DATA JURNAL
Judul Jurnal : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Usaha Pedagang Kaki Lima di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng,
Kabupaten Buleleng
Penulis jurnal : I Wayan Sastrawan (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia)
Tahun Terbit, Vol : Tahun 2015, Vol : 5 No : 1
DAFTAR ISI
DATA JURNAL ... 1
DAFTAR ISI ... 2
BAB I PENDAHULUAN ... 3
Review Jurnal ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Konsep dasar Teori PKL... 7
2.2 Konsep dasar Teori Lokasi ... 7
BAB III ANALISA ... 11
3.1 Alasan Pemilihan Lokasi ... 11
3.2 Faktor-faktor Lokasi... 11
3.3 Implikasi Teori terhadap Lokasi yang dipilih ... 13
BAB IV PENUTUPAN ... 15
4.1 Kesimpulan ... 15
4.2 Lesson Learned ... 17
BAB I PENDAHULUAN
Review Jurnal
Suatu kota dengan berbagai aktivitas dan infrastruktur yang lebih memadai dibandingkan dengan di desa menjadikan salah satu magnet tersendiri bagi masyarakat desa untuk berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota. Mereka berfikir bahwa kehidupan di kota jauh lebih menjanjikan, namun pada kenyataannya justru berbanding terbalik. Dari tahun ke tahun, kota terus mengalami peningkatan jumlah penduduk tanpa dibarengi dengan perkembangan jumlah lapangan pekerjaan khususnya di sector formal. Akibatnya para pendatang hanya mampu bekerja di sector informal sesuai keahlian dan pendidikan yang dimiliki. Dengan keterbatasan lapangan pekerjaan di sector formal, PKL menjadi alternative pilihan yang sangat mudah, karena ciri-ciri dari sector informal sendiri adalah mudah dimasuki, fleksibel dalam waktu dan tempat, bergantung pada sumber daya local dan skala usaha yang cukup kecil. Sehingga semua orang mampu mendirikan usaha tersebut mengingat modal yang dikeluarkan juga sedikit.
Seperti yang terjadi di Kota Singaraja Bali, bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Buleleng dengan pola permukiman yang telah mengarah pada perkotaan serta tingkat heterogenitas yang dimiliki cukup tinggi. Di wilayah ini telah berkembang Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai bentuk upaya masyarakat dalam meningkatkan perekonomian di sector informal. Salah satunya berada di wilayah Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Selain untuk meningkatkan perekonomian, keberadaan PKL ini juga berperan dalam upaya mengurangi jumlah penggangguran di wilayah tersebut. PKL yang berada di Pantai Penimbangan menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman. Dari tahun ke tahun jumlah usaha PKL yang beroperasi di kawasan pantai tersebut semakin bertambah. Data dari Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Buleleng menyebutkan bahwa jumlah PKL di Pantai Penimbangan pada tahun 2012 sebanyak 35 PKL dan di tahun 2013 sebanyak 43 PKL. Dalam kurun waktu satu tahun peningkatan jumlah PKL yang beroperasi yaitu sebanyak 8 PKL, jadi dapat dipastikan bahwa akan terjadi peningkatan jumlah PKL di setiap tahunnya karena Pantai Penimbangan sendiri sebagai objek wisata kemungkinan untuk sepi pengunjung sangat kecil.
Lima Di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng tahun 2015” disebutkan bahwa tujuan penelitian meliputi tiga hal. Tujuan yang dimaksud adalah untuk mengetahui factor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemilihan lokasi usaha Pedagang Kaki Lima (PKL), factor apa yang paling dominan mempengaruhi pemilihan lokasi usaha PKL, serta untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh PKL di Pantai Penimbangan dan solusinya. Untuk metode penelitian yang digunakan adalah penelitian verifikasi dengan tiga jenis metode pengumpulan data (dokumentasi, kuisioner dan wawancara). Kuisioner dibuat dengan skala Likert, menurut Sugiyono (2012;73) skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Jawaban setiap item instrument yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negative, yang berupa kata-kata antara lain sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Responden penelitian meliputi seluruh jumlah populasi, yaitu 43 orang pemilik PKL di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Dari data yang telah diperoleh, dilakukan analisis factor menggunakan Statistical Program Social Scene (SPSS), yang bertujuan untuk menganalisis hipotesis konseptual dengan memasukkan semua total nilai dari masing-masing dimensi atau factor terhadap total skor item dari masing-masing-masing-masing dimensi. Dari hasil penelitian yang dilakukan, disebutkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi usaha PKL di Pantai Penimbangan meliputi factor aksesibilitas, visibilitas, lalu lintas, tempat parkir, ekspansi, lingkungan, persaingan dan factor peraturan pemerintah. Factor-faktor tersebut didapatkan setelah dilakukan analisis factor, dimana dalam analisis tersebut juga dilakukan beberapa tahapan : 1. Uji Koefisien Kaiser-Meyer-Olkin (KMO)
Hasil pengujian KMO menunjukkan angka sebesar 0.882 dengan demikian angka KMO Measure of Sampling Adequancy lebih besar dari 0.50 yang berarti analisis factor tepat digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh.
2. Uji Barlett’s Test of Sphericy
Menunjukkan hasil yang signifikan pada 0.000, berarti matriks korelasi memiliki korelasi yang signifikan dengan sejumlah variable karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05.
3. Uji Anti-image Matrices dan Ekstraksi Faktor
urutan dari yang memiliki nilai MSA paling kecil. Sedangkan ekstraksi factor bertujuan untuk mengetahui ada berapa factor yang terbentuk. Berikut ini merupakan tabel factor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi yang dilengkapi dengan nilai eigenvalue dan Varianced Explained :
Tabel 1. Faktor yang menjelaskan pemilihan lokasi usaha
Sumber : Jurnal Vol: 5 No: 1 Tahun: 2015
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa factor yang memiliki eigenvalue > 1 adalah aksesibilitas dan visibilitas. Maksudnya, kedua factor tersebut mampu menjelaskan seluruh factor pemilihan usaha yang terbentuk sebesar 80.720%, diperoleh dari variance explained aksesibilitas sebesar 56.676% dan visibilitas 24.044%.
4. Rotasi Faktor dan Penamaan Faktor
Setelah dilakukan rotasi factor diperoleh data pada tabel berikut ini, untuk pemberian nama digunakan variable dengan nilai factor loading paling tinggi. Sehingga dapat ditentukan factor satu terbentuk dari faktor peraturan pemerintah, ekspansi, lingkungan, tempat parkir dan lalu lintas. Faktor dua terbentuk dari faktor aksesbilitas, visibilitas, persaingan.
Tabel 2. Rotated Component Matrix
Dari ke delapan factor yang mempengaruhi pemilihan lokasi usaha Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pantai Penimbangan, terdapat satu factor yang dominan yaitu aksesibilitas. Diperoleh dari parameter koefisien varimax, dimana nilai varimax rotation untuk aksesibilitas sebesar 56.331%.
Sebuah usaha tidak terlepas dari kendala-kendala atau masalah yang dihadapi, begitu juga dengan usaha PKL yang berada di Pantai Penimbangan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, masalah yang dihadapi yaitu mengenai kepastian penempatan lokasi karena perijinan yang diperoleh hanya berasal dari desa yang bisa berubah sewaktu-waktu, masalah retribusi yang harus dibayarkan ke desa dan pemerintah cukup tinggi yaitu sebasar Rp. 20.000,00 per hari. Kemudian masalah minimnya modal yang dimiliki oleh pemilik usaha, rata-rata modal yang dikeluarkan untuk memulai usaha sebesar Rp. 500.000,00. Konsumen yang datang juga tidak dapat dipastikan jumlahnya, hanya bersifat incidental yang biasanya ramai pengunjung pada malam minggu. Masalah lainnya adalah kurangnya kesadaran akan menjaga kebersihan lingkungan yang dimiliki oleh para PKL.
Solusi yang diberikan untuk menghadapi permasalahan diatas adalah dengan cara PKL yang beroperasi di Pantai Penimbangan harus memiliki bukti kepemilikan tempat usaha berupa ijin dari desa dan dinas terkait yang tidak bisa diubah-ubah lagi, penerapan pungutan retribusi tergantung pada besarnya pendapatan PKL, adanya fasilitas dari lembaga keuangan (bank) bagi PKL dalam memperoleh modal usaha, sehingga PKL dapat memperluas usahanya dan menambah jumlah stok barang dagangannya. Kemudian perlunya dilakukan peningkatan pelayanan yang diberikan oleh PKL kepada konsumen untuk menarik lebih banyak pelanggan. Dan untuk masalah kebersihan, disediakannya petugas kebersihan oleh dinas terkait.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep dasar Teori PKL
Peraturan Mentri Dalam Negeri Republik Indonesi Nomor 41 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan PKL
Teori yang berkaitan dengan definisi dari PKL (Pedagang Kaki Lima) tercantum dalam pasal 1 Peraturan Mentri Dalam Negeri Republik Indonesi Nomor 41 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan PKL adalah sebagai berikut : 1. Pedagang kaki lima, yang selanjutnya disingkat PKL, adalah pelaku usaha yang
melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan atau swasta yang bersifat sementara atau tidak menetap.
2. Penataan PKL adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah melalui penetapan lokasi binaan untuk melakukan penetapan, pemindahan, penertiban dan penghapusan lokasi PKL dengan memperhatikan kepentingan umum, sosial, estetika, kesehatan, ekonomi, keamanan, ketertiban, kebersihan lingkungan dan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
3. Pemberdayaan PKL adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim usaha dan pengembangan usaha terhadap PKL sehingga mampu tumbuh dan berkembang baik kualitas maupun kuantitas usahanya.
4. Lokasi PKL adalah tempat untuk menjalankan usaha PKL yang berada di lahan dan atau bangunan milik pemerintah daerah atau swasta.
5. Lokasi binaan adalah lokasi yang telah ditetapkan peruntukannya bagi PKL yang diatur oleh pemerintah daerah, baik bersifat permanen maupun sementara. 6. Tanda Daftar Usaha, yang selanjutnya disebut TDU, adalah surat yang dikeluarkan
oleh pejabat yang ditunjuk sebagai tanda bukti pendaftaran usaha
2.2 Konsep dasar Teori Lokasi
Teori Fandy Tjiptono (2002:92)
Terkait dengan penentuan lokasi sebuah usaha, seorang tokoh yaitu Fandy Tjiptono (2002:92) menyebutkan bahwa pemilihan tempat atau lokasi Usaha memerlukan pertimbangan cermat terhadap faktor-faktor :
2. Visibilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas dari jarak pandang normal
3. Lalu lintas (traffic), menyangkut dua pertimbangan utama :
a. Banyaknya orang yang lalu-lalang bisa memberikan peluang besar terhadap terjadinya buying, yaitu keputusan pembelian yang sering terjadi spontan, tanpa perencanaan, dan atau tanpa melalui usaha-usaha khusus
b. Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bisa juga jadi hambatan
4. Tempat parkir yang luas, nyaman, dan aman, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat
5. Ekspansi, yaitu tersedianya tempat yang cukup luas apabila ada perluasan di kemudian hari
6. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung produk yang ditawarkan 7. Persaingan, yaitu lokasi pesaing. Sebagai contoh, dalam menentukan lokasi, perlu
dipertimbangkan apakah dijalan/daerah yang sama terdapat banyak penjual yang sejenis
8. Peraturan pemerintah, misalnya ketentuan yang melarang PKL berjualan di suatu lokasi.
Dasar-dasar dan analisis lokasi kegiatan perdagangan (Retail)
Dalam teori retail disebutkan bahwa keberhasilan sebuah tapak dipengaruhi oleh tiga factor yang meliputi pengelolaan, tapak dan lokasi. Sudah terdapat beberapa upaya untuk mengetahui kepentingan relative masing-masing faktor utama tersebut, tetapi
masing-masing faktor tersebut penting dan dapat menenggelamkan bisnis jika tidak
secara hati-hati dikontrol.
a. Faktor pengelolaan biasanya terdiri dari elemen-elemen yang bisa dikontrol dari
dalam bangunan. Seperti managemen toko, layanan pelanggan, barang,
kebersihan, penampilan, dekorasi, dan penataan semua elemen tersebut penting
untuk elemen pengelolaan.
b. Faktor tapak merupakan elemen yang berhubungan dengan kondisi fisik penataan
bangunan dan property disekitarnya. Elemen seperti tempat parkir, penandaan,
lebar ruang pejalan kaki, taman, aksesibilitas, keluar/masuk, tipe pemusatan, dan
hal-hal lainnya seperti bangunan yang berdiri sendiri atau bangunan penghubung
yang semuanya penting untuk tapak.
c. Faktor lokasi, yang berkontribusi terhadap pemilihan lokasi yaitu demografi,
permintaan konsumen, kepadataan lalu lintas, generator lalu lintas (pusat
perbelanjaan, Rumah Sakit, bandara stadion), populasi harian, kompetisi, bisnis
pertimbangan penting yang harus diputuskan oleh sebuah pengecer (retailer), yaitu:
1. Memilih target pasar
2. Menentukan format retail yang bagaimana yang paling efektif untuk
menjangkau pasar.
Gambar 1. Format Retail
Sumber : Diktat Mata Kuliah Analisa Lokasi dan Keruangan
Seorang retailer dapat menjangkau konsumen potensial melalui dua konsep yaitu store based dan non store based. Pengecer toko (store based retailers) mengoperasikan sebuah toko dengan lokasi yang sudah tetap sehingga membutuhkan konsumen untuk bergerak ke toko untuk melihat dan memilih barang atau layanan yang diinginkan. Bentuk-bentuk store based diantaranya yaitu pusat bisnis, mall, free standing, dan non tradisional. Sedangkan pengecer non-toko (non-store based retailers) menangkap konsumen yang ada di rumah, di tempat kerja, atau tempat selain toko dimana konsumen mudah untuk melakukan pembelian. Bentuk-bentuk non store based yaitu penjualan via internet, penjualan langsung ke rumah-rumah, penjualan non formal di sepanjang jalan, dan penjualan melalui mesin-mesin barang.
Beberapa tipe retail berdasarkan konsep toko (store based):
1. Central Business District (CBD) biasanya terdiri dari area perbelanjaan yang direncanakan sekitar titik geografis di mana semua sistem transportasi umum berkumpul; biasanya dipusat kota dan di mana sejarah kota itu berasal.
3. Neighborhood Business District (NBD) merupakan daerah yang berkembang memotong untuk memenuhi kebutuhan belanja dan kenyamanan berorientasi lingkungan, umumnya mengandung beberapa toko kecil (dengan pengecer besar menjadi supermarket atau toko), dan yang terletak di arteri utama dari daerah perumahan.
4. Pusat Perbelanjaan (mall) adalah sebuah distrik perbelanjaan yang dimiliki atau dikelola secara terpusat yang direncanakan, memiliki sewa seimbang (toko saling melengkapi dalam penawaran barang), dan dikelilingi oleh fasilitas parkir.
5. Toko Jangkar adalah toko di pusat perbelanjaan yang paling dominan dan diharapkan untuk menarik pelanggan ke pusat perbelanjaan.
6. Free-Standing Retailer umumnya menempatkannya pada arteri lalu-lintas utama dan tidak memiliki pengecer yang berdekatan untuk berbagi lalu-lintas.
Variabel Pemlihan Lokasi
Sebuah study mengungkapkan bahwa faktanya retailer memiliki kriteria tertentu yang mereka gunakan untuk mencari lokasi baru untuk membangun sebuah toko. Seorang professor dari Departeman Geografi di University Colorado-Denver, mengemukakan bahwa terdapat empat karakteristik utama dalam memilih lokasi retail yaitu:
1. Volume lalu lintas yang padat
Kepadatan dan kemacetan lalu-lintas bisa pula menjadi hambatan, misalnya terhadap pelayanan kepolisian, pemadam kebakaran, dan ambulance.
2. Frontage yang lebar dan akses yang aman untuk keluar masuk menuju tapak 3. Ukuran tapak untuk ekspansi
Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tersedianya tempat yang cukup luas
untuk perluasan usaha dikemudian hari.
4. Threshold populasi
BAB III ANALISA
3.1 Alasan Pemilihan Lokasi
Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat Kota Singaraja sudah tersebar hampir di seluruh wilayah. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran PKL adalah Pantai Panimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Pantai Panimbangan sendiri merupakan objek wisata di Kota Singaraja dengan jumlah PKL yang terus bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Buleleng, jumlah PKL di Pantai Penimbangan di tahun 2012 sebanyak 35 PKL, dan di tahun 2013 meningkat menjadi 43 PKL. Dengan jenis barang yang dijual berupa berbagai makanan dan minuman.
Salah satu factor yang dipertimbangkan oleh PKL sebelum membuka usahanya adalah ketepatan pemilihan lokasi, karena lokasi sangat menentukan keberlangsungan suatu usaha atau disebut juga strategi bisnis. PKL biasanya berjejer di bahu jalan, namun dalam studi kasus yang diangkat PKL justru berada di pantai. Alasan utama yang mendorong pemilik untuk berjualan di sekitar pantai yaitu lokasi yang strategis, keberadaannya sebagai obyek wisata tentunya menarik banyak wisatawan yang berkunjung selain itu lokasi mudah diakses oleh semua masyarakat.
3.2 Faktor-faktor Lokasi
Berdasarkan jurnal “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Usaha Pedagang Kaki Lima di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng”, peneliti menggunakan jenis penelitian verifikasi yaitu penelitian yang bersifat menguji teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga metode yaitu dokumentasi, wawancara serta penyebaran kuisioner kepada seluruh responden PKL yang berada di Pantai Penimbangan. Kemudian data yang telah didapatkan dianalisis menggunakan analisis factor.
Berdasarkan jenis penelitian yang dilakukan, dalam jurnal disebutkan bahwa teori yang diuji adalah teori lokasi yang dikemukakan oleh Fandy Tjiptono (2002:92). Dan hasil yang didapatkan dari perhitungan analisa factor, khususnya melihat perhitungan KMO and Bartlett’s dan Anti-images matrices diperoleh variable terkait factor-faktor lokasi sebagai berikut :
1. Faktor Aksesibilitas
dikatakan bahwa lokasi mudah dijangkau oleh sarana transportasi baik umum maupun pribadi, karena tidak mungkin jika akses menuju obyek wisata sulit untuk di jangkau. 2. Faktor Visibilitas
Pada variable ini factor terkaitnya adalah kemudahan untuk melihat dengan jelas lokasi PKL dari jarak pandang normal, maksudnya disini PKL dapat dengan mudah ditemukan. 3. Faktor Lalu Lintas
Pada variable ini factor terkaitnya adalah kelancaran system transportasi, yang menyangkut dua pertimbangan utama meliputi banyaknya orang yang lalu-lalang bisa memberikan peluang besar terhadap terjadinya buying yaitu keputusan pembeli yang sering terjadi spontan, tanpa direncanakan sebelumnya atau tanpa melalui usaha-usaha khusus. Pertimbangan ke dua adalah dari tingkat kepadatan dan kemacetan lalu lintas yang terjadi di sekitar lokasi PKL yaitu Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
4. Faktor tempat parkir
Pada variable ini factor terkaitnya adalah ketersediaan lahan parkir, sehingga pengunjung tidak akan kesulitan ketika akan memarkirkan kendaraan mereka baik roda dua maupun roda empat. Kriteria tempat parkir yang harus disediakan adalah luas agar kapasitas untuk menampung kendaraan juga cukup, nyaman dan yang paling penting keamanan yang terjamin.
5. Faktor Ekspansi
Pada variable ini factor terkaitnya adalah tersedianya tempat yang cukup luas apabila terjadi perluasan atau peningkatan jumlah usaha PKL di kemudian hari.
6. Faktor Lingkungan
Pada variable ini factor terkaitnya adalah daerah sekitar Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng yang mendukung jenis produk yang ditawarkan oleh pemilik usaha PKL. 7. Factor Persaingan
Pada variable ini factor terkaitnya adalah lokasi pesaing, maksudnya ketika sebuah PKL menjual produk tertentu perlu dipertimbangkan apakah di daerah yang sama terdapat banyak penjual yang sejenis.
8. Faktor Peraturan Pemerintah
3.3 Implikasi Teori terhadap Lokasi yang dipilih
Dalam penelitian yang dilakukan mengenani “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Usaha Pedagang Kaki Lima di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng” digunakan teori lokasi yang dikemukakan Fandy Tjiptono (2002:92), dimana teori tersebut berkaitan dengan teori dasar-dasar dan analisa lokasi kegiatan perdagangan atau yang biasa disebut teori Retail. Namun dapat dikatakan bahwa teori yang digunakan dalam jurnal lebih kompleks, factor-faktor penentu lokasi yang diberikan lebih representative.
Teori Retail menjelaskan bahwa pemilihan lokasi mempertimbangkan factor-faktor volume lalu lintas yang padat, frontage yang lebar dan keamanan aksesibilitas untuk keluar masuk, ukuran tapak apabila terjadi perluasan atau ekspansi serta threshold populasi. Dimana dari keempat factor tersebut, tiga diantaranya juga terdapat dalam teori yang dipakai dalam studi kasus. Satu-satunya factor yang tidak dipertimbangkan dan diimplikasikan dari teori Retail pada studi kasus ini adalah factor threshold populasi, padahal dalam menentukan lokasi PKL di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng juga diperlukan adanya variable jumlah penduduk sebagai indikator batas minimal tingkat permintaan yang dibutuhkan. Dengan demikian dapat diketahui seberapa besar penjualan yang bisa dicapai dengan sejumlah penduduk yang tersedia di kawasan tersebut.
Inti dari teori yang digunakan pada studi kasus dan teori Retail sebenarnya memiliki kesamaan, dapat dibuktikan melalui hasil analisis factor dengan SPSS menggunakan perhitungan KMO and Bartlett’s test dan Anti-images matrices pada jurnal. Dijelaskan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi PKL di Pantai Penimbangan adalah aksesibilitas, visibilitas, lalu lintas, tempat parkir, ekspansi, lingkungan, persaingan dan peraturan pemerintah. Dimana factor yang paling dominan adalah aksesibilitas atau kemudahan dalam menjangkau lokasi dengan menggunakan alat transportasi baik umum maupun pribadi. Begitu juga dalam teori Retail dijelaskan bahwa terdapat factor padatnya volum lalu lintas, ketersediaan frontage serta aksesibilitas yang aman dan ukuran tapak yang luas untuk mengantisipasi terjadinya ekspansi. Jadi dapat dianalogikan seperti pada tabel berikut ini :
No. Teori Fandy Tjiptono Teori Retail
1. Aksesibilitas Frontage luas, akses aman
2. Visibilitas -
3. Lalu lintas Volume lalu lintas yang padat
5. Ekspansi Ukuran tapak untuk ekspansi
6. - Threshold populasi
7. Lingkungan -
8. Persaingan -
9. Peraturan Pemerintah -
Tabel 3. Teori pada jurnal dan Teori Retail
Sumber : Hasil Analisa, 2016
BAB IV PENUTUPAN
4.1 Kesimpulan
Keberadaan usaha PKL (Pedagang Kaki Lima) di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng merupakan salah satu bentuk upaya masyarakat dalam menangani masalah tingginya tingkat pengangguran akibat dari urbanisasi yang terus terjadi. Upaya ini juga diartikan sebagai peningkatan perekonomian masyarakat di sector informal. Alasan utama berkembangnya sector informal sebenarnya dipicu oleh tiga faktor, yaitu sector informal lebih mudah untuk dimasuki karena tidak memerlukan kriteria jenjang pendidikan dan keahlian khusus, fleksibel atau tidak terikat pada waktu dan tempat, serta bergantung pada sumber daya local dan skala usaha yang cukup kecil. Sehingga semua orang mampu mendirikan usaha tersebut mengingat modal yang dikeluarkan juga sedikit.
Produk yang ditawarkan oleh pemilik PKL di Pantai Penimbangan adalah berupa berbagai berbagai jenis makanan dan minuman. Dimana dari tahun ke tahun jumlah usaha PKL yang beroperasi di kawasan pantai tersebut semakin bertambah. Data dari Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Buleleng menyebutkan bahwa jumlah PKL di Pantai Penimbangan pada tahun 2012 sebanyak 35 PKL dan di tahun 2013 sebanyak 43 PKL. Dalam kurun waktu satu tahun peningkatan jumlah PKL yang beroperasi yaitu sebanyak 8 PKL, jadi dapat dipastikan bahwa akan terjadi peningkatan jumlah PKL di setiap tahunnya karena Pantai Penimbangan sendiri sebagai objek wisata kemungkinan untuk sepi pengunjung sangat kecil.
Dalam penentuan lokasi PKL di Pantai Penimbangan pemilik telah menentukan beberapa faktor yang berpengaruh. Dan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dalam jurnal dijelaskan bahwa untuk mengetahui faktor-faktor tersebut menggunakan jenis penelitian verifikasi dengan tiga jenis metode pengumpulan data (dokumentasi, kuisioner dan wawancara). Penelitian verifikasi yaitu penelitian yang bersifat menguji teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Kemudian data yang telah diperoleh, dianalisis dengan analisa factor menggunakan Statistical Program Social Scene (SPSS), dimana analisis ini digunakan untuk menganalisis hipotesis konseptual dengan memasukkan semua total nilai dari masing-masing dimensi atau factor terhadap total skor item dari masing-masing dimensi. Tahapan dalam analisa faktor yang dilakukan meliputi:
1. Uji Koefisien Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) untuk mengetahui apakah analisis factor tepat digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh.
3. Uji Anti-image Matrices dan Ekstraksi Faktor, dilakukan untuk mengetahui factor-faktor atau variable yang layak digunakan dalam analisis factor
4. Rotasi Faktor dan Penamaan Faktor, digunakan untuk memperjelas apakah suatu faktor berbeda secara signifikan dengan faktor lain, sedangkan penamaan faktor dilakukan untuk memberikan nama faktor yang sesuai dengan karakteristiknya.
Hasil dari analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi usaha PKL di Pantai Penimbangan meliputi factor aksesibilitas, visibilitas, lalu lintas, tempat parkir, ekspansi, lingkungan, persaingan dan factor peraturan pemerintah. Dan dari kedelapan faktor tersebut, faktor yang paling dominan terhadap penentuan lokasi adalah faktor aksesibilitas dengan nilai varimax rotation sebesar 56.331%. Namun dalam kenyataannya, usaha PKL juga tidak akan terlepas dari masalah-masalah atau kendala yang dihadapi. Berdasarkan hasil wawancara kepada seluruh jumlah PKL di Pantai Penimbangan masalah yang dihadapi adalah mengenai kepastian penempatan lokasi karena perijinan yang diperolah hanya berasal dari desa yang bisa yang bisa berubah sewaktu-waktu, masalah retribusi yang harus dibayarkan ke desa dan pemerintah cukup tinggi yaitu sebasar Rp. 20.000,00 per hari. Kemudian masalah minimnya modal yang dimiliki oleh pemilik usaha, rata-rata modal yang dikeluarkan untuk memulai usaha sebesar Rp. 500.000,00. Konsumen yang datang juga tidak dapat dipastikan jumlahnya, hanya bersifat incidental yang biasanya ramai pengunjung pada malam minggu. Masalah lainnya adalah kurangnya kesadaran akan menjaga kebersihan lingkungan yang dimiliki oleh para PKL.
Solusi dari masalah-masalah tersebut adalah dengan cara PKL yang beroperasi di Pantai Penimbangan memiliki bukti kepemilikan tempat usaha berupa ijin dari desa dan dinas terkait yang tidak bisa diubah-ubah lagi, penerapan pungutan retribusi tergantung pada besarnya pendapatan PKL, adanya fasilitas dari lembaga keuangan (bank) bagi PKL dalam memperoleh modal usaha, sehingga PKL memperluas usahanya dan menambah jumlah stok barang dagangannya. Kemudian perlunya dilakukan peningkatan pelayanan yang diberikan oleh PKL kepada konsumen untuk menarik lebih banyak pelanggan. Dan untuk masalah kebersihan, disediakannya petugas kebersihan oleh dinas terkait.
yang digunakan, peneliti menerapkan jenis penelitian verifikasi. Dimana peneliti justru akan lebih terpaku pada satu teori saja dan kemungkinan besar hasil dari penelitian akan membenarkan teori yang digunakan. Kemudian mengenai implikasi teori yang dikemukakan oleh Fandy Tjiptono (2002;92) terhadap studi kasus, akan lebih baik apabila dikombinasikan dengan teori dasar-dasar dan analisis lokasi kegiatan perdagangan (Retail). Karena terdapat satu faktor pengaruh penentuan lokasi yang tidak disebutkan dalam teori pada studi kasus. Fandy Tjiptono (2002;92) menyebutkan bahwa faktor penentu lokasi usaha terdiri dari 8 faktor, yaitu aksesibilitas, visibilitas, lalu lintas, tempat parkir, ekspansi, lingkungan, persaingan dan factor peraturan pemerintah tanpa menyebutkan faktor threshold populasi. Threshold populasi merupakan tingkat permintaan/jumlah penjualan minimum yang dibutuhkan untuk mendukung keberadaaan kegiatan perdagangan tertentu. Sehingga apabila kedua teori diimplikasikan pada studi kasus tersebut, data yang dihasilkan akan semakin valid.
4.2 Lesson Learned
Salah satu jenis penelitian yang dapat diterapkan dalam sebuah penelitian adalah
metode verifikiikasi, yaitu penelitian yang bersifat menguji teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Ketika suatu penelitian dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian ini, peneliti justru akan lebih terpaku pada satu teori saja dan kemungkinan besar hasil dari penelitian akan membenarkan teori yang digunakan. Hal tersebut merupakan salah satu kekurangan metode penelitian dengan penerapan verifikasi seperti yang telah digunakan pada studi kasus jurnal ini.
Faktor-faktor penentu pemilihan lokasi usaha pedagang kaki lima di Pantai
Penimbangan Kecamatan Panembangan, Kabupaten Panimbangan yang dikemukakan oleh Fandy Tjiptono (2002;92) terdiri dari 8 faktor, yaitu aksesibilitas, visibilitas, lalu lintas, tempat parkir, ekspansi, lingkungan, persaingan dan factor peraturan pemerintah. Dimana dari faktor-faktor tersebut dilakukan analisis terlebih dahulu, dan salah satu metode analisa yang dapat diterapkan adalah metode analisa faktor. Yaitu teknik mereduksi variabel untuk menyederhanakan variabel penelitian menjadi kelompok-kelompok variabel yang lebih kecil (faktor), melalui berbagai tahapan yang meliputi uji Koefisien Kaiser-Meyer-Olkin (KMO), uji Barlett’s Test of Sphericy, uji Anti-image Matrices dan Ekstraksi Faktor serta tahap terakhir adalah Rotasi Faktor dan Penamaan Faktor. Dengan demikian akan diketahui seberapa besar pengaruh dari masing-masing faktor/variable dalam penentuan pemilihan lokasi.
Untuk memperkuat hasil pengujian yang dilakukan, seorang peneliti akan lebih baik
DAFTAR PUSTAKA
http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/timur/bali/singaraja.pdf diakses pada tanggal 26 Februari 2016 pukul 13.54
https://tesisdisertasi.blogspot.co.id/?m=1 diakses pada tanggal 14 Maret 2016 pukul 19.10
Santoso, Eko Budi, dkk. 2012. Diktat Analisa Lokasi dan Keruangan. Surabaya
Sastrawan, I Wayan. 2015. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Usaha Pedagang Kaki Lima di Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng,