• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI SUMBER PAKAN BABIRUSA Babir (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IDENTIFIKASI SUMBER PAKAN BABIRUSA Babir (1)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI SUMBER PAKAN BABIRUSA (Babirusa Babirousa) DI CAGAR ALAM NANTU PROVINSI GORONTALO

Dian Puspaningrum

Staf Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Gorontalo

Abstrak

(2)

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Negara tropis Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang menonjol. Pulau Sulawesi sebagai salah satu pulau di Indonesia sangat kaya akan spesies endemik baik flora maupun fauna. Sayangnya sebagian besar kini menghadapi resiko kepunahan. Salah satunya adalah babirusa (Babirusa babirousa) yang memerlukan upaya konservasi sehingga keberadaannya di alam dapat dipertahankan mengingat jenis serta komposisi dari pakan utama Babirusa di habitat aslinya belum banyak diketahui oleh karena kurangnya studi mengenai hal itu. Salah satu upaya untuk melestarikan Babirusa adalah dengan memperbanyak jenis-jenis vegetasi yang digemari oleh Babirusa. Dengan demikian diharapkan daya dukung alam secara khusus habitat Babirusa dalam menyediakan sumber pakan yang mencukupi dapat dipertahankan. Kawasan Wallacea memiliki keanekaragaman yang tinggi termasuk berbagai jenis flora dan fauna endemik. Kawasan ini juga memiliki jenis satwa yang berbeda dengan yang ada di bagian barat dan timur nusantara. Jenis satwa dan tumbuhan yang ada merupakan perpaduan wilayah barat dan timur, namun jenis yang dijumpai berbeda dengan jenis-jenis berbeda dengan jenis-jenis di wilayah penyebaran leluhurnya karena berbagai jenis satwa dan tumbuhan tersebut telah mengalami isolasi genetic dalam waktu evolusi yang sangat lama sehingga muncul spesies-spesies baru. Sulawesi merupakan pulau terbesar di bio-region Wallacea, memiliki peran yang sangat penting dalam hal pelestarian keanekaragaman hayati khususnya berbagai jenis satwa dan tumbuhan langka dan endemik..

Tujuan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :

1. Mengetahui jenis-jenis serta komposisi pakan utama Babirusa di habitat aslinya

2. Mengetahui kelimpahan masing-masing jenis pakan utama Babirusa di habitat aslinya.

Manfaat

(3)

II. METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat

Peneitian ini dilaksanakan di Suaka Margasatwa Nantu Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan mulai bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2013.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain adalah Kompas, Meteran (30 m), Meteran Jahit, Tambang Plastik, Tali Rafia, Penunjuk Waktu, GPS, Kalkulator, Alat tulis, dan Kamera. Adapun bahan yang digunakan adalah peta rupa bumi, dan tally sheet pengamatan satwa dan vegetasi.

Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yang dimaksud adalah data yang berhubungan dengan sumber pakan babirusa yaitu jenis-jenis makanan yang sering dimakan oleh Babirusa. Sedangkan, data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi terkait serta sumber referensi lainnya yang meliputi data awal mengenai jumlah babirusa,

Analisis Data

Pengambilan data untuk melakukan Survey Pakan Babirusa diambil dengan melakukan analisis vegetasi. Analisis vegetasi dilakukan dengan membuat plot untuk mengetahui kondisi vegetasi pada habitat Babirusa yang berbeda. Penempatan plot dilakukan pada areal ditemukannya Babirusa dan dianggap merupakan areal yang paling mewakili.

Data hasil pengamatan tumbuhan yang dikumpulkan dari lapangan digunakan untuk menghitung frekuensi, kerapatan, dominansi, dan indeks nilai penting suatu jenis vegetasi. Nilai-nilai tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk nilai mutlak maupun nilai relatif dengan persamaan sebagai berikut :

Kerapatan (ind/ha) = Jumlah individu suatu jenis Luas petak contoh (ha) Kerapatan Relatif = Kerapatan suatu jenis x 100 %

Kerapatan total

Frekuensi = Jumlah Petak suatu spesies x 100 % Jumlah seluruh petak

Dominansi (M2/ha) = Lbds suatu jenis (m2 ) Luas petak contoh (ha)

Dominansi Relatif (%) = Dominansi suatu jenis x 100 % Dominansi total

Frekuensi = ∑ Petak contoh jenis ke-i ∑ Petak contoh

Frekuensi Relatif (%) = Frekuensi jenis ke-i x 100 % Frekuensi total

(4)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil survey di lapangan yang telah dilakukan sebelumnya maka diketahui bahwa ada berbagai jenis tanaman yang dapat dikategorikan menjadi pakan babirusa. Sebelumnya ditentukan beberapa kubangan habitat babirusa sebagai sampel lokasi yang disekitarnya akan disurvey beberapa jenis pakan yang sering menjadi konsumsi babirusa. Setelah dilakukan penentuan kubangan, maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah pembuatan plot pengambilan sampel pakan dengan menjadikan kubangan sebagai center point bagi pembagian plot.

Jenis Pakan

Jenis pakan yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah antara lain jenis tanaman Aren (Arenga pinnata), Rotan (Calamaus sp), Pangi (Pangium endule, Woka/Lontar/Siwalan, Awar-awar (Ficus sp), Kopi Gunung (Anacolosa frutescens), Palem Kool ( Licuana grandis), Palem Gelora (Arenga undulatifolia), Rao/Dahu (Dracontomelon Dao), Bayur (Pterospermum javanicum).

Tingkat Kelimpahan Jenis Pakan

Untuk mengetahui tingkat kelimpahan masing-masing jenis pakan maka dilakukan perhitungan berdasarkan tingkat kerapatan dan frekuensi serta tingkat dominansi masing-masing pakan yang ditemukan. Berdasarkan hasil tersebut maka diperoleh bahwa jenis pakan yang paling sering ditemui dan diasumsikan dikonsumsi oleh babirusa adalah jenis tanaman Rao (Dracontomelon Dao) dengan indeks nilai kelimpahan sebesar 83,85 % sedangkan jenis pakan yang nilai indeks kelimpahan paling kecil dimiliki oleh jenis rotan (Calamus sp) yaitu sebesar 1,97 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis yang paling sering dikonsumsi oleh babirusa berdasarkan survey yang dilakukan disekitar habitat hidupnya adalah jenis tanaman Rao (Dracontomelon Dao). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Tingkat Kelimpahan Jenis Pakan Babirusa di Suaka Margasatwa Nantu.

NO Jenis Pakan ∑KR(%) ∑FR(%) ∑DR(%) ∑INP(%) 1 Arenga Pinnta 10.00 17.88 12.89 40.77

2 Anacolosa Frutescens 3.75 2.86 0.67 7.28

3 Dracontomelon Dao 16.25 17.88 49.72 83.85

4 Livistona Roduntofilia 26.25 25.75 9.16 61.16 5 A. undulatifolia 13.75 11.44 4.38 29.58

6 Upolodihe 1.25 0.72 0.79 2.76

7 Pterospermum javanicum 3.75 4.29 9.47 17.51

8 Licuana Grandis 7.50 6.44 1.13 15.06

(5)

10 Ficus sp 1.25 0.72 0.32 2.28

11 Calamus sp 1.25 0.72 0.00 1.97

IV. PENUTUP Kesimpulan

Dari hasil pembahasan di atas secara garis besar pada umumnya Babirusa (Babyrousa babyrussa) menyukai makanan berupa buah dan dedaunan seperti Woka/Lontar/Siwalan (Livistona Roduntofilia) barekrabat dekat dengan ( Borassus flabellifer), Aren (Arenga Pinata), Rottan (Calamaus sp) , Pangi (Pangium Endule), Woka/Lontar/Siwalan (Livistona Roduntofilia) berkerabat dekat dengan (Borassus flabellifer), Awar-awar (Ficus sp), Kopi Gunung (Anacolosa Frutescens), Palem Kool ( Licuana Grandis), Palem Gelora (Arenga Undulatifolia), Rao/Dahu (Dracontomelon Dao), Bayur (Pterospermum javanicum). Kadang kala babirusa juga terlihat sering mengais pohon-pohon tumbang yang telah membusuk, kemungkinan hal dilakukan oleh babirusa untuk sumber protein hewani berupa ulat atau cacing.

Saran

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, H.M. 2011. Konservasi Anoa dan Babirusa Sulawesi.

http://abdulharismustari.blogspot.com/. [diakses tanggal 24 juni 2013].

Alamendah. 2010. Babirusa Hewan Endemik Sulawesi Indonesia.

http://alamendah.org/2010/05/13/babirusa-hewan-endemik-sulawesi. [diakses tanggal 24 juni 2013].

Anonym. 2011. Inventarisasi Babirusa Di SPTN I Suwawa. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Sulawesi Utara.

Elhayat Labiro. 2007. Identifikasi Dan Analisis Kimia Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Satwaliar Babirusa (Babyrousa Babyrousa) Di Kawasan Hutan Cagar Alam Pangi Binangga, Sulawesi Tengah : Laporan Penelitian. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Erna Suzanna. 1999. Karakteristik Genetik Pada Rusa Jawa (Cerius timrensis de Blainville 1882), Babirusa (Babirousa babyrussa), dan Babi (Sus scrofa Linn). Jurnal Media Konservasi Vol. VI No.1.

Fiqman, S. 2013. Kepulauan Togean Menyimpan Populasi Babirusa Terbesar. Antara News. Sulawesi Utara.

Kementrian Kehutanan. 2013. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Babirusa (babyrousa babyrussa) Tahun 2013-2022. Jakarta.

Reksowardojo, D.J. 1995. Studi Kemampuan dan Produksi Babirusa (Babyrousa babyrussa celensis Deniger). Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Ronny Adolfo. 2016. Babirusa Beruntung Punya Hutan Nantu. Harian Kompas. Jakarta.

Gambar

Tabel 1.  Tingkat Kelimpahan Jenis Pakan Babirusa di Suaka MargasatwaNantu.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi hijauan pakan ternak dan memberi gambaran potensi kapasitas tampung ternak, serta komposisi botani, di bawah naungan pohon

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan jumlah dan berat sampah laut berdasarkan ukuran dan jenis serta mengidentifikasi sepuluh (10) jumlah teratas

Keanekaragaman tanaman sumber pakan lebah dari 5 Desa di Kabupaten Boyolali cukup tinggi dengan 52 taksa, serta jenis madu berdasarkan frekuensi dan jenis polen

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis juvenil udang di perairan Morosari; mengetahui kelimpahan juvenil udang, mengetahui keterkaitan antara kelimpahan dengan

Berdasarkan hasil data komposisi jenis dan struktur tegakan habitat orangutan dari tingkatan semai, pancang, pohon dapat diketahui bahwa jenis tumbuhan dari famili

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis juvenil udang di perairan Morosari; mengetahui kelimpahan juvenil udang, mengetahui keterkaitan antara kelimpahan dengan

Hasil identifikasi jenis-jenis tanaman yang terdapat di habitat bertelur yang terletak di pantai pada masing-masing lokasi ditemukan vegetasi yang dilakukan di lapangan di temukan

1. Apakah terdapat perbedaan, komposisi, struktur dan kelimpahan individu pada masing-masing komunitas vegetasi pohon hutan rawa g a m b u t dan masing-masing tingkat