• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mencintai Keluarga sakinah keluarga tanpa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mencintai Keluarga sakinah keluarga tanpa"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Keluarga

Jika kita amati di kehidupan sehari-hari, masih banyak keluarga Islam yang alergi dengan kata “cinta” dalam ungkapan sehari-hari. Mereka khawatir karena cinta sering dijadikan ungkapan yang sifatnya syahwati. Bagi sebagian muslim, ungkapan cinta memang terkesan murahan dan kurang pantas dijadikan ungkapan sehari-hari di tengah keluarga muslim.

Padahal, sunnah Rasulullah menunjukkan bahwa dalam pergaulan dengan sesama muslim saja, ungkapan cinta merupakan suatu sunnah, apalagi dalam rumahtangga. Bukan gombal apabila seoarang suami mengucapkan dengan terus terang, “Dik, aku mencintaimu karena Allah.” Lantas istrinya menjawab, “Aku juga cinta kepadamu, mas!”

Anehnya, ungkapan begitu malah sering diucapkan oleh mereka yang non muslim, baik yang sudah suami istri atau belum. Landasan mereka bukan karena Allah dan semata syahwat belaka. Itulah yang gombal dan tak ada nilainya.

Ucapan yang bergairah dan menambah semangat cinta dalam rumah tangga Islam, jelas sangat dianjurkan. Ungkapannya bahkan lebih berpahala daripada ungkapan cinta sesama muslim. Bukankah ini salah satu target dari pernikahan dalam Islam?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

Rumah tangga Islam dibangun dengan pondasi iman. Sedang iman tak lepas dari cinta. Suami yang mencintai istri karena Allah. Demikian sebaliknya, istri mencintai suami juga karena Allah pula, suami istri diwajibkan saling melayani, dan itu harus dilakukannya dengan ikhlas berlandaskan cinta kepada Allah, bukan semata syahwat. Karena itu, cinta dalam ikatan rumah tangga yang benar-benar

dibangun berdasarkan iman dan Islam, lebih kuat daripada cinta antara sesama manusia yang lain. Hubungan cinta dengan anak-anak atau sanak saudara pun juga tidak kalah pentingnya. Kita jarang bilang kepada anak kita, “Ayah mencintaimu.” Padahal ungkapan cinta merupakan kebahagiaan dari cinta itu sendiri. Ungkapan cinta yang membekas di hati akan mempengaruhi jiwa. “Ayah berkata bahwa dia mencintaiku, karena itu aku akan mencintainya dan akan mentaatinya.” Inilah kenangan manis di hati anak manakala dia berada jauh dari kita.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu sebagai istri atau makmum (pengikut) bagi suaminya hendaknya terlebih dahulu memberi kesempatan kepada suami selaku pemimpin dalam rumah tangga untuk

Beberapa pokok bahasan yang diulas dalam mata kuliah ini adalah tentang tugas pokok dan fungsi ( tupoksi ) masing-masing anggota keluarga terkecil yang terdiri dari suami, istri

Pendapat yang menyatakan bahwa hanya nabi-nabi yang dapat berkompetisi dalam mencintai Allah dan mendekat pada-Nya -adalah alasan mengapa kebanyakan orang telah membesar besarkan

Dalam konsep membangun rumah tangga, pertimbangan tentang unsur kafaah atau keseimbangan antara calon suami dan istri merupakan hal yang harus diperhatikan. Seorang yang

Mewujudkan kasih sayang dalam keluarga dengan hormat- menghormati, sopan santun dan tanggung jawab (kewajiban) antara suami kepada istri juga sebaliknya istri kepada

Akan tetapi jika masing-masing pasangan mengerti konsep- konsep keluarga sakinah seperti yang telah diuraikan di atas, Insya Allah cita-cita untuk

1.) Seorang suami atau istri (setia) sholeh atau sholehah: Yang dimaksud dengan sholeh dan sholehah pada suatu hubungan suami dan istri adalah setia, saling menjaga

Pengejaran kebutuhan materi dan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dapat menjadi akibat dari segala macam tuntutan, pada saat suami istri sedang