MATA KULIAH HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY
Alif Nurfakhri Muhammad 1306412312 Fadilla R. Putri 1306380595
Dwaskoro Syahbanu 1206265180
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM SARJANA
DAFTAR ISI
BAB 1 : PENDAHULUAN………...……….. 1-3
BAB 2 : ISI .………... 4-26
BAB 3 : PENUTUP……….. 27
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Biodiversity, atau keanekaragaman hayati, merupakan bagian integral dari lingkungan hidup dan manusia. Oleh karenanya, hal ini penting untuk dijaga kelestariannya.
Pada akhir abad ke 20 terjadi peningkatan eksploitasi keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, seperti penangkapan ikan yang berlebihan dan pemburuan binatang-binatang langka. Untuk itu, perlu dibuatnya aturan internasional, yang setidaknya mengatur prinsip-prinsip mengenai keanekaragaman hayati ini, khususnya pada bidang konservasinya. UNCBD, yang sudah dibahas oleh UNEP Biodiversity Expert Group sejak akhir tahun 80-an ini hadir untuk menjawab hal-hal tersebut. Pada makalah ini akan dijelaskan mengenai UNCBD itu, khususnya prinsip-prinsip lingkungan apa yang terkandung didalamnya.
Rumusan Masalah
Dari pembahasan singkat latar belakang maka saya membatasi materi dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan CBD?
2. Bagaimana terbentuknya CBD? 3. Misi dan Tujuan dari CBD?
4. Apa Saja Protokol yang dimiliki CBD? 5. Bagaimana mekanisme pelaksanaan CBD?
Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan
A. Tujuan Umum
B. Tujuan Khusus
Tujuan lebih spesifik dari penelitian ini adalah:
1. Guna mencari tahu tentang pengaturan dan penerapan UN CBD di berbagai belahan dunia.
2. Mencari tahu cara kerja dan atura yang ada dalam CBD dan protokolnya 3. Memenuhi komponen nilai Tugas Makalah.
Manfaat
Manfaat dari penelitian dan penulisan makalah ini lebih mengarah kepada manfaat teoritis. Beberapa manfaatnya antara lain:
1. Memperluas wawasan mengenai CBD.
2. Memperoleh pengetahuan terkait pengaturan konservasi keanekaragaman hayati.
3. Mendapatkan ilmu mengenai penerapan dan pelaksanaan Convention on Biological Diversity
4. Memperoleh nilai tugas makalah Hukum Lingkungan Internasional.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan penyusun makalah menggunakan metode pendekatan yuridis normatif1, yang dilakukan dengan mengkaji, menguji
dan menerapkan asas-asas hukum pada peraturan perundang-undangan yang berlaku ke dalam gejala yang terjadi2. Hal yang dikaji merupakan
peraturan-peraturan dan Penerapan terkait UN Convention on Biodiversity serta protocol-protokolnya.
1Soerdjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian hukum Normatif : Suatu Tinjauan
Singkat, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1994), 13.
Sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian dan penyusunan makalah berasal dari kepustakaan dan peraturan perundang-undangan. Maka tentunya Jenis data utama yang digunakan dalam penelitian merupakan data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini mencakup bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain adalah:
1. Bahan hukum primer yang mencakup ketentuan perundangan yang berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat.3 Dalam penelitian ini, bahan hukum
primer yang dipakai antara lain Teks Konvensi dan Protokol.
2. Bahan hukum sekunder yang memberikan penjelasan, informasi atau hal-hal yang berkaitan dengan isi sumber primer serta implementasinya,4 seperti
literatur, laporan hasil penelitian, artikel ilmiah, makalah, skripsi, tesis, disertasi dan sumber-sumber terpercaya di Internet.
3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberikan petunjuk maupun menjelaskan bahan hukum primer maupun sekunder.
3 Soekanto, Op.Cit., hlm. 12.
Bab 2 Isi
2.1History of the Convention on Biological Diversity
Adalah sebuah Konvensi yang diadakan pada tahun 1992 di Rio yang disebut United Nations Conference on Environment and Development (the Rio "Earth Summit").
Diadakannya konvensi ini yang dibuka untuk penandatanganan pada tanggal 5 Juni dipicu oleh adanya keperluan menggali lebih dalam mengenai kebutuhan akan sebuah konvensi internasional terkait keanekaragaman hayati.
Masyarakat dunia sudah mulai menyadari adanya keperluan membagi hak dan tanggungjawab antara negara maju dan berkembang mengenai kelangsungan keanekaragaman hayati. Prinsip sustainable development
sudah mulai marak digunakan.
Dibawah naungan UNEP (United Nations Environmental Programme), berikut adalah rentetan pemicu diadakannya CBD convention 1992;
First session of Ad Hoc Working Group of Experts on biological diversity November 1988: dimana diputuskan untuk adanya Rasiolanisasi dari konvensi internasional tentang konservasi. Kelompok kerja ini juga memandang perlunya Konservasi Keanekaragaman Hayati pada tingkat global.5
Second Session of the Ad Hoc Working Group of Experts on Biological
Diversity February 1990: masih dalam rangka persiapan, Kelompok kerja yang terdiri dari ahli-ahli memandang perlunya protocol-protocol terpisah dan diberitahukannya Komite Persiapan untuk Conference on Environment and Development tahun 1992 mengenai perlunya instrument perlindungan untuk Keanekaragaman Hayati ini.6
Third Session of the Ad Hoc Working Group of Experts on Biological
Diversity July 1990: terdapat 10 dokumen dalam pertemuan ini diantaranya
tentang kebutuhan dan biaya, kekayaan intelektual, hingga daftar peserta pertemuan tersebut
First Session of the Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts
on Biological Diversity 19-23 November 1990.
Second session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on
Biological Diversity February-March 1991, Nairobi
Third session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on
Biological Diversity June-July 1991
Third Negotiating Session / First Meeting of the Intergovernmental
Negotiating Committee for a Convention on Biological Diversity June-July 1991
Fourth Negotiating Session / Second Meeting of the Intergovernmental
Negotiating Committee for a Convention on Biological Diversity September 1991
Fifth Negotiating Session / Third Meeting of the Intergovernmental
Negotiating Committee for a Convention on Biological Diversity November 1991
Sixth Negotiating Session / Fourth Meeting of the Intergovernmental
Negotiating Committee for a Convention on Biological Diversity February 1992
Seventh Negotiating Session / Fifth Meeting of the Intergovernmental
Negotiating Committee for a Convention on Biological Diversity 11-19 May 1992
Conference for the Adoption of the Convention on Biological Diversity
20-21 May 19917
Intergovernmental Negotiating Committee tersebut yang merupakan Kelompok kerja Ad Hoc yang dibentuk pada Februari 1991 tadi setelah menempuh 7 sesi negosiasi berhasil memasukkan Text dari Konvensi CBD untuk diadopsi dalam konferensi di Nairobi. Setelah dibuka untuk penandatanganan hingga 4 Juni 1993, dimana Konvensi tersebut menerima
sejumlah 168 Negara yang menandatanganinya, Konvensi diberlakukan pada 29 December 1993.
Setelah Dilaksanakannya dan diberlakukannya konvensi, dilaksanakan COP (conference of parties) dalam rangka menjalankan amanat dari konvensi tersebut.
COP yang dilaksanakan yakni sebagai berikut:
COP 1 di Nassau, Bahama pada tanggal 28 November hingga 9 Desember. Pada COP ini diputuskan tentang Prosedur untuk COP selanjutnya, Sumberdaya finansial dan mekanisme, negara yang digolongkan maju dan berkembang, kerjasama teknis dan ilmiah antar para pihak, Subsidiary Body on Scientific, Technical and Technological Advice, lokasi secretariat program jangka menengah CBD, hingga persiapan partisipasi Konvensi pada sesi ketiga Commision on Sustainable Development.8
COP 2 di Jakarta, Indonesia pada November 1995 dimana para pihak menetapkan lebih detail mengenai Clearing-house mechanism9, publikasi
dan distribusi informasi ilmiah, hutan, konservasi lingkungan laut, akses terhadap sumberdaya genetic, dan sebagainya. Terdapat setidaknya 23 keputusan dalam COP 2.
COP 3 dilaksanakan pada 4 hingga 15 November 1996 di Buenos Aires, Argentina. COP 3 memutuskan hal-hal mengnenai isu yang perlu diselesaikan di COP 4, Rapat yang telah dilaksanakan oleh Subsidiary Body on Scientific, Technical and Technological Advances, penggunaan Bahasa dalam rapat-rapat badan subsider tersebut, pelaksanaan clearing house mechanism, dan kebanyakan terkait biodiversitas kehidupan di daratan. Selain itu dibahas mengenai guideline mekanisme finansial, hubungan konvensi dengan komisi pembangunan berkelanjutan, serta medium-term programme tahun 1996-1997.10
8 https://www.cbd.int/decisions/cop/?m=cop-01
9 sebuah mekanisme dalam rangka memfasilitasi kerjasama ilmiah dan teknis dalam CBD ( Article 18.3)
COP 4 yang diadakan pada 4-15 May 1998 di Bratislava, Slovakia, membahas isu-isu seperti implementasi lebih dalam CBD, agrikultur, biosafety, biodiversitas lingkungan hutan, implementasi pasal 8(j), serta salah satu poin penting dalam COP ini yakni pembahasan lebih lanjut terkait hubungan CBD dengan Commission on Sustainable Development and biodiversity related conventions, perjanjian internasional lain.
Pada 22 Februari 1999 diadakan suatu Extraodinary COP pertama dalam rangka membahas, melakukan ExCOP lanjutan pada 29 Januari 2000, serta mengadopsi suatu protocol baru dalam CBD yakni Protokol Cartagena terkait Biosafety yang dibahas dalam COP sebelumnya. Protokol ini bertujuan untuk mengatur mengenai perkembangan LMO (living modified organism) agar tercipta tingkat perlindungan yang memadai terkait pemindahan LMO, penggunaan dan penanganannya.11 Protocol ini Mulai
diberlakukan per 11 September Tahun 2003.
COP 5 diadakan 15-26 May Tahun 2000 di Nairobi, Kenya, menghasilkan sebanyak 29 keputusan diantaranya mengenai rencana kerja dari komite protocol Cartagena, Implementasi dari keputusan COP 4/5 tentang keanekaragaman hayati laut dan pesisir, dan sebagainya.
COP 6 diadakan pada tanggal 7-19 April 2002 di Den Haag, Belanda. Pada Conference ini, diantara 32 Decision, beberapa keputusan penting yang dibuat antara lain Ekosistem hutan, Spesies asing, Bagi hasil, dan Strategic Plan 2002-2010.
COP 7 yang bertemakan Ekosistem pegunungan, daerah terlindungi, dan
Transfer of Technology and Technology Cooperation, diadakan diKuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 9-20 Februari 2004. Sebanyak 36 Keputusan dihasilkan diantaranya Millenium Development Goals, pembahasan Article 13 tentang Public awareness, dan Forest Biological Diversity.
COP 8 dilaksanakan di Curitiba, Brasil dari 20-31 Maret 2006. Conference ini menghasilakn sebanyak 34 Keputusan dan membahas mengenai
Keanekaragaman Hayati Kepulauan, Global Taxonomy Initiative, pasal 15 CBD tentang akses dan bagi hasil dan manfaat ( benefit-sharing)
COP 9 mengedepankan mengenai isu seperti Strategi Global Koservasi tumbuhan, Keanekaragaman Agrikultur dan Hutan, langkah-langkah insentif, dan progress dalam implementasi Progress in the implementation of the Strategic Plan and progress towards the 2010 target dan Millennium Development Goals yang relevan. Conference diadakan pada tanggal 19-30 May tahun 2008 di Bonn, Jerman.
Pada COP 10 di Nagoya, Jepang 18-29 Oktober 2010, dibuat sebanyak 47 keputusan dimana beberapa yang penting yakni diadopsinya Protokol Nagoya, diberlakukan per Oktober 2014 setelah diratifikasi 50 negara, yang membahas mengenai pembagian yang adil dan merata dari keuntungan yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya genetik sehingga berkontribusi untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati.12
COP 11 Hyderabad, India 8 - 19 October 2012 mengeluarkan keputusan sebanyak 33 dan memiliki agenda rencana strategis Biodiversity 2011-2020 dan target dari Nagoya terkait penilaian progress dan perbaikan implementasi. Agenda lain dalam pertemuan ini yakni tentang keanekaragaman hayati laut dan pesisir, Biofuel,
COP 12 Pyeongchang, Republic of Korea 6 - 17 October 2014 diadakan
dengan agenda melakukan penilaian terhadap pelaksanaan protocol Nagoya, dan agenda yang serupa dengan COP 11.
Kemudian terakhir sebagaimana diperjanjian pada COP 12 akan diadakan COP 13 yang bertempat di Cancun Mexico.
2.2Parties Participating in the Convention
Dalam Convention on Biological Diversity ini dan protocol yang ikut serta didalamnya terdapat setidaknya 168 negara yang melakukan penandatanganan atas Konvensi tersebut. Hingga sekarang Pihak yang berpartisipasi dalam konvensi sudah sejumlah 196 pihak dari yang sudah melakukan ratifikasi, Penerimaan (acceptance), sekedar approval, Succession, Accession, hingga yang sejauh ini sekedar menandatangani. Namun disini kita melihat Amerika Serikat yang telah ikut dalam penyusunan adanya CBD sejak tahun 1988 hanya sekedar menandatangani pada tahun 1993 namun sama sekali tidak melakukan upaya apapun dalam implementasi CBD di negaranya. Oleh sebab itu Amerika Serikat bukanlah salah satu dari 196 pihak dalam daftar anggota CBD.
2.3Prinsip Lingkungan dalam Konvensi
The Convention on Biological Diversity 1992 sangat mengedepankan prinsip payung yakni Sustainable Development. Dalam teks CBD yang terdiri atas 42 Pasal serta 2 buah Annex, dapat dilihat prinsip-prinsip yang menjadi dasar dalam konvensi.
Contoh pertama terdapat pada Article 1 dari Convention yang berbunyi:
The objectives of this Convention, to be pursued in accordance with its relevant provisions, are the conservation of biological diversity, the sustainable use of its components and the fair and equitable sharing of the benefits arising out of the utilization of genetic resources, including by appropriate access to genetic resources and by appropriate transfer of relevant technologies, taking into account all rights over those resources and to technologies, and by appropriate funding.
Kemudian bisa dilihat pada article 3 terdapat prinsip State Responsibility serta Precautionary Principle. Article tersebut menyatakan bahwa negara memang memiliki kebebasar dalam melakukan eksploitasi terhadap SDA yang mereka milik sesuai ketentuan dan pengaturan lingkungan masing-masing Negara. Namun disini tentu setiap negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwasanya aktivitas mereka tidak menyebabkan kerusakan lingkungan terhadap wilayah Negara lain dan wilayah diluar batas kedaulatannya. Disini negara harus berhati-hati agar tidak terjadi kerusakan dan pencemaran dalam melakukan eksploitasi SDA, serta Negara harus bertanggung jawab atas kerusakan apabila terjadi akibat aktivitasnya. Prinsip Sustainable Development ini tentu dilaksanakn dengan harapan dapat dipenuhinya asas Intergenerational dan Intragenerational equity. Article 10 CBD menyatakan dalam 5 poin bahwa harus meminimalisir dampak penggunaan SD biologis terhadap keanekaragaman hayati, dan mendukung konservasi serta melakukan remedi atas degradasi lingkungan dan keanekaragaman hayati. Pasal ini apabila diimplementasikan maka memenuhi prinsip keadilan dalam generasi serta antar generasi. Generasi masa kini baik semua kalangan dapat memeperoleh manfaat dan generasi yang akan dating tidak akan kehilangan apa yang generasi ini telah nikmati.
2.4Dasar Pembentukan Convention on Biological Diversity 1. Landmark Cases
Secara garis besar, tidak ada kasus yang secara khusus membahas biodiversitas dan menjadi dasar pembentukan dari CBD. Namun, dalam perkembangan-perkembangan putusan pada International Court of Justice, ada beberapa putusan yang berkaitan dengan konservasi biodiversitas, seperti yang diamanatkan dalam Convention on Biological Diversity, yaitu:
a. Icelandic Fisheries Case (United Kingdom v Iceland)13
Pada kasus ini, Inggris menggugat Eslandia karena pada tahun 1948, Eslandia membuat suatu peraturan yang disahkan oleh parlemennya (Althing) yang mengatur Scientific Conservation of the Continental Shelf
Fisheries. Untuk melaksanakan peraturan tersebut, pada tahun 1958, Eslandia membuat peraturan yang mengatur bahwa Eslandia memiliki Jurisdiksi untuk mengatur penangkapan ikan hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Pada tahun 1961 sudah ada persetujuan antara Eslandia dengan Inggris yang menyatakan bahwa Inggris setuju dengan zona penangkapan ikan di 12 mil laut ini. Namun, pada tahun 1971, Eslandia mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa perjanjian dengan Inggris akan diselesaikan dan batas jurisdiksi zona penangkapan ikan Eslandia digeser ke 50 mil laut, yang menyebabkan pada 1972, seluruh kegiatan perikanan dengan kapal asing dalam zona tersebut dilarang. Maksud dari Eslandia tersebut adalah untuk membatasi jumlah ikan yang ditangkap di zona tersebut. Inggris yang telah dibatalkan perjanjiannya tidak menemukan solusi melalui jalur negosiasi sehingga membawa kasus ini ke ICJ.
2.5Alasan Pembentukan CBD
Convention on Biological Diversity atau Konvensi Biodiversitas merupakan suatu konvensi yang dibentuk sebagai bentuk perlindungan hukum untuk biodiversitas (kekayaan hayati dan hewani). Konvensi ini merupakan salah satu dari sekian banyak konvensi yang tergabung dalam UNEP (United Nations Environmental Program). Tujuan dari dibentuknya konvensi ini adalah konservasi biodiversitas, penggunaan berkelanjutannya, dan pembagian yang adil dari manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari
Tujuan dari CBD lebih luas daripada apa yang diatur dalam CITES. Pada pasal 6-20 dari CBD ini dijabarkan lebih lanjut mengenai tujuan-tujuan
yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ukuran konservasi yang dilakukan, penggunaan berkelanjutan dari suatu spesies, baik in situ maupun ex situ, insentif konservasi, dan pembangunan berkelanjutan tersebut, riset dan pelatihan, Penyadaran dan edukasi publik, Konvensi yang mulai dibicarakan sejak tahun 1988 ini memiliki hal-hal yang membuatnya menjadi suatu konvensi yang terbilang efektif, yaitu:15
1) Lingkupnya komprehensif, karena mencakup seluruh elemen biodiversitas, serta harmonisasi konservasi dan penggunaan spesies secara berkelanjutan. 2) Harmonisasi kedaulatan nasional dengan konservasi dan penggunaan
berkelanjutan dari spesies
3) Membangun apa yang disebut “anticipatory approach”
4) Keseimbangan antara konservasi in situ dan ex situ
5) Kewajiban dan komitmen yang mengikat bagi negara pihak.
6) Membuat peraturan-peraturan yang mendetail yang dapat diberlakukan dengan hukum internasional
7) Keseimbangan antara kepentingan negara maju dan negara berkembang.
2.6Perbandingan dengan Konvensi – Konvensi Lingkungan Terkait
Bila dibandingkan dengan konvensi-konvensi lingkungan terkait, maka dapat dilihat secara jelas bahwa Convention on Biological Diversity ini dibuat dengan tujuan konservasi biodiversitas, penggunaan berkelanjutan komponen-komponennya, dan pembagian yag adil dan proporsional manfaat-manfaat yang didapatkan dari sumber daya genetik.16 Konvensi ini
juga memuat hal-hal yang bersifat prinsip dalam konservasi biodiversitas, seperti Sustainable use of components of biological diversity17, Public education and awareness18, Fair and Equitable share of benefits19, dan Responsibility for Transboundary Harm20. Hal -hal yang bersifat prinsip dan 15 Simone Bilderbeek, et. Al., Biodiversity and International Law: The efectiveness of International Environmental Law,
(Amsterdam: IOS Press, 1992), hal. 7.
umum inilah yang merupakan pembeda Convention on Biological Diversity
dari konvensi-konvensi hukum lingkungan internasional dengan topik konservasi lainnnya seperti CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) yang terfokus kepada penghapusan perdagangan spesies-spesies terancam punah, maupun CCMS (Convention on Conservation of Migratory Species) yang mengatur perlindungan dan konservasi terhadap spesies yang bermigrasi.
2.7Tindakan Kriminal terkait Biological Diversity
Lothar Guendig dan Pat Birnie mengemukakan bahwa hukum dasar yang bersifat substansial yang membahas kejahatan lingkungan internasional masih lemah, karena “kejahatan” saat ini masih dianggap sebagai pelanggaran berat hukum internasional.21 Hingga saat ini perjanjian
internasional belum memasukkan apa yang dianggap kejahatan secara jelas dalam hukum lingkungan internasional.22 Namun, beberapa ahli dalam
hukum lingkungan menyetujui beberapa kejahatan yang dianggap kejahatan terhadap lingkungan, yaitu:23
1) Penghancuran ekosistem yang disebabkan karena perang. Contohnya seperti yang terjadi dalam Perang Teluk Persia.
2) Genosida lingkungan
3) Hubungan dan praktik perdagangan yang menyebabkan hilangnya biodiversitas suatu daerah seperti di daerah perairan dan hutan, termasuk pembayaran secara paksa oleh negara pemberi hutang yang menyebabkan suatu negara tidak bisa melakukan konservasi biodiversitas.
4) Penghancuran biodiversitas secara massal 5) Perdagangan spesies yang terancam punah.
2.8Ratifikasi dan penarikan diri dari perjanjian Convention on Biological Diversity
21 Bilderbeek, Op. Cit., hal. 93 22 Ibid.
Pada hakikatnya berdasarkan pasal 33 – 38 konvensi24 mengenai
keanekaragaman hayati dijelaskan bagaimana suatu negara dapat menjadi pihak dari konvensi ini. pertama diatur dalam pasal 33 yaitu bagaimana sebuah negara menandatangani sebuah perjanjian internasional, yaitu konvensi ini dapat ditandatangani oleh seluruh negara dan organisasi regional dari tanggal 5 Juni 1992 sampai 14 Juni 1992 dan di pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 15 Juni 1992 sampai 4 Juni 1993. Selanjutnya diatur dalam pasal 34 mengenai ratifikasi, atau penerimaan atau persetujuan, yaitu ketika konvensi dan protokol merupakan subjek dari ratifikasi, penerimaan atau persetujuan. Setelah itu dalam pasal 35 diatur mengenai Konvensi Keanekaragaman Hayati dapat dilakukan aksesi oleh negara atau organisasi internasional. Dalam pasal 36 mengatur mengenai bagaimana konvensi ini diterapkan ke dalam suatu negara 90 hari setelah diterimanya surat penerimaan dari negara sebagai national measure. Dalam pasal 37 menyatakan bahwa tidak boleh sama sekali dibuat suatu reservasi dari perjanjian ini. Dalam pasal 38 menyatakan bahwa negara boleh menarik diri setelah menjadi pihak minimal dua tahun dari perjanjian ini.
2.9Ratifikasi dari Convention on Biological Diversity di Indonesia
Indonesia telah meratifikasi dari Convention on Biological Diversity
(konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragamaan Hayati) yang diatur dalam Undang-Undang no. 5 Tahun 1994. Alasan mengapa Indonesia telah meratifikasi perjanjian internasional ini karena beberapa hal yaitu25:
a. Keanekaragamaan hayati di dunia, khususnya di Indonesia, sangat berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer;
b. Keanekaragaman hayati yang dimaksud meliputi ekosistem, jenis dan genetik yang mencakup hewan, tumbuhan dan jasad renik (micro organism)
24 Convention on Biological Diversity. (Rio de Janeiro: United Nations, 1992) 25 Undang-Undang no. 5 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konvensi
perlu adanya suatu jaminan agar dijamin keberadannya dan keberlanjutan bagi kehidupan;
c. Adanya suatu keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keeimbangan sistem kehidupan di bumi, yang pada gilirannya akan menggangu berlangsungnya kehidupan manusia; d. Adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana
tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan mempehatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara kepulauan kecil sebagaimana diatur dalam UN Convention on Biological Diversity yang merupakan suatu peluang yang harus ditanggapi positif oleh Pemerintah Indonesia;
e. Demi melestarikan keanekaragaman hayati, wajib memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan mendatang26.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungna hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan, agar menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. Pembangunan lingkungan hidup pun bertujuan untuk meningkatkan mutu, memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, merehabilitasi kerusakan lingkungan, mengendalikan pencemaran dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembagkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah, pemberian rangsangan, penegakan
26 Convention on Biological Diversity National Report- Indonesia.Government of
hukum dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarkat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah, jenis spesia dan ekosistem. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa, terutama bagi pengembangan pertanian, industri dan kesehatan terus ditingkatkan. Inventarisasi, pemantauan dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya.
Sehingga sangat penting kerja sama untuk dibangun baik secara regional maupun secara internasional terkait dengan pemeiliharaan dan perlindungan lingkungan hidup dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. Peranan Indonesia di dunia internaional dalam membina dan mempererat persahabatana dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan, memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi terus ditingkatkan. Adanya berbagai langkah antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang, kemudian dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dengan dunia baru.
Pihak-pihak yang terlibat dari segi publik dan privat masih dianggap sedikit. Ini disebabkan rendahnya kesadaran, pemahaman dan dukungan dalam menjelaskan bahwa pentingnya keaneakaragaman hayati untuk kesejahteraan masyarakat dan kemanan dari negara. Oleh sebab itu, aktor utama dan pemain inti dari ini adalah organisasi pemerintah dan beberapa organisasi non pemerintah. Pihak-pihak ini yang merupakan pemain inti yang telah di identifikasi telah berpartisipasi mengenai pengaturan keanekaragaman hayati yaitu27:
a. Kementerian Kehutanan (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Direktorat Jenderal Penggunaan Hutan dan Badan Riset dan Pengembangan di Kehutanan)
b. Kementerian Pertanian
c. Kementerian Lingkungan Hidup d. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia e. Universitas
Memang ini merupakan pemain utama dalam melaksanakan fungsi untuk melindungi lingkungan hidup khususnya keanekaragaman hayati. Namun tidak menutup kemungkinan juga bagi para organisasi non pemerintah yang memiliki perhatian khusus terhadap lingkungan seperti WALHI, WWF, International Tropical Timber Council, Asosiasi Panel Kayu Indonesia, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, Centre for International Forestry Research dan lain-lain.
2.11 Implementation of the Convention in Switzerland
Switzerland menjadi salah satu pihak yang melaksanakan CBD dengan baik yang dibuktikan melalui laporan periodis yang di susun Negara tersebut. Negara Switzerland mengikuti 4 dari 7 program yang dikeluarkan CBD
yakni perlindungan terhadap ekosistem hutan, pegununga, water and wetlands, serta ekosistem agrikultur. Pada Laporan Switzerland yang ke-empat, dari 11 goals yang di keluarkan CBD pada tahun 2002 untuk tahun 2010, 5 diantaranya terlaksana secara sebagian dan sisanya tidak terlaksana. Adapun goal tersebut yakni:
1. Promote the conservation of the biological diversity ecosystems, habitats and biomes
2. Promote the conservation of species diversity
3. Promote the conservation of genetic diversity
4. Promote sustainable use and consumption
5. Reduce pressures fromhabitat loss, land-use change, degradation and unsustainable water use
6. Control threats from invasive alien species
7. Address challenges to biodiversity from climate change and pollution
8. Maintain capacity of ecosystems to deliver goods and services and support livelihoods
9. Maintain socio-cultural diversity of indigenous and local communities
10. Ensure the fair and equitable sharing of benefts arising out of the use of genetic resources
11. Improve fnancial, human, scientifc, technical and technological capacity to implement the Convention
agar proses pembangunan memperhatikan prinsip sustainability serta mendukung masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan konvensi ini. Dalam Hal benefit-sharing, Swiss juga sudah mengimplementasikan treaty multilateral tentang Tumbuhan dan sumberdaya genetik untuk pangan dan agrikultur terkait hal ini. Hukum Swiss pun mengharuskan adanya pengungkapan informasi atas sumber dari SDA genetic dan pengetahuan tradisional.28
Namun memang sangat disayangkan 6 target menjadi target yang tidak terpenuhi diantaranya karena daerahnya terlalu kecil dan terisolir untuk dilakukannya tindakan perlindungan keanekaragaman hayati, adanya populasi hewan yang terancam, dan pembangunan serta pertumbuhan yang mengakibatkan meningkatnya konsumsi dan perluasan peradaban manusia.
2.12 Kasus di Indonesia terkait dengan pengimplementasian Konvensi Keanekaragamaan Hayati
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya yang sangat beragam. Indonesia memiliki salah satu kawasan hutan yang paling besar dan paling beragam di dunia29. Indonesia memiliki aset
hayati yang sangat kaya, yang berjumlah 15% dari seluruh spesies di dunia yang terdiri atas darat dan laut dan lingkungan agrikultur.Setidaknya terdiri dari 10% hutan berada di wilayah Indonesia yang mencerminkan betapa kayanya Indonesia akan sumber daya alam30. Selain itu juga dengan adanya
2/3 dari wilayah Indonesia merupakan perairan, tidak sedikit karang laut maupun spesies-spesies binatang laut yang memilih perairan Indonesia untuk menetap di wilayah tersebut. Dengan semua lokasi strategis tersebut, Indonesia seharusnya menjadi negara yang makmur dan sangat menjaga
28 Switzerland, Implementing the Biodiversity Convention, page 6-7
29 Mia Siscawati dan Ulfa Hidayati. Status of Impelemntation of Forest-Related Clauses in the CBD- Indonesia. (Glocestershire: Indonesian Institute for Forest and Environment, 2002) hlm. 4.
keberlanjutan dari sumber daya alam ini. Fungsi dari hutan-hutan tersebut juga beragam untuk masyarakat Indonesia yaitu pertama terkait dengan persediaan makanan dimana pada umumnya semua bahan makanan diambil dari sumber daya alam hayati yang berdasarkan dari keanekaragaman hayati. Bahan-bahan makanan ini telah dijadikan bagian dari pertanian, namun ada beberapa bahan makanan yang langsung diambil dari hutan. Selanjutnya tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menggunakan bambu, kayu dan dedaunan sebagai bahan untuk membangun rumahnya. Dengan berbagai macam sumber daya alam yang ada, semakin banyak juga opsi untuk seseorang membuat rumahnya dari bahan-bahan alami tersebut. Ketiga adalah terkait dengan kesehatan dimana orang Indonesia agar tetap menjaga kesehatan atau menyembuhkan suatu penyakit menggunakan obat-obatan herbal yang ditemukan di daerah sekitar ia menetap. Sehingga dengan alasan-alasan ini sangat penting untuk negara dapat menjaga keanekaragaman hayati. Jadi dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keanekaragaman hayati sangat penting bagi masyarakat Indonesia karena tidak bisa lepas dari bahan-bahan tersebut untuk melanjutkan hidupnya dan pendapatan ekonomi berdasarkan keanekaragaman hayati yang dimiliki31 .
Aset-aset yang dimiliki oleh Indonesia tidak digunakan potensi tersebut secara maksimal karena adanya keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi untuk dapat menggunakan aset tersebut. Level dari sumber daya manusia dapat dianggap rendah, oleh sebab itu secara teknis dan kapabilitas teknologi sangat terbatas dalam melakukan eksplorasi, pemberdayagunaan sumber daya alam hayati. Pemerintah memang secara nyata sangat beruasaha untuk meningkatkan kesadaran bahwa negara Indonesia sangat kaya dan berusaha untuk mengedukasi rakyatnya dan kesadaran dan secara pelan-pelan berusaha untuk membangun institusi yang dapat mengontrol keanekaragaman hayati dan pentingnya pengaturan yang baik demi keberlangsungan suatu bangsa. Saat ini dengan kondisi ekonomi, Indonesia menghadapi kesulitan dengan membiayai program-program dan aktivitas untuk perkembangan. Meskipun adanya kekurangan sumber daya,
program untuk mengatur keanekaragaman hayati ini telah berlangsung. Secara sektor, program ini berjalan dengan provisi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati. Ini dapat dilakukan karena Garis-garis Besar Haluan Negara telah menyesuakan dengan pasal dalam konvensi ini.
Namun sangat disayangkan bahwa keberlanjutan dari sumber daya alam ini sama sekali tidak diperhatikan baik dari pemerintah Indonesia maupun dari rakyatnya sendiri. Mengapa dapat dikatakan demikian? Karena tidak sedikit masalah-masalah lingkungan yang terus mengandrungi negara ini, dimana akan dijelaskan lebih lanjut kasus-kasus yang dialami di Indonesia terkait dengan lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Pertama adalah kasus karang laut yang mengalami pemutihan di perairan laut Jawa, Ambon dan Maluku32. Ini disebabkan karena sering kali
nelayan dalam menjaring ikan menggunakan bom air agar ikan dengan mudah diambil oleh nelayan tanpa harus bersusah payah menunggu. Sehingga karang laut maupun spesies-spesies ikan cepat mati karena menggunakan cara yang tidak baik untuk menangkap ikan. Selain itu juga dengan adanya pengambilan ikan-ikan eksotik yang dijual dengan mahal tanpa mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemerintah. Ini jelas sangat merugikan keanekaragaman hayati di laut karena kemungkinan suatu spesies akan punah sangatlah besar karena tidak diberi kesempatan untuk berkembang biak.
Kedua masih terkait dengan laut dan keanekaragaman hayati di laut adalah dengan matinya karang laut dan ikan-ikan karena tingginya pollutan di laut33. Disebabkan karena pembuangan limbah padat maupun limbah cair
ke laut. Sehingga jelas dengan adanya benda-benda asing maupun cairan asing yang masuk ke dalam laut akan sangat merugikan keberlangsungan hidup dari ikan-ikan maupun karang laut yang berada di wilayah periaran Indonesia.
32 Evan N. Edinger, Jamaluddin Jompa, et. al. Reef Degradation and Coral Biodiversity in Indonesia: Effeects of Land-based Pollution, Destructive Fishing Practices and Changes Over Time. (Inggris :Marine Pollution Bulletin vol. 36 no. 8, 1998).hlm. 2.
Ketiga adalah terkait dengan penebangan hutan secara liar dan tidak bersifat berkelanjutan34. Pembabakan liar yang menyebabkan hilangnya
hutan secara keseluruhan sehingga hutan lebih cenderung untuk mudah terbakar dibandingkan dengan tidak mudah terbakar.Penebangan hutan tersebut bertujuan agar perkembangan ekonomi dapat mengakselerasi dengan cepat dan mengeluarkan Indonesia dari kemisikinan35. Namun pada
kenyataannya, tetap hanya segelintir masyarakat yang mampu yang dapat merasakan kemewahan hidup hasl dari penebangan hutan tersebut. Sehingga penebangan hutan secara liar sangat merugikan Indonesia, baik dari segi keanekaragaman hayati karena tidak mencerminkan pembangunan keberlanjutan dan juga tidak sedikit warga negara Indonesia yang sangat berketergantungan hidup dengan lingkungannya.
Ini dapat dijelaskan dengan kasus bahwa deforestasi telah berlangsung selama tahun 1985-199836 sebessar 1.7 juta hektar per tahun,
bahkan mungkin bisa lebih dari itu. Selanjutnya adanya estimasi bahwa per tahun penebangan hutan terjadi sebesar 1.3 juta hektar antara 1990-2000. Dengan menumpuknya bukti yang menyarankan bahwa area hutan telah berkurang tidak hanya secara kuantitas namun juga kualitas yang disebabkan oleh berbagai alasan yaitu illegal dan penebangan berlebihan, pembakaran hutan, mengubah fungsi hutan menjadi agrikultur dan penebangan hutan bukan untuk tujuan kehutanan. Masalahnya adalah bukan hanya karena deforestasi namun karena kekurangan kontrol dalam penggunaan lahan dan tidak sesuainya penggunaan lahan tersebut sesuai dengan kapabilitas dan konsep dari lingkungan, sosial dan ekonomi. Selain dengan kurangnya kontrol, lemah pula penegakkan hukum lingkungan dan kehutanan dan tidak serius dalam mengatur produksi kayu sehingga mendorong untuk adanya pemotongan pohon secara illegal dan lain-lainnya yang bersifat melawan hukum37.
34http://www.fauna-flora.org/explore/indonesia/ diakses pada tanggal 22 April 2016 35 Siscawati.Op. Cit. hlm. 4.
36 BAPPENAS. Annex I: Causes,Extent, Impact and Costs of 1997/1998 Fires and Drought. Final Report.( Jakarta: Asian Development Bank, 1999)hlm. 18.
Sejak awal tahun 1980, kebakaran hutan menjadi suatu masalah yang sangat dikhawatirkan dimana api tersebut telah melahap hutan Indonesia dalam kuantitas yang besar. Dalam kasus tahun 1997-1998, telah dilakukan estimasi bahwa 9.7 hektar hutan telah habis di makan api. Akar dari masalah yang sedang dihadapi adalah adanya sektor kehutanan yang tidak diatur dalam kebijakan dengan baik, rencana dan strategi implementasi termasuk mekanisme insentif, monitor dan evaluasi dan penegakan hukum dan peraturan.
Kerangka hukum untuk konservasi keanekaragaman hayati yang terdiri atas kebijakan dan hukum. Indonesia memiliki sejarah panjang yang luar biasa terkait dengan pernyataan ofisial mengenai kebijakan konservasi keanekaragaman hayati sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Dua faktor yang menyulitkan implementasi efektif dalam kebijakan ini adalah38: a) kebijakan yang tidak konsisten dengan konservasi
keanekaragaman hayati atau membuat suatu aktivitas yang mengurangi kebermanfaatan daerah yang dilindungi dan keanekaragaman hayati tidak dijaga dengan baik karena eksploitasi hutan masih terus terjadi dan b) agen yang seharusnya bertanggungjawab dalam mengimplementasikan kebijakan konservasi tidak didukung dengan dana yang cukup dan diberikan suatu ekspektasi untuk mencari dana dari donor agar dapat mendukung pekerjaan mereka.
Sebelum adanya ratifikasi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan telah bekerja sama dengan institusi-institusi lainnya seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan institusi-institusi riset lainnya terkait dengan studi kasus mengenai keanekaragaman hayati. Setelah di ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati menjadi Undang-Undang no. 5 Tahun 1994, Indonesia membentuk suatu strategi nasional yang disebut dengan “Strategi Nasional Pengelolaan Keanekaragaman Hayati” dan BAPPENAS telah mengeluarkan rencana yang disebut dengan Rencana
Council,2001).hlm. 21.
Kegiatan Keanekaragaman Hayati untuk Indonesia39. Sehingga Kementerian
Lingkungan telah secara aktif bekerja dalam mengatur lindkungan dan dalam kasus tertentu untuk mengimplementasikan provisi-provisi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati, khususnya pasal 6 yang mengenai koordinasi studi kasus sebuah negara, menghasilkan suatu draf terkait strategi nasional dan integrasi program sektoral dan kebijakan lingkungan. Oleh sebab itu, kementerian telah berusaha untuk mempersiapkan laporan hasil rencana kegiatan.
Sejak dahulu apabila terkait dengan hukum dan konservasi keanekaragaman hayati akan banyak berhubungan dengan hukum adat yang merupakan hukum kebiasaan dari kepemilikan tanah dan sumber daya. Namun dalam Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa negara memiliki seluruh negara berdasarkan pasal 33 ayat (3), meskipun ini dapat membantu mengatur kepemilikan demi komunitas, ini sebenarnya lebih membantu kepada orang-orang yang memiliki uang untuk mendapatkan kepemilikan tanah. Pemerintah Indonesia pun telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan perlindungan keanekaragaman hayati yaitu Undang-Undang no. 5 Tahun 1967 mengenai Pengaturan Kehutanan, Undang- Undang no. 9 Tahun 1985 mengenai Perikanan, Undang-Undang no. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Pengaturan Lingkungan Hidup dan Ekosistem, Undang- Undang no. 12 Tahun 1992 mengenai Tanaman. Apabila keanekaragaman hayati terancam punah, ini akan sangat mempengaruhi cadangan makanan dan pertumbuhan berkelanjutan ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, cara dan mekanisme dalam melindungi dan berkelanjutan untuk keanekaragaman hayati nasional sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah40.
Pengaturan mengenai keanekaragaman hayati harus diarahkan untuk mengontrol penggunaan keanekaragaman hayati demi generasi saat ini dan generasi yang akan datang; konservasi mengenai potensi dari keanekaragaman hayati wajib dilakukan setiap saat dan adanya perkembangan sains untuk penggunaan berkelanjutan. Sehingga agar
kasus mengenai pengeksploitasian sumber daya alam tidak berlangsung secara terus menerus, harus berdasarkan sains dan teknologi yang menyatakan suatu keanekaragaman hayati dapat di eksploitasi, konservasi dan digunakan secara berkelanjutan.
Tujuan dari perlindungan lingkungan adalah agar dapat dilaksanakannya dinikmati oleh seluruh generasi yang saat ini dan generasi mendatang. Sehingga untuk mengimplementasikan hal tersebut, hutan-hutan yang merupakan area utama dimana keanekaragaman hayati banyak ditemukan. Adanya kerjasama dengan komunitas dalam mengontrol keanekaragaman hayati harus dilakukan beberapa hal yaitu41: lebih
efektifnya pengaturan area yang dilindungi, perlakuan yang sama untuk keanekaragaman hayati yang dapat ditemui di dalam dan di luar kawasan lindung. Mempromosikan konservasi ex-situ. Meningkatkan pemahaman dan promosi mengenai pengetahuan tradisional dalam melakukan konservasi dan penggunaan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Membentuk mekanisme yang berguna dengan adanya penggunaan keanekaragaman hayati dan membentuk perhitungan insentif untuk seluruh kegiatan konservasi keanekaragaman hayati.
2.13 Pelaksanaan dan Mekanisme Sanksi atas Pelanggaran CBD
Sebagaimana dilaksanakannya suatu International Convention, maka negara-negara yang berpartisipasi didalamnya diharuskan meratifikasi CBD ini kedalam peraturan perundang-undangan mereka agar dapat terimplementasi dengan baik.
Dalam Convention ini sendiri terdapar 2 Protokol yang memiliki pengaturan mengenai Compliance yakni Protokol Nagoya dan Protokol Cartaghena. Prosedur seperti ini berguna dalam rangka memfasilitasi pihak-pihak yang berpartisipasi dalam mengimplementasikan kewajiban mereka.42Dalam
protocol Nagoya, mekanisme mengenai compliance diatur dalam article 30 dari protocol tersebut dimana yang menentukan bentuk dari prosedur
41Ibid. hlm. 14.
kerjasama, mekanisme institsusional dalam rangka memastikan kepatuhan terhadap protocol ini adalah COP. Protokol Cartaghena pun memiliki ketentuan yang sama dalam article 34, dimana sama seperti article 30 protokol Nagoya, ketentuan itu mengharuskan adanya prosedur penyelesaian sengketa sebagaimana tertera dalam Article 27 CBD.
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan dan Saran
Indonesia harus melakukan implementasi lebih terhadap CBD mengingat Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat luas, dari lautan hingga hutan. Masih banyak terjadi kebobolan dan penyelewengan akibat minimnya peraturan dan apparat penegak.
Daftar Pustaka
A. Peraturan Perundang-undangan
Indonesia. Undang-Undang Ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati, UU no. 5 Tahun 1994.
Indonesia.Undang- Undang Dasar 1945.
United Nations.Convention on Biological Diversity 1992. United Nations, Carthagena Protocol
United Nations, Nagoya Protocol
B. Internet
http://www.theguardian.com/environment/gallery/2013/may/22/indonesia-international-biodiversity-day-in-pictures diakses pada tanggal 22 April 2016
http://www.fauna-flora.org/explore/indonesia/ diakses pada tanggal 22 April 2016
C. Jurnal
Indonesia, Government. The First National Report: Implementation of Article 6, General measures for Conservation and Sustainable Use, Jakarta: United Nations, 2001.
Siscawati, Mia dan Hidayati, Ulfa. Status of Impelmentation of Forest-Related Clauses in the CBD- Indonesia. Glocestershire: Indonesian Institute for Forest and Environment, 2002.
Edinger, Evan N., Jompa, Jamaluddin, et. al. Reef Degradation and Coral Biodiversity in Indonesia: Effeects of Land-based Pollution, Destructive Fishing Practices and Changes Over Time. Inggris :Marine Pollution Bulletin vol. 36 no. 8, 1998.
Baines, Graham dan Hendro, Mariyanti.Biodiversity Planning in Asia
Danuri, Hasim, Sidabutar, Hiras P., et.al. Achieving Sustainable Forest Management in Indonesia. Jakarta: International Tropical Timber Council,2001.
Switzerland, Implementing the Biodiversity Convention: Switzerland’s 4th
National Report, Switzerland: Federal Office of Environment, 2010
D. BUKU
Bilderbeek, Simone, et. Al. Biodiversity and International Law: The effectiveness of International Environmental Law. Amsterdam: IOS Press, 1992.
Birnie, Patricia, Alan Boyle, Catherine Redgewell. International Law and the Environment. Cet. 3. Oxford: Oxford University Press, 2009.
Soekanto, Soerjono, dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif,
Jakarta: CV Rajawali, 2004.