• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 7/PUU-XIV/2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 7/PUU-XIV/2016"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 7/PUU-XIV/2016

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2006

TENTANG PEMERINTAHAN ACEH TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN

1945

ACARA

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN

(I)

J A K A R T A

SELASA, 23 FEBRUARI 2016

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 7/PUU-XIV/2016

PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh [Pasal 65 ayat (2)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON Darmili ACARA

Pemeriksaan Pendahuluan (I)

Selasa, 23 Februari 2016, Pukul 14.30 – 15.15 WIB

Ruang Sidang Panel II Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Anwar Usman (Ketua)

2) Maria Farida Indrati (Anggota)

3) Aswanto (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir: A. Pemohon:

1. Darmili

B. Kuasa Hukum Pemohon: 1. Safaruddin

(4)

1. KETUA: ANWAR USMAN

Sidang Perkara Nomor 7/PUU-XIV/2016 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.

Sidang hari ini adalah Sidang Pendahuluan untuk Perkara Nomor 7 Tahun 2016, untuk itu dipersilakan pada Pemohon untuk memperkenalkan diri, siapa saja yang hadir.

Silakan.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: SAFARUDDIN Baik, terima kasih, Majelis Hakim.

Perkenalkan, saya Safaruddin, Kuasa Hukum dari Pemohon. Sebelah kanan saya, Pak Darmili, Prinsipal.

Demikian, terima kasih. 3. KETUA: ANWAR USMAN

Baik, dipersilakan untuk menyampaikan pokok-pokok

permohonan. Jadi, pada prinsipnya permohonan Pemohon telah kami baca dan diteliti sedemikian rupa. Namun, sesuai dengan ketentuan hukum acara, Saudara diwajibkan untuk menyampaikan pokok-pokok permohonan. Dipersilakan.

4. KUASA HUKUM PEMOHON: SAFARUDDIN Baik, terima kasih, Majelis Hakim.

Pertama, seperti yang disampaikan pada awal permohonan bahwa Pemohon adalah Warga Negara yang berkeinginan, ingin mencalonkan diri menjadi kepada daerah di Aceh untuk yang ketiga kalinya. Nah, ada norma yang mengganjal dalam keinginan tersebut. Nah, norma-norma tersebut adalah yang pertama, norma materiilnya itu ada di Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang berbunyi, “ Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota memegang jabatan selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama hanya untuk 1 kali masa jabatan.”

SIDANG DIBUKA PUKUL 14.30WIB

(5)

Nah, kemudian kami memakai alat uji, yaitu Norma Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebanyak 3 Norma:

1. Pasal 18B Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menyatakan, “Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.” Kemudian.

2. Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menyatakan,

“Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”

3. Pasal 28D ayat (3) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menyatakan, “Setiap warga berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.”

Nah, alasan-alasan yang kami ajukan, yaitu bahwa Provinsi Aceh merupakan daerah istimewa yang sama seperti Provinsi Yogyakarta dan Provinsi Otonomi Khusus Papua yang sama … yang diberikan hak-hak istimewa dan khusus terhadap provinsi tersebut sebagaimana dimaksud … disebut dalam undang … dalam Pasal 18B Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Bahwa terhadap pembatasan masa jabatan seperti dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 8/PUU/2008, tertanggal 6 Mei 2008. Mahkamah menyatakan pasal tersebut tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, sehingga permohonan itu … permohonan Pemohon ditolak antara lain dengan pertimbangan hukum Mahkamah menafsirkan pasal tersebut dalam 3 kategori, yaitu:

1. Pembatasan 2 kali berturut-turut dalam jabatan yang sama. 2. Pembatasan 2 kali dalam jabatan yang sama tidak berturut-turut. 3. Pembatasan 2 kali dalam jabatan yang sama di tempat yang berbeda.

Nah, bahwa selain itu di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pasal 65 ayat (2) juga berbunyi hal yang sama, yaitu gubernur atau wakil gubernur, bupati atau wakil bupati, dan walikota atau wakil walikota memegang jabatan selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama untuk 1 kali masa jabatan.

Bahwa Provinsi Yogyakarta diberikan hak istimewa terhadap periodesasi jabatan gubernur dan wakil gubernur, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Yogyakarta, Pasal 19 menyebutkan:

1. DPRD Daerah Isitmewa Yogyakarta memberitahukan kepada gubernur dan wakil gubernur serta kesultanan dan kadipaten tentang berakhirnya masa jabatan gubernur dan wakil gubernur paling lambat 3 bulan sebelum berakhirnya masa jabatan gubernur dan wakil gubernur.

(6)

2. Berdasarkan pemberitahuan dari DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai dimaksud pada ayat (1), kesultanan mengajukan Sultan Hamengkubuwono yang bertahta sebagai calon gubernur dan kadipaten mengajukan Adipati Paku Alam yang bertahta sebagai calon wakil gubernur paling lambat 30 hari setelah surat pemberitahuan DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta diterima.

3. Kesultanan dan kadipaten pada saat mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur kepada DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta menyerahkan:

a. Surat pencalonan untuk calon gubernur yang ditandatangani oleh

Pengageng Kewadenan Hageng Panitrapura Kesultanan

Ngayogyakarta Hadiningrat.

b. Surat Pencalonan untuk Wakil Gubernur yang ditandatangani oleh Pengageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Paku Alam. c. Surat pernyataan kesediaan Sultan Hakungpo … Hakung …

Hamengkubuwono yang bertahta sebagai Calon Gubernur dan Adipati Paku Alam yang bertahta sebagai Calon Wakil Gubernur. d. Kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud Pasal 18 ayat

(2).

Bahwa menurut Mahkamah, Pasal 18B ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 kemungkinan bagi suatu daerah untuk diperlakukan secara khusus yang bukan hanya urusan periodisasi jabatan kepala daerah hanya dapat diberlakukan terhadap daerah khusus yang bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang, ini kami kutip dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 33 PUU Tahun 2010 di halaman 137, baris ke-28 dan ke-32.

Bahwa Provinsi Aceh baru saja terlepas dari konflik politik dan konflik bersenjata sepuh … selama puluhan tahun yang lalu. Perdamaian Aceh yang dituangkan dalam MoU Helsinki pada tahun 2005 masih memposisikan Aceh dalam masa transisi konflik dan transisi demokrasi.

Implementasi MoU antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka masih ada yang belum terealisasi sampai saat ini, seperti pembentukan komisi bersama penyelesaian klaim yang disepakati dalam MoU Helsinki dalam poin 326 MoU Helsinki yang menyebutkan, “Pemerintah Aceh dan Pemerintah Republik Indonesia akan membentuk komisi bersama penyelesaian klaim untuk menangani klaim-klaim yang tidak terselesaikan yang sampai saat ini belum dibentuk.”

Padahal pembentukan komisi klaim bertujuan untuk mengganti kerugian harta benda masyarakat Aceh pada saat terjadi konflik berdarah di Aceh dari tahun 1989 sampai tahun 2005. Bahkan saat ini telah muncul kelompok-kelompok yang tidak puas terhadap pemerintahan Aceh dengan visi, misi yang berbeda dari pemerintah Aceh sebelumnya, seperti tembun … terbentuknya kelompok di Minimi yang menjadi fenomena sebagai reprentes … representasi perjuangan masyarakat Aceh yang tidak puas dengan pemerintahan di Aceh saat ini.

(7)

Dulu pada saat Gubernur dan Wakil Gubernur dijabat oleh Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar tidak pernah timbul atau lahir kelompok yang mengangkat senjata kembali seperti dalam pemerintahan Aceh sekarang. Hal ini dikadang … dikarenakan visi dan misi dari pelaksanaan MoU Helsinki dan beberapa visi kepala daerah lainnya tidak cukup hanya dalam waktu 2 periode dalam membangun Aceh yang telah mengalami konflik yang panjang dengan kehancuran infrastruktur sampai rusaknya peradaban yang telah ada turun temurun di Aceh. Kehancuran di Aceh selama puluhan tahun membutuhkan waktu dengan visi yang jauh ke depan, tidak hanya dengan 2 periode jabatan kepala daerah, apalagi di Aceh dikelola secara khusus dan istimewa seperti Yogyakarta.

Bahwa adanya ketakutan terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme ataupun … ataupun menutup ruang terhadap calon lain untuk menjadi kepala daerah di Aceh dikarenakan adanya kekuatan incumbent. Hal ini tidak menjadi suatu kekhawatiran di A ceh.

Pada tahun 2006 hanya Aceh yang melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serempak yang pada saat ini banyak diikuti oleh pasangan dari jalur independen yang hanya ada di Aceh dan hasil pemilihan tersebut sebagian besar dimenangkan oleh calon dari jalur independen yang hanya baru dikenal di Aceh saat itu. Ini menunjukkan bahwa Aceh sebagai daerah istimewa dan khusus dapat mengelola kearifan lokalnya dengan baik dalam kehidupan sosial maupun politik dalam bingkai Kesatuan Negara Republik Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari pelaksanaan syariat Islam dan pelaksanaan adat istiadat yang dilaksanakan secara khusus di Aceh, sehingga telah terbentuk perilaku dan cara berpikir masyarakat di Aceh secara Islami dan menurut kearifan lokal setempat.

Bahwa kecintaan masyarakat Aceh kepada pemimpin yang dianggap mampu melaksanakan syariat Islam dan adat istiadat merupakan hal penting yang mendasari pelaksanaan pembangunan di Aceh. Keinginan yang Islami tersebut tercermin dari keinginan masyarakat di Negeri Kelantan, di Malaysia yang tetap menginginkan Nik Aziz … Nik … Nik Abdul Aziz Nik Mat menjadi … tetap menjadi Gubernur Negeri Kelantan selama 25 tahun, pun demikian dengan masyarakat di Aceh yang kehidupan beragamanya sama dengan masyarakat di negeri … di Negeri Kelantan, di Malaysia.

Dengan adanya pemberlakuan istimewa dan khusus terhadap Provinsi Aceh, konstitusi telah memberikan ruang agar Aceh mengelola dirinya secara Islami dan berdasarkan adat istiadat di Aceh tetap dalam bingkai NKRI.

Bahwa tokoh masyarakat dan tokoh adat di Kabupaten Simeulue menginginkan Pemohon untuk menjadi kepala … menjadi Kepala Daerah di Kabupaten Simeulue setelah sebelumnya menjabat 2 kali masa jabatan dengan masa tugas terakhir 27 Maret 2012. Dikarenakan Pemohon pada saat menjadi … menjabat sebagai Bupati Kabupaten

(8)

Simeulue sangat konsisten dalam menegakkan syariat Islam dalam … dan kehidupan adat istiadat di Kabupaten Simeulue.

Bahwa Pemohon sebagai warga Provinsi Aceh yang mempunyai keistimewaan dan kekhususan sebagaimana diberikan dalam Pasal 18B Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menganggap Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh telah menghambat hak konstitusional Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28D ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Seharusnya sebagai provinsi yang mempunyai hak istimewa dan hak khusus juga dapat diberlakukan hal yang sama dengan Provinsi Yogyakarta dalam hal periodisasi masa jabatan kepala daerah.

Bahwa akibat dari berlakunya Pasal a quo telah membuat Pemohon terdiskriminasi dengan ketentuan tersebut, sedangkan Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 berbunyi sebagai berikut, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”

Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas maka jelas keberadaan Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 28D ayat (1) dan ayat (3), Pasal 28I ayat (2) sehingga dengan demikian ketentuan Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat atau setidak-tidaknya berlaku bersyarat dengan dimaknai sebagai gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota memegang jabatan selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama.

Petitum. Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Pemohon mohon kepada Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut.

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik

… Berita Acara Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya atau konstitusional bersyarat.

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai sebagai gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota memegang jabatan selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama.

(9)

3. Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota memegang jabatan selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama.

4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya, atau apabila Mahkamah Kosntitusi berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya.

Demikian, Majelis Hakim yang terhormat. Terima kasih. 5. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik, terima kasih.

Sesuai dengan ketentuan beracara di Mahkamah Konstitusi, Majelis Panel mempunyai kewajiban untuk menyampaikan beberapa hal yang terakit dengan permohonan Pemohon. Bisa nanti dijadikan alasan untuk bahan perbaikan.

Silakan, Yang Mulia, Pak Aswanto. 6. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Terima kasih, Yang Mulia, Ketua.

Saudara Pemohon, ya. Pertama, ini permohonan Saudara sebenarnya sangat … apa, ya … kami bisa setelah membaca sekali saja kami sudah menangkap apa maunya, gitu kan. Tinggal Saudara mempertajam bagain-bagian tertentu, ya. Karena ada beberapa bagian yang Saudara hanya menjelaskan secara garis besar, tapi sebenarnya lebih detail kita-kita menginginkan agar bisa lebih detail, sehingga kita betul-betul bisa memberikan penilaian yang obyektif, apakah memang seperti itu.

Misalnya, Anda selalu mengulang berkali-kali Saudara menjelaskan bahwa Aceh dengan Yogyakarta itu sama, padahal sebenarnya pemilihan gubernur di Aceh dengan Yogya itu tidak sama. Kalau Yogya kan penunjukan, kemudian Yogya sekalipun penunjukan itu tetap menggunakan atau berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah, sementara Aceh kan ada undang-undang tersendiri. Nah, ini yang harus secara obyektif Saudara mengurai bahwa kesamaannya itu di mana, gitu. Bahwa dia sama-sama ada khususnya, ada perlakuan khusus, oke. Tapi, dalam kaitannya dengan soal pemilihan itu tidak sama, beda. Aceh pemilihan secara langsung menggunakan undang-undang khusus tentang Pemerintahan Aceh, Yogya, penunjukan langsung menggunakan undang-undang pemerintahan daerah. Nah, itu sekedar apa … sekedar contoh yang perlu dipertajam lagi, gitu.

(10)

Nah, yang berikutnya ini … saya mulai dari ini, soal kewenangan Mahkamah saya kira sudah kita tangkap bahwa yang Saudara minta diuji adalah undang-undang dan memang merupakan kewenangan Mahkamah untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945, oke.

Selanjutnya mengenai legal standing. Nah, di legal standing ini perlu Saudara melakukan banyak elaborasi sehingga Mahkamah bisa yakin bahwa Pemohon ini betul-betul memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan. Di kalimat awal permohonan Saudara, Saudara mengutip Pasal 51 ayat (1), ya, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003, tapi di bagian lain ketika Saudara menulis Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Saudara sudah menulis undang-undang yang baru, ya, sebagai perubahan dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 itu perlu ada konsistensi cara penulisannya sehingga tidak menimbulkan pertanyaan. Yang dimaksud ini 24 Tahun 2003 atau mana? Gitu. Saudara lihat di halaman 3, ya. Bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi serta penjelasannya, di depan Saudara sudah menulis bahwa undang-undang apa … di halaman 2 Saudara sudah menulis Undang-Undang Nomor 24 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011, gitu ya, sehingga ke belakang mestinya tetap konsisten seperti itu.

Nah, pada bagian legal standing ini Saudara harus apa … meyakinkan kita bahwa memang di Pasal 3 Saudara sudah menyampaikan agar bisa diberi kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan atau legal standing, Saudara sudah mengutip juga ini adanya hak atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Nah, kemudian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh Pemohon dianggap dirugikan dengan berlakunya norma yang diuji, dan seterusnya ya.

Nah, bagi kami Mahkamah Konstitusi bukan ini yang bisa meyakinkan kami, tetapi apakah norma yang diuji itu betul-betul sudah memenuhi persyaratan ini, gitu, persyaratan Pasal 51 itu. Nah, untuk meyakinkan Mahkamah ini, ini payungnya ini, untuk meyakinkan Mahkamah apakah di dalam permohonan atau isi permohonan Saudara sudah memenuhi persyaratan ini, itu yang harus diurai lebih komprehensif. Apakah betul Pemohon mengalami kerugian konstitusional kalau masa jabatan gubernur itu 5 tahun pertama dan hanya bisa diperpanjang satu kali periode lagi, apa kerugiannya? Apa kerugian konstitusionalnya? Ini yang perlu dielaborasi secara komprehensif. Kemudian apakah kerugian yang dialami atau potensi kerugian yang dialami oleh Pemohon ketika norma itu dihilangkan itu menjadi hilang kerugian atau potensi kerugiannya. Itu yang coba Saudara elaborasi lebih komprehensif sehingga kita bisa menangkap, “Oh, benar norma ini.” … ya, mestinya tadi Saudara sudah uraikan beberapa kelompok

(11)

masyarakat masih menginginkan pak gubernur yang sekarang untuk menjadi gubernur periode ketiga, atau memasuki tahun ke-11, gitu?

Nah, coba Saudara bangun teori di situ, bangun teori bahwa sebenarnya gubernur itu adalah pemimpin yang diinginkan oleh masyarakat, ya tentu kalau ada gubernur yang sudah dua periode lalu masyarakat masih meminta, ya, mungkin karena dia betul-betul menjalankan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat. Nah, ini yang … karena pembatasan dua periode kan itu bukan hanya gubernur, bupati juga begitu, Mahkamah Konstitusi juga begitu, gubernur daerah lain juga begitu, presiden juga begitu. Nah, ini yang Saudara harus bantu kami untuk memahami bahwa jangan-jangan norma yang lain itu yang enggak benar, ini yang Saudara usulkan yang benar, gitu. Terserah masyarakat dia mau sepuluh periode atau mau apa karena intinya pemilihan itu adalah agar pemimpin yang menjadi pemimpin itu adalah yang diinginkan masyarakat mestinya tidak perlu ada pembatasan, ya, terserah masyarakat dia mau tiga periode, empat periode. Nah, ini tolong Saudara bantu kita, Saudara bantu kami untuk kami meyak … bisa meyakini, “Oh ya benar ini, benar ini yang didalilkan oleh Pemohon dan memang ini kalau dibatasi melanggar hak konstitusi warga negara.” Gitu. Nah, ini yang belum nampak, ini yang belum nampak, sehingga perlu Saudara melakukan perbaikan.

Lalu kemudian, ada yang di bagian, coba Saudara lihat di halaman 5. Ya, saya bisa menangkap apa yang Saudara maksud di halaman 5 poin tiga itu, cuma kalau kita baca sepintas itu maknanya menjadi bisa multitafsir, gitu. Saya bacakan bahwa Penyelengga Pemilihan Kepala Daerah di Aceh mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Koma, bukan titik. Hal ini juga berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi Sultan dan Paku Alam secara langsung menjadi gubernur dan wakil gubernur, ini apa namanya … ini agak susah ditangkap, apa sebenarnya yang Saudara maksud? Apakah Saudara ingin mengatakan bahwa ini bisa banyak tafsir, orang bisa menafsirkan bahwa oh, ternyata Yogya juga menggunakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006. Padahal sebenarnya kan bukan itu yang Saudara maksud, yang Saudara maksud adalah Sultan dan Paku Alam itu juga sekaligus menjadi gubernur gitu, ya kan begitu. Itu yang Saudara maksud. Nah, apakah memang seperti itu, gitu? Karena di Yogyakarta itu kan penunjukan, siapa yang menunjuk? Nah, itu yang perlu Saudara apa … coba diformulasi ulang sehingga tidak multitafsir.

Dan yang terakhir dari saya di bagian petitum, ini petitum Saudara, oh, maaf ada catatan tadi dari Panitera Pengganti untuk itu, ini Pasal 24C, coba Saudara lihat di Pasal di … di … apa … di Kewenangan Mahkamah, ya? Cuma nanti di … diperiksa ulang, ya? Pasal 24C ayat (1) huruf a, ya di pasal itu mestinya enggak ada huruf a, ya mungkin, ya ini kebiasaan kita kan me-copy-copy, pindah copy … copy … copy pindah akhirnya, saya yakin bukan karena Saudara tidak paham itu pasti karena

(12)

ada kesalahan teknis, nanti dibetulkan saja, ya? Karena ini catatan Panitera Pengganti kami bahwa Pasal 24C ayat (1) enggak ada huruf a nya, ya? Nanti dibetulkan.

Yang terakhir, ada yang terakhir saya tanyakan, saya tidak masuk ke petitum, nanti, Yang Mulia, ya. Tadi, Anda me … menguraikan bahwa ada kesepakatan Helsinki bahwa akan dibentuk apa … komisi … komisi klaim, ya? Dan sampai sekarang belum terbentuk, ya? Nah, ini perlu juga kami terus terang saya sendiri saya tidak paham itu, ya kalau komisinya saya paham, tetapi apa yang menjadi kewenangan komisi itu, mungkin nanti Saudara bisa urai, apakah tadi Saudara sudah menjelaskan sebenarnya kalau ada hal-hal yang tidak dicapai kesepahaman, maka itu bisa dibawa ke komisi yang namanya komisi klaim itu. Perlu Saudara jelaskan, apakah pengujian undang-undang itu juga menjadi kewenangan komisi klaim? Karena kalau di negara kita ini kan yang punya kewenangan untuk melakukan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar kan hanya satu, hanya Mahkamah Konstitusi. Nah, nanti tolong di … di apa … dibantu kami kalau Saudara punya informasi yang lengkap mengenai itu kalau bisa dimasukkan di dalam bahwa komisi klaim itu ini, ini kewenangannya biar kita bisa melihat bahwa ya memang … apa namanya … ada aturan khusus mengenai itu sehingga, ya, ini kan persoalan pimpinan daerah itu memang saya secara pribadi juga kalau ini saya mengatakan mestinya memang, ya kasih saja rakyat yang ditentukan, bahkan kalau perlu kalau belum habis satu periode lalu rakyat menginginkan dia turun, ya diturunin saja gitu, tapi ini kan negara perlu ada tata kelolanya gitu, perlu ada tata kelolanya, nanti, Yang Mulia Pak Ketua dan Prof. Maria yang lebih paham itu, ada tata kelolanya. Kalau kita mau memberikan kebebasan sebebas-bebasnya tadi Saudara mengatakan, “Itu adalah hak asasi enggak boleh dilanggar.” Secara universal juga diakui bahwa hak asasi itu bukan kebebasan yang sebebas-bebasnya, tetapi hak asasi itu adalah kebebasan yang ada batasannya. Apa batasannya kebebasan, ya undang-undang.

Nah ini Saudara menginginkan tidak perlu ada pembatasan dua periode saja, tapi undang-undang sudah mengatakan seperti itu, Saudara mengatakan, “Oh ndak ini melanggar HAM.” Nah, tolong kami di ... dibantu lagi, bantu lagi untuk memberi pemahaman kepada kami semua bahwa benar ini melanggar HAM karena secara teori, dan berlaku secara universal hak asasi manusia itu tidak bebas-sebebasnya. Bahkan ada seorang Ahli namanya (suara tidak terdengar jelas) mengatakan, “Hakikatnya hak asasi manusia itu adalah kebebasan, tetapi kebebasan itu berakhir ketika mulai merambat ke wilayah kebebasan orang lain.”

Jadi, secara teori tidak ada negara yang punya paham bahwa hak asasi itu adalah hak absolut yang tidak bisa dibatasi. Tapi tolong, sekali lagi tolong Saudara nanti memberikan argumen di situ, sehingga kami bisa lebih yakin.

(13)

Dari saya cukup, Yang Mulia, terima kasih. 7. KETUA: ANWAR USMAN

Baik, terima kasih, Yang Mulia. Selanjutnya, Yang Mulia, Prof. Maria.

8. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI Ya, terima kasih, Pak Ketua.

Ya, membaca permohonan ini jelas terlihat bahwa ada yang diinginkan bahwa kemudian pemilihan, atau kedudukan jabatan, atau periode dari Kepala Daerah untuk Aceh itu tidak terbatas, ya. Nah ini bertumpuk pada sifat yang khusus, atau istimewa, kalau kita melihat pada Pasal 18B Undang-Undang Dasar memang dinyatakan ayat 1-nya, “Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.”

Nah kita hanya punya empat undang-undang keputusan ini, Undang-Undang Aceh, Yogyakarta, Papua, dan DKI Jaya, ya.

Nah, tapi kita bisa melihat bahwa kenapa dia khusus. Karena khusus itu ada sesuatu yang spesifik yang berbeda dengan yang lain, begitu. Nah, ini bisa kita lihat dalam konsideran dari Undang-Undang Pemerintahan Aceh sendiri, di sini huruf b mengatakan bahwa berdasarkan perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, Aceh merupakan kesatuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa, terkait salah satu karakter khas sejarah perjuangan bang ... masyarakat Aceh, yang memiliki ketahanan dan daya juang tinggi.

Yang memiliki daya tahan ... ketahanan dan daya juang tinggi. Apa yang dimaksudkan di sini? Konsideran c mengatakan bahwa ketahanan dan daya juang tinggi tersebut bersumber dan ... dari pandangan hidup dan berlandaskan syariat Islam, yang melahirkan budaya Islam yang kuat, sehingga Aceh menjadi daerah modal bagi perjuangan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di sini keistimewaan dari Aceh terletak di sini, sehingga ketahanan dan daya ... juang yang tinggi ini, yang dilandaskan dari syariat Islam ini, dianggap inilah kekhasan, inilah ke istimewaan dari Aceh. Sedangkan, kalau kita melihat dari Undang-Undang Yogyakarta, di sini lain karena di sini bukan dari syariat Islamnya tapi dari budayanya.

Di sini dalam Pasal 1 angka 4 dikatakan, “Kesulatanan Ngayuh Djakarta Diningrat, selanjutnya disebut Kesultanan adalah warisan budaya bangsa yang berlangsung secara turun-temurun dan dipimpin oleh Ngarsuwo dalam Sampean dalam Enggangsinewon Kanjeng Sultan Hamengkubuwono, Senopati Engalogo Ngabdurahman Sahidin

(14)

Panatagama Khalifatulah, selanjutnya disebut Sultan Hamengkubuwono.” Artinya Kesultanan difokuskan dikatakan istimewa karena warisan budaya yang ada itu. Kalau warisan budaya yang ada di Kasul ... Kesultanan Yogyakarta karena dulu bersifat kerajaan sehingga turun-temurun ini.

Kalau kita melihat pada otonomi khusus Papua, maka dia di sana sebelumnya malah berdasarkan pada adat, sehingga di sana kita melihat adanya Majelis Rakyat Papua di mana di dalamnya ada wakil dari perempuan, wakil dari adat, dan di sana kita bisa melihat bahwa sebetulnya kalau kita melihat dalam undang-undangnya mereka mestinya juga ada pengadilan adat tapi tidak, tapi kalau kita melihat di sini, Aceh ini sangat berbeda karena di sini dikatakan, “Penyelenggaraan pemerintah Aceh Pasal 20 ya, Undang-Undang Aceh, penyelenggaraan pemerintahan Aceh dan pemerintahaan kabupaten/kota berpedoman asas umum penyelengaraan pemerintah yang terdiri atas asas keislaman.” Enggak ada di manapun di negara ini, asas ini masuk di dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Ini suatu keistimewaan, ini kekhususan, nah kalau kita melihat kemudian akan disamakan, maka memang beda antara Kesultanan Yogyakarta, antara Papua, antara DKI, di mana nanti kemudian persentase terpilihnya … apa ... kepala daerah itu berbeda dengan daerah yang lainnya dan juga ada kekhususan dari daerah Istimewa Aceh ini, jadi kita tidak bisa menyamaratakan karena Undang-Undang Dasar juga menyatakan bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang, mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan yang bersifat khusus.

Kalau semua khusus itu dianggap sama, maka enggak ada lagi yang khusus gitu. Jadi, ini memang berbeda dengan daerah-daerah yang lain, provinsi-provinsi yang lain memang mereka bersifat umum, selama ini memang mereka tidak ada sesuatu yang ini khas gitu, enggak ada. Memang dari dulu hanya 3 sebetulnya, ya. Papua itu baru, kemudian Yogyakarta, Aceh, dan DKI Jakarta.

Nah, kalau kita melihat ini khusus minta disamakan nanti Yogya juga minta kenapa kita enggak boleh melakukan Syariat Islam? Kenapa kita enggak boleh membuat qanun-qanun seperti di Aceh? Begitu yang mengatur hal-hal yang sama dengan yang lain, ya. Jadi, di sini kita bisa melihat bahwa dari segi peraturannya pun berbeda, di sini kalau kita melihat Pasal 235 ayat (4), ya, ayat (3)-nya mengatakan, “Qanun dapat diuji oleh Mahkamah Agung sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Pasal 235 ayat (4), “Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengatur tentang Pelaksanaan Syariat Islam hanya dapat dibatalkan melalui uji materiil Mahkamah Agung”.

Tidak ada daerah lain yang boleh membuat aturan yang berdasarkan seperti ini, ini satu kekhasan yang sangat tinggi nilainya. Nah, kalau kita melihat kemudian Aceh mau nanti kepala daerahnya juga

(15)

sama seperti Yogyakarta, nanti kepala daerahnya juga harus raja di sana, begitu. Nanti di Yogyakarta juga minta bahwa kemudian boleh menjalankan Syariat Islam, perda-perdanya juga boleh, kan nanti enggak ada yang khusus lagi, tidak ada yang istimewa.

Jadi, hal-hal yang bersifat istimewa terhadap undang-undang ini memang ada keistimewaan tersendiri, sedangkan hal yang lain memang termasuk pada Undang-Undang Pemerintah Daerah.

Jadi, kita bisa melihat bahwa apakah hal ini bertentangan dengan konstitusi? Saya rasa tidak. Konstitusi juga menyatakan bahwa sesuai dengan keistimewaan dan kekhususan daerah itu sendiri. Jadi, kalau Mahkamah Konstitusi sudah mengatakan, “Kalau dua kali di tempat yang sama, tidak boleh untuk yang ketiga kali, dua kali, atau di tempat yang berbeda atau dua kali dengan peraturan yang sama … yang berbeda, bukan ada Undang-Undang Pemerintah Daerah yang lama, kemudian yang kedua.” Itu tetap oleh Mahkamah Konstitusi dianggap itu dua kali, tidak boleh ketiga kali. Kalau nanti ini kemudian boleh terus, nantikan justru bertentangan dengan undang-undang yang lainnya. Ada perbedaan antara kenapa kok di Aceh boleh, nah kekhasan inilah yang kita jaga. Sehingga, kalau kita melihat pembatasan itu bukan hal yang inkonstitusional, tapi tergantung pada daerah itu masing-masing. Kalau ada kekhususan, ada keistimewaan, maka keistimewaan itu terhadap hal-hal yang mana saja, ya.

Jadi, ini banyak kok kita melihat, nanti kalau semuanya minta, Aceh minta seperti kepala daerahnya terus seperti sultan berarti ditunjuk, nanti di Yogyakarta juga minta perda-perdanya boleh diatur sesuai syariat Islam, kemudian nanti menjadi kacau negara ini. Karena semua enggak ada lagi yang khusus, enggak ada lagi yang istimewa. Kalau kita sekarang oh kenapa Aceh begitu? Oh, qanunnya boleh menjalankan syariat Islam, ada hal-hal seperti itu. Sehingga, kita bisa melihat qanun-qanun di Aceh, kalau kita lihat pada perda-perda yang lain sama sekali berbeda.

Nah, hal-hal seperti ini sehingga kalau kita melihat di sini, putusan Mahkamah Konstitusi juga sudah mengatakan seperti itu, maka saya rasa kalau menurut saya perlu dipertimbangkan kembali, apakah permohonan ini akan dilanjutkan atau tidak? Karena Putusan Mahkamah Konstitusi sudah jelas pada waktu itu bahwa dua kali masa jabatan adalah di tempat yang sama atau di tempat yang berbeda, ataupun dengan peraturan yang berbeda dengan undang-undang yang berbeda, ya. Kecuali nanti kalau ada undang-undang baru yang kemudian Undang-Undang Pemerintahan Daerah yang baru boleh tiga kali, ya, Putusan Mahkamah Konstitusi yang harus disesuaikan, tetapi pada saat ini itulah yang berlaku. Saya rasa itu, Pak Ketua.

(16)

9. HAKIM KETUA: ANWAR USMAN Baik, terima kasih, Yang Mulia.

Jadi, itulah Pemohon beberapa masukan atau tanggapan dari permohanan Pemohon, bisa dijadikan pertimbangan apakah permohonan ini mau dilanjutkan atau bagaimana, ya tentu kembali kepada Pemohon, dengan catatan kalaupun diteruskan, ya mohon tadi yang menjadi masukan dari Para Yang Mulia, supaya mendapat perhatian, terutama terkait dengan keberadaan pasal yang diuji ini. Di mana letak kerugian konstitusional Pemohon ketika pasal ini diberlakukan atau ketika frasa dapat dipilih kembali, ya, dalam jabatan yang sama, kemudian frasa hanya untuk satu kali masa jabatan itu ditiada ... dihilangkan atau ditiadakan seperti yang tercantum dalam petitum alternatif. Jadi nanti sekali lagi, kalau ini diteruskan, ya mohon supaya dielaborasi lebih lanjut, ya kerugian konstitusional Pemohon tentang keberadaan Pasal 65 ayat (2).

Baik. Ada hal-hal yang ingin disampaikan? 10. KUASA HUKUM PEMOHON: SAFARUDDIN

Cukup, Majelis. 11. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, Baik.

Nanti ya, silakan ya dipertimbangkan masukan-masukan tadi. Untuk itu, Saudara diberi kesempatan selama 14 hari untuk memperbaiki permohonannya sampai hari Senin, tanggal 7 Maret 2016, pukul 10.00 WIB. Itu kesempatan terakhir, ya untuk menyampaikan perbaikan permohonan, sekiranya perkara ini akan dilanjutkan. Ya, kalau bisa sebelum tanggal 7 Maret itu perbaikannya sudah diserahkan ke Kepaniteraan.

(17)

Sudah jelas, ya?

Baik. Dengan demikian sidang selesai dan selanjutnya sidang ditutup.

Jakarta, 23 Februari 2016 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004 SIDANG DITUTUP PUKUL 15.15 WIB

KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian yang kedua, menyatakan ketentuan Pasal 14 ayat (1) huruf i Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945

Menyatakan Pasal 48 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang ini, dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum

Menyatakan Penjelasan Pasal 106 ayat (1) terhadap frasa menggunakan telepon bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara

Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum bertentangan dengan Pasal 22E ayat (1) dan ayat (5), Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945

Pasal 143 ayat (5) bertentangan dengan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai, ―Rancangan Undang-Undang yang telah

Menyatakan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik

Atau jika Majelis Hakim Konstitusi berpendapat dan menganggap Pasal 263 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang

Sebagai pihak dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial menurut Pasal 1 angka 19 juncto Pasal 70 ayat (2) Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan