Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Brawijaya
1632
Implementasi Metode Dempster Shafer dalam Mendiagnosa Penyakit
Tanaman Jeruk
Salam Maulana1, Nurul Hidayat2, Edy Santoso3
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Tanaman Jeruk merupakan salah satu komoditas unggulan nasional yang mempunyai peran penting dalam peningkatan devisa negara. Berdasarkan data dari Badan Litbang Pertanian Indonesia (2015) Pertumbuham impor jeruk sebesar 11% tiap tahun dalam sepuluh tahun ini membuat Indonesia menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi negara lain dalam memasarkan produknya. Hal ini seharusnya mendorong para petani khususnya petani tanaman jeruk harus berinovasi agar tidak kalah bersaing dengan hasil produk impor. Banyak masyarakat yang mencoba untuk membudidayakan tanaman jeruk. Tetapi semakin banyaknya petani yang mencoba membudidayakan tanaman jeruk tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai cara menangani tanaman jeruk apabila terserang penyakit. Banyak kendala–kendala para petani dalam menanam atau membudidayakan tanaman jeruk. Salah satu kendalanya yaitu penyakit yang menyerang tanaman jeruk. Hama penyakit tanaman jeruk merupakan OPT (Organisme Pangganggu Tanaman) yang harus diperhatikan, karena dapat mempengaruhi kondisi maupun produktifitas tanaman jeruk. Organisme Pangganggu Tanaman tersebut selain sebagai hama juga sebagai vektor pembawa penyakit. Dalam penelitian kali ini, sistem dikembangkan menggunakan metode Dempster-Shafer sebagai media diagnosis penyakit tanaman jeruk. Tujuan dari penelitian ini untuk membantu pengguna sistem khususnya para petani tanaman jeruk agar dapat mengetahui atau mengidentifikasi penyakit ketika tanaman jeruk terkena penyakit serta cara menanggulanginya. Dari kasus uji coba yang telah dilakukan dari 30 data uji, didapatkan hasil pengujian akurasi sebesar 90% menunjukkan bahwa aplikasi berfungsi dengan baik sesuai dengan metode shafer Dempster-shafer.
Kata kunci: Penyakit tanaman jeruk, Dempster Shafer.
Abstract
Citrus Plants is one of the national commodities that has an imporant role in increasing the country's foreign exchange. According to the data from Badan Litbang Pertanian Indonesia (2015), the increase imports of citrus by 11% anually in a span of a decade, makes Indonesia become a promising International markets. It should encourage farmers, especially citrus farmers to innovate in order to compete with imported goods. Many people are trying to cultivate citrus crops. However, it is not balanced with the knowledge of how to deal with crops diseasaes. There are many problems regarding citrus plants faced by farmers, one of which is pest problem that needs special attention, for it affects the production and cause diseases. In this research, the system was developed using Dempster-Shafer method as disease detector. The data were collected using interview related to theory. The results of this research is a plant disease-diagnostic system utilizing Demspter-Shafer method that detect simptom, cause, and solution; and it is based on theory of the experts. Based on the tests that had been done, it was found that the acuracy reached 90% that indicates the system was functioning properly using Dempster-shafer.
Keywords: The Citrus plant disease, Dempster-Shafer
1. PENDAHULUAN
Tanaman Jeruk merupakan salah satu komoditas unggulan nasional yang
mempunyai peran penting dalam peningkatan devisa negara. Tanaman Jeruk dapat tumbuh dan dibudidayakan oleh petani di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan varietas atau spesies komersial yang
berbeda dan dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat baik masyarakat dengan pendapatan rendah hingga yang berpenghasilan tinggi. Badan Litbang Pertanian Indonesia (2015) mengungkapkan bahwa produktivitas usaha tani jeruk nasional cukup tinggi, yaitu berkisar 17-25 ton/ha dari potensi 25-40 ton per ha. Pada tahun 2004, luas panen jeruk mencapai 70.000 ha dengan total produksi sebesar 1,600,000 ton, sekaligus menempatkan posisi Indonesia sebagai negara penghasil utama jeruk dunia ke 13 setelah Vietnam.
Dengan telah diberlakukannya pasar perdagangan bebas di Asia Tenggara membuat serbuan produk impor dari negara–negara tetangga semakin besar, salah satunya komoditi tanaman jeruk. Pertumbuham impor jeruk sebesar 11% tiap tahun dalam sepuluh tahun ini membuat Indonesia menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi negara lain dalam memasarkan produknya. Hal ini seharusnya mendorong para petani khususnya petani tanaman jeruk untuk berinovasi agar tidak kalah bersaing dengan hasil produk impor. Banyak masyarakat yang mencoba untuk membudidayakan tanaman jeruk. Tetapi semakin banyaknya petani yang mencoba membudidayakan tanaman jeruk tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai cara menangani tanaman jeruk apabila terserang oleh penyakit. Banyak kendala– kendala para petani dalam menanam atau membudidayakan tanaman jeruk, salah satu kendalanya yaitu penyakit yang menyerang tanaman jeruk. Hama penyakit tanaman jeruk merupakan OPT (Organisme Pangganggu Tanaman) yang harus diperhatikan, karena dapat mempengaruhi kondisi maupun produktifitas tanaman jeruk, lebih – lebih Organisme Pangganggu Tanaman tersebut selain sebagai hama juga sebagai vektor pembawa penyakit. Masalah yang paling menonjol adalah serangan penyakit CVPD, yang salah satunya ditularkan oleh serangga hama.
Badan Litbang Pertanian Indonesia (2015) dan Pegawai Penyuluh Lapangan dari Badan Pertanian menyatakan bahwa masih terdapat petani atau masyarakat yang dalam membudidayakan tanaman jeruk tidak dibekali ilmu atau pengetahuan dalam menangani hama penyakit tanaman jeruk.
Dikarenakan ketidaktahuan atau kurang pahamnya petani jeruk tentang penyakit yang menyerang tanaman jeruk menyebabkan petani seringkali terlambat dalam mengetahui bahwa tanaman jeruknya telah terjangkit penyakit tanaman, bahkan tidak jarang petani juga tidak tahu cara mengatasi dan penanganan pertama ketika tanaman jeruk terserang penyakit. Meskipun sudah banyak pakar spesialis penyakit jeruk tetapi pakarpun mempunyai keterbatasan seperti terbatasnya jam kerja dan banyaknya kunjungan kerja sehingga menyulitkan petani untuk melakukan konsultasi langsung. Keterbatassan tersebut dapat disiasati dengan suatu teknologi informasi yang dapat membantu meringankan pakar dengan cara mengembangkan aplikasi sistem pakar diagnosis penyakit pada tanaman jeruk berbasis web. Tujuan penelitian ini untuk memberikan informasi mengenai penyakit tanaman jeruk dan dapat mendiagnosis penyakit tanaman jeruk beserta pencegahan awalnya
Penelitian mengenai penyakit tanaman jeruk sebelumnya pernah dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Jaenal Arifin (2011) dengan judul Sistem Pakar untuk mengidentifikasi jenis penyakit pada tanaman Jeruk berbasis WAP (Web Acces Protocol). Sistem tersebut akan memberikan informasi dan diagnosis kepada pengguna mengenai berbagai macam jenis penyakit pada tanaman jeruk. Tetapi Aplikasi ini akan tidak efektif apabila jumlah gejala pada satu jenis penyakit terlalu banyak, misal 50 gejala, karena waktu yang dibutuhkan akan relatif panjang karena harus menjawab 50 pertanyaan untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Pada penelitian lain Yuangga Dwi Purwita (2016) dengan judul “Pemodelan Sistem Pakar untuk mengdiagnosis Penyakit Paru pada anak dengan metode Dempster Shafer”. Dari hasil pengujian penelitian tersebut didapatkan kesimpulan bahwa sistem pakar untuk mendiagnosis penyakit paru pada anak dengan menggunakan metode
Dempster Shafer memiliki tingkat keberhasilan dengan persentase sebesar 86,66%. Akurasi ini didapatkan dari keberhasilan sistem dalam mendiagnosis 13 kasus uji dengan benar dari 15 data kasus uji yang ada. Data yang digunakan merupakan
data yang didapatkan dari pakar dan saat ujicoba dilakukan didampingi oleh pakar langsung. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa metode Dempster-Shafer berfungsi dengan baik sesuai diagnosis pakar.
Pada penelitian ini penulis mencoba mengimplementasikan metode Dempster Shafer untuk mendiagnosis penyakit tanaman jeruk dengan judul “ Implementasi Metode Dempster Shafer dalam Diagnosis Penyakit Tanaman Jeruk” dengan tujuan membantu para petani dapat mendiagnosis penyakit yang menyerang tanaman jeruk sehingga kuantitas dan produktifitas tanaman jeruk meningkat.
2. LANDASAN KEPUSTAKAAN
2.1 Metode Dempster Shafer
Ada berbagai macam penalaran dengan model yang lengkap dan sangat konsisten, tetapi pada kenyataannya banyak permasalahan yang tidak dapat terselesaikan secara lengkap dan konsisten. Ketidakkonsistenan tersebut adalah akibat adanya penambahan fakta baru. Penalaran yang seperti itu disebut dengan penalaran non-monotonis. Untuk mengatasi ketidakkonsistenan tersebut maka dapat menggunakan penalaran dengan teori Dempster-Shafer.
Menurut (Sulistyohati, 2008) secara umum teori Dempster-Shafer ditulis dalam suatu interval [Belief, Plausability]
Belief (Bel) adalah ukuran kekuatan
evidence dalam mendukung suatu himpunan proposisi. Jika bernilai 0 maka mengindikasikan bahwa tidak ada evidence, dan jika bernilai 1 menunjukkan adanya kepastian.
Plausibility (Pl) ditulis dalam persamaan 2.1.
Pl(X) = 1 – Bel ......(2.1)
Plausability juga bernilai 0 sampai 1. Jika yakin X, maka dapat dikatakan bahwa Bel (⌐x) = 1, dan Pl (x) = 0.
Pada teori Dempster-Shafer dikenal adanya
Frame of Discrement yang dinotasikan sebagai ϴ. Frame ini merupakan semesta pembicaraan dari sekumpulan hipotesis.
Misalkan: ϴ = {P01, P02, P03} Dengan P01 = Inatentif P02 = Impulsif
P03 = Hiperaktif
Tujuannya adalah mengaitkan ukuran kepercayaan elemen-elemen ϴ. Tidak semua evidence secara langsung mendukung tiap-tiap elemen. Sebagai contoh, gejala Banyak merasa khawatir hanya mendukung {P01}.
Untuk itu perlu adanya probabilitas fungsi densitas (m). nilai m tidak hanya mengidentifikasikan elemen-elemen ϴ saja, namun juga semua subsetnya. Kita harus menunjukkan bahwa jumlah semua m dapat subset ϴ sama dengan 1. Apabila tidak ada informasi apapun untuk memilih keempat hipotesis tersebut, maka nilai:
m{ϴ} = 1,0
Jika kemudian diketahui bahwa Banyak merasa khawatir merupakan gejala dari Inatentif dan Y juga merupakan subset dari ϴ dengan m = 0,7 maka:
m{P01, P02, P03} = 0,3 m{ϴ} = 1 – 0,3 = 0,7
Apabila diketahui X adalah subset dari ϴ, dengan m1 sebagai fungsi densitasnya dan Y
juga merupakan subset dari ϴ dengan m2 sebagai fungsi densitasnya, maka dapat dibentuk fungsi kombinasi m1 dan m2 sebagai m3 sehingga didapatkan Persamaan 2.2, yaitu:
mi
(
Z
) =
∑𝑥∩y=𝑍𝑚1 (𝑥).𝑚2(𝑦)1−∑𝑥∩𝑦=Øm1(x).m2(y)
Keterangan:
m = Nilai Densitas (kepercayaan)
XYZ = Himpunan Evidence Ø = Himpunan Kosong 2.2 Penyakit Tanaman Jeruk
Ada beberapa penyakit tanaman yang umumnya menyerang tanaman jeruk, antara lain :
a.
CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration).Penyakit ini disebabkan oleh organisme, tepatnya jenis kutu loncat yang mempunyai nama ilmiah Diaphorina Citri. Penyakit ini menyerang bagian batang pohon jeruk yang ditanam. Gejala yang dialami apabila tanaman jeruk terserang CVPD antara lain rasa buah yang sangat masam, ukuran buah yang kecil dan daun berguguran.
b.
TristezaPenyakit ini disebabkan oleh virus Tristeza. Gejala yang dialami antara lain pertumbuhan tanaman menjadi terhambat,
daun kaku dan berukuran lebih kecil dengan tepinya melengkung keatas, terjadi pemucatan tulang daun (vein clearing) berupa garis-garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya 2 minggu sampai 2 bulan setelah tertular.
c.
BlendokPenyakit Blendok atau Diplodia merupakan salah satu penyakit utama pada jeruk. Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang mempunyai nama ilmiah Diplodia Natalensis. Bagian yang diserang adalah batang atau cabang pohon.Gejala umum yang ditimbulkan berupa warna batang yang menjadi keabu - abuan dan juga kulit batang kering dan mengelupas
d.
Embun TepungPenyakit ini umum terjadi pada waktu musim pertunasan, ditandai dengan adanya lapisan tepung putih pada bagian atas daun, yang dapat menyebabkan daun malformasi (mengering akan tetapi tidak gugur). Kumpulan tepung putih pada daun, tunas dan buah muda merupakan masa konidia jamur Oidium tingitanium yang menyerang bagian daun jeruk.
e.
Busuk BuahPenyakit busuk buah disebabkan oleh mikroorganisme Penicillium spp. , Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yg diserang adalah buah. Gejala yang dialami antara lain permukaan daun muncul bintik – bintik hitam dan pada daun timbul warna coklat.
f.
Busuk akar dan Pangkal BatangPenyakit ini menyerang bagian akar dan batang dari pohon jeruk. Penyakit ini umumnya menyerang pada bagian pangkal batang dekat permukaan tanah atau pada bagian sambungan antara batang atas dan bawah bibit jeruk okulasi. Gejala umum yang terlihat kulit akar membusuk, daun layu dan menyebabkan daun berguguran.
g.
Kanker JerukPenyakit kanker yang disebabkan oleh patogen Xanthomonas axonopodis pv. citri. Gejala awal berupa bercak putih pada sisi bawah daun yang lama kelamaan akan menjadi warna coklat, kadang-kadang berwarna kuning di sepanjang tepinya. Warna buah menjadi pucat, menggelembung dan buah menjadi busuk.
3. PERANCANGAN
Ada beberapa tahapan dalam pembuatan pemodelan sistem untuk diagnosa penyakit pada tanaman jeruk dengan metode Dempster-Shafer. Tahapan tersebut antara lain studi literatur, pengumpulan data, analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi sistem, pengujian sistem, dan pengambilan kesimpulan. Perancangan dilakukan meliputi tiga tahap, yaitu proses analisa kebutuhan perangkat, perancangan sistem pakar dan perancangan perangkat lunak. Pada tahap analisa kebutuhan perangkat terdiri atas diagnosa aktor, analisa kebutuhan masukan, analisa kebutuhan proses, dan analisa kebutuhan keluaran. Perancangan pada sistem pakar sendiri terdiri dari perancangan akuisisi, pengetahuan, basis pengetahuan, representasi pengetahuan, basis pengetahuan, mesin inferensi, blackboard, fasilitas penjelas, dan interface user. Model Tree dari perancangan sistem pakar dapat dilihat lebih jelasnya pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Pohon Perancangan 3.1 Perancangan Perangkat Lunak
Perancangan perangkat lunak ini diawali dengan diagnosa aktor-aktor yang terlibat dalam sistem pakar, penjabaran kebutuhan masukan, proses, dan keluaran.
Tabel 3.1 Diagnosa Aktor Aktor Deskripsi proses
User Melakukan diagnosis gejala penyakit tanaman jeruk
Pakar Tambah, hapus, edit data Rule
Tambah, hapus, edit data gejala
Tambah, hapus, edit data penyakit
Tambah, hapus, edit data informasi user.
Diagnosa aktor bertujuan untuk mengetahui aktor yang terlibat dalam penggunaan sistem pakar diagnosa penyakit tanaman jeruk. Aktor yang berinteraksi dengan sistem pakar tersebut 3.2 Daftar Kebutuhan Fungsional
Tabel kebutuhan fungsional memiliki penj.elasan kebutuhan yang harus disediakan oleh sistem, aktor yang berperan pada kebutuhan tersebut, serta nama proses yang menunjukkan fungsionalitasnya
Tabel 3.2 Daftar Kebutuhan Fungsional ID Requirements Actor Keterang
an FO_ 01 Sistem bisa menampilkan informasi jenis-jenis penyakit pada tanaman jeruk Pakar / admin Lihat informasi FO_ 02
Sistem bisa melakukan login (pakar) Pakar / admin Login FO_ 03
Sistem bisa menerima
data gejala yang
diinputkan oleh user
untuk melakukan proses diagnosa User Proses Diagnosa FO_ 04 Sistem bisa menampilkan hasil diagnosa penyakit
tanaman jeruk yang
berdasarkan gejala
yang diinputkan oleh seorang user. User Lihat Hasil Diagnosa FO_ 05
Sistem bisa melakukan uji diagnosa penyakit
Pakar / Admin Proses Diagnosa FO_ 06 Sistem bisa menampilkan seluruh data hasil diagnosa penyakit yang diinput user maupun hasil uji diagnosa. Pakar / Admn Lihat Hasil Diagnosa FO_ 07 Sistem dapat menampilkan data informasi user. Pakar / Admin Lihat Informasi user FO_ 08 Sistem bisa menyediakan antarmuka untuk memasukkan data
gejala oleh seorang pakar. Pakar/Ad min Input Data Gejala FO_ 9
Sistem bisa melakukan perubahan data gejala.
Pakar/Ad min Update Data Gejala FO_ 10 Sistem mampu
menghapus data gejala
Pakar / Admin Delete Data Gejala FO_ 11 Sistem bisa menyediakan antarmuka untuk memasukkan nilai Bobot. Pakar/Ad min Input Nilai Bobot Sistem bisa menyediakan antarmuka untuk
mengubah nilai Bobot.
Pakar / Admin Update Nilai Bobot FO_ 12 Sistem mampu menambahkan data tentang penyakit tanaman jeruk Pakar/Ad min Input Data penyakit FO_ 13 Sistem mampu melakukan perubahan data penyakit tanaman jeruk Pakar/Ad min Update Data penyakit FO_ 14 Sistem mampu menghapus data Penyakit Pakar/Ad min Delete Data penyakit FO_ 15 Sistem menyediakan antarmuka logout Pakar/Ad min Logout
3.3 Perancangan Sistem Pakar
Sistem pakar pada penelitian ini digunakan untuk mendiagnosa penyakit tanaman jeruk. Metode yang diterapkan yaitu Dempster shafer. Metode Dempster-Shafer digunakan untuk proses pengambilan kesimpulan, sedangkan penulusuran jawaban untuk mencari nilai kepercayaan terbesar dari hasil perhitungan metode Dempster-Shafer menggunakan metode Forward Chaining.
3.3.1 Akuisisi Pengetahuan
Akuisisi pengetahuan merupakan akumulasi, transfer, dan transformasi keahlian dalam menyelesaikan masalah dari sumber pengetahuan kedalam komputer dan meletakkannya dalam basis pengetahuan dengan format tertentu. Bahan pengetahuan dapat diperoleh dengan beberapa cara, seperti dari buku internet, maupun pengetahuan yang berasal dari pakar. Pada penelitian ini proses akuisisi pengetahuan diperoleh dari buku , jurnal dan wawancara dengan pakar. Hasilnya diperoleh Macam-macam penyakit tanaman jeruk, terdapat 7 jenis penyakit yang ditunjukkan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Jenis Penyakit Pada Tanaman Jeruk
Kode Nama Penyakit
P01 Penyakit Tristeza
P02 Penyakit embun tepung (Powdery Mildew)
P03 Penyakit kanker (Botryosphaeria Sp.)
P04 Busuk buah (Gloeosporium Sp.)
P05 Busuk akar (Armilliaria Melea)
P06 Penyakit CVPD
Gejala-gejala dari penyakit tanaman jeruk terdapat 20 gejala dari 7 penyakit tanaman jeruk. Gejala-gejala yang ditentukan oleh pakar disebutkan pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Gejala Penyakit Pada Tanaman Jeruk Kode Gejala
G01 Permukaan daun tumbuh bintik hitam
G02 Daun timbul warna coklat
G03
Pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus atau memanjang
G04 Sisi daun melengkung ke atas
G05 Pertumbuhan daun tidak teratur
G06 Pada daun atas tampak putih
G07 Tunas tidak normal
G08 Berkutil coklat
G09 Daun berguguran
G10 Buah membusuk
G11 Bintik warna coklat dibuah
G12 Batang Mengelupas
G13 Kulit batang mongering
G14 Warna batang menjadi keabu – abuan.
G15 Rasa buah yang sangat masam
G16 Buah mempunyai ukuran kecil
G17 Kulit akar membusuk
G18 Daun layu
G19 Warna buah pucat
G20 Buah Menggelembung
3.3.2 Basis Pengetahuan
Basis pengetahuan berisi tentang pengetahuan yang relevan yang diperlukan untuk memahami, merumuskan dan memecahkan persoalan Basis pengetahuan merupakan inti program dari sistem dimana basis pengetahuan merupakan representasi pengetahuan dari seorang pakar. 3.3.3 Representasi Pengetahuan
Untuk memprediksi jenis penyakit yang dialami oleh tanaman jeruk maka setiap gejala yang ada perlu dianalisis dan setelah diketahui gejala yang mempengaruhi jenis penyakitnya kemudian dibuatlah aturan (rule). Dari kombinasi data gejala yang menjadi penyebab penyakit pada tanaman jeruk, maka dapat disimpulkan ada 7 (tujuh) aturan atau rule yang bisa dijelaskan dengan Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Tujuh aturan atau rule
No Aturan (Rule)
R1 IF Pemucatan tulang daun
ELSE Sisi daun melengkung keatas ELSE Pertumbuhan daun tidak teratur THEN Penyakit Tristeza
R2 IF Pada Daun Atas Tampak Putih
ELSE Tunas Tidak Normal ELSE Berkutil Coklat
THEN Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)
R3
IF Buah Membusuk
ELSE Daun Timbul Warna Coklat ELSE Bintik warna coklat dibuah
ELSE Mengelembung ELSE Warna Buah Pucat THEN Penyakit Kanker (Botryosphaeria Sp.)
R4 IF Daun Timbul Warna Coklat
ELSE Permukaan Daun Tumbuh Bintik Hitam
THEN Busuk Buah (Gloeosporium Sp.)
R5 IF Daun Layu
ELSE Daun Berguguran ELSE Kulit Akar Membusuk THEN Busuk Akar
R6
IF Buah Mempunyai Ukuran Yang Kecil
ELSE Rasa Buah Yang Sangat Masam ELSE Daun berguguran
THEN Penyakit CVPD R7
IF Batang mengelupas ELSE Daun berguguran
ELSE Warna Batang Yang Menjadi Keabu - abuan
THEN Penyakit Blendok
4. IMPLEMENTASI
Bab ini membahas mengenai implementasi perangkat lunak berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari analisis kebutuhan dan proses perancangan perangkat lunak yang telah dibuat.
Implementasi yang dibahas menggunakan bahasa pemrograman PHP dan menggunakan database PHPMyAdmin. Bahasa pemrograman PHP digunakan untuk membangun aplikasi. Database
PHPMyAdmin digunakan untuk menyimpan data.
5. PENGUJIAN DAN ANALISIS
Pada bab ini membahas mengenai proses pengujian sistem pakar diagnosa Penyakit Tanaman Jeruk yang telah dibangun. Proses pengujian yang dilakukan ialah pengujian akurasi. Pengujian akurasi digunakan untuk menguji tingkat akurasi antara perhitungan tes secara manual dengan perhitungan tes yang telah diimplementasikan menjadi sistem pakar. 5.1 Pengujian Akurasi
Tabel 5.1 Hasil Pengujian Akurasi No . Gejala Hasil Diagnos a Sistem Hasil Diagnosa Pakar Aku rasi 1 Permukaan daun tumbuh bintik hitam Daun timbul warna coklat Pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus / memanjang Busuk Buah Busuk Buah 1 2 Pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus / memanjang Pertumbuhan Daun tidak teratur Daun timbul warna coklat Tristeza Tristeza 1 3 Sisi daun melengkung ke atas Pertumbuhan daun tidak teratur Tunas Tidak normal Berkutil coklat Embun Tepung Embun Tepung 1 4 Pada daun atas tampak putih Berkutil coklat Embun tepung Embun Tepung 1 5 Bintik warna coklat Daun berguguran Batang mengelupas Blendok Blendok 1 6 Daun berguguran Buah membusuk Bintik warna coklat Buah mempunyai ukuran kecil Kanker Jeruk CPVD 0 7 Buah Membusuk Batang Mengelupas Kulit batang mongering Kulit akar membusuk Daun layu Busuk akar & Pangkal Batang Busuk akar & Pangkal Batang 1 8. Buah membusuk Buah mempunyai ukuran kecil Rasa Buah sangat masam CVPD CVPD 1 9 Rasa buah yang sangat masam Buah mempunyai ukuran kecil Warna Buah pucat CVPD CVPD 1 10 Pada daun atas tampak putih Daun berguguran Embun Tepung Embun Tepung 1 11 Buah membusuk Kanker Jeruk Kanker Jeruk 1 12 Daun berguguran Batang mengelupas Kulit batang mengering Tunas Tidak Normal Berkutil Coklat Embun Tepung Blendok 0 13 Tunas tidak beraturan Embun Tepung Embun Tepung 1 14 Daun berguguran Kulit akar membusuk Daun layu Busuk akar & Pangkal Batang Busuk akar & Pangkal Batang 1 15 Daun timbul warna coklat Tunas tidak normal Buah membusuk Kanker Jeruk Kanker Jeruk 1
16 Pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus / memanjang Sisi daun melengkung keatas Tristeza Tristeza 1 17 Bintik warna coklat dibuah Buah membusuk Kanker Jeruk Kanker Jeruk 1 18 Batang mengelupas Kulit batang mengering Warna batang menjadi keabu – abuan Blendok Blendok 1 19 Rasa buah yang sangat masam Buah mempunyai ukuran kecil CVPD CVPD 1 20 Sisi daun menggulung ke atas Pertumbuha n daun tidak teratur Pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus / memanjang Tristeza Tristeza 1 21 Permukaan daun tumbuh bintik hitam Sisi daun melengkukn g keatas Pertumbuha n daun tidak teratur Tunas tidak normal Tristeza Tristeza 1 22 Pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus / memanjang Kulit batang mengering Pada daun atas tampak putih Sisi daun melengkung keatas Tristeza Embun Tepung 0 Pertumbuhan daun tidak teratur Buah membusuk 23 Daun berguguran Rasa buah sangat masam Warna buah pucat Buah menggelemb ung CVPD CVPD 1 24 Bintik warna coklat pada buah Buah membusuk Kanker jeruk Kanker jeruk 1 25 Pada daun atas tampak putih Tunas tidak normal Sisi daun melengkung keatas Embun tepung Embun Tepung 1 26 Tunas tidak normal Daun berguguran Bintik warna coklat pada buah Kulit batang mengering Embun Tepung Embun Tepung 1 27 Permukaan daun tumbuh bintik hitam Daun timhul warna coklat Pertumbuhan daun tidak teratur Busuk Buah Busuk buah 1 28 Buah membusuk Daun berguguran Batang mengering Kanker Jeruk Kanker Jeruk 1 29 Warna buah pucat Buah menggelemb ung Kanker Jeruk Kanker Jeruk 1 30 Buah berukuran kecil Warna buah pucat Buah menggelemb ung Busuk akar dan pangkal batang Busuk akar dan pangkal batang 1
5.2 Hasil Pengujian Akurasi
Proses analisa dari pengujian akurasi sistem diagnosa penyakit tanaman jeruk menggunakan metode Dempster Shafer dilakukan berdasarkan percocokan hasil diagnosa pakar dengan hasil diagnosa sistem pada Tabel 5.2 berdasarkan 30 data yang diuji adalah 90%. Nilai persentase tersebut diperoleh dari pembagian data yang benar sebanyak 27 dari 30 data kasus sebenarnya. Hasil perbedaan antara data sebenarnya dengan perhitungan karenaada beberapa hal yaitu:
1. Pada kasus no. 6 hasil diagnosa sistem saat pencocokan menemukan gejala–gejala terdiagnosa pada 2 jenis penyakit. Lalu dilakukan perhitungan bobot dari masing-masing penyakit tersebut, sistem menghasilkan output berupa penyakit kanker jeruk. Sedangkan menurut diagnosa pakar, gejala yang diinputkan user lebih menjurus pada penyakit CVPD.
2. Pada kasus no. 12 hasil diagnosa sistem saat pencocokan menemukan 4 gejala pada diagnosa penyakit. Lalu dilakukan perhitungan bobot dari masing-masing penyakit tersebut, sistem menghasilkan output berupa penyakit Embun Tepung. Sedangkan menurut diagnosa pakar, gejala yang diinputkan user lebih menjurus pada penyakit Blendok. Karena menurut pakar gejala batang mengelupas dan batang mengering merupakan ciri khas penyakit blendok yang menyerang tanaman jeruk pada bagian batangnya.
3. Pada kasus no. 22 hasil diagnosa sistem saat pencocokan menemukan 6 gejala pada diagnosa penyakit. Lalu dilakukan perhitungan bobot dari masing-masing penyakit tersebut, sistem menghasilkan output berupa penyakit Tristeza, sedangkan menurut diagnosa pakar, gejala yang diinputkan user lebih menjurus pada penyakit Embun. Menurut pakar ketika tanaman jeruk terserang penyakit dan mengalami gejala sisi daun atas tampak putih maka bisa dipastikan jeruk tersebut terserang penyakit Embun Tepung.
6. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian yang dilakukan pada Pemodelan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tanaman Jeruk dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Sistem diagnosa penyakit tanaman jeruk dilakukan sebagai salah satu cara untuk melakukan diagnosa terhadap penyakit tanamam jeruk. Sistem ini telah menggunakan metode Dempster shafer
dengan cara menghitung nilai bobot setiap penyakit berdasarkan jurnal dan interpretasi pakar. Kemudian sistem akan memilih penyakit dengan nilai bobot terbesar, Sehingga menghasilkan persentase hasil akhir keluaran sistem.
Berdasarkan hasil pengujian akurasi bahwa keakurasian hasil keluaran sistem dengan
diagnosa pakar adalah 90%.
Ketidakakurasian sistem pakar ini sebesar 10% yang dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu subyektifitas pakar dalam pemberian nilai kepercayaan gejala penyakit dikarenakan keyakinan tiap pakar berbeda dan masukan data gejala fakta yang komplikasi dengan penyakit yang belum terdapat pada sistem.
7. DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Jaenal. 2011.. “Sistem Pakar Untuk Mengdiagnosa Jenis Penyakit Pada Tanaman Jeruk Berbasis WAP”. Sekolah Tinggi Teknik Surabaya. Surabaya.
Arief, M.Rudianto. 2011. “Pemrograman Web Dinamis Menggunakan Php dan Mysql”. Andi Offset. Yogyakarta Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Departemen Pertanian. 2005. “Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk”. Jakarta.
Connolly, T., Begg, C. 2010. “Database Systems: a practical approach to design, implementation, and management. 5th Edition”. Pearson Education. United State of America.
Kanisius, Aksi Agraris. 1994. “Budidaya Tanaman Jeruk”
Kusumadewi Sri. 2003. “Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya)”. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Muhammad, Arhami. 2006. “Konsep Dasar Sistem Pakar”. Andi Offset.
Purwita, Yuangga Dwi. 2016. “Pemodelan Sistem Pakar untuk mengdiagnosis Penyakit Paru pada anak dengan metode Dempster Shafer”. Univerista Brawijaya
Malang.
Sulistyohati, A., 2008. “Aplikasi Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Ginjal dengan Metode Dempster-Shafer”. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.
Wijaya, Rani Anugrah. 2016. “Sistem Pakar Pendeteksi dan Penanganan dini Penyakit Kulit pada anak dengan metode Dempster Shafer”. Univerista Brawijaya Malang.