• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Kritis Eksternalitas Ekonomi Da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tinjauan Kritis Eksternalitas Ekonomi Da"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Tinjauan Kritis Eksternalitas Ekonomi Dalam Pembangunan Wisata Alam Berkelanjutan Studi Kasus Pada Kawasan Wisata Alam Baturaden - Purwokerto, Kabupaten Banyumas

Propinsi Jawa Tengah

Meidyas Riska W

Alur Managemen Pembangunan Kota

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

ABSTRAK

Pembangunan yang dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi. Dalam kenyataannya peningkatan pertumbuhan ekonomi tidak saja membawa dampak posistif bagi sebuah perekonomian namun juga memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Proses produksi dan konsumsi yang memberikan nilai tambah adalah salah satu contoh eksternalitas positif.

Metode penelitian yang digunakan yakni dengan melakukan analisis IO terhadap output, pendapatan, dan nilai tambah sektor wisata.

Hasil yang ingin diketahui adalah seberapa jauh dampakatau perubahan permintaan akhir terhadap perubahan dalam output, pendapatan, nilai tambah sektor wisata dan sektor ekonomi lain.

Kata Kunci: Ekternalitas ekononim, wisata alam

PENDAHULUAN

Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang meliputi perubahan dalam struktur sosial, perubahan dalam sikap hidup masyarakat dan perubahan dalam kelembagaan. Selain itu, pembangunan juga meliputi perubahan dalam tingkat pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan pendapatan nasional, peningkatan kesehatan dan pendidikan serta pemberantasan kemiskinan. Dalam pembangunan tersebut terkandung suatu upaya yang terus menerus dilakukan oleh penduduk negara guna mencapai sasaran kesejahteraan yang dinginkannya baik dalam jangka pendek (short run) maupun dalam jangka panjang (long run). Dalam hal ini menurut Todaro (2000:17) pembangunan suatu negara dapat diarahkan pada tiga hal pokok, yaitu meningkatkan ketersediaan dan distribusi

kebutuhan pokok bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses baik kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial dalam kehidupannya.

(2)

Dalam hal ini menurut Meier (1995:507) integrasi perekonomian kawasan akan menghasilkan tiga macam manfaat, yaitu; menstimulir eksistensi dan ekspansi industri manufaktur dengan basis yang lebih regional, meningkatkan manfaat perdagangan dan menimbulkan persaingan yang semakin intensif sehingga dapat menaikkan tingkat efisiensi kawasan. Implikasi penting dengan semakin meningkatkan volume kegiatan ekonomi masyarakat adalah semakin bertambahnya persoalan yang terkait dengan kelestarian alam dan lingkungan. Sebagaimana diketahui aspek alam dan lingkungan merupakan faktor penting dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Aktivitas ekonomi masyarakat yang berlebihan. Aktivitas ekonomi yang dilakukan diharapkan memiliki eksternalitas yang positif, sehingga dapat memberikan dampak bagi pemerintah daerah.

METODE PENELITIAN

Analisis Multiplier effect dari kegiatan wisata dilakukan dengan melakukan penyusunan tabel input output (IO) propinsi Jawa Tengah (update) yang berasal dari tabel IO. Analisis

Multiplier effect menyatakan tingkat

perubahan suatu sektor eonomi akibat adanya suatu permintaan akhir. Analisis ini dilakukan terhadap output, pendapatan, dan nilai tambah sektor wisata dengan hasil yang ingin diketahui adalah seberapa jauh dampakatau perubahan permintaan akhir terhadap perubahan dalam output, pendapatan, nilai tambah sektor wisata dan sektor ekonomi lain.

PEMBAHASAN

Kabupaten Banyumas merupakan salah satu bagian wilayah Propinsi Jawa Tengah terletak diantara:

- 108 o39'17" - 109o27 '15" Bujur Timur dan - 7 o 15 '05" - 7 o 37 '10" Lintang Selatan. Kabupaten Banyumas terdiri dari 27 Kecamatan dan berbatasan dengan wilayah beberapa Kabupaten yaitu : Sebelah Utara

dengan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang. Sebelah Timur dengan Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen.

Potensi wisata di Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah adalah salah satu sektor yang berpengaruh pada Pendapatan Daerah. Beberapa penelitian tentang industri pariwisata dan pengaruhnya terhadap PDRB memberikan hasil yang berbeda. Di daerah dimana pariwisata sangat maju dan menjadi andalan tentu sumbangan tersebut besar. Hasil penelitiian Utama (2011) menunjukkan bahwa Pariwisata secara nyata berpengaruh positif terhadap perekonomian pada sebuah negara atau destinasi lewat berbagai cara. Masih dengan obyek pariwisata di Bali hasil penelitianUtama (2006) menunjukkan bahwa , namun seperti studi kasus di daerah Batu sumbangan industri ini terhadap kesejahteraan masyarakat masih sangat kecil. Industri pariwisata di Jawa Tengah belum memberikan pengaruhnya yang besar terhadap PDRB namun keberadaannya bisa diandalkan dimas yang akan datang (Mulyaningrum, 2005). Industri pariwisata memiliki prospek yang bagus untuk perkembangan ekonomi regional.

Peranan pariwisata juga dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja, walaupun tidak ada angka pasti untuk sektor pariwisata dalam catatan statistik. Tetapi, meningkatnya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap PDRB propinsi Jawa Tengah secara jelas menggambarkan peranan sektor (yang terkait dengan) kepariwisataan. Sektor perdagangan, restoran dan perhotelan (pariwisata) semakin besar peranannya dalam kontribusinya terhadap PDRB.

(3)

Salah satu penyebab belum optimalnya perencanaan karena perencanaan ekonomi lebih berorientasi kepada pendekatan sektoral dibanding pendekatan regional. (G.K.R.Hemas.2010)

Sedikitnya terdapat empat hal yang menjadi permasalahan penyebab perencanaan regional kurang mendapat "sentuhan" pemda, yaitu minimnya informasi potensi ekonomi pada tingkat desa atau kecamatan; yang mungkin diakibatkan minimnya infrastruktur; budaya lokal yang belum terbuka dan sulit menerima kehadiran pendatang/investor; potensi sektoral lebih banyak menghasilkan ketimbang potensi regional.

Bila potensi regional dalam hal ini diartikan sebagai Pariwisata daerah, sebagaimana telah dikemukakan di atas, mungkin masih terdapat beberapa masalah lagi yang perlu diinventarisir secara seksama sesuai budaya dan historis setempat.

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemda dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada melalui pola kemitraan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru dan menjadi stimulus bagi kegiatan ekonomi daerah. Dalam konteks inilah, pemda hendaknya membuka diri dan lebih berperan sebagai usahawan, koordinator, fasilitator dan stimulator terhadap kegiatan ekonomi.

Dengan adanya UU no 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah maka Kemandirian daerah ini terwujud dalam pemberian kewenangan yang cukup besar meliputi kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan dalam bidang Pariwisata.

Penyerahan kewenangan tersebut disertai juga dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia sesuai dengan

kewenangan yang diserahkan tersebut. Merupakan konsekuensi logis bagi daerah dengan adanya penerapan otonomi daerah maka segala sesuatu yang bersifat operasional dilimpahkan kepada daerah.

Sehubungan dengan penerapan otonomi daerah maka segala sesuatu yang menyangkut pengembangan industri pariwisata meliputi pembiayaan, perizinan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi menjadi wewenang daerah untuk menyelenggarakannya. Dengan demikian masing-masing daerah dituntut untuk lebih mandiri dalam mengembangkan obyek dan potensi wisatanya, termasuk pembiayaan promosinya. Oleh karenanya pengembangan industri pariwisata suatu daerah menjadi alasan utama sebagai salah satu upaya meningkatkan PAD melalui pemanfaatan potensi-potensi daerah setempat.

(4)

kelompok menghasilkan dampak yang membahayakan bagi orang lain. Adanya eksternalitas menyebabkan terjadinya perbedaan antara manfaat (biaya ) sosial dengan manfaat (biaya) individu. Timbulnya perbedaan antara manfaat (biaya ) sosial dengan manfaat (biaya) individu sebagai hasil dari alokasi sumberdaya yang tidak efisien. Pihak yang menyebabkan eksternalitas tidak memiliki dorongan untuk menanggung dampak dari kegiatannya terhadap pihak lain. Dalam perekonomian yang berdasarkan pasar persaingan sempurna, output individu optimal terjadi saat biaya individu marginal sama dengan harganya. Eksternalitas positif terjadi saat manfaat social marginal lebih besar dari biaya individu marginal (harga), oleh karena itu output individu optimal lebih kecil dari output sosial optimal. Adapun eksternalitas negatif terjadi, saat biaya sosial marginal lebih besar dari biaya individu marginal, oleh karena itu tingkat output individu optimal lebih besar dari output sosial optimal. (Sankar, 2008).

Eksternalitas adalah biaya/beban (cost) atau manfaat (benefit) yang terkena kepada konsumen atau perusahaan oleh karena tindakan yang dilakukan oleh pihak lain. Eksternalitas dapat memberikan manfaat disebut eksternalitas positif atau dapat juga menyebabkan beban (cost) disebut eksternalitas negatif. Teori eksternalitas (analisis situasi, seperti misalnya polusi, dimana tindakan satu orang dapat menimbulkan beban atau manfaat) pada orang lain.

Dua gagasan yang berseberangan yaitu pendekatan Pigouvian1 dan Coasian2perlu difahami dalam penanganan dampak eksternalitas ini. Penanganan dampak eksternalitas merupakan keputusan publik, di mana pemerintah akan menerapkan suatu tindakan, salah satunya adalah dengan menetapkan pajak Pigouvian. Maksud pengenaan pajak itu adalah untuk dapat mengkonversikan biaya eksternal menjadi biaya internal (=melakukan internalisasi

terhadap biaya eksternal). Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah menetapkan pengenaan pajak/retribusi pembangunan yang harus mampu mengukur biaya untuk mengatasi eksternalitas negatif (misalnya polusi). Akan tetapi, berbeda dengan peraturan langsung, penggunaan pajak/retribusi pembangunan tersebut tidak mempersyaratkan pemerintah untuk mengukur biaya untuk mencegah eksternalitas negatif – apakah dengan memasang instalasi alat kontrol pengawas lingkungan atau dengan mengurangi hasil produksinya. Hal itu dilakukan oleh pengembang, yang bertindak atas kepentingannya sendiri.

(5)

proses pengembangan akan terjadi. (Klink, 1994, Webster, 1978).

Eksternalitas menyebabkan pasar mengalami inefisiensi, kondisi ini disebut sebagai kegagalan pasar (market failure). Ketika kegagalan pasar terjadi, pasar menghasilkan terlalu banyak barang dan jasa tertentu, dan terlalu sedikit menghasilkan barang dan jasa yang lain. Kesimbangan pasar menunjukkan keadaan permintaan sama dengan penawaran, dimana kerelaan membayar dari pembeli marginal barang (marginal benefit) yang ditunjukkan oleh permintaan sama dengan tambahan biaya (marginal cost) untuk barang tersebut yang ditunjukkan oleh penawaran. Dengan kata lain pada kondisi ini terjadi alokasi sumberdaya yang efisien. Pada saat terjadi eksternalitas positif, misalnya adanya perbaikan teknologi, adanya perbaikan tersebut masyarakat memperoleh kemudahan tanpa ikut menanggung biayanya. Keadaan ini menyebabkan, manfaat marginal tidak sama dengan biaya marginal untuk menghasilkan barang tersebut. Demikian pula dengan eksternalitas negatif, penggunaan kendaraan bermotor oleh seorang individu akan memberikan mafaat bagi pengguna, namun polusi yang dikeluarkan dari penggunaan kendaraan tersebut berdampak buruk bagi kesehatan pengguna jalan yang tidak memperoleh manfaat dari kendaraan tersebut. Artinya terjadi perbedaan marginal benefit dan marginal cost sebagai hasil dari kegiatan tersebut.

KESIMPULAN

Eksternalitas lingkungan merupakan masalah yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat. Mengingat dampaknya yang besar terhadap kesehatan, lingkungan, bahkan pembangunan ekonomi itu sendiri, maka perlu disusun kebijakan untuk menanggulanginya. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat nerupa kebijakan yang diambil oleh pemerintah

seperti pemberlakuan pajak untuk tempat wisata, pengelolaan wisata merupakan kewenangan pemerintah, swasta tidak diberikan kewenangan penuh untuk mengelola, pemerintah juga berperan sebagai control.

Dengan adanya UU no 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah maka Kemandirian daerah ini terwujud dalam pemberian kewenangan yang cukup besar meliputi kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan dalam bidang Pariwisata.

Penyerahan kewenangan tersebut disertai juga dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. Merupakan konsekuensi logis bagi daerah dengan adanya penerapan otonomi daerah maka segala sesuatu yang bersifat operasional dilimpahkan kepada daerah.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada lokasi wisata BatuRaden, Kabupaten Banyumas belum menujukkan pengaruh yang besar terhadap PDRB, tetapi diyakini akan menjadi andalan terbukti dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan sektor primer seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan dan kehutanan.

Daftar Pustaka

Pigou, A.C (1920), The Economis of Welfare, Macmillan.

Sankar, U (2000), Environmental Economics, Reader in Economics, Oxford University Press

Hermawati, 2013. Potensi Industri Pariwisata Kabupaten Banyumas.

Referensi

Dokumen terkait

This study is a case study since the writer only analyzed one Indonesian child to find out the kinds of sentences, the syntactic patterns, and the language

Hasil penelitian menunjukkan bahwa likuiditas saham yang di ukur dengan bid-ask spread berpengaruh positif signifikan terhadap return saham, yang konsisten dengan teori Amihud

Karena banyaknya kecelakaan pesawat udara yang terjadi maka perusahaan penerbangan dalam hal ini maskapai penerbangan yang bersangkutan tidak hanya dihadapkan pada

Pada kelompok kontrol didapatkan p value yaitu 0.160 untuk tekanan sistolik, dan 0.270 untuk tekanan diastolik, dimana p value > (α) 0.05 sehingga dapat disimpulkan

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai salah satu upaya mengembangkan teknik untuk bimbingan rohani Islam yang

kecil, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat pengeluaran kas dalam pembentukan dana kas kecil dan dalam pengisian kembali dana kas kecil. Dokumen sumber yang diapakai

Berdasarkan keempat variabel independent tersebut di atas dapat meningkatkan variabel dependentnya karena besaran koefisien masing-masing bertanda positif, dengan

x Antara perkara utama yang melibatkan anggaran perbelanjaan awal adalah kos pembelian, pemasangan dan kos pengangkutan ditanggung oleh aset baru, perubahan dalam modal kerja