PEMERINTAH PR
Pada hari ini Senin tanggal 2014) bertempat di Pangkalpinan
I. RUSTAM EFFENDI, Gubernu Perkantoran Air Itam Pangka Pemerintah Provinsi Kepulauan
II. HIDAYATULLAH, S.H., M.H berkedudukan di Komplek Per untuk dan atas nama Kejaksa PIHAK KEDUA.
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KED “PIHAK” dan secara bersama menerangkan hal-hal sebagai ber
a. Bahwa PIHAK PERTAMA ada
Undang-Undang Republik In Provinsi Kepulauan Bangka Be Tahun 2004 tentang Pemerint Provinsi mempunyai wewena dalam dan di luar pengadilan,
ANTARA
INTAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELIT DENGAN
KSAAN TINGGI KEPULAUAN BANGKA BELITU TENTANG
PENANGANAN MASALAH HUKUM
IDANG PERDATA DAN TATA USAHA NEGARA I PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
NOMOR : 119/ / V/2014 NOMOR : B- /N.9/Gs.1/ /201
tanggal dua belas bulan Mei tahun dua ribu em gkalpinang, yang bertanda tangan dibawah ini:
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, berkedu m Pangkalpinang, dalam hal ini bertindak untu Kepulauan Bangka Belitung, selanjutnya disebut P
S.H., M.H, Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan mplek Perkantoran Air Itam Pangkalpinang, dalam a Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung, s
HAK KEDUA yang selanjutnya secara terpisah dap bersama-sama disebut sebagai “PARA PIHAK”
bagai berikut:
AMA adalah Lembaga Pemerintah Provinsi dibe publik Indonesia Nomor 27 Tahun 2000 tenta Bangka Belitung dan Undang-Undang Republik
Pemerintahan Daerah, Gubernur sebagai Kepala i wewenang dan tugas Penyelenggaraan Pemeri ngadilan, dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk
KA BELITUNG disebut PIHAK PERTAMA.
epulauan Bangka Belitung, ng, dalam hal ini bertindak elitung, selanjutnya disebut
pisah dapat disebut sebagai PIHAK”, terlebih dahulu
b. Bahwa PIHAK KEDUA adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian berdasarkan Undang-Undang Republik Nomor 16 Tahun 2014 tentang Kejaksaan Republik Indonesia memiliki menjalankan salah satu fungsi di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara serta tugas dan fungsi lainnya berdasarkan undang-undang;
c. Bahwa untuk menjalankan fungsi tersebut pada huruf a dan huruf b, PARA PIHAK
memandang perlu untuk bekerja sama dalam rangka penanganan masalah hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara yang dihadapi PIHAK PERTAMA.
Dengan mendasarkan pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
1. Undang-Undang RI Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung;
2. Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia;
3. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
4. Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan
Republik Indonesia.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas PARA PIHAK sepakat untuk membuat Kesepakatan Bersama guna menyelaraskan dan/atau mengoptimalkan pelaksanaan tugas penegakan hukum dengan ketentuan sebagai berikut:
BAB I
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 1
Kesepakatan bersama ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi PARA PIHAK dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara secara seimbang dan profesional.
Pasal 2
Tujuan Kesepakatan Bersama ini adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penanganan masalah hukum Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara baik di dalam maupun di luar Pengadilan.
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 3
BAB III
PELAKSANAAN
Pasal 4
(1)PIHAK PERTAMA dapat meminta bantuan hukum, pertimbangan hukum, maupun
tindakan hukum lain kepada PIHAK KEDUA dalam menghadapi permasalahan hukum bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, untuk selanjutnya PIHAK KEDUA bersedia untuk memberikan bantuan hukum, pertimbangan hukum, maupun tindakan hukum lain untuk kepentingan PIHAK PERTAMA.
(2)Untuk melaksanakan kegiatan berupa pemberian bantuan hukum sebagaimana pada
ayat (1) PIHAK PERTAMA terlebih dahulu mengirim permohonan secara tertulis kepada PIHAK KEDUA.
(3)Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (2) setelah dinyatakan diterima oleh PIHAK
KEDUA, PIHAK PERTAMA menerbitkan Surat Kuasa Khusus kepada PIHAK KEDUA.
(4)Untuk melaksanakan kegiatan berupa pemberian pertimbangan hukum maupun tindakan
hukum lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PIHAK PERTAMA mengajukan permohonan tertulis serta menyerahkan dokumen-dokumen yang terkait kepada PIHAK KEDUA.
(5)Setelah permohonan pertimbangan hukum maupun permohonan tindakan hukum lain
sebagaimana dimaksud ayat (4) dinyatakan diterima oleh PIHAK KEDUA, PIHAK KEDUA memberikan pertimbangan hukum maupun tindakan hukum lain kepada PIHAK PERTAMA.
Pasal 5
Dalam rangka penyelesaian permasalahan dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara oleh PIHAK PERTAMA, PARA PIHAK dapat mengundang narasumber untuk pengayaan pengetahuan yang sesuai dengan materi permasalahan setelah adanya persetujuan oleh PIHAK PERTAMA.
BAB IV
PEJABAT PENGHUBUNG
Pasal 6
(1)PARA PIHAK menunjuk sekurang-kurangnya 1 (satu) orang pejabat di tingkat Provinsi
sebagai pejabat penghubung dalam rangka pelaksanaan Kesepakatan Bersama ini.
(2)Pejabat Penghubung sebagaimana dimaksud ayat (1) pada tingkat Provinsi
(3)Pejabat Penghubung di tingkat wilayah/daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan sebagai berikut:
a. Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
b. Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara pada Kejaksaan Tinggi Kepulaun
Bangka Belitung.
(4)Penunjukan dan penggantian pejabat penghubung ditetapkan dengan keputusan
pimpinan masing-masing.
(5)Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberitahukan kepada Pimpinan PARA
PIHAK.
BAB V
BIAYA
Pasal 7
Segala biaya yang diperlukan sehubungan dengan pemberian bantuan hukum, pertimbangan hukum dan tindakan hukum lain dibebankan kepada PIHAK PERTAMA sesuai dengan anggaran yang tersedia pada PIHAK PERTAMA.
BAB VI
TANGGUNG JAWAB
Pasal 8
PARA PIHAK bertanggung jawab untuk melaksanakan segala hal yang berkaitan dengan tujuan Kesepakatan Bersama ini sesuai dengan Ruang Lingkup Kesepakatan Bersama dan Peraturan Perundang-undangan.
BAB VII
MASA BERLAKU
Pasal 9
(1)Kesepakatan Bersama ini berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun sejak tanggal
ditandatangani.
(2)Kesepakatan Bersama ini dapat diubah atau diperpanjang sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK, dengan terlebih dahulu dilakukan koordinasi selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhir masa berlakunya Kesepakatan Bersama ini.
(3)Kesepakatan Bersama ini dapat berakhir atas Kesepakatan PARA PIHAK atau batal
BAB VIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 10
Setiap permasalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan Kesepakatan Bersama ini akan diselesaikan oleh PARA PIHAK secara musyawarah.
Pasal 11
Hal-hal yang belum diatur dalam Kesepakatan Bersama ini, akan diatur lebih lanjut atas persetujuan PARA PIHAK serta dituangkan dalam bentuk Amandemen Kesepakatan Bersama yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Kesepakatan Bersama ini.
Demikian Kesepakatan Bersama ini dibuat dalam rangkap 2 (dua), bermaterai cukup, masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama setelah ditandatangani oleh PARA PIHAK dan dibubuhi Cap Instansi masing-masing.
PIHAK KEDUA
KEPALA KEJAKSAAN TINGGI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG,
HIDAYATULLAH, S.H., M.H
PIHAK PERTAMA GUBERNUR
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG,
RUSTAM EFFENDI