Keluarga As
ma
ra
Pendahuluan
Runtuhnya suatu bangsa diawali dari hancurnya tatanan rumah tangga masyarakatnya. Keluarga yang tidak terjaga keutuhan susunan organisasi rumah tangganya akan melahirkan anak-anak yang tidak berkualitas karena memperoleh pendidikan yang tidak tepat dari keluarganya. Maka dari itu, tidak ada bangsa yang kokoh dan diberkahi Allah SWT, tanpa diawali dari keluarga yang diberkahi pula oleh Allah SWT. Dan keluarga yang diberkahi itu adalah keluarga yang penuh kedamaian /kecenderungan dan ketentraman serta kasih sayang, yang biasa disebut keluarga AsMaRa ( Assakinah,Mawaddah wa Rahmah ).
Untuk mencapai keluarga yang diberkahi Allah SWT, perlu berbagai persiapan dan ilmu pengetahuan yang cukup. Hal ini harus dimiliki oleh setiap individu yang akan berumah tangga, baik laki-laki maupun wanita. Sehingga masing-masing tahu akan hak dan kewajiban serta posisinya jika telah berkeluarga dan memiliki harapan yang sama untuk mencapai dan mewujudkan keluarga yang diberkahi Allah SWT secara bersama-sama.
Keluarga Harapan Umat, Keluarga
As
Ma
Ra
Rumah tangga yang Assakinah, mawaddah wa rahmah adalah harapan setiap pasangan. Sebagaimana yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Ruum [30]: 21)
Namun, yang menjadi pertanyaan bagi kebanyakan pasangan pula adalah: bagaimana cara menggapai, mewujudkan dan menjaga agar rumah tangga yang diharapkan tersebut dapat diraih dan senantiasa dirasakan?! Pada akhir ayat di atas, Allah memberikan pertanda, bahwa siapapun yang ingin mewujudkan keluarga AsMaRa,
tentulah mereka adalah pasangan yang senantiasa memikirkan dan mengupayakan segala hal yang dapat mendekatkan pada kriteria yang Allah inginkan.
Satu contoh, episode upaya yang dilakukan seorang ibu pada malam pernikahan putrinya:
Umamah binti Harits yang dikenal dengan Ummu Iyas binti Auf, seorang wanita pemuka Arab, menyampaikan pesan yang sangat indah kepada putrinya. Umamah berkata, “Putriku, sekarang engkau akan meninggalkan suasana dimana engkau dilahirkan, meninggalkan kehidupan dimana engkau dibesarkan. Sekiranya ada wanita yang tidak butuh suami karena merasa cukup dengan kedua orang tuanya, atau kedua orang tuanya membutuhkannya, engkaulah wanita yang paling tidak membutuhkan suami. Tetapi, wanita diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki-laki-laki diciptakan untuk wanita. Karena itu, aku wasiatkan kepadamu sepuluh hal:
Keluarga As
ma
ra
3. Perhatikanlah pandangannya, jangan sampai pandangannya melihat sesuatu yang buruk padamu
4. Perhatikanlah penciumannya, jangan sampai ia mencium darimu selain bau harum
5. Perhatikanlah waktu tidur, karena jika kurang tidur akan membuatnya mudah marah
6. Perhatikanlah makannya, karena lapar yang sangat membuatnya terbakar amarah
7. Jagalah harta dan keluarganya. Menjaga harta dengan baik adalah dengan membuat anggaran secara baik, dan inti urusan keluarga adalah baik dalam mengatur.
8. Janganlah mendurhakai perintahnya, jika engkau mendurhakai perintahnya, engkau akan melukai hatinya
Ummu Iyas tahu betul bahwa kebahagiaan pasangan suami istri hanya dapat terwujud jika ada kerjasama dan saling pengertian di dibutuhkan rumah yang dimiliki oleh sepasang suami istri adalah yang besar dan bagus. Akan tetapi rumah yang dihuni oleh suami istri
Senantiasa menghidupkan suasana rumah penuh dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan tilawah serta ukhuwah, layaknya aktifitas di masjid.
2. Sekolah
Senantiasa mencerminkan jiwa pembelajar bagi penghuninya, tempat menuntut ilmu, tempat mendapatkan pendidikan life skill, terutama penanaman nilai akhlaqul karimah dan kedisiplinan memanfaatkan waktu, seperti suasana di sekolah.
3. Villa
Senantiasa diciptakan suasana yang nyaman dan sejuk, sehingga dirasakan oleh penghuninya benar-benar tentram ketika beristirahat.
Keluarga As
ma
ra
Senantiasa diupayakan dengan berbagai cara menampakkan suasana bersih dan higienis, baik pemilihan gizi makanan yang seimbang, adanya upaya rehabilitasi jika ada salah satu anggota keluarga yang mengalami penurunan ruhiyah , maupun upaya-upaya untuk menjaga kebersihan.
5.
Benteng PertahananSenantiasa berupaya menjaga dan mengantisipasi serta memfilter
segala gangguan / bahaya yang berasal dari luar lingkungan keluarga, terutama aspek ruhiyah.
Penutup
Mayoritas manusia secara individu tentu selalu memimpikan kehidupan penuh kebahagiaan, mendambakan ketentraman dan menaruh harapan agar senantiasa mendapatkan ketenangan jiwa. Terlebih dalam lingkungan keluarga. Keluarga yang dibangun oleh dua individu yang berbeda, baik asal-usul, karakter dan kebiasaan untuk menyatukan dalam satu harapan bukanlah hal mudah. Semua ini tak akan terwujud kecuali dengan kedua individu, suami dan istri memiliki iman secara utuh kepada Allah, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.
Semoga Allah SWT merahmati para suami yang berupaya menampilkan iperilaku yang terpuji, lemah lembut, pengasih,
penyayang, tekun bekerja, tidak berlebihan dan tidak lalai kewajibannya. Dan semoga Allah SWT senantiasa merahmati pula seorang istri senantiasa berusaha sepenuh hati menampilkan sikap yang menyenangkan, yang tidak mencari-cari kesalahan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada. Dengan demikian, akan terpenuhinya harapan umat akan lahirnya keluarga-keluarga AsMaRa.
Referensi
- Departemen Agama RI, 1998. Al-qur’an Dan Terjemahnya.
Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf
- Muslich Taman dan Aniq Farida, 2007. 30 Pilar Keluarga Samara.
Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar