• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Ekonomi Produksi Biji Sintetis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Ekonomi Produksi Biji Sintetis"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN INVESTASI USAHA

Analisis Ekonomi Produksi Biji Sintetis Anggrek Macan

(Grammatophyllum scriptum)

untuk Lingkungan yang Berkelanjutan

Final Assignment Paper of Environmental Economic

Graduate School of Environment Science Magister Program of Environmental Management

Written by:

Theresa Agustina Ana Nico NIM: 13/359526/PMU/8113

Lecture:

Dr. Ir. Rini Widiati, M.Si

GRADUATE OF SCHOOL

GADJAH MADA UNIVERSITY

Y O G Y A K A R T A

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, salah satunya adalah tanaman anggrek. Anggrek merupakan anggota famili Orchidaceae yang memiliki lebih dari 26.000 spesies yang tersebar di seluruh dunia. Dari sekitar 26.000 spesies anggrek di seluruh dunia, 5.000 – 6.000 spesies diantaranya terdapat di Indonesia (Lestari dan Santoso, 2011).

Keanekaragaman anggrek di Indonesia berjumlah sekitar 6.000 spesies dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Nilai ekonomi tersebut dikarenakan bunga anggrek yang memiliki daya tarik tersendiri dalam berbagai variasi bentuk, warna, dan ukuran dengan ciri-ciri yang unik. Meski demikian anggrek memiliki struktur bunga yang sama dan khas yang terdiri dari sepal, petal, labellum, dan bakal buah (Novitasari, 2011). Keunikan yang dimiliki bunga anggrek, membuat spesies ini memiliki potensi genetik yang kaya untuk dikembangkan. Dari sekian banyak anggrek yang tersebar di Indonesia, salah satu genus anggrek yang memiliki potensi ekonomi tinggi adalah Grammatophyllum.

(3)

pembibitan yang mumpuni, mengingat permasalahan yang dihadapi anggrek saat ini dalam hal perbanyakannya di alam masih sulit dilakukan.

Perbanyakan alami dengan biji dari G. scriptum di habitat aslinya masih sangat sulit diandalkan karena lambatnya laju pertumbuhan dari fase biji hingga mencapai tanaman dewasa yang siap berbunga (Gunawan, 2004). Perbanyakaan generatif anggrek membutuhkan simbiosis dengan mikroorganisme lain mulai dari tahap penyerbukan hingga perkecambahan, sehingga dalam perkecambahan dibutuhkan bantuan mikoriza sebagai simbionnya (Arditti, 1992). Hal ini dikarenakan anggrek memiliki biji dengan ukuran sangat kecil dan tanpa adanya cadangan makanan (endosperm). Ketiadaan cadangan makanan pada biji anggrek membuat anggrek sangat sulit berkecambah di lingkungan alami dengan kondisi normal (Hartman et al., 1990; Yusnita, 2010).

Baru-baru ini telah banyak dikembangkan usaha perbanyakan biji melalui teknologi biji sintetis. Biji sintetis merupakan pengkapsulan embrio buatan yang dilakuan dengan teknik kultur jaringan (Lelu et al., 1994). Teknologi biji sintetis pertama kali digagas oleh Murashige pada tahun 1977, yaitu dengan membungkus eksplan pada suatu lapisan yang menyerupai struktur terluar dari biji. Pembungkus fisik yang biasa digunakan adalah natrium alginat (Redenbaugh et al., 1992). Menurut Saiprasad (2001), salah satu keuntungan teknik biji sintetis adalah teknik ini sangat cocok untuk tanaman yang tidak mampu menghasilkan biji atau memiliki biji tetapi tidak memiliki cukup cadangan makanan seperti pada anggrek.

(4)

senyawa tersebut mempunyai potensi yang besar untuk mencemari atau berdampak negatif terhadap lingkungan, tidak hanya dimana senyawa tersebut diproduksi atau digunakan, tetapi menyebar ke tempat yang terpencil atau ribuan kilometer dari tempatnya diproduksi atau digunakan.

Semua komponen bumi seperti udara, tanah dan air akan mengalami dampak penggunaan senyawa kimia lama atau baru, yang sebagian besar belum diketahui secara pasti apa akibatnya bagi manusia dan lingkungannya. Adanya pengetahuan mengenai pencemar tersebut sangatlah penting untuk tindakan pengelolaan lingkungan. Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) dapat dijadikan dasar sebagai upaya pengelolaan lingkungan hidup, pada UULH tersebut dijelaskan bahwa lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia, masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia membuat kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup menjadi tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya.

Gambar 1.1. menunjukkan siklus airtanah yang terkena polutan pestisida.

(5)

Batasan ini menyebut pada dua hal terjadinya pencemaran lingkungan. Pertama, pencemaran itu terjadi oleh karena adanya kegiatan manusia. Kedua, bahwa pencemaran lingkungan bisa terjadi karena proses alam yang belum tentu dikehendaki manusia. Salah satu pencemaran lingkungan oleh karena kegiatan manusia adalah penggunaan pestisida dalam bidang pertanian yang terus menerus pada suatu areal lahan sehingga mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan tempat tumbuhnya tanaman. Dengan demikian, pengusahaan biji sintetis G. scriptum dapat dijadikan alernatif pengelolaan lingkungan, karena dapat

mengurangi penggunaan pestisida yang dapat mencemari tanah dan air, serta

dapat bermanfaat menciptakan kembali keseimbangan alam karena keberadaan dari G. scriptum tetap terjaga, maka mikoriza yang bersimbiosis dengannya dapat tetap hidup.

1.2. Tujuan

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tugas yang berjudul “Analisis Ekonomi Produksi Biji Sintetis Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum)

(6)

BAB II

ASPEK ANALISIS PROYEK

2.1. Aspek Teknis

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran

Memiliki Hambatan

Pembuatan matrik enkapsulasi, Pembentukan biji sintetis, Penanaman dan Perbanyakan tanaman G. scriptum

yang unggul dan berkualitas Anggrek Grammatophyllum scriptum

berpotensi sebagai tanaman hias unggulan dengan nilai jual yang tinggi

- Lahan kritis, terbatas dan tidak produktif

- Adanya penebangan pohon habitat asli anggrek

- Adanya pencemaran pestisida

Perbanyakan dengan teknik kultur in vitro

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati

Manfaat perbanyakan tanaman G. scriptum secara finansial menguntungkan,

(7)

Indonesia merupakan negara tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satunya adalah anggrek dengan jumlah sekitar 5.000 - 6.000 spesies. Anggrek memiliki karakteristik dari segi bentuk dan corak bunga yang unik sehingga menjadikan tanaman ini memiliki nilai jual tinggi sebagai tanaman hias yang berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu anggrek yang memiliki nilai jual tinggi adalah Grammatophyllum scriptum. G. scriptum seperti halnya tanaman anggrek pada umumnya menghadapi permasalahan pada perkecambahan biji. Biji anggrek G. scriptum bersifat heterozigot, berukuran kecil, dan tidak memiliki endosperm. Keterbatasan ini menyebabkan perbanyakan anggrek melalui biji sangat sulit terlebih jika berada di alam, selain itu adanya lahan kritis, lahan yang tidak produktif, penebangan pohon habitat asli anggrek dan pencemaran tanah akibat pestisida turut menjadi faktor adanya kelangkaan pada anggrek G. scriptum. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan suatu teknik yang memberikan kemudahan dalam perbanyakan anggrek tanpa harus melewati fase biji.

Propagasi anggrek dengan menggunakan teknik kultur jaringan telah banyak dilakukan. Teknik kultur jaringan memberikan keuntungan bagi anggrek yang sulit berkecambah secara alami, salah satu penerapan teknik kultur jaringan adalah pembentukan biji sintetis. Dengan teknik kultur jaringan akan dihasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat.

2.1.1. Tissues Culture

Perbanyakan anggrek G. Scriptum dengan kultur jaringan mampu menghasilkan, seperti diterangkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Kapasitas Produksi G. scriptum

No Komponen Satuan Nilai / Jumlah

1 Jumlah tanaman terjual per bulan

a. Tanaman kecil botol 300

b. Tanaman sedang botol 250

2 Persentase penjualan

a. Tahun 1 % 100

b. Tahun 2 % 100

c. Tahun 3 % 100

3 Harga jual tanaman

a. Tanaman kecil botol 50,000

(8)

Tissues culture atau kultur jaringan merupakan teknologi perbanyakan tanaman sehingga dihasilkan sejumlah besar tanaman dalam waktu yang singkat dan dalam jumlah yang besar, bahan utama yang digunakan dalam teknologi ini adalah jaringan tumbuhan itu sendiri yang di potong kemudian di biakkan dalam suatu media penuh nutrisi yang dimasukkan ke dalam botol dan diisolasi dalam ruang kultur jaringan supaya kondisinya steril. Adapun tahapan yang dilakukan untuk propagasi/perbanyakan anggrek G. scriptum melalui teknologi biji sintetis meliputi tahap persiapan, tahap pembuatan media, tahap subkultur plb (protocorm like bodies), penanaman eksplan pada media perlakuan, tahap enkapsulasi plb, dan tahap pemeliharaan.

a) Tahap Persiapan

1. Erlenmeyer, botol kultur, spatula, pipet (tetes dan ukur), gelas ukur, gelas beker dan cawan petri dicuci dengan deterjen, di bilas dengan air bersih, kemudian di simpan di dalam rak dan di biarkan kering dengan mulut menghadap ke bawah.

2. Skalpel, pinset, dan mata pisau dicuci dengan deterjen dan dikeringkan dengan tisu kemudian dibungkus kertas.

3. Erlemeyer, gelas beker, dan botol kultur yang sudah kering ditutup dengan kertas alumunium foil.

4. Semua alat tersebut disterilisasi di dalam autoklaf pada suhu 121o C, dengan tekanan uap air 1,5 atm selama 20 menit.

b) Tahap Pembuatan Media

a. Media Subkultur

1. Media MS dan agar yang akan digunakan ditimbang masing-masing sebesar 17,20 gr dan 4,8 gr dengan menggunakan neraca analitik.

(9)

3. Mengukur pH media dengan menggunakan pH meter dan menetapkan pada pH 5,6-5,8 dengan cara menambahkan NaOH 1 M untuk menaikan pH dan menambahkan HCl 1 M untuk menurunkan pH. Ditambahkan tetes demi tetes sampai mencapai pH 5,6-5,8.

4. Agar sebanyak 4 gr dimasukkan ke dalam media.

5. Aquades ditambahkan sampai volume media kurang lebih menjadi 500 ml. 6. Gelas erlenmeyer berisi media dan agar dipanaskan di atas hot plate sambil

diaduk dengan bantuan magnetic stirer hingga media dan agar larut semua. 7. Setelah mendidih, media dituangkan ke dalam botol media steril kurang lebih

20 ml per botol.

8. Botol media ditutup dengan alumunium foil dan disterilisasi kembali menggunakan autoclave pada suhu 121oC dan tekanan uap 1,5 atm selama 15 menit.

9. Botol media yang telah disterilisasi dikeluarkan dari autoclave, didinginkan pada suhu ruang dan botol media disimpan dalam rak kultur di ruang inkubasi sampai saatnya digunakan untuk menanam eksplan.

b. Matrik Enkapsulasi

Media enkapsulasi dibuat dengan melarutkan masing-masing konsentrasi media MS dalam aquades kemudian ditambahkan 3% natrium alginat. Ditempat terpisah di siapkan larutan CaCl2.2H2O dengan konsentrasi 75 mM

sebagai penjendal dalam botol yang berbeda sesuai perlakuan.

c. Media Perlakuan

Media perlakuan adalah variasi konsentrasi MS instan pada matrik enkapsulasi. Persentase konsentrasi dibuat dengan melarutkan gram MS instan tersebut pada larutan natrium alginat hingga volume 100 ml.

c) Tahap Subkultur PLB

(10)

pertama yang dilakukan adalah dengan mensterilkan tangan menggunakan alkohol 70%. Meja, dinding, dan kaca penutup LAFC dibersihkan menggunakan alkohol 70% kemudian dilap dengan tisu. Alat-alat seperti pinset, tisu, skalpel, gunting yag diperlukan dalam kultur disterilkan dengan disinari ultraviolet (UV) di dalam LAFC selama 15 menit. Alat-alat tersebut juga disterilkan dengan dicelupkan dalam alkohol 96% dan dibakar di atas api bunsen pada saat penanaman planlet berlangsung. Planlet yang ditanam dalam media kultur, diambil dengan menggunakan pinset dan ditanam dalam media pada botol kultur, kemudian ditutup kembali dengan alumunium foil. Kemudian botol kultur yang berisi eksplan diletakan pada ruang inkubasi dan diamati sampai plb mulai terbentuk.

d) Tahap Enkapsulasi PLB

1. Plb yang sudah terbentuk pada tahap penanaman subkultur diambil dan dipisahkan. Plb dikeringkan dengan tisu steril kemudian dimasukan pada larutan natrium alginat yang ditambah dengan beberapa konsentrasi media MS sesuai rancangan percobaan.

2. Setiap satu plb diambil dari larutan natrium alginat, dan dijatuhkan satu per satu pada larutan CaCl2.2H2O lalu didiamkan selama 30 menit.

3. Bulatan-bulatan yang sudah terbentuk dipisahkan dari larutan CaCl2.2H2O

kemudian dicuci dengan aquades. Bulatan diletakkan pada botol kultur yang diberi kapas dan dibasahi akuades.

4. Botol kultur yang telah berisi bulatan-bulatan hasil enkapsulasi plb kemudian disegel dengan parafilm dan disimpan pada ruang penyimpanan dengan suhu kamar (25o-27o C).

e) Tahap Pemeliharaan

(11)

2.2. Aspek Sosial

Pencemaran oleh pestisida di bidang pertanian, mengakibatkan perairan banyak yang mengalami proses penyuburan (eutrophication). Organisme yang sesuai dengan kondisi kesuburan yang tinggi berkembang biak dengan cepat dan mendesak organisme lain. Terjadilah ledakan populasi, misalnya ledakan Eceng gondok dan ganggang Microcystis yang sering terjadi di Danau Saguling (Soemarwoto, 2001). Selain adanya eutrofikasi yang timbul akibat pencemaran pestisida, perairan mengalami apa yang disebut dengan sedimentasi.

Kadar partikel tanah yang tinggi menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai, danau, waduk, saluran irigasi dan pelabuhan karena aliran air melambat, material besar dan berat tidak terangkat (Soemarwoto, 2001). Pendangkalan sungai atau sedimentasi meningkatkan bahaya banjir karena volume air yang dapat disalurkan melalui arus sungai menurun. Gambar 2.1. berikut ini menunjukkan bahwa adanya pemberian pestisida dengan jumlah tinggi dalam bidang pertanian memiliki dampak buruk bagi lingkungan biotik dan abiotik.

Gambar 2.2. Dampak Pemberian Pestisida bagi Lingkungan

Penggunaan pestisida tidak lagi dapat terhindarkan dalam bidang pertanian, kecenderungan memperoleh hasil yang maksimal (produktivitas tinggi dan cepat) mengabaikan dampak yang terjadi pada lingkungan, sehingga terjadi salinasi tanah dan keracunan pada tanaman.

(12)

mudah untuk dilakukan. Gambar 2.3. menunjukkan aktivitas pemberian pestisida di lahan pertanian oleh petani.

Gambar 2.3. Aktivitas Pemberian Pestisida oleh Petani

Pestisida mereduksi kepadatan populasi serangga hama dengan sangat cepat, tetapi selain itu juga memiliki dampak negatif, yaitu pengurangan kepadatan populasi secara spesiifik, membunuh herbivora bahkan karnivora dan menyebabkan resistensi pada hama itu sendiri (Soeriaatmadja, 1997). Pemberian pestisida secara berlebihan, tidak bisa terserap dan memberikan dampak pada kualitas tanah sehingga terjadi degradasi tanah, selain itu pestisida menyebabkan rusak/hilangnya aktivitas biologi dalam air dan tanah. Kerusakan lingkungan terjadi ketika potensi terbarukan mengalami penurunan kualitas atau kuantitas dan menjadi tidak terbarukan, hal ini mengakibatkan gangguan komponen satu dan yang lain, karena komponen merupakan suatu sistem.

Insektisida, pestisida atau fungisida yang terdapat didalam tanah, airtanah, serta udara memiliki kandungan logam yang berperan sebagai kontaminan, sehingga berbahaya bagi lingkungan biotik maupun abiotik seperti ditunjukkan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Kandungan Kontaminan Logam dan Kation pada Pestisida

Jenis kontaminan Penggunaannya

Arsen Campuran logam, zat warna, insektisida,

herbisida dan racun tikus

Kadmium (Cadmium) Campuran logam, pelapis (coating), bahan untuk baterai, perlengkapan elektrik, cat, fotografi dan fungisida

Tembaga (Copper) Campuran logam, cat, kabel listrik, mesin-mesin, elektroplating, jaringan pipa dan

insektisida

Seng (Zinc) Campuran logam, elektroplating, elektronik,

automotif, fungisida, atap

(13)

Tabel 2.5., 2.6., 2.7., dan 2.8. berikut ini menampilkan senyawa kimia yang

terkandung dalam pestisida efek yang ditimbulkan bagi manusia dan hewan.

Tabel 2.5. Efek Akut dan Efek Kronis Akibat Pemberian Pestisida

Senyawa Kimia Efek akut Efek kronis

Pestisida

Aldrin dan Dieldrin DDT

Hydrogen cyanide

Pentaclorophenol

-Tremor, koma

-Pusing, nausea, muntah dan tremor

-Pemblokiran sistem pernafasan sel

-Mengganggu metabolisme sel

-Karsinogenesis -Minimal

-Minimal

-Keracunan hati, termasuk jaringan lemak dan gangguan kerja enzim tubuh

Sumber: Watts (1997)

(14)

Tabel 2.7. Efek akut dari kandungan senyawa kimia pestisida terhadap manusia

H: secara statistik terbukti mempunyai efek pada manusia

A: secara statistik terbukti mempunyai efek pada binatang percobaan Sumber: Yong et al. (1992)

Tabel 2.8. Dampak Pemberian Pestisida sampai dengan Tingkat DNA/Sel pada Hewan dan Manusia

Jenis senyawa Karsinogenik Mutagenik Teratogenik Kerusakan

sistem

H: secara statistik terbukti mempunyai efek pada manusia

A: secara statistik terbukti mempunyai efek pada binatang percobaan Sumber: Yong et al. (1992)

(15)

penanganan kontaminan pada sumbernya cukup memadai untuk mengurangi terlepasnya kontaminan ke dalam lingkungan. Pelaksanaan remediasi tanah dan air tanah yang tercemar dapat dilakukan baik in-situ (on-site), maupun ex-situ (off-site). Teknik in-situ umumnya dilakukan bila lokasi yang terkontaminasi berada jauh didalam tanah atau secara teknis sulit untuk diambil, misalnya pencemaran tanah atau akifer oleh NAPL (Non-Aqueous Phase Liquid) dan pencemaran terjadi dalam skala yang luas.

Pengolahan in-situ merupakan cara yang disarankan bila memungkinkan, karena akan mengurangi risiko penyebaran pencemar dan menghemat biaya bila dibandingkan dengan pengolahan ex-situ. Tentu saja hal ini tergantung kondisi lapangan dan fasilitas penunjang yang tersedia.

Apabila tanah semakin kritis dan ketersediaannya semakin terbatas, maka lambat laun penanaman tanaman dengan teknologi seperti kultur jaringan akan semakin di lirik oleh pembudidaya tanaman dan menjadi solusi jitu dalam menyikapi kelangkaan tanah sebagai media penanaman

2.3. Aspek Komersial

Perencanaan dalam aspek komersial terdiri dari ramalan permintaan dan penawaran, sistem pemasaran (input dan output), perencanaan pembiaayan, dan kebijaksanaan harga.

A. Ramalan Permintaan dan Penawaran

(16)

memerlukan keahlian khusus, membuatnya pantas untuk di jual dengan harga tinggi.

B. Sistem Pemasaran (Input dan Output)

Strategi pemasaran sangatlah penting untuk diperhatikan agar produk yang ditawarkan dapat dikenal oleh masyarakat luas, selain itu tercipta suatu efisiensi dan efektifitas yang tinggi karena kita tidak perlu mengeluarkan biaya yang begitu besar untuk mencapai target penjualan atau dengan kata lain mendapatkan pembeli dalam jumlah besar. Adapun target pemasaran yang dituju dari perencanaan produksi biji sintetis ini meliputi: masyarakat luas dan konsumen yang berada di luar negara Indonesia, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang pertanian. Berikut ini akan di jelaskan satu per satu alasan pemilihan target penjualan.

1. Masyarakat luas dan konsumen dari luar negera Indonesia

Bunga anggrek merupakan bunga yang sangat indah dan diminati oleh masyarakat luas, namun seringkali tanaman anggrek hasil budidaya tidak mampu memenuhi banyaknya permintaan konsumen, pemeliharaan tanaman anggrek dilakukan oleh tenaga yang kurang berkompeten membuat produk yang di tawarkan kurang menarik dari segi pengemasan (packaging), selain itu adanya teknologi biji sintetis yang mampu bertahan dalam waktu yang lama membuatnya tidak cepat busuk. Dengan adanya teknologi biji sintetis, produk yang dihasilkan seragam dan memiliki kualitas yang unggul karena ditanam oleh tenaga ahli yang profesional.

2. Perguruan tinggi

Banyaknya penelitian yang bergerak dalam bidang kutur jaringan, membuat banyak pula permintaan terhadap tanaman anggrek hasil biji sintetis ini. Pembiakan dengan teknik kultur jaringan menggunakan tanaman anggrek relatif mudah dilakukan oleh pemula, dibandingkan menggunakan tanaman lain.

3. Instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang pertanian

(17)

dikarenakan pembibitan dengan cara konvensional sangat bergantung dengan cuaca, sedangkan saat ini kita tidak dapat memprediksi secara pasti waktu yang tepat ketika akan melakukan suatu pembibitan. Dengan adanya teknik pembibitan dengan biji sintetis ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan permintaan jumlah tanaman anggrek, karena proses pembuatan biji sintetis ini berada dalam ruangan dengan perlakuan dan suhu yang terkontrol maka persentase tanaman anggrek yang hidup tinggi.

C. Perencanaan Pembiayaan

Rencana pembiayaan kegiatan usaha ini berasal dari modal kredit sebesar 30% dengan bunga 15% per tahun dan modal mandiri sebesar 70 %, sehingga angsuran beserta bunga pinjaman yang harus di bayarkan nantinya tidak terlalu berat.

D. Kebijaksanaan Harga

(18)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi dari Grammatophyllumscriptum adalah sebagai berikut: Divisio : Magnoliophyta

Sub Divisio : Angiospermae Classis : Liliopsida Sub Classis : Liliidae

Ordo : Orchidales

Familia : Orchidaceae (Dressler, 1993) Tribus : Cymbidiinae

Genus : Grammatophyllum

Species : Grammatophyllum scriptum (Lindl.) Bl. (Millar, 1999).

Grammatophyllum scriptum merupakan jenis anggrek epifit, yaitu jenis anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan inangnya dan membutuhkan naugan dari cahaya matahari. G. scriptum dapat dijumpai di Philipina, seperti di kepulauan Luzon, Mindoro, Saman dan Palawan yang merupakan daerah dataran rendah di hutan primer pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Spesies ini juga dapat ditemukan di Malaysia dan Indonesia (Madulid, 2002). G. scriptum yang terdapat di Indonesia mempunyai daerah penyebaran di Papua, Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Spesies ini dapat berasosiasi dengan pohon inang, antara lain Bruguiera gymnorhiza, Heriiera litoralis, Fruticosum, Ficus sp. Selain itu G. scriptum dapat pula berasosiasi dengan pohon kelapa yaitu pada sela-sela tangkai daunnya (Mangiwa, 2002; Millar, 1999). Morfologi G. scriptum dapat dilihat pada

Gambar 3.1.

(19)

Gambar 3.1. Struktur Morfologi Grammatophyllum scriptum

a. Bunga b. Habitus

Penyerbukan G. scriptum di alam tergolong ke dalam penyerbukan yang dibantu oleh serangga. Hal ini disebabkan oleh warna bunga yang dimiliki G. scriptum sangat menarik bagi serangga. Biji G. scriptum, seperti anggrek pada umumnya berukuran kecil dan ringan sekitar 0,05-6 mm dengan berat biji 0,341-24 µg sehingga mudah terbawa oleh angin (Arditti, 1992). Selain itu biji anggrek tidak memiliki jaringan penyimpan cadangan makanan (endosperm) bahkan embrionya belum mencapai kematangan sempurna, sehingga dalam perkecambahan dibutuhkan mikoriza sebagai simbionnya. Sebelum mampu melakukan fotosintesis, kebutuhan nutrisinya harus dipasok dari luar. Dengan pemanfaatan teknik kultur jaringan, akan didapatkan tanaman yang mirip dengan tanaman induknya.

Keuntungan memperbanyak tanaman dengan menggunakan biji sintetis diantaranya adalah biji atau benih dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, dapat mengembangkan propagasi dalam skala besar, dapat mempertahankan keseragaman genetik tanaman, dan menghemat ruang serta mudah dalam penanganannya (Saiprasad, 2001).

3.2. Perkecambahan Biji Sintetis

G. scriptum

Perkecambahan diartikan sebagai peristiwa munculnya tunas pada eksplan plb yang mampu menembus dinding kapsul biji sintetis. Pengamatan yang

(20)

dilakukan adalah dengan menghitung banyaknya tunas yang terbentuk pada minggu ke-3, 6, 9, dan 12. Dasar teori yang digunakan dalam kultur jaringan mengacu pada istilah totipotensi. Schleiden dan Theodore Schwan yang telah menjuruskan perhatiannya pada kehidupan sel, menemukan satu konsep baru, bahwa satu sel dapat tumbuh sendiri walaupun telah terpisah dari tanaman induknya. Mereka mengemukakan bahwa segala peristiwa rumit yang terjadi dalam tubuh satu organisme selama hidup, bersumber pada sel. Dari konsep inilah tumbuh pernyataan bahwa satu sel mempunyai kemampuan untuk berkembang. Sel berkembang dengan jalan regenerasi sehingga pada suatu saat akan terbentuk satu tanaman sempurna. Kemampuan regenerasi inilah yang disebut totipotensi (Katuuk, 1989). Biji yang ditanam pada media kapas basah dengan berbagai variasi konsentrasi media MS mulai mengalami peristiwa perkecambahan pada awal minggu ketiga (seperti pada Gambar 3.2.).

Gambar 3.2. Perkecambahan Biji Sintetis G. scriptum.

(a) biji sintetis G. scriptum yang sudah berkecambah; (b) tunas biji sintetis yang sudah menembus kapsul

(21)

kemunculan tunas mulai terjadi pada minggu ke-3. Tunas yang terbentuk diawali dengan tonjolan yang berwarna hijau berbentuk bulat di tengah eksplan plb. Tonjolan hijau tersebut merupakan hasil dari organogenesis yang belum terdeferensiasi menjadi bagian atau organ yang lengkap. Kemudian tonjolan hijau tersebut tumbuh membentuk tunas yang dapat menembus dinding biji sintetis. Tunas yang muncul pada biji sintetis tidak hanya tumbuh dari satu sisi potongan

plb saja. Namun dalam penelitian ini terdapat lebih dari satu tunas yang muncul pada bagian sisi potongan plb, seperti yang terlihat pada Gambar 3.3. di bawah ini.

(22)

3.3. Asumsi Perencanaan Analisis Ekonomi

Asumsi perencanaan analisis ekonomi di susun supaya didapatkan prakiraan mengenai pengeluaran apa saja yang diperlukan dan pendapatan yang diperoleh selama setahun, serta menjadi dasar atau acuan bagi perencanaan suatu usaha seperti yang tampak pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Asumsi Perencanaan Analisis Ekonomi

No Asumsi Satuan Nilai / Jumlah

1 Periode proyek tahun 3

2 Bulan kerja tahun bulan 12

3 Tenaga kerja bersifat tetap orang 7

Pemilik orang 1

4 Sifat usaha

a. Budidaya (Nursery) % 40

b. Perdagangan % 60

5 Jumlah tanaman terjual per bulan

a. Tanaman kecil botol 300

b. Tanaman sedang botol 250

6 Persentase penjualan

a. Tahun 1 % 100

b. Tahun 2 % 100

c. Tahun 3 % 100

7 Harga bahan baku tanaman

Bibit Rp/Unit 2,000

8 Harga jual tanaman

a. Tanaman kecil botol 50,000

b. Tanaman sedang botol 100,000

9

Pada bulan pertama tidak ada penjualan dari tanaman kecil dan sedang karena masih dalam

proses pembibitan

10

Pada bulan kedua dan ketiga tidak ada penjualan dari tanaman kecil dan sedang karena masih

dalam tahap aklimatisasi

11 Suku Bunga per Tahun % 15%

Proporsi Modal :

a. Kredit % 30%

b. Modal Sendiri % 70%

12 Jangka waktu Kredit :

a. Kredit investasi tahun 3

b. Kredit modal kerja tahun 1

(23)
(24)

Tabel 3.2. Rencana Biaya Investasi Produksi Biji Sintetis

Komponen Biaya SATUAN Jumlah Fisik

Harga Jumlah Umur Nilai Nilai sisa Nilai sisa

per Satuan Biaya Ekonomis Penyusutan di akhir umur di akhir umur

Rp Rp (tahun) Rp ekonomis (Rp) proyek (Rp)

Perizinan 1 5,000,000 5,000,000

Kendaraan

a.Mobil Bak unit 2 70,000,000 140,000,000 15 7,333,333 30,000,000 118,000,000

b.Sepeda Motor unit 3 12,000,000 36,000,000 10 3,100,000 5,000,000 26,700,000

Alat produksi dan budidaya

a.Erlenmeyer unit 5 35,000 175,000 5 28,000 35,000 35,000

b.Botol kultur unit 5 1,000 5,000 5 800 1,000 1,000

c.Spatula unit 3 2,000 6,000 5 960 1,200 1,200

d.Pipet tetes unit 5 500 2,500 3 667 500 500

e.Pipet ukur unit 5 25,000 125,000 5 20,000 25,000 25,000

f.Gelas ukur unit 5 25,000 125,000 5 20,000 25,000 25,000

g.Gelas beker unit 3 35,000 105,000 5 14,000 35,000 35,000

h.Cawan petri unit 5 15,000 75,000 5 12,000 15,000 15,000

i.Skalpel unit 2 20,000 40,000 3 6,667 20,000 20,000

j.Pinset unit 2 10,000 20,000 1 10,000 10,000 10,000

k.Mata pisau unit 5 5,000 25,000 1 20,000 5,000 5,000

l.Timbangan analitik unit 1 100,000 100,000 10 0 100,000 100,000

m.Hot plate unit 1 150,000 150,000 10 0 150,000 150,000

n.Gunting unit 3 15,000 45,000 10 3,000 15,000 15,000

o.Lampu bunsen unit 5 20,000 100,000 10 8,000 20,000 20,000

p.Hand sprayer unit 5 5,000 25,000 5 4,000 5,000 5,000

Fasilitas lain

q.Autoclave unit 1 50,000,000 50,000,000 15 1,333,333 30,000,000 30,000,000

r.Oven unit 1 25,000,000 25,000,000 15 1,000,000 10,000,000 10,000,000

(25)

Sumber dana investasi dari *) :

a. Kredit 30% 77,137,050

(26)

Komponen biaya yang dikeluarkan dari produksi biji sintetis meliputi perizinan, kendaraan, alat produksi dan budaya, dan fasilitas lain sebesar Rp 257.123.500 memiliki nilai penyusutan sebesar Rp12.914.760, nilai sisa di akhir umur ekonomis dan nilai akhir di sisa umur proyek berturut-turut sebesar Rp 75. 462.700 dan Rp 185.162.700. Sumber dana berasal dari dana pinjaman atau kredit dengan persentase 30% sebesar Rp 77.137.050 bunga pinjaman per tahun 15% dan modal pribadi dengan persentase 70% sebesar Rp 179.986.450.

Tabel 3.3. Biaya Variabel Produksi Biji Sintetis

No Struktur biaya Satuan h Fisik Jumla

Biaya per Jumlah biaya Jumlah biaya

satuan 1 bulan 1 tahun

(27)

100,000

TOTAL 40,000,000 480,000,000

Tabel 3.5. Total Biaya Tetap Produksi Biji Sintetis

(28)

3.3. Angsuran Kredit Investasi

Angsuran kredit investasi dibayarkan setiap bulan selama tiga tahun dengan bunga pinjaman (discount rate) 15%, angsuran tetap sebesar Rp 2.142.696. Pada tahun pertama, angsuran yang harus dibayarkan sebesar: Rp 35,515,183, tahun kedua sebesar: Rp 31,658,331, tahun ketiga sebesar: Rp 27,801,478.

Tabel 3.6. Analisis Kredit Investasi Periode Kredit Angsuran

(29)

Bulan -9

Tabel 3.7. Angsuran Kredit Modal Kerja

Bunga : 15% 12 bulan

Periode Kredit Angsuran

(30)

Tahun

Angsuran Pokok

Angsuran Bunga

Total

Angsuran Saldo Awal Saldo Akhir

85,505,550 85,505,550

1 34,080,850 10,482,774 44,563,624 85,505,550 51,424,700 2 25,712,350 5,945,981 31,658,331 51,424,700 25,712,350

3 25,712,350 2,089,128 27,801,478 25,712,350 0

3.5. Proyeksi Rugi Laba Usaha

Dalam suatu usaha, perlu dihitung besarnya laba dan rugi yang diperoleh supaya dapat disusun suatu strategi penjualan lebih lanjut, adanya penghitungan mengenai laba rugi dari suatu usaha membantu menentukan apakah suatu usaha tersebut lebih baik di lanjutkan atau tidak. Dari Tabel 3.9. dapat dilihat bahwa total penerimaan sebesar Rp 480.000.000 selama tiga tahun berturut-turut, sedangkan total pengeluaran pada tahun pertama sebesar Rp 342.242.534, tahun kedua sebesar Rp 365.600.741, dan tahun ketiga sebesar Rp 361.743.888. Maka keuntungan dari penjualan pada tahun pertama sebesar Rp 25,83%, kemudian mengalami penurunan pada tahun tahun kedua sebesar 21,45% dan peningkatan kembali di tahun ketiga 22,17% meskipun peningkatan ini tidak lebih banyak daripada profit on sales di tahun pertama.

Tabel 3.9. Proyeksi Rugi Laba Usaha (Rp)

No Uraian Tahun

1 2 3

A Penerimaan 100% 100% 100%

Total Penerimaan 480,000,000 480,000,000 480,000,000

B Pengeluaran

i. Biaya Variabel 107,525,000 117,300,000 117,300,000 ii. Biaya Tetap 199,320,000 217,440,000 217,440,000 iii. Depresiasi 12,914,760 12,914,760 12,914,760 iv. Angsuran Bunga 10,482,774 5,945,981 2,089,128 v. Biaya Pemasaran 12,000,000 12,000,000 12,000,000 Total Pengeluaran 342,242,534 365,600,741 361,743,888

C R/L Sebelum Pajak 137,757,466 114,399,259 118,256,112 D Pajak (10%) 13,775,747 11,439,926 11,825,611 E Laba Setelah Pajak 123,981,719 102,959,333 106,430,500

F Profit on Sales 25.83% 21.45% 22.17%

(31)

3.6. Proyeksi Cash Flow (Arus Kas)

Analisis kelayakan proyek (suatu aktivitas usaha yang menunjang pembangunan) adalah proses untuk memproyeksikan anggaran arus biaya dan pendapatan berdasarkan perhitungan-perhitungan mengenai kebutuhan yang dituangkan dalam proyeksi cash flow atau arus kas. Arus kas bermanfaat untuk mengetahui biaya pada periode waktu tertentu sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk perencanaan periode yang akan dating, seperti yang diperlihatkan pada

Tabel 3.10, total arus masuk dari tahun ke tahun selama 3 tahun sebesar Rp

480.000.000, arus keluar pada tahun pertama sebesar Rp 377.184.371, tahun kedua Rp 389.838.257 dan tahun ketiga Rp 386.367.090. Tabel tersebut juga memperlihatkan bahwa perencanaan produksi biji sintetis anggrek macan merupakan usaha yang memenuhi kriteria kelayakan karena arus kelayakan usaha, yang menunjukkan nilai NPV sebesar Rp 55,874,266 yang berarti nilainya positif, IRR sebesar 24.54% yang nilainya lebih besar dari tingkat bunga pinjaman, Net B/C rasio lebih dari 1, yaitu sebesar 1.20 dengan PBP sebesar 2, 7 tahun.

Tabel 3.10. Proyeksi Cash Flow (Arus Kas)

Rupiah

No Uraian Tahun

0 1 2 3

A Arus Masuk

1. Total Penjualan 480,000,000 480,000,000 480,000,000

2. Kredit

a. Investasi 77,137,050

b. Modal Kerja 8,368,500

3. Modal Sendiri

a. Investasi 179,986,450

b. Modal Kerja 19,526,500

4. Nilai Sisa Proyek 185,162,700

Total Arus Masuk 285,018,500 480,000,000 480,000,000 665,162,700 Arus Masuk untuk Menghitung IRR - 480,000,000 480,000,000 665,162,700

B Arus Keluar

1. Biaya Investasi 257,123,500 - - -

2. Biaya Variabel 9,775,000 107,525,000 117,300,000 117,300,000

3. Biaya Tetap 18,120,000 199,320,000 217,440,000 217,440,000

4. Angsuran Pokok 34,080,850 25,712,350 25,712,350

5. Angsuran Bunga 10,482,774 5,945,981 2,089,128

(32)

7. Biaya Pemasaran/Distribusi 12,000,000 12,000,000 12,000,000

Total Arus Keluar 285,018,500 377,184,371 389,838,257 386,367,090

Arus Keluar untuk Menghitung IRR 285,018,500 377,184,371 389,838,257 386,367,090

C Arus Bersih (NCF) - 102,815,629 90,161,743 278,795,610

D

CASH FLOW UNTUK MENGHITUNG

IRR (285,018,500) 102,815,629 90,161,743 278,795,610 Discount Factor (14%) 1.0000 0.8696 0.7561 0.6575 Present Value (285,018,500) 89,404,895 68,175,231 183,312,639

E CUMMULATIVE (285,018,500) (195,613,605) (127,438,374) 55,874,266

F ANALISIS KELAYAKAN USAHA

NPV (15%) Rp 55,874,266

IRR 24.54%

Net B/C 1.20

(33)

BAB IV

KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis ekonomi perencanaan produksi biji sintetis Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum) untuk lingkungan yang berkelanjutan, maka dapat disimpulkan bahwa: dengan adanya alternatif penanaman tanaman Anggrek Macan menggunakan teknologi biji sintetis, dapat bermanfaat mengurangi penggunaan pestisida pada tanah serta mengurangi penggunaan lahan yang telah terbatas dan kritis. Selain itu, berdasarkan kelayakan analisis usaha dengan meninjau NVP (Not Present Value) yaitu sebesar Rp 55,874,266, IRR sebesar 24.54%, Net B/C (Net Benefit/Cost) sebesar 1,20, dan PBP (Pay Back Periode) selama 2,7 tahun maka dapat disimpulkan “Analisis Ekonomi Produksi Biji Sintetis Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum)

untuk Lingkungan yang Berkelanjutan” merupakan usaha yang layak untuk

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Arditi, J. 1992. Fundamental of Orchid. John Willey and Sons, New York.

Arditti, J. and Ernst, R. 1993. Micropropagation of Orchids. John Wiley and Sons, New York.

Backer, C.A. and Bakhuizen Van den Brink, R.C. 1968. Flora of Java Spermatophytes Only Vol. 3. The Rijksherbarium Netherlands, Groningen. Fetter, C. W. 1988. Applied Hygdrogeology Ed. 2. Merril Publishing Company:

New York.

Gunawan, L.W. 2004. Budi Daya Anggrek. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hartman, H.T., Kester, D.E. dan Davis-Jr, F.T. 1990. Plant Propagation: Principles and Practices. Prentice Hall. Englewood Cliffs, New Jersey. Katuuk, J.R.P. 1989. Teknik Kultur Jaringan dan Mikropropagasi Tanaman.

Penerjemah Widiato, M. Bumi Aksara, Jakarta. Hal. 1-100.

Lelu, M. A., Bastien, C., Klimaszewska, K., Ward, C., and Chatest, P.J. 1994. An Improved Method for Somatic Plantlet Production in Hybrid Larch (Larix X Leproeuropaea). Part I. Somatic Ambryo Maturation. Plant Cell Tissue and Organ Culture 42: 283-285.

Lestari, D. A. and Santoso, W. 2011. Inventory and Habitat Study of Orchid Species in Lamedai Nature Reserve, Kolaka, Southeast Sulawesi.

Biodiversitas 12 (1): 28-37.

Madulid, D. A. 2002. A Pictorial Guide to the Note Worthy Plants of Palawan, Palawan Tropical Forestry Protection Programme. Palawan Council for Substainable Development, Manila.

Mangiwa, E. 2002. Jenis-Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Pulau Rumberpon. Skripsi. Jurusan Budidaya Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua, Manokwari.

Redenbaugh, K., Paasch, B.D., Nichol, J.W., Kossler, M.E., Viss, P.R., and Walker, K.A. 1992. Somatic Seeds: Encapsulation of Asexual Plant Embryos. Nature Biotechnology 8(4) : 797-801.

Saiprasad, G. V. S. 2001. Artificial Seeds and Their Aplication. General Article Resonance 6(3): 39-47.

Schnoor, J. L. 1996. Environmental Modeling: Fate and Transport of Pollutants in Water, Air and Soil. John Wiley and Sons Inc: New York.

Soemarwoto, O. 2001. Paradigma Baru Lingkungan Hidup. UGM Press: Yogyakarta.

Soeriaatmadja, R. E. 1977. Ilmu Lingkungan. ITB Press: Bandung.

Vejsadova, H. 2006. Factors Affecting Seed Germination and Seedling Growth of Terrestrial Orchids Cultured In vitro. Acta Biologica Cracoviensia Series Botanica 48(1): 109–113.

Watts, R. J. 1998. Hazardous Wastes: Sources, Pathways and Receptors. John Willey and Sons Inc: Singapore.

Gambar

Gambar 1.1. Siklus Airtanah yang Terkena Polutan Pestisida
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran
Tabel 2.1. Kapasitas Produksi G. scriptum
Gambar 2.2. Dampak Pemberian Pestisida bagi Lingkungan
+7

Referensi

Dokumen terkait

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Karya Ilmiah Tertulis berjudul: “ Analisis Fungsi Dan Skala Produksi Usahatani Buah Semangka Non Biji Di Desa Mojosari

Sehubungan dengan keadaan pasar biji kakao Indonesia sebagaimana yang telah disebut di atas, maka dalam kaitan nya untuk meningkatkan peluang dang pangsa ekspor biji kakao

maka dilakukan penelitian mengenai analisis teknis dan ekonomi terhadap alat pengering biji kenari khususnya alat pengering tipe cabinet dryer untuk mengetahui kadar

Sedangkan  pembangunan    berkelanjutan    merupakan  upaya    sadar  dan  terencana  yang  aspek  lingkungan  hidup,  sosial,  dan  ekonomi    ke  dalam  strategi 

Pada edisi kali ini, ditampilkan delapan tuIisan yang meliputi; (i) Analisis Ekonomi- Ekologi Untuk Perencanaan Pembangunan Perikanan Budidaya Berkelanjutan di Wilayah

Usahatani jambu biji di daerah penelitian layak diusahakan dari segi analisis finansial Petani Jambu Biji Usahatani Jambu Biji Produksi Penerimaan Harga Biaya yang dikeluarkan :

ANALISIS PRODUKSI LEMPUK DURIAN DI KABUPATEN BENGKALIS DITINJAU DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM Ade Suhartini Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STIE Syariah Bengkalis Email:

Analisis ekonomi dan pengembangan aren yang berkelanjutan di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa