MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 49/PUU-XIV/2016
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004
TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN
INDUSTRIAL TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
MENDENGARKAN KETERANGAN DPR, PIHAK TERKAIT,
DAN AHLI PIHAK TERKAIT
(VII)
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 49/PUU-XIV/2016 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial [Pasal 67 ayat (2)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON
1. Mustofa
2. Sahala Aritonang
ACARA
Mendengarkan Keterangan DPR, Pihak Terkait, dan Ahli Pihak Terkait (VII)
Senin, 10 Oktober 2016 Pukul 14.05 – 14.25 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Arief Hidayat (Ketua)
2) Anwar Usman (Anggota)
3) Maria Farida Indrati (Anggota)
4) Patrialis Akbar (Anggota)
5) I Dewa Gede Palguna (Anggota)
6) Wahiduddin Adams (Anggota)
7) Manahan MP Sitompul (Anggota)
8) Aswanto (Anggota)
9) Suhartoyo (Anggota)
Pihak yang Hadir:
A. Kuasa Hukum Pemohon:
1. Ahmad Fauzi 2. Nova Harmoko B. Pemerintah: 1. Mulyanto 2. Toni 3. Totok 4. Yasman 5. Heru C. Pihak Terkait: 1. Afif (GEKANAS)
D. Kuasa Hukum Pihak Terkait:
1. Victor Togi Rumahorbo (Mahkamag Agung)
2. Darmoko Yuti Witanto (Mahkamag Agung)
3. Abdul Gani (GEKANAS)
4. M. Fandrian Hadi Setianto (GEKANAS)
5. Ari Lazuardi (GEKANAS)
E. Ahli dari Pihak Terkait:
1. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Sidang dalam Perkara Nomor 49/PUU-XIV/2016 dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.
Saya cek kehadirannya. Pemohon, yang hadir siapa?
2. KUASA HUKUM PEMOHON: AHMAD FAUZI
Terima kasih, Yang Mulia. Hari ini yang hadir saya Ahmad Fauzi dan rekan saya Nova Harmoko.
3. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Dari DPR tidak hadir. Dari Pemerintah yang mewakili Presiden?
4. PEMERINTAH: MULYANTO
Assalamualaikum wr. wb., Yang Mulia. Yang hadir dari Pihak Pemerintah saya sendiri Pak Mulyanto. Kemudian, Pak Toni dari Kumham. Kemudian, Pak Heru dan Pak Totok dari Kemenaker, Pak. Ya, terima kasih, Yang Mulia.
5. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih. Dari Pihak Terkait Mahkamah Agung, ada lima yang diberi kuasa. Yang hadir siapa saja? Saya persilakan.
6. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: VICTOR TOGI RUMOHORBO
(MAHKAMAH AGUNG)
Terima kasih, Yang Mulia. Yang hadir saya sendiri Victor Togi Rumohorbo, S.H., M.H. dan rekan saya Darmoko Yuti Witanto, S.H.
7. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Kemudian, dari Pihak Terkait, ya. Kemudian … sudah dari … hari ini mendengarkan Ahli Pihak Terkait dari anu … Gekanas SPSI, ada?
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.05 WIB
8. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: M. FANDRIAN HADI SETIANTO (GEKANAS)
Assalamualaikum wr. wb. Terima kasih, Yang Mulia. Pada kesempatan kali ini, Pihak Terkait Kedua dari Gekanas yang hadir samping kiri saya Ahli Ibu Dr. Andari Yurikosari, S.H., M.H. Saya sendiri sebagai Kuasa Hukum, Muhammad Fandrian Hadi Setianto. Samping kanan saya, Kuasa Hukum, Ari Lazuardi. Samping kanan Beliau itu Bapak Abdul Gani sebagai Kuasa Hukum. Dan samping kanan Beliau itu adalah Bapak Afif selaku Prinsipal Pengurus SPKEP SPSI. Terima kasih, Yang Mulia.
9. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Semestinya kita juga akan mendengarkan keterangan DPR. Tapi karena DPR tidak hadir, maka kita … ya, dari DPR tidak bisa memberikan keterangan karena tidak hadir. Dari Pihak Terkait Mahkamah Agung, siap dengan keterangannya?
10. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: VICTOR TOGI RUMOHORBO (MAHKAMAH AGUNG)
Siap, Yang Mulia.
11. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Kalau begitu, saya persilakan … atau anu … Ahli dari Pihak Terkait SPSI dan Gekanas, saya persilakan untuk disumpah terlebih dahulu. Beragama Katholik, Bu Andari? Saya persilakan, Rohaniwan beragama Katolik, untuk mendampingi. Prof. Maria, saya mohon berkenan untuk memandu sumpahnya.
12. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI
Ya, mohon ikuti saya.
“Saya berjanji sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya. Semoga Tuhan menolong saya.”
13. AHLI BERAGAMA KATOLIK BERSUMPAH:
Saya berjanji sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya. Semoga Tuhan menolong saya.
14. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI
Terima kasih.
15. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Prof. Maria. Silakan kembali ke tempat. Agenda pertama, kita mendengarkan keterangan Pihak Terkait dari Mahkamah Agung, saya persilakan.
16. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: DARMOKO YUTI WITANTO (MAHKAMAH AGUNG)
Terima kasih, Yang Mulia, waktu yang diberikan kepada kami. Kami mencoba untuk membacakan secara tertulis keterangan dari Mahkamah Agung Republik Indonesia sebagai Pihak Terkait.
Kepada Yang Mulia Majelis Konstitusi Nomor 49/PUU-XIV/2016. Dengan hormat, yang bertanda tangan di bawah ini Dr. Ridwan Mansyur, S.H., M.H., Victor Togi Rumohorbo, S.H., M.H., Darmoko Yuti Witanto, S.H., Jimmy Maruli, S.H., M.H., Dr. Riki Perdana Raya Waruwu, S.H., M.H. Satu sampai dengan lima berkedudukan di Kantor Mahkamah Agung Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Utara Nomor 9 sampai 13, Jakarta Pusat, untuk dan atas nama Mahkamah Agung Republik Indonesia berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 173, tanggal 7 Oktober 2016. Bertindak baik sendiri-sendiri atau pun bersama-sama memberikan bantuan hukum dan mewakili pemberi kuasa dalam perkara permohonan uji materiil di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam kedudukan sebagai Pihak Terkait.
Dalam perkara permohonan pengujian undang-undang yang diajukan oleh:
1. Mustofa, S.H. (Pemohon I).
2. Sahala Aritonang, S.A., A.M., PD. (Pemohon II).
Terhadap permohonan Pemohon, dengan ini kami berikan keterangan sebagai berikut.
1. Bahwa Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 menentukan, “Masa tugas hakim ad hoc untuk jangka waktu lima tahun dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan.”
2. Bahwa pembatasan masa tugas hakim ad hoc seperti dimaksudkan bahwa berdasarkan … keberadaan hakim ad hoc PHI sama seperti hakim ad hoc lainnya, yaitu bersifat khusus dan sementara. Dalam kamus hukum lengkap oleh Rocky Marbun, S.H., M.H., dan kawan-kawan, pengertian ad hoc adalah untuk tujuan tertentu sesuatu yang diciptakan atau seseorang yang ditujukan untuk tujuan dan jangka waktu tertentu bersifat khusus dan sementara. Sedangkan dalam
kamus populer internasional oleh Budiono MA, pengertian ad hoc adalah khusus.
4. Bahwa berdasarkan pengertian tersebut, maka ad hoc diartikan sebagai sementara dan/atau khusus yang berarti tidak permanen, dan/atau tidak bersifat umum. Karena itu, apabila permohonan tersebut dikabulkan dengan mengubah Pasal 67 ayat (2) menjadi … berbunyi, ”Masa jabatan hakim ad hoc adalah jangka waktu 5 tahun dan dapat diangkat kembali setiap 5 tahun oleh Ketua Mahkamah Agung hingga mencapai batas usia pensiun hakim, yaitu 62 tahun untuk ad hoc pada pegawai negeri, dan pada 67 tahun untuk ad hoc pada Maahkamah Agung Republik Indonesia akan mengubah secara keseluruhan arti dan makna khusus, dan sementara itu yang berarti tidak ada bedanya dengan hakim pada umumnya, dan hal itu akan tidak sejalan dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 mengenai maksud diangkatnya hakim ad hoc PHI.”
5. Selain itu, berdasarkan Pasal 70 pengangkatan hakim ad hoc PHI dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, sehingga pengangkatan hakim ad hoc benar-benar hanya didasarkan pada kebutuhan dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan oleh badan peradilan. Yang berarti, apabila pada saat kebutuhan dan sumber daya tersebut telah terpenuhi, dapat saja keberadaan hakim ad hoc tidak diperlukan lagi.
6. Bahwa Mahkamah Agung memandang keberadaan hakim ad hoc PHI sebagai berikut.
a. Pada prinsipnya Mahkamah Agung memerlukan kehadiran hakim ad hoc PHI sesuai kebutuhan.
b. Secara normatif Mahkamah Agung mengaku ... mengacu, maaf, diulang. Secara normatif Mahkamah Agung mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait hakim ad hoc PHI.
Berdasarkan keterangan di atas, Mahkamah Agung
menyampaikan pendapat sebagai berikut.
1. Pengangkatan dan pemberhentian hakim ad hoc PHI dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Perubahan pencabutan atau pernyataan tidak berlaku Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 akan menimbulkan efek panjang terkait keberadaan hakim ad hoc di bidang lainnya, beban anggaran negara, dan profesionalisme hakim.
3. Dalam praktiknya ada hambatan yang disebabkan oleh lamanya proses seleksi ulang bagi hakim ad hoc PHI. Sehingga, perlu ada penyederhanaan dengan memberikan prioritas dalam proses seleksi
periode berikutnya bagi hakim ad hoc PHI yang memiliki rekam jejak yang baik untuk menduduki kembali jabatannya.
Demikian pendapat kami, hormat kami Kuasa Hukum Mahkamah Agung ditandatangani. Terima kasih, Yang Mulia.
17. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih. Silakan duduk kembali. Berikutnya kita dengar keterangan Ahli dari Pihak Terkait II, saya persilakan, Ibu.
18. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: ANDARI YURIKOSARI (GEKANAS)
Yang Mulia, Majelis Hakim. Perkenankan saya menyampaikan keterangan Ahli dalam sebagai Ahli dari Pihak Terkait mengenai permohonan pengujian Pasal 67 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Perselisihan Hubungan Industrial terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Yang pertama, mengenai kedudukan hukum (legal standing) dari Pihak Pemohon. Kedudukan hukum (legal standing) dari Pihak Pemohon pada permohonan pengujian diajukan kepada MK atau Mahkamah Konstitusi menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 006/PUU-III/1995 juncto Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 bahwa pengajuan permohonan ke Mahkamah Konstitusi harus didasari adanya kerugian konstitusional, yaitu adanya hak konstitusional Pemohon yang dirugikan terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan berdasarkan undang-undang yang diajukan permohonan pengujiannya. Dan dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian konstitusional dapat dihindari.
Permohonan yang diajukan dalam hal adanya kerugian konstitusional terhadap Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 terhadap pelaksanaan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial menurut Ahli tidak berdasar karena Pasal 24 mengatur mengenai kekuasaan kehakiman yang diatur dalam undang-undang.
Pengertian pasal ini menurut Ahli adalah mengatur mengenai bagaiamana kekuasaan kehakiman sebagai badan judikatif yang berada dalam ruang lingkup Mahkamah Agung. Pemohon adalah hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial yang diangkat secara khusus, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 yang merupakan penjelmaan dari sistem keterwakilan dari para pihak dalam hubungan kerja, yaitu wakil dari pengusaha dan wakil dari pihak pekerja. Hakim ad hoc adalah bukan hakim karir, yang menurut sifat dan kepentingannya merupakan hakim khusus yang diangkat sesuai dengan bidang keahliannya. Berbeda dengan hakim ad hoc pada Pengadilan Pajak misalnya, hakim ad hoc pada hubungan industrial maupun pada
Mahkamah Agung dalam perkara Hubungan Industrial merupakan hakim yang penempatannya diajukan oleh para pihak sebagai suatu keterwakilan dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Amanat penyelesaian perselisihan hubungan industrial adalah penyelesaian perselisihan oleh para pihak, yaitu dimulai dengan perlindungan bipartite di antara pihak pengusaha/serikat pekerja maupun pihak … pihak pekerja/serikat pekerja maupun pihak pengusaha yang apabila tidak dapat diselesaikan melalui perundingan bipartite, maka dapat diselesaikan dengan cara lain melalui mediasi, konsiliasi atau arbitrase, maupun melalui jalur Pengadilan Hubungan Industrial.
Sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, maka cita-cita para pihak untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial sesuai dengan penyelesaian yang dilakukan para pihak dengan dibantu oleh juru pemisah seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang penyelesaian perselisihan perburuan dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuan pada perusahaan swasta tetap berlanjut.
Keberatan para pihak bahwa penyelesaian perselisihan perburuan dapat digugat di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara, yaitu dengan permohonan … pengajuan permohonan banding administratif, berdasarkan putusan panitia penyelesaian perselisihan perburuan di tingkat daerah P4D dan panitia penyelesaian perburuan di tingkat pusat P4P dapat ditiadakan.
Putusan yang dikeluarkan P4D dan P4P dianggap merupakan putusan yang dikeluarkan oleh pejabat administrasi negara dalam hal ini juru pemisah yang merupakan pegawai negeri sipil di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada waktu itu sehingga dapat digugat pada pengadilan tinggi tata usaha negara.
Adanya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial mencerminkan adanya kebebasan para pihak untuk menentukan sendiri bagaimana penyelesaian bersifat win win solution bagi kedua pihak karena diselesaikan sendiri oleh para pihak dan oleh para penengah pada sistem penyelesaian nonlitigasi dalam hal ini oleh mediator, konsiliator, dan arbiter maupun oleh hakim pada Pengadilan Hubungan Industrial yang menyelesaikan persidangan berdasarkan hukum acara perdata yang bersifat khusus yang membedakannya dengan sistem penyelesaian dalam persidangan berdasarkan hukum acara perdata pada umumnya. Antara lain tidak mengenal sistem banding dan para pihak yang tidak puas pada penyelesaian tingkat pertama pada pengadilan hubungan industrial dapat melanjutkan langsung kasasi pada tingkat Mahkamah Agung.
Perbedaan sistem penyelesaian dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial menyebabkan secara sistem berbeda pula dalam hal beberapa penyelesaian seperti adanya upah proses yang dapat dimintakan dalam putusan sela dalam perselisihan pemutusan hubungan kerja, persyaratan bahwa gugatan pada pengadilan hubungan industrial hanya dapat diajukan apabila telah ada bukti anjuran mediator dimana salah satu pihak keberatan atau tidak melaksanakan anjuran mediator tersebut jelas menggambarkan bahwa kedudukan hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial bersifat khusus yang mencerminkan adanya keterwakilan para pihak dalam hubungan industrial.
Berdasarkan Pasal 1 angka 25 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, hubungan industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Berbeda dengan pengertian hubungan kerja yaitu hubungan yang terbit oleh karena adanya perjanjian kerja yang diamanatkan oleh undang-undang … Pasal 50 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Hubungan industrial mencerminkan hubungan antara para pihak yaitu pihak pekerja dan pihak pengusaha yang mengikutsertakan campur-tangan negara dalam setiap penyelesaian perselisihan. Penyelisihan perselisihan melalui pengadilan hubungan industrial pun dalam hal ini digambarkan sebagai penyelesaian para pihak melalui sistem keterwakilan hakim ad hoc sehingga peran negara dalam hal ini tetap ada yaitu oleh karena penyelesaian dilakukan juga dengan hakim karier yang mewakili unsur perwakilan negara dalam hal ini.
Mengenai kerugian konstitusional yang diajukan pihak Pemohon berdasarkan Pasal 27 ayat (1), ayat (2), serta Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menurut ahli juga tidak memenuhi kerugian konstitusionalnya. Oleh karena Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengatur mengenai persamaan hak dan kedudukan di hadapan hukum serta hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Secara yuridis dalam persidangan, peran dan kedudukan hakim ad hoc dalam persidangan hubungan industrial adalah sama, tidak ada yang membedakan kedudukan di dalam persidangan antara hakim ad hoc dan hakim karier dalam pengambilan putusan sehingga menurut ahli tidak ada pelanggaran mengenai persamaan hak dan kedudukan di hadapan hukum.
Melihat atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, secara yuridis kedudukan hakim ad hoc juga tidak bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 karena hakim ad hoc
menurut Ahli merupakan profesi khusus yang melalui prosedur rekrutmen dan masa tugasnya telah ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Hakim ad hoc secara status memang berbeda dengan hakim karier yang sejak diangkat di lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung, hakim karier adalah pegawai negeri sipil yang secara yuridis tunduk pada Undang-Undang tentang Kepegawaian yang sekarang berlaku adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Hakim karier termasuk dalam pengertian salah satu pegawai pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tersebut. Namun hakim ad hoc tidak termasuk dalam pengertian aparatur sipil negara karena sifatnya yang khusus tersebut. Aparatur sipil negara hanya terdiri dari pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.
Hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial yang sifatnya khusus memang diangkat oleh keputusan presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung. Namun secara status memang berbeda dengan status hakim karier yang merupakan PNS di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM, hakim ad hoc bersifat khusus yang juga mengetahui dan memahami bahwa kedudukannya pada pengadilan hubungan industrial berdasarkan pencalonan dari serikat pekerja dan serikat pengusaha yang kedudukannya dapat saja ditarik kembali oleh serikat pekerja dan serikat pengusaha dengan masa jabatan yang dibatasi dan kalau pun diperpanjang kembali masa tugasnya tetap saja tergantung kepada rekomendasi serikat pekerja dan serikat pengusaha masing-masing.
Bahwasanya sejak diangkat menjadi hakim ad hoc, maka pekerjaan lain yang semula dimiliki hakim ad hoc harus diakhiri pun sudah diketahui oleh apara hakim ad hoc. Bahwa hakim ad hoc hanya mempunyai masa jabatan tertentu yang dapat berakhir termasuk apabila tidak mendadpaat rekomendasi kembali dari serikat pekerja dan serikat pengusaha.
Secara konstitusional hak-hak para hakim ad hoc tidak diabaikan dan tidak terjadi kerugian berdasarkan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 khusunya Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2) mengenai Pasal 28D Undang-Undang Dasar Tahun 1945, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.”
Menurut Ahli, hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial tidak terikat hubungan kerja namun menduduki jabatan berdasarkan keputusan hubungan presiden. Hubungan kerja adalah hubungan antara pekerja dan pemberi kerja yang dilandasi oleh perjanjian kerja dan dengan demikian tunduk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengenal cara berakhirnya hubungan
yaitu mendasarkan pada perjanjian kerja dan cara berakhirnya pun tidak memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketengakerjaan yang mendasarkan pada pekerja meninggal dunia, putusan pengadilan, pemutusan hubungan kerja, dan karena berakhirnya waktu kerja.
Sedangkan menurut Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, “Hakim ad hoc diberhentikan dari jabatannya karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri, sakit jasmani atau rohani secara terus-menerus selama 12 bulan, telah berumur 62 tahun untuk Hakim Pengadilan Hubungan Industrial, tidak cakap menjalankan tugas, dan atas permintaan organisasi serikat pekerja/serikat buruh dan serikat pengusaha yang mengusulkan, dan telah selesai masa tugasnya.”
II. Mengenai kedudukan hukum legal standing dari Pihak Terkait. Kedudukan hukum legal standing dari Pihak Terkait sebagai wakil dari serikat pekerja adalah memenuhi oleh karena berdasarkan Pasal 14 ayat (2) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 6/PMK/2005 tentang pedoman beracara dalam perkara pengujian undang-undang merupakan Pihak Terkait yang berkepentingan langsung dan terpengaruh dengan pokok permohonan. Kedudukan Pihak Terkait dalam hal ini adalah wakil dari serikat pekerja yang secara yuridis akan dirugikan apabila permohonan para pihak tersebut dikabulkan oleh Yang Mulia Hakim Mahkamah Konstitusi. Oleh karena dengan permohonan hakim ad hoc menjadi hakim permanen seperti hakim karier tidak mewakili lagi kepentingan serikat pekerja yang meletakkan hakim ad hoc pada Pengadilan Hubungan Industrial sebagai wakil dari serikat pekerja.
Ada pun keberadaan pihak terkait yaitu Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia FS … SPKEP SPSI, Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSPLEMSPSI), Federasi Serikat Pekerja Tekstil Sandang Kulit (FSPTSK), menurut Ahli, secara yuridis sudah memenuhi ketentuan sebagai Pihak Terkait.
Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja Pasal 1 angka 4, “Federasi serikat pekerja adalah gabungan dari serikat pekerja/serikat buruh.” Federasi serikat pekerja merupakan gabungan serikat pekerja yang ruang lingkupnya mewakili serikat pekerja secara umum yang berada dalam federasinya.
Menurut Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja, “Serikat pekerja, atau buruh, federasi, dan konfederasinya bertujuan memberikan perlindungan, pembelaan hak, dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/buruh dan keluarganya.”
Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja juga memberikan pengertian bahwa konfederasi serikat pekerja adalah sebagai pihak dalam penyelesaian perselisihan hubungan
industrial. Sebagai pihak dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial menurut Pasal 1 angka 19 juncto Pasal 70 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan hubungan Industrial, hakim ad hoc adalah hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial dan hakim ad hoc pada Mahkamah Agung yang pengangkatannya atas usul serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi pengusaha serta untuk pertama kalinya hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial pada pengadilan negeri paling sedikit 5 orang dari serikat pekerja dan 5 orang dari serikat pengusaha dan oleh karenanya Pihak Terkait dalam hal pengajuan permohonan ini mempunyai kepentingan.
Dengan permohonan Pemohon karena kedudukan hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial memang merupakan usulan serikat pekerja dan apabila permohonan Pemohon bahwa kedudukan hakim ad hoc menjadi sama seperti hakim karier, maka kedudukan hakim ad hoc tidak lagi mewakili serikat pekerja dan oleh karenanya merugikan serikat pekerja secara konstitusional karena tidak tercermin mengenai usulan dan keterwakilan serikat pekerja yang secara filosofis adalah akar dari sistem hubungan industrial yang menghendaki kedudukan para pihak dalam hubungan kerja dilindungi oleh negara, dalam hal terjadi perselisihan hubungan industrial.
III. Mengenai permohonan yang diajukan oleh Pihak Pemohon. Menurut Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, hakim ad hoc diberhentikan dari jabatannya karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri, sakit jasmani atau rohani secara terus-menerus selama 12 bulan, telah berumur 62 tahun untuk hakim pengadilan hubungan industrial, tidak cakap menjalankan tugas atas permintaan organisasi, serikat pekerja/serikat buruh dan serikat pengusaha yang mengusulkan, dan telah selesai masa tugasnya.
Status hakim ad hoc menurut Ahli, secara yuridis berdasarkan peraturan perundang-undangan memang berdasarkan usulan organisasi serikat pekerja/serikat buruh dan serikat pengusaha. Mengenai masa jabatan hakim menurut Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial bahwa masa tugas hakim untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu masa jabatan, jelas menggambarkan bahwa sifat hakim ad hoc adalah bersifat khusus, sama seperti pada pengadilan lainnya yang menggunakan hakim ad hoc.
Namun, secara khusus menggambarkan bahwa hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial adalah hakim yang mewakili para pihak yang berselisih, yaitu pihak pekerja dan pihak pengusaha seperti yang disebutkan dalam Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2
Mengenai adanya kerugian konstitusional seperti yang dimohonkan hakim ad hoc pada permohonan dalam perkara permohonan Nomor 49/PUU-XVI/2016, Ahli tidak sependapat dengan hal tersebut. Kerugian konstitusional bersifat kerugian yang menggambarkan adanya hubungan sebab akibat antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji. Secara yuridis, para pihak Pemohon yang merupakan hakim ad hoc justru dilindungi hak-haknya berdasarkan Pasal 67 ayat (1) dan Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial sebab keberadaan hakim ad hoc sangat dihormati dan berakhir jabatan pun diatur secara tersendiri. Hakim ad hoc yang diangkat dan kemudian bekerja pada pengadilan negeri, pada pengadilan hubungan industrial, dan Mahkamah Agung merupakan penghargaan dan penghormatan terhadap keahlian para hakim ad hoc dari mereka yang diwakilinya, yaitu serikat pekerja dan serikat pengusaha yang dengan demikian diharapkan mewakili suara para pihak yang berkepentingan dalam perselisihan hubungan industrial tersebut.
Hakim ad hoc juga menjalani proses rekrutmen hakim ad hoc yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dan dengan demikian hakim ad hoc adalah hakim terpilih yang memenuhi kualifikasi dan berdasarkan keahliannya. Hakim ad hoc keberadaannya berdasarkan Pasal 67 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial sangat dilindungi karena keberadaan hakim ad hoc hanya dapat diakhiri dengan hal-hal yang diatur dalam pasal tersebut, kecuali hakim ad hoc melakukan perbuatan pidana yang dapat diberhentikan sesuai ketentuan Pasal 68 dan Pasal 69 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
Apabila permohonan Pemohon dikabulkan, maka kedudukan hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial tidak sesuai lagi dengan jiwa penempatan hakim ad hoc yang sifatnya khusus dan merupakan bentuk penghargaan terhadap jabatan tersebut, sekaligus membuat sistem keterwakilan dari jiwa dan filosofi penyelesaian perselisihan hubungan industrial menjadi hilang maknanya dan pada akhirnya pihak yang berkepentingan, dalam hal ini serikat pekerja dan serikat pengusaha, tidak lagi diwakili kepentingannya dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui pengadilan hubungan industrial dan Mahkamah Agung.
Hakim ad hoc yang disamakan secara berakhir kedudukannya sebagai hakim ad hoc dengan hakim karier yang merupakan hakim yang berstatus pengadilan ... pegawai negeri sipil, maaf, juga bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 mengenai Aparatur Sipil Negara karena menurut Pasal 1 angka 2, “Pegawai aparatur sipil negara yang selanjutnya disebut pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh
pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.”
Hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial, jelas bukan pegawai negeri sipil dan juga bukan pegawai dengan perjanjian ... pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja oleh karena diangkat dan dipilih dengan prosedur rekrutmen khusus, hakim ad hoc pengadilan hubungan industrial yang berbeda dengan proses rekrutmen dan pengangkatan hakim karier yang tunduk pada undang-undang tentang Aparatur Sipil Negara.
Berdasarkan hal tersebut karenanya berakhirnya kedudukan hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial dan Mahkamah Agung pada perkara penyelesaian perselisihan hubungan industrial juga berbeda. Hakim karier dapat mengakhiri masa jabatannya sesuai usia pensiun menurut ketentuan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, sedangkan hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial, masa jabatannya berakhir sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial pada Pasal 67 ayat (1) dan ayat (2).
Hakim ad hoc tidak dapat menerima pensiun seperti layaknya hakim karier sebagai pegawai negeri sipil yang ruang gaji dan masa pensiunnya diatur oleh Undang-Undang Aparatur Sipil Negara karena hakim ad hoc dalam hal berakhirnya kedudukannya sebagai hakim ad hoc diberikan tunjangan berakhirnya ... berakhirnya kedudukan hakim ad hoc bukan berupa uang pensiun.
Perbedaan dalam hal tersebut tidak menggambarkan kerugian konstitusional oleh karena sifat dan nilai filosofis hakim ad hoc memang berbeda dengan hakim karier. Perlindungan terhadap keberadaan hakim ad hoc juga sangat ditentukan oleh sistem keterwakilan, baik oleh Serikat Pekerja maupun Serikat Pengusaha dan oleh karenanya kalaupun hakim ad hoc diganti sebelum masa jabatannya berakhir oleh para pihak yang mengusulkan, dalam hal ini Serikat Pekerja dan Serikat Pengusaha, hal tersebut pun sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang memang hanya pihak Serikat Pekerja dan Serikat Pengusaha yang dapat menarik kedudukan kembali hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial kecuali pemberhentian oleh negara karena hakim ad hoc melakukan perbuatan pidana.
Hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial berdasarkan Pasal 67 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial juga mengetahui bahwa berakhirnya kedudukan mereka pada pengadilan hubungan industrial dan Mahkamah Agung berdasarkan aturan perundang-undangan bersifat sementara dan tergantung pada rekomendasi pihak
sehingga para pihak sudah mengetahui bahwa ada pekerjaan terdahulu hakim ad hoc yang harus diputuskan setelah menjadi hakim ad hoc dan jaminan mengenai kepastian hukum untuk bekerja sebagai hakim ad hoc hanya sebatas masa tugasnya dan perpanjangan masa tugas jika diperlukan.
Bahwa perlindungan terhadap hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak yang mencerminkan adanya perlindungan negara terhadap para pekerja, berdasarkan Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 28D Undang-Undang Dasar Tahun 1945 adalah secara filosofis negara melindungi kepentingan para pekerja terhadap kesewenang-wenangan atas hak dan pekerjaan yang layak. Dan bahwa jaminan kepastian bekerja adalah sesuai dengan batas waktu yang diberlakukan bagi pekerjaan yang bersangkutan sehingga pelanggaran terhadap undang-undang yang secara inkonstitusional berdampak pada tidak adanya perlindungan dan kepastian hukum dalam bekerja adalah yang dilindungi Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Sementara hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial jelas dilindungi hak-haknya dalam hal berakhirnya kedudukan hakim ad hoc berdasarkan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dan tidak sama dengan berdasarkan berakhirnya kedudukan hakim karier sebagai hakim berstatus pegawai negeri sipil yang tunduk pada Undang-Undang Aparatur Sipil Negara Nomor 5 Tahun 2014. Demikian, Majelis Yang Mulia, keterangan saya. Terima kasih.
19. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih, Bu Andari. Silakan duduk. Berikutnya dari Pihak Terkait yang mengajukan Ahli Bu Andari, ada yang akan dimintakan penjelasan lebih lanjut atau mintakan klarifikasi atau tidak? Silakan.
20. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: M. FANDRIAN HADI SETIANTO (GEKANAS)
Ada, Yang Mulia.
21. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Silakan.
22. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: M. FANDRIAN HADI SETIANTO (GEKANAS)
Mohon izin, terima kasih, Yang Mulia. Pertama kepada Saudara Ahli, ingin menegaskan saja bahwa tadi berdasarkan keterangan Ahli
yang telah dibicarakan ... telah disampaikan secara tertulis dan secara lisan, bagaimana pandangan Ahli mengenai dasar filosofi daripada keberadaan masing-masing unsur hakim pada PHI, khususnya hakim ad hoc? Satu.
Kedua adalah bagaimana menurut Ahli ... bagaimana Ahli memandang alasan mendasar adanya periodisasi masa jabat hakim ad hoc PHI, yaitu selama 5 tahun dan dapat diangkat pada satu kali masa jabatan?
Yang ketiga dan terakhir, bagaimana menurut Ahli melihat bahwa pemilihan hakim ad hoc PHI pada periode kali kedua dapat dilakukan langsung tanpa rekomendasi dari Serikat Pekerja, Serikat Buruh atau Organisasi Pengusaha? Demikian, Yang Mulia, terima kasih.
23. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih. Pemohon, ada?
24. KUASA HUKUM PEMOHON: AHMAD FAUZI
Cukup, Yang Mulia.
25. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Cukup. Dari Pemerintah?
26. PEMERINTAH: MULYANTO
Cukup, Yang Mulia.
27. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Dari meja Hakim? Ada dari ... silakan, Yang Mulia.
28. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL
Terima kasih, Yang Mulia. Kepada Ahli, hanya barangkali sedikit untuk menggambarkan ini tadi menyatakan sesuatu keterwakilan dari hakim ad hoc itu, baik dari Organisasi Pekerja maupun Organisasi Pengusaha. Ibu tadi sudah menguraikan sejarahnya itu harusnya adalah menggambarkan adanya tripartit tadi, ya.
Nah, saya mau bertanya apakah di dalam mengusulkan mereka-mereka yang mau dijadikan hakim ad hoc itu, apakah ada kriteria tertentu dari ... baik dari Organisasi Pekerja maupun Organisasi Pengusaha, apakah mereka-mereka ini yang memang betul-betul punya
apakah mereka harus mempunyai kedudukan yang tertentu di dalam organisasi itu sehingga dia layak untuk dipilih atau direkomendasikan untuk menjadi hakim ad hoc.
Terus kemudian lagi, apakah bukti dari keterikatan dari mereka-mereka yang sudah diangkat jadi hakim ad hoc itu terhadap organisasinya masing-masing? Apakah keterikatan itu dalam bentuk apa kira-kira menurut Ahli? Apakah itu dia misalnya masih tetap dianggap sebagai anggota luar biasa atau sebagai penasihat, sehingga ada misalnya hak ataupun kewajiban dia terhadap organisasi yang mengutusnya? Itu satu.
Kemudian, tadi memang ada hubunganya dengan apa yang mau dipertanyakan tadi Pihak Terkait, ya. Bagaimana tanggapan Ahli bilamana dalam undang-undang ini diatur bahwa perpanjangan masa jabatan untuk lima tahun kedua itu organisasinya tidak diwajibkan adanya memberi rekomendasi? Undang-undang jelas mengatakan bahwa Mahkamah Agung, dalam hal ini Ketua Mahkamah Agung itu mengangkat ataupun memperpanjang masa jabatan dari hakim ad hoc itu untuk kali kedua untuk lima tahun kemudian.
Barangkali itu saja, Yang Mulia. Terima kasih.
29. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, masih ada lagi? Cukup. Saya persilakan, Ahli.
30. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: ANDARI YURIKOSARI (GEKANAS)
Terima kasih, Bapak Hakim Yang Mulia. Perkenankan saya menjawab pertanyaan dari Pihak Terkait lebih dahulu. Yang pertama pertanyaannya, bagaimana pandangan Ahli mengenai keberadaan hakim ad hoc dengan sistem keterwakilan ini? Memang seperti saya jelaskan dalam keterangan saya, setiap penyelesaian perselisihan hubungan industrial menghendaki penyelesaian itu diselesaikan oleh para pihak, bahkan sebelum diberlakukan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 itu tidak ada pengadilan seperti layaknya pengadilan hubungan industrial. Sedemikian penting peran para pihak, bahkan dalam penyelesaian tripartid, baik melalui P4D maupun P4P, itu secara sejarah memang pemerintah ikut campur, antara lain pada waktu Indonesia dalam keadaan darurat tahun 1951 berdasarkan Undang-Undang Darurat 151 itu yang menjadi juru pemisah adalah para tentara dari angkatan bersenjata. Ini diharapkan tidak menimbulkan konflik di negara, sehingga negara memandang penting yang menyelesaikan adalah para ABRI waktu itu.
Jadi kalau mengenai keberadaan hakim ad hoc, menurut saya jelas ini merupakan sistem keterwakilan karena sifatnya penyelesaian perselisihan hubungan industrial adalah penyelesaian tripartid. Artinya,
diselesaikan oleh para pihak dengan juru pemisah atau penengah yang sekarang bisa melalui nonlitigasi maupun melalui litigasi dengan keberadaan para hakim di pengadilan hubungan industrial maupun di tingkat di Mahkamah Agung.
Yang kedua, bagaimana mengenai alasan periodesasi, dimana hakim ad hoc itu lima tahun pertama diangkat berdasarkan usulan dan proses rekrutmen dan kemudian ada periodesasi kedua, yang tadi juga ditanyakan secara otomatis hakim ad hoc itu akan diperpanjang masa jabatannya untuk sekali lagi? Memang Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial mengamanatkan bahwa untuk pemilihan yang kedua hakim ad hoc dapat diangkat kembali dengan prosedur dari Mahkamah Agung tanpa minta persetujuan dari serikat pekerja maupun serikat pengusaha. Tapi saya kembali lagi kepada pasal dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ... maaf, dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Pasal 67 ayat (1) dan ayat (2) bahwa hakim ad hoc sewaktu-waktu, walaupun dia sudah diangkat kembali, dapat dimintakan pembatalannya atau atas rekomendasi serikat pekerja maupun serikat pengusaha sewaktu-waktu bisa diberhentikan menjadi hakim ad hoc karena permintaan serikat pekerja maupun permintaan serikat pengusaha terhadap hakim ad hoc yang mewakili kepentingan mereka.
Jadi menurut saya undang-undang sebenarnya sudah mengakomodasi mengenai periodisasi hakim ad hoc yang satu kali dan perpanjangan, kemudian satu kali lagi masa jabatan.
Kemudian yang ketiga, pertanyaan dari Pihak Terkait adalah bagaimana menurut Ahli pemilihan hakim yang tanpa rekomendasi? Saya kira sudah menjawab ini. Bahwa memang pada pemilihan kedua hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial tidak melalui proses rekomendasi, itu memang diatur oleh undang-undang, tetapi kembali ke Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 justru hakim ad hoc itu menurut Pasal 67 dapat dimintakan lagi, ditarik kembali istilahnya, dari kedudukannya sebagai hakim ad hoc atas permintaan para pihak yang mengajukan.
Selanjutnya, saya mencoba menjawab pertanyaan Hakim Yang Mulia Bapak Manahan Sitompul. Yang pertama, keterwakilan organisasi pengusaha dan organisasi serikat pekerja mengenai tripartid dan dalam mengusulkan hakim ad hoc apakah ada periode tertentu oleh serikat pekerja ataupun serikat pengusaha dan apakah harus mempunyai kedudukan tertentu? Sepanjang sepengetahuan saya sebagai Ahli, hakim ad hoc memang diusulkan oleh serikat pekerja maupun serikat pengusaha berdasarkan bidang keahliannya. Tidak semua hakim ad hoc mempunyai pekerjaan di serikat pekerja, misalnya ada hakim ad hoc yang merupakan dosen, hakim ad hoc yang merupakan pengusaha, mungkin, ada hakim ad hoc juga berprofesi lain, bahkan pernah juga
hakim ad hoc ada beberapa manajer di sebuah perusahaan dan dia diusulkan oleh pengusaha menjadi hakim ad hoc.
Jadi pada dasarnya, hakim ad hoc memang dipilih oleh serikat pekerja dan serikat pengusaha sebagai wakil untuk … keterwakilan mereka untuk melakukan tugasnya sebagai hakim ad hoc, baik pada pengadilan hubungan industrial maupun pada Mahkamah Agung.
Dengan demikian, tadi pertanyaan Bapak Hakim Yang Mulia yang kedua, apakah ada bukti keterikatan terhadap organisasi masing-masing? Hakim ad hoc yang diangkat berdasarkan usulan serikat pekerja (organisasi serikat pekerja) memang punya hubungan keterikatan dengan organisasi tersebut karena keberadaannya sangat tergantung kepada organisasi serikat pekerja. Sepanjang pengetahuan saya sebagai Ahli, memang kedudukan hakim ad hoc itu mempunyai hubungan komunikasi kepada serikat pekerja yang mengusulkannya.
Nah, memang cuma pada perpanjangan untuk 5 tahun kedua, memang undang-undang mengatur tidak perlu rekomendasi dari serikat pekerja untuk mencalonkan hakim ad hoc ini karena undang-undang mengatur demikian. Namun, undang-undang juga mengatur bahwa hakim ad hoc yang tidak disetujui kembali atau dengan rekomendasi dari serikat pekerja merasa perlu ditarik kembali, maka dengan sendirinya fungsi hakim ad hoc itu sangat tergantung pada serikat pekerja dan serikat pengusaha.
Demikian, Bapak Hakim Yang Mulia.
31. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Cukup? Baik, kalau begitu sudah selesai persidangan pada siang hari ini. Sebelum saya akhiri, terima kasih kepada Pihak Terkait Mahkamah Agung yang telah memenuhi undangan Mahkamah Konstitusi untuk memberikan keterangan, begitu juga terima kasih kepada Bu Andari yang telah memberikan keterangan pada persidangan kali ini.
Apakah ada yang akan disampaikan dari Pemohon?
32. KUASA HUKUM PEMOHON: AHMAD FAUZI
Cukup, Yang Mulia.
33. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Cukup. Dari Pemerintah?
34. PEMERINTAH: MULYANTO
35. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Cukup, ya. Dari Pihak Terkait juga sudah cukup, ya? Ahli?
36. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: M. FANDRIAN HADI SETIANTO (GEKANAS)
Izin sedikit, Yang Mulia.
37. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya.
38. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: M. FANDRIAN HADI SETIANTO (GEKANAS)
Pada hari Jumat kami dari Pihak Terkait kedua telah memasukkan beberapa dokumen kepada pihak Panitera di bawah. Yaitu, pertama perbaikan keterangan Pihak Terkait. Sudah? Sudah terima?
39. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Sudah.
40. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: M. FANDRIAN HADI SETIANTO (GEKANAS)
Sudah terima. Terima kasih, Yang Mulia.
41. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Kalau begitu, rangkaian persidangan dalam Perkara 49 telah selesai dan Para Pihak bisa menyerahkan kesimpulan untuk diserahkan langsung ke Kepaniteraan tanpa melalui sidang, ya. Penyerahan kesimpulan paling akhir, Selasa 18 Oktober 2016, pada pukul 10.00 WIB, ya. Baik dari Pemohon, dari Pemerintah, maupun dari Pihak Terkait, ya.
Sekali lagi, terima kasih pada Mahkamah Agung ... Pihak Mahkamah Agung yang telah memberikan keterangan dan semua Pihak. Sidang selesai dan ditutup.
Jakarta, 10 Oktober 2016 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d.
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004
SIDANG DITUTUP PUKUL 14.52 WIB KETUK PALU 3X