• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS HUKUM DAN KEBUDAYAAN PERILAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARYA TULIS HUKUM DAN KEBUDAYAAN PERILAK"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS HUKUM DAN KEBUDAYAAN

“PERILAKU MENYIMPANG WANITA

TUNA SUSILA”

Disusun Oleh:

Hendra Kurniawan Eka Putra

1212021585

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TABANAN

2013

(2)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik. Adapun tujuan karya tulis ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum dan Kebudayaan, pada semester III, dengan judul Perilaku Menyimpang Wanita Tuna Susila.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada dosen mata kuliah Hukum Dan Kebudayaan Bapak I Wayan Jekalaya, SH, MH yang telah membimbing penulis selama proses pembuatan karya tulis ini. Serta teman-teman yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu pembuatan karya tulis dengan memberikan saran yang berguna selama pembuatan karya tulis ini.

Materi karya tulis yang disajikan meliputi seperangkat pengetahuan tentang perilaku menyimpang dari wanita tuna susila. Dengan demikian, diharapkan para pembaca akan dapat berpikir kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi keberadaan wanita tuna susila di negara kita yang tercinta ini, berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti rasisme.

Semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan. Penulis sadar sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif dari semua pihak demi penulisan karya tulis yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Tabanan, 18 November 2013

(3)

daftar isi

A. Pengertian Wanita Tuna Susila……… ………7

B. Faktor faktor yang mendorong menjadi Wanita Tuna Susila…... ……….……….8

(4)

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sosial di masyarakat kita, di manapun berada, selalu terdapat penyimpangan-penyimpangan sosial yang dilakukan oleh sebagian orangnya, baik yang dilakukan secara sengaja maupun terpaksa. Fenomena tersebut tidak dapat dihindari dalam sebuah masyarakat. Interaksi sosial yang terjadi di antara anggota masyarakat terkadang menimbulkan gesekan-gesekan yang tidak jarang menimbulkan penyimpangan norma yang berlaku pada masyarakat tersebut.

Dalam kehidupan sekarang ini keberadaan wanita tuna susila atau sering disebut WTS merupakan fenomena yang tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, akan tetapi keberadaan tersebut ternyata masih menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Pertanyaan apakah Wanita Tuna Susila (WTS) termasuk kaum yang tersingkirkan atau kaum yang terhina, hal tersebut mungkin sampai sekarang belum ada jawaban yang dirasa dapat mengakomodasi konsep Wanita Tuna Susila itu sendiri. Hal ini sebagian besar disebabkan karena mereka tidak dapat menanggung biaya hidup yang sekarang ini semuanya serba mahal.

Masalah Wanita Tuna Susila selalu ada pada setiap Negara maupun daerah dan merupakan masalah sosial yang sulit untuk dipecahkan. Adanya Wanita Tuna Susila ini ditengah masyarakat ini dianggap sebagai permasalahan sosial dan sangat mengganggu masyarakat disekitarnya. Hal ini karena perbuatan tersebut dilarang oleh agama maupun norma-norma masyarakat luas yang mana perbuatan tersebut adalah dosa besar. Kesetaraan gender menempatkan posisi kaum wanita pada tingkatan yang sama dengan kaum pria, salah satunya mendapatkan pengakuan yang sama dalam melakukan berbagai aktivitas publik yang didasari oleh kepentingan ekonomi rumah tangga. Bentuk perubahan persepsi yang semakin baik menempatkan wanita sebagai target pemberdayaan. Namun demikian, tidak semua kaum wanita terjangkau oleh program pembangunan ini. Salah satunya adalah mereka yang bekerja sebagai Wanita Tuna Susila (WTS).

(5)

Berangkat dari latar belakang diatas, untuk membatasi agar sampai pembahasan yang diuraikan keluar dari pokok permasalahan, maka adapun ruang lingkup masalahnya adalah : Tentang pengertian dari Wanita Tuna Susila dan faktor faktor yang mendorong menjadi Wanita Tuna Susila, serta upaya penanganan yang dapat diberikan terhadap masalah Wanita Tuna Susila.

C. Perumusan Masalah

Atas dasar penentuan latar belakang dan ruang lingkup masalah diatas, maka penulis dapat mengambil perumusan masalah sebagai berikut:

1. Pengertian tentang Wanita Tuna Susila

2. Faktor faktor yang mendorong menjadi Wanita Tuna Susila

3. Upaya penanganan yang dapat diberikan terhadap masalah Wanita Tuna Susila

D. Tujuan dan Manfaat

Penulisan ini dilakukan untuk dapat memenuhi tujuan-tujuan yang dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam pemahaman tentang bagaimana para Wanita Tuna Susila menekuni perilaku menyimpang tersebut. Secara terperinci tujuan dari penulisan adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian tentang Wanita Tuna Susila

2. Untuk mengetahui apa faktor faktor yang mendorong menjadi Wanita Tuna Susila

4. Untuk mengetahui Bagaimana upaya penanganan yang dapat diberikan terhadap masalah Wanita Tuna Susila

E. Metode Penulisan

(6)

juga teknik studi kepustakaan. Tidak hanya itu, penulis juga mencari bahan dan sumber-sumber dari media masa elektronik yang berjangkauan internasional yaitu, Internet.

F. Hipotesis

Penelitian ini dilakukan berangkat dari keyakinan penulis setelah cukup melakukan pengenalan secara meluas terhadap masalah yang diangkat. Adapun keyakinan atau hipotesis tersebut adalah kurangya pemahaman masyarakat terhadap faktor penyebab terjadinya pola hidup sebagai pekerja seks dan perspektif yang sesungguhnya dari para Wanita Tuna Susila sendiri terhadap nilai ajaran agama dan norma yang ada di masyarakat. Hal ini, menjadi salah satu faktor yang paling dominan untuk dapat dikatakan sebagai penyebab.

BAB ii

pembahasan

(7)

Wanita Tuna Susila (WTS) atau pekerja seks komersial adalah salah satu bentuk perilaku yang menyimpang di masyarakat yaitu perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengn kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Penyimpangan adalah perbuatan yang mengabaikan norma dan penyimpangan ini terjadi jika seseorang tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat.

Wanita Tuna Susila secara istilah diartikan sebagai kurang beradab karena dalam bentuk penyerahan diri pada banyak laki-laki untuk memuaskan seksual, dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayanannya. Tuna susila itu juga bisa diartikan sebagai salah tingkah, tidak susila atau gagal menyesuaikan diri terhadap norma norma susila. Yaitu wanita yang tidak pantas kelakuannya, dan bisa mendatangkan malapetaka dan penyakit, baik kepada orang yang bergaul dengan dirinya, maupun kepada diri sendiri. Banyak istilah yang digunakan bentuk menyebut Wanita Tuna Susila ini seperti pelacur, pekerja sek komersial ( PSK ), sundel dan kupu-kupu malam. Keberadaan masalah Wanita Tuna Susila ini telah ada sejak zaman dahulu kala hingga sekarang.

Wanita Tuna Susila ini identik dengan perzinahan yang merupakan suatu kegiatan seks yang dianggap tidak bermoral oleh banyak agama. Perilaku seksual oleh masyarakat dianggap sebagai kegiatan yang berkaitan dengan tugas reproduksi yang tidak seharusnya digunakan secara bebas demi untuk memperoleh uang. WTS dianggap sebagai ancaman terhadap kehidupan keluarga yang dibentuk melalui perkawinan dan melecehkan nilai sakral perkawinan. Kaum wanita membenci WTS karena dianggap sebagai pecuri cinta dari laki-laki (suami) mereka sekaligus pencuri hartanya.

B.Faktor faktor yang mendorong menjadi Wanita Tuna Susila

(8)

Salah satu faktor yang mendorong kaum wanita bekerja sebagai Wanita Tuna Susila adalah masalah ekonomi dan secara tidak langsung keberadaan WTS telah menjadi faktor penyelamat bagi kehidupan ekonomi keluarganya. Namun demikian, peran penting ini tidak pernah terlihat secara bijak oleh masyarakat. Masyarakat cenderung melihat hanya dari satu sisi yang cenderung subjektif, menghakimi dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada umumnya. WTS merupakan bagian dari kelompok sosial dalam masyarakat yang seharusnya mendapatkan pengakuan yang sama. Tidak selayaknya stigma atau pernyataan baik dan buruk terus dilontarkan pada kelompok yang cenderung terpojokkan.

Selain faktor ekonomi dan kemiskinan yang melatar belakangi wanita bekerja sebagai WTS ada juga beberapa faktor lain yaitu :

a.) Adanya faktor nafsu seks yang abnormal, tidak terintegrasi dalam kepribadian dan keroyalan seks, histeris dan hyperseks sehingga tidak cukup puas mengadakan seks dengan satu pria atau dengan suaminya.

b.) Pengendalian diri dan ketidaksetabilan jiwa yang rendah.

c.) Pola hidup yang materialistik dan keinginan yang tinggi namun tidak diimbangi oleh kemampuan dan potensi yang memadai.

d.) Rasa ingin tahu gadis-gadis atau anak-anak puber pada masalah seks, secara tidak benar sehingga terjerumus pada dunia prostitusi.

e.) Anak-anak gadis yang memberontak pada otoritas orang tua yang menekankan hal-hal yang dianggap tabu dan peraturan seks, juga memberontak terhadap remaja dan lebih menyukai pola seks bebas.

f.) Pengaruh lingkungan yang negatif dan lingkungan yang amoral, sehingga sejak kecil melihat persenggamaan orang dewasa secara terbuka. Sehingga terkondisikan mentalnya pada tindakan asusila, lalu menjadi WTS untuk mempertahankan hidupnya.

g.) Stimulasi seksual melalui film-film blue, gambar porno, bacaan cabul dan sebagainya. h.) Gadis pelayan dan pembantu rumah tangga yang patuh dan tunduk pada kemauan

untuk melayani kebutuhan seks majikan untuk mempertahankan pekerjaannya. i.) Penundaan perkawinan jauh sesudah kematangan biologis, karena pertimbangan

(9)

j.) Disorganisasi keluarga, Broken Home, ayah ibu lari atau atau menikah lagi. Sehingga anak menjadi sengsara batinnya, dan menghibur diri terjun dalam lembah hitam menjadi WTS.

k.) Gadis-gadis yang kecanduan obat terlarang menjadi WTS sebagai kompensasi untuk mendapatkan obat-obatan tersebut.

l.) Pengalaman-pengalaman dan sock mental seperti gagal dalam perkawinan sehingga muncul rasa dendam dan menerjunkan dirinya sebagai WTS.

m.) Ajakan teman-teman sekampung atau sekota yang sudah terjerumus dan terlihat sukses secara materi dalam dunia prostitusi.

n.) Adanya kebutuhan seks normal tetapi tidak terpuaskan oleh suami, misalnya karena impoten, menderita sakit atau bertugas ditempat lain yang jauh.

Meskipun Wanita Tuna Susila dianggap melanggar norma dan moralitas, namun sebagai individu, mereka tidak dapat terlepas dari lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya proses penyesuaian diri dalam interaksinya mereka berusaha menutupi pekerjaan sebagai Pelacur, terutama di lingkungan keluarga dan tempat tinggal, untuk menghindari keterasingan dari lingkungan tersebut. Penyesuaian diri yang dilakukan bersifat fasif, mereka menyesuaikan diri dengan bersikap dan bertingkah laku layaknya individu lain di lingkungan tersebut.

Secara psikologis, seorang WTS merasa dirinya ‘kotor’ sehingga dia merasa tidak pantas untuk hidup di lingkungan masyarakat yang bersih. Citra dan image masyarakat yang belum bisa menerima dirinya kembali, membuat seorang WTS cenderung sangat sulit untuk berubah atas profesinya.

A.Upaya penanganan yang dapat diberikan terhadap masalah Wanita Tuna Susila

(10)

individu-individu (WTS) untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan fungsi sosial dimasyarakat seperti seharusnya.

Sebenarnya pemerintah telah menempuh berbagai upaya untuk mengatasi masalah pelacuran dan akibat yang ditimbulkannya, diantaranya dengan sering mengadakan razia oleh Satpol PP untuk menangkap dan kemudian memberi pengarahan kepada para WTS, namun cara itu tidak efektif menekan perkembangan prostitusi.

Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah dalam penanggulangan masalah WTS antara lain dengan cara :

a) Melarang dengan undang-undang, diikuti oleh razia-razia / penangkapan

b) Dengan pencatatan dan pengawasan kesehatannya

c) Ditampung di tempat-tempat jauh di luar kota dengan pengawasan dan perawatan serta diberikan penerangan-penerangan agama atau pendidikan, juga diadakan larangan-larangan terhadap anak-anak muda yang mengunjungi tempat tersebut.

d) Rehabilitasi dalam asrama-asrama dimana para WTS yang tertangkap diseleksi, yang dianggap masih dapat diperbaiki ditampung dalam asrama, mereka dididik dalam keterampilan, agama dan lain-lain dipersiapkan untuk dapat kembali ke masyarakat sebagai warga yang baik kembali.

(11)

BAB iII

PENUTUPAN

A. KESIMPULAN

Wanita tuna susila atau yang kebih dikenal dengan sebutan WTS atau pelacur merupakan salah satu masalah sosial yang keberadaannya sudah sangat lama dan sebagai masalah sosial karena perbuatan ini dianggap melanggar norma-norma masyarakat maupun agama. WTS atau pelacur adalah salah satu bentuk perilaku yang menyimpang di masyarakat yaitu perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengn kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Penyimpangan adalah perbuatan yang mengabaikan norma dan penyimpangan ini terjadi jika seseorang tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat.

Sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah WTS dan akibat yang ditimbulkannya, diantaranya dengan sering mengadakan razia oleh Satpol PP untuk menangkap dan kemudian memberi pengarahan kepada para pelacur jalanan, namun cara itu belum efektif menekan perkembangan prostitusi di Indonesia.

B. SARAN

Apapun bentuknya, Wanita Tuna Susila, perempuan yang dilacurkan adalah korban yang berhak atas perlakuan manusiawi karena mereka sama seperti kita. Keberpihakan itu tidak berarti kita menyetujui pelacuran, tetapi mencoba memberi nuansa pendekatan yang berperikemanusiaan. Pendekatan melalui sosial dan agama bisa dilakukan untuk memperkecil tingkat pelacuran di Indonesia.

(12)

mencoba memberi nuansa pendekatan yang berperikemanusiaan. Sekarang sudah saatnya semua pihak, termasuk birokrat, peneliti, akademisi, agamawan, dan praktisi, duduk bersama dan berusaha menemukan solusi efektif untuk menyelesaikan masalah ini.

Kita tidak perlu menangani isu ini dengan sikap yang terlalu emosional dan bertindak melebihi hakim tetapi sebagai manusia yang hidup dengan berbagai kebutuhan, kita akan selalu diperhadapkan dengan pilihan termasuk dalam memenuhi kebutuhan itu. Kita harus secara serius membicarakan masalah lain yang juga menentukan tentang Wanita Tuna Susila, misalnya dalam hal kemiskinan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Wanita Tuna Susila atau pelacur adalah sebuah tanda ketidakmampuan untuk mengahadapi kerasnya hidup walau ada yang memang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat mencari uang atau ladang usaha. Penulis menyadari bahwa terkadang manusia cenderung berpikir secara cepat dalam mengahadapi tekanan hidup tetapi adalah sangat tepat jika kita sebagai warga negara juga melihat dan memaksimalkan setiap potensi dan kemampuan secara aktif dalam hidup.

Masyarakat bila digerakkan dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait akan mampu melakukan tindak pencegahan atau minimal meminimalisir prilaku prostitusi di lingkungannya. Misalnya dilakukan dengan cara pendekatan-pendekatan kemanusiaan, sosial dan agama.

Janganlah kita melihat, menilai, apalagi menghakimi hitam-putih, baik-buruknya seseorang dari apa yang ia lakukan. Urusan benar-salah, dosa-tidak dosa, adalah urusan manusia dengan Tuhan-nya. Bagaimanapun, niat bertobat dalam hati para perempuan yang dilacurkan lebih patut dihargai jika dibandingkan dengan para koruptor yang diam-diam memakan uang rakyat banyak.

DAFTAR pustaka

Kartini Kartono, Patology Social, Jakarta : Rajawali, 1992.

(13)

Al-Malik. 2010 . Kisah Pelacur Yang Menjadi Ahli Surga. Madinah: detik.com

Google Search Engine.

Referensi

Dokumen terkait

Ada keterbatasan visual yang menentukan maksimum jarak dari area panggung yang mana jika jarak maksimun tersebut dilampaui maka penonton tidak bisa mengapresiasi

Salah satu faktor penyebab tingginya temperatur nyala pada bahan bakar TPO yaitu, dikarenakan hasil burning rate yang menunjukkan TPO lebih tinggi dibandingkan

Dalam kedudukannya sebagai pengelola barang, dan dihubungkan dengan amanat pasal 6 ayat (2) Undang-undang nomor 17 tahun 2003, Gubernur juga berwenang mengajukan usul untuk

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengambil uranium dari filtrat hasil digesti bijih Rirang secara asam yang mengandung uranium, torium, logam tanah jarang dan posfat dengan

Beberapa kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah pembinaan apotek sebagai salah satu agenda Binwasdal (Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian) Sarana Farmasi

Saya suka kain dan pakaian, saya suka menjahit pakaian untuk klien saya, saya suka ketika saya melihat mata bahagia siswa saya yang telah membuat rok atau gaun pertama mereka,

Proses pengolahan air limbah dengan proses biofilter dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam reaktor biologis yang telah diisi dengan media

Khusus kalian yang suka bermain game online sampai jago saat memainkan atau bisa disebut sebagai pro player, maka anda bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mendapatkan