Hukum di Indonesia:
Refleksi dalam Penelitian Sosio-Legal, hlm. 21.
32 Badan Pembinaan Hukum Nasional, Naskah Akademik Rancangan tentang Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, hlm. 36, http://www.bphn.go.id/data/documents/naskah_akademik_ruu_tentang _hubungan_kewenangan_pemerintah.pdf. 33 Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994, hlm. 22-23. 34 S. Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Cetakan ke-10, Jakarta, 1994, hlm. 78.
35 Ibid. 36Ibid.
11 hanya menggambarkan hak untuk berbuat dan tidak berbuat sedangkan dalam hukum, wewenang sekaligus berarti hak dan kewajiban (rechten en plichten).38 Baik kewenangan
maupun wewenang yang utama adalah harus berdasarkan peraturan perundang-undangan, sesuai dengan asas legalitas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Asas legalitas menurut
H.D. van Wijk dan Willem Konijnenbelt dinamakan juga kekuasaan undang-undang (de heerschappij van de wet).39 Sedangkan, menurut Sjachran Basah, asas legalitas adalah upaya
mewujudkan gabungan integral secara harmonis antara paham kedaulatan hukum dan paham kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip monodualistis selaku pilar-pilar yang sifat hakikatnya konstitutif.40
Namun, dalam praktik pengusahaan panas bumi dalam kawasan hutan sebelum perubahan Undang-Undang No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi sebagaimana tertuang dalam Nota Kesepahaman Antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Mineral dengan Kementerian Kehutanan No. 7662/05/MEM.S/2001 dan Nomor NK.16/Menhut-II/2011 tentang Percepatan Perizinan Pengusahaan Panas Bumi Pada Kawasan Hutan Produksi, Kawasan Hutan Lindung, dan Kawasan Hutan Konservasi, menyimpang dari maksud dan tujuan dari penetapan kawasan hutan tersebut sehingga tidak lagi bermakna apapun serta pandangan para pakar hukum tersebut tidak dijadikan landasan pembentukan hukum.
Di samping itu secara jelas menyalahi Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 jo. 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan menyatakan Perubahan peruntukan kawasan hutan yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, ditetapkan oleh pemerintah dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat, sehingga kepastian hak hukum masyarakat untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat terciderai.
Sedangkan dalam hal pemanfaatan kawasan hutan dalam hal pengusahaan panas bumi dapat dilakukan pada semua kawasan hutan produksi dan hutan lindung melalui pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan dan izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. Sejalan dengan kawasan konservasi sebagai hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba secara tegas dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (4) Undang-Undang No 41 Tahun 1999 jo. 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan.
Atas penyimpangan tersebut Salim HS berpendapat bahwa pada prinsipnya, kegunaan kawasan hutan harus sesuai dengan fungsi dan peruntukannya. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan penggunaan kawasan yang menyimpang dengan fungsi dan peruntukannya dengan syarat ada persetujuan dari Menteri Kehutanan.41
Dari penjelasan ini pengusahaan panas bumi dalam kawasan hutan terkait dengan perizinan dalam kawasan hutan produksi dan hutan lindung sebagaimana di awal telah disinggung merupakan kewenangan pemerintah kabupaten dan kota ditarik oleh kementerian kehutanan dan kementerian energi dan sumber daya mineral sehingga kewenangan sebagaimana termaktub dalam beberapa peraturan perundang-undangan tidak efektif diberlakukan.
C. Alasan Keilmiahan Pengusahaan Panas Bumi dalam Kawasan Hutan Sebagai Komoditas Bersama
Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) huruf B Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang jelas menetapkan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat sebagai salah satu instrumen hukum dalam tata urut pembentukan peraturan perundang-undangan, dengan demikian setiap
38 Ibid. 39Ibid. hlm. 94.
12 peraturan perundang-undangan mengenai sumber daya alam sebagaimana telah disinggung sebelumnya erat hubungannya dengan diterbitkannya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Rakyat Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agaria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Selain itu ketetapan ini memilah dua bidang Pasal 2 (pembaruan agraria), Pasal 3 (pengelolaan sumber daya alam), dan arah kebijakan dalam Pasal 5 ayat (1) menyangkut pembaruan agraria serta Pasal 5 ayat (2) mengenai pengelolaan sumber daya alam.
Namun demikian, lingkup pengelolaan sumber daya alam dalam ketetapan tersebut belum menjelaskan secara rinci meliputi (1) Definisi tentang sumber daya alam, (2) Tata cara pengikutsertaan peran serta masyarakat umum dalam pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam; (2) butir 5 sebagaimana dimaksud di atas, menunjukan pengelolaan lingkungan hidup dan penataan tata ruang untuk mengendalikan dan membatasi gerak pemerintah maupun masyarakat dalam kegiatan baik dalam bidang usaha pertanian, perkebunan, dan kehutanan; (3) Menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara kepentingan negara, kepentingan umum, dan kepentingan perorangan.
Dari beberapa hal tersebut, merujuk penjelasan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, mengenai sumber daya alam didefinisikan sebagai stock dalam arti sumber daya alam yang tersedia dalam jumlah, kualitas, tempat, dan waktu tertentu sedangkan flows adalah aliran sumber daya alam baik berupa penambahan maupun pengurangan stock yang ada di alam. Sedangkan menurut Kartodihardjo dapat digolongkan menjadi dua bentuk yakni stock (sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui) dan flow (sumber daya alam dapat diperbaharui):
(1) Pengertian stock merupakan sumber daya alam sebagai entitas bebas dan dapat diakses oleh masyarakat sebagai contohnya adalah hutan, gunung, pesisir pantai, maupun danau, kawasan lindung;
(2) Stock sebagai faktor produksi atau sebagai komoditas seperti kayu, air, dan lain sebagainya. Lebih lanjut modal alam ini dapat menghasilkan fungsi-fungsi yang intangible seperti menampung air, mencegah terjadinya banjir di musim hujan, mengendalikan kekeringan di musim kemarau, menyerap CO2 yang ada di udara,
mempertahankan kesuburan tanah, mengurai berbagai bahan beracun, dapat dimanfaatkan bagi alokasi penyediaan energi terbarukan beberapa fungsi ini tidak dapat dibagi-bagikan kepada perorangan dan tidak dapat dimiliki oleh perorangan, meskipun setiap orang memerlukannya.
Dari pengertian di atas, stocks sendiri mengindikasikan sumber daya alam dimaknai sebagai sumber ekonomi yang dapat diekstrasi dan dikomersialisasikan menjadi komoditas harga tinggi. Sumber daya alam sebagai stocks sendiri tidak dapat diperbaharui yakni apa yang dimanfaatkan sekarang tidak dapat dimanfaatkan kemudian hari. Hal inilah yang menjadikan tingkat pemanfaatan komoditas tidak seperti flows yang dapat digunakan sepanjang generasi manusia.42
Selanjutnya dihubungkan dengan penyelengaraan urusan pemerintahan pilihan dalam peningkatan daya saing industri nasional dan pertumbuhan ekonomi erat kaitannya alokasi penyediaan energi listrik melalui panas bumi dalam kawasan hutan bersinggungan atas peningkatan permintaan konsumsi listrik baik dari sisi penawaran atas penyediaan energi primer di bagian hulu kemudian pada sisi permintaan berkaitan dengan permintaan energi final di konsumen akhir termasuk usaha diversifikasi, efisiensi dan konservasi energi.43
13 Menurut Saptadji, keunggulan dari energi panas bumi adalah dalam faktor kapasitas (capacity factor), yaitu pe a di ga a ta a e a ata‐ ata ya g di a gkitka oleh pembangkit dalam suatu periode (average load generated in period) dengan beban maksimum yang dapat dibangkitkan oleh PLTP tersebut (maximum load). Faktor kapasitas dari pembangkit
list ik pa as u i ata‐ ata 9 %, jauh le ih ti ggi ila di a di gka de ga fakto kapasitas da i pe a gkit list ik ya g e ggu aka atu a a, ya g esa ya ha ya 0‐ 0%.44
Sedangkan menurut Asplund, kelemahan energi panas bumi antara lain adalah sebagai berikut: pembangkit listrik panas bumi hanya ekonomis di daerah panas bumi aktif; pembangkit listrik panas bumi membutuhkan investasi yang sangat mahal untuk eksplorasi, pengeboran, dan pembangunan pembangkit; pembangunan pembangkit listrik panas bumi dapat mempengaruhi stabilitas tanah di daerah sekitarnya dan aktivitas seismik dapat timbul karena pengeboran; sumber panas bumi dapat habis jika tidak dikelola dengan baik.45 Sejalan
dengan itu pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi sebagai terbarukan dan ramah lingkungan berpotensi untuk dibiayai dengan mekanisme pembangunan bersih dalam Protokol Kyoto.
Namun demikian, menurut Andri G Wibisana dari mekanisme pembangunan bersih tersebut tidak lepas dari pendekatan ekonomi (voluntary compliance/market based approach) dan pendekatan pentaatan (compliance approach) yang bersifat komprehensif (command and control approach) bagi negara yang berhasil dalam hal ini seperti Filipina misalnya berhasil menurunkan emisi memiliki sisa emisi yang bisa dijual kepada pihak lain emisinya melebihi kuota (cap and trade) mendorong beberapa negara menerapkan metode ini dalam payments for environmental services, perdagangan karbon di bawah rezim Protokol Kyoto, atau proposal pendanaan proyek REDD+.
Gagasan dasarnya tetaplah sama yaitu komodifikasi fungsi ekologis lingkungan. Sehingga membentuk proses isolasi fungsi lingkungan seperti ini merupakan bentuk fetisisme komoditas. Isolasi ini memungkinkan diuangkannya alam, tetapi gagal melihat kompleksitas fungsi ekologis. Hubungan manusia dengan alam pun direduksi menjadi hubungan dagang. Kawasan hutan tidak lagi dinilai dalam konteks fungsi sosial, budaya, dan relasi ekologisnya dengan manusia.
Di samping berpotensi mereduksi fungsi ekologis alam dan relasi alam-manusia, model perdagangan karbon juga dapat mengubah motivasi konservasi menjadi sepenuhnya mengikuti logika pasar. Akibatnya, tidak ada jaminan bahwa konservasi lingkungan akan tetap dilakukan jika harga karbon jatuh atau jika opportunity costs konservasi meningkat. Dalam konteks ini, beberapa kalangan berulangkali menyampaikan kekhawatiran bahwa jika tidak dilaksanakan secara hati-hati, proyek semacam REDD+ bisa mengukuhkan ketidakadilan sosial yang semakin memarjinalkan masyarakat adat.46
D. Studi Pemanfaatan Panas Bumi di Gunung Ciremai
Di lokasi yang berbeda dalam wilayah Jawa Barat yaitu di Gunung Ciremai berada dalam perlintasan wilayah administratif antara Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai wilayah kawasan panas bumi berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 15 Tahun 2010
44 Nenny Saptadji, Energi Panas Bumi, http://www.dpmb.esdm.go.id,diunduh 26 Maret 2015
45Asplu d, Ri ha d W, P ofiti g f o Clea E e gy: a Co plete Guide to T adi g G ee i “ola , Wi d, Etha ol, Fuel Cell, Powe
Effi ie y, Ca o C edit I dust ies, a d Mo e P ofiti g f o Clea E e gy , New Je sey, Joh Wiley & Sons, Inc., 2008 hlm.
164-165.
46 Andri G Wibisana, Economic instruments: Suited to developing countries, http://ssrn.com/abstract=2361420, Diunduh 26 Maret
14 tentang Daftar Proyek-Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait, dalam peraturan ini menerangkan bahwa estimasi kapasitas panas bumi dalam Gunung Ciremai sebesar 110 MWe didasari oleh proses survei pendahuluan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dari nilai potensi tersebut selanjutnya diselengarakan pelelangan oleh Direktorat Jenderal Energi Terbarukan dan Konversi Energi kemudian menetapkan PT. Chevron Geothermal Indonesia sebagai pemenang tender pada tahun 2014.
Pada tahap ini pemenang tender dapat secara langsung melakukan ekspolitasi melalui pemberian izin ekspolitasi oleh Gubernur Jawa Barat dengan didukung oleh penggunaan lahan kawasan hutan oleh kementerian kehutanan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No: SK.424/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Pada Kelompok Hutan Gunung Ciremai Seluas 15.500 (Lima Belas Ribu Lima Ratus) Hektar Terletak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat Menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai. Kemudian dalam lingkup berdasarkan Pasal 47 ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan No. 26 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kuningan telah menetapkan 5 kecamatan antara lain (1) Kecamatan Cigugur; (2) Kecamatan Cilimus; (3) Kecamatan Darma; (4) Kecamatan Jalaksana; (5) Kecamatan Mandirancan; (6) Kecamatan Pasawahan dalam wilayah kerja panas bumi Gunung Ciremai sedangkan diluar wilayah tersebut terdiri dari (1) Kecamatan Cigandamekar; (2) Kecamatan Subang; dan (3) Kecamatan Cibingbin.
Namun demikian, menyulut perselisihan perlindungan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam47 atas penggunaan lahan kawasan hutan dengan ditetapkan wilayah kerja
panas bumi tersebut oleh masyarakat lokal yang tergabung dalam Gerakan Masa Pejuang Untuk Rakyat didasari akan merusak 300 situs budaya di wilayah tersebut dan akan mengurangi akses masyarakat untuk memanfaatan hasil tanamannya dalam kawasan hutan.48
Di samping permasalahan tersebut, memunculkan kerawanan atas ketersediaan air pada tahun 2004 antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan Pemerintah Kota Cirebon telah menggunakan air dari Pemerintah Kabupaten Kuningan semenjak tahun 1830 yang bersumber dari mata air Cipaniis terletak di Desa Paniis, di kaki Gunung Ciremai.49 Pemakaian air yang
sebelumnya telah lama terjadi berjalan normal tanpa ada perselisihan sama sekali.
Akan tetapi setelah desentralisasi digulirkan, Pemerintah Kabupaten Kuningan kemudian mulai meminta kompensasi atas penggunaan air dari wilayahnya. Sebelumnya, Pemerintah Kota Cirebon telah membayar pajak penggunaan air bawah tanah ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdasarkan Pasal 15 ayat (2) huruf a harus dibagi dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan sebagai pihak yang memiliki mata air.50
Semenjak tuntutan dari Kabupaten Kuningan untuk menerima langsung kompensasi pemanfaatan air, perselisihan air di dua wilayah ini mulai mencuat yang kemudian melahirkan nota kesepahaman bersama antara pemerintah Kota Cirebon dan Kabupaten Kuningan pada tahun 2004.51 Dalam nota kesepahaman ini menghasilkan beberapa kesepakatan. Pertama,
batas air yang bisa dipakai oleh Kota Cirebon sebesar 860 liter per detik untuk itu Kabupaten Kuningan membuat gate valve sebagai alat pengatur debit air. Kedua, Kota Cirebon harus
47 Van Vollenhoven Institute, Leiden University dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Efektivitas Penyelesaian Sengketa
Lingkungan Hidup di Indonesia, 2011, hlm. 7. 48 Wawancara dengan narasumber, 14 Maret 2014
49 Jurnal Demokrasi dan HAM Vol. 10, 2013,The Habibie Center, hlm. 11. 50 Ibid.
15 membayar uang kompensasi sebesar Rp. 80,- per meter kubik air yang dikonsumsi oleh pelanggan PDAM Kota Cirebon. 52
Uang kompensasi ini jumlahnya beragam tiap tahun, namun rata-rata Kota Cirebon membayarkan uang kompensasi sebesar 2 miliar rupiah per tahun ke Kabupaten Kuningan uang ini menurut kesepakatan akan digunakan untuk program konservasi agar keberadaan mata air tetap bisa terjaga. Perselisihan mengenai air kemudian kembali muncul pada tahun 2008 karena Kota Cirebon dipandang tidak mau membayar kompensasi tahun 2008 senilai 1.7 millair rupiah. Kabupaten Kuningan mulai menutup aliran air sehingga Kota Cirebon sepanjang tahun 2008 menghadapi demonstrasi penduduk yang kekurangan air.
Walaupun sampai saat ini belum memunculkan perselisihan yang cukup signifikan setelah tahun 2008, potensi untuk munculnya konflik air di dua daerah ini masih mungkin terbuka mengingat kebijakan penanggung jawab pengelolaan air sampai saat ini belum jelas.53
C. Kesimpulan
Ditariknya beberapa kewenangan pemerintah daerah oleh pemerintah pusat dalam hal urusan pemerintahan pilihan menunjukan kemunduran dalam penyelengaraan desentralisasi, khususnya atas kebijakan energi berupa pemanfaatan panas bumi dalam kawasan hutan yang berada di wilayah pemerintah kabupaten dan kota untuk menyediakan alokasi penyediaan kebutuhan akan energi final yang bernilai strategis bagi hajat hidup orang banyak selain itu memperolah manfaat dari penjualan emisi karbon dalam kerangka negara kesatuan, kendati demikian tak dapat dipungkiri kebijakan tersebut dapat memunculkan perselisihan dalam hal perlindungan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam pada posisi ini rencana pembangunan jangka menengah nasional yang diselengarakan bersama antarpemangku kepentingan perlu diselenggarakan dengan hati-hati dikarenakan disatu sisi kawasan hutan memberikan nilai keekonomian dan nilai pemanfataan sumber daya alam sebagai komoditas bersama di sisi lain hutan sebagai penyangga kehidupan dapat memicu ketidakadilan sosial bagi masyarakat lokal khususnya masyarakat adat di Jawa Barat.
Daftar Pustaka Buku dan Jurnal
Asplund, Richard W, Profiting from Clean Energy: a Complete Guide to Trading Green in Solar, Wind, Ethanol, Fuel Cell, Power Efficiency, Carbon Credit Industries, and More Profiting from Clean Energy, New Jersey, John Wiley & Sons, Inc., 2008.
Atiqah Nur Alami, Politik Luar Negeri Indonesia dan Isu Keamanan Energi, LIPI Press, 2014. Anu Launela dan R. Yando Zakaria, Berebut Tanah, Beberapa Kajian Perspektif Kampus dan
Kampung, Cetakan Pertama, Insist Press, Yogyakarta, 2002..
Andri G Wibisana, Economic instruments: Suited to developing countries http://ssrn.com/abstract=2361420,
Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994.
Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2005.
Biro Perencanaan Kementerian Perindustrian, Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri, 2012.
Badan Pembinaan Hukum Nasional, Naskah Akademik Rancangan tentang Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, 2011.
16 Buku I Agenda Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
2015-2019, Bappenas, 2014.
Digest Epistema, Volume 3 Tahun 2013, Herlambang P. Wiratraman, Good Goovernace dan Pembaruan Hukum di Indonesia: Refleksi dalam Penelitian Sosio-Legal.
Francisia S. S. E. Seda, Dinamika Sumber Daya Alam, Negara Developmentalis, dan Masyarakat: Persepktif Sosiologi Perubahan Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta, 2014,
Sjachran Basah, Perlindungan Hukum atas Sikap Tindak Administrasi Negara, Alumni, Bandung, 1992
Salim HS, Hukum Pertambangan di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010 Yance Arizona, Karakter Peraturan Daerah Sumberdaya Alam. HuMa, Jakarta, 2008.
RDH. Koesoemahatmadja, Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia, Bina Cipta, 1979.
Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Pers, 2006.
Purnomo Yusgiantoro, Ekonomi Energi: Teori dan Praktek, Jakarta : LP3ES, 2000.
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Hukum Tata Negara, Sekertariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jilid II, 2006.
I Nyoman Nurjaya, Pengelolaan Sumber Daya Alam Dalam Perspektif Antropologi Hukum, Prestasi Pustaka Publisher, 2008.
Lilin Budiati, Good Governance Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Cetakan I, Ghalia Indonesia, Bogor, 2012.
S. Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Cetakan ke-10, Jakarta, 1994.
Van Vollenhoven Institute, Leiden University dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Efektivitas Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Indonesia, 2011,
Jurnal Demokrasi dan HAM Vol. 10, 2013, Pengelolaan Sumber Daya Alam di Indonesia dan Permasalahannya,The Habibie Center.
Dokumen Lain
Bernadinus Steni, Desentralisasi, Koordinasi dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Pasca Otonomi Daerah,
http://huma.or.id/wp-content/uploads/2006/08/Desentralisasi-koordinasi-dan-partisipasi-Masyarakat_Steny.pdf
“u yada a et al, Geothe al Resou e Risk I I do esia –A “tatisti al I ui y , Pape
Presented at the 30th Workshop on Geothermal Reservoir Engineering, Stanford University, Stanford, California, 31 Januari–2 Februari 2011
http://esdm.jabarprov.go.id/index.php/en/2014-12-23-08-20-21/panas-bumi.
http://www.esdm.go.id/berita/45-panasbumi/3405-hambatan-pengembangan-panas-bumi-harus-dihilangkan.html.
http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/info_5_1 _0604/isi_3.html.
Nenny Saptadji, Energi Panas Bumi, http://www.dpmb.esdm.go.id.
Media Cetak