• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Mesir adalah sebuah Negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Di sebelah timur, Mesir berbatasan dengan Israel dan laut merah. Batas sebelah selatan adalah Sudan, sedangkan batas di sebelah barat adalah Libya. Sedangkan, Mesir di sebelah utara berbatasan dengan laut tengah. Mesir merupakan Negara Arab yang paling banyak peduduknya dari segi demografi jumlah penduduk Negara Arab yakni 74 juta orang. Hampir seluruh populasi terpusat di sepanjang Sungai Nil, terutama Iskandariyah dan Kairo, serta sepanjang Delta Nil dan terusan Suez. Hampir 90% dari populasinya adalah pemeluk agama Islam, sedangkan sisanya ialah Kristen (terutama denominasi koptik). Mesir dapat dikatakan sebagai Negara Islam, karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Di Mesir, agama (Islam) memiliki peranan besar dalam kehidupan rakyatnya. Secara resmi, adzan yang dikumandangkan lima kali sehari menjadi penentu berbagai kegiatan. Kairo juga dikenal dengan berbagai menara masjid dan gereja (2013: 48). Konstitusi Mesir berkata bahwa semua perundang-undangan harus sesuai dengan hukum Islam.Negara mengakui madhzab Hanafi lewat Kementerian Agama. Imam dilatih di sekolah keahlian dan Universitas Al-Azhar, yang memiliki komite untuk memberikan fatwa dalam masalah agama (Agastya, 2013: 45-48).

(2)

Awal mula Hasan Al-Banna mengadakan dakwah di Mesir dengan melihat aspek sosial, politik, ekonomi. Pertama aspek sosial, tercermin dalam bentuk upaya mengkaburkan kepribadian seorang muslim dengan meracuni otak dan pengetahuan para pemuda dengan nilai-nilai akhlak barat yang menghancurkan kita dan memporak-porandakan agama kita. Kemudian merusak kepribadian wanita muslim dengan upaya melepaskan agama dan akhlak dari jiwanya. Sebagai gantinya mereka menanamkan nilai-nilai akhlak yang banyak dianut oleh wanita barat yang tidak banyak peduli dengan agama, perasaan malu dan akhlak. Aspek politik, diawali dengan mengkaburkan sistem undang-undang Islam, lalu menghapuskan sistem khilafah hingga merusak segala sesuatu yang menjadi bagian dari sistem tersebut, sepanjang masih bersentuhan dengan ajaran islam. Sehingga menyebabkan banyak Undang-undang, hukum, dan etika politik Islam. Aspek ekonomi, sistem ini sudah demikian memasyarakat di dunia Islam setelah Negara-negara Barat bersatu dan berhasil merobohkan khilafah, menekan kaum muslimin, dan menjauhkan mereka dari agamanya, untuk dengan mudah menguasai dunia islam. Setelah itu merubahnya menjadi „ladang‟ bagi barat dan menjadi „pasar‟ untk menjual hasil panennya. Saat itu Mesir mengalami peristiwa-peristiwa yang membuat hati Al-Banna cemas dan mengundang rasa takut. Situasi dan kondisi Mesir seperti itu membuat Al-Banna ingin memompa semangat untuk berbuat, dan segera mengambil tindakan pembentukan dan perintisan setelah sekian lama diperhatikan dan dipelajari (Al-Jundi, 2003: 48).

Hasan Al-Banna membentuk sebuah organisasi dakwah karena melihat fenomena yang ia saksikan sendiri di Kairo, berupa munculnya tradisi permisissivisme dan jauhnya kehidupan dari akhlak Islam, -seperti juga terjadi di

(3)

berbagai tempat di negeri Mesir yang tenteram ini- berbagai berita yang dipublikasikan di berbagai surat kabar yang isinya bertentangan dengan nilai-nilai Islam, dan adanya kebodohan di kalangan masyarakat umum tentang hukum-hukum agama, maka Hasan Al-Banna berpendapat, jika hanya masjid yang digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat luas, tidaklah cukup. Maka Hasan Al-Banna berfikiran untuk membentuk sebuah kelompok untuk menyebarkan dakwah Islam ke berbagai tempat seperti di masjid-masjid, di kafe-kafe, dan ditengah masyarakat umum (Al-Banna, 2013: 62).

Setelah melihat dan memperhatikan fenomena masyarakat Mesir yang jauh dari ajaran Islam. Kehidupan masyarakat Mesir yang hanya bersenang-senang di kedai minuman, menebur kerusakan pada dirinya. Maka, Hasan Al-Banna ingin mengubah masyarakat Mesir dengan tujuan untuk merubah tradisi dan kebiasaan umat secara umum kepada sendi-sendi ke-islaman yang benar.

Hasan Al-Banna adalah salah seorang tokoh pejuang dakwah di Mesir. Ia memiliki dedikasi yang kuat dalam menjalankan tugasnya yaitu menyebarkan Islam kepada kaum muslimin. Maka dalam menyampaikan dakwahnya ia menggunakan metode dakwah berdasarkan prinsip teologi yang dipegang.

Dakwah Hasan Al-Banna adalah dakwah yang meliputi semua apa yang disebut Dakwah Islamiyah. Dakwah Islamiyah adalah dakwah yang meliputi arti yang sangat luas, bukan sekedar arti sempit yang di mengerti orang. Hasan berkeyakinan bahwa Islam adalah satu makna komplit yang mengatur semua urusan kehidupan, memberi fatwa di dalam segala segi kehidupan serta meletakkan aturan-aturan yang kokoh dan teliti atau seksama (Al-Banna, 2004: 15).

(4)

Kehidupan masyarakat muslim saat ini dakwah menjadi sebuah kebutuhan bagi para muslim yang sangat berkembang maka seorang pendakwah harus menyesuaikan apa yang akan di sampaikan kepada umat muslim. Maka dalam penyampaian dakwah seorang pendakwah tidak terlalu mengandalkan logika dan akal, kenapa demikian, karena masih banyak masyarakat awam. Sehingga dakwah dapat disampaikan dengan kisah-kisah yang menarik agar dapat diterima oleh pendengar.

Kebanyakan kaum muslim memahami dakwah sebagai upaya dalam memberikan solusi tentang kehidupan, yang meliputi ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, sains dan teknologi. Sebagai contoh dalam menyampaikan dakwahnya. Kenapa demikian, dakwah ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, sains, dan teknologi yang menjadi tema dakwah. Karena jaman sekarang kehidupan manusia masih kurang dalam memahami berbagai macam kehidupan yang sangat modern sekarang.

Seorang ulama ketika menyampaikan dakwah harus menggunakan metode sebagai acuan di dalam aktivitasnya. Yunan yusuf berkata bahwa dakwah harus dilakukan secara aktual, faktual, dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah yang kekinian yang hangat ditengah masyarakat, faktual dalam arti konkrit yang nyata, dan kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut yang sedang dihadapi oleh masyarakat (Saparta (Ed), 2003: xii)

Dakwah pada saat ini mengalami perkembangan. Hal ini terjadi karena adanya teknologi yang semakin maju, seperti adanya internet, televisi, radio, vcd, mp3, seluler/handphone, majalah, dan sebagainya. Dengan adanya teknologi ini

(5)

dapat memberikan kemudahan dalam menyampaikan informasi lebih cepat dan mendapatkan hasil yang efisien dan efektif.

Pada zaman sekarang banyak para pendakwah memanfaatkan alat teknologi informasi sebagai acuan dalam menyampaikan dakwah. Karena alat teknologi ini dapat membantu dalam memberikan informasi secara efektif dan cepat. Selain itu juga dapat menyesuaikan biaya, dan waktu dalam menyampaikan dakwah dengan hasil yang maksimal.

Islam merupakan agama yang diturunkan Allah kepada Rasulnya agar disampaikan kepada umat muslim disetiap waktu, dimanapun mereka berada dan dalam kondisi apapun. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang berpedoman pada Al-Qur‟an dan hadis yang telah memberi petunjuk dalam menyampaikan dakwah.

Sebelum menyampaikan dakwahnya Hasan Al-Banna melihat situasi dan kondisi medan dakwah. Karena apa yang Al-Banna sampaikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini senada dengan pendapat Yunan Yusuf yang mengatakan bahwa Da‟i harus mampu membaca aspek kultual dan sosiologis dan objek dakwah ( Suparta, 2003: xii)

Hasan Al-Banna berkata, yang dimaksud dengan jihad adalah sebuah kewajiban yang hukumnya tetap hingga hari kiamat (Hawwa, 1999: 168). Jihad merupakan pengingkaran dari hati dan peringkat terakhirnya adalah perang di jalan Allah. Di antara keduanya terdapat jihad dengan pena, tangan, dan lisan berupa kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zhalim. Kesimpulan dari jihad merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat muslim untuk menegakkan islam.

(6)

Hasan Al-Banna menyampaikan dakwah tidak lepas dari Al-Qur‟an dan hadist sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Al-Banna dalam berdakwah menjelaskan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, maka Al-Banna menjelaskan tentang hubungan Allah dengan manusia, hubungan manusia dengan alam semesta.

Teologi merupakan ilmu tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam dan manusia (In‟am Esha, 2008: 7). Maka dalam dakwahnya Hasan Al-Banna juga menjelaskan tentang alam dan manusia, tujuannya adalah mengajak masyarakat menuju ke ajaran Islam. Maka dakwah harus berdasarkan pada landasan-landasan ajaran Islam yang harus disampaikan kepada masyarakat. Tujuan dakwah itu sendiri yaitu mengajak umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan perintah-Nya dan larangan-Nya.

Robert Jacksin menyatakan: “di antara para tokoh, Al-Banna adalah sumber inspirasi. Di antara pemimpin ia adalah energinya. Diantara para ulama ia adalah panglima dalam berargumentasi. Di antara para filosof ia adalah rujukannya. Diantara orator ia adalah singanya dan di antara para penulis ia adalah dutanya. Pada masing-masing bidang ia muncul denan karakter yang spesifik (Abu Farsis, 2003: 154).

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian untuk menyusun skripsi dengan judul “Peran Teologi Dakwah Hasan Al-Banna Terhadap Perubahan Masyarakat di Mesir ”.

(7)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian skripsi ini dijabarkan sebagai berikut :

1. Teologi dakwah apa yang digunakan Hasan Al-Banna terhadap perubahan Mesir?

2. Bagaimana metode dakwah Hasan Al-Banna yang digunakan untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat Mesir?

3. Bagaimama perubahan sosial masyarakat di Mesir setelah datangnya dakwah Hasan Al-Banna?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini dapat diuraikan, sebagai berikut :

1. Memperkenalkan landasan teologi dakwah yang digunakan Hasan Al-Banna terhadap perubahan masyarakat Mesir.

2. Menjelaskan prinsip-prinsip metodologi yang digunakan Hasam Al-Banna dalam berdakwah.

3. Mengetahui perubahan Masyarakat Mesir pasca dakwah Hasan Al-Banna.

D. Manfaat Penelitian

Dilihat dari latar belakang diatas penulisan skripsi, maka timbul beberapa manfaat penelitian, antara lain

(8)

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini diharapkan kepada masyarakat agar dapat memberikan wawasan pengetahuan dan informasi tentang landasan teologi dan metode dakwah yang digunakan Hasan Al-Banna.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat di jadikan acuan peneliti lebih lanjut dan gambaran praktis pelaksanaan dakwah bagi masyarakat.

E. Pembatasan Masalah

Penulis pada penelitian ini membatasi masalah pada persoalan teologi Hasan Al-Banna dan pengaruhnya terhadap perubahan masyarakat di Mesir. Adapun alur pembahasan dimulai dari munculnya dakwah Hasan Al-Banna, metode dakwah Hasan Al-Banna dan perubahan sosial di Mesir.

F. Tinjauan Pustaka

Penelitian tentang Peran Teologi Dakwah Hasan Al-Banna Terhadap Perubahan Masyarakat di Mesir belum ada yang meneliti sebelumnya. Namun terdapat beberapa penelitian yang membahas tentang pemikiran, ide, dan praktik dakwah Hasan Al-Banna sebagaimana di jabarkan berikut ini:

Pertama, skripsi Siti Sani Nurhayati, IAIN Walingoso Semarang, tahun 2001 yang berjudul: Pemikiran Hasan Al-Banna tentang Graduasi Dakwah dan Aplikasinya dalam Dakwah Ikhwanul Muslimin. Skripsi tersebut menjelaskan bahwa pribadi Hasan Al-Banna sangat berpengaruh bagi Ikhwanul Muslimin,

(9)

sejak berdirinya, termasuk dalam penentuan manhadz dakwah mereka. Al-Banna berpendapat bahwa dakwah harus dilakukan secara terorganisir, ia merupakan proses yang melalui tiga tahapan yaitu; ta'rif, takwin, dan tanfidz.

Ketiga tahapan dakwah tersebut menunjukkan perhatian Hasan Al-Banna terhadap aspek-aspek manajemen dalam menyusun suatu strategi dakwah. Namun dalam pelaksanaannya ia belum berhasil secara optimal karena pelaksanaan fase tanfidz yang tergesa-gesa. Ditambah lagi belum adanya dukungan secara nyata dari organisasi sosial keagamaan yang ada.

Selain kegiatan-kegiatan dakwah secara umum, ketiga tahapan tersebut tak pernah kosong dari muatan politik. Hal ini tidak lepas dari tujuan-tujuan politik mereka yang diilhami oleh situasi perpolitikan Mesir dan Negara-negara Arab sekitarnya saat itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi dakwah dan sekaligus juga organisasi politik.

Kedua, skripsi Niam Maskuri, IAIN Walisongo Semarang tahun 1997 yang berjudul : Ide-Ide Hasan Al-Banna dalam Pembaharuan Ummat. Pada intinya penulis skripsi ini menjelaskan bahwa berangkat dari pendapat Al-Banna bahwa tujuan dakwah adalah mewujudkan tatanan masyarakat yang Islami. Dan hal ini harus dimulai dari membina individu, laludilanjutkan dengan membina keluarga yang nantinya akan menyebarluaskan fikrah dakwah. Dan itu semua dapat terlaksana bila perundang-undangan yang berlaku didasarkan pada hukum Islam.

Ketiga, skripsi, A. Hanan Masruri, Fakultas dakwah IAIN Walisongo Semarang tahun 1997 yang berjudul Konsep Hasan Al-Banna dalam Pengkaderan Ikhwanul Muslimin. Pada intinya penulis skripsi ini menjelaskan bahwa keistimewaan Ikhwanul Muslimin salah satunya adalah akselerasi (pertambahan)

(10)

kuantitas anggotanya yang diimbangi pula dari segi kualitas. Tidak hanya sebagai da'i atau mubaligh saja tetapi juga mampu sebagai mujahidin tangguh di medan perang. Hal ini dimungkinkan karena konsep pengkaderan yang diterapkan sangat menyeluruh, yakni mencakup segi jasmani dan ruhani.

Keempat, skripsi Fakhruri, IAIN Walisongo Semarang 2009, yang berjudul: Aktivitas Dakwah Hasan Al-Banna. Pada intinya penulis skripsi ini menjelaskan bahwa aktivitas dakwah Hasan Al-Banna merupakan konsolidasi ikhwanul muslimin, memperjuangkan tegaknya syari'at Islam, dan memperkokoh persatuan umat Islam. Untuk menopang kegiatan tersebut, aktivitas Hassan al-Banna dapat dilihat dari materi atau muatan dakwahnya dan metode dakwah yang digunakannya. Metode dan media dakwah yang digunakan Hasan Al-Banna. Metode dakwah Hasan Al-Banna terdiri dari: komunikatif, sistem bertahap, aksentuasi, adaptif, retoris, politis. Adapun media dakwah yang digunakan Hasan Al-Banna yaitu, buku dalam bentuk tulisan, mendirikan sekolah, mendirikan masjid, dan ceramah di berbagai statsiun televisi dan radio yang ada di Mesir. Dengan kata lain, media yang digunakan Hasan Al-Banna dalam berdakwah guna menegakkan cita-cita dan harapannya yaitu melalui organisasi Ikhwanul Muslimin seperti gedung sekolah, sejumlah rumah sakit, klinik kesehatan dan lain-lain.

Kelima, skripsi Yarsori, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2010 yang berjudul: Konsep Pemikiran Hasan Al-Banna. Pada intinya penulis skripsi ini menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan yang dibangun Hasan Al-Banna merupakan prinsip kebenaran dan yang lainnya adalah prinsip kebatilan. Kepemimpinan yang diciptakan Hasan Al-Banna adalah sehat jasmani, ruhani, adil, shaleh, jujur, cerdas, serta mempunyai kapabilitas untuk memimpin.

(11)

Kepemimpinanya adalah menggunakan sistem kelembagaan dalam metode dakwah organisasi keagamaannya yang didirikan dengan sebutan (Ikhwanul Muslimin) bertujuan untuk mengembalikan ajaran-ajaran serta hukum-hukum Islam dalam kehidupan yang berdasarkan Al-Qur‟an dan hadis sebagai salah satu spirit dan jatuhnya umat islam dari agama. Istiqamah sebagai landasan dalam perjuangan walaupun nyawa taruhannya, sehingga lahir ruh jihad yang membara untuk membina ummat Islam dengan keikhlasannya.

Keenam, skripsi Mahfud Ihsanudin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun: 2009 yang berjudul Pemikiran Politik Hasan Al-Banna dan Pengaruhnya terhadap Mesir pada tahun1928-1949 M. Pada intinya penulis ini menjelaskan bahwa Mesir mengalami kemerosotan di segala bidang, yang mengakibatkankan semakin memburuknya sistem kehidupan. Sebelum adanya dakwah hasan al-banna, aspek politik di Mesir kurang mendapat perhatian dari masyarakat islam. Bahkan kelompok keagamaan berada di luar medan kegiatan politik. Masuknya Inggris ke Mesi semakin menambah kebobrokan dan ketergantungan masyarakat kepada barat dan Eropa, dan hampir melupakan agama mereka. Kehidupan masyarakatnya sudah hampir menyerupai gaya hidup orang Eropa yang hidonis. Anak masyarakat yang menggantungksn hidupnya pada industri ataupun perusahaan milik Inggris yang dikuasai dari pihak Mesir, salah satunya adalah terusan Suez. Dari perusahaan ini lah warga Mesir banyak menggantungkan hidupnya.

G. Landasan Teori

(12)

Istilah teologi dari segi etimologi terdiri dari theos, yang berarti Tuhan dan “logos”, yang berarti ilmu. Jadi teologi yaitu ilmu tentang ketuhanan, yang membicarakan tentangtuhan dari segi sifatnya dan hubungannya dengan alam. Teologi tidak hanya berbicara tentang agama, tetapi merupakan bagian dari filsafat atau philosophical theology, atau filsafat ketuhanan. Teologi juga bisa bercorak agama sebagai suatu intellectual expression of religion, atau keterangan tentang kata-kata agama yang bersifat fikiran. Oleh karena itu untuk pembatasan lapangan dan penetapan arti kata “teologi” biasanya dibubuhi dengan qualifikasi tertentu seperti, theology yahudi, teologi Kristen, dan teologi katolik, teologi Lutheran. Teologi islam, bahkan dengan qualifikasi lebih terbatas lagi, seperti teologi apologetic (mempertahankan agama), teologi sistematik, teologi sejarah, dan sebagainya. (Hanafi, 1974: 5).

Kamus Besar Bahasa Indonesia offline 1.2 menjelaskan bahwa pengertian dari teologi yaitu pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci).

Teologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam dan manusia (In‟am, 2008). Bahwa Tuhan-Lah yang telah menciptakan langit, bumi, tumbuhan, dan manusia. Maka sebagai umat Allah harus menjaga alam semesta dengan baik.

Kebanyakan para ilmuwan menjelaskan bahwa teologi merupakan ilmu tentang Tuhan. Seperti Hasan Al-Banna yang dakwahnya menjelaskan tentang ajaran Islam yang bersumber dari Qur‟an dan as-Sunnah. Didalam Al-Qur‟an tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan saja namun juga menjelaskan

(13)

tentang sifat-sifat alam dan menjelaskan sifat itu kepada manusia, dengan maksud agar mereka bertauhid.

Tauhid yaitu pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukannya.Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidlah-menurut tuntutan islam- yang mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti (At-Timimi, 2013: 5).

Teologi dakwah Hasan Al-Banna adalah dakwah yang telah disampaikan kepada masyarakat muslim sesuai dengan prinsip-prinsip dalam Al-Qur‟an agar selalu menuju ke jalan Allah.

2. Perubahan Sosial Budaya

Penulisan skripsi ini menggunakan teori difusi. Teori difusi kebudayaan dimaknai sebagai persebaran kebudayaan yang disebabkan adanya migrasi manusia. Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain akan menularkan budaya tertentu. Hal ini semakin tampak jelas jika perpindahan manusia dilakukan secara kelompok dan/atau besar –besaran, sehingga menimbulkan difusi budaya yang luar biasa. Setiap ada persebaran kebudayaan, terjadilah penggabungan dua kebudayaan atau lebih. Kemajuan teknologi dan komunikasi, juga akan memengaruhi terjadinya difusi budaya. Keadaan ini memungkinkan kebudayaan menjadi semakin kompleks dan bersifat miltikultural. Dengan adanya penelitian difusi, segala bentuk kontak dan persebaran budaya sampai ke wilayah yang kecil-kecil akan terungkap. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kontribusi pengkajian difusi terhadap kebudayaan manusia bukan pada aspek historis budaya tersebut, melainkan

(14)

pada letak geografis budaya alam kewilayahan dunia. (Sulasman dan Gumilar, 2013: 156).

Franz Boas pada dasarnya adalah seorang ahli geografi yang hidup antara tahun 1858-1942 dan berasal dari Jerman. Tokoh yang dianggap pendekar ilmu antropologi Amerika ini banyak melakukan ekspedisi ke wilayah-wilayah pedalaman amerika dan mengumpulkan bahan etnografi yang digunakannya untuk menyusun beragam karangannya mengenai kebudayaan. Untuk menguatkan pandangan-pandangannya mengenai kebudayaan, Boas menyatakan bahwa penelitian difusi kebudayaan harus diarahkan di daerah-daerah tertentu dan segala sesuatu yang mengemuka dalam komunitas kebudayaan tertentu tersebut harus diperhatikan secara saksama dan seteliti mungkin. Model Boas ini kemudian dikenal dengan nama ‘partikularisme historis’ yang didalamnya telah melahirkan konsep-konsep baru mengenai kajian kebudayaan, seperti kulturkreis atau daerah atau lingkungan dan kulturschichten atau lapisan kebudayaan (Heddy Shry Ahimsa Putra, 2008: 12). Dalam kajian kebudayaan alam difusi Boas ini, unsur-unsur persamaan yang dimiliki oleh kebudayaan sangat diperhatikan secara cermat untuk kemudian dimasukkan dalam kategori yang disebutkan dengan dua istilah yang dikemukakan di atas. Dengan cara seperti ini, akan diketahui unsur-unsur kebudayaan yang ada dalam beragam kebudayaan dunia (ibid: 157).

H. SUMBER DATA

(15)

Objek kajian dalam penilitian ini yaitu Teologi Dakwah Hasan Al-Banna Terhadap Perubahan Masyarakat di Mesir. Data yang digunakan adalah informasi, dokumen, gambar, pernyataan yang terkait dengan penelitian sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder.

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer yaitu sumber data yang di peroleh secara langsung dari sumbernya. Berikut referensi yang menjadi bahan, antara lain: Ceramah-Ceramah Hasan Al-Banna karya Ahmad Isa „Asyur tahun 2006, Biografi Hasan Al-Banna Imam Para Da’I dan Mujadid yang Menemui Syahid karya Anwar Al-Jundi tahun 2003. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin jilid 1 karya Hasan Al-Banna tahun 1997 M. Mudzakkiratud Da’wah wad Da’iyah karya Hasan Al-Banna tahun 1394 H.Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin karya Dr. Ali Abdul Halim Mahmud tahun 1999 M. Ikhwanul Muslimin Konsep Gerakan Terpadu karya Dr. Ali Abdul Halim Mahmud tahun 1997 M. Membina Angkatan Mujadid “studi analisis atas konsep dakwah Hasan Al-Banna dalam risalah ta’alim” Karya Sa‟id Hawwa tahun 1999 M. Pergerakan Islam Terbesar Abad Ke 14 H, Karya Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil Tahun 2001. Tarbiyah Askariyah Mencetak Generasi Militan Karya Khalid Ahmad Syantut Tahun 2003 M.

(16)

Sumber data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari leteratur atau referensi-referensi dan materi yang menjadi objek pendukung penelitian. berikut ini data-data penunjang data-data pokok yang berupa buku sebagai berikut: History of the Arabs, buah karya Philip K. Hitti, penerbit Serambi Ilmu Semesta, Jakarta: 2013. Kitab Tauhid, buah karya At-Tamimi dan Syaikh Muhammad, penerbit Darul Haq, Jakarta: 2010. Teologi Al-Ghazali, buah karya H. M. Zurkani Jahja, penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2009.

I. METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan (library research) di mana data dihimpun melalui berbagai bahan bacaan yang relevan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini data yang digunakan penulis tidak berupa angka, namun data yang digunakan penulis dengan penjelasan dan berbagai uraian yang berbentuk tulisan dan kalimat.Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan. secara holistik, dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2010: 6).

(17)

Pendekatan penelitian ini adalah studi tokoh. Spesifikasi penelitian ini adalah penelitian deskriptif analisis karena pada penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Metode ini menguraikan dan menjelaskan tentang Peran Teologi Dakwah Hasan Al-Banna Terhadap Perubahan Masyarakat di Mesir.

a. Teknik Pengumpulan Data

Semua data dalam penelitian ini diperoleh melalui studi kepustakaan (library research) dan juga dengan mengumpulkan artikel yang ada di berbagai media. Selain itu penulis juga menggunakan metode dokumentasi berupa karya-karya yang dihasilkan Hasan Banna dan tulisan-tulisan orang lain yang berkaitan dengan Hasan Al-Banna, serta biografi dan metode dakwah Hasan Al-Banna dari berbagai macam literature.

b. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan pada penilitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data kemudian melakukan pengamatan dan pembacaan agar mendapatkan informasi yang mendukung penelitian kemudian mengelompokkan sesuai dengan bagian-bagiannya.

(18)

J. Sistematika penulisan

Bahasan-bahasan dalam penelitian ini dapat dituangkan dalam tiga bab diantaranya bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab penutup yang berisi sejumlah hasil pembahasan secara keseluruhan

Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, pembatasan masalah, tinjauan pustaka, landasan teori, sumber data, metode dan teknik penelitian, dan sistematika penulisan. Penulisan pada bab I merupakan landasan pemikiran penelitian dan menjadi prosedur dalam penelitian karena digunakan untuk menguraikan bab-bab selanjutnya.

Bab kedua berisi tentang pembahasan dan hasil penelitian yang terdiri dari lima sub bab. Pertama menguraikan tentang biografi Hasan Al-Banna dan latar belakang dakwah Hasan Al-Banna. Tujuan dari pembahasan ini yaitu untuk mengetahui perjalanan hidup Hasan Al-Banna. Kedua, membahas tentang prinsip-prinsip dakwah Hasan Al-Banna. Ketiga, membahas tentang struktur teologi dakwah Hasan Al-Banna. Bab ini membahas tentang teologi dakwah yang digunakan Hasan Al-Banna berdakwah dalam menyampaikan dakwahnya. Keempat, membahas tentang metode dakwah Hasan Al-Banna. Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui metode atau tahapan-tahapan dakwah yang digunakan Hasan Al-Banna. Kelima, membahas tentang perubahan masyarakat di Mesir pasca dakwah Hasan Al-Banna. Perubahan ini membahas beberapa aspek dalam kehidupan masyarakat di Mesir.

(19)

Bab ketiga penutup, pada bab terakhir ini berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan merupakan ringkasan dari rumusan masalah adapun saran adalah rekomendasi tentang penelitian lanjut mengenai masalah yang belum bias diuraikan dalam penelitian ini.

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Apabila Keputusan Tertulis Atasan PPID Pembantu memerintahkan PPID untuk memberikan sebagian atau seluruh informasi publik dalam hal keberatan di terima maka PPID

Jika bilangan-bilangan itu terdiri dari satu angka, susunan dua angka, atau susunan tiga angka, dan untuk susunan dua atau tiga angka tidak ada angka yang berulang dan

dimana lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja seseorang, terbukti didalam jurnal tersebut mengatakan bahwa lingkungan kerja secara fisik maupun nonfisik

Penelitian ini dilakukan di wilayah Pekanbaru dengan objek penelitian yaitu Kawasaki pada dealer PT. Greentech Cakrawala Motorindo Pekanbaru yang berlokasi di jalan

Oleh karena itu, semua kegiatan, termasuk proses managemen, yang sangat menentukan kelangsungan hidup organisasi, tergantung dari komunikasi efektif, karena sebagaimana ditulis

Anda dikehendaki menggunakan konsep “connection of instances” untuk modul peringkat atasan, yang mana modul peringkat atasan hanya mengandungi beberapa “instances” bagi

Metode LZW lebih efektif dalam pengkompresian audio dan video karena data hasil kompresinya menghasilkan ukuran file yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan

Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli sesungguhnya sepakat adanya keterkaitan antara migrasi dan sektor informal dikarenakan ketiga peneliti tersebut