EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PINJAMAN BERGULIR PNPM
MANDIRI PERKOTAAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN
MASYARAKAT
Chairunnisa, I Wayan Suwendra, Gede Putu Agus Jana Susila
Jurusan Manajemen
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail:
[email protected], [email protected],
[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh temuan eksplanatif yang teruji tentang (1) besarnya tingkat efektivitas dari pelaksanaan Program Dana Pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan, dan (2) besarnya tingkat pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah mendapat bantuan dana pinjaman dari PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan Buleleng Tahun 2014. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah anggota KSM penerima dana pinjaman bergulir, dan objek penelitian adalah pendapatan anggota KSM sebelum dan setelah menirima dana pinjaman bergulir. Data dikumpulkan dengan teknik pencatatan dokumen, wawancara, dan kuesioner. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan uji beda (t-tes) dengan analisis dua sampel berpasangan. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan program dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan Buleleng sangat efektif dengan skor sebesar 87,92%, (2) besarnya tingkat pendapatan anggota KSM sebelum dan setelah menerima dana pinjaman bergulir adalah 27,16% atau sebesar Rp 305.408,-. Dengan nilai thitung 13,444 > 2,01 berarti ada perbedaan
pendapatan anggota KSM sebelum dan setelah menerima dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan Tahun 2014.
Kata Kunci: efektivitas, pendapatan, dana pinjaman bergulir
ABSTRACT
This research is aimed to find the tested explanative finding of the impact of (1) the level of effectiveness of the implementation of the Revolving Loan Fund Program PNPM Mandiri, and (2) the amount of income levels before and after the loan received financial assistance from the PNPM Mandiri in Kampung Kajanan Buleleng 2014. The study was designed to be a quantitative descriptive study. The subject of this study is KSM members recipient revolving loan fund, and the object of this study is KSM members' income before and after receiving a revolving loan fund. The data collected by documentation technique, interviews, and questionnaires. Data used in this research is quantitative data. Data were analyzed using descriptive analysis and different test (t-test) with the analysis of two samples pairs. The results showed that (1) the implementation of a revolving loan fund program PNPM Mandiri in Kampung Kajanan Buleleng very effective with a score of 87,92%, (2) the level of income of members of KSM before and after receiving a revolving loan fund is 27,16 % or Rp 305.408, -. With 13,444 t value > 2,01 it means there are differences in income KSM members before and after receiving a revolving loan fund PNPM Mandiri in Kampung Kajanan 2014.
PENDAHULUAN
Kemiskinan yang terjadi saat ini tidak hanya terjadi di pedesaan, tetapi terdapat juga di perkotaan. Daerah
perkotaan merupakan konsentrasi
penduduk dan berbagai kegiatan ekonomi
dan sosial serta administrasi
pemerintahan yang terletak strategis sehingga masyarakat yang tinggal di perkotaan dapat lebih mudah menjangkau akses dan fasilitas tersebut. Kemudahan akses yang diberikan juga memiliki kecendrungan yaitu pada pembangunan fisik yang semakin pesat sehingga menyebabkan terjadinya arus urbanisasi di kota.
Program penanggulangan
Kemiskinian Perkotaan atau sering
disebut P2KP dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah
untuk membangun kemandirian
masyarakat dan pemerintah daerah dalam
menanggulangi kemiskinan secara
berkelanjutan. Namun, sejak tahun 2007 P2KP menjadi bagian dari Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat
(PNPM) Mandiri hal ini dikarenakan perkembangan yang positif dari P2KP.
Tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan), tujuan dari PNPM Mandiri Perkotaan ini adalah untuk mendukung upaya peningkatan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) dan
pencapaian sasaran Millenium
Development Goals (MDGs) sehingga tercapai pengurangan penduduk miskin.
Pemerintah Kabupaten Buleleng
merupakan salah satu kabupaten yang
melaksanakan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakakat Mandiri
Perkotaan yang juga merupakan
instrumen program untuk percepatan pencapaian Milenium Development Goals (MDDs). Salah satu sasaran PNPM Mandiri Perkotaan di Kabupaten Buleleng adalah Kelurahan Kampung Kajanan Buleleng yang termasuk dalam kategori
kelurahan penerima program PNPM
Mandiri Perkotaan yaitu pinjaman bergulir pada tahun 2007.
Adanya program ini dapat
memberikan manfaat kemudahan dalam mengakses layanan keuangan bagi rumah tangga miskin guna memperbaiki kondisi ekonomi mereka dan kegiatan yang mendukung tumbuhnya ekonomi serta usaha mikro di masyarakat kecil. Program dana pinjaman bergulir ini disambut baik
oleh masyarakat terlihat dari
bertambahnya jumlah dana yang
disalurkan dimana pada awal tahun 2007 dana yang tersalurkan hanya sebesar Rp. 14.500.000,- hingga pada tahun tahun 2014 telah mencapai Rp. 68.000.000,- dengan jumlah penerima dana pinjaman sebanyak tujuh KSM.
Dana tersebut diterima oleh
pemanfaat sebanyak 49 orang dengan
pembiayaan masing-masing anggota
kelompok yaitu Rp. 1.000.000,- sampai
Rp. 1.500.000,-. Disamping itu
berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Desy Kristina (10 September 2015) selaku pihak UPK dimana terdapat 2 KSM yang
mengalami kemacetan dalam
pembayaran anggsuran yaitu KSM Melati dan KSM Kartini. Selain itu berdasarkan hasil wawancara dengan ketua KSM Melati yaitu Bapak Suryadi (11 September 2015) bahwa ada dua anggotanya tidak mengalami peningkatan pendapatan dan satu anggota tidak mengalami perubahan pada pendapatannya. Diharapkan dengan adanya penambahan modal dari dana pinjaman bergulir ini maka hasil produksi juga akan miningkat begitu pula dengan
pendapatan diharapkan mengalami
peningkatan sesuai dengan pendapat Suwardjono (2005) yang mengatakan
bahwa pendapatan suatu usaha
tergantung dari modal yang dimiliki, jika modal besar maka hasil produksi tinggi sehingga pendapatan yang didapat juga tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika modal kecil maka hasil produksi rendah sehingga pendapatan yang diperoleh rendah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat efektivitas dari pelaksanaan Program Dana Pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan Dalam Di Kampung Kajanan Buleleng Tahun
masyarakat sebelum dan sesudah mendapat bantuan dana pinjaman dari PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan Buleleng Tahun 2014.
Manfaat dalam penelitian ini
berupa manfaat teoritis dan manfaat
praktis. Manfaat teoritis diharapkan
memperluas wawasan dan dapat
menerapkan ilmu pengetahuan serta sebagai kajian ilmiah khususnya dalam bidang ekonomi. Selain itu dapat dijadikan
bahan referensi untuk penelitian
selanjutnya mengenai Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
Mandiri Perkotaan Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Miskin. Manfaat praktis penelitian ini yaitu, (1) Bagi
masyarakat diharapkan dapat
memberikan pemahaman bagi
masyarakat mengenai pentingnya
Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam meningkatkan pendapatan di Kelurahan Kampung Kajanan Buleleng, (2) Bagi Pemerintah diharapkan dapat
memberikan masukan dan sumber
pemikiran bagi pihak pemerintah dalam mengeluarkan peraturan dan kebijakan untuk mengurangi tingkat kemiskinan,
serta dalam menangani masalah
kemiskinan.
Winardi (1988) mengatakan bahwa
pendapatan adalah sama dengan
pengeluaran. Pendapatan yang dicapai dalam jangka waktu tertentu senantiasa sama dengan pengeluaran jangka waktu tersebut. Pendapatan senantiasa harus sama dengan pengeluaran karena kedua istilah ini menunjukan hal yang sama hanya dipandang dari sudut pandang lain.
Sedangkan menurut Sukirno
(2000) mengatakan bahwa pendapatan individu merupakan pendapatan yang diterima seluruh rumah tangga dalam perekonomian dari pembayaran atas penggunaan faktor-faktor produksi yang
dimilikinya dan dari sumber lain.
Pendapatan yang diperoleh dari segala kegiatan usaha yang dilakukan akan dikurangi dengan segala pengeluaran
atau biaya sehingga diperoleh
pendapatan bersih.
Bardaini (2006) meninjau dari bentuknya ada tiga macam pendapatan, yaitu: (1) pendapatan berupa uang, (2) pendapatan berupa barang, dan (3) pendapatan selain penerimaan uang dan barang.
(1) Pendapatan berupa uang adalah segala penghasilan berupa uang yang biasanya diterima sebagai balas jasa prestasi sumber-sumber utama yaitu berupa gaji dan upah.
(2) Pendapatan berupa barang adalah segala penghasilan yang bersifat
regular dan biasa, tetapi tidak
berbentuk balas jasa dan diterimakan dalam bentuk barang, misalnya dapat berupa gaji yang diwujudkan dalam
bentuk beras, pengobatan, dan
perumahan.
(3) Pendapatan sealain penerimaan uang
dan barang adalah segala
penerimaan yang bersifat transfer redistribusi dan biasanya membawa perubahan dalam keuangan rumah tangga, misalnya penjualan barang-barang yang dipakai pinjaman uang, hasil undian, warisan, dan penagihan hutang.
Komaruddin (1994:294)
mangatakan bahwa “efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
terlebih dahulu”. Hidayat (1986)
mengatakan bahwa “efektivitas adalah ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah
tercapai. Dimana semakin besar
persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya”.
Sedangkan Duncan dalam Richard M. Streers (1985) mengatakan bahwa menentukan efektivitas suatu program yaitu dengan melihat beberapa indikator sebagai berikut:
1. Pencapaian Tujuan
Pencapaian adalah keseluruhan
upaya pencapaian tujuan harus
dipandang sebagai suatu proses.
Pencapaian tujuan terdiri dari
beberapa faktor, yaitu: Kurun waktu dan sasaran yang merupakan target kongkrit.
2. Integrasi
Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan suatu organisasi
untuk mengadakan sosialisasi.
Integrasi menyangkut proses
sosialisasi. 3. Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan
organisasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk itu
digunakan tolak ukur proses
pengadaan dan pengisian tenaga kerja.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas suatu program dapat dilihat melalui beberapa indikator yaitu:
1. Pencapaian tujuan 2. Integritas
3. Adaptasi
4. Tingkat kuantitas, dan 5. Dampak yang ditimbulkan
Mengenai tingkat
efektivitas suatu program pemerintahan
telah ditetapkan dalam SK.Menpan
No.25/M/MPan/2/2004, yang tampak pada tabel 2.1 di bawah ini.
Tabel 2.1 Tingkat Kualifikasi Efektivitas
No. Nilai Interval
(%)
Tingkat efektivitas
1 Di bawah 40 Sangat tidak
efektif
2 40-59.99 Tidak efektif
3 60-79.99 Cukup efektif
4 Di atas 79.99 Sangat efektif
Sumber :SK.Menpan
No.25/M/MPan/2/2004
Berdasarkan Pedoman Umum
PNPM Mandiri (Tim Pengendali, 2007: 11) yang dimaksud PNPM Mandiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan
pelaksanaan program-program
penanggulangan kemiskinan berbasis
pemberdayaan masyarakat.
PNPM-Mandiri Perkotaan atau Program
Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) merupakan upaya pemerintah
untuk membangun kemandirian
masyarakat dan Pemerintah Daerah
dalam menanggulangi kemiskinan di perkotaan secara mandiri.
Berdasarkan Pedoman Umum
PNPM Mandiri (Tim Pengendali, 2007) bahwa PNPM Mandiri terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus.
(1) Tujuan Umum
Secara umum PNPM Mandiri
bertujuan meningkatkan
kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri. (2) Tujuan Khusus
1) Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat
miskin, kelompok perempuan,
komunitas adat terpencil dan
kelompok masyarakat lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke
dalam proses pengambilan
keputusan dan pengelolaan
pembangunan.
2) Meningkatnya kapasitas
kelembagaan masyarakat yang
mengakar, representatif dan
akuntabel.
3) Meningkatnya kapasitas
pemerintah dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat
terutama masyarakat miskin
melalui kebijakan, program dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro poor). 4) Meningkatnya sinergi masyarakat,
pemerintah daerah, swasta,
asosiasi, perguruan tinggi,
lembaga swadaya masyarakat,
organisasi masyarakat dan
kelompok perduli lainnya untuk
mengefektifkan upaya-upaya
penanggulangan kemiskinan.
5) Meningkatnya keberadaan dan
kemandirian masyarakat serta
kapasitas pemerintah daerah dan kelompok perduli setempat dalam
menanggulangi kemiskinan di
wilayahnya.
6) Meningkatnya modal sosial
masyarakat yang berkembang
budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal.
7) Meningkatnya inovasi dan
pemanfaatan teknologi tepat guna, informasi dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.
Sesuai dengan namanya dan
prinsip pemberdayaan, kelompok
masyarakat yang paling baik adalah
kelompok yang memang lahir dari
kebutuhan dan kesadaran masyarakat
sendiri, dikelola dan dikembangkan
dengan menggunakan terutama sumber daya yang ada di masyarakat tersebut. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah kumpulan orang yang menyatukan diri secara sukarela dalam kelompok dikarenakan adanya ikatan pemersatu, yaitu adanya Visi, kepentingan dan kebutuhan yang sama sehingga kelompok tersebut memiliki kesamaan tujuan yang ingin dicapai bersama.
Pembentukan KSM hendaknya dilakukan dengan proses yang sesuai dengan konsep PNPM Mandiri Perkotaan.
Setelah terbentuk KSM kemudian
dilakukan verifikasi yang dilakukan oleh BKM dibantu oleh UP-UP BKM untuk melihat apakah KSM tersebut layak atau tidak. Jika benar-benar layak, maka BKM memberikan justifikasi kelayakan proses
pembentukan KSM tersebut dan
memasukkannya dalam buku register KSM terbentuk.
Dalam proses terbentuknya
sebuah KSM beberapa prinsip yang perlu menjadi perhatian adalah :
a) Pembentukan KSM diutamakan
sebagai wadah pembelajaran, untuk menghindari minat masyarakat semata-mata ke arah dana BLM.
b) Inisiatif pembentukan KSM haruslah
dari masyarakat sendiri dan
berdasarkan pada kesediaan dan
kesiapan masyarakat untuk
menanggulangi kemiskinan.
c) Pembentukan KSM diselaraskan
dengan tingkat kemampuan warga pemrakarsanya.
Pelaksanaan kegiatan Pinjaman Bergulir dalam PNPM Mandiri Perkotaan
bertujuan untuk menyediakan akses
layanan keuangan kepada rumah tangga
miskin dengan pinjaman untuk
memperbaiki kondisi ekonomi mereka dan
membelajarkan mereka dalam hal
mengelola pinjaman dan
menggunakannya secara benar.
Pemberian dana pinjaman ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk membantu masyarakat miskin dalam meningkatkan pendapatan agar bisa terlepas dari kemiskinannya yang telah dilaksanakan sejak tahun 1999 dalam Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) hingga pelaksanaan
PNPM Mandiri Perkotaan saat ini.
Program ini hanya memberikan alternatif pinjaman bergulir berupa modal yang nantinya bisa digunakan oleh masyarakat untuk mengembangkan usahanya atau
memulai usaha baru, masyarakat
sendirilah yang menentukan akan
digunakan untuk apa dana pinjaman
berupa modal ini. Secara umum
(pedoman pelaksanaan pinjaman bergulir
2010:1) dana pinjaman bergulir
merupakan pinjaman dalam PNPM
Mandiri Perkotaan yang diberikan untuk masyarakat miskin melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Tujuan dari program pinjaman dana bergulir yaitu menyediakan akses layanan keuangan kepada rumah tangga miskin dengan pinjaman mikro berbasis pasar untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka dan sebagai proses pembelajaran dalam rangka mengelola pinjaman dan menggunakannya secara benar, sehingga diharapkan dapat tumbuh kepercayaan dari pihak lain untuk dapat mengakses ke lembaga keuangan formal.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membentuk deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
atau informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan. Sedangkan pendekatan kuantitatif yang dimaksud yaitu menggunakan uji beda atau biasa disebut juga T-tes untuk mengetahui perbedaan signifikan antara pendapatan dari masyarakat sebelum dan sesudah
menerima dana pinjaman bergulir.
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kampung Kajanan Kabupaten Buleleng. Jenis data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Data tersebut berupa besarnya jumlah pinjaman, pendapatan dan jumlah tenaga kerja sebelum dan
sesudah menerima dana pinjaman
bergulir. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, pencatatan dokumentasi, dan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan
statistik dengan menggunakan uji beda (
t-test) dengan bantuan program SPSS 16.0
for Windows.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Efektivitas pelaksanaan program dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri
Perkotaan di Kelurahan Kampung
Kajanan yang diukur berdasarkan lima indikator yaitu (1) pencapaian tujuan, (2)
integritas, (3) adaptasi, (4) tingkat
kuantitas, (5) dan dampak yang
ditimbulkan dengan menggunakan skala likert yang dirancang dalam bentuk kuesioner dan disebarkan kepada 49
responden.
Pada indikator pencapaian tujuan yang terdiri dari 3 hal yaitu mengenai proses pencairan dana pinjaman yang tidak lebih dari seminggu lamanya setelah diterimanya pengajuan pinjaman, dimana dana pinjaman tersebut tidak membebani
penerima pinjaman dalam
pengembaliannya kembali dengan waktu pengembalian yang cukup lama yaitu 12 bulan, serta sasaran dari program dana
pinjaman ini sudah sesuai dengan
kebutuhan anggota KSM yaitu
kemudahan dalam mengakses lembaga pendanaan untuk usahanya.
Berdasarkan hasil penelitian
terhadap 49 responden anggota KSM yang menerima dana pinjaman bergulir,
maka persepsi responden terhadap
pernyataan mengenai proses pencairan dana pinjaman tidak lebih dari seminggu dari diterimanya pengajuan pinjaman, sebanyak 29 responden menjawab sangat setuju, 17 responden menjawab setuju, dan 3 responden menjawab tidak setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(29x4)+(17x3)+(3x2)} = 173 (88,26%) dari total skor ideal (skor tertinggi) untuk satu item yaitu 196. Sedangkan persepsi
responden terhadap pernyataan
mengenai batas waktu pengembalian kembali dana pinjaman selama 12 bulan, sebanyak 28 responden menjawab sangat setuju, 20 responden menjawab setuju, dan 1 responden menjawab sangat tidak setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(28x4)+(20x3)+(1x1)} = 173 (88,26%) dari total skor ideal. Serta persepsi responden terhadap pernyataan mengenai sasaran dana pinjaman bergulir yang sesuai dengan kebutuhan anggota KSM, sebanyak 28 responden menjawab sangat setuju, 20 responden menjawab setuju, dan 1 responden menjawab tidak setuju sehingga memperoleh total skor
sebesar {(28x4+(20x3)+(1x2)} = 174
(88,77%) dari total skor ideal.
Pada indikator integrasi terdiri dari 3 hal yaitu mengenai kemampuan tim
sosialisasi dalam menyampaikan
informasi mengenai program dana
pinjaman bergulir, menjelaskan tata cara atau prosedur pengajuan permohonan pinjaman, dan menjelaskan cara mengisi formulir pengajuan pinjaman dengan baik dan mudah dipahami.
Berdasarkan hasil penelitian
terhadap 49 responden anggota KSM yang menerima dana pinjaman bergulir, maka persepsi responden pernyataan mengenai penyampaian tim sosialisasi tim
sosialisasi memberikan informasi,
menjawab pertanyaan, memberikan
ulasan, gambaran analisis maupun
memberikan saran yang kongkrit dan realistis yang berkaitan dengan program dengan baik dan mudah dipahami, sebanyak 39 responden menjawab sangat
setuju, dan 10 responden menjawab setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(39x4)+(10x3)} = 186 atau sebesar 94,90% dari total skor ideal (skor tertinggi) untuk satu item yaitu sebesar 196. Sedangkan persepsi responden
terhadap pernyataan mengenai tim
sosialisasi menjelaskan dengan baik
prosedur pengajuan permohonan
pinjaman sebanyak 24 responden
menjawab sangat setuju, dan 25
responden menjawab setuju sehingga
memperoleh total skor sebesar
{(24x4)+(25x3)} = 171 atau sebesar 87,72% dari total skor ideal. Serta persepsi responden terhadap pernyataan mengenai tim sosialisai menjelaskan
dengan baik cara mengisi formulir
pengajuan permohonan pinjaman
sebanyak 31 responden menjawab sangat setuju, dan 18 responden menjawab setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(31x4)+(18x3)} = 178 atau sebesar 90,82% dari total skor ideal.
Pada indikator adaptasi terdiri dari 3 hal yaitu mengenai jumlah pengelola
yang memadai, dimana pengelola
memiliki kemampuan untuk membantu anggota KSM dalam mempelajari dan
memahami keterampilan baru, serta
pengelola mampu menangani perbedaan kepentingan antara KSM. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 49 responden anggota KSM yang menerima dana
pinjaman bergulir, maka persepsi
responden terhadap pernyataan
mengenai jumlah pelaksana atau
pengelola kegiatan PNPM-MP yang
tercukupi sebanyak 28 responden
menjawab sangat setuju, dan 21
responden menjawab setuju sehingga
memperoleh total skor sebesar
{(28x4)+(21x3)} = 175 atau sebesar 89,28% dari total skor ideal (skor tertinggi) untuk satu item yaitu sebesar 196. Sedangkan persepsi responden terhadap pernyataan mengenai pihak pengelola mampu membantu masyarakat dalam
memperlajari dan memahami
keterampilan baru dalam upaya
pemberdayaan masyarakat dan
pelaksanaan program sebanyak 20
responden menjawab sangat setuju, dan
29 responden menjawab setuju sehingga
memperoleh total skor sebesar
{(20x4)+(29x3)} = 167 atau sebesar 85,52% dari total skor ideal. Dan persepsi
responden terhadap pernyataan
mengenai pihak pengelola mampu
berperan sebagai orang yang dapat
menengahi terjadinya perbedaan
kepentingan antara kelompok atau
individu sebanyak 35 reponden menjawab
sangat setuju, dan 14 responden
menjawab setuju sehinggan memperoleh total skor sebesar {(35x4)+(14x3)} = 182 atau sebesar 92,86% dari total skor ideal.
Pada indikator tingkat kuantitas terdiri dari 4 hal yaitu mengenai jumlah
dana pinjaman yang diberikan
berdasarkan jenis usaha, kebutuhan modal, jumlah tanggung renteng, serta
berdasarkan kemampuan peminjam
dalam mengembalikan kembali dana pinjaman.
Berdasarkan hasil penelitian
terhadap 49 responden anggota KSM yang menerima dana pinjaman bergulir,
maka persepsi responden terhadap
pernyataan mengenai jumlah dana
pinjaman yang diberikan berdasarkan jenis usaha sebanyak 35 responden
menjawab sangat setuju, dan 14
responden menjawab setuju sehingga
memperoleh total skor sebesar
{(35x4)+(14x3)} = 182 atau sebesar 92,86% dari total skor ideal (skor tertinggi) untuk satu item yaitu sebesar 196. Sedangkan persepsi responden terhadap
pernyataan mengenai jumlah dana
pinjaman yang diberikan sesuai dengan jumlah modal yang diperlukan sebanyak 28 responden menjawab sangat setuju, dan 21 responden menjawab setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(28x4)+(21x3)} = 175 atau sebesar 89,28% dari total skor ideal. Dan persepsi
responden terhadap pernyataan
mengenai jumlah dana pinjaman yang diberikan berdasarkan jumlah tanggung
renteng sebanyak 23 responden
menjawab sangat setuju dan 26
responden menjawab setuju sehingga
memperoleh total skor sebesar
{(23x4)+(26x3)} = 170 atau sebesar 86,73% dari total skor ideal. Serta
persepsi responden terhadap pernyataan mengenai jumlah dana pinjaman yang diberikan berdasarkan kemampuan dalam mengembalikan kembali dana pinjaman sebanyak 33 responden menjawa sangat setuju, dan 16 responden menjawab setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(33x4)+(16x3)} = 180 atau sebesar 91,83% dari total skor ideal.
Berdasarkan hasil penelitian,
Indikator dampak yang ditimbulkan terdiri dari 2 hal yaitu mengenai dana pinjaman bergulir memberikan kontribusi terhadap
peningkatan penghasilan masyarakat,
serta mampu meningkatkan hasil produksi usaha mikro. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 49 responden anggota KSM yang menerima dana pinjaman bergulir,
maka persepsi responden terhadap
pernyataan mengenai program dana pinjaman bergulir mampu meningkatkan penghasilan masyarakat sebanyak 28 responden menjawab sangat setuju, 19 responden menjawab setuju, dan 2 responden menjawab tidak setuju sehingga memperoleh total skor sebesar {(28x4)+(19 x3)+(2x2)} = 173 atau sebesar
88,26 % dari total skor ideal (skor tertinggi) untuk satu item yaitu sebesar 196. Sedangkan persepsi responden terhadap pernyataan mengenai program
dana pinjaman bergulir mampu
meningkatkan hasil produksi usaha mikro sebanyak 22 responden menjawab sangat setuju, dan 27 responden menjawab setuju sehingga memperoleh total skor
sebesar {(22x4)+(27x3)}= 169 atau
sebesar 86,62% dari total skor ideal.
Pelaksanaan program dana
pinjaman bergulir PNPM Mandiri
Perkotaan di Kelurahan Kampung
Kajanan berdasarkan total skor dari
kelima indikator diatas, secara
keseluruhan memperoleh total skor
sebesar (520+535+524+707+342) = 2.628 atau sebesar 89,39% dari total skor ideal untuk kelima indikator yaitu sebesar 2.940.
Jenis usaha yang dijalani oleh anggota KSM sebagian besar adalah sebagian besar adalah pedagang dengan
jumlah 43 orang, sedangkan 6 orang
kaum perempuan menjalankan ushanya
dibidang jasa. Besarnya dana pinjaman
bergulir yang diterima anggota KSM antara Rp 1.000.000,- sampai dengan Rp 1.500.000,- per orang. Data pendapatan anggota KSM setelah menerima dana
pinjaman bergulir diperoleh dari
dokumentasi yang tercatat di UPK
Kelurahan Kampung Kajanan.
Berdasarkan hasil penelitian,
pendapatan anggota KSM sebelum
menerima dana pinjaman bergulir di Kelurahan Kampung Kajanan minimal adalah Rp 575.000,- per bulan dan maksimal adalah Rp 1.650.000,- per bulan. Sedangkan pendapatan anggota KSM setelah menerima dana pinjaman bergulir minimal adalah Rp 900.000,- per
bulan dan maksimal adalah Rp
1.900.000,- per bulan. Hasil perhitungan dan analisis uji beda (t-tes) dengan simple paired t-tes nampak pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Rata-rata Pendapatan Sebelum dan Sesudah Menerima Dana Pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan Tahun 2014.
Uraian
Sebelum (Tahun 2014)
Sesudah (Tahun 2015)
Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata
Pendapatan Rp 55.085.000 Rp 1.124.184 Rp 70.050.000 Rp 1.429.592
Sumber: UPK Kelurahan Kampung Kajanan (data diolah)
Tabel 2. Hasil Analisis Uji Beda (t-tes) Perbedaan Pendapatan Sebelum dan Sesudah
Menerima Dana Pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung Kajanan Tahun 2014.
Parameter
t hitung t tabel Sig
Pada Tabel 1 di atas menunjukkan
pendapatan rata-rata anggota KSM
sebelum menerima dana pinjaman
bergulir adalah sebesar Rp 1.124.184,-
per bulan pada tahun 2014, sedangkan
pendapatan rata-rata anggota KSM
setelah menerima dana pinjaman bergulir adalah sebesar Rp 1.429.592,- per bulan
pada tahun 2015. Berarti ada perbedaan
pendapatan angggota KSM sebelum dan
sesudah menerima dana pinjaman
bergulir.
Dari hasil output SPSS pada Tabel
2 diperoleh thitung sebesar 14,444 pada df=
58 dengan signifikan 0,000, sedangkan
ttabel pada df= 58 adalah sebesar 2,01
dengan taraf signifikansi (α = 5%). Halini
menunjukkan thitung = 13,444 > ttabel = 2,01
begitu juga dengan taraf signifikan 0,000 <
0,05, maka dapat diinterpretasikan
menolak Ho dan menerima Ha. Hal ini
berarti ada perbedaan antara pendapatan kaum perempuan sebelum dan setelah menerima dana pinjaman bergulir.
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa dari 49 anggota KSM yang menerima dana SPP terdapat 3 orang atau sebesar 6% yang pendapatannya tidak mengalami peningkatan meskipun sudah menerima dana pinjaman bergulir.
Dari hasil perihtungan menunjukkan
bahwa terdapat 46 anggota KSM atau
sebesar 94% yang pendapatannya
meningkat setelah menerima dana
pinjaman bergulir. Hal ini berarti program
dana pinjaman bergulir mampu
meningkatkan pendapatan anggota KSM. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, pelaksanaan program dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kampung
Kajanan berdasarkan lima indikator yaitu 1) indikator pencapaian tujuan, 2)
indikator integrasi, 3) indikator adaptasi, 4) indikator tingkat kuantitas, dan 5) indikator dampak yang ditimbulkan, dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Indikator Pencapaian Tujuan
Untuk dapat mengukur keberhasilan suatu program dapat dilihat dari seberapa jauh program itu mencapai tujuannya. Dimana dalam penelitian ini
yang dimaksud pencapaian tujuan adalah proses pencairan dana, batas waktu pengembalian kembali, dan
sasaran dana pinjaman yang
memperoleh total skor sebesar 520 atau sebesar 88,43%. Berdasarkan
tingkat kualifikasi efektivitas yang
ditetapkan dalam. SK.Menpan
No.25/M/MPan/2/2004 seperti pada tabel 2.1 maka skor yang diperoleh masuk dalam kategori sangat efektif karena masuk dalam rentang nilai diatas 79,99%.
2) Indikator Integrasi
Integrasi merupakan pengukuran
terhadap tingkat kemampuan suatu
organisasi untuk mengadakan
sosialisasi dan komunikasi dengan berbagai macam organisasi lainnya. Dalam penelitian ini integrasi yang dimaksud mengenai tim sosialisasi yang mampu menjelaskan dengan baik mengenai program dana pinjaman bergulir kepada anggota KSM yang memperoleh total skor sebesar sebesar
535 atau sebesar 90,98%.
Berdasarkan tingkat kualifikasi
efektivitas yang ditetapkan dalam.
SK.Menpan No.25/M/MPan/2/2004
seperti pada tabel 2.1 maka skor yang diperoleh masuk dalam kategori sangat efektif karena masuk dalam rentang nilai diatas 79,99%.
3) Indikator Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan
organisasi untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Untuk itu
digunakan tolak ukur proses
pengadaan dan pengisian tenaga kerja. Dalam penelitian ini adaptasi adalah proses penyesuaian diri yang dilakukan organisasi PNPM dengan melakukan pengadaan dan pengisian tenaga kerja (sumber daya manusia) dengan jumlah
yang memadai dan kompeten.
Berdasarkan hasil penelitian, indikator adaptasi memperoleh skor sebesar 524 atau sebesar 89,11%, berdasarkan
tingkat kualifikasi efektivitas yang
ditetapkan dalam. SK.Menpan
No.25/M/MPan/2/2004 seperti pada tabel 2.1 maka skor yang diperoleh masuk dalam kategori sangat efektif
karena masuk dalam rentang nilai diatas 79,99%.
4) Indikator Tingkat Kuantitas
Tingkat kuantitas dalam penelitian ini berkaitan dengan besarnya jumlah dana yang diberikan kepada anggota KSM secara merata, dimana besarnya
jumlah dana yang diberikan
berdasarkan jenis usaha, kebutuhan modal, jumlah tanggung renteng, dan
kemampuan peminjam dalam
mengembalikan kembali dana
pinjaman. Berdasarkan hasil penelitian indikator tingkat kuantitas mendapat
skor sebesar 707 atau sebesar
90,18%, berdasarkan tingkat kualifikasi efektivitas yang ditetapkan dalam.
SK.Menpan No.25/M/MPan/2/2004
seperti pada tabel 2.1 maka skor yang diperoleh masuk dalam kategori sangat efektif karena masuk dalam rentang nilai diatas 79,99%.
5) Indikator Dampak Yang Ditimbulkan Dampak yang ditimbulkan dengan
adanya program dana pinjaman
bergulir ini dapat dapat dilihat dari adanya peningkatan pendapatan dan peningkatan hasil produksi usaha mikro
anggota KSM. Berdasarkan hasil
penelitian, indikator dampak yang ditimbulkan memperoleh skor sebesar 342 atau sebesar 87,24%, berdasarkan
tingkat kualifikasi efektivitas yang
ditetapkan dalam. SK.Menpan
No.25/M/MPan/2/2004 seperti pada tabel 2.1 maka skor yang diperoleh masuk dalam kategori sangat efektif karena masuk dalam rentang nilai diatas 79,99%.
Maka dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di
Kelurahan Kampung Kajanan telah
berjalan dengan sangat efektif hal ini
berdasarkan total skor dari kelima
indikator yaitu sebesar 2.628 atau sebesar 89,39% dari total skor ideal (skor tertinggi) secara keseluruhan yaitu sebesar 2.940,
sesuai dengan SK.Menpan
No.25/M/MPan/2/2004 mengenai tingkat kualifikasi efektivitas seperti pada tabel 2.1 maka skor yang diperoleh masuk
dalam kategori sangat efektif karena masuk dalam rentang nilai diatas 79,99%. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rully Hikmatul (2014) bahwa pelaksanaan
pinjaman dana bergulir PNPM di
Kelurahan Kotalama Malang telah efektif dilihat dari 4 indikator yaitu 1) tingkat kualitas, di mana yaitu pelayanan yang baik diberikan oleh pihak BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) kepada KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) atau penerima manfaat, seperti bimbingan yang dilakukan oleh pihak BKM dalam hal pembuatan proposal pengajuan usaha, 2) tingkat kuantitas, dilihat modal yang
diberikan dan jenis usaha yang
digunakan. Modal tersebut harus merata pada setiap anggota KSM dan modal
tersebut harus digunakan untuk
mengembangkan atau membuka usaha, 3) dari dampak dapat dilihat dari adanya peningkatan pendapatan yang diterima
oleh responden setelah menerima
pinjaman dana bergulir PNPM Mandiri
Perkotaan, 4) dari tingkat waktu
pengembalian pinjaman dana bergulir terlihat bahwa tidak lebih dari 12 bulan.
Selain itu penelitian lain yang dilakukan oleh Wahyu Widodo (2014)
mengatakan bahwa efektivitas
pelaksanaan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Perkotaan khusunya Pada Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) dalam rangka penanggulangan kemiskinan di Kampung Taloarane Kabupaten Sangihe berjalan dengan baik, dapat dilihat dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Duncan dalam Steers (1986:53), yaitu dengan melihat 1) pencapaian tujuan, dimana dana yang telah dicairkan oleh UPK tersebut dikembalikan oleh
masing – masing kelompok SPP kepada
UPK dalam waktu 10 bulan yang diangsur tiap bulan dengan bunga sebesar 1,5
persen dari jumlah pinjaman, dan
mencapai sasaran/target yang telah
ditentukan yaitu untuk kemudahan akses
pendanaan usaha skala mikro,
pemenuhan kebutuhan pendanaan sosial dasar dan memperkuat kelembagaan
mendorong pengurangan rumah tangga miskin dan penciptaan lapangan kerja baru, 2) integrasi, yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan aparatur
untuk mengadakan sosialisasi,
berdasarkan hasil wawancara yang
memperlihatkan pengetahuan masyarakat akan adanya program ini di Kecamatan
Manganitu maka dapat disimpulkan
bahwa penyampaian tujuan sudah
berjalan dengan optimal, dan 3) adaptasi, jumlah pelaksana dari beberapa informan, dapat diketahui bahwa secara kuantitas pelaksana dari PNPM Mandiri Perkotaan
khususnya SPP ini sudah sangat
memadai dan hal yang paling penting adalah partisipasi aktif oleh pihak pihak yang terkait, karena jumlah pelaksana yang mencukupi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kinerja dan pelaksanaan program.
Berdasarkan hasil perhitungan
analisis uji beda (t-test) dengan
menggunakan bantuan SPSS 16.0 For
Windows diperoleh hasil thitung sebesar
13,444 dan ttabel sebesar 2,01, karena
13,444 > 2,01 maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Begitu juga nilai signifikan sebesar 0,000 dengan taraf signifikansi α
(0,05), karena 0,000 < 0,05 maka Ho
ditolak dan Ha diterima. Sehingga dalam
hal ini menerima hipotesis yang
menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara pendapatan anggota KSM sebelum menerima dana dana pinjaman bergulir dan pendapatan anggota KSM setelah menerima dana pinjaman bergulir di
Kelurahan Kampung Kajanan. Hasil
penelitian ini sesuai dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Dewi Irawati (2013) bahwa ada perbedaan pendapatan anggota KSM sebelum dan
sesudah menerima dana pinjaman
bergulir di Kota Banda Aceh. Program
dana pinjaman bergulir ini dapat
membantu anggota KSM untuk
meningkatkan pendapatannya. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa dana pinjaman bergulir mampu meningkatkan pendapatan anggota KSM di Kelurahan Kampung Kajanan, oleh karena itu program dana pinjaman bergulir ini
memiliki peranan penting dalam
meningkatkan pendapatan. PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian pada maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut. 1) dilihat dari segi pencapaian
tujuan, integrasi, adaptasi, tingkat
kuantitas, dan dampak yang ditimbulkan program dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kajanan sangat efektif dengan total skor yaitu sebesar 89,39%. 2) hasil analisis uji beda (ttest) menunjukkan nilai thitung 13,444 > ttabel = 2,01 dan nilai signifkan
0,000 maka dapat diinterpretasikan
menolak Ho dan menerima Ha. Hal ini berarti ada perbedaan antara pendapatan anggota KSM sebelum dan setelah menerima dana pinjaman bergulir di Kelurahan Kampung Kajanan.
Berdasarkan simpulan yang telah dikemukakan diatas, maka saran-saran yang dapat disajikan adalah sebagai berikut. (1) Partisipasi masyarakat dalam
Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Perkotaan sangat
dibutuhkan sebagai pemeran utama
dalam pembangunan, untuk itu perlu
adanya peningkatan partisipasi
masyarakat dalam mewujudkan tujuan dari program tersebut. Serta fasilitator
secara berkala terus melakukan
peningkatan kinerja sebagai pendamping masyarakat guna untuk meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam proses
pembangunan. (2) Diharapkan
masyarakat dapat memanfaatkan dana-dana pinjaman bergulir dari program-program pemerintah termasuk PNPM Mandiri Perkotaan yang dengan benar untuk meningkatkan pendapatan. Anggota KSM yang telah merasakan manfaat dari dana pinjaman bergulir ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat yang lain untuk mengikuti jejak keberhasilannya. (3) Diharapkan bagi peneliti selanjutnya khususnya yang ingin meneliti program dana pinjaman bergulir ini agar menambah variabel lain
dan menambah subjek penelitian agar menjadi lebih luas.
DAFTAR RUJUKAN
Georgo, Poulus dan Tannenbaum. 1985.
Efektivitas Organisasi. Jakarta:
Erlangga.
Irawati, Dewi. 2013. Pengaruh Program
Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Perkotaan
(PNPM-MP) Terhadap
Peningkatan Pendapatan
Masyarakat Miskin Di Kota Banda Aceh. Vol. 1 No. 1, Februari 2013. Jurnal Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala.
Kementrian Pekerjaan Umum. 2010. Pedoman Pelaksanaan pinjaman bergulir. Jakarta: Direktorat Jendral Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum.
Maulidyah, Rully Hikmatul. 2014.
Efektivitas Pinjaman Dana Bergulir
PNPM (Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat)
Mandiri Perkotaan Terhadap
Masyarakat Kurang Mampu (Studi
Kasus Kelurahan Kotalama
Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Vol. 2 No. 2, Juli 2014. Jurnal Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya.
SK.Menpan No.25/M/MPan/2/2004
Steers, M Richard. 1985. Efektivitas organisasi. Jakarta: Erlangga.
Widodo, Wahyu. 2014. Efektivitas
Program Pinjaman Bergulir PNPM
Mandiri Perkotaan Dalam
Penanggulangan Kemiskinan
Kabupaten Sangihe (Suatu Studi Di Kampung Talorane Kecamatan Mangnitu Kab. Sangihe). Vol. 2 No. 3, Februari 2014. Jurnal Ilmu Pemerintahan Universitas tidak dipublikasikan.