• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN SISTEM AGRIBISNIS KOMODITAS KAYU MANIS DI KABUPATEN KERINCI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGELOLAAN SISTEM AGRIBISNIS KOMODITAS KAYU MANIS DI KABUPATEN KERINCI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

KAYU MANIS DI KABUPATEN KERINCI

Pada bab ini dijelaskan perkembangan pengelolaan sistem agribisnis komoditas kayu manis di Kabupaten Kerinci yang ditinjau dari aspek penanaman, pemeliharaan, produksi, pengolahan hasil, pemasaran dan aspek penunjang seperti kelembagaan dan kebijakan pemerintah.

Perkembangan Komoditas Kayu Manis Pembudidayaan Tanaman

Hasil pengamatan dalam melihat pengembangan komoditas kayu manis di Kabupaten Kerinci, yang ditinjau dari aspek pembudidayaan tanaman menunjukkan bahwa dalam pengembangannya, kayu manis dominan dikembangkan dalam bentuk perkebunan rakyat, dengan bentuk pengelolaannya yang masih sangat sederhana. Hal ini sesuai dengan (Disperta Kerinci, 2005) menjelaskan bahwa pengembangan kayu manis yang dilakukan petani di Kabupaten Kerinci cenderung kurang mempedomani teknik pembudidayaan yang sesungguhnya sesuai pedoman pembudidayaan dari dinas pertanian, sesuai dengan hasil wawancara dengan responden, dimana 60% responden menjelaskan bahwa dalam melakukan penanaman petani menggunakan jarak tanam yang tidak beraturan yaitu di bawah 3X3 meter.

Menurut BPTRO (2003) jarak tanam yang baik untuk mendapatkan hasil kayu manis yang lebih baik yaitu menggunakan jarak tanam yang berukuran 3x3 meter atau 4x4 meter atau lebih. Kurangnya petani memperhatikan jarak tanam yang sesungguhnya sehingga mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan berada di bawah kualitas optimal. Walaupun secara nasional kualitas kayu manis Kabupaten Kerinci masih berada di atas kualitas rata-rata kayu manis secara nasional.

Selain itu dari aspek pemeliharaan tanaman terungkap bahwa 85% responden menjelaskan bahwa dalam pemeliharaan tanaman kayu manis rakyat jarang/kurang dilakukan pemupukan yang cukup. Padahal menurut kajian BPTP (2003) dan Dinas Pertanian Kerinci (2005) menjelaskan bahwa untuk merangsang

(2)

pertumbuhan tanaman agar dapat tumbuh dengan baik diperlukan pemupukan tanaman yang cukup. Kurangnya pemeliharaan tanaman dari aspek pemupukan, sehingga dapat mempengaruhi rendahnya produktivitas hasil tanaman kayu manis yang dihasilkan. Kondisi tersebut sebagaimana terlihat dari perbandingan produktivitas tanaman kayu manis di Indonesia seperti untuk tahun 2000-2006. Walaupun Kabupaten Kerinci masih memiliki perkembangan yang cukup baik, sebagaimana ditunjukkan memiliki produktivitas produksi/ha untuk lahan tanaman menghasilkan di Kabupaten Kerinci memiliki rasio ton/ha yaitu sebesar 1,45 ton/ha, berada di atas rasio produktivitas nasional yaitu 1,11 ton/ha, dan produktivitas Provinsi Jambi 0,94 ton/ha. Namun apabila dibandingkan dengan standar produksi tanaman secara teoritis dapat menghasilkan 3 ton/ha (BPTP, 2003), sedangkan kondisi eksisting hasil tanaman kayu manis di Kabupaten Kerinci memiliki tingkat produktivitas hasil yaitu 0,94 ton/ha, artinya masih berada di bawah standar yang semestinya sebagaimana dijelaskan pada Tabel 7. Tabel 7. Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Tanaman Kayu Manis Indonesia,

Provinsi Jambi, dan Kabupaten Kerinci, Tahun 2000-2006

Wilayah/ Luas Areal dan

Produksi

Tahun

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Indonesia:

Luas Areal (ha) 128.075 135.572 138.205 138.205 136.577 134.770 134.897 a. Luas TM (ha) 41.425 43.740 45.738 54.352 82.491 86.219 92.976 b. Produksi (ton) 45.237 40.635 45.373 57.179 99.465 100.775 103.594 Provinsi Jambi:

Luas Areal (ha) 60.776 61.769 62.128 62.128 54.630 50.442 54.395 a. Luas TM (ha) 12.274 12.235 12.253 17.153 26.486 28.150 30.356 b. Produksi (ton) 22.462 22.240 32.770 32.077 56.025 69.618 51.006 Kabupaten Kerinci:

Luas Areal (ha) 50.439 50.769 50.728 50.728 43.453 42.610 42.313 a. Luas TM (ha) 7.674 8.734 10.336 15.432 20.812 23.413 29.199 b. Produksi (ton) 20.980 21.100 32.000 32.037 54.651 65.422 43.782 Sumber: Ditjenbun dan BPS, 2007.

Dengan demikian dapat diartikan dalam pengembangan kayu manis di Kabupaten Kerinci, dilihat dari sisi produktivitas tanaman menunjukkan pengembangannya belum menghasilkan nilai yang optimal.

Oleh karena itu peningkatannya perlu dilakukan guna memperoleh hasil yang lebih baik. Selanjutnya dari sisi perkembangan luas areal, produksi, dan jumlah petani yang melakukan pengembangan menunjukkan bahwa komoditas

(3)

kayu manis di Kabupaten Kerinci secara umum dilihat dari rasio hektar/kepala keluarga (ha/kk) dan ton/kk, menunjukkan bahwa perkembangannya cenderung berfluktuatif dengan laju pertumbuhan luas areal dan produksi tahun 2000-2006 seperti dijelaskan pada Tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8. Laju Pertumbuhan Luas Areal dan Produksi Tanaman Kayu Manis Kabupaten Kerinci, Tahun 2001-2006

Laju Perkembangan

Kayu Manis/Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Laju Luas Areal % 0.65 -0.08 - -14.34 -1.94 -0.70 Laju Produksi % 0.57 51.66 0.12 70.59 19.71 -33.08 Sumber: Data sekunder, diolah, 2008.

Dari Tabel 8 terlihat bahwa laju pertumbuhan luas areal pengembangan kayu manis akhir-akhir cenderung mengalami penurunan. Demikian juga dilihat dari laju pertumbuhan produksi tahun 2001-2006 cenderung mengalami penurunan. Secara visual tren perkembangan luas areal tanaman kayu manis di Kabupaten Kerinci seperti ditunjukkan pada Gambar 9 di bawah ini.

Sumber: data sekunder BPS diolah, 2008

Gambar 9. Perkembangan Luas Areal dan Petani Pengembang Kayu Manis di Kabupaten Kerinci Periode Tahun 1990-2006.

.

Dari Gambar 9 terlihat pengembangan dan pemeliharaan kayu manis di Kabupaten Kerinci akhir-akhir ini cenderung mengalami penurunan dari sebaran wilayah pengembangannya seperti ditunjukkan pada Gambar 10.

Perkembangan Luas Areal dan Jumlah Petani Pengembang Kayu Manis Kabupaten Kerinci Periode Tahun 1990-2006

-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 19901991 1992 199 3 199419951996 1997 199 8 19992000 2001 200 2 200320042005 2006 P e ta n i (j iw a ) 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 Lu as A re al ( ha )

(4)

Keterangan :

Gambar 10. Peta Sebaran Perkebunan Kayu Manis Rakyat Kabupaten Kerinci

Dari Gambar 10 terlihat bahwa sebaran pengembangan kayu manis dominan di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Karena wilayahnya berada pada dataran tinggi dan termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), sehingga keberadaannya kayu manis selain berfungsi sebagai tanaman budidaya juga berfungsi sebagai tanaman konservasi, dan mendukung fungsi wilayah Kabupaten Kerinci sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS).

Oleh karena itu keberadaannya perlu mendapat perhatian, baik dari aspek pengembangan budidaya, pengolahan hasil (processing) maupun dari aspek pemasaran dan aspek pendukung lainnya seperti infrastuktur dan kebijakan pemerintah.

(5)

Pemanenan (Produksi)

Dilihat dari perkembangan kayu manis Kabupaten Kerinci periode tahun 1990-2006 menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun produksi kayu manis cenderung mengalami peningkatan, walaupun pada tahun 2006 mengalami penurunan, seperti ditunjukkan Gambar 11 di bawah ini.

Gambar 11. Perkembangan Produksi dan Luas Areal Kayu Manis di Kabupaten Kerinci Periode Tahun 1990-2006.

Dilihat dari sisi produktivitas ha/KK periode tahun 1990-2006 menunjukkan bahwa pengembangan kayu manis di Kabupaten Kerinci cenderung berfluktuatif. Sedangkan produktivitas perkebunan kayu manis ton/KK menunjukkan pada tahun 1990-2004 cenderung meningkat, dan periode tahun 2004-2006 mengalami penurunan.

Kemudian dilihat dari aspek pemanenan menunjukkan bwha kayu manis rakyat di Kabupaten Kerinci umumnya dilakukan oleh petani cenderung kurang beraturan, terutama dalam waktu panen atau pemilihan usia tanaman, sebagaimana ditunjukkan 65% responden menjelaskan pemanenan komoditas cenderung dilakukan atas pertimbangan kebutuhan keluarga atau rumah tangga petani, 75% responden menyatakan kecenderungan masyarakat Kerinci melakukan pemanenan dengan sistem tebang habis dan kurang beraturan. Dengan demikian sehingga umur tanam yang tepat dan sistem pemanenan yang diajurkan

Perkembangan Produksi (ton) dan Luas Areal (ha) Kayu Manis Kabupaten Kerinci Periode Tahun 1990-2006

0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 1990 1991 1992 1993199 4 1995 1996 1997 19981999 2000 2001 2002 200 3 2004 2005 2006 Luas A real ( ha) 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 P rodu k s i ( ton)

(6)

cenderung tidak dilakukan. Konsekuensinya adalah pemanenan komoditas kurang mengikuti standar panen yang semestinya.

Menurut BPTP (2003) bahwa untuk mendapatkan hasil komoditas yang baik, proses pemanenannya dapat dilakukan secara bertahap dan dilakukan dengan sistem tebang pilih. Dimana panen tahap pertama dapat dilakukan ketika tanaman berusia 6 tahun bersamaan dengan kegiatan penjarangan tanaman pertama, pemanenan kedua yaitu pada umur 10 tahun juga bersamaan penjarangan kedua, dan setelah itu dapat dilakukan pemanen berikutnya. Secara detil perkembangan produksi kayu manis di Kabupaten. Kurang beraturannya pemanenan kayu manis di Kabupaten Kerinci serta dilakukan dengan sistem panen tebang habis, menurut BPTP (2003) dapat mendorong rusaknya sistem konservasi lahan di daerah tersebut. Dengan sistem pemanenan kayu manis yang kurang mempertimbangkan waktu dan pola pemanenan, sehingga kualitas dan keberlanjutannya menjadi terganggu.

Untuk mengetahui gambaran perkembangan agribisnis komoditas kayu manis di Kabupaten Kerinci berikut dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9. Perkembangan Luas Areal, Produksi, KK Petani dan Produktivitas Kayu Manis di Kabupaten Kerinci Periode Tahun 1990-2006.

Tahun Luas Areal (ha) Produksi (Ton) Jumlah Petani KK Produktivitas Ha/KK Ton/KK 1990 42.874 13.779 17.096 2.51 0.81 1991 43.518 13.799 17.354 2.51 0.80 1992 44.410 14.680 17.532 2.53 0.84 1993 45.753 15.082 18.402 2.49 0.82 1994 52.036 16.202 22.721 2.29 0.71 1995 52.564 16.357 23.221 2.26 0.70 1996 47.124 16.861 22.664 2.08 0.74 1997 47.127 21.593 23.650 1.99 0.91 1998 47.385 18.262 16.988 2.79 1.07 1999 48.736 20.892 16.992 2.87 1.23 2000 50.439 20.980 17,425 2.89 1.20 2001 50.769 21.100 19.246 2.64 1.10 2002 50.728 32.000 25.026 2.03 1.28 2003 50.728 32.037 20.352 2.49 1.57 2004 43.453 54.509 13.826 3.14 3.94 2005 42.610 65.422 17.674 2.41 3.70 2006 42.313 43.782 13.815 3.06 3.17

(7)

Adanya kecenderungan pemanenan kayu manis dengan pola sistem tebang habis, dilakukan karena beberapa alasan utama diantaranya karena adanya keterbatasan lahan yang dimiliki petani, sehingga pada kondisi harga komoditas kayu manis kurang menggembirakan, maka lahan kayu manis digunakan untuk melakukan pembudidayaan tanaman lainnya seperti tanaman palawija dan tanaman sayur-sayuran yang dianggap memiliki keuntungan. Dengan demikian sehingga mendorong pilihan pemanenannya dilakukan dengan cara tebang habis, cenderung terus berlangsung. Walupun kondisi tersebut dapat merugikan keberlanjutan sumber pendapatan petani dan sistem agribisnis kayu manis itu sendiri, Untuk mendapatkan produk kayu manis hingga siap jual, di Kabupaten Kerinci, pemanenan dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu dimulai dengan sortiran tanaman, penebangan, pengupasan, pembersihan, penjemuran dan

packing serta selanjutnya penjualan, seperti dijelaskan Tabel 10 di bawah ini.

Tabel 10. Tahapan Pemanenan Kayu Manis Petani di Kabupaten Kerinci

No Tahapan Pemanenan Proses Pemanenan dan Produk yang dihasilkan 1. Adanya tanaman yang akan di panen

2. Pemanenan tanaman kayu manis (penebangan)

3. Pengupasan kulit kayu manis.

Sumber: data primer diolah, 2008.

Dari tahapan proses pemanenan komoditas kayu manis yang dilakukan petani di Kabupaten Kerinci menunjukkan pemanenan yang dilakukan petani terbukti cenderung tidak dengan sistem tebang pilih, sebagaimana ditunjukkan tanaman yang berumur di bawah 4 tahun ketika dilakukan pemanenan di perkebunan juga ikut dilakukan penebangan. Kondisi tersebut sehingga kualitas produk yang dihasilkan, sulit untuk memenuhi standar mutu (BPTP, 2003).

(8)

Pengolahan Hasil (Processing)

Pengolahan hasil panen yang dilakukan di Kabupaten Kerinci terdiri dari beberapa tahapan, diantaranya sebagai berikut: pertama kulit kayu manis yang sudah dikupas dilakukan pembersihan. Pembersihan kulit kayu manis dilakukan dengan melakukan pengikisan hingga bersih, dan selanjutnya disimpan selama satu malam pada tempat yang disediakan guna membangkitkan warna dan aroma komoditas. Setelah pengikisan dilakukan dilanjutkan dengan penjemuran. Di tingkat petani dan pedagang Kabupaten Kerinci, penjemuran umumnya dilakukan dengan memanfaatkan terik matahari selama 2-3 hari, dan belum ada yang menggunakan teknologi atau mesin pengeringan.

Tahapan proses pengolahan hasil panen yang dilakukan petani dan pedagang di Kabupaten Kerinci ditunjukkan Tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. Tahapan Pengolahan Hasil Panen Kayu Manis di Kabupaten Kerinci

No Tahapan Prosesing Prosesing

1. Pembersihan kulit kayu manis (pengikisan). Untuk kulit batang dilakukan pengikisan, sedangkan kulit cabang dan ranting tidak dilakukan pengikisan.

2. Penyimpanan sementara, untuk mendapatkan warna komoditas yang lebih kuning dan aroma yang baik.

3. Penjemuran hasil kikisan dilakukan selama 2-3 hari, hingga kadar air berkisar (17-20%)

4. Pemisahan grade kulit kayu manis.

8. Packing/Pengarungan komoditas hingga siap di jual ke pasar

Sumber: data primer diolah, 2008.

Selanjutnya penjemuran yang dilakukan umumnya tidak dilakukan di tempat penjemuran khusus, Dari hasil pengamatan menemukan bahwa dalam

(9)

penjemuran hasil panen, sebagian dari petani dan pedagang kecil masih melakukan penjemuran di tempat yang kurang didukung aspek kebersihan, seperti masih ditemukan penjemuran di atas tanah tanpa alas. Kondisi tersebut, implikasinya komoditas yang dihasilkan cenderung dihargai rendah oleh pedagang besar, dan eksportir, karena tidak memenuhi standar ekspor. Hal ini sesuai dengan profil cassiavera Kerinci tahun 2001 (Disperta, 2001).

Setelah dilakukan penjemuran maka diperoleh kulit yang kering hingga berbentuk gulungan. Kegiatan pengolahan tahap ini biasanya berlangsung di tingkat petani dan pedagang kecil. Selanjutnya setelah dilakukan penjemuran dilakukan pengelompokkan komoditas menurut jenis/grade dan mutu, proses tersebut dilakukan di tingkat petani dan pedagang kecil. Setelah dilakukan penjemuran komoditas, kemudian dilanjutkan dengan proses pengarungan

(packing), yang selanjutnya dapat dilakukan penjualan ke pasar atau ke pedagang.

Pengolahan hasil panen di tingkat petani dan pedagang kecil, menengah, di di Kabupaten Kerinci umumnya masih berpola tradisional. Selanjutnya hasil pengamatan menunjukkan bahwa aspek kebersihan komoditas dalam pengolahan hasil belum menjadi prioritas utama bagi petani, maupun pedagang di Kabupaten Kerinci. Pada hal komoditas kayu manis merupakan komoditas bahan makanan dan minuman serta bahan obat-obatan, dimana aspek kebersihan merupakan aspek terpenting yang dipertimbangkan dalam penggunaannya.

Kurangnya perhatian petani, pedagang kecil, dan menengah terhadap aspek kebersihan komoditas, pada komoditas kayu manis merupakan komoditas bahan makanan dan obat-obatan yang memerlukan kebersihan, sebagaimana Maurice (2004) menjelaskan bahwa kayu manis merupakan jenis tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan, sementara dalam melakukan perdagangan internasional kebersihan komoditas menjadi pertimbangan utama bagi pembeli (buyer),

sehingga tanggung jawab peningkatan kebersihan tersebut menjadi tanggung jawab pedagang besar atau eksportir, yang merupakan pelaku usaha yang akan berhubungan langsung dengan pembeli (buyer) di pasar internasional. Implikasi dari tidak dilakukannya semua proses pengolahan di tingkat petani, pedagang kecil dan menengah di Kabupaten Kerinci dengan optimal, proses pengolahan

(10)

berikutnya harus dilakukan di tingkat pedagang besar dan eksportir yang berada di luar wilayah Kabupaten Kerinci.

Terjadinya proses pengolahan yang dominan di luar wilayah, sehingga sebagian besar nilai tambah komoditas diperoleh oleh pedagang dari luar wilayah. Kondisi tersebut juga didorong oleh panjang rantai pemasaran komoditas, sebagaimana dijelaskan (Dispertabun Kerinci, 2001). Padahal proses pengolahan yang dilakukan di luar daerah masih sederhana dan dapat dilakukan di dalam daerah. Dengan demikian sehingga petani dan pedagang di Kabupaten Kerinci harus, merelakan nilai tambah lebih dominan diperoleh oleh pedagang besar atau eksportir yang melakukan tanggung jawab pengolahan komoditas lebih lanjut di luar wilayah. Kondisi tersebut sesuai dengan Adria (2003) menjelaskan bahwa kayu manis dominan dilakukan pengolahan ulang di luar wilayah sebelum dilakukan ekspor. Selain itu dari aspek pengolahan terungkap bahwa petani masih kurang konsisten dengan keinginan pedagang. Implikasi dari kegiatan pengolahan yang tidak dilakukan secara optimal di dalam wilayah, yang semestinya dapat dilakukan oleh petani dan pedagang kecil di Kabupaten Kerinci, namun dilakukan oleh pedagang besar, sehingga harga beli pedagang besar atau harga jual petani dan pedangang Kabupaten Kerinci mengalami tekanan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pengolahan hasil di tingkat pedagang kecil dan menengah di kabupaten dilakukan masih terbatas dalam bentuk sortasi atau pengelompokkan ulang, guna memisahnya kembali komoditas hasil penjualan dari petani menurut jenis dan grade yang lebih rinci,dan yang selanjutnya dilakukan penjemuran ulang, pengarungan (packing), kemudian siap dijual ke pasar atau ke pedagang besar, serta belum dominan melakukan pengolahan dalam bentuk menjadikan sebuah produk turunan baru.

Sedangkan di tingkat pedagang besar dan eksportir di luar Kabupaten Kerinci yaitu seprti di Padang, Jakarta, Medan. Pengolahan hasil dilakukan pertama dalam bentuk sortasi, kemudian melakukan pencucian ulang komoditas, penjemuran ulang, hingga mendapatkan hasil produk akhir (end product) yang siap jual. Pengolahan kayu manis di tingkat eksportir biasanya dilakukan hingga menjadi broken, stick, powder, minyak atsiri. Kegiatan ini dilakukan di tingkat eksportir dan pengusaha besar seperti di Jakarta, Jawa barat dan Sumatera Barat,

(11)

Medan demikian juga untuk komoditas minyak atsiri, dilakukan oleh pengusaha besar guna untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan pasar.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa pada aspek pengolahan hasil (prosesing), karena pengolahan dominan dilakukan di luar wilayah, sehingga nilai tambah dominan dimanfaatkan oleh wilayah lain. Dalam konteks pengembangan ekonomi wilayah. Tidak optimalnya pendapatan yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengembangan kayu manis di Kabupaten Kerinci, menunjukkan adanya potensi kebocoran wilayah. Terjadinya kebocoran wilayah dalam pengembangan komoditas unggulan daerah, maka dari sisi ekonomi wilayah, kegiatan demikian tentu dapat merugikan pertumbuhan ekonomi wilayah, sebagaimana Bendavid (1991) menjelaskan bahwa kegiatan yang tidak dapat meningkat pendapatan domestik akibat kebocoran wilayah maka dampaknya dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi wilayah.

Jenis Produk dan Grade Kayu Manis

Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kegiatan pengelolaan kayu manis di Kabupaten Kerinci, di tingkat petani umumnya mengenal tiga grade utama yaitu KA, KB dan KC. Sedangkan di tingkat pedagang grade tersebut dirinci lagi menjadi grade KA,KM, KF,KS,KTP,KB,KC, seperti dijelaskan pada Tabel 9.

Grade kayu manis yang diklasifikasikan di Kabupaten Kerinci, seperti grade KM,

yaitu kayu manis yang berasal dari kulit batang, dengan ciri-ciri telah dikikis bersih, licin dan berwarna kuning tua, dengan ketebalan kulit berdiameter 3 mm, serta dipanen pada usia 20 tahun lebih. Grade KF yaitu kelompok komoditas kayu manis yang bersumber dari kulit batang yang bercirikan telah dikikis bersih, berwarna kuning tua, dengan ketebalan kulit mencapai 2,5 - 3 mm, serta dipanen pada umur 15-20 tahun, untuk grade KS yaitu grade kayu manis yang bersumber dari kulit batang yang dikikis bersih, dan telah berwarna kuning tua, dengan ketebalan kulit mencapai 2 - 2,5 mm, dan dipanen pada umur 8-15 tahun. Kemudian untuk grade KA, yaitu kayu manis yang bersumber dari kulit batang yang dikikis bersih, dan telah berwarna kuning tua, dengan ketebalan kulit mencapai 1 - 2 mm, dan dipanen pada umur 5-8 tahun. Hasil tersebut sesuai

(12)

dengan dengan dispertabun (2001), dan profil daerah Kabupaten Kerinci tahun 2006 (BPS Kerinci, 2006).

Grade KTP, merupakan grade kulit kayu manis yang bersumber dari kulit

dahan dan tidak dikikis, namun bersih, serta sudah berwarna kuning tua kehitaman, dengan ketebalan kulit mencapai 0,75 - 1 mm, dan untuk semua jenis, umur 5-8 tahun. Sedangkan grade KB, yaitu jenis grade kayu manis yang bersumber dari kulit dahan dan tidak dikikis, berwarna kehitam-hitaman, dan kurang bersih, dengan ketebalan kulit mencapai 0,5 – 0,75 mm, untuk semua jenis, umur panen 5-8 tahun. Sedangkan grade KC, merupakan grade kayu manis yang berasal dari kulit ranting dan tidak dikikis, berwarna kehitam-hitaman serta kurang bersih, dengan ketebalan kulit mencapai 0,5 mm. Sedangkan secara umum

grade kayu manis yang dihasilkan di Kabupaten Kerinci ditunjukkan Tabel 12.

Tabel 12. Grade/Mutu Kayu Manis yang dihasilkan di Kabupaten Kerinci

No Mutu Spesifikasi Komoditas Jenis Kulit Tanaman Umur Panen (tahun) Ketebalan

Kulit (mm) Gambar Produk 1. KM

kulit batang dikikis bersih, licin,warna kuning tua

20 3 mm

2. KF

kulit batang dikikis bersih, bewarna kuning tua

15 - 20 2,5 - 3

3. KS

kulit batang dikikis bersih, bewarna kuning tua

8 - 15 2- 2,5

4. KA

kulit batang dikikis bersih, bewarna kuning tua

5 - 8 1 - 2

5. KTP

kulit dahan tidak dikikis, bewarna kuning tua kehitaman

0,75- 1

6. KB

kulit dahan tidak dikikis bewarna kehitam-hitaman, kurang bersih

0,5- 0,75

7. KC

kulit ranting tidak dikikis bewarna kehitam-hitaman, kurang bersih

0,5 mm

Sumber: data primer dan sekunder diolah, 2008.

≥ ≥ ≤ ≥ ≥ ≥ ≤ ≤ ≤ ≥ ≤ ≤ ≥ ≥ ≤ ≤ ≥

(13)

Dari grade/jenis komoditas yang dihasilkan di Kabupaten Kerinci menunjukkan bahwa minimnya produk turunan yang dihasilkan di Kabupaten Kerinci. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa dalam sistem agribisnis komoditas kayu manis terlihat prosesing merupakan suatu subsistem yang belum optimalnya bekerja dalam meningkatkan pendapatan petani kayu manis. Implikasinya tentu dapat mempengaruhi perekonomian wilayah.

Struktur Pohon Industri Komoditas Kayu Manis

Hasil analisis menunjukkan bahwa dilihat dari struktur pohon industri komoditas kayu manis, yang dimulai diri penanaman kayu manis, produksi, dan pengolahan hasil, menunjukkan bahwa jenis produk dan grade yang dihasilkan dari proses pemanenan atau produksi komoditas kayu manis, secara umum setelah di panen menghasilkan grade jenis KA atau kulit batang, KB atau kulit dahan, dan KC atau kulit cabang, serta menghasilkan kayu dan ranting. Pada tahap ini proses dilakukan di tingkat petani dan prosesnya berlokasi di perdesaan di Kabupaten Kerinci. Selanjutnya produk yang dihasilkan tersebut diproses kembali atau dirinci/disortir menjadi grade jenis KM, KF, KS, KA, KTP, KB dan KC. Proses ini dilakukan di tingkat pedagang kecil dan menengah berlokasi di Kabupaten Kerinci, dan sebagian kecil dilakukan oleh petani di perdesaan.

Adapun stuktur pohon industri komoditas kayu manis secara sederhana dapat dijelaskan seperti Gambar 12.

(14)
(15)

Dari Gambar 12 terlihat bahwa proses pengolahan produk turunan selanjutnya setelah diolah di tingkat pedagang perantara dan dijual ke pedagang besar atau eksportir di luar wilayah Kabupaten Kerinci, selanjutnya pada tingkat eksportir diolah menjadi produk turunan seperti powder, stick, cortex, cutting, dan

broken. Prosesing untuk produk seperti ini dilakukan di luar Kabupaten Kerinci,

seperti dilakukan oleh eksportir di Padang, Jakarta, dan Kerawang (Jawa Barat). Selanjutnya setelah menghasilkan produk jenis tersebut, sebagian ada yang digunakan di dalam negeri, sebagai bahan baku industri farmasi, rokok campuran bahan minuman dan makanan, jamu tradisional, obat-obatan. Sedangkan sebagian besar produk jenis/grade tersebut diekspor ke luar negeri, yang selanjutnya dijadikan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman, industri kimia, industri kosmetik, obat-obatan dan bahan baku campuran rokok, dengan prosesnya untuk menghasilkan produk turunan dilakukan di luar negeri.

Produk yang dihasilkan di luar negeri tersebut selanjutnya sebagian digunakan oleh rumah tangga, hotel dan restoran, industri farmasi, rumah sakit, industri makanan dan minuman di luar negeri dan sebagian kecil ada yang di impor kembali oleh Indonesia, serta di ekspor ke negara lainnya di dunia, sebagai bahan konsumsi rumah tangga, hotel, restoran, industri farmasi dan kimia, serta rumah sakit, dan sebagainya.

Sedangkan kayu, sebagian digunakan di dalam daerah sebagai bahan bagunan dan sebagian lagi digunakan sebagai input industri bangunan dan perabotan yang menghasil plywood. Produk turunan jenis ini prosesingnya dilakukan di luar Daerah Kabupaten Kerinci, dengan produk turunan jenis ini sebagian di ekspor ke luar negeri dan sebagian lagi digunakan di dalam negeri. Selanjutnya untuk produk jenis kayu yang tidak dimanfaatkan digunakan sebagai digunakan oleh rumah tangga sebagai kayu bakar.

Kemudian hasil wawancara dengan eksportir di Padang Sumatera Barat, menunjukkan bahwa pengolahan produk kayu manis menjadi produk setengah jadi masih sangat terbatas dilakukan di Padang. Kondisi tersebut dikarenakan pengolahan lebih lanjut lebih dominan dilakukan di Pulau Jawa dan di luar negeri. Relatif terbatasnya prosesing dilakukan di dalam negeri di karena beberapa faktor, diantaranya karena terbatasnya permintaan untuk produk jenis tersebut oleh

(16)

pembeli (buyer) di luar negeri. Hal ini karena sebagian besar importir (buyer) luar negeri menginginkan produk kayu manis jenis batangan atau produk gelondongan yang belum diolah secara optimal. Padahal dilihat dari penggunaannya, kayu manis merupakan bahan baku obat-obatan (Maurice, 2004).

Selanjutnya untuk mengetahui potensi kebocoran wilayah yang terjadi dalam sistem agribisnis komoditas kayu manis, secara sederhana dapat ditunjukkan seperti pada Gambar 13.

Gambar 13. Struktur Kebocoran dalam Sistem Agribisnis Komoditas Kayu Manis Kabupaten Kerinci

Dari Gambar 13 terlihat bahwa potensi kebocoran wilayah dalam pengembangan komoditas kayu manis terlihat untuk subsistem prosesing dan pemasaran hasil merupakan subsistem yang berpeluang besar terjadi kebocoran wilayah. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan jumlah ekspor kayu manis di Kabupaten Kerinci sebesar 152 milyar rupiah (21,23%) dari total ekspor daerah, sedangkan penggunaannya oleh sektor industri pengolahan hanya sebesar

(17)

(0,11%). Dari kondisi tersebut menunjukkan bahwa kayu manis yang dihasilkan Kabupaten Kerinci secara dominant dalam bentuk produk non olahan (gelondongan). Karena nilai tambah yang diperoleh dari pengembangan komoditas lebih lebih terbatas. Pada hal komoditas kayu manis merupakan komoditas bahan makanan dan minuman serta bahan baku obat-obatan, yang memiliki produk turunan, dan rantai industri lebih panjang. Artinya dalam konteks agribisnis dan pengembangan ekonomi wilayah, pengelolaan komoditas kayu manis di Kabupaten Kerinci pada subsistem pengolahan hasil, menunjukkan terjadi kebocoran wilayah yang serius. Implikasi dari kebocoran wilayah, disatu sisi dapat mempengaruhi pendapatan petani dan pelaku agribisnis, dan di sisi lain dapat mempengaruhi perekonomian wilayah serta motivasi pengembangan.

Karena masyarakat Kabupaten Kerinci merupakan kelompok yang seharusnya dapat berperan dalam pengolahan hasil, sehingga ketika prosesing di dalam wilayah tidak dilakukan, maka berarti masyarakat Kerinci merupakan kelompok yang palin dirugikan dari kebocoran wilayah tersebut. Hal ini karena selain dalam produksi tidak mendapat manfaat atau pendapatan yang optimal, sedangkan produk-produk turunan yang dihasilkan di luar wilayah, dikonsumsi oleh masyarakat dengan harga yang lebih mahal, seperti dalam bentuk produk obat-obatan (obat batuk, stomach, dan analgetik, dan sebagainya). Namun demikian dalam tataran yang lebih kompleks, dengan kurang diuntungkannya masyarakat/petani dalam sistem agribisnis kayu manis di Kabupaten Kerinci, sehingga dalam jangka panjang semua stokeholders akan mengalami kerugian, seperti dapat mengganggu produktivitas, kualitas dan keberlanjutan komoditas.

Tata Niaga dan Pemasaran Kayu Manis Lembaga Pemasaran

Lembaga pemasaran adalah lembaga yang berperan sebagai penyalur hasil panen petani hingga sampai ke konsumen. Untuk di Kabupaten Kerinci penyaluran hasil panen kayu manis petani hampir seluruhnya dikelola oleh pedagang swasta, yang merupakan pedagang perantara, yang terdiri dari pedagang desa, kecamatan hingga pedagang perantara kabupaten, atau tergolong sebagai pedagang kecil dan menengah. Selanjutnya dari hasil survei terlihat bahwa secara

(18)

umum pemasaran kayu manis di Kabupaten Kerinci dilakukan melalui beberapa saluran yaitu melalui pedagang kecil, pedagang menengah, pedagang besar dan eksportir, serta pedagang antar pulau, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 12.

Sedangkan dilihat dari pilihan saluran pemasaran, terdapat 3 saluran pemasaran yang sering digunakan petani kayu manis di Kabupaten Kerinci yaitu melalui; (1) dari petani sebagai produsen disalurkan ke pedagang kecil yang berkedudukan di desa dan kecamatan, pedagang menengah di kecamatan dan kabupaten, pedagang besar yang berkedudukan di kabupaten dan pedagang eksportir berkedudukan di luar Kabupaten Kerinci seperti di Padang (Sumatera Barat), Jakarta, Kerawang Jawa Barat, Medan, dan selanjutnya ke pedagang antar pulau yang berkedudukan di Pulau Jawa, dan Batam. Selanjutnya (2) saluran dari petani melalui pedagang menengah yang berkedudukan di kecamatan dan kabupaten, kemudian disalurkan ke pedagang besar yang berkedudukan di kabupaten dan luar Kabupaten Kerinci, dan pedagang eksportir yang berkedudukan di Padang, Jakarta, Kerawang Jawa Barat, dan Medan selanjutnya ke pedagang antar pulau yang berkedudukan di Pulau Jawa, dan Batam; (3) saluran dari petani disalurkan ke pedagang besar yang berkedudukan di kabupaten dan pedagang eksportir yang berkedudukan di Padang dan di Jakarta serta wilayah lainnya, seperti ditunjukkan Gambar 14 di bawah ini.

Sumber: Hasil olahan data primer dan sekunder, 2008.

(19)

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa dengan semakin baiknya dukungan transportasi dewasa ini, telah terjadi pergeseran pilihan petani terhadap jenis saluran pemasaran kayu manis, yang sebelumnya lebih dominan melalui pedagang kecil dan menengah yang berkedudukan di desa dan kecamatan yang merupakan pedagang perantara. Namun pada akhir-akhir ini telah terjadi kecenderungan pergeseran pilihan saluran pemasaran yang memilih petani, yaitu dengan memilih dari petani langsung ke pedagang besar yang berhubungan langsung dengan eksportir, atau pedagang antar pulau. Adanya kecenderungan pergeseran pilihan saluran pemasaran tersebut terlihat cukup meningkatkan efisiensi pemasaran dibandingkan dengan saluran pilihan sebelumnya yang lebih dominan melalui pedagang kecil dan menengah.

Selain itu dari hasil analisis menunjukkan bahwa petani yang memilih saluran dari petani ke pedagang menengah yang selanjutnya langsung ke eksportir, merupakan saluran yang mulai dominan dipilih petani Kabupaten Kerinci dewasa ini, sebagaimana ditunjukkan 29,33% dari pilihan responden. Kemudian 45,33% responden menyatakan petani masih memilih menjual hasil panennya melalui pedagang kecil dan menengah di desa, dan kecamatan serta 20,00% responden menyatakan petani cenderung memilih pedagang menengah dan besar di kabupaten, dan 5,33% responden menyatakan petani memilih menjual langsung ke eksportir.

Selanjutnya dilihat dari mekanisme perdagangan kayu manis yang dilakukan di desa-desa dewasa ini menunjukkan bahwa, petani sebagai produsen dari waktu ke waktu belum banyak berubah, dimana dominasi pedagang kecil, menengah atau pedagang perantara di desa-desa dalam transaksi masih sangat kuat, terutama dalam menentukan mutu produk seperti dalam penentuan kadar air,

dan grade komoditas yang dihasilkan petani. Dari hasil wawancara dengan

responden terungkap dengan belum adanya standar baku dalam penentuan kadar air ketika terjadi transaksi penjualan komoditas di tingkat petani, sehingga petani berpeluang dirugikan, karena penentuan kadar air komoditas dalam bertransaksi umumnya masih menggunakan filling pedagang pembeli.

(20)

Margin Tata Niaga

Hasil analisis menunjukkan bahwa margin harga kayu manis di tingkat petani terlihat untuk farmer’s share jenis kayu manis grade KA atau kulit batang rata-rata harganya yaitu sebesar yaitu Rp.3.200/kg (61,29%) dari harga jual FOB eksportir tahun 2006, yaitu sebesar Rp. 5.221/kg. Sedangkan marjin biaya yang dikeluarkan oleh pedagang kecil yaitu sebesar Rp.128/Kg, pedagang menengah sebesar Rp.177/Kg. Sedangkan eksportir mengeluarkan biaya hingga siap di ekspor rata-rata sebesar Rp.773/Kg. Sedangkan penyusutan komoditas karena dipengaruhi oleh lag waktu antara pembelian dan penjualan serta adanya upaya peningkatan kualitas produk komoditas, yang semula dari produk asalan menjadi produk yang berstandar internasional atau sesuai standar yang diminta pembeli

(buyer), harus ditanggung oleh pedagang/eksportir, seperti ditunjukkan oleh

marjin pemasaran pada Tabel 13.

Tabel 13. Marjin Pemasaran Komoditas Kayu Manis Kabupaten Kerinci Jenis Produk Grade KA (Harga Rata-Rata) Tahun 2006

No. Uraian Marjin Pemasaran (Rp/Kg) Pangsa (%) Bentuk Produk 1. Harga Petani 3,200 61.29 2. Pedagang Kecil a. Harga Beli 3,200 b. Marjin Biaya 128 2.45 c. Marjin Keuntungan 180 3.45 d. Harga Jual 3,508 67.19 3.

Pedagang Menengah dan

Besar a. Harga Beli 3,508 b. Marjin Biaya 177 3.39 c. Marjin Keuntungan 295 5.65 d. Harga Jual 3,980 76.23 4. Pedagang / Eksportir a. Harga Beli 3,980 b. Marjin Biaya 773 14.8 c. Marjin Keuntungan 468 8.96 d. Harga Jual 5,221 100

(21)

Selain itu penyusutan dikarenakan komoditas kayu manis yang dihasilkan petani rata-rata masih berkualitas rendah dan belum siap untuk diekspor, sebagaimana ditunjukkan dengan kadar air yang masih relatif tinggi yaitu rata-rata 14%, dan kebersihan yang masih kurang baik, sehingga eksportir harus melakukan proses ulang seperti pencucian dan pengeringan serta sortasi dan pengolahan lainnya guna meningkatkan mutu komoditas yang berasal dari petani dan pedagang kecil, agar sesuai dengan standar FAO atau standar yang diinginkan pembeli (buyers) di luar negeri, seperti kadar air maksimal 12%.

Dari berbagai saluran tata niaga yang terlibat, terlihat eksportir merupakan kelompok yang menikmati marjin keuntungan yang paling besar dibandingkan dengan yang lainnya, sebagaimana pada Tabel 13, terlihat eksportir memperoleh marjin keuntungan sebesar Rp.468/kg atau 8,96% dari harga jual FOB. sedangkan pedagang pengumpul memperoleh marjin keuntungan sebesar Rp. 295/kg atau 5,65% dan pedagang kecil memperoleh marjin keuntungan sebesar Rp. 180/kg atau 3,45%. Besarnya marjin yang diperoleh pedagang besar dan eksportir, merupakan konsekuensi dari besarnya tanggung jawab pedagang besar/eksportir dalam menghasilkan produk siap ekspor.

Dengan demikian terlihat, perbedaan marjin keuntungan masing-masing saluran pemasaran, menunjukkan terjadinya aliran surplus dari petani ke pedagang dalam sistem agribisnis komoditas kayu manis. Karena petani sebagai penghasil komoditas memperoleh harga jual sebesar Rp.3.200/Kg, Nilai tersebut, diperoleh dengan investasi pemeliharaan selama 5 tahun, harus mengeluarkan biaya pemeliharaan sebesar Rp.1.000,-/Kg, dan biaya pengolahan sebesar Rp.1.000/Kg. Sehingga marjin keuntungan yang diperoleh petani relatif kecil dibandingkan dengan stakholders lainnya dalam tata niaga kayu manis, karena dengan melakukan pengolahan selama 3 minggu, ekportir dapat menikmati hasil atau marjin keuntungan sebesar Rp.468/Kg. Besarnya marjin keuntungan yang diperoleh pedagang dan eksportir terlihat terkait erat dengan struktur pasar yang oligopsoni, dimana eksportir bertindak sebagai price taker dalam perdagangan dengan petani.

Selanjutnya dilihat dari hubungan atau ikatan, terlihat eksportir/pedagang besar cenderung melakukan ikatan kontrak terhadap pedagang kecil, dengan cara

(22)

memberikan sejumlah bantuan modal dalam pemasaran kayu manis. Akibatnya adalah eksportir sebagai principal utama akan bertindak sebagai price maker, dan seterusnya harga tersebut akan menjadi standar bagi rantai tata niaga di bawahnya hingga berpengaruh pada penentuan harga beli di tingkat petani.

Kemudian hasil analisis menunjukkan bahwa masing-masing rantai pemasaran terlihat saling memaksimalkan olygopsony rent-nya. Sedangkan petani kayu manis cenderung menerima harga jual dan bagian profit margin yang lebih rendah. Rendahnya harga kayu manis bersamaan makin mahalnya kebutuhan input produksi terutama input primer, sehingga dalam jangka pendek kegiatan perkebunan kayu manis rakyat di Kabupaten Kerinci cenderung kurang berkembang. Pada hal masyarakat memiliki potensi untuk melakukan peningkatan dan pengembangannya guna meningkatkan kesejahteraan.

Selain itu adanya fluktuasi harga kayu manis merupakan fenomena yang cenderung dihadapi petani, namun apabila dilihat dari kondisi pasar, dimana perubahan supply-demand yang fundamental di pasar kayu manis internasional terlihat tidak mempengaruhi perubahan produksi di negara-negara produsen lainnya. Dengan demikian maka terlihat kecenderungan terjadinya kolusi dan kartel terselubung guna menghindari persaingan antar pembeli semakin terlihat. Sedangkan kondisi di tingkat petani terlihat dengan wadah organisasi yang lemah dan hilang timbul sehingga bargaining position petani semakin lemah di depan pedagang. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan kondisi petani sebagai produsen berhadapan secara individual dengan pembeli yang telah terorganisir dengan baik. Dalam kondisi demikian maka terlihat eksportir/pedagang besar sebagai pembeli menjadi sangat dominan dalam bargaining process (Dispertabun, 2006).

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, mayoritas pedagang kayu manis di Kabupaten Kerinci melakukan hubungan berkarakterisitik principal-agent dalam bentuk ikatan jasa, permodalan dan pemasaran dengan traders di Padang. Sedangkan traders di Padang bertindak sebagai principal, sekaligus price maker,

demikian seterusnya hingga ke tingkat terbawah pada pedagang pengumpul. Berbeda dengan banyak komoditas perkebunan lainnya, kayu manis memiliki spesifikasi tersendiri, diantaranya komoditas kayu manis merupakan komoditas

(23)

ekspor dengan penggunaan domestik yang masih relatif rendah. Oleh karena itu pendekatan yang dilakukan dalam menganalisis integrasi pasar, yaitu antara pasar di tingkat petani dengan pasar eksportir.

Hasil analisis menunjukkan bahwa harga jual di tingkat petani dipengaruhi oleh tidak terintegrasinya harga dengan pasar yang lebih tinggi. Kondisi tersebut, selain dipengaruhi oleh dominannya peran pedagang perantara, juga karena struktur pasar oligopsoni, dan memiliki posisi tawar (bargaining position) yang lemah. Kenyataannya lemahnya posisi tawar ini menyebabkan petani lebih bertindak sebagai penerima harga (price taker), sedangkan eksportir yang merupakan agent, bertindak sebagai penentu harga (price maker). Dengan demikian, maka dalam memaksimalkan keuntungan, terlihat pada setiap perubahan harga yang terjadi tidak serta merta ditransmisikan ke tingkat petani.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa keberdayaan saluran tata niaga kayu manis yang ada saat ini mencerminkan bahwa posisi petani dalam pemasaran tidak memiliki kekuatan, sehingga mereka terpaksa untuk mengikuti jalur pemasaran tradisional yang cenderung merugikan petani. Sedangkan secara umum saluran tata niaga selalu dimulai dari petani hingga eksportir. Dengan kemampuan finansial yang baik, pedagang pengumpul membayar secara tunai setiap melakukan transaksi, baik dengan pedagang desa maupun dengan petani. Selanjutnya eksportir yang berkedudukan di Padang, Jakarta, Jawa Barat dan Medan, berhubungan dengan pedagang pengumpul, sedangkan eksportir akan berhubungan dengan pasar internasional.

Dengan demikian terlihat bahwa secara umum pedagang pengumpul dan perantara (pedagang kecil, menengah) terikat pemasaran dengan pedagang besar/ eksportir. Dengan demikian maka pada tingkat yang lebih tinggi hingga lintas negara, kayu manis Kerinci dipasarkan ke Padang, dimana mayoritas eksportir merupakan agent-agent dari para traders di Padang terlihat memiliki ikatan. Dengan sistematika perdagangan seperti tersebut akhirnya Padang menjadi tujuan utama ekspor kayu manis Kabupaten Kerinci, walaupun akhir-akhir ini sebagian pemasaran kayu manis Kerinci sudah melalui Jakarta, Jawa Barat dan Medan Sumatera Utara, Tanjung Jabung (Jambi).

(24)

Kelembagaan Usaha Tani Kayu Manis Peranan Kelembagaan

Peranan kelembagaan petani yang dimaksud dalam penelitian ini, yaitu dibatasi pada aspek pengaturan-pengaturan institusional dan organisasi petani, sebagai institusi yang diperlukan guna memperkuat posisi petani dalam pengembangan sektor pertanian kayu manis di Kabupaten Kerinci. Mengorganisasikan petani kayu manis dalam bentuk kelompok-kelompok yang solid merupakan suatu upaya untuk mengurangi biaya-biaya transaksi serta memperkuat akses petani terhadap pasar sarana produksi seperti pasar input dan juga pasar output. Peran kelembagaan selain memperbaiki kekuatan tawar-menawar dan negosiasi petani dengan pedagang (pedagang pengumpul/eksportir), juga diharapkan dapat memperkuat dirinya dalam membangun kerjasama dan koordinasi antar petani dalam pengembangan usaha tani kayu manis.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kelembagaan petani cenderung tergabung dalam kelompok yang memiliki kelembagaan yang lemah dan sebagian besar masih merupakan alat penetrasi pemerintah, terutama dalam melaksanakan program pertanian, sehingga kelembagaan petani cenderung hilang timbul tidak berkembang dengan baik. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan hasil wawancara dengan petugas pertanian yang membidangi perkebunan kayu manis, menjelaskan bahwa kelompok tani kayu manis merupakan salah satu kelembagaan petani yang perkembangannya sudah pernah dibentuk, namun umumnya tidak berfungsi dengan baik. Selain itu dari hasil wawancara dengan petani terungkap bahwa kelembagaan petani yang pernah dibentuk, secara umum hanya berfungsi pada saat ada bantuan atau kegiatan proyek dari pemerintah. Dari kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelembagaan petani belum mandiri.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa berbagai permasalahan yang mendorong kurang berfugsinya kelembagaan petani, seperti KUD dan kelompok tani, karena umumnya lembaga tersebut sejak dari pembentukan terlihat sudah tidak berdasarkan atas kebutuhan petani, dan cenderung berdasarkan sekelompok kecil petani. Sehingga dalam perkembangan kelembagaan tersebut menjadi kurang efektif (Dispertabun, 2006).

(25)

Dalam posisi kayu manis Kabupaten Kerinci yang mendominasi kayu manis Indonesia dan berperan di pasar dunia, semestinya petani kayu manis Kerinci sudah membentuk organisasi petani yang kuat, sehingga dapat membantu memperbaiki kondisi pertanian kayu manis yang kian terpuruk. Kondisi tersebut sebagaimana ditunjukkan dari hasil wawancara dengan pejabat Pemda Kerinci yang membidangi pertanian kayu manis, menjelaskan bahwa belum mampunya KUD memperbaiki kondisi tata niaga kayu manis, seperti koperasi lainnya di Indonesia, karena dalam pengembagan sebagian besar masih merupakan bentukan sekelompok kecil orang/anggota masyarakat/petani yang berada di perdesaan, dengan kondisi manajemen yang kurang dipersiapkan. Implikasinya KUD yang merupakan salah bentuk kelembagaan yang diharapkan mampu meningkatkan peran usaha tani kayu manis, ternyata tidak mampu mensejahterakan anggotanya serta memberikan jasa-jasa yang dibutuhkan petani kecil di perdesaan, dan pada akhirnya kondisi tersebut tidak memberi insentif bagi petani, untuk bergabung dengan Koperasi Unit Desa (KUD).

Adanya kemauan pemerintah untuk merevitalisasi sektor pertanian, dan tumbuhnya berbagai lembaga baru seperti dibentuknya Direktorat Jenderal Perkebunan Tanaman Obat dan Rempah-Rempah di Departamen Pertanian serta berkembangnya asosiasi dan lembaga yang memperhatikan komoditas kayu manis, seperti lembaga Masyarakat Rempah Indonesia (MARI) dan Dewan Rempah Indonesia (DRI), diharapkan masa yang akan datang perhatian terhadap pengembangan komoditas kayu manis semakin meningkat. Walaupun sampai penelitian ini dilakukan petani belum merasakan adanya perbaikan dalam mengatasi persoalan dalam pengembangan komoditas kayu manis, khususnya bagi petani kayu manis di Kabupaten Kerinci.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada hakekatnya petani di perdesaan masih berharap perbaikan peran KUD dan kelompok tani sebagai organisasi yang dapat mendukung pertanian di perdesaan. Namun demikian dari hasil analisis terungkap hanya 5% petani kayu manis di Kabupaten Kerinci yang tercatat sebagai anggota KUD, dan sekitar 15% yang menggabungkan diri sebagai anggota kelompok tani kayu manis (Dispertabun, 2006).

(26)

Selanjutnya hasil analisis menunjukkan bahwa kurangnya minat petani untuk bergabung dengan lembaga KUD, karena petani melihat adanya persoalan besar dalam KUD dan kelompok tani serta organisasi sejenis, seperti belum mampunya KUD memberikan manfaat dan keuntungan bagi peningkatan kesejahteraan anggotanya. Hal ini karena pengelolaannya belum didukung secara profesional serta organisasi yang dibentuk masih bersifat kepentingan sesaat serta dibentuk oleh sekelompok kecil anggota dan cenderung hanya diperuntukkan untuk menjalankan program-program yang telah ditentukan pemerintah. Dengan demikian sehingga anggotanya tidak memiliki sense of belonging dalam organisasi tersebut. Implikasinya organisasi seperti KUD tidak berkembang dengan baik di masyarakat.

Kelembagaan dan Sistem Kontrak

Dalam pengembangan ekonomi kayu manis, bentuk kontrak akan menentukan pembagian pangsa keuntungan (profit share) yang diperoleh petani, informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memperbandingkan tingkat kesejahteraan para petani kayu manis di pedesaan dibandingkan pangsa yang diperoleh para agents lainnya seperti pedagang pengumpul. Informasi-informasi tentang sistem kontrak pertanian akan membantu menjelaskan kinerja pengembangan ekonomi kayu manis dalam konteks agribisnis yang ditinjau dari sudut kelembagaan ekonomi perdesaan. Baik yang berdasarkan pada tradisi norma-norma sosial, maupun sistem agribisnis lanjutan, hingga aspek perdagangan komoditas dalam cakupan pasar internasional. Informasi tersebut dapat memperkuat deteksi terhadap kondisi dan permasalahan yang dihadapi para petani kecil yang berkemampuan lemah dalam sistem kontrak yang terjadi serta dalam penentuan tingkat pendapatan petani.

Karena sistem kontrak tradisional berlangsung dalam pengembangan usaha tani kayu manis sehingga kontrak antara pelaku pasar terjadi dalam berbagai tingkatan, seperti terjadi di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, nasional, bahkan lintas negara. Sedangkan ditingkat farm gate, dalam pengembangan kayu manis di Kabupaten Kerinci, kontrak pertanian dilakukan melalui kredit pendahuluan melalui keterlibatkan petani dengan pedagang pengumpul yang berkedudukan di

(27)

desa atau di luar desa atau wilayah kecamatannya. Kontrak ini umumnya dilakukan berupa kredit input seperti sarana produksi dan juga dalam bentuk kebutuhan sembako. Sedangkan dalam kontrak pemasaran, pedagang pengumpul juga menjalin ikatan dengan pedagang desa melalui kredit modal. Terjadinya kondisi demikian menurut Anwar (2004) dari aspek kelembagaan, permodalan petani dapat didukung melalui usaha kredit mikro di perdesaan serta dapat dilakukan dengan meningkatkan kontrak permodalan dengan pedagang.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, pedagang pengumpul juga ada yang melakukan ikatan kontrak pemasaran melalui ikatan permodalan dengan eksportir yang berkedudukan di luar Kabupaten Kerinci seperti dengan pedagang di Padang. Kondisi tersebut hanya dalam bentuk langganan penjualan, bukan dalam bentuk kontrak, seperti dalam memenuhi kuota perdagangan. Umum pedagang Kerinci tidak melakukan kontrak penjualan dengan pedagang yang lebih besar. Sedangkan pada tingkatan terakhir terlihat eksportir melakukan ikatan kontrak pemasaran dan permodalan dengan para traders di luar negeri. Dari kondisi tersebut jelas bahwa pihak petani, dan pedagang di daerah memiliki posisi yang lebih dalam perdagangan komoditas, yang akhirnya mempengaruhi pendapatannya.

Pelaksanaan kontrak pertanian untuk komoditas kayu manis di Kabupaten Kerinci terlihat pada tingkat petani dan pedagang kayu manis dilakukan umumnya berupa kredit untuk mendukung kebutuhan harian petani. Jenis kredit tersebut seperti kredit input produksi dan sembako. Input produksi yang banyak dijadikan jasa kredit adalah berbentuk kebutuhan sembako serta kredit berupa input produksi. Kontrak pertanian yang sering dipraktekkan di tingkat petani kayu manis di Kabupaten Kerinci terlihat hanya dalam input seperti bentuk sembako dalam paket kreditnya bahan makanan lainnya.

Hubungan Principal-Agent dan Standarisasi

Hubungan principal-agent dalam kegiatan perdagangan komoditas kayu manis pada level kecil yaitu ditunjukkan pada hubungan antara pedagang pengumpul yang menguasai pasar yang bertindak sebagai principal. Sedangkan petani kayu manis merupakan pihak yang menerima bantuan bertindak sebagai

(28)

agents. Dalam konteks pengembangan komoditas kayu manis principal-agent

cenderung melakukan ikatan kerjasama informal yang disebut dengan kontrak pertanian. Dalam kegiatanya principal cenderung beraksi dengan memberikan kredit bantuan pendahuluan berupa natura dan sembako kepada agent. Sedangkan

agent berkewajiban mengembalikan kredit pada principal. Pengembalian kredit

biasanya dilakukan pada saat panen atau setelah penjualan hasil panennya dengan memiliki ikatan pada principal. Bentuk sistem kerjasama seperti ini terlihat masih terjadi di sebagian kalangan petani kayu manis di Kabupaten Kerinci.

Terdapat dua jenis informasi dalam hubungan principal-agent pada pengembangan komoditas kayu manis. Informasi pertama adalah tentang perilaku petani sebagai agent, baik yang berhubungan dengan karakter maupun dengan kemampuan. Informasi kedua berhubungan dengan perilaku pasar yang bisa berubah dengan sangat dinamis. Dalam konteks informasi tentang perilaku dan kemampuan agent umumnya terjadi informasi asimetryc, dimana petani sebagai

agent akan lebih tahu informasi yang menyangkut karakter dan kemampuan diri

sendiri. Sebaliknya principal dalam memilih petani sering menghadapi kesulitan, karena kesalahan dalam menilai karakter dan kemampuan, dapat menciptakan kerugian. Hal ini sesuai dengan Anwar (2004), bahwa resiko dapat terjadi ketika kesalahan dalam memilih penerima kontrak, sehingga akan timbul fenomena yang disebut adversely selection of risk, yaitu kemungkinan kesalahan dalam menyeleksi petani yang beresiko tinggi dalam kegiatan kontrak pertanian. Namun terjadi informasi asimetris, terlihat pedagang dan khususnya eksportir khususnya sebagai principal terlihat cenderung bertindak sebagai penguasa informasi, sebaliknya petani sebagai agent cenderung kesulitan mendapatkan informasi pasar yang sebenarnya. Pada hal informasi pasar sangat penting bagi petani kayu manis, terutama informasi mengenai perubahan harga. Kondisi tersebut dibuktikan oleh tidak terintegrasinya harga di tingkat petani dengan harga di tingkat eksportir.

Dengan berkembangnya media masa, sebenarnya persoalan informasi harga pada level yang lebih tinggi tidak menjadi kendala yang berarti bagi petani, karena secara umum informasi harga dapat diperoleh melalui berbagai media dan alat komunikasi. Namun pada tingkat pasar yang lebih rendah seperti pada tingkat pedagang pengumpul di daerah sulit untuk diketahui perubahannya terutama

(29)

berkaitan dengan harga pada tingkat eksportir atau pasar dunia. Persoalan kemudian berlanjut karena petani tidak mampu memperbaiki posisi tawar terhadap pembeli, walaupun informasi harga mudah diperoleh. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh lemahnya kelembagaan petani.

Dengan struktur pasar yang oligopsoni maka petani terlihat kesulitan untuk meningkat posisi tawarnya terhadap pedagang di padang. Sedangkan untuk posisi pedagang di padang dengan pedagang luar negeri posisi pasar berbentuk monopoli/monopsoni, dimana harga ditentukan oleh traders luar negeri. Hasil analisis tersebut sesuai dengan Anwar, (2004) menjelaskan hubungan pedagang kayu manis Padang dan Amerika Serikat berbentuk monopoli/monopsosni. Dalam kondisi tersebut terlihat petani kayu manis di Kabupaten Kerinci tidak siap dengan kelembagaan yang kuat, dan hanya bertindak sebagai price taker. Kondisi tersebut mendorong rendahnya posisi tawar petani terhadap pedagang. Karena siklus posisi tawar yang rendah yang berdampak pada rendahnya pendapatan petani dalam kegiatan agribisnis komoditas kayu manis rakyat dan berlangsung secara terus menerus sehingga petani tidak mendapatkan insentif untuk melakukan grading

atau standarisasi mutu komoditas kayu manis ke tingkat yang lebih baik.

Karena permintaan pasar dunia cenderung mendorong peningkatan atau perbaikan mutu (grading) yang lebih baik. Kondisi tersebut berimplikasi terhadap peningkatan pilihan ketentuan mutu dan standarisasi kayu manis yang lebih ketat. Dengan demikian grading dan standarisasi akan memainkan peranan penting dalam pemasaran komoditas. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun aturan main tentang grading dan standarisasi internasional sudah jelas, tetapi karena petani kayu manis tidak mendapatkan insentif untuk memperbaiki mutu, karena dengan posisi tawar yang rendah serta struktur pasar yang oligopsoni. sehingga walaupun mutu kayu manis yang dihasilkan menurut petani sudah dinilai baik, namun dihadapan pedagang, komoditas tersebut dapat saja dihargai kurang baik oleh pedagang pengumpul.

Selanjutnya hasil analisis menunjukkan bahwa pasar Amerika Serikat dan Belanda serta negara lainnya yang merupakan konsumen utama kayu manis Indonesia cenderung membutuhkan kayu manis dengan kualitas tinggi. Sedangkan pada tingkat pedagang besar/ekspor cenderung melakukan permintaan

(30)

kayu manis dalam bentuk non olahan, dan akan dilakukannya pengolahan ulung di tingkat eksportir, terutama dalam memenuhi standar ekspor dan permintaan pasar luar negeri. Dengan demikian sehingga produk turunan yang dihasilkan daerah kurangnya berkembang, dan akhirnya nilai tambah yang dapat diperoleh daerah dari tahun ke tahun menjadi relatif stagnan.

Kebijakan Pemerintah Daerah

Sebagai faktor penunjang dalam pengembangan sistem agribisnis komoditas kayu manis, peran kebijakan pemerintah sangat diperlukan, baik dari sisi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai kebijakan pemerintah baik dari sisi on farm maupun off farm terlihat terus diupayakan baik yang berasal dari program pemerintah pusat maupun dari program Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci sendiri. Namun hasil yang dicapai terlihat belum sepenuhnya menggembirakan petani. Berbagai kebijakan yang dilakukan pada sisi off farm

seperti mendorong pengembangan kelembagaan dan permodalan petani melalui program pengembangan koperasi petani di tingkat perdesaan yang berbentuk Koperasi Unit Desa (KUD) terlihat terus dilakukan, terutama ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Namun kenyataannya program tersebut belum mampu berperan dengan baik sebagai wadah penguatan kelembagaan petani, hal ini karena secara kelembagaan pembentukan KUD umumnya belum didasarkan pada kepentingan anggota dan didukung oleh ketersedian sumberdaya manusia yang memadai, sehingga dalam pelaksanaannya cenderung mengalami pasang naik dan pasang surut.

Kemudian dari sisi on farm dan pengolahan hasil komoditas, terlihat pemerintah daerah telah berupaya untuk meningkatkan pengolahan hasil seperti upaya menjadi kayu manis sebagai produk olahan daerah seperti menjadi Sirup Kayu Manis dan lain sebagainya. Walaupun upaya pengembangan terus dilakukan namun hasilnya belum optimal. Kondisi tersebut karena dipengaruhi oleh persoalan pemasaran yang masih sangat terbatas.

Selain itu dari aspek pengembangan dan budidaya terlihat walaupun kayu manis sebagai komoditi dominan di daerah, namun pengelolaan dalam sistem

(31)

pemanenan komoditas masih menghadapi persoalan seperti dengan sistem tebang habis. Kondisi tersebut terjadi karena adanya tekanan harga yang belum mengembirakan petani akibat dari inefisiensi dalam pemasaran dan pengolahan. Sedangkan upaya penanganan persoalan dalam pengembangan komoditas kayu manis melalui peningkatan kerjasama perdagangan antar wilayah dan antar negara yang terlihat belum dilakukan secara optimal. Bahkan hingga penelitian ini dilakukan kondisi sistem pemasaran hasil komoditas kayu manis tidak mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu.

Demikian juga dari sisi pengolahan hasil terlihat masih kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah, terutama dalam mendorong diversifikasi produk dan upaya memproteksi kayu manis petani seperti dalam menetralisir harga, karena saat ini sistem pemasarannya masih sepenuhnya berpola monopoli/monopsoni. Dengan demikian memperkuat posisi petani dengan membentuk organisasi yang memiliki daya tawar tinggi, dan meningkatkan daya saing agar komoditas yang dihasilkan petani mampu di ekspor dengan harga yang lebih baik tentu perlu menjadi pertimbangan untuk didorong peningkatannya.

Oleh karena itu apabila pemerintah bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bersamaan dengan meningkatkan pendapatan petani, maka ke depan perlu dilakukan pengutan kelembagaan petani, melakukan kerjasama dan membangun pusat informasi komoditi, terutama guna menekan tingkat asimetrik informasi yang merupakan persoalan dalam pemasaran. Selain itu dari sisi ekonomi organisasi terlihat kegagalan program-program pemerintah di perdesaan dipengaruhi oleh faktor-faktor kelembagaan di perdesaan yang tidak sesuai dengan konsep competitive yang mengasumsikan adanya perpect information

yang costless dalam pasar finansial pedesaan yang selalu dihadapkan pada banyaknya masalah inperpect information.

Rangkuman Hasil Analisis

Dari hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa perkembangan sistem agribisnis komoditas kayu manis di Kabupaten Kerinci terlihat belum efektif sebagaimana ditunjukkan dalam kegiatan pembudidayaannya masih kurang menggunakan pendekatan teknologi, pemeliharaan dan pemanenan cenderung

(32)

kurang beraturan, dan pengelolaannya akhir-akhir ini cenderung dilakukan dengan sistem tebang habis.

Kemudian pada subsistem pengolahan (processing), menunjukkan bahwa komoditas kayu manis yang diolah di Kabupaten Kerinci, setelah dilakukan pemanenan, pengolahannya untuk menghasilkan produk turunan belum berkembang. Dengan kata lain processing masih terbatas atau dominan dilakukan di luar wilayah. Dalam konteks pengembangan ekonomi wilayah dan sistem agribisnis terlihat pada subsistem processing dan pemasaran hasil menunjukkan pengelolaannya berpotensi mengalami kebocoran wilayah. Kondisi tersebut sebagaimana ditunjukkan dominannya processing dilakukan di luar wilayah dan hanya diolah di dalam wilayah sebesar 0,11% dari nilai output total. Dengan demikian sehingga nilai tambah komoditas yang dihasilkan relatif kecil. Kecilnya nilai tambah yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan agribisnis sehingga dalam upaya meningkatkan pendapatan patani cenderung mengalami kerugian.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa persoalan utama dalam pengelolaan sistem agribisnis komoditas kayu manis rakyat di Kabuaten Kerinci diantaranya adalah dominannya kegiatan pengolahan (processing) dan beberapa fungsi pemasaran lainnya dominan dilakukan di luar wilayah serta tidak efisiennya sistem pemasaran, lemahnya dukungan kelembagaan sehingga mendorong rendahnya harga di tingkat petani dan pada gilirannya mengurangi insentif petani untuk melakukan pengembangan komoditas, baik dalam aspek pembudidayaan maupun dalam pengolahan hasil.

Selain itu belum optimalnya fungsi kelembagaan dan faktor penunjang seperti dukungan kebijakan pemerintah dalam mendorong pengembangan komoditas seperti ditunjukkan belum adanya badan khusus yang memperhatikan keberadaan komoditas kayu manis yang merupakan komoditas dominan dan andalan ekspor daerah, serta belum adanya kerjasama antar wilayah yang optimal terutama dalam aspek hubungan perdagangan komoditas yang dapat saling menguntungkan. Demikian juga dari aspek pemasaran terlihat petani menghadapi persoalan asimetrik informasi terutama terhadap informasi harga dan perkembangan supply dan demand di pasar yang lebih tinggi. Sehingga pelaku agribisnis kayu manis Kabupaten Kerinci cenderung terjebak pada kondisi over

(33)

supply dan rendahnya harga komoditas dalam kondisi membaiknya harga komoditas di pasar internasional. Kondisi tersebut juga memberi dampak terhadap rendahnya pendapatan dan kesejahteraan petani serta perekonomian wilayah, yang akhirnya mempengaruhi lesunya pengembangan komoditas, baik dari aspek pengolahan maupun pemasaran.

Selanjutnya kayu manis sebagai bahan baku dan campuran bahan makanan, minuman, obat-obatan, rokok dan kosmetik, dengan penggunaannya yang cenderung terus meningkat, namun karena petani cenderung menghadapi asimetrik informasi sehingga manfaat yang diperoleh tidak optimal, terutama dalam meningkatkan pendapatan petani. Dengan demikian, berlangsungnya globalisasi perdagangan dan terbukanya peluang pemasaran yang lebih luas maka melakukan kerjasama perdagangan yang lebih luas ke negara lainnya atau ke wilayah lainnya dengan prinsip saling menguntungkan, melalui kemitraan dan melakukan kontrak perdagangan serta membangun informasi komoditi yang baik perlu dilakukan.

Hasil analisis pengelolaan sistem agribisnis komoditas kayu manis menunjukkan bahwa pada subsistem processing dan pemasaran belum berfungsi secara optimal terutama dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk meningkatkan peran pengolahan hasil (processing) dan pemasaran, maka ke depan perlu dilakukan (1) kerjasama antar daerah/negara dengan prinsip saling menguntungkan; (2) memperkuat kelembagaan petani di daerah serta perlu mengintegrasikan kegiatan tersebut dengan penggunaan teknologi; (3) mendorong pengembangan budidaya dengan sistem pemeliharaan dan pemanenan melalui pola tebang pilih, dan (4) mengintegrasikan kegiatan budidaya dengan kegiatan agroindustri processing, sehingga nilai tambah komoditas dapat dimanfaatkan bagi peningkatkan pendapatan, kesejahteraan masyarakat, serta perekonomian wilayah.

Gambar

Tabel 7. Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Tanaman Kayu Manis Indonesia,  Provinsi Jambi, dan Kabupaten Kerinci, Tahun 2000-2006
Tabel 8. Laju Pertumbuhan Luas Areal dan Produksi Tanaman Kayu Manis  Kabupaten Kerinci, Tahun 2001-2006
Gambar 10. Peta Sebaran Perkebunan Kayu Manis Rakyat Kabupaten Kerinci
Gambar 11. Perkembangan Produksi dan Luas Areal Kayu Manis di Kabupaten  Kerinci Periode Tahun 1990-2006
+5

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat dari penelitian ini antara lain: (i) memberikan kemudahan tim dalam melakukan proses penilaian dan perangkingan hasil ujian, (ii) Pelamar dapat

Penelitian ini dibingkai dalam topik besar implementasi metode tematik pada anak tunagrahita yang secara khusus melihat praktek pendidikan di sekolah menengah pertama

Sehingga dengan kata lain, pustakawan di Asia Tenggara yang mampu menghadapi globalisasi dan pasar bebas adalah pustakawan yang memahami konsep jati diri sebagai pustakawan,

Grafik 1 menunjukkan persentase kecerdasan visual spasial anak kelompok B PAUD Anak Bangsa, Kota Serang pada pra siklus dengan jumlah 4 anak yang memiliki persentase lebih

Hasil wawancara dengan guru PN dan SM mengungkapkan bahwa subjek KK yang memiliki kebiasaan mengimitasi permainan guru daripada membaca not balok akan menjadikan

Tingkat kematian karang termasuk kategori tinggi mencapai 14%, penyebab utama kematian karang di Pulau Tikus adalah aktivitas nelayan harian yang mencari ikan di

Kasus tindak pidana penadahan sepeda motor yang merupakan study putusan Pengadilan Negeri Purwokerto dengan nomor putusan 154/Pid.B/2017 ditinjau dari sudut

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat dianalisis bahwa pengawasan yang dilakukan oleh Komisi II DPRD Kota Metro di bidang pendidikan dilaksanakan melalui