• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Marasmus.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Marasmus.docx"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO A

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO A

BLOK 24

BLOK 24

Disusun oleh:

Disusun oleh:

Yasinta Putri Astria

Yasinta Putri Astria

04111001073

04111001073

Kelompok X

Kelompok X

Tutor: dr. Aisyah Gani

Tutor: dr. Aisyah Gani

PENDIDIKAN DOKTER UMUM

PENDIDIKAN DOKTER UMUM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2014

2014

(2)

SKENARIO A BLOK 24

SKENARIO A BLOK 24

MARASMUS

MARASMUS

A. A. DEFINISIDEFINISI

Berikut ialah definisi Marasmus menurut para ahli, Berikut ialah definisi Marasmus menurut para ahli, 1.

1. Marasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumberMarasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor.( Mochtar, lama maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor.( Mochtar, 2001).

2001). 2.

2. Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein.Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).

(Suriadi, 2001:196). 3.

3. Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makananMarasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori.

(3)

B. CARA PENEGAKKAN DIAGNOSIS A. Gejala dan Tanda Marasmus

Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan  pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum

menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewel, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi  biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan,

dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit (Nelson, 2007).

Marasmus sering dijumpai pada anak berusia 0 - 2 tahun dengan gambaran sbb: berat badan kurang dari 60% berat badan sesuai dengan usianya, suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang, dinding perut hipotonus dan kulitnya melonggar hingga hanya tampak bagai tulang terbungkus kulit, tulang rusuk tampak lebih jelas atau tulang rusuk terlihat menonjol, anak menjadi berwajah lonjong dan tampak lebih tua (old man face), Otot-otot melemah, atropi, bentuk kulit berkeriput  bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan, perut cekung sering disertai diare

(4)

B. Pemeriksaan Fisik Marasmus

Pada marasmus, anak kurus muncul dengan ditandai hilangnya lemak subkutan dan pengecilan otot. Kulit adalah xerotik, keriput, dan longgar. Monyet fasies sekunder hilangnya bantalan lemak bukal adalah karakteristik dari gangguan ini. Marasmus mungkin tidak memiliki dermatosis klinis. Namun, temuan tidak konsisten termasuk kulit halus, rambut rapuh, alopesia, pertumbuhan terganggu, dan fissuring pada kuku. Dalam kekurangan energi protein, rambut lebih berada dalam fase (istirahat) telogen dari dalam fase (aktif) anagen, kebalikan dari normal. Kadang-kadang, seperti pada anoreksia nervosa, ditandai pertumbuhan rambut lanugo dicatat. (Rabinowitz, 2009)

C. Pemeriksaan Penunjang Marasmus

Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karena adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sumsum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun. Pada pemeriksaan darah dilakukan pengukuran kadar zat gizi dan bahan-bahan yang tergantung kepada kadar zat gizi (misalnya hemoglogbin, hormon tiroid dan transferin). Pemeriksaan radiologis  juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru (Carpenito, 2000).

Pemeriksaan Laboratorium WHO merekomendasikan tes laboratorium berikut:

 bin

D. Pemeriksaan Anthropometrik

(5)

1. Mengukur tinggi badan dan berat badan, lalu membandingkannya dengan tabel standar.

2. Menghitung indeks massa tubuh ( BMI , Body Mass Index), yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter). Indeks massa tubuh antara 20-50 dianggap normal untuk pria dan wanita.

3. Mengukur ketebalan lipatan kulit. Lipatan kulit di lengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dengan menggunakan jangka lengkung ( kaliper ). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal adalah sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.

4. Status gizi juga bisa diperoleh dengan mengukur lingkar lengan atas untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh ( Lean Body Mass, massa tubuh yang tidak berlemak).

D. ETIOLOGI

Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).

Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai  pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi,

(6)

gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).

E. PATOFISIOLOGI

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,  protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh  jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa  jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).

F. MANIFESTASI KLINIS

- Bayi cengeng dan sering merasa lapar.

- Iga gambang dan perut cekung

(7)

- Ubun-ubun cekung pada bayi

- Wajahnya tampak menua (old man/monkey face).

- Atrofi jaringan, otot lemah terasa kendor/lembek ini dapat dilihat pada paha dan pantat  bayi yang seharusnya kuat dan kenyal dan tebal.

(8)

- Warna rambut tidak berubah.

- Pada marasmus tingkat berat, terjadi retardasi pertumbuhan, berat badan dibanding usianya sampai kurang 60% standar berat normal. Sedikitnya jaringan adipose pada marasmus berat tidak menghalangi homeostatis, oksidasi lemak tetap utuh namun menghabiskan cadangan lemak tubuh. Keberadaan persediaan lemak dalam tubuh adalah faktor yang menentukan apakah bayi marasmus dapat bertahan/survive.

- Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat  badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi  berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi.

- Abdomen dapat kembung dan datar.

- Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, kemudian lesu dan nafsu makan hilang.

(9)

- Biasanya terjadi konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mucus dan sedikit.

G. TATALAKSANA & PENCEGAHAN

Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit berupa 10 langkah penting yaitu: 1. Atasi/cegah hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah)

Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak dengan KEP  berat/Gizi buruk. Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah. Jika anak sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali. Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan sendok. Jika anak mengalami gangguan kesadaran, berikan infus cairan glukosa dan segera rujuk ke RSU kabupaten.

2. Atasi/cegah hipotermia (suhu tubuh rendah)

Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 360  C. Pada keadaan ini anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Perlu dijaga agar anak tetap dapat bernafas.

Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal, dan meletakkan lampu didekatnya. Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat apalagi sampai menyentuh anak. Selama masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu anak  pada dubur (bukan ketiak) setiap setengah jam sekali. Jika suhu anak sudah normal

dan stabil, tetap dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak tidak jatuh kembali pada keadaan hipothermia. Tidak dibenarkan penghangatan anak dengan menggunakan botol berisi air panas.

3.Atasi/cegah dehidrasi

Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi buruk dengan dehidrasi adalah :

(10)

 Anak sangat kehausan  Mata cekung

 Nadi lemah

 Tangan dan kaki teraba dingin

 Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama. Tindakan yang dapat dilakukan adalah :

 Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali tanpa  berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral dengan

memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok. Cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut ReSoMal.

 Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk dapat menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak dapat minum, lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan perbandingan 1:1.

4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit

Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya :

Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah.Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)

Ketidak seimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan, untuk pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu.

Berikan :

- Makanan tanpa diberi garam/rendah garam.

- Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X (dengan  penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung mineral ( Zn, Cuprum, Mangan, Magnesium, Kalium) dalam bentuk makanan lumat/lunak.

Contoh bahan makanan sumber mineral :

Sumber Zink : daging sapi, hati, makanan laut, kacang tanah, telur ayam Sumber Cuprum : daging, hati.

(11)

Sumber Magnesium : kacang-kacangan, bayam.

Sumber Kalium : jus tomat, pisang, kacang2an, apel, alpukat, bayam, daging tanpa lemak.

5. Obati/cegah infeksi

Pada KEP berat/Gizi buruk, tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi seperti demam seringkali tidak tampak , oleh karena itu pada semua KEP berat/Gizi  buruk secara rutin diberikan antibiotik spektrum luas dengan dosis sebagai berikut :

UMUR ATAU BERAT BADAN KOTRIMOKSASOL (Trimetoprim + Sulfametoksazol)  Beri 2 kali sehari selama 5 hari

AMOKSISILI N  Beri 3 kali sehari untuk 5 hari Tablet dewasa 80 mg trimeto  prim + 400 mg sulfametok sazol Tablet Anak 20 mg trimeto  prim + 100 mg sulfametok sazol Sirup/5ml 40 mg trimeto  prim + 200 mg sulfametok sazol Sirup 125 mg  per 5 ml 2 sampai 4 bulan (4 - < 6 kg) ¼ 1 2,5 ml 2,5 ml 4 sampai 12  bulan (6 - < 10 Kg) ½ 2 5 ml 5 ml 12 bln s/d 5 thn (10 - < 19 Kg) 1 3 7,5 ml 10 ml

(12)

Vaksinasi Campak bila anak belum diimunisasi dan umur sudah mencapai 9 bulan Catatan :

 Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita penyakit infeksi, maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi tidak menjadi lebih parah. Bila tidak ada perbaikan atau terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit Umum.

 Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk, akan tetapi akan berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati. Berikan metronidasol 7,5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari. Bila diare berlanjut segera rujuk ke rumah sakit

6. Mulai pemberian makanan

Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase, yaitu : Fase Stabilisasi, Fase Transisi, Fase Rehabilitasi

Fase Stabilisasi ( 1-2 hari) :

Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.

Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisma basal saja.

Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco ½ yang dianjurkan dan  jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip

tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut : - Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa - Energi : 100 kkal/kg/hari

- Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari

- Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari)

- Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak terlalu lemah  berikan dengan sendok/pipet

- Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ atau pengganti dan jadwal  pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak.

Keterangan :

 Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka tahapan pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam)

(13)

 Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dalam sehari, maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik ( dibutuhkan ketrampilan petugas )

 Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari

 Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam

 Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1) Pantau dan catat :

- Jumlah yang diberikan dan sisanya - Banyaknya muntah

- Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja - Berat badan (harian)

- Selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema , mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik

7. Fasilitasi tumbuh-kejar (“catch up growth”)

Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi : Fase Transisi (minggu ke 2) :

 Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.

 Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per 100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2.9 gram per 100 ml) dalam  jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan

dengan kandungan energi dan protein yang sama.

 Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula tersisa,  biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari). Pemantauan pada fase transisi:

1. frekwensi nafas

(14)

Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume pemberian formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti di atas.

3. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi:

- Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering. - Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari

- Protein 4-6 gram/kg bb/hari

- Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula WHO 100/Pengganti/Modisco 1, karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.

Setelah fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi :

- Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1½ dengan jumlah tidak terbatas dan sering - Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari

- Protein 4-6 g/kgbb/hari

- Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan makanan Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.

- Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga

Pemantauan fase rehabilitasi :

Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan : - Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan.

- Setiap minggu kenaikan bb dihitung.

Baik bila kenaikan bb  50 g/Kg bb/minggu.

(15)

8. Koreksi defisiensi nutrien mikro

Semua pasien KEP berat/Gizi buruk, mengalami kurang vitamin dan mineral. Walaupun anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe). Tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada minggu ke 2). Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan infeksinya.

Berikan setiap hari :

 Tambahan multivitamin lain

 Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat atau sirup  besi dengan dosis sebagai berikut :

Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi : TAHAPAN PEMBERIAN DIET

FASE STABILISASI : FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI FASE TRANSISI : FORMULA WHO 75   FORMULA WHO

100 ATAU PENGGANTI

FASE REHABILITASI : FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)  MAKANAN KELUARGA UMUR DAN BERAT BADAN TABLET BESI/FOLAT Sulfas ferosus 200 mg + 0,25 mg Asam Folat

 Berikan 3 kali sehari

SIRUP BESI

Sulfas ferosus 150 ml  Berikan 3 kali sehari 6 sampai 12 bulan

(7 - < 10 Kg) ¼ tablet 2,5 ml (1/2 sendok teh) 12 bulan sampai 5

(16)

 Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan dosis tunggal sebagai berikut :

 Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis

Umur Kapsul Vitamin A Kapsul Vitamin A 200.000 IU 100.000 IU

6 bln sampai 12 bln - 1 kapsul 12 bln sampai 5 Thn 1 kapsul

-Dosis tambahan disesuaikan dengan baku pedoman pemberian kapsul Vitamin A

9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental

Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku, karenanya berikan :

- Kasih sayang

- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan

- Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15

 – 

 30 menit/hari - Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh

- Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb)

10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.

Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa.

UMUR ATAU BERAT BADAN

PIRANTEL PAMOAT

(125mg/tablet)

(DOSIS TUNGGAL) 4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg) ½ tablet

9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg) ¾ tablet 1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg) 1 tablet 3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg) 1 ½ tablet

(17)

Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan seperti pada lampiran 5, dan aktifitas bermain.

Nasehatkan kepada orang tua untuk :

- Melakukan kunjungan ulang setiap minggu, periksa secara teratur di Puskesmas

- Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh PMT-Pemulihan selama 90 hari. Ikuti nasehat pemberian makanan (lihat lampiran 5) dan berat badan anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di posyandu/puskesmas.

-  pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien yang padat -  penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu

- Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal

- Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI atau 100.000 SI ) sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus.

Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. Tata laksana ini digunakan pada pasien Kwashiorkor, Marasmus maupun Marasmik-Kwashiorkor.

Bagan dan Jadwal Pengobatan :

No FASE STABILISASI TRANSISI REHABILITAS

Hari ke 1-2 Hari ke 2-7 Minggu ke-2 Minggu ke 3-7 1 Hipoglikemia 2 Hipotermia 3 Dehidrasi 4 Elektrolit 5 Infeksi 6 MulaiPemberian makanan 7 Tumbuh kejar (Meningkatkan Pemberian Makanan)

8 Mikronutrien Tanpa Fe dengan Fe

(18)

10 Tindak lanjut

 TINDAKAN PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk  pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.

1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang  paling baik untuk bayi.

2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas.

3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan.

4. Pemberian imunisasi.

5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.

6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha  pencegahan jangka panjang.

Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.

 SYARAT DIET PENDERITA MARASMUS ENERGI TINGGI PROTEIN TINGGI (ETPT) :

1. Energi tinggi, yaitu 40-45 kkal/kg BB. 2. Protein tinggi, yaitu 2,0-2,5 g/kg BB.

3. Lemak cukup, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total. 4. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total. 5. Vitamin dan mineral cukup, sesuai kebutuhan normal. 6. Makanan diberikan dalam bentuk mudah dicerna.

(19)

Bahan Makanan Yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan :

Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan Sumber karbohidrat Nasi, Roti, mie,

makaroni, cake, tarcis,  puding, pastri, dodol,

ubi, gula pasir.

Sumber protein Daging sapi, ayam, ikan, telur, susu, keju, yoghurt dan es krim.

Dimasak dengan  banyak minyak atau

kelapa/santan kental. Sumber protein nabati Semua jenis

kacang-kacangan, tempe, tahu dan pindakas.

Dimasak dengan  banyak minyak atau

kelapa/santan kental Sayuran Semua jenis sayuran,

terutama jenis bayam, daun singkong, kacang  panjang, labu siam, dan wortel, dengan teknik  pengolahan direbus,

dikukus dan ditumis

Dimasak dengan  banyak minyak atau

kelapa/santan kental.

Buah-buahan Semua jenis buah segar,  buah kaleng, buah

kering dan jus buah. Lemak dan minyak Minyak goreng,

mentega, margarin, santan encer dan salad dressing.

Santan kental

Minuman Soft drink, madu, sirup, teh dan kopi encer.

Minuman rendah energi.

Bumbu Bumbu tidak tajam seperti bawang merah,  bawang putih, laos,

salam dan kecap.

Bumbu yang tajam seperti cabe dan merica.

(20)
(21)

H. KOMPLIKASI 1. Defisiensi Vitamin A 2. Dermatosis 3. Kecacingan 4. diare kronis 5. tuberculosis DAFTAR PUSTAKA

Arisman, 2004, Gizi dalam daur kehidupan, Jakarta : EGC

 Nelson, & behrman, kliegman, 2000, Nelson teks book of pediatric 15/e, vol. 2, Ed 15, alih  bahasa A Samik Wahab, Jakarta, EGC

Referensi

Dokumen terkait

Kepada 122 subjek ini dilakukan wawancara pola makan menurut pola kebiasaan (PK) dan rekaman diet 24 jam (RD) yang meliputi ambilan kalori, makronutrien, dan mikronutrien

Faktor penyebab langsung status gizi yaitu kurang adekuatnya intake makanan yang mengandung protein dan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh, perbedaan sosial dan budaya

Sehubungan dengan mengatur pola makan menyampaikan kepada ibu untuk diet rendah kalori dan makanan berlemak dan mengonsumsi makanan yang mengandung protein dan

eksplana si bacaan dengan tepat utama bacaan dengan cukup tepat utama bacaan dengan kurang tepat menuliskan topik utama bacaan dengan tepat Deret Penjelasan

Tujuan diet Tujuan diet diabetes melitus yaitu membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik dengan cara : 1 Memberikan cukup energi

Salah satu penyebab utama masalah gizi dan efek negatif pada kebiasaan makan adalah pengetahuan tentang diet yang salah, yang dapat mempengaruhi pilihan makanan seseorang dan juga

Kurang Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Masalah kurang nutrisi kurang dari kebutuhan pada anak dengan malnutrisi energi dan protein kwashiorkor dan marasmus ini disebabkan nafsu makan

Pemberian terapi konsultasi gizi dapat meningkatkan kadar hemoglobin pasien kanker yang dilakukan pada pasien dan keluarga pasien mengenai diet tinggi kalori tinggi protein tentang