1
HUKUM MEMBACAKAN SURAT YASIN PADA ORANG YANG
SAKARATUL MAUT
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perbandingan Mazhab dalam Ushul Fiqh Dosen Pengampu : Dr. Muh. Nashirudin, M.A., M.Ag
Disusun oleh:
1.Tanti Indah Wati (132111008)
2. Rofiah (132111021)
3. Ermatul Nahfita (132111034)
HUKUM EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam ensiklopedi islam, yasin nama surah ke-36 dalam al-Qur‟an, terdiri dari 83 ayat, termasuk golongan surah makkiyyah (surah yang diturunkan di Mekkah). Lafal yasin itu sendiri merupakan satu ayat, yang merupakan ayat pertama dari surah tersebut. Ayat ini termasuk surah mutasyabihat.1 Surat yasin juga sering dianjurkan untuk dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Riwayat hadits tentang keutamaan membaca yasin sebagaimana adalah sahih, ada pula yang hasan, dha‟if, dan maudhu‟.
Salah satu kebiasaan yang terjadi di tengah umat islam saat ini adalah tradisi membaca surat yasin untuk keperluan tertentu seperti tahlilan, saat seorang mengalami sakit keras (sakaratul maut) dan tujuan-tujuan tertentu lalinnya karena keyakinan tentang fadhilah yang terdapat didalamnya dibandingkan surat-surat al-Qur‟an lainnya. Padahal sebenaarnya seorang muslim dianjurkan membaca al-Qur‟an setiap hari dan menghatamkannya. Sehingga berkesan bahwa al-Qur‟an itu hanyalah berisi surat yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pendapat tokoh masyarakat mengenai pembacaan yasin bagi seseorang
yang mengalami sakaratul maut ?
2. Apa sebab-penyebab terjadinya perbedaan pendapat tokoh-tokoh tersebut ?
C. Kerangka Teori
Dalam tradisi ulama islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing. Pedoman hidup kita sama
1
3
(al-Qur‟an dan Sunnah), tujuan pun sama. kita diperintahkan untuk bisa menerima bahwa adanya perbedaan pendapat dan paham itu sudah merupakan ketetapan Allah SWT. Dan sudah seharusnya kita menyikapi hal ini secara wajar. Dalam arti menjalin interaksi dan toleransi terhadap berbagai macam golongan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai islam.
1. Perbedaan Qira‟at
Berdasarkan etimologi qiraah merupakan kata mashdar dari kata kerja qiraah (membaca), jamaknya yaitu qiraat.
Qira‟at menurut al-Zarkasyi merupakan perbedaan lafal-lafal al-Qur'an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.
Perbedaan qira‟at dalam pembacaan al-Qur‟an merupakan salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam bidang fiqih.
2. Tidak tahu adanya Hadits
Pengetahuan para sahabat dalam masalah hadis tidaklah sama pada satu tingkatan, akan tetapi berbeda-beda. Sebagian mengetahui banyak hadis, sedangkan sebagian yang lain bahkan hanya mengetahui satu atau dua hadis saja. Hal ini karena seorang sahabat tidak selamanya mendengar seluruh ucapan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam atau menyaksikan seluruh aktifitasnya. Adakalanya dia mendengar sebuah hadis yang tidak didengar oleh sahabat lain. Dan sebaliknya dia juga mungkin tidak mendengar hadis yang diketahui oleh sahabat lain. Hal inilah yang menjadikan salah satu sebab terjadinya perbedaan pendapat, yakni tidak sampainya informasi tentang adanya hadis dalam sebuah masalah.
3. Ragu pada keabsahan Hadits
Maksudnya ragu dengan adanya hadits tersebut, seperti kasus Umar, Ibnu Ma‟ud
tentang tayamum karena jinabah dan tidak ada air.
4
mampu mandi walaupun dalam waktu yang lama, padahal „Ammar bin yasar
meriwayatkan bahwa ia pernah bersama Umar dalam keadaan Junub, maka ia tidak
shalat, sedangkan „ammar bergulung-gulung di tanah. Setelah sampai pada rasulullah dan dilaporkan pada Beliau, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata “Cukuplah kamu menepukkan kedua tanganmu ke tanah, meniupnya dan mengusapkannya pada wajah dan kedua telapak tanganmu.
„Umar ragu akan hadits „ammar, maka ia tetap pada pendapatnya bahwa ia harus
menunggu sampai ada air.
Setelah hadits ini tersebar barulah „Umar dan Ibnu Mas‟ud mencabut pendapatnya.
Dalam penelitian ini kita mengambil sebab terpenting terjadinya perbedaan dalam
furu‟ karena ragu pada keabsahan Hadits.
4. Berbeda dalam memahami dan menafsirkan teks
Salah satu sebab perbedaan yang lain adalah adanya perbedaan dalam memahami dan menafsirkan sebuah teks, baik itu berupa al-Qur‟an maupun as-Sunnah.
5. Adanya lafadz yang musytarak
Dalam bahasa Arab terdapat berbagai bentuk kata yang menunjukkan pada makna tertentu. Salah satunya adalah kata atau lafaz musytarak. Musytarak berarti sebuah kata yang memiliki dua makna atau lebih, dan terkadang saling berlawanan
6. Adanya pertantangan dalil
Salah satu sebab lain yang menjadikan terjadinya perbedaan pendapat antar ulama
adalah adanya pertentangan antar dalil (ta‟arud al-adillah) yang menjadikan satu
ulama mengunggulkan satu dalil yang menurut ulama‟ lain justru merupakan dalil
yang lemah. Pertentangan antar dalil yang sebenarnya hanya ada pada pikiran para
ulama‟ memang berusaha untuk diselesaikan dan dicarikan jalan keluarnya. Hanya
saja, masing-masing ulama memiliki cara yang berbeda dalam mencari jalan keluarnya. Ini pula yang menjadi salah satu sebab perbedaan pendapat.
7. Tidak adanya dalil dari al-Qu‟an dan As-Sunnah
5
Rasulullah wafat, masih banyak masalah yang belum terselesaikan. Masalah-masalah ini ada yang memiliki kemiripan dengan Masalah-masalah-Masalah-masalah sebelumnya, dan ada yang berbeda sama sekali. Masalah-masalah hukum terus bertambah seiring berjalannya waktu, sementara ayat al-Qur‟an dan hadits nabi terbatas. Masalah.2
.
2Muh. Nashirudin, 2010, PERBEDAAN DALAM FURU‟ FIQHIYYAH SEBAGAI AKIBAT PERBEDAAN DALAM USUL AL-FIQH,
6 BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendapat Tokoh Terdahulu
Keadaan yang disunnatkan bagi orang yang hampir mati.
Ketahuilah, orang yang dicintai ketika akan mati rupanya adalah tenang, diam dan dari lisannya adalah orang yang mengucapkan syahadah serta dari hatinya adalah ia
berbaik sangka kepada Allah Ta‟ala.3
Adapun kelancaran lidahnya dengan mengucap kalimat syahadat, maka ia adalah tanda kebaikan. Abu Sa‟id Al Khudri RA, berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam,bersabda:
َل ْمُكاَتْوَم اْوُ ِّقَل :َملَسَو ِْيَلَع َُا ىلَص ِه ُلْوُسَر َلاَق :ُلْوُقَ ي ِّيِرْدُْْا ِدْيِعَس َِِْأ ْنَع
.َُا لِإ ََلِإ
"Dari Abu Sa‟id al-Khudri, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu
„alaihi wa sallam, „Ajarkanlah „Laa Ilaaha Illallah‟ kepada orang yang hampir mati di antara kalian.” Hadits shahih, riwayat Muslim (no. 916), Abu Dawud (no. 3117), an-Nasa-i (IV/5), at-Tirmidzi (no. 976), Ibnu Majah (no. 1445), al-Baihaqi (III/383) dan Ahmad (III/3).4
Utsman RA, berkata : “Apabila orang yang akan mati atau hampir mati, maka
ajarkanlah kepadanya kalimat “Laa illaaha illa Allah.” Maka sesungguhnya tidaklah
seorang hamba yang diakhiri dengan kalimat tersebut ketika akan mati, maka itu adalah bekalnya ke surga.”5
Mengucapkan Laa illaha illallah pada orang yang mendekati meninggal dunia. Mu‟adz Radhiyallahu Anhu menceritakan, bahwa Rasulullah telah bersabda:
لَك ُرِخآ َن اَك ْنَم
orang-yang-sedang-dalam-kead/10150127274553732/ diakses 18 desember 2015 jam 13.285
7
Barang siapa yang akhir hayatnya mengucapkan kaliamat Laa Illaha Illallah maka ia
akan masuk surga. (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim. Al-Hakim mengatakan, bahwa hadits ini memiliki isnad sahih) sedangkan hadits dari Sa‟id Al-Khudri ia mengatakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda :
َل
َل ْمُك اَت ْوَم اْوُ ِّق
َملسم اورُ .ه لِإ َلِإ
Tuntunlah orang-orang yang di ambang kematian untuk membaca kalimat La Illaha
Illallah. (HR. Muslim)
Menuntun orang yang berada di ambang kematian dengan bacaan kaliamat La Illaha IlIallah itu dilakukan jika orang tersebut belum pernah mengucapkan kalimat syahadat. Akan tetapi, jika ia sudah pernah mengucapkan sebelumnya, maka tidak perlu lagi dilakukan. Dengan catatan pada saat mendekati kematian ia masih mampu diajak berbicara (tidak berada dalam kondisi koma). Sedangkan pada orang yang tidak lagi mampu untuk diajak berbicara, maka tidak disunnatkan untuk menuntunnya membaca kalimat tersebut. Karena dikhawatirkan dia akan terucapkan kalimat yang tidak benar (terputus, keseleo lidah ) yang merupakan ucapkan terakhir di dunia.6
Membaca surat Yasin
Dari Ma‟qil bin Yasar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
ْرُقْلا ُبْلَ ق سي
Yasin adalah jantungnya al-Qur‟an. Tidak dibaca oleh seseorang yang menghendaki
Allah daan negeri akhirat, melainkan diberikan ampunan baginya. Untuk itu, ba calah
ia atas orang-orang yang hendak meninggal dunia diantara kalian. “( HR. Ahmad,
Abu Dawud, Nasa‟i, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).
6
8
Ibnu Hibban menegaskan bahwa surah yasin ini dibacakan kepada orang-orang yang diambang kematian dan bukan bagi orang yang sudah meninggal dunia. Hal ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami.
ْتَئِرُق اَذِإ
ي
َيملي دلا اورُ اَِِ َفِّفُخ ِتْوَمْلا َدِْع س
“Apabila surat Yasin di sisi orang yang akan meninggal dunia, maka akan diiringankan
proses kematian tersebut.”Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami di dalam kitabnya
Al-Musnad Al-Firdaus.7 Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.”8
Tafsir hadits
Ibnu Hibban berkata “Mautakum” disini adalah orang yang sedang sakaratul maut
bukan orang yang telah menjadi mayat (sudah meninggal) di bacakan surat yasin.” Dan
diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari sulaiman At-Taimiy dari Abu
Utsman dari bapaknya dari Ma‟qil bin Yasar. An-Nasai dan Ibnu Majah tidak meriwayatkan dari bapaknya. Tetapi hadits tersebut dinilai cacat oleh Ibnu Qaththan karena termasuk hadits muththarrib dan mauquf, karena tidak diketahui identitas Abu Utsman dan bapaknya itu.
Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Hadits ini muththarrib
sanadnya, tidak dikenal matannya dan tidak shahih. Ahmad mengatakan dalam
7
Syikh Kamil Muhammad „Uwaidah, Fiqih Wanita, 1998, ( Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar), hlm. 212
8
9
musnadnya, bahawa Shafwan pernah menceritakan kepada kami, ia mengatakan bahwa
guru-gurunya pernah berkata, “Apabila surat yasin dibacakan pada orang yang telah
mati, maka akan diringankan siksaan dan deritanya.”
Pengarang kitab Al-Firdaus meriwayatkan dari Abu Darda dan Abu Dzar, keduanya berkata,“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “tidaklah orang
yang sakaratul maut itu dibacakan surat yasin baginya melainkan Allah akan
meringankan siksaannya. “Hadits ini menguatkan ucapan Ibnu Hibban bahwa maksudnya adalah orang yang menjelang kematian. Dan kedua dalil tersebut lebih jelas dijadikan dalam masalah ini dari yang lainnya.9
1. Drs. Ahmad Sukina sebagai narasumber dari MTA Pusat.
Kami memilih MTA sebagai rujukan dalam melakukan penelitian mengenai pembacaan surat yasin untuk orang yang mengalami sakaratul maut. Karena MTA tidak melakukan pembacaan yasin ketika menemui orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Hal ini disebabkan MTA hanya berpedoman berdasarkan Al-Qur‟an dan hadits shahih.
Dasar dalil untuk orang yang mengalami sakaratul maut
َلْعَل َ ِّّا :ُلْوُقَ ي ص ِه َلْوُسَر ُتْعََِ :َلاَق ضر وٍرْمَع ْنَع
ُتْوُمَيَ ف ِِبْلَ ق ْنِم اقَح ٌدْبَع اَُُْوُقَ ي َل ًةَمِلَك ُم
امهطرش ىلع حيحص لاق و مكاحا .ُه لِا َلِا َل :ِرا لا ىَلَع َمّرُح لِا َكِلذ ىَلَع
Dari „Amr RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang tidaklah seorang
hamba mengucapkannya ikhlash dari lubuk hatinya, lalu dia meninggal dalam keadaan
itu, kecuali Allah mengharamkan atasnya neraka, yaitu kalimat Laa ilaaha illallooh”. [HR. Hakim ia berkata Shahih atas syarath Bukhari Muslim].
َ سي ْمُكاَتْوَم ىَلَع اوُؤَرْ قا ُ :َلاَق ملسو يلع ه ىلص ِِلَا نَأ ع ه يضر ٍراَسَي ِنْب ِلِقْعَم ْنَعَو
9
10
َنابِح ُنْبا َُححَصَو ,يِئاَس لاَو ,َدُواَد وُبَأ ُاَوَر
Dari Ma'qil Ibnu Yasar bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.”
MTA mennganggap orang yang meninggal masuk surga jika sebelum meninggal orang tersebut membaca
“
ُه
لِا لِا َل
“
dan setelah itu tidak ada perkataan lain yang keluar dari orang tersebut.Pada intinya, MTA mengambil kesimpulan dari hadits-hadits yang ada, kemudian mereka menelitinya pada sanad, perawi dan matannya, apakah hadits
tersebut shahih atau dha‟if. Jika hadits tersebut tidak jelas atau dha‟if maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.
Dan beliau mengatakan bahwa pembacaan surat yasin pada zaman rasulullah atau ketika Nabi meninggal tidak ada pembacaan surat yasin tersebut. Berdasarkan peryataan tersebut maka terdapat hadits :
ِِم ْؤُما ِّما ْنَع
َو ِْيَلَع ُه ا لَص ِه ا ُلْوُسَر َل اَق ْتَل اَق اَهْ َع ُه ا َيِض َر َةَشِئ اَع ِه ا ِدْبَع ِّم أ َْْ
َوُهَ ف ِْيِف َسْيَل اَم اَذَ اَن ِرْمأ ِِ َث َدْح ا ْنَم َملَس
ْنَم ل ملسم ةياور ِو ملسمو ير اخبل ا اور دَر
َلِمَع
ذَر َوُهَ ف اَن ُرْم ا ْيَلَع رَسْيَل ًاَمَع
Dari Ummul Mu‟minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata :
Rasulullah Shallallahu‟alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim), dan dalam riwayat Muslim disebutkan: Barangsiapa yang melakukan suatu amal (ibadah) yang tidak sesuai dengan urusan (agama) kami,
11
Diriwayatkan dari Jabir bin „Abdillahradhiyallahu „anhuma, beliau berkata, “Jika
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallamberkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang
meneriaki pasukan „Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore‟.
Lalu beliau shallallahu „alaihi wa sallambersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. (Beliau shallallahu „alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya). Lalu beliau shallallahu „alaihi wa
sallam bersabda,
َو اَهُ تاَثَدُُْ ِروُمُأا رَشَو ٍدمَُُ ىَدُ ىَدُُْا ُرْ يَخَو َِا ُباَتِك ِثيِدَْحا َرْ يَخ نِإَف ُدْعَ ب امَأ
ٌةَلَاَض ٍةَعْدِب لُك
“Amma ba‟du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam. Sejelek-jelek
perkara adalah yang diada-adakan (bid‟ah) dan setiap bid‟ah adalah sesat.” (HR.
Muslim no. 867)10
Pendapat MTA atas tradisi NU dalam membacakan surat yasin pada orang yang mengalami sakaratul maut. MTA berpendapat bahwa tradisi membacakan surat yasin pada orang yang mengalami sakaratul maut adalah suatu perbuatan bid‟ah. Karena dalam hadits-hadits tentang pembacaan surat yasin adalah dhaif karena pada sanadnya ada dua orang yang majhul, disamping itu pada zaman Rasulullah ketika sakaratul maut atau meninggal tidak ada tradisi membacakan surat yasin tersebut. Dan pada dasarnya seluruh surat yang ada di dalam alquran itu istimewa
2. Sulhani Hermawan, M. Ag Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta sebagai narasumber dari tokoh NU.
Kami memilih Bapak Sulhani sebagai narasumber karena beliau merupakan salah satu tokoh NU. Pada umumnya, orang yang sedang mengalami sakit keras ataupun sakaratul maut, mereka membacakan surat Yasin.
10
Semua Bidah itu Sesat, Tidak Ada Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah,
12
سي ْمُكاَتْوَم ىَلَع اوُؤَرْ قا ُ :َلاَق ملسو يلع ه ىلص ِِلَا نَأ ع ه يضر ٍراَسَي ِنْب ِلِقْعَم ْنَعَو
َ
َنابِح ُنْبا َُححَصَو ,يِئاَس لاَو ,َدُواَد وُبَأ ُاَوَر
Dari Ma'qil Ibnu Yasar bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.”
Surat yasin merupakan hati dalam al-Qur‟an. Oleh sebab itu, Surat yasin merupakan salah satu surat yang istimewa dari beberapa surat dalam al-Qur‟an. Dalil yang digunakan oleh NU untuk orang yang sedang sakaratul maut.
Bapak Sulhani mengatakan bahwa sebenarnya kita tidak mengetahui seseorang tersebut mengalami sakaratul maut, tetapi yang diketahui adalah orang yang sedang sakit keras. Oleh sebab itu orang yang sedang sakit parah atau keras sebaiknya dibacakan surat yasin agar keluarganya tersebut bisa lebih tenang, dan diringankan beban saat mengalami sakaratulmaut. dengan pembacaan surat yasin, ada harapan dapat disembuhkan penyakitnya atau apabila seorang yang sedang sakit keras tersebut dipercepat dan dimudahkan jalan kematiannya. Setelah pembacaan surat Yasin tersebut masih ada kesempatan untuk dituntun dengan bacaan La Illaha ha Illallah maka tuntunlah dengan bacaan tersebut.
Bapak sulhani berpendapat bahwa pembacaan surat Yasin kepada orang yang sedang mengalami sakit keras mempunyai makna yaitu :
1. untuk menenangkan orang yang sedang sakit dan keluarga yang sedang panik. Beliau berpendapat bahwa surat yasin merupakan salah satu surat yang istimewa di dalam al-Qur‟an.
2. Surat yasin digunakan untuk mendoakan orang yang sedang sakit keras agar di percepat kesembuhannya dan apabila dia meningggal dimudahkan jalannya. 3. Surat yasin merupakan bagian dari berdoa kepada Allah.
13
ىذمرلا .ُه لِا لِا َل ِرْكّذلا ُلَضْفَا :ُلْوُقَ ي ص ِه َلْوُسَر ُتْعََِ :َلاَق ضر ٍرِباَج ْنَع
Dari Jabir RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda, “Seutama-utama dzikir ialah : Laa ilaaha illallooh”. (Tiada Tuhan selain Allah). [HR. Tirmidzi].
3. Bapak Rial Fuadi,S.Ag., M.Ag Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta.
Kami memilih beliau sebagai narasumber karena beliau mempunyai argumen yang dapat menguatkan dari pendapat kedua tokoh tersebut, namun beliau lebih condong ke pihak NU. Beliau berpendapat bahwa yasin adalah jantungnya al-Qur‟an. Ketika seseorang sedang sakaratul maut, orang tersebut dikelilingi oleh jin yang akan menyesatkannya sehingga dibacakanlah yasin, karena surat tersebut ditakuti oleh jin.
سي ِنْعَ ي ْمُكاَتْوَم ىَلَعاَْوُءَرْ قِا:ص َِا ُلْوُسَرَلاَق:َلاَق ٍراَسَي ِنْب ِلِقْعَم ْنَع
ُ
دما
َ
Artinya: Dari Ma‟qil bin Yasar, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Bacakanlah ia kepada orang yang akan meninggal diantara kalian, yaitu surat Yasin”. (HR Ahmad juz 7, hal 286, no. 20323)
ص ِه ُلْوُسَر َلاَق :َلاَق ضر َمَقْرَا ِنْب ِدْيَز ْنَع
اَم َو :َلْيِق .َةَْْا َلَخَد اًصِلُُْ ُه لِا َلِا َل َلاَق ْنَم :
طسولا ى ّارطلا .ِه ِمِراََُ ْنَع َُزُجََْ ْنَا :َلاَق ؟اَهُصَاْخِا
Artinya: Dari Zaid bin Arqam RA ia berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa
Sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallooh dengan ikhlash, dia
masuk surga”. Beliau ditanya, “Bagaimana mengikhlashkannya ?”. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Dengan ucapan tersebut bisa menjauhkannya dari
larangan-larangan Allah”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath].
14
maut maka dibolehkan. Pembolehan tersebut tergantung dengan keyakinan seorang pada hadits tersebut. Surat yasin menurut beliau merupakan surat yang istimewa yang ditakuti oleh jin atau setan. Ketika sesorang yang sedang sakit keras ada banyak setan yang akan menyesatkan maka bacaan surat yasin tersebut menjadi pendamping orang yang menjelang kematian. Pembacaan surat yasin kepada orang yang sedang sakaratul maut diyakini untuk menghapus dosa-dosa orang yang sedang sakaratul maut.
B. Sebab Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Tokoh
Dalam kasus ini kami memahami bahwa penyebab terjadinya pendapat karena adanya perbedaan Ushul atas keraguan pada keabsahan hadits tentang pembacaan surah yasin untuk oranng sakaratul maut.
سي ْمُكاَتْوَم ىَلَع اوُؤَرْ قا ُ :َلاَق ملسو يلع ه ىلص ِِلَا نَأ ع ه يضر ٍراَسَي ِنْب ِلِقْعَم ْنَعَو
َ
َنابِح ُنْبا َُححَصَو ,يِئاَس لاَو ,َدُواَد وُبَأ ُاَوَر
Dari Ma'qil Ibnu Yasar bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.”
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam---Ma‟qil bin Yasar--- Abuuhu---Abu „utsman
(bukan An-nahdiy) ---Sulaiman At-taimiy--- („Abdulah) bin Al-Mubarak---Muhammad
bin Makkiy Al-marwaziy dan Muhammad bin Al-„Alaa‟--- Abu Dawud.11
Menurut MTA, Hadits riwayat Abu Dawud ini dha‟if, karena pada sanadnya ada dua orang yang majhul, yaitu Abu „Utsman dan bapaknya, sebagaimana yang
diriwayatkan Ahmad. Maka hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah.
Sedangkan menurut Ibnu Hibban berkata “Mautakum” disini adalah orang yang sedang sakaratul maut bukan orang yang telah menjadi mayat (sudah meninggal) di
bacakan surat yasin.” Dan hadits ini di kuatkan olehPengarang kitab Al-Firdaus karya al-Hafidz Syirawaih bin Syahardar bin Syirawaih al-Dailimi meriwayatkan dari Abu
11
15
Darda dan Abu Dzar, keduanya berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda, “tidaklah orang yang sakaratul maut itu dibacakan surat yasin baginya
melainkan Allah akan meringankan siksaannya. “Hadits ini menguatkan ucapan Ibnu
16 BAB III
KESIMPULAN
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ketiga pendapat tersebut terdapat sebab terjadinya perbedaan dalam ushul atas keraguan pada keabsahan Hadits. Karena Mta meneliti tentang kehujjahan hadits, bahwa hadits tentang pembacaan surat yasin
untuk orang yang sakaratul maut adalah dha‟if maka tidak dapat dijadikan hujjah.
Sedangkan menurut NU, bahwa orang sedang sakit parah atau sakit keras sebaiknya dibacakan surat yasin agar keluarganya tersebut bisa lebih tenang, dan diringankan beban saat mengalami sakaratul maut, serta harapan dapat di sembuhkan penyakitnya atau apabila seseorang sedang sakit keras tersebut dipercepat dan dimudahkan kematiannya.
Bapak Rial Fuadi mengatakan ketika dihadapkan dengan orang yang sedang
sakaratul maut, terdapat dua hadits yang mengatakan untuk dituntun dengan bacaan “La Illaha Illallah”, tetapi ada juga hadits yang mengatakan untuk dibacakan surat yasin.
17
Daftar Pustaka
Al Ghazali. 2003. Ilya‟ Ulumiddin. Semarang : CV. Asy Syifa‟.
Ash-Shan‟ani, Muhammad bin Ismail Al-Amir. 2007. Subulus Salam Syarah Bulughul Maram jilid 1. Jakarta Timur : Darus Sunnah Press
Islam, Dewan Redaksi Ensiklopedi. 2001. Insiklopedi Islam. Jakarta : Pustaka Nasional. Muhammad, Syaikh Kamil „Uwaidah . 1998. Fiqih Wanita. Jakarta Timur : Pustaka
Al-Kautsar.
Sukina, Ahmad. Kumpulan Brosur Ahad PagiTahun 2008. Surakarta : Yayasan Majelis
Tafsir Al Qur‟an.
Muh. Nashirudin, 2010, PERBEDAAN DALAM FURU‟ FIQHIYYAH SEBAGAI
AKIBAT PERBEDAAN DALAM USUL AL-FIQH,
https://sofianasma.wordpress.com/2010/12/18/perbedaan-dalam-furu%E2%80%99-fiqhiyyah-sebagai-akibat-perbedaan-dalam-usul-al-fiqh/, diakses 18 desember 2015
https://www.facebook.com/notes/muslimahorid/sunnah-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-ketika-ada-orang-yang-sedang-dalam-kead/10150127274553732/ diakses 18 desember 2015
Semua Bidah itu Sesat, Tidak Ada Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah,