Universitas Indonesia
Kasus Pertambangan
Bupati Kutai Timur VS Menteri ESDM
Hukum Pembangunan
Nama : Sarah Khanita
NPM : 1206275805
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Program Ilmu Administrasi Fiskal
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Saat ini, banyak perusahaan pertambangan baik dari dalam maupun luar negeri yang
melakukan eksplorasi atau kegiatan pertambangan lainnya di Indonesia. Perusahaan
pertambangan tersebut tentunya perlu memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) terlebih
dahulu sebelum melakukan kegiatan pertambangannya di Indonesia. Izin Usaha
Pertambangan (IUP) dalam ketentuannya pada Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
diberikan oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.
Izin Usaha Pertambangan merupakan salah satu modal penting bagi oknum
pertambangan untuk melakukan kegiatan pertambangannya di Indonesia. Jika kita lihat
dalam sudut pandang Negara Kesatuan Republik Indonesia, IUP dirasa sangat penting
untuk menjaga kekayaan alam yang berada di Indonesia supaya tidak tereksploitasi
secara besar-besaran oleh pihak asing yang melakukan kegiatan pertambangannya di
Indonesia. Dalam hal ini merujuk pada pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945
bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.
Kewenangan yang dimiliki oleh seorang Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota untuk
menerbitkan Izin Usaha Pertambangan jangan sampai nantinya disalahgunakan oleh
oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia
secara besar-besaran tanpa memperhitungkan dampak negatif yang dimilikinya terhadap
lingkungan dan bangsa Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Kewenangan yang diberikan oleh seorang Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota
dalam menerbitkan Izin Usaha Pertambangan kepada oknum pertambangan yang ingin
melakukan kegiatan pertambangannya di wilayah Indonesia menjadi sesuatu yang sangat
penting untuk diperhatikan baik untuk oknum pertambangan itu sendiri agar dapat
sekitar yang akan menerima dampak langsung dari kegiatan pertambangan tersebut.
Kewenangan yang dimiliki oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota untuk menerbitkan
IUP bagaikan pisau bermata dua, disatu sisi dengan diterbitkannya IUP, pemerintah dapat
menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari pajak atas pemanfaatan tanah dan bumi
namun di lain sisi kegiatan pertambangan memiliki dampak negatif yang besar terhadap
lingkungan sekitar. Sebenarnya, apabila terdapat penyalahgunaan kewenangan yang
dilakukan oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dalam hal pemberian Izin Usaha
Pertambangan, kewenangan yang dimilikinya dapat dicabut melalui ketentuan hukum
yang berlaku.
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Memberikan pengetahuan mengenai Izin Usaha Pertambangan (IUP)
b. Mengetahui kasus pertambangan di Indonesia beserta analisisnya
c. Untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Hukum dan Pembangunan
1.4. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah pengumpulan data
berdasarkan studi pustaka, serta pengelohan dan analisis data yang ditemukan.
1.5. Sistematika Penulisan
Pada makalah ini, penulis memakai metode kepustakaan. Penulis mengumpulkan
berbagai informasi dari beragam sumber yang dipercaya. Penulis mencari dari buku-buku
dan jurnal yang berkaitan dengan pokok bahasan. Hasil analisa dilaporkan oleh penulis
secara naratif. Selain itu, sistematika penulisan adalah menceritakan hasil analisis yang
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Pertambangan di Indonesia
Pertambangan adalah suatu kegiatan pengambilan endapan galian berharga dan
bernilai ekonomis dari dalam kulit bumi, baik secara mekanis maupun manual, pada
permukaan bumi, di bawah permukaan bumi, dan di bawah permukaan air. Dalam
pengelolaannya terdapat beberapa tahapan dari kegiatan pertambangan itu sendiri yaitu
prospeksi, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan/pemurnian/pengilangan. Hasil kegiatan
pertambangan antara lain, minyak dan gas bumi, bijih mangaan, bijih emas, perak,
batubara, pasir besi, bijih timah, bijih nikel, bijih bauksit, bijih tembaga, dan granit.
Bahan tambang tergolong menjadi 3 (tiga) jenis, yakni Golongan A (yang disebut
sebagai bahan strategis), Golongan B (bahan vital), dan Golongan C (bahan tidak
strategis dan tidak vital). Bahan Golongan A merupakan barang yang penting bagi
pertahanan, keamanan dan strategis untuk menjamin perekonomian negara dan sebagian
besar hanya diizinkan untuk dimiliki oleh pihak pemerintah, contohnya minyak, uranium
dan plutonium. Sementara, Bahan Golongan B dapat menjamin hidup orang banyak,
contohnya emas, perak, besi dan tembaga. Bahan Golongan C adalah bahan yang tidak
dianggap langsung mempengaruhi hayat hidup orang banyak, contohnya garam, pasir,
marmer, batu kapur dan asbes.
2.2. Fungsi Pertambangan
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan, fungsi
pengelolaan mineral dan batubara berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara adalah:
1) Menjamin efektifitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan
pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
hidup.
2) Menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau sebagai
sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri.
3) Mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu
bersaing di tingkat Internasional
4) Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta
5) Menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat
6) Menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara.
2.3. Karakteristik Perusahaan Pertambangan
Karakteristik Perusahaan Pertambangan Umum, terdapat empat kegiatan usaha
pokok, meliputi:
1) Eksplorasi (Exploration)
Usaha dalam rangka mencari, menemukan, dan mengevaluasi cadangan terbukti pada
suatu wilayah tambang dalam jangka waktu tertentu seperti yang diatur dalam peraturan
perundangan yang berlaku.
2) Pengembangan dan Konstruksi (Development and Construction)
Setiap kegiatan yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan cadangan terbukti
sampai siap diproduksi secara komersial. Konstruksi adalah pembangunan fasilitas dan
prasarana untuk melaksanakan dan mendukung kegiatan produksi.
3) Produksi (Production)
Semua kegiatan mulai dari pengangkatan bahan galian dari cadangan terbukti ke
permukaan bumi sampai siap untuk dipasarkan, dimanfaatkan, atau diolah Iebih lanjut.
4) Pengolahan
Dengan adanya kegiatan penambangan pada suatu daerah tertentu, maka akan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup di sekitar lokasi penambangan, seperti:
2.4. Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 (7) UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (“UU Minerba”), Izin Usaha Pertambangan (IUP) adalah izin
yang diberikan untuk melaksanakan usaha pertambangan. Merupakan kewenangan
Pemerintah, dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, untuk memberikan
IUP. Pasal 6 Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (“PP 23/2010”) mengatur bahwa IUP
diberikan oleh Menteri, gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.
IUP diberikan kepada:
(i) Badan usaha, yang dapat berupa badan usaha swasta, Badan Usaha Milik Negara,
atau Badan Usaha Milik Daerah;
(ii) Koperasi; dan
(iii) Perseorangan, yang dapat berupa orang perseorangan yang merupakan warga Negara
Indonesia, perusahaan firma, atau perusahaan komanditer.
Pemberian IUP akan dilakukan setelah diperolehnya WIUP (Wilayah Izin Usaha
Pertambangan). Dalam satu WIUP dimungkinkan untuk diberikan satu IUP maupun
beberapa IUP.
Pasal 36 UU Minerba membagi IUP ke dalam dua tahap, yakni:
(i) IUP eksplorasi, yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan; dan
(ii) IUP Operasi Produksi, yang meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan
dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
Dalam Pasal 40 UU Minerba diatur bahwa IUP diberikan terbatas pada 1 jenis
mineral atau batubara. Dalam hal pemegang IUP menemukan mineral lain dalam WIUP
mengusahakan mineral yang ditemukannya. Sebelum pemegang IUP tersebut
mengusahakan mineral lain yang ditemukannya, diatur bahwa pemegang IUP tersebut
wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada Menteri, gubernur, bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Dalam hal pemegang IUP tersebut tidak
berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukannya, maka pemegang IUP
tersebut memiliki kewajiban untuk menjaga mineral tersebut agar tidak dimanfaatkan
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Permasalahan
Berdasarkan Putusan No. 23 P/HUM/2009
Terdapat permohonan keberatan Hak Uji Materiil oleh Ir. H. Isran Noor, M.Si
(Bupati Kutai Timur) sebagai pihak penggugat kepada Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral sebagai pihak tergugat yang dimana permohonan keberatan tersebut
mengacu kepada Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 03.E/31/DJB/2009 tentang
Perizinan Pertambangan Mineral dan Batubara sebelum terbitnya peraturan
pemerintah sebagaimana pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009.
3.1.1. Alasan Permohonan Penggugat:
A. Materi muatan bagian peraturan perundangan di bawah
undang-undang yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangundang-undangan yang
lebih tinggi :
1. Materi muatan bagian Surat Edaran yang menyatakan : “Sehubungan dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (UU PMB 2009), LN RI Tahun 2009 Nomor 4 dan TLN RI
Nomor 4959, dalam penyelenggaraan urusan di bidang pertambangan mineral dan
batubara sebelum terbitnya peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan UU PMB 2009
dengan ketentuan :
A. Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia agar memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1. …. dst ;
2. Menghentikan sementara penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP)
baru sampai dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah sebagai
3. ………..dst ; B. ….. dst ;
2. Materi muatan bagian A butir 2 Surat Edaran tersebut bertentangan dengan :
A. Sepanjang menyangkut kewenangan Bupati yang diberikan oleh
Undang-Undang ketentuan Pasal 8 ayat (1) huruf b UU PMB 2009 yang tegas
menyatakan: “Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara, antara lain adalah :
a. …….. dst ;
b. Pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan
pengawasan usaha pertambangan di wilayah Kabupaten/Kota dan/atau
wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil ;
B. Sepanjang menyangkut peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan UU
PMB 2009, ketentuan Pasal 173 ayat (2) UU PMB 2009 yang secara tegas
menyatakan : “ Pada saat undang-undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 22,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2831) dinyatakan masih
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam
Undang-Undang ini ” ;
Karenanya Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Mineral,
Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI (“Dirjen MBPB”) (atas nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekalipun) tidak dapat
menghentikan (untuk sementara sekalipun) kewenangan Bupati untuk memberikan/
menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang merupakan kewenangan yang
Alasan/dasar penghentian sementara penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP),
yakni : “sampai dengan diterbitkannya peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan UU
PMB 2009”, juga bertentangan dengan (maksud dan tujuan) Ketentuan Penutup, Pasal 173 ayat (2) UU PMB 2009 karena memberi kesan bahwa : “sampai dengan
diterbitkannya peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan UU PMB 2009” ada kekosongan hukum (recht vacuum) padahal UU PMB 2009, seperti halnya semua undang-undang baru, tidak menghendaki adanya kekosongan hukum dan karenanya
memuat ketentuan, seperti ketentuan Pasal 173 ayat (2), yang secara tegas menyatakan
“semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari undang-undang yang digantikan (dalam hal UU PMB 2009, Undang-Undang Nomor 11
Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan) dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam undang-undang ini ” ; Selanjutnya dapat disampaikan bahwa materi muatan bagian A butir 2 Surat
Edaran tersebut telah menimbulkan stagnasi kegiatan usaha pertambangan di daerah dan
(karenanya) bertentangan dengan (maksud) ketentuan Pasal 3 huruf e UU PMB 2009
untuk mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan dengan meningkatkan
pendapatan masyarakat lokal, daerah dan negara, serta menciptakan lapangan kerja untuk
sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat ;
B. Bentuk dan pembentukan Surat Edaran tidak memenuhi ketentuan yang
berlaku :
3. Bentuk Surat Edaran tidak dikenal dalam sistem peraturan
perundang-undangan yang berlaku, i.e., Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundangan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004),
karenanya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku ;
Pasal 1 dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa :
“Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :
2. Peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh Lembaga
Negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum” ;
Sedangkan Pasal 7 ayat (1) dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
menyatakan bahwa: “Jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut :
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ;
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ;
c. Peraturan Pemerintah ;
d. Peraturan Presiden ;
e. Peraturan Daerah ;
4. Pembentukan Surat Edaran tidak pula memenuhi ketentuan yang berlaku ;
Pasal 7 ayat (4) dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa : “Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui
keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ” ;
Agar Surat Edaran diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum
mengikat maka (pembentukan) Surat Edaran harus diperintahkan oleh peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.
Ternyata tidak ada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (dari pada
Surat Edaran) yang memerintahkan pembentukan (ataupun pengeluaran/penerbitan) Surat
Edaran. Surat Edaran sendiri tidak memuat elemen pengingatan (unsur “Mengingat”) yang
merupakan dan sebagai landasan hukum pembentukan Surat Edaran tersebut ;
3.1.2. Permohonan Penggugat kepada Mahkamah Agung RI
Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Pemohon mohon kepada
Mahkamah Agung RI agar memberikan putusan permohonan keberatan Hak Uji
Materiil sebagai berikut :
b. Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009, tanggal 30
Januari 2009, tentang Perizinan Pertambangan Mineral dan Batubara Sebelum
Terbitnya Peraturan Pemerintah Sebagai Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2009, khususnya materi muatan bagian A butir 2 Surat Edaran tersebut,
tidak sah atas alasan :
(i) Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, i.e.,
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara (LN RI Tahun 2009 Nomor 4, TLN RI Nomor 4959), dan
(ii) Bentuk dan/atau pembentukannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku, i.e.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundangan (LN RI Tahun 2004 Nomor 53, TLN RI Nomor 4389) ;
c. Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009, tanggal 30
Januari 2009, tentang Perizinan Pertambangan Mineral dan Batubara Sebelum
Terbitnya Peraturan Pemerintah Sebagai Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2009, khususnya materi muatan bagian A butir 2 Surat Edaran tersebut,
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
3.2. Analisis Hukum
Objek permohonan keberatan hak uji materiil dalam kasus ini adalah Surat Edaran
Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009 tanggal 30 Januari 2009 tentang perizinan
pertambangan mineral dan batubara sebelum terbitnya peraturan pemerintah sebagai
pelaksana Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Mahkamah agung mempertimbangkan
terlebih dahulu tentang pemenuhan persyaratan formal permohonan keberatan a quo yang dimana terdapat kepentingan dan kedudukan hukum (legal standing) pada Pemohon untuk mengajukan permohonan serta apakah permohonan tersebut masih berada dalam
tenggat waktu yang ditentukan, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (4) dan Pasal 2
Dalam menimbang kepentingan dan kedudukan hukum (legal standing) pemohon dapat diuji dari hubungan hukum antara Pemohon dengan objek permohonannya. Dalam
hal ini Pemohon sebagai Bupati Kutai Timur yang wilayah/daerah pemerintahannya
mempunyai banyak lahan pertambangan mempunyai kepentingan untuk mengajukan
permohonan keberatan atas Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral, Batubara, dan Panas
Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009
tanggal 30 Januari 2009 yang materinya melarang Pemohon sebagai Bupati menerbitkan
Izin Usaha Pertambangan (IUP) sampai dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah
sebagai Pelaksana Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009.
Berkenaan dengan jabatannya sebagai bupati, Menteri ESDM tetap tidak dapatkan
menghentikan walaupun sementara kewenangan bupati yang berkenaan dengan
pemberian/penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Pertambangan Rakyat
(IPR) di wilayahnya. Berdasarkan hal tersebut pemohon mempunyai kepentingan
terhadap objek permohonan keberatan hak uji materiil sehingga secara yuridis pemohon
memiliki legal standing untuk mengajukan keberatan tersebut.
Selanjutnya, dalam ketentuan pasal 2 ayat (4) Peraturan Mahkamah Agung
Nomor 1 Tahun 2004 telah ditentukan bahwa permohonan keberatan diajukan dalam
tenggat waktu 180 hari sejak ditetapkannya peraturan perundang-perundangan yang
bersangkutan. Dalam hal ini peraturan perundangan yang dimaksud berlaku pada tanggal
30 Januari 2009, dan permohonan keberatan atas peraturan perundangan tersebut
diajukan dan diterima Kepaniteraan Mahkamah Agung RI pada tanggal 27 Juli 2009,
dengan demikian permohonan keberatan aquo tetap dapat diterima.
Kemudian, MA mempertimbangakan substansi materi dari permohonan keberatan
hak uji materiil tersebut. Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas
Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009
tanggal 30 Januari 2009 tentang perizinan pertambangan mineral dan batubara sebelum
terbitnya peraturan pemerintah sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi in casu. Walaupun peraturan perundangan tersebut tidak termasuk dalam urutan peraturan perundangan dalam pasal 7
yang sah, sehingga tunduk terhadap tata urutan dimana peraturan yang lebih rendah tidak
boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi (asas les perriori derogate lex superriori).
Selain itu, alasan pemohon tentang masih berlakunya ketentuan usaha
pertambangan yang diatur dalam PP Nomor 32 Tahun 1969 sebagai pelaksanaan UU No
11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan, MA berpendapat alasan
pemohon masuk akal dan dapat dibenarkan. Kemudian, muatan Surat Edaran in litis
bertentangan dengan peraturan PP No 32 Tahun 1969 karena kewenangan Bupati untuk
memberikan Izin Usaha Pertambangan/Kuasa Pertambangan tidak dapat dicabut dengan
Surat Edaran namun dapat dicabut/dilarang dengan Peraturan Pemerintah.
3.2.1. Keputusan Mahkamah Agung
Berdasarkan hal-hal yang sudah dipaparkan diatas, Mahkamah Agung mengadili
perkara ini dengan:
1) Mengabulkan permohonan Bupati Kutai Timur
2) Menyatakan Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009 tanggal
30 Januari 2009 tentang perizinan pertambangan mineral dan batubara sebelum
terbitnya peraturan pemerintah sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan lebih tinggi yaitu UU Nomor 4
Tahun 2009
3) Memerintahkan kepada Menteri ESDM untuk membatalkan dan mencabut Surat
Edaran Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral RI Nomor : 03.E/31/DJB/2009 tanggal 30 Januari 2009 tentang
perizinan pertambangan mineral dan batubara sebelum terbitnya peraturan pemerintah
sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
4) Memerintahkan Panitera MA untuk mencantumkan putusan ini dalam Berita Negara
dan dipublikasikan atas biaya negara, dan
5) Menetapkan biaya perkara yang dibebankan kepada Termohon sebesar Rp
BAB IV
PENUTUP
4.1.Kesimpulan
Izin Usaha Pertambangan (IUP) adalah izin yang diberikan untuk melaksanakan
usaha pertambangan, hal tersebut diatur dalam pasal 1 ayat (7) Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Izin Usaha Pertambangan
sangat dianggap penting baik bagi oknum pertambangan maupun bagi negara. Jika kita
lihat dari oknum pertambangan IUP dirasa penting bagi mereka agar proses kegiatan
pertambangan yang akan mereka lakukan di wilayah Indonesia dapat direalisasikan dan
berjalan lancar, sedangkan bagi negara, IUP diperlukan untuk memproteksi pemanfaatan
sumber daya alam yang berada di Indonesia.
Perlindungan terhadap sumber daya alam yang dimiliki Indonesia ini merujuk
pada Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia yang menyebutkan bahwa
bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Selain itu, dengan
adanya IUP, pemerintah dapat menyeleksi lahan wilayah mana saja yang dapat maupun
tidak dapat dijadikan sebagai lahan kegiatan pertambangan, karena apabila kita berbicara
tentang kegiatan pertambangan kita perlu memahami betul dampak negatif yang terjadi
kepada lingkungan dari aktivitas pertambangan tersebut.
Pemberian Izin Usaha Pertambangan yang diberikan oleh Menteri, Gubernur,
Bupati/Walikota yang bersangkutan kepada perusahaan pertambangan atau oknum
pertambangan lainnya baik yang berasal dari dalam atau luar negeri bagaikan pisau
bermata dua yang dimana dalam hal ini disatu sisi dapat menguntungkan negara, namun
disisi lain dapat merugikan negara. Dalam hal ini, Kewenangan yang dimiliki oleh
seorang Bupati dalam menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) tidak dapat dicabut
melalui Surat Edaran yang diberikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Alam akan
tetapi perlu terdapat suatu Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang pelarangan atau
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Putusan Mahkamah Agung Nomor 23 P/HUM/2009
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
http://www.hukumpertambangan.com/izin-usaha-pertambangan/