• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat socrates dan aristoteles ed

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Filsafat socrates dan aristoteles ed"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

(2)

BAB II PEMBAHASAN A. Filsafat Socrates

Socrates anak seorang pemahat sophroniscos dan ibunya bernama Phairnarete, yang pekerjaannya seorang bidan.1 Ia lahir di Athena pada tahun 469 SM dan meninggal tahun 399

SM.2 Istrinya bernama Xantipe yang dikenal sebagai seorang yang galak dan keras. Ia berasal

dari keluarga yang kaya dan mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian menjadi prajurit athena. Ia terkenal sebagai prajurit yang gagah berani. Karena ia tidak suka terhadap urusan politik, maka ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat.3

Untuk mengetahui ajaran Socrates, para ahli sejarah filsafat banyak bersandar kepada ajaran atau pemikiran Plato. Problemnya adalah bahwa plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya sendiri yang seakan-akan keluar dari mulut socrates. Meskipun demikian, murid-murid socrates memberikan muatan sendiri-sendiri terhadap ajaran gurunya, namun terdapat suatu kesamaan pendapat, yaitu tentang metode Socrates. Tujuan filsafat Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku selama-lamanya. Socrates mengikuti gagassan kaum sofis untuk beralih dari mengkaji alam dan berkonsentrasi pada manusia. Tetapi berbeda dengan cara sofisme. Kalau sofisme menganggap semua kebenaran itu relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang Skeptis. Namun Socrates berpendapat bahwa kebenaran bersifat tetap dan harus dicari.4

Menurut Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, socrates menggunakan metode tertentu. Metode in bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Socrates menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dan di pasar-pasar kota Athena. Menanyai setiap orang yang ditemuinya apakah orang itu mengetahui sesuatu. Siapa saja tidak luput menjadi sasaraan pertanyaannya. Ironisnya socrates sendiri mengakui bahwa ia tidak tahu apa-apa dan tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa. Orang yang tidak tahu apa-apa dan tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa hingga ia mencari tahu adalah orang yang paling bijaksana.

1 Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008) hlm. 49

2 M. Syafieh dan Ismail Fahmi Arrauf, Filsafat umum Sebuah Pengantar, (Medan: Cita Pustaka Media Perintis, 2011) hlm.63

3 Asmoro achmadi, Filsafat umum………..hlm. 49

(3)

Demikian kata socrates. Orang yang paling jahil adalah mereka yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu tetapi bertingkah seakan ia yang paling tahu. Pertanyaan-pertanyaan terus diajukannya. Sebagian besar dia sendiri tidak tahu jawabannya. Tetapi ini bukan berarti ia berhenti bertanya. Bahkan jawaban yang sudah adapun dipertanyakan kembali. Tetapi untuk apa semua ini? Ya. Agar hidup ini ada artinya. Karena, menurut socrates, hidup yang tidak diuji adalah yang tidak berarti (The unexamined life is not worth living).5

Metode yang digunakan socrates disebut dialektika, dari kata kerja yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. Metode socrates dinamakan dialektika karena dialog mempunyai peranan penting di dalamnya. Di dalam traktanya tentang metafisika, Aristoteles memberikan catatan mengenai metode socrates ini. Ada dua penemuan, katanya, yang menyangkut socrates, kedua-duanya berkenaan dengan dasar pengetahuan. Yang pertama ialah dia menemukan induksi dan yang kedua ia menemukan definisi. Penemuan induksi digunakan Aristoteles dalam logikanya tatkala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus, lalu menyimpulkan pengetahuan yang umum, sebagaimana yang dilakukan oleh socrates. Ia brtolak dari contoh-contoh kongkret dan di situ ia menyimpulkan pengertian yang umum. Dari usaha ini Socrates menemukan definisi, penemuannya yang kedua tentu saja berhubungan erat dengan penemuan pertama tadi karena definisi ini diperoleh dengan jalan menemukan induksi itu.6

Bagi kita, yang sudah biasa membentuk dan menggunakan definisi barangkali merasakan definisi ini bukan sesuatu yang amat penting, jadi bukan suatu penemuan yang sangat berharga. Akan tetapi bagi socrates pada waktu itu penemuan definisi bukanlah hal yang kecil maknanya. Penemuan inillah yang akan dihantamkannya kepada relativisme kaum sofis. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengetahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Definisi itu adalah bersifat umum yang disebut ciri essensi dan semua ciri khusus itu disebut ciri aksidensi. Definisi ialah penyebutan semua ciri esensi suatu objek dengan menyisihkan semua ciri aksidensinya.7

Seperti halnya kaum sofis, socrates mengarahkan perhatiannya kepada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum Sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu memungut bayaran, tetapi socrates tidak memungut bayaran kepada

5 Ibid., hlm. 64

6 Ibid.,

(4)

murid-muridnya. Maka, ia kemudian oleh kaum Sofis sendiri dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda dan menentang kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan dua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.8

B. Filsafat Aristoteles

Ia dilahirkan di Stageira, Yunani utara pada tahun 384 SM. Ayahnya seorang dokter pribadi di raja Macedonia Amyntas. Karena hidupnya di lingkungan istana, ia mewarisi keahliannya dalam pengetahuan empiris dari ayahnya. Pada usia 17 tahun ia dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato selama kira-kira 20 tahun hingga Plato meninggal. Beberapa lama ia menjadi pengajar di Akademia Plato untuk mengajar logika dan retorika. Setelah Plato meninggal dunia, Aristoteles bersama rekannya Xenokrates meninggalkan Athena karena ia tidak setuju dengan pendapat pengganti Plato di Akademia tentang filsafat. Tiba di Assos, Aristoteles dan rekannya mengajar di sekolah Assos. Di sini Aristoteles menikah dengan Pythias.9

Pada tahun 335 SM, ia mendirikan sebuah seskolah tinggi khusus untuk belajar filsafat, Lyceum Peripatetic School. Sekolah disebut Peripatetic yang artinya jalan-jalan karena Aristoteles punya kebiasaan memberi kuliah dan membahas permasalahan filsaft sambil jalan-jalan di taman sekolah tersebut. Sayangnya setelah menjabat direktur sekolah ini selama dua belas tahun, penguasa yang baru Hermias, menuduhnya telah melakukan makar dan penghinaan. Mengingat kakek gurunya, Socrates, ia langsung angkat kaki lari ke Chalcis di mana ia meninggal pada usia 63 tahun karena sakit perut.10

Selama dua ribu tahun, Aristoteles telah dijuluki gelar Sang Filosof (the Philosopher), dikalangan Muslim ia digelar al Mu’allimal Awwal (guru pertama) yang menunjukkan betapa terkemukanya murid plato yang satu ini dari filosof yang ada. Pengaruhnya telah menyelusup karya para filosof dan kerja para ilmuan. Berbagai aliran timbul mengambil dari pemikirannya dan ada yang muncul untu membantahnya. Filsafatnya telah mempengaruhi banyak kaliran, termasuk scoitisme, Epicurianisme, Neo-platonisme, Gnostitisme, dan skolatitisme. Boleh dikatakan semua sistem filsafat yang dikembangkan oleh pemikir abad

8 Asmoro achmadi, Filsafat umum…… hlm. 50

9 Ibid., hlm. 54

(5)

pertengahan dan modern seperti Aquinas, Leibniz, Descartes, kant, hegel, hartman, dan banyak lagi yang lain mengambil faedah dan gagasan-gagasannya.11

Karya-karya Aristoteles berjumlah delapan pokok bahasan sebagai berikut:

a. Logika, terdiri dari :

Categoriac (Kategori-kategori),

De Interpretatione (Perihal penafsiran),

Analytics Priora (Analitika logika yang lebih dahulu),Analytica Posteriora (Analitika logika yang kemudian),Topica,

De Sophistics Elenchis (tentang cara berargumentasi kaum sofis). b. Filsafat Alam, terdiri dari:

Phisica,

De caelo (perihal langit),

De generatione et corruptione (tentang timbul-hilangnya makhluk-makhluk jasmani),

Meteorologica (ajaran tentang badan-badan jagad raya). c. Psikologi, terdiri dari :

De anima (perihal jiwa),

Parva naturalia (karangan-karangan kecil tentang pokok-pokok alamiah). d. Biologi, terdiri dari:

De partibus animalium (perihal bagian-bagian binatang),De mutu animalium (perihal gerak binatang),

De incessu animalium (tentang binatang yang berjalan),

De generatione animalium (perihal kejadian binatang-binatang). e. Metafisika, oleh Aristoteles dinamakan filsafat pertama atau theologia. f. Etika, terdiri dari:

Ethica Nicomachea,

Magna moralia (karangan besar tentang moral),Ethicac Eudemia.

g. Politik dan ekonomi, terdiri dari:  Politics,

Economics.

h. Retorika dan poetika, terdiri dari :  Rhetorica,

Poetica.

Berikut ini akan kami uraikan tentang beberapa pemikiran Aristoteles yang terdiri dari:

a. Ajarannya tentang logika;

Logika tidak dipakai oleh Aristoteles, ia memakai istilah analitika. Istilah logika pertama kali muncul pada abad pertama Masehi oleh Cicero, artinya seni berdebat.

(6)

Kemudian, Alexander Aphrodisias (abad III Masehi) orang pertama yang memakai kata logika yang artinya ilmu yang menyelidiki lurus tidkanya pemikiran kita.

Menurut Aristoteles, berpikir harus dilakukan dengan bertitik tolak pada pengertian-pengertian sesuatu benda. Suatu pengertian-pengertian memuat dua golongan, yaitu substansi (sebagai sifat yang umum), dan aksidensia (sebagai sifat yang secara tidak kebetulan). Dari dua golongan tersebut terurai menjadi sepuluh macam kategori, yaitu:

1) substansi (mis. Manusia, binatang) 2) kuantitas (dua, tiga);

3) kualitas (merah, baik); 4) relasi (rangkap, separuh); 5) tempat (di rumah, di pasar); 6) waktu (sekarang, besok); 7) keadaan (duduk, berjalan);

8) mempunyai (berpakaian, bersuami); 9) berbuat (membaca, menulis);

10) menderita (terpotong, tergilas), sampai sekarang, Aristoreles dianggap sebagai bapak logika tradisional.

b. Ajarannya tentang Sillogisme;

Menurut Aristoteles, pengetahuan manusia hanya dapat dimunculkan dengan dua cara, yaitu induksi dan deduksi. Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak pada hal-hal yang khusus untuk mencapai kesimpulan yang bersifat umum. Sementara itu, deduksi adalah proses berpikir yang bertolak pada dua kebenaran yang tidak diragukan lagi untuk mencapai kesimpulan sebagai kebenaran yang ketiga. Menurut pendapatnya, deduksi ini merupakan jalan yang baik untuk melahirkan pengetahuan baru. Berpikir deduksi yaitu silogisme, yang terdiri dari premis mayor dan premis minor dan kesimpulan. Perhatikan contoh berikut.

 Manusia adalah makhluk hidup (premis mayor)  Si fulan adalah manusia (premis minor)

 Si fulan adalah makhluk hidup (kesimpulan)

c. Ajarannya tentang pengelompokan ilmu pengetahuan;

Aristoteles mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan, yaitu:

 Ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik);  Ilmu pengetahuan produktif (teknik dan kesenian);

(7)

d. Ajarannya tentang potensia dan dinamika;

Mengenai realitas atau yang ada, Aristoteles tidak sepedapat dengan gurunya Plato yang mengatakan bahwa realitas itu ada pada dunia ide. Menurut Aristoteles, yang ada itu berada pada hal-ha yang khusus dan kongkret. Dengan kata lain, titik tolak ajaran atau pemikiran filsafatnya adalah ajaran plato tentang ide. Realitas yang sungguh-sungguh ada bukanlah yang umum dan yang tetap seperti yang dikemukakan plato, tetapi realitas terdapat pada yang khusus dan yang individual. Dengan demikian, realitas itu terdapat pada yang konkret, yang bermacam-macam, yang berubah-ubah. Itulah realitas yang sesungguhnya.

Mengenai hule dan morfe, bahwa yang disebut sebagai hule adalah suatu unsur yang menjadi dasar permacaman. Sementara itu morfe adalah unsur yang yang menjadi dasar kesatuan. Setiap benda yang konkret dan terdiri dari hule dan morfe. Misalnya, es batu dapat dijadikan es the, es sirop, es jeruk, dan es the tentu akan lain dengan es jeruk karena morfenya. Jadi, hule dan morfe tidak terpisahkan.

e. Ajarannya tentang pengenalan;

Menurut Aristoteles, terdapat dua macam pengenalan, yaitu pengenalan indrawi dan pengenan rasional. Dengan pengenalan indrawi kita hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang bentuk benda (bukan materinya) dan hanya mengenal hal-hal yang konkret. Sementara itu, pengenalan rasional kita akan dapat memperoleh pengetahuan tentang hakikat dari suatu benda. Dengan pengenalan rasional ini, kita dapat menuju satu-satunya untu ke ilmu pengetahuan. Cara untuk menuju ke ilmu pengetahuan adalah teknik abstraksi. Abstraksi artinya melepaskan sifat-sifat atau keadaan yang secara kebetulan, sehingga tinggal sifat atau keadaan yang secara kebetulan yaitu intisari atau hakikat suatu benda.

f. Ajarannya tentang etika;

(8)

g. Ajarannya tentang negara.

Menurut Aristoteles, negara akan damai apabila rakyatnya juga damai. Negara yang paling baik adalah negara dengan sistem demokrasi moderat, artinya sistem demokrasi yang berdasarkan Undang-Undang Dasar.

BAB III PENUTUP

Referensi

Dokumen terkait