• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS EDUKASI BERBASIS WEBSITE TER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EFEKTIVITAS EDUKASI BERBASIS WEBSITE TER"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS EDUKASI BERBASIS

WEBSITE

TERHADAP

PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PADA

SWAMEDIKASI

ACNE VULGARIS

DI SMA BOPKRI 2

YOGYAKARTA

(EFFECTIVENESS OF WEBSITE BASED EDUCATION ON

KNOWLEDGE AND ATTITUDE OF

ACNE VULGARIS

SELF

MEDICATION AT BOPKRI 2 SENIOR HIGH SCHOOL

YOGYAKARTA)

Ni Putu Isabela Meita Putri, Lolita, Muhammad Joko Susilo, Muhammad Muhlis

Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Farmasi, Prodi Farmasi Jl. Prof. Dr. Soepomo, S.H., Janturan, Umbulharjo, Yogyakarta 55164

[email protected]

ABSTRAK

(2)

signifikan sebelum dan sesudah edukasi. Uji independent t-test menunjukkan nilai p=0,000 dimana terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan antara kelompok kontrol dengan perlakuan. Uji mann whitney menunjukkan nilai p=0,000 dimana terdapat peningkatan sikap yang signifikan antara kelompok kontrol dengan perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu edukasi langsung dan berbasis website efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja mengenai swamedikasi Acne vulgaris.

Kata kunci : Acne vulgaris, remaja, website, pengetahuan, sikap

ABSTRACT

The presence of technology can be an alternative for educational delivery, especially in the field of health. This study aims to determine the effectiveness of website based education on knowledge and attitude of Acne vulgaris self medication at BOPKRI 2 Senior High School Yogyakarta. This research is an experimental design with pre-test/post-test control group design study. Inclusion criteria in this study are male and female students in 13-19 years, active and able to use the internet media, and willing to fill out the research questionnaire, while the exclusion criteria are students who perform routine skin care in the treatment of acne. Sampling technique using nonprobability sampling is convenience sampling. The control group consisted of 62 respondents who were given direct education and using leaflet and treatment group consisted of 62 respondents who were given direct education and website-based (www.seputarfarmasi.com). Data analysis using paired t-test, wilcoxon test, independent t-test, and mann whitney test. In paired t-test, there is a significant increase of knowledge before and after education with p value=0,000 in each group. The wilcoxon test in the treatment group showed p value=0,000 where there was a significant increase in attitude before and after education. The independent t-test showed p value=0,000 where there was a significant increase of knowledge between the control group and the treatment. The mann whitney test showed p value=0,000 where there was a significant increase in attitude between the control group and the treatment. The conclusion of this research is direct and website-based education effectively improve the knowledge and attitude of Acne vulgaris self medication at BOPKRI 2 Senior High School Yogyakarta.

Keywords: Acne vulgaris, adolescent, website, knowledge, attitude

Pendahuluan

Angka kejadian Acne

vulgaris secara umum sekitar 85%

dimana pada wanita terjadi saat usia

14-17 dan pada laki-laki saat usia

16-19 tahun dengan dengan masalah

yang sering timbul seperti pori-pori

yang tersumbat dan benjolan pada

wajah yang berisi cairan (Tjekyan,

(3)

segera ditangani, dikhawatirkan bisa

menimbulkan bekas luka pada

tempat timbulnya Acne vulgaris.

Pilihan untuk penanganan suatu

penyakit, antara lain adalah dengan

berobat ke dokter atau upaya untuk

mengobati diri sendiri (Atmoko,

2009).

Pengobatan sendiri atau yang

dapat disebut dengan swamedikasi

merupakan suatu usaha dalam

menangani/mengobati gejala

terhadap suatu penyakit yang

dirasakan dan paling banyak

dilakukan oleh masyarakat sebelum

mencari pertolongan lebih lanjut

kepada tenaga kesehatan (Depkes RI,

2008). Peran tenaga kesehatan salah

satunya farmasis dalam memberikan

swamedikasi kepada pasien

diantaranya ialah sebagai

komunikator, penyedia obat yang

berkualitas, pengawas dan pelatih,

serta promotor kesehatan (Anonim,

2013). Salah satu cara farmasis

dalam perannya sebagai komunikator

adalah dengan memberikan edukasi

kepada pasien (Depkes RI, 2006).

Salah satu metode edukasi yang

sedang dikembangkan yaitu edukasi

berbasis website yang mengacu pada

kegiatan penyampaian informasi

melalui media internet dengan

berdasar pada kebutuhan pasien yang

masih ragu untuk lebih terbuka dan

bertanya langsung mengenai keluhan

yang dialami (Hanley, 2006). Tujuan

penelitian ini yaitu untuk mengetahui

efektivitas edukasi berbasis website

terhadap pengetahuan remaja pada

swamedikasi Acne vulgaris di SMA

BOPKRI 2 Yogyakarta.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan

penelitian eksperimental dengan

desain studi pre-test/post-test control

group. Kuesioner sebagai alat ukur

yang dipergunakan dalam penelitian

ini diadaptasi dari kuesioner dalam

skripsi yang berjudul “Pengetahuan

dan Sikap Remaja SMA Santo

Thomas 1 Medan Terhadap Jerawat

dan disusun oleh Andy pada tahun

2009 yang diuji kembali validitas

dan reliabilitas kepada remaja di

seputar lokasi penelitian yang

memenuhi kriteria inklusi.

Populasi pada penelitian ini

berjumlah 302 orang dimana terdiri

dari seluruh siswa kelas 10 dan 11 di

SMA BOPKRI 2 Yogyakarta selama

(4)

2017. Sampel pada penelitian ini

adalah siswa yang memenuhi kriteria

inklusi, yaitu siswa laki-laki maupun

perempuan yang berumur 13-19

tahun, aktif dan dapat menggunakan

media internet, serta siswa yang

bersedia mengisi kuisioner

penelitian. Sedangkan kriteria

eksklusi, yaitu siswa yang rutin

melakukan kontrol ke dokter

spesialis kulit atau melakukan

perawatan rutin dalam penanganan

acne.

Jumlah sampel pada

penelitian ini ditentukan dengan

menggunakan rumus slovin, yaitu:

n =

( ) n = ( , )= 80

Penelitian ini menggunakan metode

non-probability sampling yaitu

convenience sampling dimana

sampel diambil berdasarkan kelas

yang diijinkan oleh pihak sekolah

untuk dilakukannya penelitian. Pada

penelitian ini diperoleh responden

sebanyak 124 responden. Pada

kelompok kontrol diperoleh sampel

sebanyak 23 responden dari kelas 11

IPA I, 27 responden dari kelas 10 B,

dan 12 responden dari kelas 10 A.

Pada kelompok perlakuan diperoleh

sampel sebanyak 23 responden dari

kelas 11 IPA II, 25 responden dari

kelas 10 C, dan 14 responden dari

kelas 10 A.

Kelompok kontrol terdiri dari

62 responden yang diberi intervensi

berupa edukasi menggunakan leaflet

(lembar materi) dan kelompok

perlakuan terdiri dari 62 responden

yang diberi intervensi berupa edukasi

berbasis website (media internet).

Kelompok kontrol dan perlakuan

masing-masing dibagi menjadi 7-10

kelompok dimana setiap kelompok

terdiri dari 6-8 orang. Kelompok

kontrol dan perlakuan

masing-masing akan diberi intervensi pada

hari yang berbeda namun dalam satu

waktu dengan metode discusion

focus group.

Proses pengambilan data

yang dilakukan yaitu pengisian

kuesioner (pre-test) dan pemberian

intervensi (edukasi) pada hari

pertama, kemudian dilanjutkan

dengan pengisian kuesioner kembali

(post-test) 1 hari berikutnya. Analisis

data yang digunakan dalam

penelitian ini, yaitu uji Normalitas,

uji t-berpasangan (Paired t-test),

Independent t-test, dan One Way

(5)

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan uji validitas dan

reliabilitas yang telah dilakukan

peneliti sebanyak 2 kali diperoleh

nilai r hitung>r tabel (0,361) pada

keseluruhan soal, baik pada

kuesioner pengetahuan maupun pada

kuesioner sikap. Sedangkan pada uji

reliabilitas, keseluruhan kuesioner

dinyatakan reliabel karena nilai

Cronbach’s Alpha>600.

Tabel I. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa pada usia 16 tahun merupakan

rentang usia remaja yaitu 10-22

tahun dan prevalensi tertinggi

terjadinya jerawat yaitu pada usia

16-17 tahun (Notoatmodjo, 2007; Andy,

2009).

Tabel II. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis

Kelamin

Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Laki-laki 40 65% 33 53%

Perempuan 22 35% 29 47%

Total 62 100% 62 100%

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa responden laki-laki pada

kelompok kontrol dengan edukasi

leaflet lebih banyak daripada

perempuan yaitu dengan persentase

sebesar 65%. Sedangkan pada

kelompok perlakuan, responden

laki-laki juga lebih banyak daripada

perempuan yaitu dengan persentase

sebesar 53%. Hal ini dapat timbul

salah satunya karena adanya faktor

pencetus yang mendominasi pada

laki-laki seperti makanan dan stres.

Laki-laki juga cenderung terlambat

untuk mencari pengobatan Acne

vulgaris dan lebih memilih untuk

membiarkan keluhan kemudian baru

datang berobat jika kondisi sudah

parah (Ayudianti, 2014).

Tabel III. Karakteristik Responden Berdasarkan Transportasi Sekolah Transportasi

Sekolah

Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan

Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Jalan Kaki 4 7% 3 5%

Kelompok Usia

Kelompok Kontrol

(6)

Sepeda 0 0% 1 2%

Motor 48 77% 49 79%

Mobil 5 8% 2 3%

Angkutan

Umum 5 8% 7 11%

Total 62 100% 62 100%

Berdasarkan hasil penelitian,

mayoritas responden menggunakan

transportasi motor saat bersekolah,

baik pada kelompok kontrol dengan

persentase sebesar 77% maupun pada

kelompok perlakuan dengan

persentase sebesar 79%. Terlalu

sering berada di lingkungan yang

banyak debu, kotor, dan terpapar

asap kendaraan saat bermotor akan

membuat wajah cenderung lebih

kotor. Jika tidak teratur

membersihkan wajah, debu dan

kotoran akan menumpuk dan

menyumbat pori-pori kulit sehingga

dapat menyebabkan timbulnya

jerawat (Achroni, 2012).

Tabel IV. Rata-rata Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi dengan

Leafletpada Kelompok Kontrol

Rata-rata skor pengetahuan

sebelum dan sesudah diberikan

intervensi pada kelompok kontrol

mengalami peningkatan sebesar

(7,08±5,224) dengan hasil p value

yang diperoleh sebesar 0,000 yang

menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan terhadap

rata-rata

skor pengetahuan sebelum dan

sesudah edukasi dengan leaflet pada

kelompok kontrol. Leaflet dipilih

sebagai media karena mudah

disimpan, ekonomis, dan bisa

berfungsi sebagai pengingat bagi

sasaran. Keberhasilan penyuluhan

dapat dilihat dari peningkatan

pengetahuan (Pulungan, 2008). Kelompok

Rata-rata Skor Pre-test Post-test

(x + SD) 14,11 ± 4,266 21,19 ± 6,078

P Value

(Uji normalitas) 0,200 0,008

P Value

(7)

Tabel V. Rata-rata Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi dengan

Websitepada Kelompok Perlakuan

Rata-rata skor pengetahuan

sebelum dan sesudah diberikan

intervensi pada kelompok perlakuan

mengalami peningkatan sebesar

(11,27±4,979) dengan hasil p value

yang diperoleh sebesar 0,000 yang

menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan terhadap

rata-rata skor pengetahuan sebelum

dan sesudah edukasi dengan website

pada kelompok perlakuan. Media

online salah satunya website lebih

cepat dalam menyajikan informasi,

praktis, dan fleksibel karena dapat

diakses dari mana saja dan kapan

saja (Yohan, 2013).

Tabel VI. Rata-rata Skor Sikap Sebelum dan Sesudah Edukasi denganLeaflet

pada Kelompok Kontrol

Rata-rata skor sikap sebelum

dan sesudah diberikan intervensi

pada kelompok kontrol mengalami

peningkatan yang sangat kecil yaitu

sebesar (0,33±3,697) dengan hasil p

value yang diperoleh sebesar 0,649

yang menunjukkan bahwa tidak

terdapat perbedaan yang signifikan

terhadap rata-rata skor sikap sebelum

dan

sesudah edukasi dengan leaflet pada

kelompok kontrol. Media leaflet

belum mampu memberikan landasan

kognitif yang lebih baik sehingga

komponen afektif responden

menunjukkan arah sikap positif yang

rendah daripada sebelum diberikan

edukasi (Fisher, 2009; Dewi, 2010). Kelompok

Rata-rata Skor Pre-test Post-test

(x + SD) 13,45 ± 3,920 24,73 ± 5,054

P Value

(Uji normalitas) 0,200 0,017

P Value

(Ujiwilcoxon) 0,000

Kelompok

Rata-rata Skor Pre-test Post-test

(x + SD) 34,35 ± 2,954 34,68 ± 3,463

P Value

(Uji normalitas) 0,200 0,016

P Value

(8)

Tabel VII. Rata-rata Skor Sikap Sebelum dan Sesudah Edukasi dengan Website

pada Kelompok Perlakuan

Rata-rata skor sikap sebelum

dan sesudah diberikan intervensi

pada kelompok perlakuan mengalami

peningkatan sebesar (2,94±3,351)

dengan hasil p value yang diperoleh

sebesar 0,000 yang menunjukkan

bahwa terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap rata-rata skor

sikap sebelum dan sesudah edukasi

dengan website pada kelompok

perlakuan. Hal ini terjadi karena

dengan sifat dan karakteristik

internet yang cukup khas, website

dapat digunakan sebagai media

pembelajaran (Fibriana, 2016).

Tabel VIII. Rata-rata Peningkatan Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah EdukasiLeafletdanWebsite

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa pemberian edukasi dengan

website dapat lebih meningkatkan

skor pengetahuan daripada

pemberian dengan leaflet dimana

selisih peningkatan rata-rata skor

pengetahuan pada kelompok kontrol

dengan perlakuan sebesar

(4,19±0,245). Hasil ini sesuai dengan

pendapat Tuong (2015) dimana

edukasi pasien berbasis internet

merupakan metode yang efektif

untuk memperbaiki pengetahuan

jerawat di kalangan remaja.

Data rata-rata peningkatan

skor pengetahuan sebelum dan

sesudah diberikan intervensi pada

kelompok kontrol dengan kelompok Kelompok

Rata-rata Skor Pre-test Post-test

(x + SD) 34,11 ± 2,800 37,05 ± 3,351

P Value

(Uji normalitas) 0,080 0,194

P Value

(Ujipaired t-test) 0,000

Kelompok Rata-rata

Peningkatan Skor

Leaflet Website

(x + SD) 7,08 ± 5,224 11,27 ± 4,979

P Value

(Uji normalitas) 0,200 0,200

P Value

(9)

perlakuan diperoleh p value sebesar

0,000 yang menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan

terhadap rata-rata peningkatan skor

pengetahuan sebelum dan sesudah

diberikan intervensi pada kelompok

kontrol dengan kelompok perlakuan.

Sesuai dengan pernyataan Sunarto

(2010), layanan konseling/edukasi

online merupakan layanan yang

dapat diberikan kepada masyarakat

luas dalam memberikan kemudahan

dalam mengakses informasi.

Tabel IX. Rata-rata Peningkatan Skor Sikap Sebelum dan Sesudah Edukasi

LeafletdanWebsite

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa pemberian edukasi dengan

website dapat lebih meningkatkan

skor sikap daripada pemberian

dengan leaflet dimana selisih

peningkatan rata-rata skor

pengetahuan pada kelompok kontrol

dengan perlakuan sebesar 26,38.

Hasil ini sesuai dengan pendapat

Ozad (2010) dimana siswa

memegang sikap positif terhadap

penggunaan internet sebagai media

edukasi, baik untuk keperluan

akademik maupun komunikasi.

Data rata-rata peningkatan

skor sikap sebelum dan sesudah

diberikan intervensi pada kelompok

kontrol dengan kelompok perlakuan

diperoleh p valuesebesar 0,000 yang

menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan terhadap

rata-rata perubahan skor sikap

sebelum dan sesudah diberikan

intervensi pada kelompok kontrol

dengan kelompok perlakuan. Tuncer

(2013) berpendapat bahwa internet

dianggap sebagai penyedia informasi

terbaik dan tercepat dan sangat

diperlukan bagi siswa untuk

mengeksplorasi sikap untuk

mendapatkan informasi berupa

pekerjaan, kursus, komunikasi, dan

lainnya Kelompok

Rata-rata

Peningkatan Skor

Leaflet Website

(x + SD) 49,31 ± 3,697 75,69 ± 3,697

P Value

(Uji normalitas) 0,004 0,002

P Value

(10)

Tabel X. Rata-rata Peningkatan Skor Pengetahuan Terhadap EdukasiLeafletdan

WebsiteBerdasarkan Usia

Berdasarkan hasil penelitian,

pada kelompok kontrol dengan

edukasi langsung dan menggunakan

leaflet maupun pada kelompok

perlakuan dengan edukasi langsung

dan berbasis website diperoleh p

valuesebesar 0,000. Hal ini

menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan terhadap

tingkat pengetahuan dengan usia

responden. Menurut Anggraini

(2012), masalah jerawat memberi

kesan psikologis yang buruk pada

remaja, terutama remaja dalam

rentang usia sekolah.

Tabel XI. Rata-rata Peningkatan Skor Pengetahuan Terhadap EdukasiLeafletdan

WebsiteBerdasarkan Jenis Kelamin

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa tidak terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap tingkat

pengetahuan dengan jenis kelamin.

Dalam hal ini, peneliti berasumsi

bahwa informasi yang diperoleh

remaja untuk meningkatkan

pengetahuan tidak dipengaruhi oleh

jenis kelamin melainkan bagaimana

pribadi remaja dalam berkemauan

untuk mengetahui dan menggali

informasi mengenai swamedikasi

Acne vulgaris.

Tabel XII. Rata-rata Peningkatan Skor Pengetahuan Terhadap EdukasiLeafletdan

WebsiteBerdasarkan Transportasi Sekolah Kelompok

Usia

Leaflet Website P Value(Ujimann whitney)

14-18 tahun 0,000 0,000

Kelompok Jenis Kelamin

Leaflet Website P Value(Ujikruskal wallis) Laki-laki

0,282 0,949

Perempuan

Kelompok Transportasi

Leaflet Website P Value(Ujikruskal wallis) Jalan Kaki

0,563 0,562

(11)

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa tidak terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap tingkat

pengetahuan dengan transportasi

sekolah. Peneliti berasumsi bahwa

pengetahuan remaja mengenai

swamedikasi Acne vulgaris tidak

berdasarkan pada transportasi yang

digunakan saat bersekolah. Meskipun

remaja sering berada di lingkungan

yang banyak debu, kotor, dan

terpapar asap kendaraan, jika remaja

lebih mengetahui mengenai

swamedikasi dan upaya pencegahan

terjadinya Acne vulgaris, maka

remaja dapat meminimalisir

kemungkinan timbulnya jerawat.

Tabel XIII. Rata-rata Peningkatan Skor Sikap Terhadap Edukasi Leafletdan

WebsiteBerdasarkan Usia

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap sikap dengan usia

responden. Hasil ini tidak sejalan

dengan penelitian Andy (2009)

dimana seiring dengan pertambahan

usia, maka sikap responden terhadap

jerawat tidak mengalami perubahan.

Tabel XIV. Rata-rata Peningkatan Skor Sikap Terhadap EdukasiLeafletdan

WebsiteBerdasarkan Jenis Kelamin

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa tidak terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap tingkat

pengetahuan dengan jenis kelamin.

Dalam hal ini peneliti berasumsi

bahwa sikap responden terhadap

swamedikasi Acne vulgaris

tergantung oleh kesadaran pribadi

masing-masing dan bukan dilihat

berdasarkan jenis kelamin. Kelompok

Usia

Leaflet Website P Value(Ujimann whitney)

14-18 tahun 0,000 0,000

Kelompok Jenis Kelamin

Leaflet Website P Value(Ujikruskal wallis) Laki-laki

0,594 0,728

(12)

Tabel XV. Rata-rata Peningkatan Skor Sikap Terhadap EdukasiLeafletdan

WebsiteBerdasarkan Transportasi Sekolah

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa tidak terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap tingkat

pengetahuan dengan transportasi

sekolah. Meskipun remaja sering

berada di lingkungan yang banyak

debu, kotor, dan terpapar asap

kendaraan, namun bila remaja

memiliki kesadaran yang baik

terhadapAcne vulgarisseperti teratur

membersihkan wajah, maka dapat

mengurangi debu dan kotoran yang

menumpuk sehingga tidak terjadi

penyumbatan pada pori-pori kulit

yang dapat menyebabkan timbulnya

jerawat (Achroni, 2012).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian

dapat disimpulkan bahwa pada uji

independent t-test, terdapat

perbedaan yang signifikan (p=0,000)

terhadap rata-rata perubahan skor

pengetahuan sebelum dan sesudah

edukasi leaflet dan website.

Sedangkan pada uji mann whitney,

terdapat perbedaan yang signifikan

(p=0,000) terhadap rata-rata

perubahan skor sikap sebelum dan

sesudah edukasileafletdanwebsite.

Ucapan Terima Kasih

Dalam kesempatan ini,

penulis mengucapkan terimakasih

kepada banyak pihak yang telah

melancarkan jalannya penelitian ini,

yaitu kepada:

1. Lolita, M.Sc., Apt., Muhammad

Joko Susilo, M.Pd., dan

Muhammad Muhlis, S.Si.,

SpFRS., Apt. selaku dosen

pembimbing dan penguji skripsi

yang telah meluangkan waktunya

untuk berdiskusi, memberikan

saran, kritik, bantuan, dan

bimbingan selama penulis Kelompok

Transportasi

Leaflet Website P Value(Ujikruskal wallis) Jalan Kaki

0,598 0,410

Sepeda

Motor

Mobil

(13)

menyusun dan menyelesaikan

skripsi ini.

2. Dr. Dyah Aryani Perwitasari,

M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dekan

Fakultas Farmasi Universitas

Ahmad Dahlan Yogyakarta.

3. Andriana Sari, M.Sc., Apt.,

selaku dosen pembimbing

akademik.

4. Kepala Sekolah, staf pengajar,

karyawan, dan seluruh pihak

yang terlibat dalam penelitian di

SMA BOPKRI 2 Yogyakarta

yang telah memberikan

kesempatan, bimbingan, dan

membantu selama pengambilan

data.

5. Almamater dan Keluarga Besar

Farmasi Universitas Ahmad

Dahlan angkatan 2013.

6. Staf pengajar dan karyawan di

Fakultas Farmasi Universitas

Ahmad Dahlan Yogyakarta.

7. Berbagai pihak yang telah

memberikan bantuan, doa,

semangat, serta berbagai

pengalaman pada proses

penelitian ini.

Daftar Pustaka

Achroni, K., 2012, Semua Rahasia Kulit Cantik dan Sehat Ada disini, 23-26, Javalitera, Yogyakarta.

Andy, 2009, Pengetahuan dan Sikap Remaja SMA Santo Thomas 1 Medan Terhadap Jerawat,

Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, Medan.

Anggraini D., 2012, Hubungan

Gambaran Diri dengan

Interaksi Sosial pada Remaja yang Berjerawat, Skripsi,

Fakultas Keperawatan,

Universitas Andalas, Padang.

Anief, 2007, Apa yang Perlu di Ketahui Tentang Obat?, 152-153, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Anonim, 2013, Swamedikasi,

Infarkes,Edisi 5, 25-28.

Amani, N., 2007, Investigating The Nature, The Prevalence, and Effectiveness of Online Counseling, Tesis, Department of Educational Psychology Administration and Counseling California State University, Long Beach.

Arikunto, S., 2007, Analisis Data Penelitian Deskriptif, dalam: Arikunto, S., (Ed.),Manajemen Penelitian, 262-296, Rineka Cipta, Jakarta.

(14)

Ayudianti, P., Indramaya, D.M., 2014, Study Retrospektif:

Faktor Pencetus Akne

Vulgaris, Berkala Ilmu

Kesehatan Kulit dan Kelamin-Periodical of Dermatology and Venereology, 26(1).

Aziz, N.A., 2010, Pengaruh Cara dan

Kebiasaan Membersihkan

Wajah Terhadap Pertumbuhan Jerawat di Kalangan Siswa Siswi SMA Harapan 1 Medan,

Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.

Azwar, S., 2007, Sikap Manusia, Teori, dan Pengukurannya,

Edisi ke-2, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Bancin, B.E.P., 2011, Hubungan Konsumsi Terhadap Makanan Cepat Saji Terhadap Kejadian Acne Vulgaris pada Mahasiswa

FK USU Stambuk 2007,

Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.

Baumann, L., Keri, J., 2009, Acne (Type 1 Sensitive Skin), in: Baumann. L., Saghari, S., Weisberg, E., (Eds.), Cosmetic Dermatology Principles and Practice. 2nd ed, Mc Graw Hill, New York.

Binus, 2014,

http://qmc.binus.ac.id/2014/11/ 01/u-j-i-v-a-l-i-d-i-t-a-s-d-a-n-u-j-i-r-e-l-i-a-b-i-l-i-t-a-s/, diakses tanggal 29 Mei 2017.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan

Bebas Terbatas, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan

Klinik Ditjen Bina

Kefarmasian dan Alat

Kesehatan, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Materi Pelatihan Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Memilih Obat Bagi Tenaga Kesehatan,

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Dewi, M., 2010, Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia, Nuha Medika, Yogyakarta.

Dewi, R.N.V.R., 2010, Hubungan Penggunaan Media Massa dengan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Remaja di SMAN 8 Surakarta,

Karya Tulis Ilmiah, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Djuanda, A., 2007, Acne vulgaris, dalam:Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima. 254-259, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Djuanda, A., 2010, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Fakultas

Kedokteran Universitas

(15)

Dlugosx, C.K., 2009, Rujukan Cepat Obat Tanpa-Resep Untuk Praktisi, diterjemahkan oleh Lolita, Miftahurrohmah, N.,

Pramastya, H., EGC,

Yogyakarta.

Erviana, N. W., Mansur, H., Yudianti, I., 2012, Efektifitas

Penyuluhan Menggunakan

Media Leaflet dan Video Terhadap Pengetahuan Remaja Putri Tentang Aborsi, Laporan Penelitian, Poltekkes Kemenkes Malang.

Fibriana, R., 2016, Tingkat Pengetahuan Guru Penjasorkes SD Negeri Se Kecamatan

Semim Kabupaten

Gunungkidul Tentang

Penggunaan Internet, Skripsi, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Fisher, 2009, Metode Pendidikan Kesehatan Masyarakat, EGC, Jakarta.

Fulton, J., 2009, Acne vulgaris,

eMedicine Articles. Available from:

http://emedicine.medscape.com /article/1069804

Fulton, J., 2010, Acne vulgaris,

Medscape Journal.

Gabrielli, A., Svegliati, S., Moroncini, G., Amico, D., 2012, New Insights Into The Role of Oxidative Stress in Scleroderma Fibrosis, The Open Rheumatology Journal.

1(4): 87-95.

Gani, H.A., Istiaji, E., Kusuma, A.I., 2014, Perbedaan Efektivitas Leaflet dan Poster Produk Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Jember dalam

Perilaku Pencegahan

HIV/AIDS, Skripsi, Fakultas

Kesehatan Masyarakat,

Universitas Jember, Jember.

Ghozali, Imam, 2009, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi Keempat, Universitas Diponegoro, Semarang.

Goklas, 2011, Hubungan Kualitas dan Kuantitas Tidur Terhadap Timbulnya Akne Vulgaris Pada Dokter Muda di RSUP H. Adam Malik, Skripsi, Fakultas

Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, Medan.

Gunarsih, S., 2015, Hubungan Antara Jerawat Dengan Citra Diri Pada Remaja Putri di SMA Negeri 4 Semarang,

Skripsi, Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang.

Hanley, T., 2006, Developing Youth-Friendly Online Counselling Services in the United Kingdom: A Small Scale Investigation into the Views of Practitioners, Counselling and Psychotherapy Research, 6(3): 182-185.

Harper, J.C., 2007, Acne Vulgaris, Edisi ke-4, EGC, Jakarta.

(16)

Rekomendasi Pelayanan Swamedikasi Oleh Staf Apotek Terhadap Kasus Diare Anak di Apotek Wilayah Surabaya,

Farmasains, 2(1).

Hendri, J., 2009, Merancang

Kuesioner, Jurnal Riset

Pemasaran, Universitas Gunadarma, Jakarta.

Hermawati, D., 2012, Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi Pengunjung di Dua Apotek Kecamatan Cimanggis Depok,

Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Depok.

Ichsan, 2008, Aspek Psikiatri Acne

Vulgaris, Berita Ilmu

Keperawatan, ISSN 1979-2697.

Ifdil, 2011, Penyelenggaraan Layanan Konseling Online Sebagai Salah Satu Bentuk Pelayanan E-Counseling,

International Seminar & Workshop Contemporary and Creative Counseling Techniques: How to Improve Your Counseling Skills and to be More Creative in Counseling Sessions, Auditorium JICA UPI.

Kaymak, Y., Esra, A., Nisel, I., Aysun, B., Demet, G., dan Bulent, C., 2007, Dietary glycemic index and glucose, insulin, insulin-like Growth Factor-I, insulin-like growth factor binding protein 3 and leptin levels in patien with

acne, J.am Acad Dermatol, 57: 819-23.

Kartajaya, H., 2011, Self Medication, 3-12, PT MarkPlus Indonesia, Jakarta Selatan.

Legiawati, L., 2010, Perawatan Kulit pada Akne, Medicinal Jurnal Kedokteran Indonesia. 14(2): 17-19.

Lynn, D.D., Umari, T., Dunnick, C.A., Dellavalle, R.P., 2016, The Epidemiology of Acne vulgaris in Late Adolescence,

Dove Press Journal: Adolescent Health, Medicine, and Therapeutics, 7: 13-25.

Mallen, Michael, J., David. L. Vogel, 2011, Online Counseling,

Reviewing the Literature From a Counseling Psychology Framework: The Counseling Psychologist, 33(6), The

Society of Counseling

Psychology, Houston.

Movita, T., 2013, Acne vulgaris,

Contunuing Medical Education, 40(3): 202.

Nasution, N.A.H., 2010, Efektivitas Media Promosi Kesehatan (Leaflet) dalam Perubahan Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2010,

Tesis, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, Medan.

(17)

Rabbit: Somecosmetic Ingredients/Vehicles.

Cutaneous and Ocular Toxicology.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2007,

Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, P.T. Rineka Cipta, Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2010,

Metodologi Penelitian Kesehatan, P.T. Rineka Cipta, Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2012,

Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan, P.T. Rineka Cipta, Jakarta.

Nugroho, B., 2008, Membuat Aplikasi E-Learning dengan PHP-MySQL dan Editor Dreamweaver, Penerbit Atmajaya, Yogyakarta.

Ozad, B.E., Kotuglu, U., 2010, The Use of The Internet in Media Education, The Turkish Online Journal of Educational Technology, 9(2).

Pio Nas POM, 2012.

http://pionas.pom.go.id/artikel/ obat-jerawat, di akses tanggal 15 Desember 2016.

Pulungan, R., 2008, Pengaruh Metode Penyuluhan Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Dokter Kecil dalam

Pemberantasan Sarang

Nyamuk Demam Berdarah

(PSN-DBD) di Kecamatan Helvetia Tahun 2007, Tesis, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Purwanti, S.P., 2013, Mengatasi Masalah Kepercayaan Diri

Siswa Melalui Layanan

Konseling Kelompok, Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas negeri Semarang, Semarang.

Rahayuningsih, S.U., 2008,Psikologi Umum 2,Gunadarma, Jakarta.

Saputra, D.W., 2015, Perbedaan

Pengetahuan Siswa SMA “X” Sragen dan SMK Farmasi “X”

Surakarta tentang

Penatalaksanaan Swamedikasi Jerawat Sebelum dan Sesudah Mendapat Edukasi, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Santoso, S., 2010, Statistik Multivariat, P.T. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Sitinjak J.R.T. dan Sugiarto, 2006,

LISREL, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Sudharmono, A., 2008, Laser Skin

Resurfacing. Seminar

Perspective of Laser Dermatology, Surabaya.

Sugiono, 2015, Statistika Untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung.

Sunarto, M., 2010, Konseling HIV

Online Berbasis Internet,

Laporan, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Tahir, M., 2010, Pathogenesis of Acne vulgaris: simplified,

(18)

Association of Dermatologist, No. 20.

Tambunan, A., Aritonang, R., 2013,

Hubungan Kulit Wajah

Berjerawat dengan Rasa Percaya Diri pada Siswa Kelas XI SMA N 1 Purba Kabupaten Simalungun T.A. 2012/2013,

Skripsi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Medan, Medan.

Tjekyan, R.M.S., 2008,Kejadian dan Faktor Resiko Acne Vulgaris,

Jurnal Kedokteran Media Medika Indonesia, 98(1): 37-43.

Tuncer, M., Dogan, Y., Tanas, R., 2013, Vocational School

Students’s Attitudes Towards

Internet, Procedia-Social and Behavioral Sciences: 13th International Educational Technology Conference. 103: 1303-1308.

Tuong, W., Wang, A.S., Armstrong, A.W., 2015, Comparing The Effectiveness of Automated Online Counseling to Standar Web-Based Education on Improving Acne Knowledge: a Randomized Controlled Trial,

Am J Clin Dermatol, 16(1): 55-60.

Wasitaatmadja, S.M., 2007, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Wasitaatmadja, S.M., 2008, Akne, Erupsi Akneiformis, Rosasea,

Rinofima, Dalam: Ilmu

Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 5, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Williams, H.C., Robert, P.D., Sarah, G., 2012, Acne vulgaris, in: Lancet, Volume 379, Page 314, Nottingham, USA.

World Self-Medication Industry, 2010,Switch: Responsible Self-Care and Self-Medication: A Worldwide Review of Consumer Surveys, WSML, Ferney-Voltare.

Yohan, 2013, Pengaruh Terpaan Media Online Detik.com Terhadap Tingkat Pengetahuan

Umum Karyawan Mara

Advertising Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas

Atma Jaya Yogyakarta,

Yogyakarta.

Yuindartanto, A., 2009, Acne vulgaris. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Zanglein, A.L., Graber, A.M., Thiboutot, D.M., Strauss J.S., 2008, Acne Vulgaris and Acneiform Eruptions, In: Freedberg, I.M., Eisen, A.Z., Wolff, K., (Eds.), Fitzpatrick’s

Dermatology in General Medicine. 120(4): 690-702. McGraw Hill Inc.

Zulganef, 2006, Pemodelan

Gambar

Tabel IV. Rata-rata Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi dengan
Tabel V. Rata-rata Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi dengan
Tabel VIII. Rata-rata Peningkatan Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah
Tabel IX. Rata-rata Peningkatan Skor Sikap Sebelum dan Sesudah Edukasi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian ini adalah model Group Investigation efektif diterapkan pada pembelajaran matematika ditinjau dari aktivitas dan hasil belajar matematika..

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi bermain lebih efektif daripada menonton film terhadap penurunan kecemasan anak umur 6-8 tahun selama perawatan gigi.. Kata

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh media edukasi gizi berbasis android dan website terhadap perilaku serta hubungannya dengan gizi seimbang pada siswa

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi bermain lebih efektif daripada menonton film terhadap penurunan kecemasan anak umur 6-8 tahun selama perawatan gigi.. Kata

Kesimpulan Pemberian gabungan agar-agar dengan probiotik selama 4 minggu terbukti efektif dalam mengobati konstipasi fungsional pada anak. Kata kunci : agar-agar,

Kesimpulan dari penelitian ini adalah layanan bimbingan kelompok yang tidak efektif untuk mengurangi perilaku bullying di SMP Negeri 126 Jakarta Timur.. Kata Kunci:

Dari hasil yang diperoleh ini dapat ditarik kesimpulan bahwa metode transfeksi efektif digunakan untuk transfer gen ikan cupang alam, wild betta (Betta imbellis).. KATA KUNCI:

Kata Kunci: Sistem Informasi, Pengontrolan Persediaan, Reorder Point ROP, Website Bengkel merupakan salah satu usaha di bidang jasa servis kendaraan baik motor maupun mobil.. Bengkel