• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik merupakan golongan obat yang digunakan dalam penanganan pasien yang terbukti atau diduga mengalami infeksi bakteri. Antibiotik terkadang juga digunakan untuk mencegah infeksi bakteri pada keadaan khusus. Antibiotik hanya dapat diperoleh dengan resep dokter karena penggunaannya tidak boleh sembarangan. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi justru akan menyebabkan resistensi obat. Resistensi antibiotik merupakan kemampuan bakteri resisten/tahan terhadap antibiotik. Bakteri yang resisten dapat menyebar dengan cepat ke individu lain sehingga lebih mengancam dengan rangkaian penyakit menular baru yang akan lebih sulit untuk diobati (Gumbo, 2011). Resistensi antibiotik dapat dikurangi dengan menggunakan antibiotik secara hati-hati berdasarkan pedoman penggunaan antibiotik dan mempertimbangkan berbagai data seperti farmakokinetik dan farmakodinamik sifat antibiotik, tes diagnostik, uji kepekaan antimikroba, respon klinis, dan efek pada mikrobiota, serta oleh perkembangan antibiotik baru (Lee et al., 2013).

Anak-anak mempunyai rasio tertinggi dalam pemakaian antibiotik. Menurut Cebotarenco dan Bush (2007), penggunaan antibiotik yang salah (misuse) kepada anak-anak sering kali terkait dengan cara penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Untuk mengatasi penggunaan antibiotik yang tidak rasional maka peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua tentang penggunaan antibiotik sangat diperlukan.

Desa Banguntapan terletak di kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul, provinsi Yogyakarta. Desa Banguntapan mempunyai luas daerah 701,8 ha dengan 41.124 penduduk dan 10.535 kepala keluarga (www.rekompakjrf.org, 2013). Masyarakat desa Banguntapan mempunyai corak masyarakat kota yang majemuk/

(2)

heterogen dan bercirikan pada masyarakat kota dengan berbagai organisasi sosial. Salah satu organisasi sosial yang berkembang di desa Banguntapan ialah PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). BKB (Bina Keluarga Balita) merupakan salah satu kelompok kerja/kegiatan PKK yang difokuskan untuk pertemuan ibu-ibu yang mempunyai anak Balita (bawah lima tahun). Desa Banguntapan mempunyai 2 kelompok BKB dengan kegiatan rutin yaitu pembelajaran oleh kader BKB menggunakan pedoman kantong wasiat dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul.

Program BKB telah dicanangkan di Indonesia sejak tahun 1980 an. Program ini berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam mengasuh, menjaga kesehatan, dan membina tumbuh kembang anak secara optimal melalui interaksi antara orang tua dan anak (BKKBN, 2007). Program BKB merupakan gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat dengan ibu sebagai sasaran utama yang kaitannya dengan hantaran tumbuh kembang anak, deteksi dini kelainan atau kecacatan dan akhirnya menyiapkan anak balitanya siap sekolah bersama anak-anak lain.

BKB merupakan kegiatan sosial yang melibatkan peran kalangan ibu. Intervensi pada kegiatan ini mempunyai potensi besar untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu dalam membina keluarga yang memiliki balita. Keberadaan BKB dapat dieksplorasi dalam rangka peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku khususnya mengenai penggunaan antibiotika yang rasional pada Balita.

Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) merupakan metode pendidikan masyarakat yang orientasinya pada peran aktif peserta didik dalam mencari informasi, menumbuhkan sikap, dan mengubah perilaku. Metode intervensi ini berdasarkan pada proses belajar mandiri, yaitu terdiri dari fasilitator, narasumber dan para peserta. Pada kegiatan ini fasilitator berfungsi sebagai pemicu diskusi atau memotivator peserta agar supaya peserta lebih berminat dan berkembang. Sedangkan narasumber berfungsi memberikan penjelasan hal-hal yang tidak ditemukan jawabannya dalam diskusi tersebut. Untuk ibu-ibu peserta diberikan

(3)

modul CBIA yang dipersiapkan untuk memudahkan ibu-ibu dalam menjalankan kegiatan (Suryawati, 2009).

Berdasarkan paparan di atas, program BKB memiliki potensi untuk menjadi wadah pembelajaran Ibu-ibu khususnya penggunaan antibiotik yang rasional. Pembelajaran meliputi intervensi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu mengenai penggunaan antibiotik pada balita. Intervensi dilaksanakan dengan pendekatan CBIA (Cara Belajar Ibu Aktif) berupa pemberian penyuluhan dan modul serta diskusi kelompok kecil. Selanjutnya dilakukan analisis mengenai pengaruh intervensi CBIA tentang penggunaan antibiotik terhadap tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu-ibu kelompok BKB.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang timbul dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah intervensi CBIA pada ibu-ibu kelompok BKB dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan antibiotik yang rasional antara pretest, posttest ke-1 dan posttest ke-2?

2. Apakah tanpa intervensi CBIA (kelompok kontrol) pada ibu-ibu kelompok BKB dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan antibiotik yang rasional antara pretest, posttest ke-1 dan posttest ke-2?

3. Apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu-ibu BKB tentang penggunaan antibiotik yang rasional antara kelompok intervensi dibandingkan dengan kontrol?

C. Tujuan Penelitian

1. Umum

Memberikan intervensi dengan metode CBIA pada anggota Bina Keluarga Balita di desa Banguntapan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan antibiotik yang rasional.

(4)

2. Khusus

a. Mengkaji dampak intervensi CBIA tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang penggunaan antibiotik yang rasional pada Ibu BKB di Desa Banguntapan antara pretest, posttest ke-1 dan posttest ke-2.

b. Mengkaji tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku Ibu BKB di Desa Banguntapan pada kelompok kontrol tentang penggunaan antibiotik yang rasional antara pretest, posttest ke-1 dan posttest ke-2.

c. Mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu-ibu BKB tentang penggunaan antibiotik yang rasional antara kelompok intervensi dan kontrol dilihat pada minggu ke-3 hasil posttest ke-2.

D. Manfaat Penelitian 1. Untuk ilmu pengetahuan

Memperluas kajian intervensi kesehatan masyarakat menggunakan metode CBIA dan mempraktikkan metode CBIA pada kelompok BKB di desa Banguntapan.

2. Untuk masyarakat

Meningkatkan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat tentang rasionalitas penggunaan Antibiotik khususnya untuk anak balita.

3. Untuk peneliti

Menerapkan dan mempraktikkan ilmu dan teori yang telah diperoleh di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya Minat Utama Manajemen Dan Kebijakan Obat kepada Masyarakat khususnya Ibu BKB dan Kadernya.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengetahuan peneliti, penelitian yang berjudul “Intervensi CBIA Terhadap Anggota Bina Keluarga Balita untuk meningkatkan pengetahuan,

(5)

dilakukan. Penelitian lain yang mirip adalah penelitian dari Rossetyowati (2012), tentang “Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan antibiotik dengan metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) di Kabupaten Jember”. Beberapa persamaan dari penelitian ini antara lain pada metode intervensi yang digunakan yaitu sama-sama menggunakan metode CBIA, materi intervensi yang dipakai sama-sama penggunaan antibiotik yang rasional. Beberapa perbedaannya antara lain pada subjek yang di intervensi untuk penelitian ini subjeknya adalah anggota dan kader BKB ( Bina Keluarga Balita) yang merupakan komunitas Ibu-ibu bagian kecil dari kelompok PKK bidang program Pokgi II (Pendidikan dan ketrampilan), sedangkan penelitian Rossetyowati (2012) subjeknya semua anggota PKK (mencakup 10 program pokok PKK). Disamping itu lokasi sasaran juga berbeda, penelitian ini mengambil lokasi di Desa Banguntapan, Bantul, Yogyakarta tepatnya di pedukuhan Karangbendo dan Jaranan, sedangkan penelitian Rossetyowati (2012) tempatnya di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Penelitian lain sejenis yang memiliki kemiripan terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Keaslian penelitian No Peneliti/

Tahun

Persamaan Perbedaan

1. Susantini (2006)

Penggunaan metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA)

- Ketaatan Minum Obat pada Penderita TB Paru - Subjek Ibu-ibu PKK - Lokasi di Kota Yogyakarta

2 Shehadeh et

al., (2012)

- Penggunaan antibiotik -Yang diukur Pengetahuan, sikap dan perilaku

- Subjek orang dewasa - Lokasi di Yordania

-Metode yang dipakai survei cross sectional

3 Hartayu et al., (2012)

- Penggunaan Metode CBIA

-Yang diukur Pengetahuan,

- Subjek penderita DM - Lokasi Universitas Sanata Dharma

(6)

sikap dan perilaku 4 Azevedo et al.,

(2013)

- Penggunaan antibiotik - Pretest dan posttest

- Subjek siswa (dewasa) - Lokasi di Portugal

- Yang diukur pengetahuan 5 Jha et al.,

(2013)

-Yang diukur Pengetahuan, sikap dan perilaku

- Subjek guru - Lokasi Nepal

- penggunaan obat-obatan

6 Kumala (2014) - Penggunaan metode

CBIA

- Lokasi penelitian - Subjek penelitian

- Materi dan modul

intervensi tentang

diare pada anak

                           

Gambar

Tabel 1. Keaslian penelitian  No  Peneliti/

Referensi

Dokumen terkait

Pengetahuan dan Sikap tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada. Siswa Sekolah Dasar Negeri 3

Peningkatan pengetahuan yang diperoleh dari kelompok intervensi juga diikuti dengan peningkatan dalam pelaksanaan praktik pencegahan DBD, yaitu diketahui nilai p<0,001 yang

Untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu yang memiliki balita terhadap penyakit diare di RW.03 Kelurahan Sukawarna, wilayah kerja Puskesmas

Salah satu metode yang dipilih oleh peneliti adalah intervensi Integrasi Perubahan Perilaku (IPP) melalui pendekatan terapi rasional emosi perilaku/ rational emotive behavior therapy

Pelaksanaan Monitoring untuk melihat pelaksanaan intervensi dan hambatan serta faktor pendukung dalam kegiatan penelitian yang meliputi peningkatkan Pengetahuan, Sikap

Jika tidak tepat penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resistensi bakteri, seperti tetrasiklin merupakan antibiotik yang resistensi terhadap bakteri E.. coli dan

Menurut Suyono dan Hariyanto (2011:9) belajar adalah suatu aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap,

Pengetahuan yang di peroleh oleh masyarakat terutama ibu yang cenderung sering di rumah dan dekat dengan anak-anak akan membantu membentuk perilaku seseorang