BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di antara amanat Allah SWT yang agung dan indah namun juga berat adalah anak, karena fase kanak-kanak merupakan fase yang sangat penting bagi seorang pendidik (para orangtua maupun guru) untuk menanamkan prinsip yang lurus dan pengarahan yang benar ke dalam jiwa anak. Kesempatan ini terbuka lebar mengingat anak-anak masih memiliki fitrah yang suci, jiwa yang bersih, dan hati yang belum terkontaminasi debu-debu dosa. Seorang anak secara fitrah diciptakan dalam keadaan siap untuk menerima kebaikan dan keburukan.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, maka hanya kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi “. (HR. Bukhari dalam Rahman, 2005 : 23)
Pendidkan dan kematangan jiwa terhadap nilai agama pada anak sangat di perlukan dalam era globalisasi kini. Tantangan berat akan di hadapi mereka di masa depan-nya. Oleh karena itu penting buat kita para pendidik (Orang tua dan guru) membekali mereka
pendidikan formal dan nilai-nilai Agama serta nilai-nilai normative yang berlaku di masyarakat.
Jika seorang pendidik bisa memanfaatkan dengan baik, maka peluang keberhasilan membina fase-fase berikutnya akan lebih besar. Dengan demikian anak akan menjadi seorang mukmin yang tangguh, kuat dan energik. Bagi yang ingin meneladani pendidikan yang sebenarnya, Muhammad SAW adalah contoh pendidik yang amat jitu dalam
menyiapkan generasi Qur’ani.
Masa kecil anak merupakan masa persiapan, latihan dan pembiasaan. Melalui pembiasaan yang baik akan berpengaruh bagi kehidupan selanjutnya Sehingga mereka sudah memasuki masa dewasa, yaitu pada saat mereka mendapatkan kewajiban dalam beribadah, segala jenis ibadah yang Allah wajibkan dapat mereka lakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, karena sebelumnya mereka sudah terbiasa melakukan ibadah tersebut.
Rumusan Masalah
2. Syarat-syarat Mufassir 3. Adab Mufassir
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya: 1. Untuk mengetahui Pengertian Tafsir dan Mufassir 2. Untuk mengetahui Syarat-syarat Mufassir
3. Untuk mengetahui Adab Mufassir
Bermacam-macan cara pembagian umur pertumbuhan yang dibuat oleh para ahli jiwa. Tetapi pada umumnya perbedaan yang terdapat antara mereka tidaklah dalam hal-hal yang pokok. Kita disini akan mengambil salah satu pendapat yang membagi umur anak kepada masa bayi (0-2 Tahun) masa pra skolah ( 2-6 Tahun), masa anak (6-12 tahun), masa remaja (13-21 Tahun) dan masa dewasa diatas umur 21 tahun. Ketiga tahap umur tersebut mempunyai cirri keistimewaan dan kelemahanya masing – masing. Dengan mengetahui cirri-ciri tersebut akan mudah bagi seorang pendidik, menghadapi anak didiknya, serta dapat melaksanakan pendidikan bagi mereka.
1. Fase-fase Perkembangan Anak dan Aktualisai nilai-nilai agama pada Anak
1.1 Masa sebelum lahir (PRANATAL) selama 280 hari 1
Masa Pranatal ini berlangsung dari sejak terjadinya konsepsi sampai bayi lahir kira-kira lamanya 9 bulan 10 hari atau 280 hari.
Masa periode ini terbagi kepada 3 periode,yaitu :
a. Periode telur, berlangsung sejak pembuahan sampai akhir minggu kedua. b. Periode embrio, dari akhir minggu kedua sampai akhir bulan kedua. c. Periode janin, Dari akhir bulan kedua sampai bayi lahir.
Ada 5 ciri-ciri kondisi Pranatal yang penting, yaitu :
a. pada masa ini potensi sifat-sifat bawaan dan jenis kelamin setiap individu ditentukan. b. pada masa ini kondisi si ibu sangat menetukan pola pertumbuhan Pranatal.
c. secara Prporsional pertumbuhan pada fase ini lebih besar dan lebih luas dari fase-fase lain nya.
d. pada saat orang-orang yang berarrti dalam keluarga dapat membentuk sikap kepada si janin.
e. pada masa ini terdapat banyak bahaya fisik maupun psikologis.
Kesalehan jiwa dan prilaku orang tua memiliki andil besar dalam membentuk keshalehan anak. Bahkan akan membawa manfaat bagi anak, baik di dunia maupun di akhirat. Di anjurkan untuk membentengi anak sejak sebelum lahir sesuai dengan yang di ajarkan Rasulullah SAW diantaranya adalah berdoa ketika akan bersenggama dengan istri. Pada saat itu, dianjurkan untuk memegang ubun-ubunnya serta membaca do’a yang di ajarkan Rasulillah SAW, “Ya Allah. Sesungguhnya aku meminta-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan darinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ciptakan darinya”2
1 Drs.H.M.Alisuf sabri, psikologi pendidikan (pedoman ilmu jaya, Jakarta : 2007) hal : 13
1.2 Masa Bayi Baru Lahir (New Born)
Masa ini dimulai sejak lahir sampai bayi berumur kira-kira 15 hari. Masa ini merupakan fase pemberhentian, artinya masa tidak terjadi pertumbuhan atau perkembangan. Masa ini juga dikenal dengan masa “resting age” yaitu masa istirahat, guna menyesuaikan diri dengan keadaan baru didunia ini.3
Periode ini dibagi menjadi 2 tahap, yaitu : Pertama disebut periode parunate yaitu sejak janin baru keluar dari Rahim sampai tali pusar dipotong. Kedua disebut peride
neonate sampai sekitar akhir minggu kedua setelah kelahiran. Ciri –ciri yang penting pada masa ini adalah4 :
a. Periode ini merupakan fase perkembangan yang tersingkat dari seluruh periode perkembangan manusia.
b. Periode ini merupakan saat penyesuaian diri untuk kelangsungan hidup janin. c. Periode ini ditandai dengan terhentinya perkembangan.
d. Diakhir periode ini bila si bayi selamat maka merupakan awal perkembangan lebih lanjut.
Pendidikan agama dalam artian pembinaan kepribadian, yang sebenarnya telah dimulai sejak si anak lahir, bahkan sejak si anak dalam kandungan. Memang diakui bahwa
penelitian terhadap mental janin yang dalam kandungan, mempengaruhi jiwa anak yang akan dilahirkan nanti, hal ini banyak terbukti dalam perawatan jiwa.
Anak dilahirkan tidak dalam keadan lengkap dan tidak pula dalam keadaan kosong. Ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Memang ia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa, akan tetapi anak telah dibekali dengan pendengaran, penglihatan, dan kata hati.5
Aktualisasi nilai-nilai agama pada anak ketika baru lahir6 :
a. Meminta perlindungan Allah untuk anak ketika lahir
Istri Imran ketika melahirkan Maryam a.s. Allah SWT berfirman: Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku
melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang
dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak
3 Drs.H.M.Alisuf sabri, psikologi pendidikan (pedoman ilmu jaya, Jakarta : 2007) hal : 14 4 Drs.H.M.Alisuf sabri, psikologi pendidikan (pedoman ilmu jaya, Jakarta : 2007) hal : 15
5Muhammad ‘Ali Quthb, Auladuna fi-Dlaw-it Tarbiyyatil Islamiyah, Terj. Bahrun Abu Bakar Ihsan, “Sang
Anak dalam Naungan Pendidikan Islam”, Bandung : Diponegoro, Cetakan II, 1993, hlm. 11.
keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (QS. Ali ‘Imran:32)
b. Waspada terhadap penyakit ‘Aen
Penyakit ‘aen yang dikirim orang-orang dengki bisa saja menyerang anak anda. Penyakit tersebut tidak dapat diobati dengan pengobatan modern karena jenis penyakit ini berbeda dengan penyakit biasa yang memerlukan terapi istimewa dengan Ruqyah.
c. Memberi makanan yang telah dikunyah dan memberikan keberkahan untuk anak Dalam Shahih uslim diriwayatkan sebuah Hadist dari Aisyah r.a “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah didatangi sesorang dengan membawa bayi. Lalu beliau mendoakan keberkahan untuknya dan memberinya makanan yang telah dikunyahnya”
d. Memberi nama yang baik untuk anak
Hadist Bukhori dari Sa’id ibn Musayyib, dari ayahnya: Suatu ketika ia bertandang kekediaman Rasulullah, Rasulullah SAW bertanya, “Siapa namamu?” Ia menjawab,
“Huzn” (Kesedihan) Rasulullah SAW bersabda “Namamu (sekarang adalah) Sahl
(Kemudahan). Orang itu berkata, “aku tidak akan merubah nama yang telah di berikan ayahku, “ Ibn Musayyab berkata, “Akhirnya kesedihan sama sekali tidak beranjak dari kami,”
e. Cukur Rambut dan Aqiqah
Rasulullah Saw bersabda: ”Setiap anak itu di gadaikan dengan aqiqahnya. Ia di sembelihkan ( binatang ) pada hari ke tujuh pada kelahirannya di beri nama pada itu juga dan di cukur kepalanya. (Ashabus Sunan)
1.3 Masa bayi (BABYHOOD) 2 Minggu-2 tahun. Masa ini berlangsung dari umur 2 minggu-2 tahun. 7
Ciri-ciri masa ini adalah :
a. Masa bayi merupakan masa dasar yaitu masa pembentukan dasar-dasar kehidupan yang sesungguhnya,karena pada saat ini banyak pola prilaku,sikap dan pola ekspresi emosi terbentuk.
b. Bayi berkembang pesat baik fisik maupun psikologisnya sehingga penampilan dan kemampuan nya pada masa ini mengalami banyak perubahan.
c. Masa bayi selain meningkatnya individualitas,juga merupakan masa pemrmulaan sosialisasi.
d. Masa bayi adalah masa permulaan penggolongan seks atau jenis kelamin.
e. Masa bayi adalah masa yang menarik sehingga semua orang suka kepada bayi.
f. Masa bayi adalah permulaan masa kreatifitas,pada bulan-bulan pertama bayi mulai belajar mengembangkan minat dan sikap yang merupakan dasar bagi kreatifitasnya kemudian,dan untuk penyesuaian diri nya dengan pola-pola yang diletakkan orang lain atau orang tua.
Menurut Arnold gessel, bayi sudah mempunyai perasaan ketuhanan. Perasaan ini disertai kemampuanya dalam bahasa yaitu mengucapakan satu atau dua kata dan meniru kata-kata. Potensi ini dapat dijadikan dasar untuk mengaktualisasikan nilai-nilai agama melalui kegiatan:
1. Mengenalkan konsep-konsep atau nilai-nilai agama kepada bayi melalui bahasa, seperti takbir, tahmid, dan tasbih.
2. Memperlakukan bayi dengan penuh kasih sayang dari orang tua sebelum mengenal kasih sayang Tuhan.
Pada intinya, pertumbuhan akan rasa agama pada anak telah di mulai sejak si anak dan bekal itulah yang dibawanya ketika masuk sekolah untuk pertama kalinya.
1.4 Masa kanak-kanak awal (EARLY CHILDHOOD) 2-6 tahun.
Masa kanak-kanak awal ini berlangsung dari umur 2-6 tahun. Masa ini sering disebut usia sulit atau problematis, karena memelihara atau mendidik anak sulit. Masa ini juga disebut sebagai usia main karena sebagian besar hidup anak dihabiskan untuk bermain.8
Masa kanak-kanak awal merupakan saat yang tepat untuk belajar mencapai berbagai keterampilan. Karena anak senang mengulang-ngulang, hal ini penting artinya dalam belajar keterampilan. Selain itu anak pada masa ini juga berani dan senang mencoba hal-hal baru. Pada masa ini mereka juga belum banyak memiliki keterampilan sehingga tidak ada gangguan untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan baru.
Pada tahap ini masa yang sangat penting, baik itu dalam hal fisik, psikis, kematangan IQ dan EQ anak di tentukan pada masa itu. Para ahli menyebutnya masa “Golden
Age“ ( masa ke emasan ). Dengan kesucian dan kepolosan para balita, tahap ini menerima semua nilai – nilai reaksi dari luar tanpa penolakan dan terekam dalam otaknya.
Sifat khusus balita ini adalah “Ego Centris“ (semua milik / untuk ku). Sikapnya tidak lagi reflek, Ia sudah dapat mereaksi dan mengantisipasi untuk meniru sesuatu. Sangat tepat
kiranya orang tua memberi warna pada masa ini. Apakah warna merah, putih, hitam dan lain sebagainya. Orang tuanya-lah dan lingkungan yang berperan pada balita suci ini.
Apa bila kita melewati masa ini maka kita akan melewati masa-masa penting dalam membentuk konsep diri si anak pada masa dewasanya nanti. Padahal “ Konsep Diri “ adalah modal utama untuk menjalani kehidupan dengan baik.
Zakiyah Darajat berpendapat bahawa masa pra sekolah merupakan masa paling penting untuk menanamkan rasa agama dan usia penumbuhan kebiasaan agama. Perkembangan fitrah beragama pada masa pra sekolah ditandai dengan cirri-ciri:
1. Sifat keagamaan yang bersifat reseptif ( menerima) meskipun sudah banyak bertanya. 2. Pandangan ketuhanan yang bersifat anhtropormorp (dipersonifikasikan).
3. Pengahayatan rohaniah yang masih superficial ( belum mendalam, masih diper mukaan).
4. Pemahaman ketuhanan yang ideocyncritic ( menurut khayalan dirinya).
Pendidikan agama dalam keluarga sebelum si anak masuk sekolah, terjadi secara formil. Pendidikan agama pada umur seperti ini dimulai dengan semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan dan sikap yang dilihatnya, maupun perlakuan yang dirasakannya. Oleh karena itu, keadaan orang tua dalam kehidupan mereka sehari-hari memepunyai pengaruh yang sangat besar dalm pembinaan kepribadiaan anak.
Si anak mulai mengenal Tuhan dan agama, melalui orang- orang dalam lingkungan tempat mereka hidup. Jika mereka lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang beragama, mereka akan mendapat pengamalan agama itu dimulai dari ucapan, tindakan dan perlakuan.
Tindakan dan perlakuan orang tua yang sesuai dengan ajaran agama, akan
menimbulkan pada anak pengalaman- pengalaman hidup yang sesuai dengan agama, yang kemudian akan bertumbuh menjadi unsur-unsur yang merupakan bagian dalam pribadinya nanti.
Atas dasar diatas itu, maka nilai- nilai aktualisasi pada anak pra sekolah melalui kegiatan kegiatan yang relevan dengan perkembangannya, antara lain:
1.5 Masa kanak-kanak akhir (LATER CHILDHOOD) 6-12 Tahun
Masa kanka-kanak akhir atau disebut juga masa anak sekolah ini berlangsung dari umur 6-12 tahun. Masa ini disebut orang tua dengan masa “tidak rapi”, masa “bertengkar” dan masa “menyulitkan”9
Pada masa keserasian bersekolah ini anak-anak relatif lebih mudah untuk dididik disekolah dari masa sebelum dan sesudahnya nanti. Masa ini dapat dibagi dalam 2 fase, yaitu:
a. Masa kelas sekolah dasar umur 6 atau 7 sampai 9 atau 10 tahun.
b. Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar umur kira-kira 9 atau 10 sampai 12 atau 13 tahun.
Pada tahap ini, si anak beralih dari memusatkan diri pada apa yang ada di dalam dirinya menemukan dunia diluar dirinya dan ramahnya sifat sosialnya tumbuh secara baik, dengan ia mulai sekolah.
Sosialisasinya pada lingkungan lebih luas ada teman–temannya, guru, lingkungan sekolah. Tanggung jawab pendidik dan penanaman nilai-nilai agama terbagi kepada guru. Maka orang tua harus cermat memilih sekolah-sekolah yang baik ( secara akademis dan agama ).
Ketika si anak masuk sekolah dasar, dalam jiwanya ia telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya dari orang tua dan gurunya di taman Kanak- kanak. Andaikata pendidikan agama yang diterima dari orang tuannya dirumah sejalan dan serasi dengan apa yang diterima dari gurunya di Taman Kanak- kanak, maka ia masuk sekolah dasar telah membawa dasar agama yang bulat (Serasi), akan tetapi jika berlainan , maka yang dibawanya adalah keragu- raguan, ia belum dapat memikirkan mana yang benar apakah agama orang tuanya atau agama gurunya. Yang ia rasakan adalah adanya perbedaan kedua- duanya, masuk kedalam pembinaan pribadinya.
Pada masa perkembangan fitrah beragama pada anak ditandai dengan cirri- ciri: 1. Sikap keagamaan yang bersifat reseptif tetapi sudah disertai pengertian.
2. Pandangan pemahaman ketuhanan secara rasional melalui indicator alam semesta. 3. Penghayatan rohaniah semakin mendalam dan penerimaan ritual sebagai keharusan
moral.
Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi setiap guru agama pada sekolah dasar, harus menyadari betul- betul bahwa anak-anak didik yang dihadapinya itu telah membawa
bekal agama dal pribadinya masing-masing. Maka setiap guru agama di sekolah dasar, hendaknya memahami betul-betul perkembangan jiwa anak pada masa sekolah dasar yang berkisar anatra ± 6 sampai 12 tahun.
Guru agama harus ingat bahwa anak bukanlah orang dewasa yang kecil, artinya apa yang cocok untuk orang dewasa, tidak akan cocok untuk anak- anak. Penyajian agama bagi anak, harus sesuai dengan pertumbuhan jiwa anak dengan cara yang lebih konkrit, dengan bahasa yang sederhana serta banyak bersifat latihan dan pembiasaan yang menumbuhkan nilai-nilai dalam kepribadiannya.
Sembahyang dan berdoa sangat menarik bagi anak pada umur ini karena mengandung gerakan yang tidak asing baginnya. Doanya bersifat pribadi misalalnya memohon sesuatu yang diinginkanya, minta ampun akan kesalahannya, dan minta tolong atas hal-hal yang tidak mampu ia mencapainya.
Secara sederhana, aktualisasi nilai-nilai agama pada anak masa usia ini bisa melalui kegiatan:
1. Pengembangan pemahaman nilai- nilai agama ( akidah, ibadah, dan akhlak) 2. Pemberian latihan dan pembiasaan keagamaan ( ibadah dan akhlak)
Terkait dengan upaya pengamalan nilai agama pada anak agar berakhlak mulia, Imam Al-Ghazali memberikan fatwa kepada para orangtua agar mereka melakukan kegiatan-kegiatan berikut:
1. Menjauhkan anak dari pergaulan yang tidak baik. 2. Membiasakan anak untuk bersopan-santun.
3. Memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal shalih, misalnya berperilaku sopan, dan menegur anak yang melakukan perbuatan buruk.
4. Membiasakan anak untuk berpakaian yang bersih dan rapih. 5. Menganjurkan anak untuk berolahraga.
6. Menanamkan sikap sederhana kepada anak. 7. Mengizinkan anak untuk bermain setelah belajar. 1.6 Masa puber (PUBERTY)
Perubahan pada masa puber mempengaruhi keadaan fisik, sikap dan prilaku. Karena akibat perubahan nya cenderung buruk, terutama selama awal masa puber, maka masa puber sering disebut “masa negatif”.
Pada masa puber ini, bahaya fisik tampaknya lebih ringan dibandingkan dengan bahaya Psikologis. Bahaya psikologis yang paling umum terjadi adalah kecenderungan mengembangkan konsep diri yang kurang baik, berprestasi rendah, tidak mau menerima perubahan jasmani atau peran seks yang memperoleh dukungan sosial dan penyimpangan pematangan seksual.
BAB III PENUTUP