Analisa kekuatan Indonesia dalam Integrasi
Ekonomi ASEAN
“Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan
(KKL)”
Alvan Neira Putra 2012 230 117
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan ekonomi dunia yang begitu pesat telah meningkatkan kadar hubungan saling ketergantungan dan mempertajam persaingan serta menambah semakin rumitnya strategi pembangunan yang hanya mengandalkan ekspor di satu pihak,hal ini merupakan tantangan dan kendala yang membatasi perdagangan internasional saat ini.
Pada umumnya,negara di dunia menghadapi perkembangan tersebut dengan melakukan berbagai langkah penyesuaian yang cenderung bersifat proteksionis.Timbulnya berbagai blok perdagangan seperti General Agreement of Tariff and Trade (GATT) /World Trade Organization (WTO) dalam proses globalisasi memungkinkan kegiatan finansial,produksi dan investasi menjadi saling ketergantungan antar negara.Proses globalisasi tersebut juga menimbulkan menyatunya ekonomi dunia,sehingga batas-batas antarnegara dalam berbagai praktik dunia usaha/bisnis seakan-akan dianggap tidak berlaku lagi.
Salah satu kemajuan yang akan dibahas dalam makalah ini bagaimana kita bisa melihat bagaimana peluang Indonesia sendiri dalam memasuki era yang dinamakan dengan integrasi ekonomi ASEAN dimana salah satu bentuknya ialah dengan terciptanya ASEAN Economic Community yang akan dilaksanakan pada tahun 2015. Dengan kata lain,kita bisa melihat bagaimana prospek Indonesia dalam memanfaatkan Integrasi ini sebagai sarana untuk bisa meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran negara
1
.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang bagaimana cara kita melihat bagaimana kekuatan Indonesia sendiri dalam menghadapi Integrasi Ekonomi ASEAN,maka rumusan masalah yang akan diangkat oleh makalah ini adalah :
“Bagaimana prospek keunggulan Indonesia dalam menghadapi
Integrasi Ekonomi ASEAN ? “
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan penelitian ini ialah untuk mengetahui sejauh mana prospek dan kekuatan Indonesia dalam menghadapi Integrasi Ekonomi ASEAN.
1.4 Kegunaan Penelitian
Dalam hal ini,penulis mencoba mengaplikasian Teori yang pernah dipelajari ke dalam suatu kasus,secara spesifik di daerah Asia Tenggara yakni tentang Integrasi Ekonomi.Salah satu kegunaan penelitian ini ialah untuk memandang bagaimana kekuatan Indonesia dalam memasuki era perekonomian yang sudah terintegasi secara global serta melatih cara pandang dan berpikir secara kritis dalam memandang suatu masalah.
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam makalah ini,penulis membagi sistematika penulisan kedalam beberapa bab yakni, Bab I yang terdiri dari Pendahuluan tentang makalah
Bab II berisi tentang landasan teori yang digunakan untuk analisis makalah
Bab III yang menjelaskan tentang isi makalah tentang bagaimana analisa kekuatan Indonesia dalam menghadapi Integrasi Ekonomi ASEAN berdasarkan sudut pandang penulis
Bab IV yang berisi tinjauan pustaka dan referensi yang penulis gunakan dalam penyelesaian makalah.
BAB II
2.1 Landasan Teori
antar variable-variabel, dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut. Berdasar pengertian tersebut, definisi teori mengandung tiga hal.
Pertama, teori adalah serangkaian proposisi antar konsep-konsep yang saling berhubungan.
Kedua, teori merangkan secara sistematis atau fenomena sosial dengan sosial dengan cara menentukan hubungan antar konsep.
Ketiga, teori menerangkan fenomena-fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya.
2.1.1 Globalisasi
Era globalisasi ekonomi dapat dimaknai menyatunya negara-negara di dunia yang ”berintegrasi” secara ekonomi, globalisasi juga telah membuat pola dan dimensi baru, yang selalu diidentikkan dengan mulai memudarnya batas-batas negara, menyempitnya ruang dan waktu, serta menjadikan sebuah dunia baru yakni dunia tanpa batas (borderless).
Joseph Stiglitz, dalam buku Making Globalization Work, memberikan gambaran yang lebih rinci tentang globalisasi, menurutnya tak ada satupun negara yang bisa menghindar diri dari globalisasi. Konsekuensinya, mau tidak mau, suka tidak suka, setiap negara akan masuk dalam pusaran dinamika dunia, termasuk dalam pusaran ekonomi global.
Dalam kaitannya dengan globalisasi ekonomi, tampaknya kawasan Asean akan
memainkan peran yang strategis yang akan mewarnai lanskap pertumbuhan ekonomi dunia pada masa mendatang, di tengah lemahnya geliat ekonomi Eropa dan Amerika.
Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.
2.1.2 Kekuatan Nasional
pergaulan sosial. Negara merupakan abstraksi dari sejumlah kelompok individu maupun golongan yang mempunyai kesamaan cirri khas yang menjadikan mereka anggota negara yang sama (nationality). Hans J Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nation ia menjelaskan tentang apa yang disebutnya sebagai “The elements of National Powers” yang berarti beberapa unsur yang harus dipenuhi suatu negara agar memiliki kekuatan nasional. Secara etimologis, istilah ketahanan berasal dari kata dasar “tahan” yang berarti tahan penderitaan, tabah, kuat, dapat menguasai diri, gigih, dan tidak mengenal menyerah. Ketahanan memiliki makna mampu, tahan dan kuat menghadapi segala bentuk tantangan dan ancaman yang ada guna menjamin kelangsungan hidupnya.
Morgenthau dalam bukunya mengatakan bahwa :
“Ada 2 (dua) faktor yang memberikan kekuatan bagi suatu negara, yaitu : pertama, faktor-faktor yang relatif stabil (stable factors), terdiri atas geografi dan sumber daya alam; dan kedua, faktor-faktor yang relatif berubah (dinamic factors), terdiri atas kemampuan industri, militer, demografi, karakter nasional, moral nasional, kualitas diplomasi dan kualitas pemerintah”
Dalam makalah ini,penulis memfokuskan titik kekuatan Indonesia pada faktor yang relatif stabil (stable factors) dan faktor yang relatif berubah (dinamic factors) antara lain:
1. Faktor Geografis
Letak geografis merupakan andalan kekuatan yang memengaruhi politik luar negeri suatu negara. Misalnya, sebuah fakta bahwa Indonesia yang diapit oleh dua samudera,yaitu Hindia dan Pasifik menjadikan Indonesia sebagai kawasan lalu lintas perdagangan yang sering dilewati oleh negara timur dan barat,terutama pada Samudera Hindia dimana merupakan salah satu tingkat lalu lintas perdagangan terpadat. Dengan kata lain, letak geografis Indonesia tetap menjadi faktor dasar pertimbangan oleh politik luar negeri global.
2. Sumber Daya Alam (SDA)
Sebagai contoh,Indonesia merupakan negara yang kaya akan SDA bahan baku dan industri,bisa menjadikan ini sebagai faktor keunggulan dalam berintegrasi (terutama produk-produk tekstil) sebagai jalan untuk tetap bisa bersaing dengan negara lainnya.Dengan kualitas SDA yang melimpah,ditambah dengan cara pengelolaan yang tepat akan membuat Indonesia berpeluang memainkan peran lebih dalam Integrasi.
3. Penduduk
Penduduk. Tidak tepat untuk mengatakan bahwa semakin besar jumlah penduduk, semakin besar pula kekuatan nasional. Misalnya kasus RRC, yang memiliki penduduk 1.3 miliyar, dan India yang berpenduduk 1 miliyar, tidak menjadikan diri mereka kekuatan superpower global. Jumlah penduduk yang besar dan berkualitas dapat digunakan untuk menggerakan roda gerak industri.Namun,jumlah penduduk Indonesia yang besar membuat Indonesia memiliki kelebihan dalam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),kualitas SDM inilah yang diharapkan bisa memainkan peran lebih dalam Integrasi ASEAN.
BAB III
3.1 Perkembangan Integrasi Ekonomi ASEAN
Secara teoritis integrasi ekonomi menjanjikan peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan Negara ASEAN lainya, diantaranya melalui pembukaan akses pasar yang lebih besar, dorongan mencapai efisiensi dan daya saing ekonomi yang lebih tinggi, termasuk terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
Pada tahun 2015,akan disepakati dibentuknya kawasan ASEAN melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan menjadi pasar terbuka yang berbasis produksi,dimana aliran barang,jasa dan investasi akan bergerak bebas tanpa adanya pembatasan (borderless)
Mewujudkan kawasan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi (single market/production base),yang ditandai dengan bebasnya sirkulasi barang,jasa dan arus investasi
Mewujudkan kawasan ekonomi yang mempunyai daya saing tinggi (highly competitive economic region)
Fokus pada pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM),mewujudkan kawsasan dengan pembangunan ekonomi yang merata
Mewujudkan kawasan yang terintegrasi
Jika dilihat dari sisi potensi ekonomi, Indonesia merupakan salah satu emerging country
yang saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi ASEAN. Dimana rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,3 persen jika dibandingkan dengan Malaysia 5,4 persen, Thailand 5 persen, Singapura 1,2 persen, Filipina 6,6 persen, dan Vietnam 5,7. Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar yakni 247 juta jiwa sebagai pasar potensial dan tenaga kerja.
Prospek Indonesia sebagai negara dengan perekonomian nomor 16 di dunia, nomor 4 di Asia setelah China, Jepang dan India, serta terbesar di Asia Tenggara, semakin menjanjikan karena didukung oleh melimpahnya sumber daya alam, pertumbuhan konsumsi swasta dan iklim investasi yang makin kondusif. Karena itu, Indonesia diprediksi bersama negara-negara BRIC akan mendominasi PDB dunia dengan share lebih dari 50% pada tahun 2025 dimana PDB perkapita kita diperkirakan akan mencapai sekitar 15.000 dollar AS.
Dengan AEC 2015 Indonesia akan berkesempatan menggenjot ekspor ke berbagai negara, disisi lain bila tidak siap dunia usaha lokal akan tergulung diterpa produk impor, AEC 2015 akan membuat pertukaran tenaga kerja, modal dan perdagangan berlangsung terbuka antar negara ASEAN. Dengan karakter seperti itu, persaingan tidak lagi semata-mata dalam konteks antar negara, tetapi juga antar daerah (region) dan bahkan antar individu.
tenaga kerja dan modal yang bebas, serta kemudahan arus keluar masuk prosedur kepabeanan antar negara ASEAN.
Secara teoritis integrasi ekonomi menjanjikan peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan Negara ASEAN lainya, diantaranya melalui pembukaan akses pasar yang lebih besar, dorongan mencapai efisiensi dan daya saing ekonomi yang lebih tinggi, termasuk terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
Pada dasarnya setiap negara memiliki berpeluang untuk berkembang sesuai dengan keunikan dan comparative advantage yang dimiliki. AEC 2015 bisa menjadi peluang yang membawa manfaat (land of opportunities) atau menjadi musibah (lost of opportunities)sangat tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Potensi ekonomi yang kita miliki sejatinya dapat menjadi nilai lebih kita dalam menghadapi “pertarungan” AEC 2015, bila dilakukan persiapan yang matang dan optimisme dalam memenangkan persaingan dalam sisa waktu mendatang.
Program Masyarakat Ekonomi ASEAN
1.
ASEAN telah menetapkan 5 sektor jasa barang prioritas dari 12 yang akan diliberalisasi yaitu : Jasa kesehatan,Jasa pariwisata,e-ASEAN,Jasa logistik dan jasa transportasi udara.Masing-masing sektor prioritas tersebut telah dilengkapi peta kebijakan (roadmaps) seperti langkah-langkah fasilitasi perdaganganTarget penghapusan dilakukan secara bertahap yaitu tahun 2010 untuk Jasa perhubungan udara,e-ASEAN,kesehatan dan pariwisata kemudian untuk tahun 2013 yaitu jasa logistik dan terakhir tahun 2015 untuk liberalisasi dibidang jasa
2.
Menetapkan program MRA (Mutual Recognition Arrangement) di bidang jasauntuk mencapai kesamaan/kesetaraan,pengurangan biaya,kepastian akses pasar serta peningkatan daya saing.Berikut ini ialah daftar MRA yang telah diratifikasi
Daftar MRA Negara Tanggal
MRA on Engineering Services Kuala Lumpur 9 Desember 2005 MRA on Nursing Services Filiphina 8 Desember 2006 MRA on Architectural Services Singapura 19 November 2007 MRA on Tourism Professional Hanoi,Vietnam 9 Januari 2009 MRA on Accountary Services Pharam,Thailand 26 Februari 2009 MRA of Medical Practicioners Pharam,Thailand 26 Februari 2009 MRA on Dental Practicioners Pharam,Thailand 26 Februari 2009
Menurut Soesastro ( 2003), pembentukan badan-badan regional independen seperti ” unit regional” dikelola oleh warga negara yang secara formal independen dari pemerintah ASEAN akan mampu mengelola program untuk mempercepat integrasi ekonomi, menegakkan keadilan dalam perdagangan, serta bantuan bagi pemerintah yang akan menjadi inovasi kelembagaan utama bagi ASEAN. Badan supranasional harus dipertimbangkan secara serius dalam konteks pengembangan AEC
3.2 Tantangan Integrasi Ekonomi Bagi Indonesia
Laju Peningkatan Ekspor dan Impor
Dampak Negatif Arus modal yang lebih bebas
Arus modal yang lebih bebas sangat mendukung transaksi keuangan yang lebih efisien serta merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan serta fasilitasi perdagangan internasional.Namun demikian proses liberalisasi arus modal dapat menimbulkan ketidakstabilan melalui dampak langsungnya maupun tidak langsung yang cenderung berujung pada Inflasi.Selain itu,konsentrasi arus modal yang lebih bebas ke kawasan tertentu dapat menimbulkan ketidakstabilan pada sektor makroekonomi.
Daya Saing sektor prioritas Integrasi
Tantangan lain yang harus dihadapi Indonesia adalah peningkatan keunggulan komparatif di sektor prioritas Integrasi.Saat ini Indonesia memiliki keunggulan di sektor/komoditi seperti produk berbasis kayu,pertanian,minyak sawit,perikanan dan elektronik sedangkan untuk tekstil,mineral,mesin-mesin produk kimia,karet dan kertas masih dengan tingkat keunggulan yang terbatas
Kepentingan Nasional
Kepentingan Nasional merupakan yang utama harus diamankan oleh negara anggota ASEAN.Kepentingan kawasan,apabila tidak sejalan dengan kepentingan nasional akan menghambat integrasi kawasan secara keseluruhan.Tentu saja hal ini berkonsekuensi pada perwujudan integrasi ekonomi kawasan akan terwujud dalam waktu yang lebih lama
Bab IV
Kesimpulan
ASEAN Economic Community (AEC) dalah bentuk integrasi regional yang direncanakan untuk dicapai pada tahun 2015.Dengan pencapaian tersebut maka ASEAN akan menjadi pasar berbasis tunggal dan basis produksi dimana terdapat arus barang,jasa dan tenaga kerja yang bebas serta aliran modal yang lebih bebas..Adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan bisa membawa ASEAN menjadi kawasan yang lebih makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata serta mengurangi kesenjangan sosial yang terjadi antar negara ASEAN.
Namun untuk mencapai tujuan tersebut,diperlukan usaha dan kerja keras dari semua pihak,baik pemerintah maupun masyarakat agar harapan yang dicita-citakan dapat terwujud.Keterlibatan semua pihak di kawasan ASEAN sangat dibutuhkan agar upaya ASEAN Economic Community itu sendiri dapat memberikan manfaat bagi seluruh negara ASEAN.
Daftar Pustaka
Djafar,Zainuddin (2008).
Indonesia,ASEAN,dan Dinamika Asia Timur
.Jakarta: Dunia Pustaka Jaya
Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN (2010).
ASEAN Selayang Pandang.
Jakarta: Kemenlu RI
Kementerian Perdagangan (2010).
Perkembangan Masyarakat Ekonomi
ASEAN.
Jakarta
Morgenthau,J.Hans (1967).
Politics Among Nation :The Struggle for Power
and Peace (4
thEd).
New York: Alfred.A Knopt
Stiglitz,Joseph (2006).
Making Globalization Work
. United States: W.W.
Norton & Company, Inc.
Website